Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[108] Serpent VIII – Buhul Dependensi (Part 03)


__ADS_3

.


.


.


.


Angin berhembus dengan halus, menerpa kulit dengan udara yang terasa lengket. Sedikit mengusir panasnya terik matahari siang pada pesisir. Sembari duduk bersandar pada salah satu pohon kelapa, Odo sedikit menaikkan pandangannya dan melihat hamparan langit biru. Dihiasi awan-awan putih yang melayang seperti kapas, tanpa ada burung maupun tanda-tanda Roh di antara mereka.


“Terik sekali, ya? Padahal sebentar lagi musim gugur, loh.” Keluhan itu keluar dengan nada datar. Sedikit menoleh ke arah Vil yang berdiri di sebelahnya, pemuda rambut hitam tersebut melanjutkan perkataanya dengan bertanya, “Bukannya kau bilang mereka akan kemari sebentar lagi? Kenapa lama sekali?”


“Ini baru seperempat jam, loh. Tolong sabarlah sedikit ….” Vil memasang senyum kecut saat melihat sikap tidak dewasa pemuda itu. Merapikan pakaiannya dan berjongkok, Roh Agung rambut biru laut tersebut balik bertanya, “Ngomong-omong, Odo sudah baik-baik saja? Masih ada yang sakit? Waktu melawan Leviathan, seingat diriku⸻?”


“Tersambar petir sampai lenyap?” Odo menyela dengan nada datar. Setelah melihat sorot mata Vil yang dipenuhi kecemasan, pemuda rambut hitam tersebut langsung menjelaskan, “Waktu itu aku sudah mati. Tepat setelah petir menyambar, jiwaku terpisah dengan raga yang hancur.”


Penjelasan tersebut membuat Vil terkejut, begitu pula Roh Agung lain dan Putri Naga yang ikut mendengarkan. Leviathan yang sebelumnya berdiri bersandar pada salah satu pohon kelapa berjalan mendekat, lalu berdiri di hadapan pemuda itu dan menatap tajam.


“Tolong jangan membual lagi!” Leviathan meletakkan kedua tangannya ke pinggang. Sedikit menurunkan kedua alis dengan wajah kesal, Putri Naga tersebut lekas membungkuk ke depan dan menegur, “Padahal diriku sudah jujur dan mengatakan hal memalukan seperti itu, loh! Kenapa engkau malah berbohong seperti itu, sih?”


“Bohong?” Odo menatapnya dengan wajah malas. Sedikit enggan menjelaskan masalah tersebut, pemuda rambut hitam itu langsung menunjukkan telapak tangan dengan Rajah Angka berbentuk simbol Infinity. “Berarti kau belum mendengarnya dari Reyah dan Vil, ya? Aku bisa hidup lagi setelah mati,” jelasnya dengan singkat.


“Tidak ada yang bisa bangkit dari kematian! Pada masa kejayaan kami, membangkitkan orang mati⸻!”


“Kalian makhluk primal tidak paham konsep jiwa secara utuh,” sela Odo seraya menutup telapak tangan. Duduk meringkuk sembari memasang wajah muram, pemuda itu dengan nada lesu lanjut menjelaskan, “Berat massa dari jiwa, struktur awal sebelum berpisah dengan raga, lalu koordinasi tiap butiran substansi dari suatu individu. Selama itu tersimpan dengan baik, jiwa yang terputus dari raga masih bisa dikembalikan sebelum masuk ke dalam aliran kehidupan.”


“Be-Berarti ….” Leviathan berhenti membungkuk, mengambil satu langkah ke belakang dan mulai memberikan tatapan bingung. “Ada ketentuan khusus untuk membangkitkan orang mati?” lanjutnya dengan ragu.


“Hmm, kurang lebih seperti itu.” Odo sekilas melirik ke arah Diana yang duduk bersimpuh di atas pasir pantai, merasa bahwa Roh Agung tersebut juga memahami konsep tentang jiwa meski hanya sebagian. Kembali menatap Leviathan, pemuda rambut hitam itu lekas bertanya, “Kalau kau tahu gambaran dasarnya, berarti kalian dulu pernah melakukan penelitian tentang jiwa?”


“Ayunda yang pernah, saya hanya membantunya.” Leviathan memalingkan pandangan. Tidak ingin membahas hal tersebut lebih dalam, wanita muda tersebut tertawa kaku dan mengganti topik pembicaraan dengan bertanya, “Ngomong-omong, kapan mereka kembali? Reyah dan dua Elf itu sedang mengecek aliran Ether di Lembah Kehidupan, ‘kan? Lama sekali, ya?”


“Mereka baru saja selesai,” sambung Diana seraya membuka kedua matanya. Menoleh dan langsung menatap Odo Luke, wanita berkulit gelap tersebut lanjut menyampaikan, “Kurang lebih setengah jam lagi mereka sampai di sini.”


“Wah~! Lama amat!” Odo sedikit tersentak. Mengingat kondisi Kota Rockfield sebelum dirinya berangkat ke Dunia Astral, ia tidak ingin membuang-buang waktu lebih lama lagi. “Kalau begitu, selagi menunggu mereka bagaimana kalau kita mulai bahas saja?” tawar pemuda itu dengan nada ringan.


“Ayo!” Wajah Leviathan langsung berseri. Memperlihatkan reaksi paling semangat, Putri Naga tersebut langsung memastikan, “Tentang rencana untuk mendirikan negeri, ‘kan?”


“Semangat amat ….” Melihat antusias tersebut, Odo malah semakin tertekan dan enggan.


“Tentu saja!” Leviathan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sembari melempar senyum penuh percaya diri, perempuan rambut perak abu-abu tersebut dengan lepas menyampaikan, “Sudah lama sekali diriku tidak merasa sebebas ini! Tidak ada salahnya kalau kita menikmatinya, bukan?”


“Terserah, ayo kita bahas saja ….” Odo berdecak resah, sedikit memperlihatkan wajah kesal dan lanjut berkata, “Masalah utama yang perlu diselesaikan sebelum mendirikan negeri di Dunia Astral adalah siklus. Tepatnya, karena perubahan yang terjadi sekarang, siklus kelahiran Roh Tingkat Rendah terganggu.”


“Hmm, kita sudah membahas itu waktu mau perjalanan kemari.” Leviathan kembali menghadap Odo. Melempar senyum penuh rasa berharap, dengan nada ringan wanita muda tersebut langsung bertanya, “Odo Luke, engkau sudah tahu alasannya, ‘kan? Tentu juga dengan cara penyelesaiannya, bukan?”

__ADS_1


“Sudah ….” Odo mengangguk. Sedikit tidak nyaman karena seperti sedang dimanfaatkan oleh Leviathan, pemuda rambut hitam tersebut hanya bisa memasang mimik wajah pasrah.


“Papah sudah punya penyelesaiannya?” Alyssum keluar dari balik pohon kelapa yang disadari Odo. Sangat terkejut saat mendengar jawaban singkat tersebut, Roh Kecil rambut hijau cerah itu lanjut memastikan, “Atau … Papah hanya baru paham masalahnya⸻?”


“Aku sudah punya cara untuk menyelesaikannya,” sela Odo tanpa menoleh. Menatap tajam Leviathan, pemuda rambut hitam itu lanjut berkata, “Bukannya kau juga sudah tahu caranya? Kau menyuruh Reyah dan Vil memeriksa beberapa sudut Dunia Astral karena alasan itu, bukan?”


“Tepat sekali!” Leviathan bertepuk tangan ringan. Sembari menatap datar dan ingin mendengar rencana Odo, dengan nada menekan sang Putri Naga kembali berkata, “Padahal bukan penduduk Dunia Astral, namun engkau sangat paham seluk-beluk tempat ini ….”


“Ya, begitulah ….” Odo tidak terlalu peduli dengan permasalahan yang ada. Namun saat menoleh dan melihat wajah bingung Alyssum, dengan nada sedikit kesal pemuda rambut hitam itu lekas menjelaskan, “Mungkin kau sudah tahu ini, perubahan yang dilakukan Dewi Helena hanyalah Restorasi Dunia. Kemungkinan itu sangatlah besar.


“Berarti ….” Leviathan berusaha mencerna perkataan Odo Luke. Sedikit memahami maksud yang tersirat di dalamnya, Putri Naga tersebut lekas memastikan, “Engkau ingin bilang kalau kondisi Dunia Astral yang sekarang adalah bentuk aslinya? Wujud asli dari Realm ini?”


“Tepat ….” Odo mengangguk. Lekas bangun dan menyingkirkan pasir dari celana, pemuda itu tanpa ragu lanjut menjelaskan, “Dalam proses perkembangannya, kebanyakan Realm memiliki bentuk dasar yang sangat berbeda dengan akhir. Lalu, terkadang bentuk dasar tersebut juga dipengaruhi oleh Realm yang ada di dekatnya. Konsepnya seperti hewan yang meniru sesuatu dalam ekosistem mereka untuk bertahan hidup, semacam mimikri namun juga dapat disebut evolusi untuk adaptasi.”


“Begitu, ya ….” Leviathan lekas berbalik, melihat ke arah laut dan berkata, “Karena lebih muda dan rapuh, secara alamiah tempat ini meniru beberapa hal dari Dunia Nyata.”


“Tepat sekali.” Odo mengangguk pelan. Berdiri dengan gestur tubuh lemas, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Karena hal itu juga, bentuk Roh di Realm ini cenderung mengambil wujud hewan maupun makhluk hidup lain yang ada di Dunia Nyata.”


“Hmm! Kurang lebih diriku paham mengapa Dunia Astral memiliki basis bentuk seperti ini!” Leviathan kembali menghadap lawan bicaranya. Sembari menatap tajam dengan sorot mata dipenuhi rasa penasaran, Putri Naga tersebut lekas memastikan, “Lantas, kenapa bisa siklus kelahiran Roh di tempat ini menjadi terhambat? Dewi itu hanya melakukan Restorasi, ‘kan? Pengembalian ke bentuk semula! Mengapa proses itu malah mengancam kepunahan penduduk Dunia Astral?”


“Ada beberapa kemungkinan. Namun, yang paling masuk akal ada satu ….” Odo bersandar pada batang pohon, memperlihatkan tatapan sayu dan tampak lebih lemas dari sebelumnya. Sembari menunjuk lurus ke depan, pemuda itu dengan suara pelan menjawab, “Semburan nova yang kau keluarkan.”


“Efeknya … separah itu?” Leviathan mulai tampak tertekan sampai kegelisahannya terlihat jelas pada raut wajah.


“Ada juga kemungkinan lain seperti Helena sengaja mengotak-atik struktur Realm ini.” Odo berhenti menunjuk. Ia memang menyampaikan kemungkinan tersebut, tetapi dalam benak dirinya merasa ragu dan lanjut berkata, “Hanya saja …, rasanya mustahil dia mampu melakukan semua itu dalam waktu singkat.”


“Tidak ada batasan pada kekuatannya, namun wadah untuk menyalurkannya terbatas.”


Penjelasan Odo membuat semua yang mendengarkannya bingung, begitu pula Leviathan yang telah sedikit memahami eksistensi Kemahakuasaan milik Dewi Helena. Karena itulah, perkataan pemuda itu terasa sangat kontradiksi. Sebab pemuda itu sama saja ingin bilang bahwa Kemahakuasaan itu terbatas.


“Maaf, Odo ….” Kali ini Leviathan tidak bisa menerka. Memperlihatkan mimik wajah seperti baru saja kalah berdebat, Putri Naga tersebut langsung meminta, “Tolong jelaskan supaya diriku dan yang lain mengerti.”


“Itu sederhana ….” Odo mengambil satu langkah ke depan, lalu mengayunkan tangan kanan ke belakang dan memukul pohon dengan pergelangan. Batang bergetar kencang, lalu sebuah kelapa hijau pun jatuh tepat di atas telapak tangannya yang terbuka. “Umpamakan saja konsep Kemahakuasaan dengan ini,” ujar pemuda itu seraya mengangkat buah tersebut ke depan.


Baik itu Leviathan maupun semua Roh Agung yang berada di tempat tersebut, mereka langsung menatap pemuda itu dengan penuh rasa heran. Meski tidak bisa langsung memahami maksudnya, mereka punya persepsi masing-masing dan mula berpendapat dalam benak.


Leviathan merasa Odo hanya ingin membuat omong kosong lain dengan perumpamaan tersebut. Pada persepsi yang berbeda, Alyssum dan Vil menatap dengan sungguh-sungguh dan berusaha memahaminya sampai terlihat sangat kebingungan.


Berbeda dengan mereka semua, Diana yang duduk sedikit menjaga jarak hanya memperlihatkan mimik wajah tenang. Menatap sayu dan anggun, tidak berusaha memahami maupun mencari tahu maksud perkataan Odo.


“Tidak usah pakai metafora⸻!” Leviathan hendak mengambil kelapa tersebut, tetapi Odo langsung menghindari dan melarangnya. Merasa sedikit dipermainkan, Putri Naga lekas mengerutkan kening dan meminta, “Tolong jangan berkelit! Entah mengapa ini mulai menyebalkan. Odo Luke, diriku mohon jelaskan saja dan jangan berputar-patar ….”


“Senang mendengar kau bisa meminta seperti itu ….” Odo memutar kelapa di ujung jari layaknya bola basket. Sedikit melebarkan senyum tipis, pemuda rambut hitam tersebut lekas menjelaskan, “Kemahakuasaan adalah konsep tunggal dan mutlak, sama seperti kelapa yang ada pada tanganku ini. Namun, sebenarnya kelapa ini juga tersusun dari beberapa bagian seperti kulit luar kelapa, buah, air, dan lain sebagainya.”


“Tunggal …, tapi terdiri dari beberapa bagian?” Leviathan semakin bingung. Sekilas meletakkan telunjuk ke kening dan berpikir, wanita muda itu kembali memastikan, “Bukankah itu tidak masuk akal? Kalau memang terdiri dari beberapa bagian, berarti konsep miliknya tidaklah tunggal.”

__ADS_1


“Itu sama seperti kelapa ini.” Odo berhenti memutar buah kelapa dan memegangnya dengan erat. Sembari mengajukannya ke depan, pemuda itu lanjut menjelaskan, “Secara keseluruhan disebut buah kelapa, namun dapat juga dipisah-pisah menjadi beberapa bagian seperti kulit kelapa, buah kelapa, air kelapa, dan lain sebagainya. Semua itu dapat berguna dan memiliki fungsi masing-masing dalam satu kesatuan. Karena itulah, buah ini juga dapat disebut tunggal.”


“Tunggal secara subjektif?” Leviathan langsung membuka kedua matanya lebar-lebar saat menyadari hal tersebut. Lekas memalingkan pandangan dan menurunkan telunjuk ke mulut, Putri Naga itu mulai bergumam, “Berarti dia bisa mengubah bentuk konsepnya sesuka hati? Kalau tidak memiliki bentuk pasti, hal seperti itu memang bisa dilakukan. Namun, apakah hal semacam itu mungkin⸻?”


“Tentu saja mugkin,” ujar Odo seraya melempar kelapa ke tangan kiri. Mengacungkan jari tengah tangan kanan, pemuda itu langsung menusuk permukaan buah dan membuat lubang kecil. Membiarkan air mengalir keluar dan lanjut menjelaskan, “Sesuatu yang mewujudkan Kemahakuasaan itu dapat diumpamakan dengan air kelapa yang ada pada buah ini. Kalau ingin meminum airnya, tentu saja kalian harus membukanya dulu, ‘kan? Atau membuat lubang seperti ini ….”


“Kalau begitu ….” Leviathan menatap air kelapa yang mengalir dengan sangat fokus. Sedikit menangkap maksud dari perumpamaan yang dibuat Odo, wanita rambut perak abu-abu tersebut lanjut bertanya, “Untuk mengaktifkan kekuatannya, ada beberapa prosedur yang harus Dewi Helena penuhi dulu? Seperti katamu tadi, batasan pada wadahnya atau semacamnya.”


“Tepat ….” Odo sejenak berhenti bicara, meminum air kelapa yang keluar untuk sedikit menghilangkan dahaga.  “Hmm? Meski tumbuh di sini, rasanya mirip sekali dengan air kelapa asli. Sama sekali tidak ada yang aneh,” ujarnya seraya menawarkan buah tersebut kepada Alyssum.


“Ti-Tidak, terima kasih ….” Roh Kecil itu menggelengkan kepala, untuk beberapa alasan dirinya sedikit enggan untuk meminum buah yang berasal dari ekosistem Laut Utara.


“Hmm ….” Odo pindah menawarkan buah tersebut kepada Vil.


Tanpa sungkan sang Siren langsung menerima buah kelapa tersebut, lalu meminumnya melaui lubang yang telah Odo buat. Tidak tanggung-tanggung, langsung menenggak air kelapa yang tersisa sampai habis.


“Wah~!” Vil menjatuhkan buah kelapa setelah menghabiskan airnya. Bersendawa ringan dan lekas menatap Odo, Roh Agung rambut biru laut tersebut berkata, “Diriku kira air kelapa itu rasanya manis, ternyata lebih mirip seperti teh rosella dan hambar. Padahal dulu buah di sekitar sini rasanya manis seperti madu, sayang Odo tidak bisa mencobanya.”


Odo tidak terlalu peduli dengan komentar anehnya. Kembali menatap Leviathan dan sedikit mengerutkan kening, pemuda rambut hitam tersebut lekas bertanya, “Boleh aku lanjutkan penjelasannya?”


“Diriku tak keberatan kalau engkau minum lagi, loh. Engkau baru saja siuman, ‘kan? Tidak ada salahnya minum dulu! Ayunda juga pernah bilang air kelapa itu bagus untuk orang yang baru saja sembuh dari sakit, jadi tidak masalah kalau mau minum lagi.” Leviathan melempar senyum tipis, merasa bahwa Odo masih sedikit mirip dengan manusia karena bisa haus. “Mau sekalian diriku ambilkan kelapa lain?” ujarnya dengan nada sedikit sombong.


“Tidak perlu! Lagi pula, itu pengetahuan yang salah. Air kelapa hanya punya efek menetralkan dan mengganti ion tubuh.” Putra Tunggal Keluarga Luke mengusap sisa air dan serat pada mulut. Sejenak menarik napas, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Sudahlah! Kembali ke topik! Konsep yang dimiliki Helena pada dasarnya tidak bisa dikeluarkan dari cangkang, sifatnya mirip seperti air kelapa. Meski itu sangat kuat dan mendekati tidak terhingga, Kemahakuasaan yang bisa digunakannya sangatlah terbatas.”


“Terbatas, ya …?” Putri Naga sedikit ragu mendengar perumpamaan tersebut.


“Hmm, contohnya seperti lubang pada kelapa itu.” Odo menunjuk kelapa yang telah dijatuhkan ke permukaan pasir. Sembari menginjaknya dengan kaki kanan, dengan nada sedikit resah pemuda rambut hitam itu lanjut menjelaskan, “Kekuatan dan kekuasaan yang digunakan Helena hanyalah secercah, bahkan itu mungkin tidak sampai sepersepuluh dari seluruh bagian Kemahakuasaan yang ada.”


“Sangat membingungkan ….” Leviathan tidak terkejut ataupun panik saat mendengar itu. Seraya melipat kedua tangan ke depan, dengan nada ketus dirinya lanjut bertanya, “Dari penjelasan yang engkau berikan sejauh ini, bukankah Dewi sialan itu tidak bisa menggunakan kekuatannya secara penuh, bukan? Berarti .., seharusnya itu bukan masalah besar untuk kita, ‘kan?”


“Meski hanya secercah, Kemahakuasaan bukanlah konsep yang dapat diremehkan.” Odo menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. Kembali bersandar ringan pada pohon kelapa, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menyampaikan, “Supaya bisa mengaktifkan kekuatannya, kemungkinan besar Helena menggunakan metode yang sangat berkaitan dengan wadah. Lebih tepatnya, Dewi itu memerlukan medium berupa tubuh khusus untuk menggunakan Kemahakuasaan. Karena itulah, takaran kekuatannya bisa saja berubah-ubah. Sama seperti ukuran lubang yang aku buat pada kelapa ini, bisa saja lebih lebar atau lebih sempit.”


“Ini sedikit mengejutkan.” Leviathan tercengang saat mendengar penjelasan itu. Menyatukan kedua telapak tangan dan meninjau kembali rencana yang telah dipikirkannya. Putri Naga tersebut sekilas memalingkan pandangan dan bergumam, “Awalnya diriku kira sosok Dewi itu benar-benar tak terkalahkan, ternyata lebih rapuh dari yang terlihat.”


“Rapuh?” Odo tersenyum sinis saat mendengar pandangan optimis itu. Lekas berjongkok dan mengambil buah kelapa yang tergeletak, pemuda itu mulai mengupasnya dengan tangan kosong sembari lanjut menyampaikan, “Untuk sisa-sisa bangsa yang pernah berhadapan dengan Helena, kau yakin tidak menyadari hal itu? Kelemahan dan kengerian bedebah itu ….”


“Bukannya engkau sudah menyebutkan kelemahannya? Kemahakuasaan punya batasan tertentu seperti wadah, karena itulah dia hanya bisa menggunakan sebagian kekuatannya.”


Leviathan kembali terlihat bingung. Berusaha memahami dan memikirkan kembali maksud perkataan Odo, perempuan rambut perak keabu-abuan tersebut tetap tidak bisa menerka. Sepenuhnya hanya menerima penjelasan pemuda itu sebagai kesempatan, tidak menyadari kejanggalan yang ada dari informasi yang disampaikan.


“Pahamilah bahwa itu adalah kengerian. Tidak memiliki bentuk tetap juga dapat diartikan bisa berubah-ubah, dengan kata lain berkembang menjadi hal yang lebih menyusahkan dan menakutkan ….” Odo berhenti mengupas kelapa, jarinya sedikit berdarah karena melakukan hal bodoh untuk mengalihkan fokus pikiran. Sejenak menghela napas dan membuang kelapa ke atas pasir, pemuda itu dengan nada resah lanjut menjelaskan, “Setelah Helena menggunakan kekuatannya, bukankah dia harus hibernasi dalam waktu yang sangat panjang? Kembali menuju Kayangan, lalu tidur pada suatu tempat di dekat Arsh.”


“Ah!” Leviathan baru mengingat sesuatu yang sangat penting. “Kalau tidak salah, ada beberapa catatan tentang hal semacam itu! Jujur isinya tidak jelas karena berbentuk fabel, namun dikatakan bahwa Dewi itu menarik diri dari Dunia atau semacamnya. Hmm! Kalau tidak salah meninggalkan dunia setelah menata ulang semesta, lalu beristirahat dan memilih untuk mengawasi? Entahlah! Diriku tidak terlalu ingat dongeng konyol itu!”


“Ya, kemungkinan besar menarik diri itu maksudnya hibernasi.” Odo mengangguk. Sedikit menaikkan wajah dan menatap lurus lawan bicara, pemuda rambut hitam itu dengan senyum kecut lanjut menjelaskan, “Selama ini dia sudah berkali-kali menggunakan Kemahakuasaan, ada kemungkinan wadahnya sudah mulai retak. Bisa saja itu sudah rusak setelah menata ulang Dunia Astral, lalu hancur sehingga dia pergi tanpa melakukan apa-apa kepadaku. Tetapi mengingat kepribadiannya, aku rasa Helena sudah membuat cadangan yang lain untuk wadah berikutnya.”

__ADS_1


“Sepertinya ... engkau sangat kenal dengan sifat Dewi bedebah itu, ya?”


__ADS_2