Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[98] Angelus III – Grey Duty (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


“Dimanfaatkan untuk kepentingan mereka, ya?” Odo perlahan menyeringai gelap, merasa sedikit muak saat membayangkan Ayahnya sendiri dianggap sebagai kuda pacu dalam taruhan orang-orang seperti itu. Tidak menahan diri lagi, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan tegas berkata, “Jika memang mereka ingin memanfaatkan Keluarga Luke, akan aku manfaatkan mereka terlebih dulu! Apa Bunda terima jika Ayah diperlakukan seperti itu oleh mereka?!”


 


 


“Tentu saja tidak terima! Memangnya siapa yang sudi saat melihat suami diperas seperti itu oleh orang-orang tak tahu diri?”


 


 


Mavis semakin muram. Rasa cemas dengan cepat beralih kepada Dart yang sekarang ini sedang mempersiapkan peperangan, membuat hati yang sebelumnya sempat tenang kembali goyah.


 


 


Ia menatap lurus Odo, memperlihatkan wajah seakan ingin memohon kepada Putranya untuk tidak ikut campur dalam peperangan. Dalam benak tidak ingin sang anak juga berakhir seperti Dart, terjerat masalah bangsawan dan diharuskan untuk selalu berperang.


 


 


“Namun, Putraku ….  Baik Bunda ataupun Ayahmu, kami berdua melakukan ini hanya karena kewajiban.” Dengan nada yang terdengar pasrah, wanita rambut pirang tersebut mulai berkaca-kaca. Ia menatap sendu Putranya, lalu dengan penuh rasa cemas menyampaikan, “Tolong pahami ini baik-baik. Tidak ada dari kami yang ingin terjun ke medan perang ataupun membunuh banyak orang. Meski lingkungan selalu memberikan dorongan dan bahkan paksaan, dalam hati kami sudah tidak memiliki alasan untuk melakukan hal tersebut. Bahkan, dari dulu kami berdua tidak pernah benar-benar punya alasan kuat untuk berperang.”


 


 


Odo menangkap maksud yang tersirat dalam perkataan tersebut, seakan telah memahami perasaan sang Ibu secara penuh.


 


 


“Kami tidak punya alasan untuk ikut serta dalam peperangan, lantas mengapa kamu sukarela ingin terjun ke dalam pertumpahan darah tersebut?” itulah pertanyaan yang tidak keluar dari mulut Mavis. Terpendam dalam benaknya, lalu menjadi sakit dalam dada.


 


 


“Bunda, aku punya alasan tersendiri untuk ikut campur dalam perang.”


 


 


Odo sejenak memejamkan mata, lalu menarik napas dalam-dalam. Mengingat-ingat kembali semua hal yang ingin dilindungi, pemuda rambut hitam tersebut perlahan melebarkan senyum. Seakan telah membulatkan kembali keputusan yang telah diambil.


 


 


Tujuan sebenarnya adalah sebuah penebusan, untuk memperbaiki dunia supaya kembali ke bentuk semestinya. Namun, di sisi lain rasa ingin melindungi lebih besar dari penyesalan yang terbawa dari Dunia Sebelumnya.


 


 


“Apapun alasannya, tidak ada yang bisa membenarkan untuk menumpahkan darah.” Mavis menatap tajam dan dengan kukuh melarang. Berhenti memilih kalimat untuk menjaga perasaan Putranya, ia secara frontal kembali berkata, “Pembunuhan adalah sebuah dosa, tetapi jika dalam perang itu akan dianggap sebuah prestasi. Bagi Bunda, cara pandangan tersebut sangatlah salah dan rusak. Membunuh adalah salah dan itu tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya.”


 


 


“Itu memang benar ….” Odo menerima pernyataan tersebut. Namun tidak mundur dari cara pandangannya sendiri, pemuda itu dengan tegas menyampaikan, “Tetapi, ada kalanya membunuh diperlukan. Ketika hak ditindas, nyawa terancam, dan sesuatu yang berharga direbut oleh orang lain, sudah semestinya kita harus melawan. Itu adalah hakikat kita sebagai makhluk hidup.”


 


 


Mavis bukanlah wanita yang naif, ia juga sangat memahami hal tersebut dengan sangat baik. Namun, tetap saja wanita rambut pirang tersebut ingin meyakinkan Putranya untuk berhenti. Takut kehilangan Odo, merasa jika itu terjadi dirinya akan rusak sepenuhnya.


 


 


Dalam benak Mavis memutuskan, akan melarang Odo meski harus memaksa dan memohon kepada Putranya tersebut. Tetapi saat mengangkat wajah dan menatap langsung mata pemuda rambut hitam itu, tekadnya dengan cepat hilang.


 


 


Penuh keyakinan, itulah yang terpancar pada sorot mata Odo Luke. Telah memutuskan sesuatu dengan kukuh, begitu kuat dan tidak akan goyah hanya dengan kata-kata. Merasa bahwa anak semata wayangnya selalu seperti itu setelah mengambil keputusan, Mavis hanya tersenyum pasrah.


 


 


“Meski Bunda melarang, sepertinya kamu tidak akan menurut, bukan? Entah mengapa kamu dari dulu selalu seperti itu.”


 


 


“Tolong maafkan Putramu yang keras kepala ini, Bunda ….”


 


 


Mavis Luke menghela napas panjang, lalu memperlihatkan ekspresi serius. Sembari menatap sayu Putranya, wanita rambut pirang tersebut bertanya, “Jika memang hal tersebut sudah telanjur, boleh Bunda tahu alasan kamu kali ini?”


 


 


“Jawabannya mirip seperti apa yang Ayah dan Bunda rasakan ….” Odo melebarkan senyum tipis. Sembari sedikit memiringkan kepala, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan jelas menjawab, “Aku melakukan ini untuk melindungi sesuatu yang ada di tanganku sekarang. Untuk diriku sendiri, supaya tidak menyesal di kemudian hari.”


.


.


.


.


 


 


Sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hati ⸻


 


 


Terkadang orang-orang mencari hal tersebut di luar. Membuka perasaan lebar-lebar, lalu mendekati orang lain dan tanpa sadar bisa membuat diri sendiri tersakiti.


 


 


Rasa takut akan kehilangan, memaksakan diri kepada orang lain dan bahkan sampai memohon. Pada akhirnya, orang-orang seperti itu tidak akan pernah bisa menyadarinya. Bahwa sesuatu yang bisa mengisi kekosongan hati ada dalam diri mereka sendiri.


 


 


Sesungguhnya kebahagiaan bukanlah sesuatu yang diberikan, namun hal yang harus dicapai. Layaknya mimpi, setiap makhluk hidup berhak untuk berusaha dalam mendapatkannya. Entah bagaimana hasil akhir yang akan diraih, setiap orang memiliki bentuk kebahagiaan mereka masing-masing.


 


 


Sebab itulah, Vil Qordelia memilih kebahagiaannya sendiri. Meski merupakan sosok Roh Agung dan penguasa Laut Utara Dunia Astral, ia memutuskan untuk membuang itu semua dan naik ke permukaan.


 


 


Menelantarkan kewajiban. Meski harus hidup dengan penyesalan, Roh Agung tersebut tetap berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan.


 


 


Dahulu ia membuang sirip untuk bisa mendapatkan kedua kaki dan naik ke daratan. Sebuah bentuk impian sekaligus kebahagiaannya untuk bisa pergi ke Dunia Nyata. Setelah hal tersebut tercapai, dirinya malah seakan masuk ke dalam kolam lain. Terkurung dalam perpustakaan sihir untuk mempertahankan keberadaannya sebagai makhluk Dunia Astral.


 


 


Namun, apa yang ada padanya sekarang berbeda dengan saat itu. Meski seharusnya kebahagiaan dan impian sudah tercapai, rasa ingin mendapatkan lagi selalu muncul seakan tidak ada habis-habisnya.


 


 


Layaknya batu pada aliran sungai, keputusan yang dibuat dalam benak perlahan-lahan rusak karena perasaan yang mengalir deras.

__ADS_1


 


 


Odo Luke, ialah pemuda yang membuat sang Roh Agung melanggar janjinya sendiri untuk merasa cukup. Waktu yang dilalui bersama membuatnya merasa tak ingin berpisah, kalimat yang diberikan dan diterima membuat dirinya seakan bisa saling memahami, dan sentuhan yang ada membuatnya bisa mengerti arti dari sebuah kehangatan.


 


 


Beberapa menit setelah Mavis dan Fiola meninggalkan Luke Scientia, sang Roh Agung yang sedari tadi bersembunyi di lantai dua perpustakaan akhirnya keluar. Ia melayang dengan sihirnya, lalu turun ke lantai satu dengan beberapa roh tingkat rendah yang mengikuti.


 


 


Penampilan khas Kerajaan Ungea, sebuah pakaian berkesan Arabic yang biasa dikenakan dalam tari perut. Itulah yang dikenakan oleh Vil. Terdiri antara atasan dan bawahan, lalu pada bagian perut terbuka lebar dan membuat pusar terlihat jelas.


 


 


Atasan berupa baju ketat seperti kaus yang terbuka pada bagian dada, memiliki renda berjumbai, dan lengan yang pendek. Sedangkan untuk bawahannya adalah celana longgar, sedikit terbuka pada sekitar pinggang dan panjang sampai atas mata kaki.


 


 


Warna putih menjadi dominan dalam pakaian tersebut, bersanding dengan rambut biru laut sang Roh Agung. Pada kedua ujung lengan pakaian dan celana longgar, terdapat cincin logam keemasan untuk mengencangkan kain serta aksen tambahan.


 


 


Layaknya para perempuan dari Negeri Padang pasir, Vil juga mengenakan cadar untuk menutupi wajah. Transparan putih dengan tali kain berwarna keemasan, hanya samar-samar menyembunyikan rupa cantik sang Roh Agung.


 


 


Kaki tanpa alas menapak ke permukaan lantai keramik. Untuk sesaat, pakaian berjumbai yang dikenakan bergelombang dengan indah. Perhiasan seperti kalung dan gelang yang dikenakan mengeluarkan suara, membuat irama tersendiri dalam tempat sunyi tersebut.


 


 


Odo seketika terkesima dengan keindahan sang Roh Agung. Meski bukan pertama kali melihat Vil berpenampilan seperti itu, namun tetap saja sesuatu yang indah selalu membuatnya kagum. Tanpa sadar, pemuda rambut hitam itu membuka kedua mata lebar-lebar. Terdiam membisu pada tempat duduk.


 


 


“Kenapa engkau memasang wajah seperti itu, Odo?” Senyum manis Vil terlihat jelas di balik cadar yang dikenakan. Roh Agung rambu biru laut tersebut melangkah halus, membuat suara perhiasan terdengar layaknya instrumen. Saat sampai di depan meja tempat Odo duduk, ia dengan senyum lepas kembali berkata, “Bengong begitu tidak baik, loh.”


 


 


“Dilihat berapa kali pun, kau memang selalu cantik ….”


 


 


Sanjungan tersebut keluar dengan sendirinya dari mulut Odo, membuat wajah Vil seketika memerah layaknya buah delima.


 


 


Tanpa pikir panjang sang Roh Agung mengambil satu langkah ke belakang dan berbaling. Diam gemetar, bukan karena takut namun senang yang tidak bisa terbendung. Layaknya seorang gadis yang sedang kasmaran, benaknya benar-benar dipenuhi rasa bahagia.


 


 


“Te-Terus saja menggoda,” ujar sang Roh Agung dengan sedikit gelagapan. Ia menatap dengan wajah merona, lalu sedikit memonyongkan bibir dengan jengkel.


 


 


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya ….” Odo tersenyum tipis melihat ekspresi seperti itu. Menarik napas dalam-dalam dan berusaha berhenti terkesima, pemuda rambut hitam tersebut membalas, “Kecantikan Roh Agung memang berbeda. Kalau terbiasa dengan keindahan yang kau miliki, bisa-bisa diriku takkan mampu jatuh cinta kepada perempuan lain.”


 


 


Wajah Vil semakin memerah. Meski seharusnya memiliki struktur tubuh yang berbeda dengan makhluk mortal, dengan jelas ia merona. Seakan-akan darah naik ke kepala dan membuat sang Roh Agung tidak bisa berpikir dengan jernih.


 


 


 


 


Odo malah tersenyum dan hampir tertawa, seakan menikmati ekspresi Vil yang malu-malu. Setelah menarik napas ringan untuk menenangkan diri, pemuda rambut hitam tersebut menyangga kepala dan berkata, “Maaf, tadi hanya bercanda. Silahkan duduk dulu sebentar, aku jauh-jauh kembali ke sini untuk membicarakan sesuatu yang penting.”


 


 


Dari geram, ekspresi Vil seketika berubah menjadi sangat kesal. Merasa sedang dipermainkan dan segera menghentakkan kaki ke lantai. Meski begitu, ia tetap berjalan mendekat dan menarik kursi untuk duduk pada meja yang sama dengan Odo.


 


 


“Diriku sudah dengar pembicaraan kalian! Itu tentang melibatkan diriku ke dalam peperangan para Mortal, bukan?!” tanya Vil ketus.


 


 


“Bukan, kok ….” Odo membantah dengan cepat.


 


 


Tentu saja itu membuat sang Roh Agung terkejut, kedua mata terbuka lebar dan langsung kehabisan kata-kata untuk menggerutu. Ingin memarahi dan membuka mulut, ia seketika terhenti setelah menyadari sesuatu.


 


 


“Apa …. engkau punya tujuan lain mengajak diriku ke Rockfield?” tanya Vil memastikan.


 


 


“Tepat!” Odo mengangguk sekali. Berhenti menyangga kepala, pemuda rambut hitam tersebut mengacungkan telunjuk ke depan dan menyampaikan, “Membawa kau ke peperangan hanya semacam bonus. Tujuanku ada di tempat lain.”


 


 


Vil seketika memasang wajah sedikit muram. Seraya memalingkan pandangan ke sudut ruang dan menghela napas ringan, Roh Agung tersebut memastikan, “Berarti engkau membohongi Mavis lagi, ya? Dasar anak durhaka.”


 


 


“Kejamnya. Aku ini tergolong anak yang berbakti, loh.” Odo sedikit mengerutkan kening. Berusaha untuk meluruskan kesalahpahaman, Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Itu tidak bohong soal aku ingin membawamu ke peperangan. Hanya saja, sebelum itu ada sesuatu yang ingin aku minta darimu.”


 


 


“Hmm ….” Vil menatap datar, memperlihatkan ekspresi tidak nyaman dan berkata, “Entah mengapa diriku merasakan hal yang tidak menyenangkan.”


 


 


“Permintaan ini hanya untukmu yang merupakan sosok Roh Agung.” Odo bangun dari tempat duduk. Sedikit menundukkan kepala untuk menunjukkan rasa hormat, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas meminta, “Tolong bantu aku menaklukan Leviathan!”


 


 


Vil benar-benar dibuat terkejut. Itu memang bukan pertama kalinya sang Roh Agung mendengar topik tersebut, beberapa waktu lalu Odo pernah membahasnya dan menyampaikan niat untuk mengalahkan sang Serpent Pengakhir Peradaban.


 


 


Namun, dalam pemilihan waktu itu benar-benar membuat Vil terkejut. Dari sekian banyak momen yang ada, ia bertanya-tanya mengapa Odo ingin melawan Leviathan ketika masih ada masalah lain yang harus diselesaikan.


 


 


“Diriku adalah Roh yang menjalin kontrak dengan engkau. Jika memang Odo berharap ingin mengalahkan sang Serpent, dengan senang hati Roh Agung ini membantu. Namun ….”

__ADS_1


 


 


Vil menatap penuh rasa cemas, merasa pemuda di hadapannya sedang terburu-buru. Mengambil keputusan dalam desakan waktu, tanpa mempersiapkan rencana yang matang sebelum melakukan penaklukan.


 


 


Menyadari tatapan tersebut, Odo Luke mengangkat wajah dan menatap tenang. Telah membulatkan tekad untuk melakukan penaklukan dalam waktu dekat, pemuda itu dengan tegas menyampaikan, “Ini bukan berarti aku sedang terdesak. Aku sudah memperhitungkan waktunya dengan baik-baik. Untuk persiapan sendiri, ada dua orang lagi yang akan kita ajak ke Dunia Astral untuk membantu.”


 


 


“Memangnya kapan kamu akan pergi?” Vil menatap sangat cemas. Semua perasaan positif yang sebelumnya memenuhi benak seketika sirna, digantikan rasa cemas yang dengan kuat menyelimuti benak. Tanpa bisa memikirkan cara yang lebih baik, Roh Agung tersebut hanya bisa meragukan, “Apa mereka yang engkau ajak benar-benar bisa diandalkan? Atau hanya akan menjadi pelengkap saja untuk meyakinkan diriku ikut?”


 


 


Odo tidak bisa segera menjawab, paham bahwa Vil sepenuhnya merasa cemas dengan keputusan yang tiba-tiba diambil. Meraih kedua tangan sang Roh Agung, pemuda rambut hitam tersebut meyakinkan, “Percayalah padaku. Meski kita tidak bisa menang, namun penaklukan kali ini bisa menjadi tolak ukur kekuatan Leviathan. Kita bisa mencobanya lagi lain kali ….”


 


 


Cara bicara Odo seakan tidak masalah jika kali ini gagal. Itu memang terdengar sedikit melegakan karena pemuda itu tidak memaksakan diri untuk menang. Namun, tetap saja Vil tidak bisa senang mengingat siapa yang akan dilawan dalam penaklukan.


 


 


“Berbeda dengan Naga Hitam yang dikuasai kutukan, Leviathan memiliki sisa kesadaran layaknya seekor Naga Agung. Serpent itu mengingat setiap makhluk yang pernah membuat masalah dengannya. Jika kali ini gagal, dia mungkin akan terus ingat pernah diserang oleh engkau. Saat diserang kembali di kemudian hari, Serpent itu pasti akan bersungguh-sungguh dari awal dan mungkin penaklukan selanjutnya akan lebih berat.”


 


 


Penjelasan tersebut cukup membantu Odo, terutama di tengah minimnya informasi terkini tentang Leviathan. Ia memang tahu beberapa hal tentang Serpent Laut tersebut dari Seliari. Namun, itu hanya sebatas apa yang Putri Naga ketahui tentang adiknya pada ribuan tahun yang lalu.


 


 


“Ini menjadi sedikit lebih mudah ….” Odo meletakkan siku ke atas meja dan menyangga kepala. Sedikit memalingkan pandangan, ia dengan nada yakin bergumam, “Jika memang kutukan Leviathan lebih lemah, berarti rencana bisa langsung loncat ke fase ketiga atau meringankan dua fase sebelumnya.”


 


 


“Fase ketiga?” tanya Vil dengan bingung. Sebab ia sendiri tidak pernah mendengar fase-fase yang dimaksud.


 


 


“Ah, maaf. Aku lupa menjelaskannya.” Odo berhenti menyangga kepala dan duduk dengan tegak. Sembari melebarkan senyum tipis, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Kita akan melakukan empat fase untuk mengalahkan Leviathan. Fase pertama adalah mengenal tingkat kekuatan Serpent itu, dengan menyerang secara besar-besaran sampai batasnya terlihat. Untuk fase kedua, kita akan berusaha melumpuhkan. Kalaupun tidak bisa, sampai pada tingkat melemahkan saja tak masalah”


 


 


“Lantas, untuk fase ketiga yang engkau katakan tadi?” tanya Vil cemas.


 


 


“Fase ketika adalah mengakses langsung ke dalam kesadaran Leviathan.” Odo menyeringai lebar. Sembari menunjuk lurus ke arah Vil, pemuda rambut hitam tersebut dengan tegas menyampaikan, “Di dalam diriku ada Jiwa Naga Hitam, kakak dari Serpent Laut itu. Jika mereka melakukan kontak, ada kemungkinan Leviathan tersadar dari kutukan. Jika kutukan pada Leviathan benar-benar melemah, kemungkinan berhasil akan meningkat drastis.”


 


 


“Bukankah itu … malah tidak menjadi sebuah penaklukan? Menaklukan itu artinya mengalahkan, bukan?” tanya Vil bingung.


 


 


“Dari awal aku ingin melawan Leviathan bukan untuk membunuhnya.” Odo berhenti menunjuk. Sekilas mengangkat kedua sisi pundak, ia dengan nada sedikit resah berkata, “Aku hanya ingin mendapatkan Sihir Khusus Serpent Laut itu. Di sisi lain, Naga Hitam juga ingin membelaskan Jiwa adiknya. Aku tidak punya alasan untuk membunuh Serpent itu.”


 


 


Vil bisa menerima logika tersebut, meski masih ada rasa tidak percaya terhadap Naga Hitam yang ada di dalam Alam Jiwa milik Odo. Meninjau baik-baik, Vil merasa rencana tersebut secara garis besar sangat bergantung kepada sang Naga Hitam.


 


 


Benar-benar membuatnya cemas. Takut jika sosok Naga Agung di dalam diri Odo akan berkhianat di tengah rencana.


 


 


Sebagai Roh membuat kontrak dengan pemuda itu, Vil berusaha untuk tidak meragukan keputusan yang telah Odo ambil. Menelan bulat-bulat keraguan, lalu ia melanjutkan pembicaraan dengan bertanya, “Sebelumnya engkau bilang ada empat fase, bukan? Untuk yang terakhir, apa yang akan kita lakukan di fase tersebut?”


 


 


“Pemindahan dan penyatuan,” jawab Odo singkat. Sembari menatap tajam ke arah lawan bicara, ia dengan tegas menjelaskan, “Menggunakan jasad Leviathan, aku akan menciptakan wadah untuk mereka. Memindahkan Jiwa Naga Hitam bersama Serpent itu, lalu menghidupkan mereka kembali dalam satu tubuh.”


 


 


Apa yang Odo katakan benar-benar tidak masuk akal. Namun, di telinga Vil itu terdengar seakan hal tersebut sangat mungkin untuk dilakukan. Sebab itulah, pada saat yang sama sang Roh Agung merasa pemuda itu sedang ingin melakukan hal tabu.


 


 


Melewati dari garis yang boleh dilakukan oleh makhluk, layaknya apa yang Roh Agung tersebut lakukan di masa lalu.


 


 


“Apa engkau bermaksud menjadi seorang Dewa? Dengan menciptakan makhluk sendiri?”


 


 


Pertanyaan tersebut keluar dari mulut Vil dengan kasar. Dipenuhi rasa cemas, tidak suka karena takut atas karma yang mungkin akan jatuh dari langit jika melanggar batasan seorang makhluk.


 


 


Namun seakan tidak mengindahkan kecemasan tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke melebarkan senyum tipis. Ia mengangkat telunjuk dan meletakkannya ke tengah kening. Menatap dalam diam, seakan menunjukkan bahwa dirinya lah yang pantas untuk disebut Dewa.


 


 


“Sekali lagi aku akan katakan ini, percayalah padaku. Daripada kau takut kepada para pembohong di atas sana, yakin lah pada keputusan yang diriku ambil. Bukankah itu alasan kau mau menjalin kontrak denganku, Vil?”


 


 


Apa yang Odo ucapkan memiliki kesan yang sangat berbeda dari sebelumnya, Vil merasakan itu dengan jelas. Kedua mata Roh Agung terbuka lebar, terkesima sekaligus merasa sangat takut atas keputusan yang telah pemuda itu buat.


 


 


“Diriku masih sangat ragu sekaligus takut. Entah apa yang akan menjadi bayaran saat laknat dari langit turun. Namun ….” Meski hati masih merasa cemas dan takut, Vil memutuskan untuk berhenti ragu dan menjawab, “Jika memang itu yang Odo inginkan, diriku akan membantu.”


 


 


Jawaban tersebut sedikit membuat Odo tersenyum, merasa lega karena berhasil meyakinkan Vil. Tetapi, perkataan Roh Agung tersebut kembali mengingatkannya dengan potensi ancaman lain. Terutama pergerakan Dewi Penata Ulang yang mungkin bisa saja melakukan secara frontal, dengan cara menggunakan orang-orang dari Kerajaan Moloia.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2