Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[101] Serpent I – Persiapan & Pembicaraan (Part 01)


__ADS_3

 


 


Kecantikan yang tiada tara⸻


 


 


Hal tersebut seakan melekat erat pada Reyah.


 


 


Namun, baginya kecantikan tidak lebih dari sebatas alat. Baik untuk melaksanakan kewajibannya sebagai perwakilan Pohon Suci, atau sekadar menjalani hidup layaknya Roh Agung lain.


 


 


Suara nan merdu, lekuk tubuh yang indah, dan bahkan gestur tubuh yang memikat. Di mata sang Dryad, semua itu hanyalah sebuah senjata untuk hidup dan mempertahankan hak.


 


 


Meski sang Dryad hidup sebagai Roh dan tinggal di Dunia Astral, ironisnya wujud tersebut seakan tercipta untuk memikat para mortal. Terutama umat manusia yang mendambakan keindahan.


 


 


Makhluk-makhluk yang tinggal di Dunia Nyata, kebanyakan dari mereka pasti akan langsung terpikat saat melihat sang Dryad. Meski dirinya berada pada tempat yang sukar untuk dijamah, para pria seakan mengagungkan keindahan sang Roh Agung.


 


 


Hal tersebut membuat Reyah penasaran, lalu mulai bertanya-tanya mengapa para ksatria terhormat itu bisa dengan mudah terpikat. Meski mereka datang dengan tekad kuat dan tujuan yang jelas, kebanyakan pria yang melihatnya akan segera luluh.


 


 


Melupakan tugas dan kewajiban, lalu menenggelamkan diri dalam kenikmatan dan berakhir menjadi pupuk untuk Pohon Suci. Benar-benar terlena dalam kenikmatan semu yang diberikan pada penghujung hidup mereka.


 


 


Di lain waktu, ada juga beberapa penyihir yang menjadi korban keganasan sang Dryad. Terlempar ke Dunia Astral karena gagal membuat kontrak, lalu diseret sampai ke Pohon Suci oleh akar-akar hutan dan berakhir menjadi pupuk.


 


 


Itulah kisah tentang Dryad yang ditakuti oleh orang-orang Kerajaan Felixia, terutama bagi para ksatria yang ingin mencari pengakuan atas diri mereka dengan pergi Dunia Astral.


 


 


Namun, di sisi lain kecantikan dan keindahannya dikagumi dalam berbagai bentuk sastra. Dari mulut beberapa orang yang berhasil selamat darinya, sang Dryad menjadi sebuah legenda hidup yang masih diceritakan oleh masyarakat Felixia sampai sekarang.


 


 


Dikagumi sekaligus ditakuti, itulah Reyah sang Dryad.


 


 


Namun, di matanya mereka para manusia hanyalah makanan. Saat para ksatria datang untuk menantang, ia hanya menganggap orang-orang tersebut sebatas gumpalan nutrisi untuk Pohon Suci.


 


 


Entah bagaimana mereka memandang dirinya, Reyah tidak pernah sekalipun mengubah persepsi tersebut. Dari pertama kali tercipta, bahkan sampai beribu tahun hidupnya berlalu.


 


 


Tetapi, anehnya Reyah tidak bisa menganggap pemuda itu sama seperti para mangsanya.


 


 


Meski telah membunuh banyak manusia dan menganggap mereka tidak berarti, Reyah memandang pemuda rambut hitam itu dengan cara yang berbeda.


 


 


Memang ada beberapa manusia yang dirinya anggap spesial. Tetapi, hal tersebut terjadi karena mereka telah menjalin kontrak dengan Roh Agung atau bahkan tingkat yang lebih tinggi.


 


 


Namun, saat Reyah pertama kali bertemu dengan Odo, anak tersebut sama sekali tidak menjalin kontrak dengan Roh mana pun. Bahkan tampak lebih rapuh jika dibandingkan dengan para manusia yang pernah dirinya temui.


 


 


Meski begitu, sang Dryad tidak bisa menganggap Odo sebagai mangsa seperti halnya para ksatria atau penyihir. Ia merasa bahwa pemuda itu memiliki sesuatu yang berbeda, lalu bukan dari golongan orang-orang yang selalu mendambakan pengakuan dan prestasi.


 


 


Pada saat yang sama, Reyah lebih suka melihat pemuda itu setara dengan para Roh Agung.


 


 


Bahkan pada beberapa momen, dirinya sempat melihat Odo lebih mulia dari bangsanya sendiri. Seakan-akan pemuda itu merupakan sosok Raja bagi semua Roh, layaknya apa yang pernah dijanjikan oleh sang Dewi Kota di masa lampau.


.


.


.


.


 


 


Angin berhembus lebih dingin dari sebelumnya. Bukan karena suhu udara turun, melainkan suasana tegang yang seketika mengisi tempat tersebut. Bersama selimut keheningan, suara dedaunan yang saling bergesekan menjadi semakin jelas.


 


 


Pohon Suci perlahan mulai tenang, tidak menunjukkan reaksi agresif seperti beberapa saat yang lalu. Di sekitar tempat tersebut, para Roh yang sebelumnya berancang-acang menyerang pun perlahan rileks. Tidak memancarkan nafsu membunuh, namun masih dengan jelas memperlihatkan gelagat permusuhan.


 


 


Hanya dengan satu perintah yang keluar dari mulutnya, Odo menghindari pertumpahan darah yang bisa berakhir sia-sia. Memaksa para Roh untuk terdiam di tempat dan mendengarkan perkataannya.


 


 


Namun, tetap saja suasana tegang masih menyelimuti. Meski seperempat jam telah berlalu sejak Odo mengaktifkan Khanda, pembicaraan tidak kunjung dimulai dan hanya ada keheningan yang mengisi.


 


 


Beberapa Roh menatap tajam ke arah Odo dan orang-orang yang datang bersamanya, lalu sebagian yang lain ada yang tampak ketakutan karena kehadiran pemuda tersebut.


 


 


Meski para Roh melihat dengan cara yang berbeda-beda, secara serempak mereka benar-benar menganggap pemuda itu sebagai ancaman bagi Pohon Suci. Sosok yang diwaspadai dan harus dilenyapkan sesegera mungkin.


 


 


Berbeda dengan mereka semua, Reiye Reyah hanya memberikan tatapan datar. Dalam ekspresi sang Dryad, tersirat sebuah amarah yang tenang layaknya angin musim dingin.


 

__ADS_1


 


Bingung, heran, dan murka kepada pemuda tersebut. Dalam perasaan yang bercampur aduk dalam benak, sang Dryad tidak bisa mengajukan pertanyaan atas apa yang pemuda itu lakukan sebelumnya.


 


 


“Tidak aku sangka kau akan menyerang langsung seperti tadi,” ujar Odo seakan tidak mempermasalahkan kejadian sebelumnya. Telah selesai menyusun kalimat dan alur pembicaraan dalam benak, pemuda rambut hitam tersebut segera mengulurkan tangan kepada sang Dryad dan mengajak, “Mari kita bicara. Ini mungkin akan menjadi pembicaraan panjang sebelum kita bisa saling memutuskan.”


 


 


“Memutuskan?”


 


 


Reyah mengambil satu langkah ke belakang. Tatapannya tampak gelap dan dipenuhi kebencian. Namun kebencian itu tidak diarahkan kepada Odo, melainkan Vil yang berdiri di belakang pemuda tersebut.


 


 


“Tentu saja ….” Pemuda itu melebarkan senyum tipis. Berhenti mengulurkan tangan dan sejenak memejamkan mata, dirinya dengan jelas menjawab, “Ini tentang kontrak kita, tentang hubungan seperti apa yang akan kita buat nanti.”


 


 


“Bukankah kita sudah membahas itu? Sebagai ganti Benih Pohon Suci yang diriku berikan kepadamu, kontrak⸻”


 


 


“Bukan itu yang aku maksud ….” Odo kembali membuka mata, lalu menatap ringan lawan bicara dan perlahan memasang mimik wajah sedih. Sembari kembali mengulurkan tangan ke depan, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Kita akan hidup bersama, berbagi takdir dan bahkan perasaan. Karena itu, mari saling mengenal lebih dalam …. Mari kita bongkar semua rahasia yang ada. Setelah pembicaraan ini, kau bebas memutuskan kontrak seperti apa yang akan dibuat.”


 


 


Reyah semakin binging. Berhenti menatap benci dan fokus pada lawan bicaranya, Dryad tersebut dengan heran bertanya, “Engkau bisa membicarakan hal seperti itu setelah kontrak terjalin. Setelah pembicaraan panjang, mungkin saja diriku berubah pikiran dan membatalkan kontrak⸻”


 


 


“Tak masalah jika kau ingin membatalkannya.” Odo menjawab dengan tegas. Menatap tajam dengan sorot mata dipenuhi tekad kuat, ia dengan penuh rasa yakin menyampaikan, “Aku tidak ingin berbagi takdir dengan orang yang menganggap ini remeh. Jika kau ingin naik ke dalam bahtera milikku, kenali dulu siapa diriku dan putuskan itu …. Aku tidak memaksa, ini hanya pilihan tegas yang bisa aku berikan kepadamu.”


 


 


Reyah benar-benar ragu untuk meraih uluran tangan tersebut, perlahan merasa takut karena paham bahwa pemuda itu samar-samar memancarkan aura mengerikan. “Dia bukan Odo yang dirinya kenal sebelumnya,” benaknya cemas.


 


 


Dalam hitungan detik, berbagai prasangka buruk mengalir dalam kepala Reyah. Mencurigai, meragukan, dan bahkan menyangsikan perkataan Odo.


 


 


Namun saat melihat Vil yang berdiri di belakang pemuda itu, semua rasa cemas tersebut seketika terhapus. Digantikan oleh kesal, lalu membuatnya tidak bisa berpikir dua kali untuk meraih uluran tangan tersebut.


 


 


“Baiklah,” jawab Reyah singkat, ia pun meraih uluran tangan Odo. “Namun, diriku ingin mengajukan sedikit syarat dalam pembicaraan,” tambahnya seraya tersenyum tipis.


 


 


ↈↈↈ


 


 


Berbicara empat mata, itulah syarat yang Reyah ajukan untuk memulai pembicaraan tersebut. Di dalam Pohon Suci, mereka berdua duduk bersama layaknya Odo sedang bertamu di kediaman orang lain.


 


 


 


 


Di dalam Pohon Suci hanya ada ruang tunggal. Memiliki tempat tidur di sudut, meja tamu dengan kursi rangka rotan di tengah, lalu beberapa perabotan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh Dryad yang menghuni tempat tersebut.


 


 


Seakan-akan ingin meniru arsitektur yang diciptakan oleh para manusia, ruangan itu memiliki aksen rumah kabin yang minimalis. Memanfaatkan ruang yang terbatas, lalu memiliki perabotan lengkap dari tempat mandi sampai memasak.


 


 


Langit-langit dipenuhi jajaran kristal sihir yang tertara rapi, dengan bagian tengah berbentuk cekung dan memiliki kristal paling terang. Pada beberapa sudut berdiri juga tiang yang terbuat dari kayu, berisi kristal yang bersinar kehijauan dan menjadi hiasan tambahan dalam ruang tersebut.


 


 


Indah dan minimalis, itulah kesan yang terpancar dari ruangan tersebut. Untuk sesaat Odo sempat mengagumi selera arsitektur Reyah, terutama tentang beberapa perubahan yang ia lihat di tempat itu sejak terakhir berkunjung.


 


 


Namun saat Odo mendongak dan melihat kerangka-kerangka manusia yang digantung bersama kristal, rasa kagum seketika sirna dalam hitungan detik. Merasa disadarkan bahwa Roh Agung tersebut memang sosok pemangsa.


 


 


“Engkau datang bukan untuk melihat-lihat, bukan? Kita lanjutkan saja pembicaraan ini! Sampaikan saja semuanya seperti tadi, lalu kita mulai pembahasannya ….” Reyah duduk pada meja tamu di tengah ruangan. Sembari melipat kedua tangan ke depan dan menatap datar, Roh Agung rambut hijau cerah tersebut menegaskan, “Diriku tak ingin pembangkang itu lama-lama di lingkungan Pohon Suci. Kalau bisa, bahkan diriku ingin menghabisinya sekarang juga supaya Penguasa Laut Utara selanjutnya bisa terlahir.”


 


 


“Hmm?” Odo sedikit heran. Berhenti mendongak dan menatap lawan bicara, ia dengan nada penasaran memastikan, “Apa itu salah satu syarat siklus kelahiran Roh Agung? Aku kira penguasa lain sudah muncul setelah Vil menelantarkan kewajibannya.”


 


 


“Engkau sungguh-sungguh ingin membahas hal tak penting itu?” Sang Dryad menatap penuh rasa geram. Berhenti melipat tangan dan meletakkannya ke atas pangkuan, Roh Agung tersebut kembali menekankan, “Jika memang begitu, kita akhiri saja pembicaraan ini.”


 


 


Odo hanya bisa menatap datar, lalu tersenyum ringan karena merasa sikap tersebut mirip seperti perempuan yang sedang datang bulan. Tidak ingin membuat Reyah bertambah kesal, ia menarik napas dalam-dalam dan mempersiapkan topik pembicaraan dalam benak.


 


 


“Baiklah ….” Odo bersandar pada kursi rotan. Memperlihatkan ekspresi santai dan berusaha mencairkan suasana tegang, pemuda itu dengan jelas bertanya, “Bagaimana kalau kita bahas tentang kebenaran dunia ini? Tentang ramalan yang ada dalam Catatan Kuno milik bangsa Roh, atau bahkan kebohongan Dewa-Dewi kayangan yang menata Dunia ini?”


 


 


“Kebohongan?” Perlahan mimik wajah marah Reyah luntur, berubah menjadi penasaran yang membuatnya sampai duduk dengan tegak.


 


 


“Ya, kebohongan ….” Odo mengacungkan telunjuk ke depan. Mengingat kembali pembicaraan dalam pertemuan sebelumnya, pemuda itu dengan segera menyampaikan, “Awalnya kau mengira bahwa dunia ini telah mengalami pengulangan sampai 478 kali, setelah itu malah dibantah oleh kebenaran yang dimiliki Witch. Namun, kebenaran tersebut juga dibantah oleh fakta yang aku dapat dari A.I Kerajaan Moloia ….”


 


 


Reyah menurunkan kedua alis. Menarik napas dalam-dalam dan sejenak memejamkan mata, sang Dryad mengingat kembali semua pembicaraan tersebut dan sejenak membisu. Memperlihatkan reaksi yang terkesan apatis terhadap hal yang Odo sampaikan.


 


 


Pada saat yang sama, Reyah sampai detik ini tidak bisa sepenuhnya mempercayai semua itu. Merasa semua hal tersebut tidak nyata, bahkan sampai membuat sang Dryad tidak mau melihat kebenaran yang disodorkan untuknya. Karena itulah, rasa tidak percaya itu perlahan menjadi keraguan yang jelas dalam benaknya.


 

__ADS_1


 


“Diriku selalu memikirkan hal ini ….” Reyah membuka mata dan menatap datar. Dipenuhi perasaan keruh dalam benak, ia dengan tegas mempertanyakan, “Apa engkau tidak sedang dimanipulasi pihak lain? Percaya ini, percaya itu, lalu berteori sendiri tanpa benar-benar tahu kebenaran yang sesungguhnya. Mungkin ini sedikit kasar, namun pada dasarnya manusia itu memang mudah untuk dipengaruhi.”


 


 


“Ah …, perkataanmu sangat menusuk.” Odo sedikit memalingkan pandangan. Tidak terlalu memedulikan sindiran tersebut, pemuda itu kembali menatap lawan bicara dan langsung berkata, “Aku menyampaikan semua itu karena ingin tahu reaksi seperti apa yang akan kau berikan, bukan untuk memberitahu. Pada dasarnya, dari awal aku juga tidak terlalu percaya denganmu.”


 


 


“Reaksi? Memangnya apa yang ingin engkau tahu tentang diriku?”


 


 


Pertanyaan itu membuat Odo menyeringai tipis. Segera duduk tegak dan menatap lurus lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut segera menjawab, “Tentang Catatan Kuno yang kalian miliki. Apakah itu benar-benar sebuah catatan takdir? Atau malah sesuatu yang dibuat oleh Dewa Kota, lalu hanya berisi janji-janji yang dirinya ikrarkan kepada kalian?”


 


 


“Catatan Kuno ….”


 


 


Reyah sejenak tertunduk, merasa bingung karena belakangan ini mulai meragukan kebenaran isinya. Sejak bertemu dengan Odo Luke, sebuah penyimpangan mulai terjadi dan hal-hal tentang pemuda itu ditulis secara abstrak. Karena itulah, dalam Catatan Kuno sang pemuda disebut juga sebagai singularitas.


 


 


“Sebelum aku bertanya lebih lanjut tentang itu, boleh aku menyampaikan sesuatu dulu?”


 


 


Permintaan tersebut membuat Reyah mengangkat wajah. Dengan ekspresi lemas dan tidak bersemangat, Roh Agung rambut hijau cerah itu membalas, “Terserah engkau saja, hak bicara ada pada dirimu sendiri.”


 


 


“Reyah …, aku membenci Dewa-Dewi dan tatanan dunia yang mereka ciptakan ini. Mungkin, apa yang aku lakukan mulai sekarang akan berdasarkan perasaan itu.”


 


 


Kedua mata Reyah terbuka lebar. Hal tersebut membuat wajahnya pusat pasi, seketika mengingat kembali perkataan Raja Iblis Kuno yang disampaikan dalam Catatan Kuno milik para Roh.


 


 


Membenci dunia dan Dewa-Dewi, dengan dilandasi hal tersebut Perang Kuno terjadi dan tatanan dunia berubah sampai seperti sekarang. Dunia Nyata menjadi tempat terlarang bagi makhluk neraka dan kayangan, lalu menjadi dunia netral dan hanya boleh didatangi jika oleh mereka jika dipanggil.


 


 


“Yang engkau katakan seperti bangsa iblis ….” Reyah tersenyum miris. Benar-benar memberikan sikap yang berbeda, Roh Agung rambut hijau cerah tersebut menyindir, “Setelah makhluk imitasi dari Kerajaan Moloia, selanjutnya engkau malah dipengaruhi oleh bangsa iblis? Kalau tidak salah, engkau juga mengalahkan Raja Iblis Kuno itu, ‘kan? Apa engkau sudah tercemar sisa-sisa kutukan dari masa lalu itu?  Menjijikkan sekali, bahkan simbol terkutuk itu diwariskan lagi.”


 


 


Untuk sesaat Odo terdiam, menatap bingung karena cara bicara Reyah seakan telah mengetahui makna di balik rajah Khanda. Tidak ingin membahas itu sekarang, Putra Tunggal Keluarga Luke lebih memilih untuk mengubah topik pembicaraan.


 


 


“Bukankah kau sendiri yang pernah bilang, aku harus melakukan apa yang diriku sukai? Kenapa sekarang malah terlihat kesal begitu?”


 


 


Odo tersenyum tipis. Sedikit memperlihatkan mimik wajah menyesal, tanda tidak ingin bermusuhan dengan sang Dryad.


 


 


Hal tersebut membuat Reyah tersentak, lalu segera memalingkan pandangan dengan ekspresi sedikit bingung. Sama seperti yang Odo sampaikan, sang Dryad pun tak ingin bermusuhan dengannya.


 


 


“Maaf …, diriku hanya tidak senang saat engkau datang bersama pembangkang itu. Perkataan tadi terlalu berlebihan.”


 


 


“Ah ….” Pura-pura baru tahu hal tersebut, Odo segera meletakkan tangan ke dagu dan menggoda, “Kau cemburu, ya?”


 


 


“Cemburu …?” Reyah menatap bingung, tidak menangkan maksud sang pemuda karena perbedaan persepsi yang ada. Meletakkan tangan kanan ke dada dan memastikan kembali perasaan dalam benak, Roh Agung tersebut dengan ragu menjawab, “Mungkin itu benar. Diriku cemburu pada pembangkang itu karena bisa pergi ke Dunia Nyata. Rasanya … ini sangat menyebalkan. Saat melihatnya kembali tanpa rasa bersalah sedikitpun, itu sangat menyebalkan. Padahal telah menelantarkan kewajibannya sebagai Penguasa Laut Utara, kenapa bisa pembangkang itu mendapatkan keinginannya?”


 


 


Odo sedikit terkejut dengan cara Reyah cemburu. Menarik napas dalam-dalam dan menurunkan tangan dari dagu, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Tenang saja. Setelah kita menjalin kontrak, kau akan bisa bepergian ke Dunia Astral.”


 


 


“Hmm ….” Reyah menatap sinis. Seraya mengerutkan kening, ia dengan nada kesal kembali menyindir, “Apa engkau juga menggoda seperti ini saat membujuk pembangkang itu?”


 


 


“A⸻!” Odo tersentak. Memasang senyum bingung, pemuda rambut hitam tersebut balik bertanya, “Kau menyadarinya?”


 


 


“Sebelumnya diriku sudah bilang, Roh Agung mengenali manusia bukan dari bentuk fisik mereka ….” Reyah menarik napas dalam-dalam. Seraya memalingkan pandangan, ia dengan nada penuh resah menambahkan, “Sekilas diriku bisa langsung tahu kalau bentuk spiritual milik engkau berubah, lalu terikat dengan si pembangkang tersebut.”


 


 


“Mirip seperti Penglihatan Jiwa, ya?”


 


 


“Eh?” Reyah terkejut, lalu menahan napas untuk sesaat dan terdiam.


 


 


“Ah, benar juga ….” Odo sekilas tersenyum tipis dingin, lalu membuka tangan kanan ke depan seraya berkata, “Aku belum memberitahu kau tentang ini ….”


 


 


Menarik tangan ke depan dada, Odo sejenak memejamkan mata dan menghela napas pelan. Saat membuka kembali kedua mata, pemuda rambut hitam tersebut mengaktifkan Penglihatan Jiwa. Sekilas iris matanya memang tidak berubah sama sekali. Namun saat diamati kembali, di dalamnya bercampur warna ungu yang samar-samar berdampingan dengan biru tanpa bisa menyatu.


 


 


“Mata itu … milik sang Ratu? Pemberian Oddya’ia?” Reyah langsung mengenali aura dari tatapan yang terpancar.


 


 


Odo segera menutup mata dan menonaktifkan Penglihatan Jiwa. Dari reaksi yang Reyah berikan, ia segera memastikan bahwa puncak hierarki para Roh memang dipegang oleh sang Dewi Kota. Dalam nama lain yang lebih dikenal oleh para Roh, sosok itu disebut juga sebagai Roh Kudus Oddya’ia.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2