Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[78] Egosentrisme (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Menunggu di ruang khusus yang biasa digunakan oleh sang Madam, Odo duduk pada sebuah sofa memanjang dengan meja persegi di hadapannya. Meski itu seharusnya ruangan yang sama seperti beberapa bulan lalu, namun kesan dan perabotan yang ada sangatlah berbeda.


 


 


Gorden berlapis terpasang di jendela, pintu diganti dengan yang terbuat dari mahoni, dan perabotan-perabotan indah yang biasa ditemukan di rumah konglomerat tampak pada beberapa tempat. Menoleh ke salah satu pojok ruang, Odo juga melihat rak besar berisi penuh buku-buku yang membuat kesan pemilik ruangan adalah orang dengan intelektual dan berpendidikan tinggi.


 


 


Dupa atau sesuatu seperti pengharum ruangan yang berlebihan tidak tercium, hanya ada aroma dari lilin wangi yang mengisi. Pencahayaan pun tidak lagi remang-remang, diganti dengan lampu kristal gantung yang tampak terang di tengah langit-langit ruangan.


 


 


Menatap salah satu lukisan yang terpanjang di dinding, Odo Luke sesaat dibuat terdiam oleh keindahan pemandangan yang disampaikan. Lukisan tersebut berisi pemandangan Kota Mylta, dari sudut pandang di atas menara pengawas dan membuat seisi kota terlihat sampai ke pelabuhan.


 


 


“Jujur saja aku mengira kalau perkembangan seni masih di tahap Abad Renaisans. Kalau ada lukisan seperti itu, berarti seni sudah berkembang sampai masa Baroque …. Atau mungkin malah sekarang masih proses pergeseran seni ke modern?”


 


 


Di saat dirinya bergumam sendiri, pintu ruangan terbuka dan sang Madam masuk. Semerbak wanginya mengalahkan lilin aroma, membuat Odo segera menoleh dan menatap wanita yang melangkah dengan anggun ke sofa di hadapannya.


 


 


Kulit putih pucat berselimut Waist Dress krem, rambut hitam pekat yang disanggul dan dihiasi tusuk konde bertatah perhiasan, lalu sarung tangan putih panjang sampai siku yang berhiaskan renda pada ujungnya. Pada saat melangkah, sepatu hak tingginya mengeluarkan suara bersamaan dengan perhiasan yang menggantung pada tusuk konde di rambutnya.


 


 


Duduk di hadapan Odo dengan anggun dan meletakkan kedua tangannya ke atas pangkuan, sang Madam menatap ke depan sembari berkata, “Senang saya bisa melihat Anda lagi, Tuan Odo. Saya sangat bahagia setelah mendengar kabar bahwa Anda tanpa masalah telah dianugerahi gelar Viscount.”


 


 


Sanjungan yang diberikan tidak mengubah mimik wajah Odo, pemuda itu hanya menatap datar dan terdiam. Menunggu Theodora berbicara lebih banyak, ia hanya mengamati perkembangan pembicaraan yang akan dibawa.


 


 


“Untuk kedatangan kali ini …, apa Anda ingin membicarakan perkembangan rencana yang sudah kita tentukan? Seperti yang Tuan Odo lihat, saya rasa dana yang Anda berikan sudah digunakan dengan tepat. Mereka saya berikan pendidikan, pembangunan distrik juga masih berjalan dan pembenahan sedang dalam proses. Meski untuk guru yang sebelumnya Anda minta belum bisa saya temukan, namun saya rasa sebagian dari mereka sudah ada yang memiliki kemauan tinggi untuk belajar. Saya juga tidak menyangka mereka akan sangat antusias pada buku-buku yang disumbang dari para pelanggan.”


 


 


Odo tampak tidak peduli dengan apa yang disampaikan, memalingkan pandangan ke arah jendela yang tertutup dan sejenak terdiam. Sorot mata birunya tampak kehilangan cahaya, ekspresi yang tampak menunjukkan banyaknya beban pikiran yang dirinya tanggung.


 


 


Namun setelah menghela napas sekali dan kembali menatap lawan bicaranya, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Aku datang bukan untuk membicarakan itu. Lagi pula, aku sudah sepenuhnya mempercayakan uangku kepadamu. Aku percaya kau bisa menggunakannya dengan tepat.”


 


 


Sanjungan yang diberikan Odo membuat wajah Theodora sedikit merona, memalingkan pandangan sekilas dan tersenyum kecil. “Lalu, kedatangan Anda kali ini untuk apa? Anda bukan tipe orang yang berkunjung hanya untuk basa-basi, bukan?” tanyanya sebari kembali menatap lawan bicara.


 


 


“Hmm, itu benar.” Odo menegakkan posisi duduk, lalu memasang mimik wajah serius dan meminta, “Aku ingin Madam menjadi Gowok-ku.”


 


 


“Go … wok?” Madam bingung mendengar itu, sedikit memiringkan kepala dan kembali bertanya, “Apa … itu?”


 


 


“Ah, kata itu tidak digunakan di sini ya ….” Odo sekilas memalingkan wajah, memikirkan kalimat yang sesuai untuk menjelaskannya. Sembari mengangkat jari telunjuknya ke depan ia pun berkata, “Itu loh, biasanya pria dari kalangan bangsawan tidak paham cara berhubungan dengan wanita karena hanya fokus didik soal pengetahuan-pengetahuan untuk pemerintahan, bukan? Karena itu, biasanya ada wanita yang disewa untuk mendidik hal-hal berbau seksualitas dan cara memuaskan istri mereka saat menikah nanti.”


 


 


“Ah, hampir mirip dengan Gundik Muda? Saya tahu hal tersebut ....”


 


 


Sang Madam sesaat terdiam dan berhenti berbicara, merasa pemintaan Odo kali ini terdengar cukup aneh. Dari awal bertemu dengan Odo, Madam sama sekali tidak merasa kalau pemuda itu tertarik dengan tubuhnya.

__ADS_1


 


 


“Hmm, kurasa mirip seperti itu. Apa kau mau, Madam?”


 


 


Dalam pengetahuan Madam Theodora, Gundik Muda atau apa yang disebut Odo dengan Gowok adalah hal yang mengacu pada sebutan perempuan yang disewa untuk mengajari perihal rumah tangga dan seksualitas kepada laki-laki berusia remaja atau sebelum menikah.


 


 


Bagi kalangan atas yang mendidik anak mereka dengan pendidikan kebangsawanan dan profesi secara khusus, pengetahuan tentang wanita cenderung kurang dipelajari. Untuk menghindari kelak saat menikah sang istri selingkuh karena tidak puas dengan suaminya, penerapan hal seperti penyewaan perempuan mengajari hal seperti itu tidaklah aneh di kalangan atas.


 


 


Tugas Gowok sendiri mencangkup hal-hal seperti memperkenalkan seluk-beluk tubuh wanita, cara memuaskannya secara fisik dan hati. Pelatihan biasanya berlangsung selama satu sampai dua bulan, namun ada juga kasus dimana Gowok berakhir dijadikan sebagai gundik atau istri siri. Karena itulah wanita yang disewa untuk itu dikenal sebagai Gundik Muda.


 


 


Sepenuhnya memahami apa yang Odo minta darinya, Madam tambah bingung karena tidak bisa paham dalih di balik permintaan tersebut. Melihat kepribadian dan tingkat pemuda di hadapannya, Madam Theodora sangat mengerti kalau Odo Luke sudah mengenal seluk-beluk tubuh wanita. Dari cara bicara dan gestur pemuda itu, dirinya bisa mengetahui hal tersebut.


 


 


“Kenapa … harus saya? Bukannya di Kediaman Luke ada seorang Huli Jing? Jika dibandingkan dengan diri saya, ia pasti lebih berpengalaman dalam hal seperti itu.”


 


 


Apa yang Theodora ucapkan hanya untuk mengelak, namun masih menahan diri dan berusaha untuk tidak menolak permintaan Odo secara frontal.


 


 


Paham dengan apa yang ingin disampaikan wanita di hadapannya, Odo menyandarkan tubuh ke sofa dan sejenak menghela napas panjang.


 


 


“Kau tahu, Madam …. Mana mungkin aku belajar hal seperti itu dari perempuan yang sudah aku anggap kakak. Rasanya aneh …. Karena itulah aku meminta Madam.”


 


 


Masih merasa tidak mampu untuk menerima permintaan tersebut, Madam Theodora perlahan memasang mimik wajah cemas dan kembali beralasan, “Bu-Bukannya Anda tidak perlu pendidikan seperti itu? Maksud saya, Anda … sudah sepenuhnya paham seluk-beluk tubuh perempuan, bukan? Kalau tidak, mana mungkin Anda bisa dengan santai datang ke tempat ini tanpa takut tergoda sedikit pun.”


 


 


 


 


Perkataan tersebut membuat Madam bungkam, bingung harus menolak seperti apa. Sejenak menundukkan kepala dan mempertimbangkan, dirinya dengan suara pelan bertanya, “Apa Lady Mavis sudah tahu Anda meminta hal tersebut kepada saya? Untuk Saintess seperti dirinya, saya rasa beliau tidak akan setuju kalau Anda memilih saya sebagai pengajar Anda dalam hal tersebut. Kalau Anda membutuhkannya, beliau pasti mencari yang lebih baik⸻”


 


 


“Aku tak ingin orang asing,” potong Odo dengan tegas. Sembari menajamkan tatapan ia kembali menekankan, “Mana mungkin aku mau tidur dengan orang yang bahkan tidak aku kenal. Mungkin saja Ibuku bisa mencari perempuan yang suci dan pandai dalam hal seperti itu. Namun! Tetap saya aku tak suka.”


 


 


Madam Theodora tidak bisa menolaknya kali ini, hanya terdiam dan menatap risau harus menjawab seperti apa. Tawaran tersebut memang sangatlah menggiurkan dan cukup membanggakan untuk orang sepertinya. Namun di sisi lain, trauma untuk berurusan dengan keluarga bangsawan dalam hal seperti itu membuat Theodora tidak bisa langsung mengangguk.


 


 


“Bisakah … Tuan Odo memberikan saya waktu untuk mempertimbangkannya?”


 


 


“Hmm, tak masalah. Aku juga butuh waktu untuk membujuk Ibuku. Alasan aku datang hanya untuk meminta hal itu, lalu menunggu jawaban baiknya nanti.”


 


 


“Kira-kira …, berapa lama?”


 


 


“Entahlah, mungkin sampai musim gugur nanti. Kalau ini disetujui, mungkin kau juga akan aku ajak ke Pien’ta.”


 


 


“Pien’ta? Kota di Wilayah Rein itu?”

__ADS_1


 


 


“Hmm, aku ditugaskan di sana nanti. Jujur saja, Gelar Viscount ini juga ternyata cukup menyusahkan daripada yang aku kira.”


 


 


“Eh?”


 


 


Madam Theodora sesaat tersentak, samar-samar mulai tahu apa yang Odo inginkan dari permintaan kali ini. Dengan jelas dirinya merasa itu bukanlah untuk pendidikan seksualitas atau semacamnya, malah lebih seperti Odo ingin membawanya dalam melaksanakan tugas sebagai seorang bangsawan.


 


 


ↈↈↈ


 


 


Pagi hari ke-6 di minggu tersebut datang dengan matahari cerah, bersinar terang dan membawa kehangatan. Menyingkirkan kabut serta embuh-embun yang menumpuk pada dedaunan, genting dan dinding-dinding di kota pesisir. Seakan membuka tirai baru untuk dunia, mentari merentangkan tangan-tangan samar ke penjuru tempat dan tampak seakan mendekap dunia dengan kehangatan.


 


 


Sama seperti hari-hari biasanya, orang-orang di Kota Mylta disibukkan dengan kegiatan perekonomian mereka. Menawarkan produk dagangan, jasa, berbisnis terkait investasi, distribusi, ekspor impor di pelabuhan, dan berbagai hal lainnya.


 


 


Hanya dalam beberapa puluh menit setelah sinar matahari memapar sebagian kota pesisir, jalan-jalan utama dipenuhi orang yang lalu-lalang untuk kegiatan perekonomian tersebut. Sibuk, mobilitas cepat, serta teratur dalam alur yang sudah ditentukan pemerintah kota untuk mengurai kemacetan orang-orang.


 


 


Seakan berita tentang rentannya keamanan Kota Mylta tidak berdampak, baik orang-orang asli ataupun pendatang dari luar kota melakukan kegiatan mereka masing-masing. Meski hari esok adalah hari terakhir dunia, hari ini kami masih perlu makan; kurang lebih seperti itulah cara pandang mereka. Apa yang mendasari orang-orang tersebut tetap berangkat bekerja meski tahu kondisi kota sedang bermasalah.


 


 


Distrik Perniagaan, Distrik Pengrajin, Kompleks Gereja Utama, Pelabuhan dan Distrik Rumah Bordil. Semua tempat tersebut hampir tidak mengalami perubahan yang tampak di permukaan, hanya berupa perubahan suasana dan topik obrolan saja masyarakat bertambah karena berita keamanan rute yang bermasalah. Secara langsung, dampak menurunnya tingkat investasi dari luar belum bisa memberikan pengaruh besar pada perekonomian kota.


 


 


Namun berbeda dengan semua tempat di Mylta yang belum memperlihatkan gejala regresif, hari ini merupakan momen yang cukup mengejutkan untuk Barak Kota. Dari sekian lama sang Walikota menyerahkan tugas kepada putrinya, hari ini dirinya kembali setelah kesehatannya mulai pulih.


 


 


Para prajurit yang melihat kedatangan sosok penguasa tersebut sempat terkejut, segera memberikan hormat dan beberapa ada yang berlari untuk melapor kepada para pejabat dan petinggi di tempat tersebut. Hampir seluru perwira terlihat senang atas kedatangan Argo Mylta di barak. Namun di antara para pejabat, sebagian dari mereka tidak bisa bersukacita menyambut hal tersebut.


 


 


Selain karena mereka paham bisa dimarahi habis-habisan terkait masalah kota, para pejabat sipil juga mengerti mereka telah berbuat banyak hal berlebihan terkait peraturan-peraturan kota. Terutama dengan mengubah beberapa aspek yang seharusnya dipertahankan, lalu juga tentang membiarkan pihak swasta untuk memonopoli pelabuhan.


 


 


Di antara orang-orang barak, Argo Mylta melangkahkan kakinya bersama putrinya, Lisiathus Mylta. Berbeda dengan kalangan bangsawan sekelasnya yang suka menunggang kuda atau kereta untuk berangkat bekerja, Walikota yang usianya hampir mencapai enam dekade tersebut lebih suka berjalan kaki.


 


 


Rambutnya merah gelap dan sama sekali tidak menguban meski usianya sudah tidak muda lagi. Badannya pun tegak, lalu keriputnya tidak seperti orang yang lanjut usia. Ia benar-benar masih tampak seperti pria paruh baya berusia 30 sampai 35 tahunan, punggungnya tidak bungkuk dan gestur tubuhnya masih penuh energi saat melangkah.


 


 


Di antara semua orang, ciri yang paling menonjol dari pria tersebut bukanlah warna rambut merah yang menjadi khas Keluarga Bangsawan Mylta, namun tinggi badannya yang bisa dikatakan jauh di atas rata-rata. Dua meter, lebih tepatnya 219 sentimeter, itulah tinggi dari pria yang dikenal sebagai pengguna Sihir Penguatan terbaik di Wilayah Luke.


 


 


Bagi orang-orang yang pernah melihat kondisi Argo saat sakit, perubahan tersebut cukup mengejutkan. Untuk pria yang sebelumnya benar-benar kurus kerempeng dan tidak berdaya, apa yang tampak sekarang memang sulit untuk dipercayai bahwa dirinya bisa dengan penuh energi melangkahkan kaki menuju kantor barak.


 


 


Pada bagian kanan leher Argo terdapat kapas dengan tambahan antiseptik untuk mencegah infeksi kuman di bekas operasi yang belum pulih, ditutup dengan kain kasa yang melingkar pada lehernya. Pakaian yang dikenakannya pun sedikit tebal, berupa seragam kerja sipil dengan jubah kebangsawanan yang sering digunakan pada musim dingin.


 


 


“A-Ayahanda? Kalau ingin meninjau kondisi kota, bukannya kita seharusnya pergi ke Kantor Pemerintahan di Balai Kota? Kenapa malah ke barak?”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2