Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[103] Serpent III – Bay Leaf and Bittersweet (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Detak jantung terdengar jelas, getaran dada bercampur dengan gerak paru-paru yang kembang-kempis mengikuti ritme kehidupan. Meski sudah berkali-kali berpikir untuk menyerah dan membuang semuanya, sang pemuda kembali membuka mata dan tetap bangun untuk mengambil langkah lain.


 


 


Pemandangan pantai suram menyambutnya, diiringi hembusan angin kencang pada malam berhiaskan taburan awan di langit. Memberikan kesan petang yang kuat, namun tidak sepenuhnya gelap karena cahaya rembulan masih bisa sampai ke permukaan melewati sela-sela mendung.


 


 


Odo Luke ⸻ Nama yang melekat padanya seakan memberikan dorongan, membuatnya tidak bisa berdiam diri dan terus bergerak. Berhenti bersandar pada pohon kelapa berdaun biru pudar, pemuda rambut hitam tersebut menatap lautan yang tampak terbentang di garis pantai sepanjang belasan kilometer.


 


 


“Persiapannya sudah selesai?” tanya Reyah seraya berjalan menghampiri dari belakang. Dryad rambut hijau tersebut sedikit mendekatkan wajah, lalu menatap tajam dan kembali memastikan, “Apa pembicaraannya berjalan lancar? Naga Hitam mau membantu? Engkau tampak pucat …, semuanya baik-baik saja, ‘kan?”


 


 


“Tidak masalah, Seliari sudah setuju ….” Odo mengulurkan tangan ke depan. Sembari melempar senyum tipis, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Selama tidak ada faktor asing yang masuk ke dalam kalkulasi, seharusnya penaklukan ini bisa sukses.”


 


 


“Benarkah?” Reyah menatap ragu. Sembari menghadap ke arah laut, sang Dryad menyingkirkan rambut dari kening dan berkata, “Apa badai yang akan datang ini juga masuk dalam rencanamu, Odo?”


 


 


“Ya, aku berencana menggunakannya untuk cadangan.” Putra Tunggal Keluarga Luke menarik napas dalam-dalam. Sembari melihat sekitar pantai, ia dengan suasana hati kacau bertanya, “Apa mereka belum kembali?”


 


 


“Roh Agung tidak tahu diri itu masih menyelam di laut. Dia belum muncul ke permukaan dari tadi ….” Reyah menoleh ke arah Odo. Sembari tersenyum kecut dan sama sekali tidak menunjukkan rasa khawatir, sang Dryad dengan mimik wajah mengejek berkata, “Mungkin saja dia tenggelam.”


 


 


“Meski struktur tubuh Vil sudah berubah karena menggunakan tongkat Veränderung, dia masih seorang Siren. Aku rasa itu tidak mungkin ….” Odo sedikit memalingkan pandangan. Setelah menghela napas ringan, ia menyingsingkan kedua lengan kemeja dan mulai berjalan ke arah batas garis pantai dengan laut. “Kalaupun terjadi sesuatu padanya, aku pasti bisa tahu melalui koneksi kontrak,” ujarnya dengan senyum tipis.


 


 


Reyah sedikit mengerutkan kening, sedikit merasa dengki dengan kedekatan mereka. Berusaha untuk berhenti menjelek-jelekkan Vil, sang Dryad segera melangkah mengikuti Odo untuk berjalan di sebelahnya.


 


 


Sembari mendekap pedang hitam yang dirinya bawa dengan kedua tangan, sang Dryad memberikan tatapan datar dan bertanya, “Bicara soal rencana, Odo yakin kedua Elf yang engkau ajak itu bisa dipercaya? Kelihatannya mereka sedikit aneh, serasa punya niat buruk kepadamu.”


 


 


“Kau menyadarinya?” Odo sedikit menoleh dan tersenyum ringan. Sembari mengangkat telunjuk, ia dengan nada apatis menyampaikan, “Mereka memang tidak sepenuhnya berada di pihak kita. Kemungkinan mereka akan berkhianat juga tidak kecil.”


 


 


“Lantas kenapa engkau mengajak para Elf itu?” Reyah menatap heran. Mempercepat langkah kaki di atas pasir pantai dan mendahului pemuda itu, sang Dryad membungkukkan tubuhnya ke depan dan memastikan, “Odo tidak berniat bunuh diri dalam rencana ini, bukan? Rasanya sangat mencurigakan ….”


 


 


“Ternyata makhluk dunia astral juga tahu hal semacam itu, ya? Di sini juga ada Roh yang bunuh diri?” Tatapan Odo berubah datar. Bukan karena kesal dengan pertanyaan tersebut, namun hanya merasa lelah dengan semua rasa curiga Reyah. “Aku tegaskan ini. Diriku datang ke Dunia Astral untuk mengalahkan Leviathan, bukan untuk mati,” tegasnya seraya menepuk pundak sang Dryad.


 


 


“Berarti Odo sudah punya jaminan?” tanya Reyah memastikan.


 


 


“Jaminan?” Odo memiringkan kepala dengan bingung.


 


 


“Iya! Jaminan untuk menekan kedua Elf itu supaya tidak berkhianat!”


 


 


Perkataan tersebut sedikit memuat Odo terkejut, tidak menyangka bahwa Roh Agung di hadapannya memiliki pemikiran setajam itu. Mengatur ulang persepsinya terhadap Reyah, pemuda rambut hitam tersebut sejenak memejamkan mata dan menarik napas ringan.


 


 


“Tentu, aku punya jaminan!” Odo menjawab tegas, lalu perlahan membuka kedua mata dan menatap tajam lawan bicara. “Paling tidak mereka tidak akan berkhianat selama penaklukan Leviathan berlangsung,” tambahnya seraya berjalan melewati sang Dryad.


 


 


Saat dilewati, Reyah segera berbalik dan kembali berjalan mengikuti. Menundukkan kepala seraya memikirkan berbagai macam hal, sang Dryad mulai termenung dalam langkah kaki pelan.


 


 


Menyadari hal tersebut, Odo untuk sesaat tidak ingin Reyah mempertanyakan kembali rencana yang akan dijalankan. “Bicara soal kedua Elf itu, apa Laura dan Magda masih belum kembali dari tadi?” tanyanya untuk membuka topik sepele dan mengalihkan pikiran sang Dryad.

__ADS_1


 


 


“Belum ….” Reyah berhenti menunduk. Sembari mengingat-ingat ke mana kedua Elf yang disebut pergi, sang Dryad memiringkan kepala dan berkata, “Kalau tidak salah, mereka tadi dari arah selatan terbang ke timur. Kamu meminta mereka untuk mencari tempat yang tinggi, bukan?”


 


 


“Iya, untuk tempat menembak. Paling tidak mereka butuh empat atau lima tempat menembak untuk penaklukan ini.” Odo sekilas mengacungkan telunjuk ke depan. Berhenti menoleh ke belakang dan sedikit mempercepat langkah kaki saat berjalan, dengan suara ringan ia kembali menyampaikan, “Keberhasilan rencana ini juga ditentukan oleh mereka. Semakin banyak tempat untuk menembak yang bisa didapat, itu akan semakin bagus karena mungkin ini akan menjadi pertarungan jangka panjang.”


 


 


“Apa sihir jarak jauh mereka sekuat itu?” Reyah sedikit meragukan. Mengingat kembali pancaran Mana dan bentuk Manifestasi Peri kedua Elf yang dibicarakan, dengan nada sedikit meremehkan sang Dryad berkata, “Mereka tidak terlalu kuat. Jika dibandingkan dengan Odo yang sekarang, bahkan kapasitas Mana kedua Elf itu lebih rendah.”


 


 


Mendengar hal semacam itu, Odo untuk sesaat terdiam dan hanya melangkah menuju garis pantai. Saat sampai di hadapan garis antara pantai dan laut, pemuda rambut hitam tersebut melepas kedua sepatunya dan membuangnya begitu saja di atas pasir.


 


 


Reyah sesaat menatap heran. Namun saat berjalan ke samping Odo dan menatap wajah pemuda itu, ia terkejut dan mulutnya sedikit menganga. Ekspresi murka dengan jelas tampak padanya meski aura yang terpancar sama sekali tidak mengalami perubahan.


 


 


“Mereka akan menggunakan senapan, jadi itu tidak masalah ….”


 


 


Jawaban Odo terkesan sangat telat. Namun, Reyah tidak punya ruang dalam benak untuk mempermasalahkan hal tersebut. Mimik wajah yang sangat bertentangan dengan pancaran aura membuatnya semakin cemas, merasa ada yang salah dengan pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


“Odo⸻?”


 


 


Sebelum Reyah selesai bertanya, Odo menunjuk ke arah laut dan berkata, “Lihatlah.”


 


 


Sang Dryad untuk sesaat tertegun, mengerutkan kening dan perlahan menatap ke arah yang ditunjuk Odo. Namun, di sana tidak ada apa-apa kecuali ombak dan beberapa bebatuan karang. Hanya pemandangan laut kosong di bawah langit malam mendung.


 


 


“Memangnya ada apa?” Reyah menghela napas ringan, kembali menatap Odo dengan cemas dan bertanya, “Apa Roh Agung tidak tahu diri itu sudah kembali?”


 


 


 


 


“Eh?!” Reyah segera menoleh ke arah laut. Ekspresi wajahnya seketika dipenuhi rasa cemas, lalu dengan nada sedikit gemetar memastikan, “Ja-Jangan bilang kalau Pemusnah Peradaban itu datang kemari? Apa Roh Agung tidak tahu diri itu membawanya kemari?!”


 


 


“Bukan, bukan ….” Odo tertawa ringan dengan senyum yang tampak menyimpang. Berhenti meletakkan telapak tangan ke kening, pemuda rambut hitam tersebut berusaha menahan tawa dan berkata, “Vil sudah memastikan letak sarangnya. Itu berada di palung, sekitar belasan kilometer dari garis pantai ini. Tepat di sana ….”


 


 


Odo kembali menunjuk ke arah laut, lalu semakin melebarkan senyum yang tampak sangat menyimpang layaknya orang sinting. Dalam senyum kegilaan, ia pun mulai tertawa lirih sampai-sampai air mata mengalir keluar.


 


 


Ekspresi itu benar-benar menyimpang dan kacau, tampak menakutkan sampai-sampai membuat Reyah melangkah mundur dan gemetar. “O-Odo? Engkau kenapa? Apa yang lucu?” tanyanya cemas.


 


 


“Tidak apa ….” Odo berusaha menahan tawanya, berhenti menunjuk dan menutup wajah dengan tangan kanan. Namun, tawa ringan tetap bocor bersama senyum menyimpang yang tampak mengerikan. Berusaha untuk tenang, ia menarik napas dalam-dalam dan menyampaikan, “Hanya saja ini rasanya sangat konyol. Monster seperti itu ... memangnya bisa dikalahkan, ya? Gadis kadal sialan, apanya yang hanya sedikit lebih kuat. Ukurannya saja sudah sangat berbeda ….”


 


 


“A-Apa yang engkau bicarakan?” Reyah tertegun, mengambil langkah mendekat dan memegang pundak pemuda itu dari samping. “Odo baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya cemas.


 


 


“Maaf, apa aku menakuti kau tadi?” Odo sepenuhnya berhenti tersenyum, memasang mimik wajah tenang dan mengusap air mata yang keluar saat tertawa. Sembari kembali menatap ke arah laut, pemuda rambut hitam tersebut balik bertanya, “Reyah, apa kau pernah melihat Leviathan? Maksudku …, secara langsung dengan mata kepalamu sendiri.”


 


 


“Eh?” Sang Dryad seketika tertegun.


 


 


Layaknya sebuah badai yang tiba-tiba datang menerpa tubuh, dingin mendekap dengan kencang dan membuatnya membisu. Sebuah fakta sederhana dan terasa wajar, namun pada saat bersamaan sangat vital dalam penaklukan yang akan dilakukan. Karena itulah, Reyah tidak bisa berkata apa-apa saat menyadari hal tersebut.


 


 


Reyah memang dengan jelas tahu kengerian, legenda, atau bahkan kekuatan yang dimiliki oleh Leviathan. Namun, dirinya sama sekali belum pernah melihat langsung sang Sea Serpent. Semua hal tentang Pemusnah Peradaban hanya disampaikan dalam kisah, dengan kata lain hanya dari mulut ke mulut.

__ADS_1


 


 


Meskipun Reyah tinggal di Dunia Astral dan tahu banyak tentang Leviathan, ia sama sekali tidak pernah melihat wujud fisik Pemusnah Peradaban tersebut. Selama hidup panjangnya sebagai Penguasa Hutan Pohon Suci, sang Dryad belum pernah sekalipun melihat Naga Agung yang disebut-sebut memiliki ukuran sangat besar tersebut.


 


 


“Kita ubah rencananya, Reyah ….” Odo kembali melebarkan senyum menyimpang. Layaknya orang licik dengan ratusan muslihat, pemuda rambut hitam tersebut bertepuk tangan sekali dan memutuskan, “Kita ubah penaklukan ini menjadi negosiasi. Mustahil kita bisa mengalahkannya, kita semua hanya serangga di hadapan Leviathan ….”


 


 


“Huh?” Reyah seketika bingung. “Negosiasi? Dengan makhluk yang disebut Pemusnah Peradaban tersebut?” tanyanya dengan gelisah.


 


 


“Ya ….” Odo balik menatap lawan bicara. Sembari menunjuk pedang yang didekap oleh sang Dryad, dengan nada tegas dirinya menyampaikan, “Aku akan menggunakan pedang itu. Mungkin ini terkesan seperti aku tidak menghargai Ifrit, tapi sepertinya kita memang harus mengorbankannya.”


 


 


Reyah tertegun, kedua mata terbuka lebar dalam mimik wajah bingung. Saat sang Dryad berusaha memikirkan makna di balik perkataan pemuda rambut hitam itu, dirinya malah semakin bertambah bingung.


 


 


“Pedang ini?” Reyah mengangkat pedang hitam ke depan. Sembari memberikan tatapan cemas dan mengambil satu langkah mendekat, ia dengan nada gentar bertanya, “Mengorbankan senjata ini? Apa yang sebenarnya engkau bicarakan?”


 


 


“Pedang itu terbuat dari bangkai Naga Hitam.” Odo mengambil pedang hitam dari Reyah. Sembari sedikit mengeluarkan bilah dari sarung kayu, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Setelah ditempa dan dijadikan sebuah pedang, hawa kehadirannya terasa lemah. Namun kalau kekangan pedang ini dilepas, aku bisa memproyeksikan kekuatan Naga Hitam dalam beberapa menit. Kita akan menggunakannya untuk memancing Leviathan ke daratan.”


 


 


“Huh?” Reyah merasa hal tersebut bertentangan dengan rencana awal. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada dan semakin mendekat, sang Dryad dengan penuh kecemasan memastikan, “Bukankah itu malah tambah bahaya? Rencana awal kita akan menyerangnya saat muncul di permukaan, bukan? Disergap sebelum Leviathan bisa mengaktifkan Sihir Khususnya! Karena itulah engkau meminta Roh Agung tidak tahu diri itu untuk mengintai terlebih dahulu! Lantas kenapa malah kita secara terang-terangan memprovokasi Leviathan?!”


 


 


“Itu mustahil.” Odo menjawab dengan singkat.


 


 


Menutup mata sebelah kanan, pemuda rambut hitam tersebut kembali menghubungkan indra penglihatannya dengan Vil. Melihat secara jelas apa yang sedang sang Siren lihat di dekat sarang Leviathan, lalu menghala napas dan sekali lagi memutuskan.


 


 


“Aku bisa membagi indra dengan Vil,” ujar Odo seraya menurunkan tangan dari mata. Menatap dengan mimik wajah yang tampak sedikit lemas, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Ukuran Leviathan sangat tidak masuk akal. Sea Serpent itu juga tinggal di dalam palung yang sangat dalam, tingkat kekerasan kulitnya pasti sangat tinggi untuk bisa bertahan dalam tekanan air di sana. Dia bukanlah makhluk yang bisa dikalahkan dengan persiapan yang terburu-buru.”


 


 


Reyah tertegun, ikut ragu dengan rencana penaklukan yang sebentar lagi akan dimulai. Sembari menundukkan wajah, sang Dryad menggertakkan gigi dengan erat dan bertanya, “Apa engkau ingin membatalkannya? Jika memang mustahil, sebaiknya kita lupakan saja soal penaklukan ini dan lakukan lain kali⸻”


 


 


“Kita tetap lanjut.” Odo menegaskan. Sembari kembali menyarungkan pedang hitam dan memegangnya dengan tangan kanan, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Meski sadar dengan kehadiran Vil, Leviathan sama sekali tidak bereaksi dan hanya diam di sarangnya. Naga Laut itu benar-benar tidak peduli dengan sekitarnya.”


 


 


“Tidak peduli?”


 


 


Reyah merasa ada yang janggal dengan hal tersebut. Mengingat bahwa Naga adalah makhluk teritorial, cukup mustahil jika sosok Leviathan akan membiarkan makhluk asing mengusik tempat tinggalnya.


 


 


Untuk sesaat sang Dryad meremehkan Vil, merasa bahwa sang Siren tersebut tidak dipedulikan karena dianggap tidak dianggap ancaman oleh Leviathan. Namun saat mengingat kembali ritual yang dilakukan Odo beberapa saat lalu, kedua mata Reyah terbuka lebar seakan menyadari fakta mengejutkan.


 


 


“Kau menyadarinya, bukan?” Odo menyeringai tipis. Sembari menoleh ke arah laut dan menunjuk dengan pedang, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan, “Meski ritual dalam skala luas telah dilakukan di Laut Utara, dia sama sekali tidak keluar atau bahkan menampakkan hawa kehadirannya yang kuat.”


 


 


“Mu-Mungkin saja Leviathan tidak peduli.” Reyah meragukan. Sembari merentangkan kedua tangan ke samping sang Dryad berpendapat, “Laut Utara sudah menjadi teritorialnya! Perubahan kecil seperti itu tidak akan mengusiknya!”


 


 


“Aku juga sempat berpikir seperti itu.” Odo berhenti menunjuk. Sejenak menarik napas dan melirik ke arah sang Dryad, pemuda rambut hitam tersebut kembali menjelaskan, “Sebelum kita pergi dari teluk, aku sempat meminta Roh Tingkat Atas yang dipilih Vil untuk mengubah frekuensi Ether di sekitar sini untuk mengusiknya. Meski tanda-tanda perubahan iklim sudah terlihat dari tadi, Leviathan tetap tidak mau menampakkan dirinya.”


 


 


“Perubahan iklim?” Reyah merasa telah melewatkan hal penting lain. Segera mendongak dan melihat awam mendung yang seakan menjadi pertanda badai besar, Dryad rambut hijau tersebut memastikan, “Sebenar! Be-Berarti Odo yang membuat tempat ini mendung?”


 


 


“Badai merupakan salah satu syarat untuk mengaktifkan sihir Manifestasi Dewa.” Odo ikut mendongak, mengamati pergerakan awan dan memperkirakan waktu sampai hujan turun. Setelah menarik napas ringan dan menoleh ke arah pepohonan kelapa di sudut lain garis pantai, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan, “Badai adalah jembatan untuk mencapai perwujudan singgasana milikku di celah dimensi. Meski tidak terlalu berguna untuk melawan Leviathan, paling tidak dengan Manifestasi Dewa aku bisa bicara secara setara dengan Pemusnah Peradaban itu.”


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2