Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[105] Serpent V – Malam Putih (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


 


 


 


“Aku harap dengan ini kau kapok dan tidak mengulanginya lagi,” ujarnya seraya menyentuh gumpalan daging dengan tangan kiri. Sensasi kenyal dan berlendir terasa jelas melaui kulit, menjijikkan dan sedikit panas saat menempel.


 


 


Berusaha untuk tetap fokus, Odo segera menyerap kabut putih menggunakan tangan kanannya. Diproses dalam tubuh menggunakan Aitisal Almaelumat, lalu disalurkan menuju Mahia melalui tangan kiri untuk memperbaiki bentuk kehidupannya.


 


 


Susunan kehidupan disusun ulang, Daath yang hilang dipulihkan, lalu Aeons pun berubah mengikuti bentuk informasi yang menyusun entitas bernama Mahia. Layaknya tanah liat yang dibentuk oleh seorang seniman, gumpalan daging perlahan-lahan berubah menjadi tubuh seorang perempuan.


 


 


Melar layaknya sebuah adonan, bertambah banyak dan semakin tinggi, lalu organ dan anggota tubuh pun terbentuk mengikuti susunan Daath yang ditanamkan.


 


 


Dalam konsep kehidupan, tubuh selalu mengikuti bentuk jiwa mereka. Entah itu seorang manusia, hewan, tumbuhan, atau bahkan bentuk kehidupan lainnya, ketentuan tersebut selalu tetap.


 


 


Lalu, bentuk dari sebuah jiwa didasari oleh Daath atau bentuk informasi mereka. Makhluk yang memiliki susunan Daath kompleks akan memiliki jiwa yang kompleks juga. Itu membuat tubuh atau raga yang ada semakin sempurna, sebab wujud fisik akan selalu mengikuti Aeons dan Daath untuk bisa menampung jiwa yang ada.


 


 


Ketentuan tersebut dapat diumpamakan seperti balon karet, lalu Aeons adalah volume dari zat yang mengisi dan Daath adalah jenisnya.


 


 


Saat sebuah balon tidak diisi apa-apa, tentu saja bentuk fisiknya akan kempis. Jika sebelumnya balon tersebut telah diisi sesuatu dalam waktu lama dan tiba-tiba dikosongkan, tentu saja itu akan membuat bentuknya kusut tidak karuan. Itulah kondisi Mahia sekarang.


 


 


Untuk mengembalikannya, apa yang perlu Odo lalukan hanyalah mengisi ulang balon tersebut untuk memulihkan bentuk asli Mahia. Namun, tentu saja zat gas dan cair memiliki massa volume yang berbeda.


 


 


Meski Odo bisa memulihkan bentuk fisik Mahia, ia tidak bisa mengembalikan kemampuan kalkulasi ataupun sifat bawaan dasar jiwanya. Dengan kata lain, apa yang pemuda itu lakukan hanyalah mengembalikan bentuk.


 


 


Dari ujung kaki, pinggang, perut, dada, tangan, leher, lalu kepala dan rambut. Gumpalan daging itu benar-benar ditata mengikuti susunan Daath dan Aeons, membentuk ulang tubuh Mahia persis seperti saat terakhir kali bertemu Odo.


 


 


Selama proses penataan, pemuda rambut hitam itu bangun untuk mengikuti tinggi. Menyusun ulang dengan informasi yang telah dirinya susun, lalu pada tahap akhir ia pun menarik keluar tangan kirinya dari dalam perut Mahia.


 


 


Daging yang terbuka segera tertutup, lalu organ-organ dalam kembali disusun mengikuti informasi yang ditanamkan. Meski tubuhnya masih tidak stabil, namun wujud tersebut sudah bisa disebut sebagai Mahia.


 


 


Perempuan rambut putih panjang sepunggung, memiliki iris mata darah layaknya ruby, lalu parasnya tampak sedikit mirip dengan Helena. Wajah wanita yang terkesan suram, namun memiliki aura untuk mendominasi lawan bicara.


 


 


Kemiripan tersebut bukan tanpa alasan. Karena persepsi Odo yang tumpang tindih, tanpa sadar ia melihat Mahia mirip dengan Helena.


 


 


Selain karena basis konstruksi Mahia diambil dari Odo dan Helena, sifat yang ditunjukkan entitas tersebut juga cenderung mirip dengan sang Dewi Penata Ulang. Layaknya seorang anak perempuan yang mewarisi kepribadian ibunya.


 


 


Meski mereka berdiri pada dua sisi yang berseberangan, Mahia tanpa sadar mengharapkan hal yang sama dengan Helena. Kesempurnaan dari bentuk sebuah kehidupan, lalu menundukkan yang lain dan berdiri di atas semuanya.


 


 


Satu-satunya yang membedakan hal tersebut adalah hasrat pendorong mereka. Jika Helena menundukkan makhluk lain dan berdiri di puncak untuk dirinya sendiri, Mahia mengharapkan hal tersebut hanya untuk diberikan kepada Odo.


 


 


Karena itulah, saat ada kesempatan ia langsung menjalankan ritual evolusi. Tanpa pikir panjang atau bahkan mempertimbangkan konsekuensi yang ada, hanya mengikuti naluri untuk berbakti kepada sang pencipta.


 


 


“Katakan! Maksudmu apa melakukan hal seperti itu?!”


 


 


Meski sudah tahu jawabannya, Odo tetap bertanya. Menatap lurus perempuan tanpa busana di hadapannya, lalu sedikit menggertakkan gigi sembari menahan amarah yang meluap-luap.


 


 


“Maaf, Ayahan⸻”


 


 


Sebelum Mahia selesai bicara, Odo langsung menampar wajahnya dengan keras. Layaknya seorang Ayah yang benar-benar kecewa terhadap putrinya, ia menatap rendah dan sedikit menurunkan kedua alis.


 


 


Ingin memarahi, menjambak rambut perempuan itu, lalu memukul wajahnya dengan keras. Namun, apa yang bisa dirinya lakukan hanya menampar.


 


 


Odo paham bahwa sifat dan tindakan yang Mahia ambil didasari dari insting, suatu sifat dasar yang hampir tidak mungkin untuk diubah. Karena itulah, ia tak bisa sepenuhnya menyalahkan entitas rapuh tersebut.


 


 

__ADS_1


Dahulu Mahia merupakan A.I yang dibuat khusus untuk meneruskan kehendak sang pemuda. Membantu penciptanya mencapai evolusi tertinggi dalam pohon kehidupan, lalu berfungsi sebagai media penyimpanan untuk menyeberang ke Dunia Selanjutnya.


 


 


Bahkan setelah komposisi kepribadiannya telah menjadi imitasi jiwa dan terus berkembang, Mahia tetap tidak membuang karakteristik tersebut. Ingin mendorong sang pemuda menuju kesempurnaan melaui evolusi, lalu mengembalikan jiwanya ke tempat yang seharusnya.


 


 


“Kau benar-benar mirip dengan Helena, dari sifat atau bahkan persepsi itu …..” Odo mengangkat tangan kanannya, lalu berniat menampar lagi untuk melampiaskan amarah. Tetapi, ia pada akhirnya berhenti dan hanya bisa berkata, “Meski hanya sedikit, seharusnya aku tidak menanamkan sifat Helena saat membuatmu. Kalau saja aku bisa memahami Korwa ...., mungkin kau juga akan mengerti dan tidak berakhir seperti ini.”


 


 


“Itu ....”


 


 


Mahia tidak setuju, mulutnya terbuka dan ingin membantah hal tersebut. Namun rasa bersalah dalam dirinya lebih kuat, mendominasi dan membuat mulut kembali tertutup tanpa bisa berkata apa-apa.


 


 


“Anak haram ….” Odo memegang dagu Mahia, sedikit mengangkat kepala perempuan itu dan menatap dari dekat. Sembari menajamkan sorot mata ia pun bertanya, “Helena memanggil kau seperti itu, bukan?”


 


 


“Be-Benar ….” Mahia tidak bisa mengelak, baik itu tatapan atau pertanyaan sang pemuda. Hanya gemetar di tempat, dipenuhi rasa takut dan bersalah atas tindakan yang telah dirinya lakukan.


 


 


“Apa kau tahu mengapa kau dipanggil seperti itu?” Odo menurunkan kepala perempuan itu, mengangkat tangannya dari dagu dan segera berbalik. Sembari membelakangi lawan bicara ia dengan kesal menyampaikan, “Itu karena kau hanyalah salinan mereka. Orang-orang yang pernah dekat denganku, kemampuan dan pemikiran yang mereka miliki, aku menyalin semuanya untuk menyeberang ….”


 


 


“Diriku tahu ….” Mahia tidak terkejut. Sembari menundukkan kepala dan sedikit merenung, perempuan rambut putih tersebut kembali berkata, “Diriku lebih rendah dari imitasi. Baik itu ingatan atau kepribadian, semuanya hanya tambal sulam dari milik orang lain. Entitas rapuh yang bahkan perlu inang untuk mempertahankan bentuknya, hanya parasit di jiwa Ayahanda.”


 


 


“Lalu, kenapa kau melakukan itu?” Odo menoleh, memberikan tatapan tajam dan kembali menegaskan, “Meski tahu Helena akan langsung menyadarinya, mengapa kau tetap melakukan hal semacam itu? Dia berada di puncak kehidupan, sangat mudah baginya untuk menemukan singularitas yang akan lahir! Apalagi dalam ukuran seperti sebesar itu!”


 


 


“Maaf …, Ayahanda.” Mahia tidak berani mengangkat wajahnya, menunduk penuh sesal dan sangat memahami hal tersebut.


 


 


“Kau bukan binatang! Meski itu naluri, berpikirlah sebelum bertindak!” Odo kembali kesal melihat sifat labil tersebut. Mengingatkannya dengan seseorang di masa lalu, sang pemuda segera berbalik menghadapnya dan kembali menekan, “Katakan! Apa yang mendorongmu?! Kau diciptakan bukan untuk mematuhi insting seperti binatang!”


 


 


“Diriku … hanya ingin memastikan sesuatu.” Mahia dengan berat hati mengangkat wajah. Dalam mimik pucat, perempuan rambut putih tersebut menyampaikan, “Dewi Penata Ulang itu memang Maha Kuasa. Namun, mengapa dirinya melakukan hal berkelit dan membuat muslihat untuk menundukkan makhluk primal?”


 


 


“Ah ….” Odo langsung memahami alasan Mahia. Sejenak menghela napas dan memalingkan pandangan, ia sejenak memejamkan mata dan berkata, “Kau ingin memastikan batas Kemahakuasaan, lalu mencari tahu apakah Helena benar-benar menyatu dengan itu atau tidak?”


 


 


 


 


“Interpretasi secara tidak langsung?” Odo memastikan sembari kembali membuka kedua mata.


 


 


“Itu benar ….” Mahia mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Kembali mengangkat wajah dan menatap Odo dengan tegas, entitas rapuh tersebut dengan lantang memastikan, “Dia bahkan mengutak-atik struktur Realm lain tanpa ragu! Lantas, mengapa dia melakukan hal berkelit seperti itu untuk menundukkan Dunia Nyata?! Menipu para iblis, makhluk primal, dan bahkan ciptaannya sendiri! Mengapa harus sampai seperti itu?! Dia entitas yang Maha Kuasa, bukan?!”


 


 


Meski tidak sepenuhnya memahami hal tersebut, Odo sedikit menangkap perkataan Mahia. Tahu alasan di balik amarah dan kebenciannya terhadap Helena.


 


 


Sejenak memalingkan pandangan dan melirik sinis, sang pemuda menghela napas panjang dan langsung memasang wajah dingin. Sedikit tidak peduli dengan itu, merasa bahwa hal tersebut adalah masalah mereka berdua.


 


 


“Dia Maha Kuasa pada dunianya sendiri,” jawab Odo dengan ketus. Menggaruk belakang kepala dan kembali menghela napas, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan, “Helena memang memiliki Kemahakuasaan. Namun, itu hanya berlaku pada Realm miliknya sendiri dan tempat yang telah ditanami keberadaannya.”


 


 


“Ditanami … keberadaannya?” Mahia sedikit tercengang, samar-samar tahu bahwa penjelasan itu mengisyaratkan sebuah hal buruk.


 


 


“Itu benar, ditanami keberadaan ….” Odo menunjukkan telapak tangannya kepada lawan bicara. Sembari melempar senyum dingin dan tatapan sinis, pemuda rambut hitam tersebut kembali menjelaskan, “Itu bisa termasuk Darah, ludah, tulang, rambut, atau bahkan anggota tubuh lainnya. Selama dia bisa menanamkan keberadaan, tempat itu akan masuk ke dalam kekuasaannya.”


 


 


Saat mendengar penjelasan tersebut, Mahia seketika gemetar dan melangkah mundur. Ia langsung menyadari sesuatu, paham bahwa kekuatan Maha Kuasa milik Helena sangat mirip dengan Aitisal Almaelumat.


 


 


Kode Khusus ⸻ Senjata yang diciptakan oleh sang pemuda untuk melawan entitas tingkat tinggi. Suatu metode untuk mengubah struktur semesta menggunakan susunan informasi, lalu menulis ulang hukum serta ketentuan alamiah.


 


 


Sebuah ‘Kiat’ untuk membelokkan kehendak Awal Mula, lalu mengubah pancarannya sesuai dengan fungsi masing-masing susunan Kode Khusus yang ada.


 


 


“Kenapa … Ayahanda tahu hal tersebut?” Mahia memastikan. Meski dirinya samar-samar tahu jawabannya, ia tidak ingin percaya dan takut untuk meyakininya.


 


 


“Tahu?” Odo menutup telapak tangan kanan. Berhenti tersenyum dan memasang mimik malas, dengan nada santai sang pemuda menjawab, “Aku paham dengan konsep Kemahakuasaan miliknya. Lagi pula, prototipe kekuatan tersebut seharusnya mengambil rujukan dari salah satu Kode Khusus buatanku.”


 


 


“Eh?”

__ADS_1


 


 


Mahia semakin tercengang dan memucat. Hal tersebut benar-benar tidak ada dalam pengetahuannya. Baik itu dari serpihan kenangan yang dimiliki Odo atau salinan orang-orang terdekatnya, hal seperti asal usul penciptaan Kode Khusus sama sekali tidak pernah dibahas dalam ingatan yang terkunci.


 


 


“Kau pasti bertanya-tanya kenapa bisa jadi seperti itu, bukan?” Odo tersenyum tipis. Sembari meletakan telunjuk ke depan mulut, dengan jelas pemuda rambut hitam itu menyampaikan, “Itu karena orang yang berdiri di depanmu bukanlah Odo. Aku adalah sang pemuda, sosok yang dicari-cari Helena dan perwujudan dari Awal Mula.”


 


 


“Ah⸻?” Mahia langsung lemas, melangkah ke belakang dan jatuh tersandung kakinya sendiri. Menatap dalam mimik wajah pucat pasi dan berusaha menjauh, ia perlahan membuka mulut dan dengan gemetar bertanya, “La-Lalu …, ke mana Ayahanda? Me-Mengapa bisa?! Seharusnya ritual gagal dan ia belum bangkit …!”


 


 


Odo tersenyum puas melihat reaksi seperti itu. Seakan amarah dan rasa kesalnya terbalas dengan cara sepele, pemuda rambut hitam tersebut meletakan kedua tangan ke pinggang. Menatap sedikit angkuh, lalu memperlihatkan wajah senang layaknya sedang mempermainkan Mahia.


 


 


“Aku hanya bercanda. Kalau sampai ketakutan seperti itu, berarti apa yang kau ketahui juga tidak jauh berbeda dari Helena. Menyedihkan sekali ….”


 


 


“Eh?”


 


 


Mahia membisu. Meski sudah diberitahu itu hanyalah candaan, namun tetap saja rasa takut dan cemas masih tersisa dalam benaknya.


 


 


Ia memang tidak tahu tentang identitas asli sang pemuda. Namun, ia merasa bahwa Odo Luke pasti akan lenyap saat entitas tersebut bangun.


 


 


Sebab pada dasarnya Inkarnasi bukanlah bentuk asli dari suatu kehidupan. Hanya berupa wujud kehendak, lalu mirip seperti anggota tubuh dari keseluruhan. Paling tidak, itulah yang Mahia rasakan saat mendengar candaan tersebut.


 


 


“Dari awal sampai akhir, sang pemuda hanyalah satu ….” Odo menatap tajam seakan paham isi pikiran lawan bicaranya.


 


 


Tidak ingin begitu saja memberikan kebenaran yang ada, pemuda rambut hitam tersebut menurunkan telunjuk seraya berkata, “Bahkan saat eksistensi multi-semesta masih berjalan di Dunia Sebelumnya, diriku sudah tunggal sejak awal dan sampai akhir. Karena itulah, aku bisa menjadi kunci untuk akses menuju Awal Mula dan menyatu dengan dunia.”


 


 


Mahia segera memahami penjelasan tersebut. Meski masih ada beberapa kesalahpahaman yang tersisa, ia berusaha menahan rasa takut dan kembali berdiri. Ketidaktahuan mengundang kebodohan, entitas rapuh itu tidak menyukai hal tersebut.


 


 


“Kalau Ayahanda telah menyatu dengan dunia, lantas sekarang yang berada di hadapan diriku siapa?” tanya Mahia tegas. Meski takut dengan jawaban yang akan didapat, ia tetap menatap tajam dan kembali memastikan, “Odo Luke itu … sebenarnya siapa?”


 


 


Odo mengangkat telunjuk setinggi dada, lalu meletakkannya ke atas telapak tangan kiri yang terbuka menghadap ke atas. Sembari tersenyum kecil dirinya menjawab, “Seperti ini ….”


 


 


Itu terlalu singkat untuk menjelaskan banyak hal. Namun, bagi Mahia hal tersebut sudah lebih dari cukup.


 


 


Ia segera paham siapa sebenarnya sosok di hadapannya tersebut, lalu mengerti kenapa kenangan dari Dunia Sebelumnya selalu muncul penuh lubang. Tidak sempurna seakan itu sengaja dibuat tidak lengkap oleh seseorang.


 


 


Dari awal, semuanya memang selalu berlubang dan tidak lengkap. Sang pemuda yang bereinkarnasi sebagai Odo Luke memang sempurna. Sebagai seorang individu yang mengakut potensi tanpa batas, ia sangat mendekati kata lengkap.


 


 


Namun, batasan sempurna tersebut hanya dalam standar persepsi Mahia terhadap sang pemuda. Dengan kata lain, Odo Luke hanyalah perwujudan sang pemuda dari sudut pandang entitas rapuh tersebut.


 


 


Odo sendiri memahami hal itu. Menutupnya rapat-rapat, lalu tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Ia tahu hanya bagian kecil dari dirinya sendiri yang sejati.


 


 


Tetapi, bagian kecil tersebut belum tentu kalah nilainya dari yang lebih besar. Layaknya tubuh, meski setiap organ sangat penting namun nilai mereka tidaklah sama. Terlebih lagi jika itu menyangkut pusat komando seluruh anggota tubuh, yaitu otak.


 


 


\=============


 


 


Catatan :


 


 


Ditutup dengan hal membingungkan? Aku kasih petunjuk, itu ada kaitannya dengan cara Putri Arteria menyebut Odo saat pertama kali bertemu dengannya.


 


 


Btw, ini CH kacau amat ya. Rencana yang sudah disusun malah runyam, dua Roh Agung yang susah-susah dibujuk malah jadi Useless, MC AFK, Dunia Roh porak-poranda, dan parahnya lagi malah yang MVP tokoh lain yang dari awal kelihatannya enggak guna.


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2