
“Menipu? Mengelabui?” Odo sedikit tercengang. Paham perkataan itu berasal dari lubuk hati Leviathan, pemuda itu merasa sedikit lega karena Putri Naga mau menghadapinya dari depan. Tidak mengelak atau pura-pura menerima, dirinya berhenti tersenyum dan memutuskan untuk membantah secara frontal. “Kebenaran memang sulit diterima. Reaksi penolakan seperti itu sangat wajar. Kau hanya ketakutan saat dihadapkan dengan kebenaran,” balasnya seraya perlahan berbalik, lalu melangkahkan kaki menuju wanita dengan wajah ketakutan tersebut.
Meski hanya ditatap lurus, insting Leviathan tiba-tiba merasa sesuatu yang mengerikan. Membuat bulu kuduknya berdiri dan kedua mata terbuka lebar, lalu secara refleks langsung bergerak untuk melindungi Alyssum dan mendekapnya.
Namun, tindakan tersebut merupakan kesalahan fatal. Meski dibatasi kain pakaian, Putri Naga telah melakukan kontak fisik dengan Odo. Dalam momen singkat itu, sebuah manipulasi persepsi telah ditanamkan kepadanya.
Hal tersebut bukanlah sesuatu yang mampu membelokkan kehendak secara langsung. Sebuah ketakutan mutlak ⸻ Persepsi sederhana di mana Odo dianggapnya sebagai individu menakutkan, meski pada kenyataannya tidak.
Karena itulah, Leviathan tidak bisa berpikir jernih saat melihat pemuda itu. Meski seharusnya Putri Naga jauh lebih kuat dari Odo, satu persepsi yang diimplan tersebut seakan menghapus kemungkinan untuk melawan. Hanya pasrah dalam ketakutan, lalu berpikir untuk kabur dan tidak lagi terlibat dengannya.
“Alyssum, kita akan loncat ke belakang. Jangan takut ….” Leviathan berbisik. Menggenggam tangan Roh Kecil tersebut dengan erat, Putri Naga mengurungkan niatnya untuk bekerja sama dengan Odo dan memutuskan untuk kabur. “Dia terlalu berbahaya. Bukannya menata ulang Dunia Astral atau bahkan membangun negeri, bisa-bisa tempat ini berakhir menjadi panggung boneka,” tambahnya seraya melirik ke belakang, memastikan posisi Reyah dan Vil supaya tidak menghalangi.
“Tidak bisa, Tuan Putri ….” Alyssum menarik tangannya dari Leviathan. Melangkah mundur dan menjaga jarak, Roh Kecil tersebut menatap tajam dan menegaskan, “Diriku memang sangat berterima kasih kepada Tuan Putri. Kalau saja Tuan Putri tidak membantu diriku untuk memulihkan ekosistem Pohon Suci, mungkin saja tempat itu sekarang sudah menjadi hutan mati. Namun …, untuk hal semacam ini diriku tidak bisa.”
“A-Apa yang kamu bicarakan, Alyssum! Dia⸻!!”
“Ayolah, tak perlu takut.” Tepat sebelum Leviathan menyelesaikan perkataanya, tiba-tiba Odo telah berdiri di dekat mereka berdua. Mencengkeram tangan Putri Naga dengan sangat kencang, pemuda itu mendekatkan mulut ke telinga dan lekas berbisik, “Mari berkenalan dengan keputusasaan. Mereka tidak seburuk yang engkau kira, wahai Tuan Putri.”
“Lepaskan⸻!!” Leviathan hendak menghempaskannya. Namun, sekali lagi hal mengejutkan terjadi. Tiba-tiba pemuda itu menghilang, lalu pijakan pada kedua kaki pun lenyap pada detik yang sama. Saat Putri Naga memahami situasi tersebut, itu sudah terlambat. “Teleportasi? Kapan dia memasangnya?” benaknya tanpa bisa mengelak.
Odo tidak menghilang dari tempat, melainkan Leviathan yang dipindahkan ke ujung tebing dan jatuh ke dalam jurang. Menggunakan Puddle, Putri Naga itu benar-benar dilempar ke dalam kegelapan putih abadi.
Kali ini pemuda itu tidak meraih tangannya, membiarkan Leviathan terjun bebas menuju Core Realm yang tersembunyi di dalam jurang penuh kabut tebal. Lenyap tanpa sisa wujud, suara, atau bahkan hawa keberadaan dan tekanan sihir.
“Baiklah, mari kita mulai tahap berikutnya.” Odo meregangkan kedua tangannya. Sedikit menoleh ke belakang, pemuda itu melempar senyum tipis dan bertanya, “Hebat kalian tidak mempertanyakan rencanaku. Terutama kau, Diana ….”
“Hanya mengikuti, ini bukan berarti diriku sudah mempercayai engkau!” Diana memalingkan pandangannya dengan cemas. Memperlihatkan wajah gelisah, Roh Agung berkulit gelap tersebut menyampaikan, “Kebanyakan yang dipilih Uni selalu tepat, kali ini pun diriku berharap demikian.”
“Perkataanmu itu mirip Ifrit, ya! Rasanya tidak punya keteguhan,” sindir Odo dengan remeh. Menghela napas sejenak, pemuda itu lekas menatap Laura dan Magda untuk memastikan sesuatu. Melihat wajah risau mereka, pemuda rambut hitam itu sedikit membungkukkan badan dan berkata, “Terima kasih sudah setuju tanpa bertanya-tanya. Ini benar-benar membantuku.”
“Setelah melihat wujud asli Leviathan, siapa juga yang mau akrab dengan makhluk seperti itu. Kita sangat tahu ancamannya! Benar, ‘kan?” Magda mengerutkan kening. Memalingkan pandangannya ke arah Laura, perempuan rambut pirang tersebut lanjut berkata, “Lagi pula, secara tidak langsung dia sudah mengacaukan banyak hal. Saya benci dia!”
“Dia memang menakutkan, namun saya tidak terlalu membencinya.” Laura ambil bicara. Sedikit menundukkan wajah, Elf rambut pirang tersebut memastikan, “Bukankah terlalu kejam baginya untuk dikhianati seperti ini? Padahal … dia sudah banyak membantu kita.”
Untuk sesaat pembicaraan terhenti, menjadi senyap dan hanya tersisa suara angin kencang. Sebelumnya mereka tidak mencegah Odo bukan tanpa alasan, namun itu memang sudah dibicarakan selama perjalanan. Tepatnya setelah naik ke tebing dan menyusuri badai kabut.
Menggunakan Radd Sendangi, kemampuan telepati yang pernah Odo salin dari Elulu Indul Kalama, dirinya menjelaskan rencana tersebut kepada mereka semua. Membujuk mereka satu persatu dan menyampaikan rencana, lalu bersenandung lagu aneh untuk mengacaukan fokus Leviathan sebagai pengalihan perhatian.
“Aku tidak mengkhianati siapa pun,” tegas Odo. Menarik napas dalam-dalam, pemuda itu sekilas memalingkan pandangan dan bergumam, “Sialan, kau membuatku merasa bersalah karena mendorongnya.”
“Jadi, apa yang akan kita lakukan setelah ini?” Vil berjalan mendekat, lalu menatap penasaran karena tidak sepenuhnya mengetahui rencana pemuda itu. Seraya mendekatkan wajah dan menajamkan tatapan, Roh Agung tersebut dengan tegas segera bertanya, “Jangan bilang kalau kamu menjatuhkannya ke Core Realm hanya untuk dijadikan tumbal, Odo?”
“Tumbal, ya? Sungguh pemilihan kata yang unik. Tenang saja, bukan itu tujuanku.” Odo menarik napas dalam-dalam. Melangkah mundur untuk membuat jarak, pemuda itu lekas mengulurkan tangannya dan meminta, “Bisa aku pinjam tongkatmu sebentar?”
“Eh?” Vil tersentak, permintaan itu terlalu tiba-tiba dan sempat membuatnya bimbang. Ikut mundur selangkah dan membisu, dirinya sempat menurunkan alis dengan penuh rasa cemas. Berkacak pinggang dan menarik napas dalam-dalam, dengan tegas sang Siren menolak, “Tidak mau! Meskipun yang meminta Odo, diriku tidak akan meminjamkannya.”
“Kenapa?” tanya Odo seakan-akan dirinya tidak tahu. Sedikit memiringkan kepala dan berhenti mengulurkan tangan, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Apa karena tongkat itu adalah peninggalan sahabat⸻?”
“Cukup!” Vil menyela, sedikit tercengang karena Odo benar-benar ingin menyudutkannya. Sedikit memalingkan pandangan, Roh Agung tersebut menarik tusuk konde yang digunakan untuk menyanggul. Rambutnya yang panjang pun berkibar lepas saat tertiup angin, sedikit menyentuh pipi pemuda itu dengan lembut. “Kejamnya sekali, kenapa Odo berniat mengadiliku juga? Tanpa dipaksa pun diriku akan meminjamkannya, tadi hanya ingin bergurau,” ujarnya seraya menyerahkan konde tersebut.
“Hmm?” Sekilas Odo terlihat bingung karena tiba-tiba diberi tusuk konde. Mendekat dan mengambilnya untuk diamati, dirinya baru tahu bahwa itu adalah tongkat Veränderung yang telah diperkecil. “Kau juga bisa mengubah ukurannya, ya? Ini mengejutkan! Aku kira tongkat ini hanya bisa diubah menjadi bentuk astral saja,” ujar pemuda itu seraya menarik rambut Vil yang masih terselip pada konde.
__ADS_1
Vil terdiam sesaat, tidak menjelaskan dan malah mulai merapikan rambut. Perlahan menyisir menggunakan jemari kurus, lalu menyalurkan Mana untuk meningkatkan kelembaban rambutnya supaya tidak berkibar bebas.
“Veränderung adalah tongkat pengubah susunan dunia, mengatur bentuk dan ukuran bukanlah masalah besar.” Setelah merapikan rambut, Vil menepuk punggung tangan Odo dan membuat tongkat kecil itu terlempar ke udara. Namun, tidak terhempas oleh angin karena perubahan massa yang signifikan. Saat melayang, sekilas cahaya terang terpancar kuat dan tongkat tersebut pun kembali ke ukuran semula. “Lihat! Sangat praktis bukan?” ujarnya dengan bangga. Menangkap tongkat tersebut, Vil kembali menyerahkannya kepada Odo.
“Yah, sebenarnya aku sudah tahu itu,” ujar Odo dalam hati. Sembari memalingkan pandangan, pemuda itu dalam benak kembali berkata, “Saat melihat Alyssum mulai mengikat rambutnya, kau ikut-ikutan dan mulai menyanggul rambut. Duh, polos sekali.”
“Memangnya Odo ingin menggunakan tongkatku untuk apa?” Vil menatap penasaran sampai mendekatkan wajah, sangat antusias untuk beberapa alasan. “Odo ingin menggunakannya sebagai medium dan katalis sihir? Bukannya sirkuit sihir kamu masih sangat lemah? Apa tidak masalah?” tanyanya dengan cemas, namun lebih cenderung ingin tahu.
“Hmm? Bukan, bukan ….” Odo menjepit tongkat dengan ketiak. Melingkis kemeja tangan kanan sampai bahu, pemuda itu langsung merobeknya dengan kasar. “Apa kau lupa? Tempat ini memiliki aliran Ether yang tidak wajar, membentuk struktur sihir sama saja dengan membangun istana pasir di bibir pantai. Itu akan dengan mudah hancur tersapu ombak,” jelasnya dengan mimik wajah sedikit terganggu.
“Lalu, untuk apa Odo meminjam Veränderung?” Vil sedikit memiringkan kepala, semakin bingung dan tidak paham.
Merasakan hal yang serupa, Roh Agung lainnya pun mulai penasaran dan mendekat. Bersama Laura dan Magda, mereka semua berjalan serempak untuk melihatnya dari dekat.
Untuk sesaat Odo terdiam saat melihat mereka mendekat dan berkerumun seperti itu. “Jangan terlalu dekat, nanti menciprat ke pakaian kalian,” ujarnya dengan nada sedikit ketus. Berusaha untuk fokus dan menarik napas dalam-dalam, pemuda itu segera memasukkan kain perca ke dalam mulut.
Memegang tongkat Veränderung dengan tangan kiri, Odo mulai meletakkan ujung tongkat berselimut aliran Mana tajam pada siku tangan kanan. Memperkirakan sudut, lalu tekanan dan kekuatan sihir yang perlu digunakan untuk mengurangi pendarahan. Tanpa ragu ataupun rasa takut, pemuda itu langsung memutus tangan kanannya sendiri dalam sekali ayunan tongkat sihir.
Darah menciprat, tangan kanan pun putus dan jatuh dengan sekali ayunan tongkat sihir. Melihat hal tersebut, wajah Vil langsung memucat dan tubuhnya seketika lemas. Semua Roh Agung yang melihat hal tersebut ikut terkejut, begitu pula Laura dan Magda yang juga melihatnya dengan mulut menganga.
Dalam sehari, itu kedua kalinya mereka menyaksikan Odo melakukan hal gila. Sangat tidak masuk akal, seakan-akan pemuda itu tidak menghargai dirinya sendiri dan mengap remeh kehidupan.
Tanpa pikir panjang Vil langsung merebut tongkat Veränderung, lalu menahan bahu pemuda itu ke atas untuk mengurangi pendarahan. Memikirkan hal yang hampir serupa, Reyah bergegas mengambil tangan kanan Odo yang putus untuk disambungkan kembali menggunakan sihir pemulihan.
Namun, saat itulah mereka menyadari sesuatu yang aneh.
Darah memang sempat mengalir keluar dari tangan yang terpotong itu, bahkan sampai menciprat ke pakaian mereka dan membuat noda merah. Tetapi, dalam beberapa detik pendarahan langsung terhenti. Hanya beberapa tetes saja yang masih keluar, seperti luka ringan saat jari teriris tipis pisau dapur.
“Apa … yang engkau bicarakan?” Reyah memegang potongan tangan itu dengan gemetar. Ingin meraih Odo, namun rasa takut seakan mencegahnya untuk melakukan hal tersebut.
“Odo?” Vil samar-samar merasakannya, firasat tidak menyenangkan dari tindakan yang akan pemuda itu ambil. Tanpa pikir panjang Roh Agung tersebut menjatuhkan tongkatnya, lalu memeluk tangan kiri pemuda itu dan menahannya. “Apapun itu, jangan lakukan! Tolong jangan lakukan,” pintanya dengan panik.
“Maaf …”
Dengan paksa dan kasar, Odo langsung menarik tangannya dan melepaskan dekapan Vil. Menolak permintaannya dan benar-benar membulatkan tekad, lalu melempar senyum sayu seolah itu adalah momen perpisahan.
Meloncat mundur dan menjaga jarak, Odo langsung melakukan teleportasi menggunakan Puddle. Dalam waktu kurang dari satu detik, dirinya seketika berada ke ujung tebing. Melayang jatuh ke dalam kegelapan putih abadi, memejamkan matanya dan tersenyum lebar.
“Odo!!!!”
Tanpa pikir panjang Vil langsung menggunakan Mana Internal, tanpa struktur sihir ataupun medium lain. Meningkatkan kekuatan fisik secara paksa, lalu berlari kencang untuk meraih pemuda itu.
Beberapa otot kakinya putus, sirkuit sihir sedikit bocor karena sirkulasi energi yang berlebihan, dan sebagian pembuluh darah pun rusak. Meski kedua kakinya membengkak, Vil tidak berhenti dan terus berlari.
Waktu jatuh Odo memang lambat karena dorongan angin dari bawah, Vil juga sudah berlari secepat yang dia bisa. Namun, tetap saja itu sudah terlambat. Jarak yang ada dan kesengajaan pemuda itu tidak bisa ditutupi.
Vil langsung meloncat dan terjatuh di ujung tebing, tanpa sempat meraih tangan pemuda itu. Panik langsung mengambil alih, membuat pikirannya buyar sampai gelagapan.
Tanpa memikirkan akibatnya, Vil langsung meloncat ke dalam jurang untuk mengejar Odo. Murni dilakukan karena rasa takut kehilangan, sebuah trauma yang tertanam jelas dalam hatinya.
Tepat sebelum Vil terjun bebas, Reyah dan Diana langsung mencengkeram kakinya. Menarik Siren itu ke tepi tebing, lalu menahannya supaya tidak melakukan hal bodoh tersebut.
__ADS_1
“Apa yang engkau lakukan?!” bentak Reyah murka.
“Dasar bodoh!” Diana ikut membentak. Dengan mimik wajah cemas, Roh Agung berkulit gelap tersebut lanjut menegur, “Itu bukan jurang biasa! Dirimu ingin mati, ya?!”
“Odo …!” Vil tidak mendengarkan mereka. Air mata mengalir, membasahi pipi dan membuat wajahnya terlihat kacau. Tidak merelakan Odo, perempuan rambut biru pudar tersebut kembali mengulurkan tangannya dan berkata, “Kumohon, jangan pergi ….”
Tepat sebelum Odo ditelan oleh kegelapan putih abadi dan lenyap sepenuhnya, dia meletakkan telunjuk kanan ke depan mulut. Melebarkan senyum tipis dan berkata, “Tunggu saja dengan tenang di sana.”
Meski suara Odo terhapus gemuruh angin, perkataannya tersampaikan dengan baik melalui gerak bibir. Vil, Reyah, dan Diana hanya bisa terperangah saat melihatnya. Dibuat lelah secara mental karena kegilaan pemuda itu.
“Di-Dia tidak mati, ‘kan?” Diana jatuh bersimpuh, sedikit mendongak dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
“Diriku tahu Odo itu sedikit tidak waras. Namun, ini terlalu berlebihan.” Tidak kuat berdiri lagi, Reyah pun jatuh berlutut dengan mimik wajah pucat. Seraya menundukkan wajah dirinya bergumam, “Kalau seperti ini terus, rasanya umurku bisa semakin pendek.”
“Odo ….” Berbeda dengan mereka berdua, Vil masih gemetar kacau dan terus mengulurkan tangannya. Mantan Penguasa Laut Utara itu merangkak, seakan-akan ingin menjatuhkan dirinya sendiri ke dalam jurang. “Odo baik-baik saja, ‘kan? Dia tidak⸻?”
“Hey!” Reyah langsung menahannya. Dryad itu kembali menariknya, lalu dengan nada lemas langsung menegur, “Kenapa malah mau loncat lagi …?! Engkau juga melihatnya, ‘kan? Kita harus menunggu di sini …!”
“Apa Papah baik-baik saja? Bukankah jurang itu ….” Alyssum berjalan mendekat. Wajahnya berubah pucat pasi, namun tidak separah Vil karena masih bisa berpikir dengan jernih. Menelan ludah dengan berat, Roh Kecil tersebut sedikit melongok ke dalam jurang dan lanjut berkata, “Meski hawa keberadaan Papah masih terasa, bukannya sangat sulit untuk keluar dari dalam sana? Dalam Catatan Kuno, bahkan disebutkan tidak ada yang bisa keluar setelah jatuh⸻?”
“Kenapa malah ikut-ikutan, sih?!” Reyah membentak. Menoleh dan menatap tajam, Dryad itu langsung menunjuknya sembari berkata, “Daripada bicara seperti itu, kenapa kamu tidak membantuku menarik ikan bodoh ini! Dan juga, kalau dipikir-pikir kenapa kamu memilih panggilan itu! Bukankah ada yang lebih sopan seperti Ayahanda atau Ramanda!”
“Eh?” Alyssum langsung tersentak, melangkah mundur dan memalingkan wajahnya dengan cemas. “Saya hanya ….”
“Sudahlah, Uni Reyah.” Diana menepuk pundak sang Dryad. Ikut membantunya menarik Vil menjauh dari jurang, Roh Agung berkulit gelap tersebut menyampaikan, “Alyssum baru lahir. Biarkan dia memilih, coba berikan toleransi meski hanya sedikit. Jangan terlalu memaksakan warna Uni Reyah kepadanya, anak itu punya warna sendiri untuk melukis kehidupannya.”
“Bilang itu setelah kamu becus mengatur ekosistem Lembah Kehidupan!” Reyah melirik tajam. Menghela napas ringan, Roh Agung tersebut berhenti menyeret Vil dan berkata, “Berhenti sok bijak, Diana …. Kalau saja tempat ini lebih teratur, mungkin opsi yang Odo miliki akan lebih luas dan tidak harus memilih rencana seperti ini.”
“Saya rasa tak perlu khawatir, wahai Dryad nan Agung.” Laura berjalan mendekat. Sedikit melongok ke dalam jurang, Elf tersebut dengan percaya diri menyampaikan, “Odo berhasil mengalahkan Leviathan, dia pasti akan segera kembali setelah urusannya selesai.”
“Hmm ….” Reyah sekilas menoleh saat mendengarnya bicara. Tidak terlalu memedulikan Laura ataupun rekan Elf tersebut, sang Dryad segera memalingkan pandangan. Menurunkan kedua alis sampai kening mengerut, Roh Agung tersebut lekas menatap Diana dan bertanya, “Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?”
“Mau menunggu?” Diana sekilas mengangkat kedua sisi pundak. Menunjuk Vil yang masih tengkurap, Roh Agung berkulit gelap tersebut menyarankan, “Lagi pula, bukankah kita harus mengatasi ini dulu? Kalau dibiarkan, dia bisa-bisa langsung terjun ke dalam sana, loh.”
“Ah, benar juga! Mau diikat saja?"
“Ide bagus! Ayo, ikat saja! Biar tidak menyusahkan!”
“Pakai sulur? Akar? Atau sekalian yang ada durinya?”
“Sebentar, diriku akan buat monolit dulu untuk tempatnya. Kalau dibiarkan begitu saja, dia masih bisa menggeliat pergi seperti ulat.”
Melihat mereka berdua mulai membuka pembicaraan tanpa memedulikan Laura, sebagai rekan Magda hanya bisa tersenyum miris. Tidak bisa membela, atau bahkan protes kepada mereka berdua. “Jangan diambil hati, Letnan. Itu sifat wajar mereka sebagai makhluk superior,” ujarnya dengan niat menghibur.
“Ya, diriku hampir lupa itu.” Laura tidak terlalu peduli dengan perlakuan mereka. Memalingkan pandangan ke arah jurang, Elf tersebut dengan nada cemas bergumam, “Dia bisa kembali, ‘kan? Dari sini bahkan dasarnya tidak kelihatan.”
“Entahlah.” Magda mulai berkacak pinggang. Memperlihatkan mimik wajah cemas, Elf rambut pirang tersebut dengan lirih menyampaikan, “Apapun yang terjadi, sebenarnya ini bukanlah urusan kita. Kalaupun pemuda itu tidak kembali, kita hanya perlu melakukan sesuatu yang harus kita lakukan.”
“Kamu benar.” Laura menahan napas sejenak. Sejenak memejamkan mata, dirinya lekas berbalik sembari berkata, “Kita tunggu saja. Mari siapkan itu untuk jaga-jaga.”
ↈↈↈ
__ADS_1