
Abstrak dan Kacau⸻
Layaknya kegelapan yang meluap dari tahta penguasa, Dunia Astral dulunya hanya berbentuk gumpalan tunggal. Memiliki sifat independen dan mutlak, tidak terikat atau bahkan dipengaruhi oleh Realm lain.
Laut terpisah dari daratan, pulau dan gunung melayang di udara. Kehidupan masih berbentuk astral, belum memiliki akal dan persepsi seperti sekarang. Penuh kekacauan, namun sangat bebas dan unik.
Namun⸻
Keunikan itu mendadak lenyap.
Sebuah tempat yang dulunya dipenuhi kekacauan tiba-tiba berubah menjadi teratur. Memiliki hierarki yang seimbang, mutlak, dan mengikat secara menyeluruh.
Entah sejak kapan itu mulai berubah. Apakah proses itu berlangsung secara bertahap atau sekaligus, tidak ada satupun dari kami yang mengingatnya.
Layaknya pagi dan malam, seperti halnya kehidupan dan kematian. Semua tampak wajar di mata kami. Kejanggalan dan perubahan itu dibuat wajar untuk kami.
Bukan! Tidak seperti ini! Diriku sudah merasa janggal sejak dulu, namun tidak berani mempertanyakan dan memilih untuk patuh! Dia! Sang Dewi⸻!!
Apapun kebenarannya, diriku rasa itu sudah tidak penting lagi. Waktu akan menghapus rahasia itu bersama keraguan ini.
Sejauh yang diriku ingat, awal terbentuknya Dunia Astral secara paten adalah ketika Dewi Penata Ulang menampakkan dirinya. Ia memberikan kestabilan pada Realm, kemudian menciptakan kesadaran tunggal untuk mengatur tempat ini.
Tidak jelas siapa sebenarnya kesadaran tunggal itu. Namun⸻
Setelah kami menyadari bahwa ada dunia lain di luar sana, sosok yang disebut Roh Kudus muncul. Ia hadir di antara kami sebagai eksistensi pemimpin.
Sosok itu membagi kekuatannya kepada dua belas makhluk astral, lalu memberikan mereka wujud dan status sebagai Roh Agung.
Ia seorang Dewi, bertugas menghubungkan dunia kami dengan kayangan.
Beliau juga merupakan makhluk astral, sosok yang menjadi akar dan dasar dari eksistensi kami. Kudus yang Mulia.
Saat pertama kali hadir, sosok itu menetapkan konsep teritorial. Beliau menciptakan pembagian ekosistem dengan mengubah topografi dunia kami. Menarik pulau dan gunung yang melayang, meratakan daratan, menyatukan lautan, dan melukis langit.
Setelah menata dunia dan menetapkan pembagian wilayah, sosok itu mulai mengajari kami banyak hal. Tentang dunia, penduduk kayangan, ekstensi iblis, dan lain sebagainya.
Ia juga memberikan kami peran yang berbeda-beda, mendidik layaknya sosok Ibu. Terkadang kasar dan tegas, namun selalu memancarkan niat baik dan penuh kasih sayang.
Jujur saja, diriku pada saat itu belum memahami konsep Ibu ataupun Keluarga.
Namun, waktu membantu diriku untuk memahaminya. Sebagai sosok kerdil, diriku mengenal kehangatan keluarga dari beliau. Penguasa Makhluk Astral.
Sayangnya, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Kita diberitahu bahwa dunia di luar sana sedang dalam kekacauan.
Karena ulah entitas yang disebut Naga Agung, daratan di sana terbakar dan laut pun menguap. Gunung menjadi lembah, lembah menjadi palung, dan pesisir lenyap dari permukaan.
Jujur saja, diriku tidak terlalu peduli. Itu urusan mereka, penduduk kayangan dan Dewi Penata Ulang.
Namun, sayang sekali kehidupan kami tidak bisa berjalan semudah itu.
Setelah kehancuran dunia sebelah, tiba-tiba sesosok Naga Agung dilempar ke laut Dunia Astral.
Itu menciptakan tsunami raksasa dan memusnahkan lebih dari setengah populasi kami.
Karena bencana tersebut, empat dari dua belas teritorial pun lenyap dalam satu malam.
Tidak hanya itu saja!
Saat sosok yang disebut Leviathan itu juga sempat mengamuk. Dia berusaha melepaskan kekangan rantai raksasa, meronta-ronta, kemudian menciptakan gempa dahsyat.
Amukan mahkluk raksasa itu membuat daratan pecah, kemudian sebagian terlempar ke dalam celah dimensi dan menghilang.
Ada juga daratan yang tenggelam ke dalam laut, gunung berubah menjadi danau, dan hutan terbakar api abadi sampai berubah menjadi lembah.
Amukan itu juga mengubah bentuk kehidupan kami, menjadi lebih bisa merasakan aliran Ether di udara. Setelah bencana dan malapetaka itu merenda, sensitivitas kami tiba-tiba meningkat drastis.
Selain itu, penyimpangan spasial menjadi sering terjadi pada tempat ini. Jujur saja ini awalnya sangat menyusahkan, butuh waktu lama untuk menyesuaikan frekuensi Ether supaya tidak terlempar ke tempat aneh.
Pada akhirnya, setelah rentetan malapetaka itu⸻
Hanya ada empat Teritorial Ekosistem yang tersisa di dunia kami.
Setelah amukan Leviathan mereda, sosok Dewi kembali turun dan mendatangi kami.
Ia memperbaiki beberapa hal yang rusak, menanam Pohon Dunia, kemudian menyelaraskan kembali hierarki yang ada di antara makhluk astral.
Tanpa memberikan penjelasan, ia tiba-tiba menarik sosok Roh Kudus dan mengirim beliau ke Dunia Nyata. Meninggalkan kami setelah semuanya pulih.
Tentu saja kami tidak terima akan hal tersebut.
Bagi seluruh Roh Agung, beliau lebih mulia dari Dewi Penata Ulang. Lebih kami butuhkan daripada sosok tertinggi tersebut. Karena itulah, kami memutuskan untuk melawan langit. Membangkang untuk pertama kali.
Namun, perlawanan itu bahkan tidak bisa dianggap protes. Hanya dalam hitungan menit, kami kalah.
Dihancurkan, dibuat sekarat, dan bahkan ada beberapa Roh Agung yang terbunuh.
Tanpa memberikan penjelasan, Ia tiba-tiba kembali lagi ke tempat kami untuk menerapkan konsep siklus kelahiran, menjaga dua belas posisi Roh Agung supaya tetap eksis.
Mungkin⸻
__ADS_1
Ia, Dewi Penata Ulang itu hanya tidak ingin dunia ini rusak.
Apapun alasannya, tetap saja ….
Dia sangat menyebalkan karena datang dan pergi seenaknya!
Memberi sesuatu tanpa menjelaskan tujuan, kemudian mengambil sesuatu tanpa kompromi! Dia benar-benar memandang rendah kami!
Merasa tidak terima, separuh dari kami memutuskan untuk membangkang sekali lagi. Tidak dengan perlawanan ataupun protes, namun dengan kabur dan menelantarkan kewajiban mereka sebagai Roh Agung.
Tetapi, seakan telah mengetahui hal tersebut akan terjadi ….
Dewi itu melempar Naga Hitam ke tempat kami sebagai peringatan!
Meski tidak separah Leviathan, tetap saja itu adalah bencana.
Karena peristiwa tersebut, setengah dari kami terlempar ke celah dimensi dan menghilang. Gagal menyeberang ke Dunia Nyata.
Merasa muak dengan perlakuan sang Dewi Penata Ulang, segelintir Roh Agung yang tersisa memutuskan untuk pergi.
Beberapa ada yang memilih untuk menetap dan menjaga dunia astral, menghormati keinginan Roh Kudus.
Tentu saja diriku ikut pergi!
Memanfaatkan momen itu untuk kabur dari wewenang sang Dewi!
Sayangnya, dunia luar tidak seindah yang diriku kira ….
Saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu, kami hampir lenyap.
Sebelum hari berakhir, kami terpaksa merasuk ke objek untuk bertahan hidup.
Ada yang masuk ke dalam binatang, tumbuhan, bahkan batu.
Kami langsung terhenti, tanpa mampu melangkah bebas ataupun berbuat sesuatu. Terjebak dalam ketidakberdayaan yang mutlak.
Ketika badai turun dan banjir menerjang, kami pun terpisah dan tidak bisa berkumpul lagi. Selama ratusan⸻ Bahkan mungkin sampai ribuan tahun.
.
.
.
.
Harapan selalu menyesatkan pikiran. Hitam transparan, berenang menyusuri hulu sampai hilir. Menjelajah lautan luas tanpa tahu arah dan tujuan.
Dimulai dari kecebong, udang, ikan air tawar, kepiting, dan terakhir adalah penyu. Menempel pada tubuh hewan tanpa mampu berbuat sesuatu, berpindah-pindah saat ditelan oleh pemangsa mereka.
Menjalani hidup yang tidak terasa seperti kehidupan. Kesadaran masih tetap utuh dan semakin menguat, namun ketidakberdayaan membuatnya terasa sia-sia.
Tanpa sadar, diriku pun berhenti berharap dan memilih untuk menutup mata. Bersemayam pada tubuh penyu berumur panjang, berusaha menikmati hamparan laut ini.
Menyaksikan kehidupan yang terus berubah karena iklim. Mempelajari sifat mereka dan berusaha mencari teman bicara, meski diriku tahu mereka takkan bisa membalas.
Saat daratan mulai naik dari dasar laut, penyu tempat diriku bersemayam pun ikut berubah. Dari makhluk laut berevolusi menjadi hewan air tawar, mampu merayap di daratan lebih lama dari sebelumnya.
Sebagian dari bangsa penyu mengubah sirip mereka menjadi kaki, beradaptasi untuk tinggal di darat dan meninggalkan sungai. Lebih memilih untuk memakan sayur, serangga, dan buah-buahan.
Namun, sebagian masih ada yang tetap mempertahankan bentuk asli mereka. Tinggal di sekitar perairan seperti danau ataupun bengawan, tetap memakan ikan-ikan kecil.
Diriku menetap pada seekor penyu air tawar. Tinggal di dekat bengawan, berkelompok dalam habitat kecil di sudut perairan. Terkadang dikejar oleh pemangsa seperti buaya ataupun ikan besar, namun pada lain waktu juga menjadi pemangsa hewan-hewan kecil.
Tidak ada kejahatan maupun kebaikan dalam hal ini, hanya sebuah siklus alam yang bergerak mengikuti tatanan harmoni. Sebuah siklus rantai makanan yang teratur.
Namun, pada suatu saat diriku menyaksikan kehadiran makhluk-makhluk aneh.
Melalui penglihatan penyu, diriku melihat manusia untuk pertama kalinya. Makhluk yang disebut-sebu sebagai Khalifah oleh Roh Kudus, entitas dengan intelektual tinggi layaknya makhluk astral.
Namun, kesan pertama mereka sangat buruk!
Sampai-sampai membuat diriku merasa jijik dan mual!
Dewi itu pasti gila! Memangnya tidak ada makhluk lain?! Kenapa dia menunjuk makhluk primitif seperti mereka sebagai pemimpin dunia?!
Saat pertama kali melihat kawanan penyu di pinggir sungai, apa yang mereka lakukan adalah menangkap kami. Dipenggal, dimutilasi, cangkang dibuka, kemudian dijadikan wadah untuk memasak daging kami.
Diriku tidak ingat jelas apa yang terjadi selanjutnya. Namun, setelah itu diriku tiba-tiba terbangun dalam tubuh baru.
Sayangnya, ini tidak semudah sebelumnya. Di mana diriku akan menempel pada pemangsa setelah dimakan.
Diriku tidak mampu merasuki tubuh salah satu manusia tersebut, melainkan terlempar ke dalam penyu yang sekarat di pinggiran sungai.
Sungguh konyol! Padahal sebelumnya diriku bisa berpindah ke pemangsa! Kenapa kali ini tidak bisa! Akh! Tidak adil!
Meski mengeluh, diriku tetap tidak bisa apa-apa. Hanya bisa melihat kelompok manusia itu memangsa kawanan penyu, kemudian hanyut ke dalam aliran sungai dengan tubuh sekarat. Benar-benar menyedihkan.
Untungnya, penyu memang memiliki daya tahan hidup yang luar biasa. Meski sirip belakang sudah terpotong dan tempurung hampir lepas, binatang lamban ini berhasil bertahan hidup. Merangkak ke darat dan beristirahat di tepian.
Namun, tetap saja luka yang diderita terlalu parah. Luka membengkak, kekurangan darah, dan tempurung pun hampir terlepas karena terpaan arus sungai saat kabur.
__ADS_1
Pada saat itu, jujur diriku tidak merasa takut ataupun menyesal. Hidup ini cukup menyenangkan.
Meski dipenuhi ketidakberdayaan, banyak hal menakjubkan yang telah diriku saksikan.
Perubahan daratan dan lautan, evolusi makhluk hidup di dalamnya, dan siklus kehidupan yang misterius. Bahkan ada banyak momen mendebarkan saat dikejar pemangsa.
Diriku hanya melihat dunia dari persepsi yang sempit, namun itu cukup memuaskan. Kehidupan ini sangatlah indah.
Sayangnya⸻
Kehidupan merupakan sesuatu yang tidak bisa diprediksi. Saat diriku kira semuanya telah berakhir, gadis itu datang menghampiri seekor penyu yang sekarat di pinggir sungai.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ia memungut diriku. Menyembuhkan tubuh penyu ini dengan kekuatan aneh, kemudian dibawa menuju sebuah kereta kuda dan dimasukkan ke dalam keranjang rotan. Berakhir menjadi hewan peliharaan gadis itu.
Ia selalu dipenuhi aura misterius, sering didampingi oleh sosok berkabut hitam dan selalu tertawa bersamanya. Membicarakan hal-hal aneh seperti rekonstruksi, kekasih, atau bahkan membunuh dewi untuk merebut singgasana.
Saat tinggal bersama mereka, diriku baru tahu bahwa gadis itu adalah sosok penting dalam kalangan manusia. Disebut sebagai Kaisar Abadi, Leben Tsukihi.
Namun, anehnya tidak ada satupun dari prajurit ataupun pengawal yang menyadari entitas itu⸻
Entitas berkabut hitam yang selalu berada di sisi sang gadis, makhluk yang disebut sebagai Kaisar Pertama Kekaisaran Urzia.
Beberapa tahun setelah dipungut, diriku baru tahu bahwa entitas itu sudah mati dari dulu. Pada dokumen arsip sejarah, dicatat Kaisar Pertama mati karena penyakit bawaan. Ia meninggal tepat pada dekade pertama setelah pendirian Kekaisaran Urzia.
Selang beberapa bulan, Gadis Abadi naik tahta dan menduduki posisi pemimpin. Mengembangkan wilayah dalam waktu singkat, memperkuat negeri dan memakmurkan rakyat.
Selama bersemayam dalam tubuh wujud penyu, diriku tidak merasa janggal dengan kehadiran entitas berselimut kabut tersebut.
Meski gelap dan memiliki kesan menakutkan, ia selalu berbicara dengan nada ramah. Kadang-kadang menggunakan kalimat aneh yang sukar dimengerti, suka memberikan penjelasan berlebihan, dan benci dengan kekerasan.
Pada suatu malam, sosok berselimut kabut hitam itu tiba-tiba menghilang.
Saat mengetahui kepergiannya, Gadis Abadi langsung jatuh sakit dan bersedih selama berbulan-bulan. Mengurung diri di kamar, tidak mau makan dan hanya berbaring di atas ranjang. Menelantarkan Kekaisaran, berakhir mengakibatkan perang saudara berkepanjangan.
Saat tahun hampir berlalu, gadis itu akhirnya bangun dari tempat tidur. Ia tidak pergi menemui pengikutnya untuk menyelesaikan konflik, namun menghampiri diriku di sudut ruangan.
“Engkau masih di sana?” Gadis Abadi mengangkat tubuh ini dengan lembut. Ia sekilas memperlihatkan tatapan berkaca-kaca seakan ingin menangis, kemudian dengan suara gemetar bertanya, “Maukah engkau membantu diriku, penyu kecil?”
Ah, dia sudah menyadari kehadiranku dari awal. Gadis ini …, sebenarnya siapa? Mengapa dia tampak seperti menanggung beban yang sangat berat dengan tubuh kecilnya?
Diriku pada saat itu belum memahaminya⸻
Entah makna dari permintaannya, atau bahkan konsekuensi dari jawaban yang diriku berikan.
Hanya saja, tatapan dan permintaan itu terasa begitu tulus. Ia sudah pasrah pada ketidakberdayaan.
Jika memang diriku bisa membantu, kenapa tidak?
Hidup ini sudah mendapatkan hadiah yang setimpal, mari gunakan itu untuk yang lain. Kita hanya bisa tahu ini sebuah kesalahan atau bukan setelah mencobanya.
Karena itulah, diriku memilih untuk mengangguk.
“Terima kasih. Namun, untuk sekarang tolong tidur lah dalam akhir suri ini ….”
Kematian yang hangat, itulah yang diriku rasakan saat dibunuh olehnya. Momen ketika jiwa ditarik dari tubuh penyu terasa sangat lembut, seperti dibelai oleh angin laut.
Namun, momen ketika jiwa ini dimasukkan ke dalam raga baru terasa sangat menyakitkan. Itu seperti tubuh dikunyah oleh predator, kemudian masuk ke dalam sistem pencernaan dan dengan bercampur feses.
Meski menjijikkan, diriku rasa ini sepadan dengan apa yang didapat.
Wujud fisik yang kukuh, berbentuk manusia utuh dengan dua kaki dan tangan. Sehat tanpa penyakit ataupun cacat. Tubuh fisik seorang mortal.
Yang lebih penting, tubuh ini bisa diriku gerakan sesuka hati. Tidak menempel ataupun bersemayam, namun sepenuhnya dapat dikendalikan.
Sejak itulah diriku mulai hidup sebagai manusia, berpura-pura menjadi bangsa mereka. Membaur, menciptakan identitas, kemudian sempat berpindah-pindah tubuh layaknya berganti cangkang. Memenuhi janji untuk melindungi Kekaisaran selama puluhan generasi.
Lambat laun janji dan sumpah berubah menjadi alasan, sebuah dalih untuk diriku menetap di tempat ini. Menjalani kehidupan bersama mereka layaknya sebuah keluarga.
Terkadang diriku berperan sebagai pengajar, menyampaikan pengetahuan dan melatih anak-anak. Disebut guru ataupun master, terkadang juga Kepala Keluarga maupun Jenderal.
Melatih anak-anak manusia untuk menjadi perwakilan. Mendidik mereka dengan moral dan kesetiaan, menyampaikan niat Kaisar kepada rakyat.
Namun, saat waktu berlalu mereka akan mengajari diriku banyak hal.
Manusia tumbuh dengan sangat cepat.
Tanpa diriku sadari, beberapa anak kecil yang dulu diriku adopsi telah berubah menjadi kakek dan nenek. Memiliki keluarga, anak, cucu, bahkan cicit.
Meski kesan pertama umat manusia sangat buruk, diriku tidak bisa membenci mereka.
Sebagai makhluk hidup mereka penuh dengan kekurangan. Tidak hanya secara fisik ataupun bentuk kehidupan, namun juga akal dan perilaku. Sangat temporer, tidak dapat diprediksi, dan irasional.
Dalam seluruh kekurangan yang ada, mereka memiliki satu kebanggaan yang kuat. Sebagai makhluk berumur pendek, umat manusia dapat mewariskan ambisi dan identitas kepada keturunan mereka
Menciptakan keluarga besar, memperbanyak keturunan, dan menerapkan sebuah ideologi untuk mengikat banyak orang dalam satu struktur. Kesatuan dengan hierarki abstrak.
Meski berat, kebersamaan itu sangat menyenangkan. Kehadiran mereka memberikan makna dalam kehidupan ini. Jika ada sesuatu yang dapat disesali, diriku cukup sedih karena tidak bisa menua bersama mereka.
Perbedaan jangka hidup memang sangat kejam, waktu takkan pernah memberikan kompromi. Cinta selalu membawa kedamaian dan kehangatan. Namun, itu akan mendatangkan sakit saat pergi. Membekas layaknya noda pada kain putih.
ↈↈↈ
__ADS_1