
[104] Serpent IV – Warisan Kebohongan (Part 03)
Layaknya seorang Dewa, sosok Iblis tersebut disembah dan dipuja-puja. Tidak butuh waktu sampai seratus tahu untuk Iblis Primal membangun sebuah kepercayaan, lalu memiliki ribuan pengikut yang loyal kepadanya
Hal itu berjalan sesuai dengan rencana Dewi Helena. Sang Iblis benar-benar menjadi simbol pembenaran terhadap kejahatan yang ada di dunia, lalu membuat konsep jahat menjadi jelas di mata para mortal.
Namun, sekali lagi kejadian di luar kehendak sang Dewi kembali terjadi. Ketika Iblis Primal tersebut sedang melaksanakan titah tersebut, muncul satu entitas yang berbeda dengan Dewi Helena ataupun kehendak Awal Mula.
Keberadaannya mirip dengan bangsa Iblis, hanya berupa kesadaran tanpa bentuk fisik dan merupakan entitas rapuh. Saat itu sang Iblis Primal tidak sadar bahwa entitas tersebut adalah bayangannya sendiri, sebuah keberadaan yang ikut tertarik saat sang Dewi membawanya ke kayangan.
Karena itulah, entitas gelap tersebut memperkenalkan diri sebagai Odrania Karln Ilmika Spirculo. Nama yang sangat abstrak dan hampir mirip dengan Iblis Primal, lalu jika diterjemahkan secara paksa memiliki makna Resep Hujan Keberadaan sang Ahli Roh.
Meski sama-sama memiliki arti resep dalam nama mereka, keduanya seakan memiliki makna yang sangat berbeda. Jika sang Iblis Primal merujuk kepada obat atau kesehatan, entitas gelap tersebut mengangkut sinonim yang sedikit berbeda.
Resep ⸻
Jika diartikan dalam sudut pandang negatif, itu bisa bermakna trik, taktik, preskripsi, muslihat, dan siasat. Mungkin itu terdengar sedikit aneh dan bahkan terdengar seperti antonim. Namun, pada dasarnya semua hal tersebut masih masuk dalam kategori sinonim dari kata resep.
Mencerminkan nama yang dipilihnya untuk memperkenalkan diri, Odrania Karln Ilmika Spirculo memiliki sifat manipulatif yang sangat kuat. Ia mengajarkan berbagai siasat kepada Iblis Primal, lalu memberitahukan beberapa rahasia dunia terkait Awal Mula.
Seakan-akan jatuh ke dalam perangkap entitas gelap tersebut, sang Iblis pun mulai berteman dengannya. Saling berbagi pendapat, saling memahami satu sama lain, dan mulai memiliki tujuan yang selaras untuk mewujudkan kehendak sang Dewi.
Membangkitkan sang Pemuda, sosok Ayahanda dari seluruh makhluk primal di Dunia Selanjutnya. Setelah menetapkan hal itu sebagai tujuan utama, kedua entitas tersebut memulai pergerakan dan perlahan keluar dari ketentuan takdir sang Dewi.
Kepribadian mereka berdua bagaikan sisi koin yang berlawanan, kegelapan yang mewakili semua keburukan dan cahaya cerminan dari segala kebaikan. Karena sifat sang Iblis Primal yang cenderung sangat baik dan lembut, ia pada akhirnya tidak bisa menjadi sosok Dewa Iblis kejam seperti yang dititahkan sang Dewi.
Sang Iblis memang disembah oleh ribuan mortal, didewakan, dan pengikutnya terus bertambah setiap hari. Semua hal tersebut dirinya didapatkan bukan dari kekejamannya sebagai sosok Iblis, melainkan karena kebaikannya kepada para pengikut.
Iblis Primal tidak pernah meminta tumbal seperti yang dititahkan sang Dewi. Bukan hanya itu saja, ia malah memberikan berbagai ilmu pengetahuan kepada para penjahat dan menunjukkan jalan bertobat untuk mereka. Benar-benar menyimpang dari perannya sebagai wujud kejahatan.
Dari semua titah yang diberikan kepada sang Iblis, hanya satu yang benar-benar terpenuhi. Membenarkan sebuah tindak kejahatan, lalu hal tersebut tertanam erat pada setiap pengikutnya dalam sebuah pemahaman.
“Setiap makhluk tercipta dengan sifat jahat. Namun, kalian para mortal bukanlah hewan buas yang hanya bisa mengikuti hasrat. Ketika kalian bisa menahan hal tersebut dan menaklukkannya, barulah kemuliaan akan tumbuh bersama akal sehat.”
Ungkapan sang Iblis menjadi sebuah pembenaran atas kejahatan yang dilakukan oleh para mortal. Menganggap bahwa sifat buruk adalah insting alami mereka, lalu pada akhirnya membentuk dua sudut pandang di antara pengikutnya.
Mereka yang mengikuti hasrat buruk dan semakin jatuh. Lalu, di sisi lain ada beberapa yang berusaha bertobat dan mengambil jalan kebaikan. Apapun hasil yang muncul, semuanya bersumber dari perkataan sang Iblis kepada para pengikutnya.
Sesuatu yang disampaikan dengan tujuan menyesatkan, bercampur muslihat dan kepalsuan. Bersumber dari sang Dewi Penata Ulang untuk menghancurkan ciptaannya sendiri.
Pada momen persimpangan rapuh itu, entitas gelap menyusun muslihat dan mulai tersenyum dengan taring tajamnya. Ketika melihat sang Iblis berkata tidak mampu menunaikan titah dari Dewi Helena, ia mengajukan diri untuk menjalankan peran tersebut dan menjadi sosok Dewa Iblis.
Iblis Primal yang cemas tidak bisa memenuhi harapan sang Dewi langsung menerima tawaran tersebut. Merelakan tubuhnya diambil alih untuk beberapa saat, lalu berbagi kesadaran atas raga ilahi dalam memimpin para pengikut.
Sejak saat itulah Iblis Primal berperan layaknya sosok Iblis. Ia menyebarkan kehancuran dengan menyulut peperangan di antara para pengikut, menyebarkan sifat rasis, dokrin, dan segala macam keburukan kepada semua pengikut yang mempercayai ucapannya.
Pada puncak penyebaran konsep keburukan, terbentuklah sebuah Imperium kuat yang berhasil menaklukan banyak daratan. Dipimpin oleh seorang tiran, lalu membuat sebuah negeri di mana yang lemah hanya menjadi objek penindasan semata.
Dalam kurung waktu kurang dari seratus tahun sejak entitas gelap mengambil alih, sosok Iblis yang dulunya dikenal baik benar-benar telah lenyap di mata semua mortal. Ia sepenuhnya menjelma sebagai Dewa Iblis, sosok yang diharapkan oleh sang Dewi ketika Iblis Primal tersebut diutus ke Dunia Nyata.
Namun, dalam prosesnya terjadi sebuah penyimpanan yang sangat jelas. Para pengikut sadar bahwa sosok yang memimpin mereka memiliki dua kepribadian, layaknya dua sisi koin dengan sifat berbeda.
Tanpa mereka hendaki, Iblis Primal dan entitas gelap diidentifikasikan sebagai dua individu berbeda oleh pengikut mereka sendiri. Dewa Iblis sebagai lambang kekejaman dan pembawa murka bagi para pembangkang, lalu sosok Raja Iblis yang merangkul rakyat dan menjadi petunjuk kejayaan.
Dua peran yang dijalankan oleh satu wujud tersebut benar-benar membuat takdir sang Dewi menjadi tidak berarti, menyimpang jauh dari ketentuan yang telah dibuat. Saat Dewi Helena bangun dari tidur panjang dan melihat apa yang terjadi di Dunia Nyata, ia sekali lagi terdiam dalam rasa kecewa.
Sang Dewi memberikan peran tersebut kepada Iblis Primal memang untuk memicu peperangan. Membuat kekacauan, kehancuran, dan merusak keseimbangan Dunia Nyata. Untuk memancing makhluk primal memberikan respons negatif atas kehancuran yang dibawa oleh sang Iblis, lalu menyulut konflik besar di antara makhluk yang lahir dari kehendak Awal Mula.
Namun, kehadiran Iblis dan pengikutnya malah membuat keseimbangan menjadi semakin terjaga. Garis antara kebaikan dan kejahatan diperlukan untuk kesempurnaan dunia. Seakan menjadi pemicu hal itu, kehadiran Iblis Primal menjadi penjelasan yang tidak bisa diganggu-gugat.
__ADS_1
Karena itulah, selama kekacauan berlangsung para makhluk primal tidak bertindak. Mereka hanya berdiam diri di sarang, lalu sesekali membantu mortal yang datang untuk mendapat perlindungan.
Tanpa meminta penjelasan atau mendengarkan alasan Iblis Primal, sang Dewi yang baru saja terbangun segera mengambil kesimpulan. Ia memilih untuk menatap langsung sumber masalah, lalu berniat menghancurkannya sampai ke akar-akar.
Dewi Helena segera memanggil sang Iblis kembali ke kayangan, lalu memberikan titah kepadanya untuk menyerang hewan prima yang disebut para mortal sebagai bangsa Naga. Itu merupakan sebuah perintah perang yang tegas dan jelas, bahkan susunan rencana pun telah ditata dengan sangat rapi.
Namun, tentu saja sang Iblis menolak hal tersebut. Untuk pertama kalinya, sosok dari Alam Kematian itu mengatakan tidak kepada sang Dewi. Tidak hanya memberikan penolakan, ia juga menyampaikan alasan dan memohon kepada sang Dewi untuk mengurungkan niatnya.
Ia berkata tidak memiliki dendam kepada para makhluk primal lain. Selama hidup di Dunia Nyata, dirinya bahkan beberapa kali sempat mendapatkan bantuan dari bangsa yang disebut Naga oleh para mortal.
Namun, di akhir sang Dewi tidak mau mengurungkan niat dan Iblis Primal pun tidak bisa menolak titahnya. Dengan berat hati sang Iblis mengangguk, lalu kembali turun ke Dunia Nyata untuk menjalankan perintah tersebut.
Untuk mewujudkan tujuannya, sang Dewi tidak hanya memberikan titah kepada Iblis Primal. Ia juga menyerahkan salah satu kunci menuju Awal Mula, sebuah Kode Khusus yang disebut sebagai Aitisal Almaelumat. Sebuah kekuatan untuk menulis ulang susunan makhluk hidup, dunia, atau bahkan hukum semesta.
Setelah menyerahkan sebagian kekuatannya yang diambil dari Awal Mula, sang Dewi sekali lagi masuk dalam fase hibernasi. Pergi menuju Arsh meninggalkan seluruh ciptaannya, lalu kembali tertidur dalam jangka waktu yang sangat lama.
Seakan telah lama menunggu momen tersebut, entitas gelap dalam diri Iblis Primal kembali menawarkan diri untuk menjalankan peran kejam tersebut. Menyusup masuk ke dalam hati sang Iblis, entitas tak berbentuk itu menghasut dan menawarkan berbagai kemudahan untuknya.
Itulah awal dari tragedi yang melanda semua makhluk primal. Sang Iblis yang telah diambil alih oleh entitas gelap membuat kontak dengan mereka, lalu menjalakan muslihat besar yang bahkan sampai membuat langit dan daratan tertipu.
Dengan senyum ramah, entitas gelap menawarkan status Naga Agung kepada para makhluk primal. Menanamkan konsep hierarki ke dalam kehidupan mereka yang alami, lalu berjanji akan memberikan kehormatan layaknya sosok bangsawan.
Untuk mendapat kepercayaan makhluk-makhluk primal, sang Iblis menghentikan peperangan yang telah berlangsung lama di seluruh daratan. Ia memecah Imperial menjadi beberapa negeri kecil, lalu memperbaiki moral dan nilai di dunia.
Dalam waktu kurang dari seratus tahun, sang Iblis berhasil memperbaiki kesannya di hadapan para makhluk primal. Membujuk mereka dengan kalimat-kalimat memikat, lalu sepenuhnya berhasil masuk ke dalam kehidupan bangsa yang dikenal sebagai Naga tersebut.
Pada saat itulah, entitas gelap yang menjelma sebagai Iblis Primal mulai membantu bangsa Naga Agung untuk membentuk sebuah Kerajaan. Memberikan pengetahuan untuk membangun sistem monarki, lalu mengajarkan moral serta nilai para mortal kepada mereka.
Sebuah tindakan yang mencemari esensi makhluk primal, membuat mereka semakin jauh dari alam dan kehendak Awal Mula. Kemuliaan dan kemegahan yang diberikan oleh Iblis membuat para Naga buta, tidak menyadari muslihat yang ada di dalam kebaikan tersebut.
Dalam waktu yang singkat, Bangsa Naga Agung terus berkembang melebihi negeri lain meski wilayah mereka tidak terlalu luas. Saat melewati momen kejayaan tertentu, pada akhirnya negeri para makhluk primal tersebut dikenal sebagai makhluk suci layaknya para penduduk langit.
Pemimpin mereka dikenal sebagai Dewa Naga dan Dewi Naga, lalu disembah oleh beberapa Kerajaan Mortal yang pernah mendapatkan bantuan mereka.
Puncak kejayaan dari bangsa Naga Agung berlangsung tidak lebih dari dua abad.
Namun, mereka berhasil menanamkan akar pengetahuan di antara para mortal. Menciptakan teknologi yang tidak ada di Dunia Sebelumnya, sebuah gambaran nyata dari sifat asli Dunia Selanjutnya.
Pada puncak perkembangan tersebut, bangsa Naga Agung bahkan bisa menciptakan teknologi untuk bisa pergi ke luar angkasa. Dengan memanipulasi kemampuan transformasi alami mereka, para Naga Agung membuat mutasi buatan untuk mempercepat evolusi keturunan.
Hasil dari manipulasi evolusi tersebut adalah Tiga Putri Naga, sosok-sosok yang memiliki bentuk Aeons kompleks dan menyaingi kekuatan para Dewa di kayangan. Keberadaan mereka hampir tidak bisa dimusnahkan, lalu tubuh fisik bisa dengan mudah beradaptasi dengan lingkungan apapun.
Masing-masing Putri Naga memiliki kelebihan mereka sendiri. Ada yang bisa terbang ke luar angkasa dan hidup di ruang hampa, menyelam sampai laut terdalam, lalu ada juga yang bertahan hidup meski tertimbun bebatuan raksasa.
Itulah hasil dari muslihat entitas gelap, menciptakan perkembangan original di Dunia Nyata. Untuk melawan rekonstruksi yang dibuat oleh Dewi Penata Ulang, sebuah konsep baru diperlukan di Dunia Selanjutnya. Sejarah dan peradaban yang berbeda bisa digunakan sebagai tombak untuk melawan pendatang dari Dunia Sebelumnya.
Ketika Dewi Penata Ulang kembali terbangun dari tidur panjangnya, ia sekali lagi menatap dunia dengan rasa kecewa. Namun kali ini dirinya sedikit tersenyum, telah belajar dari pengalaman dan memperkirakan perkembangan tersebut.
Bangsa Naga Agung memang berkembang lebih maju dari rencana awal. Namun, sang Dewi masih memperkirakan hal tersebut dan bermaksud untuk memicu reset terhadap Dunia Nyata.
“Jika memang Awal Mula tidak ingin menghapus mereka, maka akan diriku hapus mereka dengan tangan ini!”
Awalnya Dewi Helena ingin langsung melenyapkan bangsa Naga Agung dengan kemampuannya. Muak dengan semua peristiwa yang melenceng dari ketentuan takdir, lalu ingin menghapus mereka layaknya mencoret tulisan pasir dengan jari.
Menghilangkan jejak peradaban seluruh makhluk primal, lalu mengembalikan dunia menuju kehampaan dan menata ulang semuanya dari awal. Sebuah kiamat tunggal hanya untuk Dunia Nyata.
Namun, Helena paham bahwa kehendak Awal Mula pasti menolak tindakan seperti itu. Mengidentifikasikan sang Dewi sebagai entitas yang sewenang-wenang, lalu mulai menyerangnya seakan ingin menyingkirkan hama dari kebun.
__ADS_1
Saat memahami potensi semacam itu, sang Dewi sejenak mengurungkan niat dan memikirkan metode lain. Saat mencari alternatif supaya tidak menarik perhatian kehendak Awal Mula, ia pada akhirnya memilih cara paling buruk yang bisa dilakukan.
Dewi Helena benar-benar merepresentasikan rasa bencinya kepada makhluk primal, lalu memutuskan takdir bangsa Naga Agung tersebut dengan tangannya. Ia mulai menunjukkan permusuhan secara frontal, lalu melakukan berbagai macam tindakan untuk menjatuhkan peradaban mereka.
Menciptakan wabah dengan penyakit mematikan, mengacaukan iklim, mendatangkan bencana alam, atau bahkan menanamkan konsep-konsep buruk kepada para mortal.
Namun, hampir semua cara yang dilakukan tidak berhasil. Meski ia mampu untuk mengikat semua mortal dengan konsep kepercayaan ilahi, hal tersebut sama sekali tidak berarti di hadapan bangsa Naga Agung dan pengikut mereka.
Ajaran rasional yang bertentangan dengan religius, sebuah cara pandang di mana pengikutnya percaya bahwa mereka punya kekuatan untuk mengubah sesuatu. Berpikir menggunakan akal sehat, lalu cenderung memiliki mental yang kuat dan tegas untuk tidak bergantung pada sesuatu yang tidak berbentuk.
Paham bahwa dirinya tidak memiliki waktu lama untuk terus terbangun, sang Dewi mengambil langkah terakhir demi membinasakan bangsa Naga Agung.
Sebagai makhluk yang dikenal Maha Kuasa, untuk pertama kalinya sang Dewi membuat muslihat untuk menipu seluruh ciptaan.
Seakan menunjukkan gelagat menyerah dan ingin menerima makhluk primal, Dewi Penata Ulang memanggil sang Iblis Primal ke kayangan untuk berbicara. Menipunya dengan sebuah kebohongan besar, lalu berkata ingin menaikkan bangsa Naga Agung ke langit layaknya Dewa dan Malaikat.
Saat mendengar itu sang Iblis Primal sama sekali tidak memendam kecurigaan, langsung mengangguk senang dan mematuhi perintah sang Dewi. Entitas gelap di dalam dirinya pun ikut tertipu pada saat itu, tidak mengira bahwa makhluk Maha Kuasa seperti Helena akan melakukan sebuah muslihat dan menipu ciptaannya sendiri.
Tidak lama setelah pembicaraan mereka di kayangan, sebuah perjamuan diadakan pada kediaman Keluarga Naga Agung. Pada sebuah kastel raksasa yang melayang di langit, pertemuan antara penduduk langit dan bangsa Naga Agung dilakukan.
Namun, tentu saja sang Dewi tidak menghadiri acara tersebut. Sebagai makhluk yang keberadaannya paling dekat dengan Awal Mula, turun ke Dunia Nyata bisa langsung merusak keseimbangan tempat tersebut.
Sebagai perwakilan Dewi Helena, sang Iblis Primal menghadiri acara tersebut bersama Dewa-Dewi terpilih. Membangun hubungan baik dengan Keluarga Naga Agung, bahkan sempat dekat dengan Tiga Putri Naga yang tinggal di sana.
Berbeda dengan penduduk langit yang langsung kembali setelah perjamuan selesai, Iblis Primal menetap selama beberapa bulan sebagai Tamu Kehormatan. Sembari menunggu titah lainnya dari sang Dewi di kayangan, ia benar-benar menjalin hubungan baik dengan para Naga Agung dan semakin disukai mereka.
Namun, saat itulah muslihat Dewi Helena dimulai. Ketika semuanya tampak baik-baik saja dan berjalan penuh kebahagiaan, dari kayangan sang Penata Ulang menjulurkan tangannya ke bawah dan menjamah Iblis Primal.
Entitas dari Alam Kematian tersebut merupakan Aeons yang kompleks. Ia memiliki kekuatan untuk mengubah susunan dunia, lalu telah mencapai dimensi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan mayoritas penduduk langit.
Benar-benar entitas agung yang patut dihormati dan layak disembah.
Tetapi ⸻
Semua itu hanyalah pemberian, sebuah berkah milik Dewi Penata Ulang yang dipinjamkan kepadanya. Seakan-akan sedang memainkan boneka mungil dalam diorama miliknya, Helena mengambil alih tubuh Iblis Primal dan menekan keberadaan entitas gelap.
Apa yang dilakukan oleh sang Dewi tidaklah mencolok. Memanfaatkan kepercayaan yang telah didapat Iblis Primal, ia mengajak Keluarga Naga Agung untuk makan malam bersama. Mengadakan pesta kecil dalam satu meja makan, lalu menyampaikan bahwa pihak langit akan segera mengangkat mereka ke kayangan.
Dalam pesta tersebut muslihat kembali dijalankan. Menggunakan salah satu Kode Khusus yang tertanam dalam diri Iblis Primal, sang Dewi meneteskan darahnya ke dalam beberapa botol minuman untuk pesta tersebut. Membuat para Naga Agung yang mengikuti pesta meminum darahnya, lalu mengaktifkan Aitisal Almaelumat ketika waktunya tepat.
Fungsi dari kekuatan tersebut sangatlah sederhana, yaitu bisa mengubah susunan informasi dari segala sesuatu yang bersentuhan dengan pengguna. Sebuah susunan Kode Khusus yang pernah diciptakan oleh sang Pemuda di Dunia Sebelumnya, salah satu senjata yang diciptakannya untuk menyeret entitas tingkat tinggi supaya setara dengan manusia biasa.
Susunan informasi yang diubah Helena dari para Naga Agung hanya dua, yaitu membalik persepsi terhadap martabat dengan biadab dan menanamkan sebuah kegelisahan.
Namun, dua hal tersebut memberikan dampak yang luar biasa. Menciptakan kekacauan dalam skala luas, bahkan sampai melebihi ekspektasi sang Dewi.
Martabat yang ditukar dengan sifat biadab membuat bangsa Naga Agung seketika bertingkah layaknya binatang. Kehilangan moral, nilai, dan adab yang mereka bangga-banggakan.
Di sisi lain, rasa gelisah yang ditanamkan memicu kekacauan dan tindakan anarkis. Kegelisahan yang tidak jelas membuat pola pikir rasional hilang, lalu membuat bangsa Naga Agung menggila karena tidak cara menghilangkan rasa gelisah tersebut.
Awal kegilaan dimulai dari Dewa Naga. Hanya karena persepsi terhadap martabat ditukar dengan biadab, makhluk primal nan agung tersebut tiba-tiba menampar istri tercinta dan berusaha menyetubuhinya di ruang makan. Tepat di hadapan pengikut, anak-anaknya, dan Iblis Primal.
Sebelum para Naga yang menghadiri acara makan malam tersebut memahami kejadian tersebut, tiba-tiba penguasa Dewa Naga sepenuhnya kehilangan kendali. Ia melakukan transformasi ke bentuk seekor Naga secara utuh, lalu berusaha memangsa keluarganya sendiri.
Dalam hitungan detik, dengan cepat kastel langit jatuh dalam kekacauan dan pertumpahan darah pun dimulai. Para penjaga yang ada di tempat tersebut berusaha menahan pimpinan mereka dan menyelamatkan Dewi Naga.
Mereka segera mengamankan anggota Keluarga Naga Agung lainnya, lalu berusaha menyadarkan sang Dewa Naga. Tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, para Naga Agung mulai melawan pimpinan mereka sendiri.
__ADS_1