
Darah membasahi pakaiannya, lalu menciptakan noda merah pada bahu kanan kemeja hingga ke dada. Meski racun telah diubah menjadi larutan protein kental yang tampak seperti nanah, luka tusukan pada leher pemuda itu masih membekas. Sedikit menganga dan terus mengeluarkan darah segar.
Odo menuruni anak tangga dengan perlahan, lalu mulai memancarkan aura mistis berwarna putih keemasan. Suara langkah kakinya seakan menghapus keramaian di balai kota. Membuat beberapa orang menoleh, lalu gemetar ketakutan saat melihat sosok yang turun dari tabir kabut tersebut.
Suhu udara perlahan-lahan naik. Pada saat bersamaan, kabut yang menyelimuti tempat itu pun memudar. Membersihkan pandangan, lalu memperlihatkan kondisi pertempuran di balai kota yang berat sebelah.
Meski lawan mereka hanya terdiri dari belasan prajurit dan beberapa penduduk sipil, puluhan Pasukan Kekaisaran tidak mengendurkan gempuran mereka. Terus menyerang dengan agresif, lalu membantai musuh dengan mudah dan menerobos pagar pasak. Bahkan sampai ada yang hampir memasuki bangunan Gereja Utama, berancang-ancang menendang pintu aula depan dan hendak menyerbu.
Melihat situasi tersebut, Odo sekilas menyipitkan mata dengan wajah datar. Ia lanjut menuruni anak tangga dalam ketenangan konstan, tidak terburu-buru ataupun gelisah. Setelah menginjakkan kaki pada permukaan lantai marmer balai kota, pemuda itu perlahan mengangkat pedangnya ke depan sembari menghela napas
Layaknya sosok penghakim, kedatangan Odo Luke langsung mengubah situasi pertempuran. Seluruh Pasukan Kekaisaran yang berada di tempat tersebut segera menghentikan serangan, lalu menjadikan pemuda rambut hitam itu sebagai target utama mereka.
Bahkan regu yang baru saja mendobrak pintu aula gereja segera mundur. Bergabung dengan peleton, lalu mulai membentuk formasi tempur bersama anggota lainnya. Benar-benar merasakan ancaman mengerikan dari pemuda itu.
“Kebenaran sejati merupakan racun dunia ….”
Odo tidak meningkatkan tekanan sihir. Sembari melangkah maju, pemuda rambut hitam tersebut tetap menodongkan pedangnya ke depan. Ia sama sekali tidak menunjukkan murka ataupun kebencian, hanya memancarkan niat membunuh murni layaknya seorang pemangsa.
Komandan Peleton segera menyadari sesuatu. Saat mendengar suara pemuda itu, bulu kuduk seluruh Pasukan Kekaisaran langsung berdiri tegak. Ritme pernapasan mereka mulai tidak karuan, kemudian disusul dengan keringat dingin yang bercucuran.
Saat ditatap oleh Putra Tunggal Keluarga Luke, tubuh mereka langsung gemetar kacau seakan-akan sedang dihadapkan dengan kematian. Tidak ada yang bisa bersuara, bahkan Komandan Peleton pun ikut membisu tanpa mampu memberikan perintah.
“Si-Siapkan tombak kalian!” Seorang prajurit dari barisan paling belakang tiba-tiba berteriak. Ia segera mengentakkan tombak, lalu dengan suara lantang memperingatkan, “Dia akan menyerang!”
“A⸻!” Komandan Peleton langsung tersentak. Ikut mengentakkan tombak, ia dengan suara lantang memerintahkan, “Angkat tombak kalian! Bentuk formasi segitiga terbang!”
Meski gemetaran, pria yang memimpin peleton itu segera berdiri di lini paling depan. Sedikit menurunkan posisi tubuh dengan menekuk lutut, lalu meletakkan pangkal tombak pada permukaan marmer dan mengangkat ujungnya ke depan. Dijepit menggunakan lengan kanan supaya tidak mudah roboh, lalu disangga dengan tubuh sehingga kukuh pada tempatnya.
Mengikuti pemimpin mereka, seluruh Prajurit Kekaisaran di tempat itu segera memasang kuda-kuda serupa. Berbaris membentuk formasi segitiga sama kaki dengan bagian tengah kosong, lalu membuang kemampuan mobilitas untuk fokus dalam pertahanan.
“Kebenaran selalu menyesatkan ….”
Seakan tidak peduli, Odo terus berjalan dengan langkah kaki yang konstan. Tidak bertambah cepat ataupun lambat, memperlihatkan harmoni ketenangan dengan gestur tubuhnya.
Sedikit memiringkan posisi badan, pemuda itu lekas menarik pedang hitam ke belakang dengan tangan kanan. Membiarkan posisi bilah berada di depan dada secara horizontal, lalu ujungnya menghadap lurus ke depan. Memantapkan sikap tubuh, ia segera masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem untuk meningkatkan konsentrasi.
“Wahai Dunia ….” Sejenak menghela napas panjang, Odo segera melemaskan otot-otot tangan dan kaki. Ia menatap tajam, lalu dengan suara liris lanjut merapal, “Kini engkau pun masih menipu kami. Diriku akan mengungkap kebenaranmu. Kebusukan putih dalam kobaran api penyucian, wujudkan lah bentuk sejati kalian dalam perjuangan ini.”
Pemuda rambut hitam tersebut berhenti melangkah, berdiri kukuh tepat empat belas meter di hadapan formasi tempur Pasukan Kekaisaran. Perlahan ia melebarkan kaki kanan ke belakang dan memantapkan kuda-kuda, lalu meningkatkan tekanan sihir dan memusatkan Mana pada bilah pedang hitam.
__ADS_1
“Diriku bukan lagi seorang musafir!” Setelah menarik napas dalam-dalam dan menajamkan tatapan, pemuda rambut hitam itu segera lanjut merapalkan mantra, “Kini diriku bisa tersenyum setelah mengetahui kebenaranmu! Meski sekilas, kebahagiaan berhasil tangan ini raih! Kebenaran sejati yang menyesatkan orang-orang …!”
Peristiwa aneh kembali terjadi. Tekanan sihir yang sebelumnya sempat meningkat drastis tiba-tiba menghilang, berganti dengan aura transparan berwarna putih aster. Menyelimuti tubuh sang pemuda layaknya sebuah jubah mistis.
“Teknik Pedang Utama!” Odo semakin menurunkan sikap tubuh dengan melebarkan kaki kiri ke depan, lalu menyiapkan pedangnya dengan posisi menusuk. Sembari mencondongkan badan ke depan dan bersiap melesat, pemuda itu dengan suara lirih lanjut berkata, “Buket Mayat ….”
Serangan itu hampir tidak bisa disebut Teknik Pedang. Alih-alih menggunakan kemampuan fisik yang bersumber dari raga, gerakan sepenuhnya didorong oleh kekuatan mistis. Lebih mirip sihir, namun menggunakan pedang sebagai katalis untuk meningkatkan kekuatan serangan.
Sebelum Pasukan Kekaisaran sempat bereaksi, Odo langsung melesat dan berniat menerobos mereka dari depan. Satu detik pertama gerakan pemuda itu masih terlihat, berupa loncatan cepat dengan tumpuan utama kaki kanan.
Namun, pada detik selanjutnya ia seketika memasuki kecepatan suara. Sebagian aura putih dikonsumsi untuk peningkatan kemampuan fisik, lalu sisanya digunakan untuk menajamkan bilah pedang hitam.
Kesadaran langsung mengalami akselerasi tidak wajar, membuat ilusi seolah-olah waktu terhenti untuk sesaat. Warna normal hilang dari penglihatan Odo, berganti dengan hue saturation menyimpang dengan tujuh warna dasar yang bercampur aduk. Membentuk sebuah spiral, lalu memusat pada satu titik dan berubah menjadi hitam pekat.
Pada detik itu juga, pemuda rambut hitam tersebut menembus tembok udara. Lenyap dari tempat, lalu langsung meluluhlantakkan formasi tempur Pasukan Kekaisaran dalam sekali hantam.
Suara ledakan menggelegar layaknya sambaran halilintar, membuat seluruh kaca patri pada bangunan gereja pecah. Bahkan sampai menghancurkan beberapa jendela bangunan di sekitarnya.
Kembali muncul dan berdiri tepat di depan pintu masuk aula gereja, Odo perlahan menoleh dengan ekspresi hampa. Tidak merasakan apa-apa saat melihat kengerian yang telah dirinya perbuat, lalu hanya mengendus ringan layaknya menghina kematian mereka.
Hanya dalam sekali serangan, Putra Tunggal Keluarga Luke berhasil memusnahkan satu kompi Pasukan Kekaisaran. Meski dihabisi menggunakan pedang, tubuh mereka tidak terpotong ataupun tertusuk.
Bagaikan mawar yang disusun indah dalam sebuah karangan bunga, mayat mereka hancur meledak. Menciptakan noda merah seperti bunga raksasa yang mekar pada lantai marmer, tersusun rapi layaknya buket mayat.
Beberapa saat kemudian, hujan darah dan potongan daging pun turun selama beberapa detik. Mengguyur lantai marmer, perlengkapan perang, senjata, segelintir penduduk sipil, dan beberapa prajurit Rockfield yang masih terduduk lemas di dekat buket mayat.
Mulut mereka menganga, tidak bisa berkata apa-apa dengan mimik wajah terbelalak. Meski melihatnya dari dekat, tidak ada satupun dari mereka yang bisa memahami peristiwa itu.
Di mata semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut, seluruh Pasukan Kekaisaran tiba-tiba meledak secara bersamaan. Kurang dari satu detik, zirah dan senjata mereka pun terjatuh ke lantai, dan hujan turun beberapa saat setelahnya.
Kesunyian mengisi setelah hujan merah berhenti turun, menghias balai kota dengan pemandangan mengerikan dan aroma darah yang pekat. Menusuk hidung, tidak lekas hilang meskipun sudah tertiup angin berkabut.
“Aku rasa ini terlalu berlebihan ….” Odo Luke sekilas menatap segelintir prajurit yang terduduk lemas di balai kota. Mengamati situasi, lalu sejenak menarik napas resah sembari lanjut bergumam, “Pada dasarnya Teknik Pedang Utama merupakan kombinasi antara jurus pedang dan ilmu mistis. Melihat hasilnya, aku rasa ini lebih mirip seperti senjata letal pemusnah massal …. Ini bukan teknik yang boleh digunakan kepada manusia.”
“Ah, biarlah! Sudah terlanjur!” Odo berusaha untuk tidak memedulikan hal tersebut. Meletakkan tangan kiri ke telinga, pemuda rambut hitam itu lekas mendongak. Mengaktifkan Radd Sendangi, lalu menghubungi Ifrit yang sedang mengawasi kondisi pertempuran dari langit kota Rockfield. “Bagaimana keadaan lini depan?” tanyanya dengan suara serak.
“Hah⸻?!” Ifrit langsung terkejut. Ia mulai melihat ke sana kemari, mencari sumber suara sembari bergumam, “Kenapa tiba-tiba terdengar suara Raja Luke? Halusinasi?”
Sosok berselimut hawa panas itu terbang dengan mengubah kobaran api menjadi sayap. Namun, ia tidak berubah bentuk menjadi burung Vermilion dan tetap dalam wujud humanoid. Hanya memanifestasi sebagian kekuatannya, menumbuhkan sayap pada punggung dan mengepakkannya untuk terbang.
__ADS_1
“Ini telepati ….” Odo sekilas menyipitkan mata. Meski kabut sudah memudar, namun ia tetap kesulitan mencari sosok Ifrit di langit. Setelah melihat sosok berselimut hawa panas tersebut, pemuda itu dengan suara lantang segera meminta, “Cepat laporkan situasinya! Apa yang kau lihat dari atas sana?”
“Hmm? Lembah dan pegunungan?” Ifrit malah balik bertanya, memberikan balasan yang terkesan bercanda.
“Bukan itu yang aku maksud!” Odo membentak. Mengentakkan kaki, ia dengan kesal segera memperjelas, “Lini depan! Lini depan, oi! Apa yang terjadi di sana?! Serius! Ini bukan pertama kalinya kau datang ke Dunia Nyata, ‘kan?!”
“Tolong jangan marah begitu, hamba hanya ingin sedikit bergurau ….” Ifrit sedikit menurunkan pandangan, lalu mengamati kondisi Gerbang Utama Rockfield sembari melaporkan, “Gerbang kota sangat ramai! Pertarungan masih berlangsung, sepertinya pihak Kekaisaran berhasil menyudutkan mereka! Beberapa prajurit musuh berhasil masuk, ada juga yang sudah berada di jalan utama dan bergerak kemari!”
“Hanya itu?” Odo menurunkan tatapannya. Sekilas melirik ke dalam bangunan Gereja Utama, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Bagaimana kondisi di luar gerbang? Beberapa kilometer dari kota, sekitar rute perdagangan …. Apa ada pasukan lagi?”
“Rute perdagangan?” Ifrit tidak memahami hal itu, namun ia melihat sekumpulan orang yang berbaris memenuhi jalan di luar kota. Sembari menurunkan tatapan dan melihat Odo di bawah, sosok berselimut hawa panas tersebut lanjut melapor, “Ada! Ada banyak, Yang Mulia! Mereka banyak sekali! Satu batalion penuh? Hmm, jujur diriku tidak terlalu paham klasifikasi jumlah yang digunakan manusia!”
“Tidak perlu teriak-teriak, ini telepati!” Odo sedikit mengernyit, kesal dengan laporan yang tidak spesifik seperti itu. Kembali mengentakkan kaki, pemuda rambut hitam tersebut dengan lantang bertanya, “Jarak dan jumlahnya?! Kalau buat laporan yang jelas, dong!”
“Yah, meski Anda menuntut seperti itu ….” Ifrit sekilas memperlihatkan ekspresi datar. Kembali menghadap lurus ke arah gerbang, sosok berselimut hawa panas tersebut mulai mengeluh, “Standar dan pemahaman kami berbeda dengan manusia. Meskipun saya pernah datang kemari, itu hanya untuk memenuhi kontrak. Bukan untuk mempelajari budaya dan peradaban kalian.”
“Gunakan saja standar dan pemahaman kalian! Aku akan menyesuaikan!”
Para pengungsi di dalam gereja mulai memberikan tatapan aneh, perlahan membuat Odo gelisah dan cemas karena rasa bersalah. Berusaha untuk tidak memedulikannya, ia sejenak menarik napas dan menancapkan pedang hitam ke lantai teras.
“Jumlah mereka sekitar satu ekosistem lebih ….” Ifrit mulai melaporkan dengan standar dan pengetahuan makhluk astral. Kembali mengamati dengan teliti, sosok berselimut hawa panas tersebut lekas menambahkan, “Jarak sekitar dua Farsakh! Mereka memecah pasukan menjadi beberapa kelompok kecil, lalu mengerahkan anggota secara bertahap menuju kota ….”
“Dua Farsakh, ya?” Odo sejenak terdiam dan berpikir. Setelah menyelaraskan informasi itu dengan pemahaman manusia, ia dengan suara pelan lanjut bergumam, “Jika satu Farsakh sejauh tiga mil, berarti jarak mereka sekitar sembilan kilometer lebih? Hampir sepuluh kilometer ….”
“Saya tidak tahu, yang jelas mereka berjarak dua Farsakh,” balas Ifrit dengan nada heran. Ia sedikit pusing saat mendengar pemuda itu bergumam, terdengar seperti lebah yang berdengung. Seraya melebarkan sayap api, sosok berselimut hawa panas tersebut dengan semangat lekas menawarkan, “Perlu saya basmi?”
“Tidak perlu!” Odo mencabut pedang hitam, lalu berbalik dan masuk ke dalam bangunan gereja. Seraya menyipitkan mata, pemuda rambut hitam itu menambahkan, “Terus awasi kondisi kota dari atas! Jika kau menemukan kejanggalan, laporkan!”
“Kejanggalan? Di tengah medan perang seperti ini?” Ifrit tidak terlalu memahami perintah tersebut. Memperlihatkan gelagat resah, ia sedikit menurunkan ketinggian sembari menambahkan, “Yang Mulia, namun semuanya terlihat janggal bagiku ….”
“Cari saja orang dengan tekanan sihir tidak wajar!” Odo memperjelas perintah. Karena teriakan itu, beberapa orang puritan yang ada di dalam aula gereja langsung tersentak. Penduduk sipil pun mulai menatapnya dengan penuh ketakutan, melangkah mundur seakan menganggap pemuda itu musuh. “Maaf, saya tidak bermaksud kalian,” ujarnya seraya menurunkan tangan kiri dari telinga, lalu segera menonaktifkan Radd Sendangi.
Meski sudah memperlihatkan ekspresi ramah dan lembut, tidak ada satu pun yang mau mendekati Odo. Beberapa orang puritan bahkan menunjukkan gelagat cemas, lalu berdiri di depan para penduduk sipil seakan ingin menjadi tameng mereka.
“Ka-Kami telah mendengar kabar tentang Anda dari Imam Kota ….” Salah satu Diakones memberanikan diri untuk menghadap sang Viscount. Ia segera berlutut dengan tubuh gemetaran, lalu menundukkan kepala seraya memohon, “Tolong maafkan ketidaksopanan kami, Tuan Odo. Ka-Kami tidak bermaksud menyinggung Anda.”
Diakones itu berpenampilan layaknya biarawati pada umumnya. Mengenakan pakaian Vestimentum berupa Alba berwarna ungu gelap, lalu memiliki tali Single merah untuk mengikat pinggang. Selain itu, dirinya juga memakai sehelai kain Amik putih sebagai penutup pundak.
“Saya tidak tersinggung, tenang saja …!” Odo sekilas mengamati seisi ruangan. Melihat ada beberapa orang terbaring di bangku peribadatan, pemuda rambut hitam itu segera mengulurkan tangan kiri sembari menawarkan, “Butuh bantuan?”
__ADS_1
“Eh?” Diakones yang diajak bicara langsung tercengang. Sekilas perempuan itu memalingkan wajah, lalu melihat para korban yang membutuhkan pertolongan pertama sesegera mungkin. “Anda … ingin membantu kami?” tanyanya sembari kembali menatap lawan bicara.
“Tentu, karena itulah aku masuk kemari.” Odo berjalan melewati Diakones tersebut, lalu berdiri di depan seorang biarawati yang terkapar di atas lantai aula. Sekilas mengamati dan mulai berjongkok, pemuda rambut hitam itu meletakkan tangan kiri ke depan mulut sembari bergumam, “Ekspresi hampa, tatapan kosong, dan sisa-sisa Kekuatan Ilahi. Ah, dia terlalu banyak menggunakan Berkah! Keracunan Mana Suci ….”