Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[84] Dekadensi Kota Rockfield I (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


“Kami … belum menentukannya.” Canna menjawab dengan lirih, ia perlahan mengangkat wajah dan menatap lurus Odo. Dengan penuh ragu-ragu sang penyihir rambut putih uban tersebut pun menyampaikan, “Namun, kalau bisa saya ingin bersama Nona An. Paling tidak sampai berbatasan, kami ingin menemaninya sampai ke sana.”


 


 


“Apa kau merasa bertanggung jawab?”


 


 


“Itu⸻!”


 


 


Canna tidak bisa membalas, itu benar seperti apa yang Odo katakan. Jauh di dalam lubuk hati, ia merasa bertanggung jawab atas musibah yang menimpa rombongan Qibo An Lian. Sama seperti seniornya, Opium pun memperlihatkan ekspresi serupa. Merasa bersalah atas musibah yang ada dan tidak ingin pergi begitu saja setelah mendapatkan kebaikan dari An.


 


 


“Baiklah, terserah kalian saja ….” Odo menggaruk bagian belakang kepala, menghela napas resah dan kembali berkata, “Aku masih punya beberapa koin emas dan perak. Untuk nanti biaya penginapan, paling tidak untuk dua hari ke depan aku bisa membayar bagian kalian juga. Setelah itu kalian harus mengurus diri sendiri, loh.”


 


 


“Hmm ….” Canna mengangguk, merasa bersalah karena telah banyak merepotkan Odo. Ia perlahan menundukkan kepala dengan muram, gemetar dan benar-benar merasa tidak berguna.


 


 


“Tidak masalah, jangan memasang wajah seperti itu.” Odo berhenti menggaruk bagian belakang kepala, lalu menepuk ringan kepala sang penyihir. Sembari memasang senyum tipis, ia dengan lembut menyampaikan, “Sudah kewajibanku menjaga kau. Jika kau ingin, aku akan berusaha memenuhinya, Canna ….”


 


 


Perkataan tersebut tentu membuat orang-orang yang mendengarnya heran. Bukan hanya Opium saja, Huang dan An juga semakin bingung dengan hubungan yang ada di antara kedua orang tersebut.


 


 


Di awal perjalanan An dan Huang sempat mengira kalau hubungan yang ada di antara Odo dan Canna adalah sebuah asmara. Namun selama perjalanan berlangsung, mereka paham bahwa itu cenderung lebih seperti orang tua yang memberikan kasih sayang kepada putrinya.


 


 


Mengingat Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut masih sangat muda dan usianya terpaut cukup jauh dengan Canna, sangatlah janggal melihatnya memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah kepada sang penyihir.


 


 


Opium berjalan mendekati mereka, memegang tangan Odo dan memaksanya berhenti mengelus kepala Canna. Menatap tajam pemuda rambut hitam itu layaknya orang cemburu, sang penyihir rambut cokelat kemerahan dengan tegas berkata, “Ini memang terdengar kurang ajar, namun boleh saya tahu hubungan seperti apa yang Anda miliki dengan senior?”


 


 


“Apa kau cemburu?” goda Odo sembari menarik tangannya dari Opium.


 


 


“Siapa yang cemburu!” ketus penyihir tersebut. Ia melipat kedua tangan ke depan dada, memalingkan pandangan dan dengan volume tinggi berkata, “Hanya penasaran saja! Selama perjalanan kalian bertingkah aneh! Diriku tidak pernah melihat Kak Canna bersikap seperti bocah manja seperti itu!”


 


 


Canna langsung tersinggung mendengar itu, ia segera menarik telinga Opium sembari berkata, “Siapa yang kamu sebut bocah manja, huh?”


 


 


“Sa-Sakit, Kak Canna! Habisnya benar begitu, ‘kan?!”


 


 


“Benar bagaimana, huh?”


 


 


“Kak Canna agak berbeda kalau di dekat Tuan Odo! Awalnya saya pikir Kak Canna naksir dengannya, namun saya rasa itu agak berbeda ….”


 


 


Canna tersentak mendengar itu, ia segera melepaskan telinga Opium dan terdiam untuk sesaat. Dalam benak, ia merasa telah melakukan kesalahan karena selama perjalanan dirinya sama sekali tidak berpikir menjaga sikap untuk menyembunyikan rahasia yang dipendamnya.


 


 


“Ka-Kamu hanya salah paham!” bantah Canna dengan cemas.


 


 


Mendengar suara yang tidak meyakinkan tersebut, Opium memasang mimik wajah datar. Sembari memegang telinga kanan yang memerah, penyihir rambut cokelat kemerahan tersebut mengembungkan pipi dan bertanya, “Salah paham soal apa memangnya?”


 


 


“Itu⸻!”


 


 


Canna kehabisan kata-kata, merasa tidak bisa memberikan alasan yang tepat dan kembali terdiam. Penyihir rambut putih tersebut menoleh ke arah Odo, memasang wajah memelas seakan meminta bantuan untuk meyakinkan Opium.


 


 


Odo sekilas memalingkan pandangan, merasa kalau situasi yang ada sekarang pasti akan terjadi. Mengingat tingkah Canna yang selalu tampak rapuh dan patuh di hadapannya, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sangat paham kalau orang-orang di sekitarnya pasti akan curiga.


 


 


“Opium, dengan ini baik-baik.” Odo memegang kedua pundak perempuan rambut cokelat kemerahan tersebut, lalu sembari menatap serius menyampaikan, “Sebenarnya aku berniat menjadikan Canna sebagai gundik.”


 


 


“Ah?!”


 


 


“Gundik?”


 


 


Opium seketika terkejut, begitu pula Canna yang baru pertama kali mendengar hal tersebut. An dan Huang yang tidak menduga perkataan itu pun terkejut, kedua mata mereka terbuka lebar dan tidak percaya hal seperti itu akan dikatakan oleh seorang bangsawan yang telah bertunangan dengan Tuan Putri Arteria.


 


 


“Hmm, gundik.” Odo menegaskan untuk kedua kali.


 


 


“Gundiknya siapa?”


 


 


“Siapa lagi kalau bukan aku?”


 


 


Opium seketika merasa pusing, menyingkirkan kedua tangan Odo dan mengambil dua langkah ke belakang. Ia sama sekali tidak mengira kalau hal seperti itu bisa keluar dari mulut Odo yang terkesan dingin. Memalingkan pandangan dan tampak gemetar, sang penyihir rambut cokelat kemerahan itu mulai menggigit ibu jarinya sendiri dan tampak sangat bingung harus berkata apa setelah mendengar hal seperti itu.

__ADS_1


 


 


Memikirkannya baik-baik, Opium mulai tidak percaya dengan ucapan Odo. Ia segera pindah menatap ke arah Canna, lalu dengan rasa ragu dalam benak memastikan, “Kak Canna, apa benar Tuan Odo ingin menjadikan Kakak sebagai gundiknya?”


 


 


“Eh?” Canna tersentak bingung, merasa sedikit ragu untuk mengikuti kebohongan Odo dan tidak segera menjawab. Namun saat ia melirik ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke dan paham harus mengikuti kebohongan yang ada, dengan rasa cemas sang penyihir menjawab, “I-Itu benar. Tapi, untuk beberapa alasan kami berniat menyembunyikannya sampai Tuan Odo secara resmi menikah dengan Tuan Putri Arteria. Jadi tolong jangan bilang siapa-siapa, ya.”


 


 


“Itu benar, Opium!” Odo menepuk pundak perempuan itu, lalu sembari mendekatkan mulut berbisik, “Aku juga ingin memberikan waktu untuk Canna mengejar mimpi. Sebab itu, jaga rapat-rapat rahasia ini demi kebagian Canna.”


 


 


“Te-Tentu saja, saya akan menjaga rahasia ini rapat-rapat. Ini skandal, tahu! Saya juga tidak ingin membuat Kak Canna repot.” Opium masih tampak bimbang, melangkah menjauh dari Odo dan dengan heran kembali bertanya, “Namun, bagaimana dengan Nona An dan Huang? Mereka juga telah tahu, loh.”


 


 


“Hmm ….” Odo menoleh ke arah dua orang kekaisaran tersebut, lalu sembari tersenyum ringan berkata, “Kalian akan menutup mulut soal ini, ‘kan?”


 


 


Itu adalah ancaman murni, paling tidak itulah yang dirasakan oleh An dan Huang. Paham bahwa pemuda itu bukanlah orang yang suka menggertak, mereka memalingkan pandangan dan mengangguk dengan patuh secara bersamaan.


 


 


“Ka-Kami akan diam soal itu,” ucap An gemetar.


 


 


“Terima kasih.”


 


 


Pembicaraan untuk sesaat terhenti, hanya ada suara ramai dari lalu-lalang penduduk di balai kota yang mengisi di antara mereka. Sembari menunggu biarawan datang bersama Pendeta yang sedang dipanggil, mereka berlima hanya diam di tempat tanpa memulai percakapan. Canggung ⸻ Itulah suasana yang mendominasi.


 


 


Namun, kecanggungan yang ada seketika pecah saat seseorang memanggil Odo. Dari arah balai kota ⸻ Tepatnya bangunan pemerintah yang terletak tidak jauh dari Gereja Utama, seorang perempuan dengan jelas memanggil.


 


 


“Tuan Luke? Kenapa Anda ada di sini? Ada perlu apa Anda berkunjung ke sini?”


 


 


Di antara keramaian Odo sempat mengira kalau yang memanggilnya adalah Lisia. Mengingat perjanjian yang dibuat oleh pemerintah Kota Mylta dengan Aliansi Samudera Majal, tidak aneh jika Lisia melanjutkan ekspedisi sampai ke Rockfield untuk mengurus hal tersebut. Namun memperkirakan jarak dan waktu yang ada, itu terasa mustahil untuk Lisia sampai pada hari yang sama dengannya.


 


 


Perlahan Odo pun menoleh, dipenuhi perasaan tidak nyaman dan seketika tertegun ketika melihat sosok perempuan yang telah memanggilnya.


 


 


Rambut biru pudar yang bergelombang sampai punggung, kulit pucat yang tampak lembut dan halus, serta postur tubuh matang seorang perawan. Meski secara perawakan ia mencerminkan keindahan dan kelembutan, kedua tangan perempuan itu tampak kasar dan sebuah sabuk dengan pedang melingkar di pinggannya.


 


 


Sorot mata biru terang langsung mengarah lurus ke mata Odo, lalu sembari berjalan mendekat perempuan itu kembali berkata, “Ada keperluan apa seorang Viscount seperti Anda datang ke Rockfield? Tidak saya sangka rumor tentang Anda yang suka keluyuran itu benar, bahkan Anda sampai datang ke tempat kami.”


 


 


Karena terkejut Odo sempat tidak mengenali perempuan itu. Namun setelah melihat dari dekat, ia dengan jelas tahu siapa perempuan di hadapannya. Pakaian dengan warna dominan hitam dan sedikit aksen biru itu mirip dengan seragam pejabat yang sering digunakan Lisia, menandakan perempuan rambut biru di hadapan Odo merupakan orang pemerintahan.


 


 


 


 


“Anda … Putri Sulung Keluarga Stein?” tanya Odo memastikan.


 


 


“Ah!” Perempuan tersebut memasang mimik rajah kesal, lalu dengan nada menggerutu berkata, “Anda tidak ingat dengan saya, ya? Ih, Anda ini! Saya sudah beberapa kali berkunjung ke Kediaman Luke, tahu!”


 


 


“A-Apa iya?”


 


 


Odo sekilas memalingkan pandangan. Ia mulai ingat sempat melihat perempuan itu datang bersama dengan Oma Stein selama acara Pertunangan dan Pemberian Gelar. Namun, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut tidak mengira kalau dia adalah anak kandung dari Oma Stein.


 


 


“Hmm!” Perempuan rambut biru pudar tersebut meletakkan kedua tangan ke pinggang, lalu dengan alis kanan sedikit terangkat berkata, “Dari ekspresi itu, Anda benar-benar tidak mengingatnya!”


 


 


“I-Ingat, kok!”


 


 


“Kalau begitu, panggil nama saya.”


 


 


“Ri’aima Stein?”


 


 


“Hmm, sepertinya kalau nama Anda ingat rupanya.” Ri’aima menghela napas kecil, lalu sembari meletakkan tangan kanan ke dagu mulai bergumam, “Padahal saya sering datang ke acara yang diadakan Lady, namun bagaimana bisa Anda tidak ingat? Selain acara pertunangan musim semi lalu, saya juga pernah datang saat acara ulang tahun Anda yang ke enam dan acara pesta teh yang diadakan Lady Mavis, loh!”


 


 


“Be-Begitu, ya ….” Odo memalingkan pandangan, sama sekali tidak ingat kalau Ri’aima pernah datang pada dua acara lain yang disebutkan.


 


 


“Saya masih ingat, loh!” Perempuan rambut biru pucat tersebut melipat kedua tangannya ke depan dada, lalu dengan nada menggoda berkata, “Anda …. Hmm, waktu itu terlihat seperti seorang kutu buku dan terus duduk membaca sendirian. Padahal itu acara ulang tahun Tuan sebagai Putra dari Keluarga Luke, namun sebelum selesai Anda malah kabur dan membuat para pelayan dan tamu bingung.”


 


 


Odo tersentak dan sedikit merasa malu, ia masih dengan jelas mengingat momen tersebut. Setelah membuat orang-orang cemas pada saat itu, dirinya setelah kembali langsung dimarahi Mavis dan sempat dilarang keluar rumah untuk beberapa hari sebagai hukuman.


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke itu meletakkan tangan kanan jidat, merasa kalau Spekulasi Persepsi miliknya telah melewatkan hal-hal penting seperti kemungkinan yang terjadi sekarang.


 


 


Odo hanya bisa melakukan Spekulasi Persepsi kepada mereka yang telah berbincang-bincang dengannya, kalkulasi yang ada pun hanya terbatas dalam jangka waktu satu bulan sampai satu tahun ke depan tergantung apa yang diperhitungkan dari objek yang diamati.


 


 


Karena itulah, ia tidak mengira kalau Ri’aima akan mengajaknya bicara seperti sekarang ini. Meski dirinya tahu bahwa perempuan tersebut adalah Putri Sulung Keluarga Stein, namun itu hanya termasuk informasi yang menyatu dalam folder informasi milik Oma Stein. Dengan kata lain, sebelum Odo berbicara langsung dengan Ri’aima seperti sekarang, ia hanya tahu perempuan tentang dirinya hanya dalam lingkup sebagaimana Oma Stein tahu tentang putrinya tersebut.

__ADS_1


 


 


Berusaha untuk tetap tenang dan menyusun kembali informasi di dalam kepala, Odo menurunkan tangan dari jidat. Ia memasang mimik wajah kecut, berusaha tersenyum ramah dan bertanya, “Apa … itu cara pandang anak-anak bangsawan tentang diriku?”


 


 


“Entahlah ….” Ri’aima mengangkat kedua sisi pundaknya, lalu sembari memasang senyum ringan kembali berkata, “Sekarang siapa yang peduli dengan sifat aneh Tuan Luke. Anda sudah mendapat gelar Viscount di usia yang sangat muda. Selain itu, Anda adalah tunangan Tuan Putri Arteria …. Memangnya siapa yang berani mempermasalahkan itu lagi?”


 


 


“Memang sempat dipermasalahkan, ya? Sifatku ini ….” Odo memalingkan pandangan, ia kurang lebih paham bagaimana anak-anak dari keluarga bangsawan lain memandang dirinya. Setelah menghela napas sekali, ia kembali menatap lawan bicara dan berkata, “Ngomong-omong, aku benar-benar minta maaf. Dulu aku sama sekali tidak peduli dengan sekeliling, makannya tidak banyak anak dari keluarga bangsawan yang aku ingat.”


 


 


Ri’aima terkejut mendengar itu, ia menurunkan tangan menyatukan kedua telapak tangan dan sesaat terdiam. Ia benar-benar memasang ekspresi tidak percaya dengan apa yang Odo Luke katakan. “Anda benar-benar berubah,” ujarnya dengan tanpa niat menyindir.


 


 


“Eh? Berubah bagaimana?”


 


 


“Dulu Anda terkesan angkuh dan sombong, loh.” Ri’aima berhenti menyatukan telapak tangan, menghela napas dalam-dalam dan memutuskan untuk tidak lagi menggoda. Sembari meletakkan tangan kanan ke dada, perempuan rambut biru pudar tersebut menyampaikan, “Dulu bahkan saat saya ajak bicara Anda sama sekali tidak melirik sedikitpun. Anda anak yang aneh, selalu memegang buku dan duduk diam tanpa berbicara dengan yang lain. Saya dulu bahkan sempat berpikir kalau Tuan sedikit tidak waras mengingat Anda adalah anak dari keluarga terpandang.”


 


 


“Ugh!”


Perkataan tersebut sangat menusuk Odo, ia perlahan memalingkan pandangan dan tidak mengira akan mendengar perkataan seperti itu dari anak keluarga bangsawan lain. Dirinya memang sering disebut aneh oleh Vil, Fiola, Julia, dan bahkan orang tuanya sendiri. Namun jika mendengar itu dari orang luar, itu memang terasa sedikit menyakitkan bagi Odo.


 


 


Tidak berhenti dengan perkataanya, Ri’aima menurunkan tangan dan kembali menyampaikan, “Awalnya … saya mengira sikap Anda saat acara pertunangan itu hanyalah kebohongan yang dibuat oleh Yang Mulia untuk membuat para bangsawan yakin atas kapabilitas Anda. Namun ternyata itu salah. Setelah berbicara dengan Tuan sekarang, cara pandang saya sedikit berubah terhadap Anda. Bukan hanya fisik Anda yang sangat berubah, namun juga pikiran dan sikap.”


 


 


“Hmm, syukurlah ….” Odo memalingkan pandangan, lalu memasang wajah kecut dan merasa kalau perempuan di hadapannya tersebut sangat jujur dengan perasaannya sendiri. Setelah menghela napas kecil, ia kembali menatap lawan bicara dan berkata, “Seperti kata kebanyakan orang, anak laki-laki itu tumbuh dengan cepat.”


“Apa iya?” Ri’aima meragukan, lalu dengan nada yang terdengar sedikit santai kembali berkata, “Saya punya dua adik laki-laki dan rasanya mereka tumbuh dengan lambat. Mengesampingkan fisik, secara kedewasaan mereka masih belum berkembang banyak.”


 


 


“Anda punya adik, ya?” Odo pura-pura tidak tahu dengan itu, berusaha membuka topik pembicaraan dan mengeruk informasi lebih dalam.


 


 


“Hmm ….” Ri’aima memperlihatkan ekspresi tidak tertarik, ia memuat bola mata ke samping seakan dirinya mengingat hal penting yang harus dikerjakan segera. Sembari meletakkan tangan ke dagu, perempuan rambut biru pudar tersebut berkata, “Kesampingkan dulu tentang saya, mari kita kembali ke pembicaraan utama. Untuk apa Tuan Luk⸻?”


 


 


“Panggil saja Odo.”


 


 


“Eng, baiklah.” Ri’aima menarik napas dalam-dalam, tampak sedikit gelisah dan kembali bertanya, “Tuan Odo … datang ke sini bukan untuk bertamasya, bukan? Kombinasi orang-orang yang dibawa Anda juga tampak sedikit aneh.”


 


 


“Hmm, memang bukan.” Odo tersenyum tipis, kornea matanya sekilas berubah hijau dan Spekulasi Persepsi secara terpusat selesai dilakukan. Sembari mengacungkan jarinya ke depan, ia dengan penuh rasa percaya diri berkata, “Aku ke sini untuk menyelesaikan masalah kalian, terutama soal pejabat lama dan pejabat baru.”


 


 


“Itu ⸻!” Ri’aima terkejut, wajahnya seketika memucat dan bibirnya sekilas masuk ke dalam mulut. Memalingkan pandangan ke kanan dan kiri, ia seperti cemas pembicaraan akan didengar oleh orang lain. Kembali menatap lawan bicaranya, perempuan rambut biru pudar tersebut meminta, “Tuan Odo, boleh kira bicara di tempat lain? Saya rasa … itu bukanlah topik yang pantas dibicarakan di tempat umum seperti ini.”


 


 


Sembari menurunkan telunjuk Odo menolak, “Maaf, aku tidak bisa.”


 


 


“Mengapa?”


 


 


“Aku harus menunggu Pihak Religi membawakan air suci dan mencipratkan itu kepada kami,” jelas Odo dengan santai.


 


 


“Ah, kebijakan dari Pihak Religi Pusat, ya?” Ri’aima tampak sedikit kecewa, ia kembali menyatukan kedua tangan ke depan dada dan dengan nada resah berkata, “Tidak masalah, saya akan menunggu. Setelah itu Anda mau ikut dengan saya, bukan?”


 


 


“Maaf, setelah itu pun tidak bisa?”


 


 


“Kali ini mengapa?” Ri’aima mengerutkan kening setelah Odo menolak ajakannya untuk kedua kali.


 


 


Memasang senyum seakan dirinya senang mempermainkan perempuan itu, Odo berbalik dan mengambil satu langkah menjauh. Sembari menoleh dan mengacungkan telunjuk, Putra Tunggal Keluarga Luke itu berkata, “Saya harus mencari penginapan, lalu mengantarkan mereka semua untuk istirahat. Seperti yang Anda lihat, saya tidak sendirian ….”


 


 


“Bagaimana kalau kalian istirahat di tempat kami? Saya janji Tuan Odo dan orang-orang Anda akan diperlakukan dengan baik.”


 


 


Odo berhenti menoleh. Sembari menyembunyikan wajahn dari Ri’aima, ia sekilas memasang senyum gelap dan bertanya, “Di Kediaman Stein?”


 


 


“Hmm, tentu saja.”


 


 


Jawaban tersebut membuat Odo benar-benar tersenyum, merasa telah mendapatkan kesempatan tidak terduga untuk mendapatkan point lain yang bisa digunakan. Sembari kembali berbalik menghadap lawan bicaranya, pemuda rambut hitam itu dengan ramah berkata, “Baiklah, aku tidak keberatan. Namun, boleh saya mengajukan beberapa syarat?”


 


 


“Akan saya dengar dulu ….”


 


 


“Tolong rahasiakan pertemuan kita.”


 


 


Mendengar syarat tersebut, seketika kedua mata Ri’aima terbuka dan paham dengan apa yang Odo maksud. Entah itu tujuan sang Viscount datang ke kota pegunungan ataupun pembicaraan yang akan mereka lakukan nanti.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2