
ↈↈↈ
Suara gemercik air sungai. Mengalir dari perbukitan melalui bebatuan besar, bermuara pada sebuah danau vulkanik di tengah hutan. Dikelilingi pohon pinus dan cemara, menjadi sumber kehidupan bagi desa-desa di sekitar.
Pada sudut yang berlawanan terdapat kanal buatan, menyalurkan air dari telaga menuju pemukiman dan ladang. Dihiasi oleh sarang berang-berang, menjadi bendungan alami untuk menjaga ekosistem.
Riak menghapus refleksi rembulan pada permukaan danau, diikuti raungan keras yang memecahkan kesunyian malam.
Suara itu menciptakan gelombang kejut dan membuat air meluap. Binatang lari berhamburan menjauh dari kanal, pepohonan berguncang kencang sampai hampir tumbang.
Layaknya manifestasi petaka, sosok itu mulai menegakkan separuh tubuhnya. Menjulang tinggi melebihi hutan dan bukit, lalu perlahan membuka matanya dan menatap. Menyala violet pudar dalam kegelapan malam, memiliki pupil berbentuk pipih seperti reptil.
Ialah Leviathan⸻ The Great Sea Serpent, salah satu Putri Naga yang mewakili kehendak alam. Makhluk Primal dengan bentuk tubuh melata, bersisik biru, dan memancarkan aura ungu layaknya bunga Lavender yang mekar.
Salah satu manifestasi lautan, entitas yang kelak dikenal dalam sejarah sebagai Pemusnah Peradaban⸻ Azure El Mar yang melata di daratan.
Meski tidak dalam kondisi prima, bentuk dan ukuran Leviathan sudah melebihi batas kewajaran. Hanya dengan separuh tubuhnya, Naga Agung itu telah memenuhi seisi danau. Membuat air meluap, membanjiri hutan, sungai, dan kanal buatan.
Leviathan perlahan mengangkat ekornya ke depan, mendekatkan kepala dan menatap. Tepat pada ujungnya, duduk seorang gadis dengan wajah pucat. Ia ketakutan sampai hampir pingsan, gemetar tanpa bisa bangun ataupun bersuara.
Seakan menertawakan, Naga Agung itu mengendus kasar dan membuat gadis itu hampir jatuh karena hembusan napasnya.
Di mata Leviathan, gadis itu tidak lebih besar dari biji oak. Terlalu kecil dan sedikit untuk memuaskan rasa lapar.
Namun⸻
Tanpa ragu, Leviathan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Gadis itu jatuh membentur gigi Leviathan yang tajam sampai tangannya putus. Seluruh tulangnya remuk tanpa perlu dikunyah, dilumat oleh lidah kasar dan keras layaknya permukaan batu. Hancur menjadi bubur daging di dalam rongga mulut yang gelap.
Hampir tidak ada suara jeritan, namun momen singkat itu cukup membekas dalam benak Leviathan. Sensasi dan tekstur masih membekas pada mulutnya, tidak memudar meski tubuh gadis itu sudah ditelan dan masuk ke dalam perut.
.
.
.
.
“Wow, ini memang terlalu kejam untuk disebut tontonan ….” Tidak jauh dari danau yang meluap, Odo berdiri di atas salah satu puncak cemara sembari menyaksikan. Mengamati momen rekonstruksi itu, lalu berdecak kesal dan mulai mengerutkan kening. “Dia memakan temannya sendiri,” gumam sang pemuda dengan suara pelan.
“Bukankah kalian suka tontonan seperti ini?” sambung Lir sembari melayang mendekat. Sosok abstrak itu menggerakkan bagian tubuhnya yang terpisah-pisah, lalu menghadap sang pemuda dan perlahan melebarkan senyum tipis. “Melihat penderitaan orang lain! Bukankah kalian menyukai itu, huh?” tambahnya dengan nada ketus.
“Siapa yang kau maksud?” Odo tidak berpaling. Menghela napas dan berjongkok, pemuda itu perlahan menurunkan pandangan dan berkata, “Jika yang kau maksud adalah manusia, itu sangat tepat. Kami menyukai penderitaan orang lain, bahkan tragedi bisa menjadi sebuah komedi di mata mereka.”
Dalam kegelapan hutan, suara tangisan penyesalan memecah kesunyian malam. Hanya bisa didengar oleh mereka. Berada di luar persepsi momen rekonstruksi, dalam posisi pengamat kilas balik.
Merengek dalam ketidakberdayaan, Putri Naga terduduk lemas di atas rerumputan basah. Hanya bisa menyesali perbuatan, tanpa bisa kabur atau bahkan melupakannya. Diingatkan kembali dengan momen terendah dalam hidupnya.
“Pendiri juga menyukainya, bukan?” Lir berbalik, lalu ikut melihat ke bawah sembari melebarkan senyum mencela. Mengangkat tangan kanan yang terpisah-pisah dan menunjuk, sosok abstrak itu membuka mulut lebar-lebar dan memaki, “Lihat dia! Makhluk konyol yang merengek layaknya anak manusia! Bukankah itu lucu?! Mereka yang dulu hampir memusnahkan kita⸻!”
“Diam kau!” Odo menegur dengan tegas. Sejenak menahan napas, pemuda itu kembali menatap Lir sembari mengingatkan, “Zaman kita sudah selesai. Kita sudah melakukan yang terbaik, lalu mengakhirinya dengan hormat.”
“Tapi!!” Lir kembali menghadap sang pemuda. Sembari mendekatkan wajah, entitas abstrak itu langsung membentak, “Kehadiran mereka memaksa kita kembali! Menghancurkan bahtera! Membunuh orang-orang kita!”
“Terserah kau saja, aku sudah lelah dengan semua itu.” Odo menghela napas dengan resah. Memperlihatkan wajah kecewa, pemuda itu langsung meloncat turun dari puncak cemara sembari bertanya, “Kau pikir sudah berapa lama aku berurusan dengan dendam dan kebencian?”
“Lelah?” Lir segera melayang turun. Sembari mengikuti, sosok abstrak itu dengan kesal bertanya, “Pendiri tidak membenci mereka?! Bukankah banyak rekan Anda yang binasa karena Makhluk Primal?!”
“Kau sangat dendam dengan mereka, ya?” Setelah mendarat, Odo lekas bangun dan berjalan menghampiri Leviathan. “Pikiranmu terlalu sempit, Lir! Jangan jadi A.I. kolot, lah! Kau salah satu ciptaan ku, bukan?!” sindirnya seraya melirik sinis.
“Bukan begitu!” Lir melayang cepat dan mendahului Odo, menghadang pemuda itu sembari berkata, “Hanya saja saya dia⸻!”
Kesabaran Odo sudah habis, celoteh yang keluar dari mulut Lir benar-benar membuatnya muak. Tanpa ragu, pemuda rambut hitam itu langsung memukulnya dengan keras. Menggunakan punggung tangan kanan, tepat pada bagian wajah.
Tubuh Lir langsung hancur berkeping-keping, tercerai-berai layaknya patung lego yang hancur. Sebagian besar jatuh berserakan di atas rerumputan, lalu sisanya masuk ke dalam danau.
“Sejak kapan A.I. bisa punya dendam kesumat? Dia pasti sudah terkontaminasi virus ….” Odo menurunkan tangannya. Menghela napas panjang, pemuda itu sekilas menyipitkan mata dan bergumam, “Aku rasa ini tidak bisa dihindari. Pelebaran kumpulan algoritma menjadi Imitasi Jiwa juga termasuk Bug. Galat permanen pada Cluster Program, tumpukan kerusakan karena kurangnya perawatan. Itu terlalu megah untuk disebut Independensi Program.”
Seakan tidak memedulikan suasana, Odo tanpa pikir panjang langsung menendang punggung Leviathan dari belakang. Membuat Putri Naga itu tersungkur ke depan, jatuh tengkurap dengan wajah menghadap rerumputan basah.
__ADS_1
Suara tangis Leviathan pun langsung sirna, digantikan sedu tanpa mau bangun ataupun mengangkat wajah. Mulai meringkuk, melipat kedua kaki ke depan dan gemetar.
“Kenapa kau malah bertingkah seperti armadillo? Kau seekor Naga, bukan?” Odo tidak ingin membuang-buang waktu. Ia langsung menarik lengan Leviathan, lalu menyeret Gadis Naga itu pergi menjauh dari danau. “Ini belum selesai! Ayolah, berhenti menangisi masa lalu! Cepat bangun! Kalau ular babon itu bergerak, di sekitar sini pasti akan rata dengan tanah!”
“Lepaskan …!” Leviathan masih terisak, berusaha menahan tangis dan bangun. Ia lekas menarik tangannya dari Odo, lalu menjauh dari pemuda rambut hitam tersebut. “Kamu memang Iblis! Bahkan dalam situasi seperti pun kamu⸻!”
“Kau ingin aku bersimpati?” Odo menoleh, memperlihatkan mimik wajah kesal dan lanjut berkata, “Jika itu bisa membuat kau berhenti merengek, tidak masalah! Namun, jujur saja pelaku sepertimu tidak pantas mendapatkan simpati.”
“Dasar iblis! Tidak berperasaan! Kamu ini⸻!!!”
Odo langsung menghajar Leviathan, tepat pada bagian perut dan membuatnya jatuh tersungkur. Ia tidak bisa langsung bangun, lemas karena pukulan tersebut mengenai ginjal kanannya.
“Maaf, tapi kau sungguh menyusahkan.” Dengan kasar, Odo segera mengangkat Leviathan. Memanggul Putri Naga itu layaknya barang bawaan, lalu berjalan masuk ke dalam hutan sembari bergumam, “Seharusnya aku tidak membawamu turun kemari.”
“Le-Lepaskan …! Tu … runkan …!”
Leviathan tidak bisa melawan. Meski bisa menggunakan Mana di dalam Realm semu tersebut, namun batasan yang ada masih berlaku dan mampu mengekangnya. Saat tubuh terganggu, sirkuit sihir juga ikut terkena dampaknya dan melemah.
“Ah-ha! Tidak perlu memaksakan diri, kau takkan bisa menggunakan Mana.” Odo tersenyum tipis seakan ingin menggoda. Sedikit melirik ke arah danau, ia melihat beberapa potongan tubuh Lir menggeliat dan mulai menyatu kembali. “Yah, paling tidak untuk lima menit ke depan,” tambahnya seraya mempercepat langkah kaki.
“Ka … mu … ingin membawa⸻?”
“Tenang saja, kita hanya akan menonton!” Odo lekas berlari, masuk ke dalam hutan dan memilih rute yang dekat dengan kanal. Sesekali menoleh ke belakang, pemuda itu memperlihatkan mimik wajah cemas dan gelisah. “Aku benci main kejar-kejaran seperti ini,” ujarnya dengan lirih.
Odo tidak kabur, hanya ingin menjauhkan Leviathan dari Lir. Mengingat pembicaraan sebelumnya, besar kemungkinan A.I. tersebut ingin menghapus eksistensi Leviathan. Sebagai bentuk balas dendam, merupakan hasil dari emosi dan ambisi kuat yang ikut terbawa sampai Dunia Sebelumnya.
Melewati persimpangan kanal, Odo untuk sesaat berhenti dan memilih untuk menyeberang. Mengambil jalan yang cukup terjal, berusaha menyembunyikan jejak supaya tidak diikuti.
“Kenapa … kamu lari?” Leviathan mulai pulih dengan cepat, suaranya pun semakin jelas dan tidak putus-putus lagi. Ia ingin meronta dan turun, tetapi langsung mengurungkan niatnya setelah melihat wajah panik Odo. Perlahan menoleh ke belakang, Putri Naga itu dengan nada lemas bertanya, “Apa kamu … kabur dari makhluk aneh itu?”
“Makhluk aneh?”
Odo ikut menoleh, langsung terkejut saat melihat Lir sudah sedekat itu. Belasan potongan tubuh melayang-layang di udara, mengejar layaknya ditarik medan magnet.
Paham tidak bisa kabur, pemuda rambut hitam tersebut langsung berhenti. Berbalik menghadap makhluk abstrak yang mengejarnya, lalu menggerakkan bola mata ke sana untuk menyusun informasi.
“Kenapa berhenti?” Leviathan ikut panik. Mendengar suara aneh dari dalam hutan dan sekitarnya, Putri Naga langsung menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. “Kita sudah dikepung? Sebenarnya makhluk aneh apa itu?” tanyanya dengan nada cemas.
“Menjatuhkan?”
Leviathan tersentak. Bukan hanya karena penjelasan Odo, namun juga pergerakan makhluk abstrak yang mengejar mereka. Dalam kegelapan malam, Putri Naga dapat dengan jelas melihat beberapa potong tubuh terbang ke sana kemari dengan cepat. Melewati pepohonan dan membuat suara gemertak menakutkan.
“Kau tahu, Leviathan! Kalian Makhluk Primal sebenarnya tidak bisa dibunuh dengan cara biasa!” Odo menarik napas dalam-dalam, merasakan getaran suara yang disampaikan melalui udara. Sembari membuka mata dan menatap permukaan air kanal, pemuda itu lanjut menyampaikan, “Makhluk Primal bisa dinyatakan binasa saat jiwanya hancur, itulah kalian.”
“Apa yang kamu maksud? Meski berumur panjang, kami bukanlah makhluk abadi!” Leviathan memasang wajah bingung. Sembari mempercepat pemulihan Mana, perempuan rambut perak keabu-abuan itu ikut mengambil kerikil. Lalu, dia langsung asal melempar dan tidak ada satupun yang mengenai sasaran. “Ce-Cepat sekali! Makhluk apa sih itu?! Kenapa bisa cepat sekali?!” ujarnya kewalahan.
“Dia sebenarnya bukan makhluk, hanya kumpulan algoritma yang dulu aku buat untuk menyesuaikan ekosistem ….” Odo berdiri membelakangi Levithan. Mengincar salah satu potongan tubuh yang terbang mengitari dalam kegelapan, pemuda itu mulai berancang-ancang untuk melemparkan kerikil. “Singkatnya, dia adalah A.I. yang telah berubah menjadi Imitasi Jiwa. Program independen,” tambahnya sembari menahan lemparan. Menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Tepat setelah Odo menahan lemparan, tiba-tiba potongan tubuh Lir yang diincar tidak lagi melintas dan hilang dari pengawasan. Bersembunyi di balik pepohonan, seakan-akan tahu sedang dibidik oleh Odo. Saat pemuda mengubah sasaran dan mengincar yang lain, potongan itu pun berhenti melintas dan lenyap dari pengawasan lagi.
“Kamu bisa membuat Imitasi Jiwa?! Sungguh?!” Leviathan terkejut, lekas menoleh dan kembali bertanya, “Berati kamu master makhluk aneh ini, ‘kan?! Kenapa kita diserang⸻!”
Seakan bisa membaca suasana dan situasi mereka, salah satu potongan tubuh Lir melesat kencang bagai meriam dan menghantam wajah Leviathan. Membuatnya terpental, lalu jatuh ke dalam kanal buatan yang cukup dalam.
“Leviathan!”
Odo segera berlari menuju kanal dan hendak terjun. Namun saat dirinya baru melompat dan kaki terangkat dari permukaan, tiba-tiba potongan tangan menyerang dari titik buta. Suara dedaunan samar-samar memberikan peringatan, membuatnya bisa mengelak dengan sangat tipis.
Namun, potongan tangan itu berhasil mencengkeram daun telinga kanan Odo. Merobeknya dengan sangat kasar, lalu melayang kabur dan bersembunyi ke dalam kegelapan hutan.
“Akh! Sialan …!” Suara dengung mengisi kepala Odo, membuatnya kehilangan indra pendengaran untuk beberapa detik. Pandangan pun menjadi sedikit kabur karena rasa sakit yang menjalar sampai ubun-ubun. “Untuk realitas tiruan rasanya ini sangat nyata,” gumamnya seraya berlutut di dekat kanal.
Odo meletakkan telapak tangan kanan ke depan dada, sedikit menundukkan wajah dan berusaha untuk mengatur ulang kecepatan detak jantung. Saat pendengarnya kembali, suara gemertak terdengar kencang. Dalam jumlah yang tidak sedikit, semakin kencang di antara bebatuan dan dedaunan.
Saat menemukan momen yang tepat, pemuda rambut hitam itu langsung bangun dan melemparkan kerikil dengan kencang. Mengenai salah satu potongan tubuh yang melesat ke arahnya, mengubah lintasan dan berhasil menghindari serangan fatal.
“Ach!!” Suara jeritan terdengar menggema, berasal dari satu sumber yang jelas. “Bagaimana bisa Anda⸻!?” Saat suara tersebut terdengar untuk kedua kalinya, Odo langsung berlari dan mencengkeram potongan tubuh Lir. Berhasil menangkapnya dalam sekali coba.
Itu bukanlah bagian kepala ataupun mulut, melainkan jantung yang menjadi kontrol kekuatan. Pusat kendali dari realitas buatan, mengatur seluruh apa yang terjadi di dalam Momen Rekonstruksi. Menjadikan ingatan Leviathan sebagai bahan dan fondasi.
“Mari kita buat kesepakatan, Lir ….” Detak terasa kuat dalam genggaman, beserta tekstur dan suhunya yang masih hangat. Tidak meremas jantung itu, Odo mendekatkannya ke depan mulut dan mengancam, “Keluarkan kami dari imitasi busuk ini. Kalau tidak, akan aku makan jantung segar milikmu.”
__ADS_1
“Konyol! Kenapa diriku harus menuruti ancaman itu?” Meski berkata seperti itu, Lir mulai mengumpulkan seluruh potongan tubuhnya dan berhenti bersembunyi. Membentuk wujud abstrak yang masih memiliki sela di antara bagian, lalu berdiri tepat di hadapan Odo. “Tempat ini hanyalah realitas imitasi. Pendiri juga sudah memahami itu, bukan? Apapun yang terjadi di sini tidak akan mempengaruhi ‘Kenyataan’ di luar sana!” ujar entitas itu seraya berjalan mendekat.
“Berhenti!” Odo menjulurkan lidah dan menjilat jantung di tangannya. Segera melangkah mundur dan menjaga jarak, pemuda itu langsung melebarkan senyum gelap dan berkata, “Kau benar! Tempat ini hanyalah imitasi, bahkan hampir mendekati ilusi! Namun! Seharusnya kau tahu kalau aku punya sesuatu yang bisa membuat ilusi menjadi kenyataan, ‘kan?”
“Apa … yang Anda inginkan, Pendiri?” Lir tidak bisa mendekat. Paham dengan ancaman yang diberikan, entitas abstrak itu menghela napas panjang dan mulai membujuk, “Mengapa anda melindunginya? Bangsa ular sialan itu pernah membinasakan rekan-rekan anda⸻!”
“Kau dan aku seharusnya tahu, itu bukan dia.” Odo berhenti mengancam, menjauhkan jantung dari mulut dan kembali menyampaikan, “Itu ulah Makhluk Primal, salah satu entitas kosmik yang tinggal dalam kehampaan angkasa.”
“Sama saja! Dia itu Makhluk Primal! Anda juga sudah tahu itu, bukan?” Lir merapatkan hampir seluruh potongan tubuhnya. Memperlihatkan wujud yang lebih jelas, menjadi semakin kuat saat emosinya meluap. “Wahai Pendiri! Oh, wahai pencipta kami! Sepertinya Anda telah salah menilai dirinya,” ujarnya seraya menunjuk ke depan.
Sadar telunjuk itu bukan untuknya, Odo lekas menoleh ke arah Leviathan yang baru saja naik ke tepi kanal. Terengah-engah, wajahnya memucat dan mata sedikit memerah.
Melihat sosok The Great Sea Serpent itu sesak napas dan memuntahkan air, Odo hanya berdiri dengan ekspresi terkejut di wajahnya. Tidak menolong, mulai tersenyum kecut dan malah menertawakannya.
“Kau manifestasi samudra, ‘kan? Kenapa bisa gelagapan begitu?” Pada akhirnya Odo menawarkan tangannya, membantu Gadis Naga itu keluar dari kanal buatan. Segera menepuk punggung Leviathan dengan keras, membantunya memuntahkan air dari saluran pernapasan. “Serius, kau menyedihkan sekali,” ejek sang pemuda.
“Ugh!” Leviathan muntah lagi. Napasnya mulai kembali, meski masih terengah-engah dan kacau. “Bisa kamu diam sebentar?! Tadi diriku benar-benar hampir mati, tahu!” ujarnya dengan wajah pucat.
“Oh⸻!” Odo menarik napas dalam-dalam, menjaga jarak dan mengangguk sekali. Mengangkat jantung Lir dengan tangan kiri, pemuda itu tersenyum tipis sembari berkata, “Berarti sistem pernapasan milikmu menggunakan Mana, ya? Terutama saat di dalam air. Aku kira kau punya insang seperti Siren atau makhluk laut lain.”
“Bisakah kamu diam sebentar, Odo?!”
Leviathan mengerutkan kening, menganggap omongan itu hanyalah sebatas lelucon menyebalkan. Berusaha mengatur pernapasan, Putri Naga menekan dadanya sendiri beberapa kali untuk mengeluarkan air yang tersisa.
“Hmm, baiklah.” Odo mengangguk kecil.
“Sebentar …! Itu …?” Menyadari ada yang aneh, Leviathan lekas menoleh dengan cemas dan bertanya, “Apa itu di tangan kamu?”
“Jantung! Memang ini terlihat seperti apa, huh?” Odo memutarnya di ujung jari layaknya bola basket, lalu melirik ke arah Lir dan menambahkan, “Milik makhluk aneh di sana.”
“Uwah! Apa itu⸻?!” Leviathan tersentak melihat wujud Lir. Kakinya tergelincir saat hendak bangun, lalu hampir jatuh lagi ke dalam kanal.
Odo segera meraih tangannya, mencegah Putri Naga itu jatuh dan membantunya berdiri. Pada saat bersamaan, pemuda itu pun sengaja menjatuhkan jantung Lir. Menggelinding seperti bola ke depan pemiliknya, namun tidak diambil atau bahkan disentuh.
“Oh, kau menyadarinya? Ini melebihi ekspektasi! Kau sudah sempurna, hampir mirip dengan Mahia ….” Odo tersenyum ringan. Setelah melepaskan tangan Leviathan, pemuda rambut hitam itu berjalan menghampiri Lir. “Kau tahu taruhan ini berakhir saat jantung milikmu tertangkap,” tambahnya dengan nada menekan.
“Ya, karena itulah diriku berusaha membujuk Anda.” Lir kembali merapatkan seluruh potongan tubuhnya. Memperlihatkan senyum yang semakin jelas, lalu dengan pelan sosok abstrak itu lekas bertanya, “Sejak kapan Pendiri menyadarinya?”
“Sejak di jembatan ….” Odo menjawab singkat. Melihat mimik wajah Lir yang semakin jelas, pemuda itu tahu bahwa jawaban tersebut tidak cukup memuaskan. “Dari semua potongan tubuh yang ada, kau berusaha menyembunyikan bagian jantung. Membuatnya berdetak sangat pelan, lalu disamarkan dengan potongan lain supaya tidak mencurigakan,” tambahnya seraya menunjuk lawan bicara.
“Berarti dari awal, ya?” Suara Lir terdengar kecewa, tubuhnya pun kembali berjauhan dan meregang. “Seluruh pembicaraan itu hanya untuk mengamankan dia?” tanyanya dengan ketus.
“Tepat ….” Odo mendekat, lalu mengambil jantung yang terjauh sembari berkata, “Kau bisa membunuh jiwanya di tempat ini. Meski sudah mendekati keabadian sejati, dia akan mati jika jiwanya rusak.”
“Kenapa?” Pertanyaan itu keluar dengan penuh kesedihan. Sembari menyentuh jantungnya sendiri, Lir masih ragu untuk mengambilnya kembali. Memperlihatkan sorot mata tajam dari dua potongan tubuh yang melayang, dirinya kembali memastikan, “Kenapa Anda sangat ingin melindunginya?”
“Karena aku butuh Leviathan ….” Odo menjawab dengan singkat. Sembari memiringkan kepala, sekilas Ia melempar senyum tipis dan balik bertanya, “Memang itu tidak cukup?”
“Sungguh?” Mendapat jawaban semacam itu, Lir langsung mengambil jantung dari tangan Odo. Segera memasukkannya ke dalam susunan tubuh yang terpisah-pisah, lalu lekas melangkah mundur dan kembali melayang. “Bahkan setelah apa yang dia lakukan?” tambahnya seraya menoleh ke arah Leviathan.
“Dia memakan temannya sendiri, bukan?” ujar Odo dengan nada santai. Sekilas mengangkat kedua sisi pundak, lalu memalingkan wajah dan menghela napas. Seolah itu bukanlah dosa, pemuda rambut hitam tersebut kembali menunjuk lawan bicaranya seraya menegaskan, “Dia sudah dihukum dengan penyesalan. Aku tahu rasanya penyesalan, itu sangat menyakitkan. Merasa bersalah selama ribuan tahun bukanlah hal yang ringan.”
“Anda baik sekali, lembut saat membahas perasaan.” Lir berhenti menunjuk Leviathan. Melayang menjauh dan berbalik menghadap, sosok abstrak tersebut pindah menunjuk lawan bicaranya dan menegaskan, “Namun, sayangnya ini hanya pembukaan!”
“Pembukaan?” Odo langsung mengerutkan kening, sekilas melirik Leviathan seakan dirinya meminta penjelasan. “Setelah ini masih ada lagi?” tanyanya dengan nada bingung.
“Tentu saja ada!” Lir mengulurkan tangannya. Sembari melayang hampir satu meter dari permukaan, dengan suara sedih sosok abstrak itu menawarkan, “Sebelum mengakhiri ini, mari kita lihat apa yang telah dia lakukan. Wujud dan sifat asli Putri Naga yang Anda kira mulia …. Kalau Anda tidak berubah pikiran, berarti ini memang kekalahan saya.”
“Odo, tunggu …!” Leviathan mulai terlihat panik, wajahnya berubah pucat pasi karena ketakutan dan tubuhnya gemetar. Tidak peduli lagi dengan pakaiannya yang basah, Putri Naga segera bangun dan mulai membujuk, “Dia musuh, bukan? Mengapa kamu ingin mendengarkan perkataannya? Kita harus segera pergi⸻!
“Diam kau, ******!” Lir membentak, suara menggema bagaikan raksasa yang murka. Memancarkan amarah yang tidak terbendung, sosok abstrak itu menunjuknya dan langsung membentak, “Jaga mulutmu! Kalian adalah kanker dunia! Kalau saja Pendiri tidak berkata membutuhkan kau, tubuh dan jiwa menjijikkan itu pasti sudah diriku uraikan menjadi⸻!!”
“Baiklah, tunjukkan saja.” Odo menyela, langsung setuju tanpa pertimbangan lain. Hanya dengan melihat reaksi Leviathan, itu sudah cukup untuk membuatnya mengambil keputusan itu.
Lekas menghadap Lir dan mengulurkan tangan, pemuda rambut hitam itu dengan lapang dada berkata, “Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya. Jika itu mampu membuat ku mengubah pandangan ini, maka biarlah! Pada kesempatan kali ini diriku tidak akan memaksa ….”
“O-Odo?” Leviathan semakin cemas. Mengambil langkah mendekat, namun langsung terhenti karena takut dan rasa bersalah. “Tolong jangan lihat itu,” bujuknya dengan nada pasrah.
“Jangan cemas.” Odo menoleh ringan, melempar senyum kecut dan berkata, “Kita hanya melihat. Takkan ada yang berubah.”
ↈↈↈ
__ADS_1