Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[89] Dekadensi Kota Rockfield VI – Paradigm (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


 


Pola pikir lama, tidak menginginkan perubahan dan stagnan pada hal yang telah ditetapkan oleh pendahulu ⸻ Itulah sebuah tradisi. Layaknya sekumpulan orang dengan pola pikir yang membatu, mereka berhenti untuk menerima perubahan. Menggunakan pepatah tua sebagai tembok untuk melindungi pengekang bernama tradisi.


 


 


Mengurung diri dalam peraturan berdebu, tidak berani menghadap perubahan dan pada akhirnya hanya menunggu kehancuran. Layaknya jarum jam yang tidak lagi berputar, tradisi menghentikan laju evolusi yang seharusnya ada dalam lingkup kehidupan.


 


 


Tetapi, di dalam masyarakat yang memegang erat tradisi pasti selalu ada mereka yang dengan keras kepala ingin mengubahnya. Merekalah pembawa pola pikir baru, revolusi nilai dan moral yang seharusnya menjadi dasar lajur pola pikir masyarakat secara umum.


 


 


Setiap orang memiliki pola pikir mereka sendiri. Ada kalanya pola pikir tua dibuat untuk tujuan mencegah kerusakan alam, moral, dan nilai yang sudah cocok dengan karakteristik masyarakat. Namun, ada pula pola pikir tersebut malah mencegah perkembangan dan membuat suatu bangsa tertinggal dan pada akhirnya hancur.


 


 


Sebab itulah, keseimbangan di antara keduanya sangatlah penting dalam masyarakat. Mereka yang menginginkan perubahan dan mereka yang berharap semuanya tetap stagnan.


 


 


Konflik pasti akan terjadi ketika kedua pemikiran tersebut bertemu, lalu sebuah perubahan pun akan terjadi. Entah apapun prosesnya, di dunia ini tidaklah ada yang selamanya tetap. Karena perubahan sendiri adalah sesuatu yang menjadi hal pasti pada setiap makhluk hidup.


 


 


Tradisi yang mengekang, nilai yang melarang, ataupun moral yang mengatur. Semua itu tidak akan menghentikan perubahan, layaknya potensi evolusi yang ada pada setiap makhluk hidup.


 


 


Perubahan bukanlah sesuatu yang bisa dihentikan oleh mereka sendiri, sebab itu merupakan insting yang dimiliki oleh setiap makhluk hidup. Sebuah bagian dari jiwa mereka sendiri.


 


 


Negeri yang tertutup pada akhirnya akan terbuka kepada dunia, tradisi yang dipegang teguh lambat laun akan luntur, lalu Kota Pegunungan yang memiliki pemikiran keras pun pada akhirnya akan lapuk.


 


 


Atas dasar itulah, Raja Kerajaan Felixia memutuskan. Jika memang akan hancur, kali ini Raja Gaiel ingin menghancurkan tradisi dengan caranya sendiri. Menggunakan Kota Pegunungan sebagai titik pembuka, menunjukkan kepada rakyatnya bahwa zaman baru telah datang di Negeri mereka.


 


 


Bukan karena pengaruh budaya lain, iklim, atau bahkan sebuah pemikiran radikal yang bersifat destruktif dalam diri sendiri. Raja Kerajaan Felixia ingin Rockfield berubah ke arah yang dirinya harapkan, atas dasar keinginan berkembang orang-orang di tempat tersebut sendiri.


 


 


Dari dasar pemikiran tersebutlah Prajurit Elite, Jonatan Quilta, dikirimkan. Untuk menjadi pemicu perubahan, membuat alur perkembangan di dalam Kota yang menjadi salah satu penghasil tambang terbaik di Kerajaan Felixia.


 


 


Memang tidak ada gambaran jelas tentang perubahan yang diinginkan Raja Gaiel terhadap Rockfield. Namun, sebagai generasi tua dirinya paham bahwa sebuah perdamaian akan membuat pemikiran stagnan menjamur. Karena itulah, ia sengaja membuat perselisihan kecil dengan menyulut api di atas ladang yang sudah dibajak.


 


 


Berharap itu membakar bekas panen dan gulma, lalu membuat tanah menjadi lebih subur untuk bisa ditanami kembali dengan tunas baru di musim semi yang akan datang.


.


.


.


.


Dokumen memenuhi seisi meja kerja, berlembar-lembar sampai menutupi orang yang duduk di baliknya. Meski hari sudah mulai senja dan kebanyakan pejabat di kantor tersebut telah pulang, pria rambut merah kecokelatan itu tetap menggerakan pena dan menulis laporan rutin atas dinasnya di Kota Pegunungan.


 


 


Kantor Pusat Administrasi Rockfield, itulah tempatnya bekerja sekarang. Sebagai Prajurit Elite yang dikirim langsung oleh Raja Gaiel sebagai pemicu perubahan, Jonatan Quilta sama sekali tidak merasa asing dengan pekerjaan di balik meja. Ia bisa memasang senyum puas, sedikit menikmati pekerjaan di balik meja dan hanya mengurus tumpukan dokumen administrasi yang harus diselesaikan.


 


 


Meski kodratnya sebagai seorang Knight adalah menjadi kuat dan melindungi banyak orang. Namun sebagai orang tumbuh di keluarga pedagang, Jonatan cukup terbiasa pekerjaan di balik meja. Menggoreskan tinta ke atas perkamen dengan pena bulu, bukan menumpahkan darah dengan pedangnya.


 


 


“Kalau tidak salah, Kota di Wilayah Rein juga ada yang masuk dalam rencana Raja Gaiel dalam reformasi kecil ini. Saya berharap semuanya berjalan lancar tanpa ada kendala.” Pria paruh baya tersebut sedikit menghela napas ringan dan tangannya pun berhenti menulis. Setelah menggelengkan kepala, dengan nada sedikit resah ia pun kembali bergumam, “Seharusnya saya tidak perlu mengkhawatirkan Wilayah yang ditata oleh Keluarga Rein itu. Masalahnya yang harus diselesaikan ada di sini, semoga semuanya selesai sebelum musim gugur datang.”


 


 


Jonatan menyandarkan pena bulu ke wadah tinta, sejenak beristirahat dan menoleh ke arah jendela yang sudah tidak lagi tertutup kabut. “Berbeda dengan waktu siang, saat menjelang malam tempat ini malah tampak jelas. Kabut perlahan-lana menghilang dan jarak pandang semakin luas. Apa mungkin karena karakteristik geografis di Teritorial ini? Atau karena iklimnya?” gumam pria paruh baya tersebut.


 


 


Beranjak bangun dari tempat duduk, ia berjalan menuju jendela dan melihat ke luar untuk sedikit menyegarkan pikiran. Namun, tanggung jawab yang telah dibebankan memang membuat Jonatan tidak bisa tenang. Meski sang Raja hanya memberi perintah untuk memicu sedikit perselisihan internal dan mengawasi saja, namun hal tersebut memang membuat Jonatan tidak tenang.


 


 


“Yang Mulia bilang harus menyerahkan gelombang perubahan kepada para pejabat dari Ibukota itu, tetapi bukankah mereka terlalu mengandalkan nama Keluarga Luke? Yah, di awal penyerahan Rockfield, Keluarga mereka datang ke sini memang karena ingin mendukung Keluarga Pedang Kerajaan. Namun, tetap saja ….”


 


 


Jonatan kembali menghela napas kecil, merasa kalau para pejabat baru terlalu menikmati situasi menguntungkan yang ada. Dengan berkurangnya pengaruh dari pejabat lama karena Walikota jatuh sakit, hal tersebut hampir sama saja dengan Rockfield berpindah ke tangan mereka. Ditambah lagi kedatangan Prajurit Elite di pihak pejabat baru, hal tersebut sama saja dengan sebuah kemenangan pasti.


 


 


“Wakil Walikota, Fritz Irtaz ….” Mengucapkan nama tersebut dengan nada tidak senang, tatapan Kepala Prajurit seketika berubah datar. Sejenak memejamkan mata, pria paruh baya itu pun berbalik dan melihat ke arah ruang kerja. Sembari memasang senyum ringan, ia kembali membuka mata dan bergumam, “Siapa yang menyangka kalau orang tua itu akan sangat setia kepada Oma. Bahkan meski kondisi sudah seperti ini, ia sama sekali tidak berniat menyerah ataupun berpindah pihak. Mungkin loyalitas seperti itulah yang membuat diriku menghormatinya.”


 


 


Setelah melempar pujian kepada orang yang tidak ada di hadapan, tatapan Jonatan berpindah ke arah tumpukan dokumen di atas meja. Menghela napas ringan, ia merasa cukup dengan istirahat dan berniat melanjutkan pekerjaan. “Sepertinya saya harus lembur lagi. Ini memang menyebalkan saat paham upah yang diterima tidak sepadan, tapi biarlah. Ini demi Yang Mulia,” gumam pria paruh baya tersebut sembari kembali duduk.


 


 


Namun, tepat setelah duduk tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Gemetar tanpa alasan yang jelas, keringat dingin keluar, dan pada akhirnya tubuh tidak bisa bergerak bebas.


 


 


Ketakutan ⸻ Satu detik setelah itu Jonatan baru memahaminya. Seakan lehernya siap dipenggal dengan benang piano yang tajam, hawa kehadiran tersebut mencekik kencang dan membuat Prajurit Elite tersebut menahan napas.


 


 


“A-Apa ini …? Monster? Bukan⸻!”

__ADS_1


 


 


Berusaha melawan rasa takut yang menguasai insting, Prajurit Elite segera bangun dan melihat ke luar jendela untuk memeriksa. Ia dengan penuh kegelisahan mencari sumber aura mengerikan yang terpancar.


 


 


Namun, seakan menyadari sadar dirinya sedang dicari, sosok yang memancarkan aura tersebut langsung menghilangkan hawa keberadaannya. Benar-benar lenyap tanpa jejak dalam hitungan detik, membaurkan kehadiran di antara keramaian penduduk yang masih memenuhi balai kota.


 


 


“Huh …?” Jonatan tidak bisa berkata apa-apa dan membisu.


 


 


Untuk hawa kehadiran yang bahkan bisa dirasakan olehnya yang berada di ruangan, itu lenyap dengan sangat cepat. Merasakan keanehan yang ada, mata Jonatan bergerak dengan cepat ke sana-sini. Mencari dan terus mencari di antara keramaian.


 


 


Seakan pancaran mengerikan sebelumnya hanyalah sebuah pembuka, sekali hawa kehadiran mengerikan tersebut terpancar lebih kuat. Jonatan merasa seakan jiwanya ditarik keluar secara paksa, itu membuat sekujur tubuhnya kesemutan dan pada akhirnya terjatuh ke lantai.


 


 


Mulut menganga, tidak bisa berkata apa-apa dengan kedua mata terbuka lebar. Untuk pertama kalinya dalam hidup, sang Prajurit Elite merasa nyawanya terancam hanya karena pancaran hawa kehadiran.


 


 


“Se-Sensasi ini ….” Setelah berusaha bangun kembali, Jonatan mengangkat kedua tangan yang gemetar kacau. Meski ia tidak mengetahuinya, namun tubuh pria paruh baya tersebut mengenal jelas pancaran hawa kehadiran tersebut. “Aura mengerikan ini sama seperti waktu itu …. Tidak salah lagi, ini … miliknya,” gumamnya dengan tubuh gemetar.


 


 


Odo Luke, nama tersebut terbayang di kepala Jonatan bersama kengerian yang ada. Meski kebanyakan orang di Kerajaan Felixia mengenal Putra Tunggal Keluarga Luke itu sebagai Pembunuh Naga, tidak banyak dari mereka yang memahami kemampuan asli pemuda tersebut.


 


 


Mengingat kembali bagaimana kemampuan, keahlian, dan kecepatan regenerasi Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut, Jonatan seketika semakin memucat seakan-akan trauma dengan orang tersebut.


 


 


Tanpa berpikir dua kali dan merasakan firasat buruk, Prajurit Elite itu segera bergegas untuk menemui. Meski insting memberi peringatan bahaya kepada tubuh, pria paruh baya tersebut paham bahwa dirinya tidak boleh bersembunyi setelah tahu siapa orang yang telah memancarkan aura tersebut.


 


 


“Kenapa Odo Luke ada di kota ini?!” benaknya sembari mengambil pedang yang bersandar pada lemari.


 


 


Setelah membuka pintu dengan kasar dan berlari di lorong, ia perlahan merasakan sebuah kejanggalan yang semakin jelas. Meski aura mengerikan terpancar sampai ke ruangannya, namun di sepanjang lorong tidak ada satu pun orang yang berlari keluar untuk memeriksa.


 


 


Sempat melongok ke dalam beberapa ruangan yang dilewati, Jonatan sama sekali tidak melihat satu pun pejabat yang memperlihatkan ekspresi ketakutan. Bahkan, salah satu pejabat yang melihatnya tergesa-gesa malah bertanya, “Kenapa terburu-buru, Tuan Quilta? Apa ada terjadi sesuatu?”


 


 


Karena pertanyaan tersebut, untuk sesaat Jonatan sampai memperlambat langkah kaki dan mengira bahwa hawa kehadiran yang sebelumnya dirasakan hanyalah ilusi. Tetapi seakan mengetahui hal tersebut, sekali lagi aura terpancar ke padanya dan menanamkan ketakutan.


 


 


 


 


Setelah keluar dari gedung dengan wajah pucat dan keringat dingin bercucuran, Jonatan berdiri di depan kantor dengan bingung. Napas terengah-engah, keringat membasahi seragam pejabat yang dikenakan, dan ia tidak bisa berhenti melihat ke kanan dan kiri. Mencari orang yang seakan sengaja memancarkan aura hanya kepadanya untuk memanggil.


 


 


Saat senja mulai berganti malam tersebut, lampu-lampu kristal di sekitar balai kota mulai menyala. Di bawah paparan sinar yang ada, Odo Luke hanya berdiri santai di salah satu titik balai kota. Ia memberikan tatapan datar, lalu berjalan menuju ke tempat Jonatan yang tampak gemetar setelah berlari keluar dari Kantor Pusat Administrasi Rockfield.


 


 


“Selamat sore, apa kabar ….”


 


 


Sapaan yang terdengar sangat umum tersebut terasa berbeda di telinga Jonatan. Tatapan ramah, senyum tipis di wajah dan langkah kaki sederhana. Meski apa yang terlihat pada Odo semuanya sangat biasa dan normal, insting Jonatan memberikan peringatan keras dan memberitahu bahwa pemuda rambut hitam itu sangat berbahaya.


 


 


“So-Sore juga ….”


 


 


Pria paruh baya tersebut memang menyapa balik, namun tangan malah memegang gagang pedang dan bersiap untuk menariknya dari sarung. Bersama keringat dingin yang menetes, kuda-kuda mulai dilebarkan dan Jonatan pun pada akhirnya memasang sikap bertarung.


 


 


Melihat reaksi berlebihan itu, Odo menghentikan langkah kali. Ia tidak memberikan penjelasan, hanya berjalan memutar dan keluar dari keramaian yang ada. Berdiri di pinggiran jalan depan bangunan pemerintah tempat Kepala Prajurit itu keluar, Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan mengangkat tangannya ke depan dan menunjuk.


 


 


“Boleh saya bicara dengan Anda sebentar⸻?”


 


 


Odo hanya mengajukan pertanyaan, namun insting Jonatan bereaksi lebih dulu sebelum pemuda itu menyelesaikan kalimat. Karena mengira Putra Tunggal Keluarga Luke akan merapalkan mantra, sang Prajurit Elite t tanpa berpikir panjang menarik pedang satu tangan dari sarungnya.


 


 


Melesat dengan cepat untuk mengurangi jarak, lalu melapisi bilah pedang dengan Mana dan langsung melancarkan tebasan kepada pemuda rambut hitam itu. Satu ayunan horizontal tersebut tanpa keraguan mengincar leher yang merupakan titik vital.


 


 


Tetapi seakan telah memprediksi serangan tersebut dari awal, Odo hanya mengangkat punggung tangannya dan menahan ayunan pedang dengan mudah. Tebasan sama sekali tidak bisa menggores tubuh pemuda itu, tertahan oleh sarung tangan hitam yang telah diperkuat dengan struktur sihir yang ada di dalamnya.


 


 


Asap dan percikan sekilas keluar pada saat benturan, membuat pedang Jonatan sedikit terpental karena momentum ayunan sendiri. Tidak berhenti pada satu serangan, pria paruh baya itu langsung menarik pedang ke belakang dan memasang kuda-kuda yang berbeda dari sebelumnya.


 


 


Kaki kiri melebar ke samping, bersamaan dengan tangan kiri yang berayun untuk menyeimbangkan tubuh. Saat pedang pada tangan kanan ditarik ke belakang, kaki kanan mengambil satu langkah dengan tegas ke depan. Bersamaan dengan Mana yang dengan cepat kembali mengalir menyelimuti pedang, satu ayunan tunggal secara vertikal langsung dilancarkan.


 


 

__ADS_1


Semua gerakan tersebut diambil dengan cepat dan tanpa keraguan. Tetapi, sekali lagi Odo telah memprediksi semua itu dan melakukan tindakan penanganan. Tanpa melihat langsung gerakan Jonatan, Odo hanya mengambil satu langkah ke belakang untuk menghindari tebasan itu dengan sangat tipis.


 


 


“Apa⸻!”


 


 


Momentum ayunan yang kuat membuat Jonatan tidak bisa segera menarik pedangnya.


 


 


Tidak membiarkan Prajurit Elite itu bereaksi, Odo langsung mengambil satu langkah ke depan dan memasukkan kaki kiri ke dalam kuda-kuda pria paruh baya itu.


 


 


Sembari mencengkeram tangan kanan Prajurit Elite bersama pedang yang digenggam, Odo dengan cepat langsung menjegal kaki kanan yang menjadi tumpuan utama untuk merusak keseimbangan.


 


 


Jonatan sempat memberikan perlawanan dengan mengayunkan tinju tangan kiri. Tetapi, itu adalah sebuah kesalahan. Saat tangan yang seharusnya digunakan untuk menyeimbangkan tubuh bergerak, Odo pun memanfaatkannya.


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke langsung menarik tangan kanan Jonatan yang telah dicengkeram. Saat kaki kanan Prajurit Elite tersebut benar-benar terangkat karena dijegal pada gerakan sebelumnya, Odo langsung berputar dan masuk ke dalam kuda-kuda pria tua itu secara penuh sembari menghindari pukulan yang mengincar kepalanya.


 


 


Mendapatkan posisi yang sempurna, tanpa ragu Odo langsung membanting pria paruh baya tersebut ke permukaan jalan dengan keras.


 


 


Sebelum sadar telah dilempar, Jonatan telah terkapar di atas permukaan lantai marmer balai kota dengan pedang yang sudah direbut. Untuk sesaat, di mata Prajurit Elite tersebut Odo menghilang dari pandangan tepat sebelum membanting. Kedua matanya terbuka lebar, tampak bingung karena tidak bisa memahami apa yang telah terjadi.


 


 


“Kenapa Anda tiba-tiba mengayunkan pedang di tengah kota seperti ini, Tuan Prajurit Elite?”


 


 


Mendengar pertanyaan tersebut, Jonatan segera tersadar dan paham bahwa dirinya benar-benar telah dikontrol ketakutan. Menatap pemuda yang telah membanting dirinya, pria paruh baya itu berkata, “Maafkan saya, Tuan Odo …. Entah mengapa tubuh saya berteriak ketakutan dan ingin menyerang Anda.”


 


 


Setelah memindahkan pedang yang dirinya direbut ke tangan kiri, Putra Tunggal Keluarga Luke mengulurkan tangan kanan dan bertanya, “Kalau Tuan ketakutan, bukannya Anda seharusnya lari?”


 


 


“Itu tidak bisa.”


 


 


“Mengapa?”


 


 


“Mungkin … itu karena saya seorang kesatria.”


 


 


Jonatan meraih uluran tangan tersebut dan bangun. Terdiam sesaat dan menatap telapak tangannya sendiri, pria paruh baya tersebut pun terdiam saat tahu bahwa dirinya sudah tidak gemetar lagi. Meski telah dikalahkan dengan mudah oleh pemuda yang jauh lebih muda darinya, ketakutan yang sebelumnya menguasai benar-benar menghilang dari benak.


 


 


“Tetap saja ….” Odo menyodorkan pedang kepada Prajurit Elite tersebut, lalu dengan senyuman ramah kembali menegaskan, “Menarik pedang di tempat umum itu bukan hal yang baik. Anda sekarang seorang Kepala Prajurit di Kota ini, bukan?”


 


 


“Benar juga ….” Meski sadar perhatian orang-orang di balai kota tertuju ke arahnya setelah apa yang terjadi, pria rambut merah kecokelatan tersebut sama sekali tidak menoleh. Ia hanya menatap lurus ke arah Odo, merenung dan berusaha memahami keberadaan pemuda itu. Sembari menajamkan tatapan ia segera bertanya, “Mengapa … Anda bisa di sini? Bukannya Tuan Odo seharusnya berada di Kediaman Keluarga Luke⸻?”


 


 


“Tuan Prajurit, apakah itu sikap yang pantas diberikan oleh seorang Prajurit Elite?”


 


 


Ditegur dengan pertanyaan seperti itu, Jonatan sedikit tersentak. Kedua matanya dengan cepat terbuka, lalu segera menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri. Memahami perbedaan kasta yang ada dan tahu bagaimana caranya bersikap terhadap seorang Viscount, pria paruh baya itu segera menarik kaki kanan ke belakang dan membungkuk untuk memberikan hormat.


 


 


“Tolong maafkan saya atas tindakan tidak sopan sebelumnya. Saya, Jonatan Quilta, telah melakukan hal yang tidak pantas kepada Anda. Selagi lagi saya meminta maaf, ini terlalu mendadak sehingga saya sendiri bingung harus bersikap seperti apa di hadapan Anda.”


 


 


“Hmm, tidak masalah ….” Odo mengubah ekspresi menjadi serius. Sembari meletakkan telunjuk ke depan mulut, Putra Tunggal Keluarga Luke menjelaskan, “Saya ingin berbicara dengan Anda. Untuk sekarang, bisa kita ganti tempatnya lebih dulu? Sepertinya kita telah menarik perhatian banyak orang ….”


 


 


Jonatan sekilas menoleh ke arah keramaian, paham bahwa tidak sopan jika melanjutkan pembicaraan di depan umum. Sembari kembali membungkuk hormat dan menghadap lawan bicara, pria paruh baya tersebut berkata, “Baiklah, Tuan. Mari kita masuk ke kantor saya untuk melanjutkan pembicaraan.”


 


 


“Terima kasih.” Odo menurunkan telunjuk dari depan mulut, lalu menunjuk ke arah tempatnya datang sebelumnya. “Sebelum itu, boleh saya mengajak seseorang dalam pembicaraan?” pintanya dengan nada ramah.


 


 


Jonatan menoleh ke arah yang Odo tunjuk. Awalnya ia tidak tahu siapa yang ditunjuk pemuda itu karena ramai. Namun saat ia melihat perempuan dengan pakaian biarawati melangkah mendekat, sekali lagi Kepala Prajurit dibuat terkejut.


 


 


Meski Jonatan menjalani sebagian hidupnya sebagai seorang kesatria, instingnya sebagai anak yang lahir di keluarga pedagang membuat pria paruh baya tersebut langsung menyadari sesuatu.


 


 


Pendeta Wanita yang merupakan Kepala Biarawati dan Biarawan dari Gereja Utama, salah satu orang yang paling dekat dengan Imam Kota. Melihat Odo dan Rosaria ingin membicarakan sesuatu dengannya, Jonatan pun segera menebak. Ia dalam hati mengambil kesimpulan, bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke itu juga pasti akan terlibat dengan alur politik yang terbentuk di dalam Kota Pegunungan.


 


 


ↈↈↈ


 


Catatan Kecil :


Fakta 018: Fase ketiga adalah seri terbengkalai.

__ADS_1


__ADS_2