Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[101] Serpent I – Persiapan & Pembicaraan (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


“Kau kenal dengan Dewi Kota itu ….” Odo meletakkan tangan kanan ke dagu, lalu menatap tajam dan langsung memastikan, “Berarti … kau juga tahu bahwa sekarang ini dirinya menjalin kontrak dengan Putri Arteria, bukan? Lebih tepatnya, kontrak warisan yang dibuat untuk setiap keturunan Ratu Kerajaan Felixia.”


 


 


Reyah tertegun, ia tidak bisa segera menjawab. Rasa gelisah mengisi benak, pembicaraan yang berlangsung benar-benar tidak pernah disinggung dalam Catatan Kuno.


 


 


Meski tahu arah pembicaraan yang berlangsung dan bisa memahaminya, tatap saja sang Dryad merasa takut untuk membuat langkahnya sendiri. Bagi dirinya yang selalu mengandalkan peninggalan para pendahulu, tanpa arahan cukup untuk menumbuhkan rasa cemas.


 


 


Namun, takut dan cemas tidak cukup untuk membuatnya berhenti atau kabur dari pembicaraan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu perlahan mulai memahami arti dari sebuah kemandirian menyimpang yang dirinya benci sejak dulu.


 


 


“Tentu saja diriku tahu ….” Reyah menatap dengan wajah pucat, tubuh pun gemetar karena takut yang semakin menguasai. Meski ia berusaha tegar dan melebarkan senyum, tubuhnya tidak bisa berhenti menunjukkan kecemasan yang ada. Ia kembali menarik napas dalam-dalam, lalu dengan suara pelan menyampaikan, “Ratu kami, Oddya’ia, telah membuat kontrak seperti itu sejak generasi pertama Ratu Kerajaan Felixia. Namun …, diriku rasa ada yang aneh dalam kontrak kali ini.”


 


 


“Aneh?” Odo mengangkat kedua sisi bahu dan pura-pura tidak tahu.


 


 


“Ketidaktahuan ini menyebalkan ….” Menyadari kepura-puraan tersebut, Reyah sedikit kesal dengan Odo dan langsung berkata, “Engkau tak perlu bohong! Penglihatan jiwa itu, kenapa bisa engkau memilikinya? Apa engkau juga membuat kontrak dengannya?”


 


 


“Aku menyalinnya,” jawab Odo singkat. Pemuda tersebut segera bertepuk tangan satu kali untuk memecahkan suasana tegang. Kembali menyandarkan tubuh ke kursi rotan, ia dengan nada santai menyampaikan, “Sebagai ganti mengembalikan penglihatan Tuan Putri Arteria, diriku mengambil sebagian konsekuensi miliknya dan juga kekuatan ini.”


 


 


“Huh?” Reyah terbelalak. Ia langsung berdiri, lalu dengan keras membentak, “Mana mungkin itu bisa dilakukan?! Kontrak adalah mutlak bagi makhluk astral, bahkan untuk Roh Kudus sekalipun. Sekali dibuat, itu tidak bisa diubah oleh pembuat apalagi pihak luar!”


 


 


Odo tetap memasang ekspresi santai seakan-akan tidak peduli dengan kecemasan Reyah. Sembari menatap lurus lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut tersenyum tipis dan balik bertanya, “Aitisal Almaelumat, apa kau pernah mendengar hal itu?”


 


 


“Aiti .., apa?”


 


 


“Itu kekuatan Raja Iblis Kuno yang aku dapatkan,” jelas Odo.


 


 


“A⸻” Reyah seketika kembali terbelalak, benar-benar gemetar ketakutan karena Odo mendapatkan hal seperti itu selain rajah Khanda. Kembali duduk dan menggigit kuku ibu jari, sang Dryad dengan cemas memastikan, “Berarti … engkau benar-benar mewarisi keinginan sisa-sisa kutukan itu?”


 


 


“Tidak juga.” Odo menjawab singkat. Menunjuk lawan bicara dan melebarkan senyum, ia dengan nada tegas menyampaikan, “Sama seperti halnya dirimu, Raja Iblis Kuno hanya memberikan dan tidak menuntut apa-apa. Pada akhirnya, semua yang aku lakukan adalah keputusanku sendiri.”


 


 


“Sungguh?” Reyah meragukan.


 


 


“Sungguh ….” Odo terdiam sesaat. Menurunkan kedua tangan ke atas pangkuan, pemuda tersebut duduk tegak dan perlahan menundukkan wajah. Dengan ekspresi muram ia pun menambahkan, “Namun, entah mengapa aku tidak bisa membencinya. Entah itu semua dosa yang dirinya perbuat, atau bahkan hal yang ingin dicapainya.”


 


 


“Apa … yang engkau maksud?”


 


 


Reyah semakin cemas, merasa takut jika Odo tercemar oleh keinginan Raja Iblis Kuno yang destruktif. Wajahnya semakin memucat, lalu tubuh pun tidak bisa berhenti gemetar kencang.


 


 


“Dia menyebut diriku Ayahanda.” Odo menatap dengan penuh rasa sedih. Membuka kedua telapak tangan dan menunduk, seakan sedang menyesal ia menyampaikan, “Layaknya para Korwa yang membuat kekacauan di seluruh dunia ini, Raja Iblis Kuno itu memanggil diriku Ayahanda.”


 


 


Reyah hanya bisa terdiam, tidak bisa berkata apa-apa tentang hal itu. Tanpa dijelaskan lebih lanjut, sang Roh Agung seketika paham dengan apa yang ingin Odo sampaikan.


 


 


Layaknya kepingan teka-teki misteri yang sudah dipecahkan, beberapa informasi dalam Catatan Kuno mulai terhubung satu persatu. Membentuk kesimpulan yang bahkan dirinya pun tidak bisa percaya dengan hal tersebut.


 


 


“Odo …, tolong jangan bilang bahwa engkau adalah jiwa yang ingin mereka panggil?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Reyah. Tanpa memikirkan konsekuensi dari jawaban yang akan didapat, ia menatap tajam dan kembali bertanya, “Ritual-ritual yang para Korwa lakukan selama ini, kemunculan para Iblis, kedatangan Raja Iblis Kuno, dan bahkan ratusan nyawa yang melayang selama proses tersebut, semuanya … hanya untuk memanggil jiwamu ke rahim sang Penyihir Cahaya?”


 


 


Mendengar kesimpulan yang diambil Reyah, Odo sesaat tidak bisa berkata apa-apa dalam mimik wajah terkejut. Sedikit tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar, ia segera menggunakan Spekulasi Persepsi untuk mencari tahu. Sekilas iris mata pun berubah hijau, tanda sebuah kesimpulan telah didapat.


 


 


“Apa ini …?” Odo langsung mimisan. Karena kalkulasi berlebihan, tubuhnya untuk beberapa saat tidak bisa menahan pemrosesan data melimpah dari berbagai potensi. Setelah mengusap darah yang mengalir dari hidung, pemuda rambut hitam tersebut balik bertanya, “Jangan bilang kau terlibat juga dengan hal itu? Konspirasi yang dibuat Dewi sialan⸻?”


 


 


“Te-Terlibat? Itu yang diriku tanyakan sekarang!” Reyah membentak. Menunjuk lurus lawan bicara, ia dengan nada takut bertanya, “Engkau ... sebenarnya siapa?!”


 


 


Odo tidak bisa langsung menjawab. Sejenak terdiam, ia meletakkan tangan kanan ke kening dan termenung. Memikirkan kembali berbagai kemungkinan yang ada, lalu memilah lagi semua itu untuk digunakan dalam pembicaraan.


 


 


“Aku bukan berasal dari dunia ini,” jawab Odo.


 


 


“Kalau itu diriku sudah tahu!” bentak Reyah. Berhenti menunjuk dan menggebrak meja, ia dengan penuh rasa kesal berkata, “Engkau sedang meremehkan diriku?! Engkau menganggap diriku bodoh?! Karena fakta tentang dunia yang diriku pernah sampaikan salah, sekarang engkau malah memandang rendah Roh Agung ini?!”


 


 


“Bukan begitu!” Odo balik membentak dan menggebrak meja dengan kedua tangan. Sembari menatap tajam, dengan suara lantang ia berkata, “Aku tidak tahu harus menjelaskan dari mata?! Dari tadi kau hanya marah! Dalam pembicaraan ini kau bahkan tak mau mendengarkan perkataanku!!”


 


 


“Apa-apaan itu!” Reyah ikut terpancing. Ia kembali menggebrak meja, lalu seraya menunjuk-tunjuk langsung memaki, “Engkau itu hanya manusia! Meski disebut singularitas, tetap saja engkau mudah dipengaruhi oleh orang lain! Karena itulah diriku marah! Padahal diriku sudah bilang untuk melakukan hal yang engkau sukai! Kenapa malah mudah dipengaruhi entitas lain seperti itu?!”


 


 


“Ini yang aku pilih! Kenapa kau protes pada pilihan ku?!”


 

__ADS_1


 


“Dari mana engkau tahu itu pilihanmu sendiri?!”


 


 


Odo tidak bisa membalas pertanyaan tersebut. Jauh dalam benak sang pemuda, ia mulai merasa bahwa perkataan Reyah ada benarnya. Pilihan, tindakan, dan bahkan perkataan yang telah diucapkan mungkin saja dilandasi oleh pengaruh dari luar. Bukan murni berasal dari kehendaknya sendiri.


 


 


“Kau … mencemaskan diriku?”


 


 


Di tengah pembicaraan yang memanas, Odo malah mengajukan pertanyaan tersebut. Tentu saja itu membuat Reyah semakin marah, merasa sedang diremehkan dan kembali menggebrak meja sampai retak.


 


 


“Sama sekali tidak …!” Reyah benar-benar muak, merasa tidak ingin melanjutkan pembicaraan tersebut. Namun, ia tetap tidak bisa begitu saja meninggalkan tempat duduk  dan menendang Odo keluar. Berusaha mendinginkan kepala dan tenang, Dryad tersebut kembali bertanya, “Mari kita mulai dari awal, Odo …. Sebenarnya apa yang ingin engkau sampaikan?”


 


 


“Aku hanya ingin bilang⸻”


 


 


“Ingin bilang bahwa engkau berbeda dari yang lain? Atau engkau sebenarnya adalah orang yang terpilih oleh takdir? Atau malah engkau sebenarnya merupakan sosok yang ditakdirkan untuk mengubah dunia sekarat ini?” sindir Reyah kasar. Menatap penuh rasa muak, ia dengan tatapan merendahkan bertanya, “Jadi yang mana, huh?”


 


 


Kedua alis Odo seketika berkedut. Mendengar cara bicara Reyah yang penuh sindiran tajam, untuk beberapa saat pemuda itu merasa malu pada dirinya sendiri. Menundukkan kepala dan menghela napas panjang.


 


 


“Mendengar kau bicara seperti itu, entah mengapa aku merasa seperti orang narsis yang naif. Benar-benar menyedihkan dan konyol ….”


 


 


Odo meletakkan kedua tangan ke wajah, berusaha menahan rasa malu dan benar-benar merasa bodoh. Menurunkan tangan ke pangkuan dan duduk dengan tegak, ia perlahan mengubah cara pandangnya terhadap Reyah.


 


 


“Sekali lagi diriku tanya, Odo ….” Reyah menatap datar. Seakan tidak peduli lagi siapa sebenarnya pemuda itu, ia dengan tegas kembali bertanya, “Engkau sebenarnya siapa?”


 


 


Meski pertanyaan tersebut sangat sederhana, Odo tidak bisa langsung menjawab dan membisu. Kedua mata sesaat terbuka lebar, mulut menganga seakan ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi, rasa bingung dalam benak membuatnya tetap bungkam untuk beberapa detik.


 


 


Menggunakan Spekulasi Persepsi beberapa kali, lalu mencari kesimpulan dan jawaban yang tepat dalam benak. Meski telah berkali-kali mempertimbangkan jawaban dan memilah kemungkinan yang ada, pemuda itu tetap tidak bisa mendapat pilihan yang diinginkan.


 


 


Sejenak memejamkan mata, Putra Tunggal Keluarga Luke menarik napas dengan berat. Mengambil satu kesimpulan dalam benak, meski ia sepenuhnya paham bahwa itu bukanlah sesuatu yang baik untuk pembicaraan.


 


 


“Aku adalah Odo Luke …. Dari awal sampai akhir kehidupan ini, aku adalah Odo Luke.” Pemuda rambut hitam tersebut menarik napas dalam-dalam. Membuka kedua mata dan menatap lurus lawan bicara, ia dengan penuh rasa ragu melanjutkan, “Namun, masa lalu yang aku miliki sedikit unik. Mungkin kau takkan percaya perkataanku ini …. Sebelum dunia ini tercipta, ada dunia lain yang cukup mirip dengan dunia ini. Itu tempat tinggal ku dulu. Aku pernah hidup di sana. Mengucapkan selamat malam dan selamat pagi kepada orang-orang, lalu hidup sebagai orang lain di tempat tersebut.”


 


 


Reyah tidak terlalu memahami perkataan Odo. Tetapi, di sisi lain ia tahu bahwa tempat tersebut sangat berarti bagi pemuda itu. Kesedihan yang tersembunyi dalam ekspresi tenang, mata berkaca-kaca, dan tubuh yang gemetar saat berbicara. Melihat semua itu darinya, sang Dryad hanya bisa mengangguk kecil dalam senyum sedih.


 


 


 


 


Odo sesaat tertegun. Tak ingin menyampaikannya secara gamblang, pemuda rambut hitam tersebut hanya menjawab, “Diriku tidak diperbolehkan tidur.”


 


 


“Tidur?”


 


 


Reyah sekilas tidak memahami makna yang tersirat di dalam jawaban tersebut. Itu membuatnya menurunkan kedua alis, lalu menatap datar seakan-akan ingin menekan sang pemuda.


 


 


“Entah pada zaman apapun, diriku tidak pernah lagi bisa tidur dengan nyenyak.”


 


 


Odo membuka kedua telapak tangan, lalu menatapnya dengan sorot mata muram dan termenung. Kegelapan dari masa lalu seakan mulai menyelimuti dari belakang, membuatnya semakin gemetar dalam penyesalan. Kembali menatap lawan bicara, kesedihan seketika tampak jelas pada pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


Layaknya orang dewasa yang sudah tidak bisa menangis, Odo tidak bisa meneteskan air mata dan hanya bisa menyampaikan, “Sejak menerima keabadian ini …, jiwaku berubah menjadi kekal sepenuhnya. Aku selalu terbangun. Meski tidur di malam hari, pikiranku selalu terbuka tanpa bisa istirahat. Bahkan setelah dunia hancur dan tercipta kembali, keabadian ini tetap berlanjut.”


 


 


“Apa⸻?” Perkataan Reyah terhenti sebelum menjadi pertanyaan. Dryad tersebut sejenak memalingkan pandangan, merasa bersalah karena membuat Odo mengingat kembali masa lalu yang menyedihkan. Namun, dirinya tidak berhenti dan tetap bertanya, “Apa engkau … hanya ingin tidur, Odo?”


 


 


“Itu benar, aku hanya ingin tidur.” Odo sekali lagi menjawab dengan makna yang tersirat. Setelah menarik napas dalam-dalam, dengan penuh rasa resah pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Memperbaiki dunia, menyelesaikan kewajiban, atau bahkan menebus dosa. Jujur semua itu sebenarnya tidak penting bagiku. Aku hanya … ingin tidur dengan nyenyak. Terlelap dalam malam …, tanpa harus terbangun kembali karena suara penderitaan dan tangisan orang lain. Mungkin …, karena hal sederhana itu aku bisa terus melangkah sejauh ini. Untuk perjalanan menuju akhir ini.”


 


 


Pembicaraan yang berlangsung seakan tidak menyampaikan apa-apa kepada Reyah. Namun, di sisi lain itu bisa mencerminkan perasaan Odo tentang perjalanan yang dilalui.


 


 


Membuat sang Dryad bisa sedikit memahami pemuda itu, lalu mendorongnya memberikan rasa iba. Meski paham pemuda itu tidak memerlukan hal tersebut, ia tetap ingin mencurahkan perasaannya dan membantu.


 


 


“Diriku masih tidak mengerti engkau ….” Reyah perlahan melebarkan senyum. Layaknya saat Odo mengulurkan tangan kepadanya, Dryad tersebut mengulurkan tangan kepada pemuda itu dan menawarkan, “Namun, entah mengapa diriku ingin melihat apa yang akan engkau lihat nanti. Karena itu, mari kita buat kontrak …. Diriku berharap bisa menjadi Roh milikmu, Odo.”


 


 


“Kau yakin?”


 


 


Odo merasa tidak menyampaikan apa-apa kepada Reyah. Meski tujuannya bisa tercapai dengan kontrak tersebut, tetap saja pembicaraan yang berlangsung juga mempengaruhi pola pikir sang pemuda. Membuatnya ragu untuk melibatkan sang Dryad.


 


 


“Yakin tentang apa?” Reyah bertanya dalam senyum tipis. Sembari menatap penuh rasa lega seakan telah mendapatkan sesuatu, Dryad rambut hijau cerah tersebut menyampaikan, “Diriku telah memutuskan ini. Meskipun apa yang akan dilihat nanti adalah penderitaan, diriku takkan menyesalinya.”


 


 


“Masih banyak hal yang belum kau dengar!” Odo semakin cemas. Tak ingin menyeret Reyah ke dalam perjalanan satu arah miliknya, pemuda itu dengan tegas menyampaikan, “Kau seharusnya paham! Bahkan perkataanku ini tidak menjawab pertanyaan yang kau⸻!”


 

__ADS_1


 


“Tak masalah ….” Reyah berhenti tersenyum dan menatap lurus. Memperlihatkan wajah seakan memahami kesedihan dan penderitaan yang ada, Roh Agung rambut hijau cerah tersebut dengan yakin menyampaikan, “Jujur saja, diriku tidak terlalu peduli dengan semua itu. Entah itu takdir dunia, keputusan sang Dewi, atau bahkan tugas yang ingin engkau selesaikan, semuanya tidak penting lagi …. Diriku hanya ingin berhenti dari semua ini dan melihat hal baru.”


 


 


“Berhenti?” Odo terdiam, seketika dipenuhi rasa bingung dan memastikan, “Maksud kau, menelantarkan kewajiban seperti Vil⸻?”


 


 


“Jangan samakan diriku dengannya!!” potong Reyah kasar. Berhenti mengulurkan tangan dan memalingkan pandangan, ia dengan nada kesal menggerutu, “Ini tidak seperti kelakuan si pembangkang itu! Diriku tidak akan menelantarkan kewajiban sebagai perwakilan Pohon Suci ini!”


 


 


“Sungguh itu tidak masalah?” Odo kembali meragukan. Namun, di sisi lain ia juga menginginkan kekuatan sang Dryad. Karena itulah, pemuda itu sekali lagi memastikan, “Kau yakin tak perlu mendengar kebenaran⸻?”


 


 


“Diriku tak peduli dengan kebenarannya.” Reyah menatap lurus ke depan. Sorot matanya berubah tajam, seakan dipenuhi kegelapan layaknya orang dewasa yang tahu kebusukan dunia. Seraya kembali mengulurkan tangan ke depan, sang Dryad dengan tegas menyampaikan, “Dunia ini penuh dengan kebohongan, sebab itulah diriku hanya percaya apa yang ingin diriku percayai. Layaknya peninggalan konyol yang para pendahulu berikan, dunia ini terlalu banyak mencampur kebohongan dalam kebenaran.”


 


 


“Kebohongan? Maksudmu tentang Catatan Kuno?” Odo sedikit mengerutkan kening dan menurunkan kedua alis. Ingin membuat lawan bicara mempertimbangkan kembali keputusan yang telah diambil, pemuda itu sekali lagi bertanya, “Bukankah kau selalu menggunakan itu sebagai panutan?”


 


 


“Tak perlu berbohong!” Reyah menghela napas panjang. Menatap kesal lawan bicara karena merasa diremehkan, ia dengan nada tegas berkata, “Engkau sadar bahwa itu penuh kebohongan, bukan? Padahal disebut Catatan Dunia, namun isinya cuma janji-janji sang Dewi. Bahkan beberapa di dalamnya ada kebohongan yang manipulatif.”


 


 


“Manipulatif? Manipulatif seperti apa?” tanya Odo bingung.


 


 


“Contohnya seperti Roh Agung tidak boleh meninggalkan kewajiban, jika tidak mereka akan lenyap.”


 


 


“Tapi, Vil sampai sekarang tidak ….” Odo sesaat terdiam, mulai memahami maksud dari perkataan Reyah.


 


 


“Itu benar, si pembangkang itu tidak lenyap. Dia malah mendapatkan apa yang dirinya inginkan.” Reyah berhenti mengulurkan tangan. Menundukkan kepala dan termenung, dalam suasana hati keruh Dryad tersebut mengeluh, “Ini terdengar konyol, bukan? Dia yang diriku benci berhasil mendapat keinginannya dan mengambil jalan yang tepat, di sisi lain diriku turus berkutat dalam kebohongan.”


 


 


“Karena itu kau ingin menirunya?” tanya Odo layaknya menyiram minyak ke dalam api.


 


 


“Diriku tidak menirunya!” bentak Reyah. Meletakkan kedua tangan ke atas pangkuan, ia dengan mimik wajah geram berkata, “Dasar engkau ini! Dari sudut pandang manusia mungkin ini mungkin namanya meniru! Namun! Tetap saja menyebalkan saat engkau mengatakannya secara langsung!”


 


 


“Apa salahnya meniru?” Odo sekilas melebarkan senyum tipis. Seakan dirinya juga sering melakukan hal tersebut, ia dengan nada santai menyarankan, “Tiru saja dia, lalu ambil langkah yang lebih baik dari hal yang kau tiru.”


 


 


“Sedang menyindir?” Reyah seketika mengerutkan kening, melipat kedua tangan ke depan dan sedikit mengembungkan pipi.


 


 


“Aku mendukung.” Pemuda itu semakin tersenyum lepas. Sembari bersandar pada kursi rotan, ia dengan tanpa beban menyampaikan, “Bukankah kau ingin melihat hal baru? Kenapa tidak mulai dengan hal seperti itu? Mengubah cara pandang yang sudah ada sekarang, lalu menggantinya dengan yang lain ….”


 


 


“Ini … rasanya aneh.”


 


 


Reyah meletakkan tangan kanan ke dada, sejenak terdiam dan kembali bertanya pada dirinya sendiri. Tentang apa yang diharapkan, lalu proses apa yang ingin dilalui untuk mencapai hal tersebut.


 


 


Untuk sesaat pembicaraan terputus, diam tanpa sepatah kata keluar pun keluar dari mereka. Saling menatap satu sama lain, lalu kembali memastikan keputusan masing-masing dalam perbincangan yang berlangsung.


 


 


“Boleh aku memastikannya lagi?” Di tengah keheningan yang mengisi, pemuda rambut hitam tersebut memuai kembali pembicaraan. Menatap lurus sang Dryad, lalu dengan mimik wajah serius sekali lagi menanyakan, “Kau yakin dengan hal ini?”


 


 


“Tentu ….” Reyah menjawab tanpa ragu. Ia perlahan melebarkan senyum manis layaknya telah menerika risiko yang ada, lalu perlahan memperlihatkan mimik wajah senang dan menyampaikan, “Apapun akibatnya, diriku tetap akan membuat kontrak yang sudah dijanjikan itu. Membantu engkau, lalu berbagi perasaan dan kewajiban tersebut. Suatu hari nanti …, diriku pasti akan membuat engkau bisa tertidur dengan lelap. Sampai-sampai engkau takkan pernah terbangun lagi karena jeritan penderitaan dunia ini.”


 


 


Odo hanya bisa termenung mendengar itu. Bagi bangsa Roh, kontrak merupakan hal yang sangat penting dan mendekati kata mutlak untuk mereka. Memahami hal tersebut, pemuda itu pun mengerti bahwa perkataan Reyah kelak akan menjadi sebuah penderitaan dirinya sendiri.


 


 


Namun, tetap saja Odo tidak bisa melarangnya. Rasa butuh dan keharusan membuat pemuda rambut hitam tersebut tidak bisa menolak dengan tegas.


 


 


Ia hanya bisa mengangkat wajah dan menatap langit-langit, lalu dengan senyum tipis kembali bertanya, “Sebelum membuat kontrak, boleh aku sampaikan satu hal lagi?”


 


 


“Silahkan ….”


 


 


“Ini tentang alasan mengapa aku datang ke sini lebih cepat ….” Odo perlahan menurunkan wajah dan menatap lurus lawan bicara. Memasang ekspresi muram dan penuh kebencian, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Alasan mengapa aku datang dan menginginkan kekuatanmu, itu karena aku berencana melenyapkan Dewi Penata Ulang. Untuk itulah Leviathan harus aku taklukan, demi persiapan ke tahap selanjutnya.”


 


 


Seakan-akan pembicaraan sebelumnya hanyalah sebuah pembuka, perkataan tersebut membuat Reyah terperangah. Membisu di tempat, tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar dan sama sekali tanpa bisa berkomentar.


 


 


Tidak masuk akal, itulah yang terlintas dalam benak Reyah saat mendengarnya. Meski begitu, pembicaraan tersebut tetap berlanjut.


 


 


Seakan-akan memiliki daya tarik tersendiri, setiap perkataan yang keluar dari mulut Odo membuatnya merasa akan dituntun untuk melihat hal-hal baru. Sesuatu yang selalu dirinya dambakan sejak mengenal Dunia Nyata.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2