Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[99] Angelus IV – Magenta Warmth (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Setiap saat pasti ada seseorang yang meninggal. Entah itu orang baik, jahat, dermawan, serakah, penakut, pemberani, atau bahkan mereka yang bijak sekalipun. Setiap waktu, pada suatu tempat di berbagai sudut dunia, mereka meregang nyawa dengan alasan masing-masing.


 


 


Karena dibunuh, penyakit, usia, kecelakaan, wabah, peperangan, tenggelam, dan masih banyak lagi. Apapun penyebabnya, prinsip kematian selalu melekat pada mereka yang hidup. Layaknya sebuah koin dengan dua sisi yang berbeda.


 


 


Sebab itu⸻


 


 


Menyelamatkan dan menolong secara logika adalah hal yang sia-sia. Ketika seseorang mengulurkan tangan dan berhasil menyelamatkan yang lain, tidak ada jaminan bahwa orang tersebut akan selamat juga esoknya.


 


 


Karana itulah, apa yang bisa diselamatkan pada dasarnya adalah waktu mereka. Bukan raga, perasaan, pemikiran, atau bahkan harta yang mereka miliki. Ketika waktunya tiba, setiap orang akan melepaskan semua itu dan hanya akan membawa waktu yang telah berlalu.


 


 


Pada akhir hayat, beberapa orang dalam benak pasti akan berpikir, “Apa saja yang telah diriku lakukan selama muda? Apakah semua itu pantas dengan akhir ini?”


 


 


Setiap makhluk hidup memiliki akhir mereka sendiri. Entah itu memuaskan atau tidak, hal tersebut hanya mereka saja yang bisa menilainya. Hidup setiap orang dasarnya adalah milik mereka sendiri, meski beberapa ada juga yang tidak berpikir demikian.


 


 


Sebab itu, menolong dan ditolong pada dasarnya hanyalah keegoisan masing-masing. Sebuah pemuas untuk kehendak setiap individu yang menjalani kehidupan.


 


 


Mereka menerima pertolongan karena sedang membutuhkan, bahkan ada yang sampai meminta dan memohon. Membuang harga diri untuk menunggu kebaikan orang lain.


 


 


Di sisi lain, pemberi akan merasa lebih kuat dan hebat ketika melakukan kebaikan. Menyisihkan harta, waktu, dan tenaga untuk membantu, lalu apa yang diperoleh adalah sanjungan dan rasa paus dalam benak.


 


 


Meski di permukaan tidak ada yang mengungkapkan hal tersebut secara jelas, pada dasarnya itulah konsep kerja tolong-menolong. Namun, tentu saja tidak ada satu pun yang akan melakukan hal tersebut jika melihatnya tanpa kulit.


 


 


Karena itulah, sebuah etika diterapkan dalam proses tolong-menolong. Untuk memberikan batasan antara merendahkan dan memberikan bantuan, lalu membuatnya bekerja secara rapi dalam masyarakat.


 


 


Putri Tunggal Keluarga Mylta, Lisiathus, memahami hal tersebut dengan sangat jelas. Bahwa pertolongan adalah sebuah hutang budi, lalu kelak harus dibayar dengan harga yang setara seiring berjalannya waktu.


 


 


Namun, tetap saja perempuan rambut merah itu tetap tidak bisa memahami kebaikan yang Odo berikan. Untuk disebut hutang budi hal tersebut terlalu besar. Untuk digolongkan sebagai sebuah hinaan, pertolongan yang diberikan terlalu halus dan lembut.


 


 


Meski pikiran tahu beban hutan budi yang ada, namun hati tidak merasa berat atau enggan untuk terus menerima pertolongan tersebut. Layaknya sebuah aroma yang membawa rasa nyaman dan kecanduan, ditolong oleh Putra Tunggal Keluarga Luke sudah menjadi hal yang biasa baginya.


 


 


Sekarang⸻


 


 


Bahkan untuk saat ini pun, Lisia tanpa enggan menerima kebaikan yang diberikan oleh Odo. Memanfaatkan situasi yang sudah pemuda itu buat di Kota Pegunungan, lalu memakainya dengan tanpa ragu. Seakan-akan hal tersebut adalah jubah yang memang sudah disiapkan hanya untuknya.


 


 


Di dalam ruang ramu Kediaman Keluarga Stein, pembicaraan tentang kerja sama dagang berlangsung intensif bersama sang Walikota Rockfield. Meninjau ulang hasil pertemuan sebelumnya, lalu membalas lagi perjanjian secara rinci.


 


 


Kesan halus benar-benar terasa dalam pembicaraan, seakan-akan memang pertemuan tersebut telah diatur oleh orang yang tidak ada di tempat itu. Saling meninjau, lalu mencari jalan keluar bersama tanpa sedikitpun perselisihan pendapat dalam isi kerja sama.


 


 


Kepala Keluarga Mylta, Agro, dengan tanpa ragu berbicara secara terbuka. Memberitahu bahwa sekarang Aliansi Samudera Majal sedang berada di Kota Pesisir, lalu juga menyampaikan tujuan mereka tentang ekspor tambang.


 


 


Membeberkan keuntungan yang mungkin bisa didapat, beserta potensi-potensi kerugian dalam kerja sama yang ditawarkan. Lingkup transaksi yang ingin dibuka, lalu apa saja pokok incaran dalam proposal kerja sama yang kemarin telah disetujui oleh Wakil Walikota.


 


 


Di sisi lain, Kepala Keluarga Stein membahas hal tersebut dengan kepala dingin. Menunjukkan kesan ramah layaknya orang berbeda, Oma benar-benar mempertimbangkan semuanya secara setara untuk kedua belah pihak. Baik itu keuntungan, risiko kerugian, lalu jaminan atas kontrak dagang yang terjalin.


 


 


Secara garis besar, kontrak hanyalah berisi perjanjian monopoli bersama harga pasar hasil tambang. Sebagai ganti memberikan akses bagi pedagang Aliansi Samudera Majal, pemerintah Mylta meminta komisi dalam setiap transaksi yang berlangsung.


 


 


Ketika hasil tambang dari Kota Rockfield dibawa masuk ke Kota Pesisir dan sampai di pelabuhan, biaya pajak akan diterapkan secara menyeluruh sebagai syarat ekspor barang. Dengan kata lain, komisi yang dimaksud adalah pajak khusus hasil tambang yang ditetapkan oleh Pemerintah Mylta.


 


 


Dalam pembuatan kebijakan pajak, tentu saja pemerintah Rockfield memiliki hak untuk tahu hal tersebut. Terutama jika itu berkaitan dengan hasil tambang yang mereka jual. Untuk mencegah kesalahpahaman, lalu menjaga hak masing-masing Pemerintah Kota dalam kegiatan perekonomian.


 


 


Meski di akhir nanti hasil tambang akan naik dari harga normal, dalam kerja sama tersebut yang dibebani adalah pihak pedagang luar negeri dan konsumen mereka di Negeri Padang Pasir. Bukan pemerintah Mylta, Rockfield, ataupun konsumen hasil tambang di kedua Kota tersebut.


 


 


“Dalam kerja sama ini, kita bisa mencegah para pedagang dari Aliansi Samudera Majal menguasai pasar. Harga bisa dinaikkan ketika permintaan atas barang meningkat, sehingga kita tidak rugi ketika mereka ingin memborong,” ujar Argo seraya menunjuk perkamen di atas meja.


 


 


Di bawah paparan sinar lampu kristal yang menyala di siang hari, pria rambut merah gelap tersebut menatap tajam dan menambahkan, “Di sisi lain, kita juga mendapatkan kontrol terhadap jumlah berang dengan manipulasi harga tersebut. Tentu itu mencegah mereka melakukan pemborongan dalam skala merugikan Wilayah Luke.”


 


 


“Ini sangat menarik. Dalam kondisi seperti itu, kalian bisa dengan bebas menaikkan pajak tambang ketika para pedagang ingin mengekspor dalam jumlah banyak. Tetapi ….” Oma Stein menarik napas dalam-dalam. Sekilas melihat ke arah kanan ruang tamu depan, Kepala Keluarga Stein sedikit meragukan, “Apa daya beli mereka memang tinggi? Anda tahu hasil tambang berbeda dengan pangan, bukan?”


 


 


Pembicaraan untuk sesaat terhenti. Kedua pria dengan pakaian pejabat Kerajaan Felixia tersebut saling menatap, sama-sama cemas terhadap risiko dagang yang ada.


 


 


Saat kebijakan pajak tambang diterapkan, tidak kecil kemungkinan para pedagang dari Kerajaan Ungea akan kabur. Menelantarkan kerja sama karena dinilai akan merugikan.


 


 


Namun, itu bukan berarti Oma dan Argo bisa memberikan kelonggaran dalam hal mendapatkan keuntungan. Bagi kedua pria yang berpengalaman memimpin itu, mereka paham bahwa hasil tambang bukanlah sesuatu yang bisa digunakan sebagai pemasukan jangka panjang.


 


 


Di dalam jeda pembicaraan tersebut, Lisiathus Mylta mengangkat wajahnya. Ia menatap ke depan, melihat perempuan rambut biru pudar yang duduk di sebelah Kepala Keluarga Stein.


 


 


Dalam benak, Lisia langsung merasa seperti senasib dengan perempuan tersebut. Diajak oleh orang tua dalam pembicaraan penting, namun hanya berakhir sebagai pajangan. Tanpa punya kesempatan bicara, hanya sebagai pelengkap layaknya anak perempuan dari keluarga bangsawan pada umumnya.

__ADS_1


 


 


Menyadari tatapan Putri Tunggal Keluarga Mylta, Ri’aima berusaha membalas dengan melemparkan senyum ramah. Namun, karena rasa canggung senyumannya malah tampak seperti ekspresi terganggu. Alis sedikit turun, lalu kening agak mengerut.


 


 


Lisia tidak memedulikan sikap ramah yang ingin disampaikan Ri’aima. Hanya menatap lurus, ia dalam benak bertanya-tanya penuh rasa penasaran.


 


 


Baik tentang apa saja yang telah Ri’aima lakukan bersama Odo, atau bahkan cara pandang perempuan rambut biru pudar tersebut. Lisia merasa sangat ingin mengetahuinya.


 


 


Bukan karena rasa cemburu atau semacamnya, namun Lisia murni penasaran karena merasa senasib. Setelah menghela napas ringan, Putri Tunggal Keluarga Mylta dalam benak berkata, “Harus mengurus pemerintahan sebelum siap, dibebani oleh berbagai permasalahan kota, lalu pada akhirnya ditolong oleh Tuan Odo. Bahkan, katanya Tuan Oma juga sempat sakit disembuhkan sembuhkan oleh beliau. Rasanya ini ….”


 


 


Sangat mirip, itulah yang Lisia rasakan. Selain jangka waktu yang lebih singkat, semua hal yang telah dilalui oleh Ri’aima memang sangat mirip dengannya. Baik tentang ditolong Odo ataupun permasalahan-permasalahan yang telah dihadapi, hal tersebut seakan menumbuhkan rasa empati.


 


 


Merasakannya semakin dalam dan dalam, Lisia pada akhirnya berpikir bahwa bisa saja Ri’aima juga sudah jatuh dalam ketergantungan. Baik itu tentang kebaikan yang Odo berikan, atau bahkan beban dari hutang budi yang terus menumpuk.


 


 


Saat Lisia dan Ri’aima hanya saling menatap satu sama lain, pembicaraan antara kedua Kepala Keluarga terus berlangsung dan sampai pada kesimpulan terakhir. Beberapa kali mempertimbangkan risiko yang ada, Argo dan Oma pada akhirnya mengambil keputusan.


 


 


“Diriku tidak terlalu pandai dalam mempertimbangkan bisnis. Sebab itu, dalam hal ini saya akan percaya pada kebijakan yang Tuan Argo ajukan,” ujar Oma seraya bersandar pada sofa. Sejenak menarik napas dalam-dalam, Kepala Keluarga Stein menambahkan, “Tidak ada gunanya kita cemas sebelum memulai. Daripada membuang kesempatan, lebih baik kita bertaruh.”


 


 


“Tepat sekali ….” Argo menarik napas lega dengan kesimpulan terakhir. Duduk dengan tegak dan menatap lurus, Kepala Keluarga Mylta tersebut memastikan, “Jika anda percaya, berarti tidak masalah jika saya memegang kendali atas pajaknya, bukan?”


 


 


“Iya, tidak apa-apa. Namun ….” Oma kembali duduk dengan tegak. Menatap tajam dan memberikan tekanan, ia dengan jelas memperingatkan, “Jika Anda mengambil terlalu banyak keuntungan secara sepihak, saya di sini tidak akan ragu menaikkan harga hasil tambang. Meski itu berarti membuat para pedagang dari Kerajaan Ungea itu pergi.”


 


 


“Saya paham, Tuan Oma ….” Argo Mylta mengangguk tegas. Seraya melempar senyum puas atas hasil pembicaraan, pria rambut merah gelap tersebut menyampaikan, “Tujuan utama saya mengajukan proposal ini hanya untuk membuka jalur perdagangan, supaya perputaran uang di Wilayah Luke berjalan seperti sediakala. Tuan Oma, saya berharap kota kita kembali ke masa kejayaan masing-masing.”


 


 


Mendengar hal tersebut, Oma untuk sesaat tersentak. Mengingat kembali dosa yang pernah dirinya perbuat di masa lalu, wajah pria tua beruban itu seketika memucat dan napasnya sedikit terengah-engah.


 


 


“Ya …, semoga saja kota kita kembali ke masa kejayaan masing-masing,” ujar Kepala Keluarga Stein dengan gentar.


 


 


Reaksi seperti itu cukup untuk membuat Argo bingung dan penasaran. Namun, ia paham bahwa hal tersebut tidak boleh disinggung dalam kerja sama yang terjalin sehat.


 


 


Memikirkan topik pembicaraan ringan untuk mengganti suasana, pria rambut merah gelap tersebut segera menatap ke arah Ri’aima di sebelah Kepala Keluarga Stein. Mengingat kembali beberapa hal tentang Odo Luke, dirinya langsung menemukan topik pembicaraan untuk dibahas.


 


 


“Ngomong-omong, bukankah Tuan Odo sekarang bertamu di tempat Anda? Kenapa saya dari tadi belum melihat beliau?” tanya Argo dengan nada ringan. Meletakkan tangan kanan dagu dan tersenyum ramah, pria rambut merah gelap tersebut menambahkan, “Sedikit janggal rasanya jika beliau melewatkan pembicaraan penting seperti ini.”


 


 


“Selama di Mylta …, apa Tuan Odo seperti itu?” tanya Oma penasaran. Menatap sedikit resah dan mengerutkan kening, Kepala Keluarga Stein memperjelas, “Ikut campur masalah pemerintahan, baik itu bidang perekonomian ataupun urusan lainnya ….”


 


 


 


 


Argo membuka kedua kelopak mata, lalu meletakan tangan kiri ke leber sebelah kanan. Pada tempat operasi penyakit kista tersebut, bekas luka bakar dengan warna kulit berbeda masih tampak jelas.


 


 


Melihat hal tersebut, Oma pun ingat kembali bahwa Kepala Keluarga Mylta juga menderita penyakit selama tahun kemarin. Merasakan sebuah kemiripan karena sama-sama disembuhkan dan ditolong oleh Odo Luke, itu membuatnya merasakan sebuah empati.


 


 


Namun, dengan cepat pria beruban itu membandingkan. Berbeda dengan dirinya, Argo Mylta bukanlah sosok pemimpin yang buruk atau jahat. Paling tidak, Kepala Keluarga Mylta mendapatkan posisi Walikota dengan cara yang sehat dan tanpa pertumpahan darah.


 


 


Menyadari hal tersebut, Oma merasa bahwa Keluarga Mytla tidak diberikan kekangan oleh Odo Luke. Tanpa ada sebuah intimidasi, memegang kelemahan, atau bahkan ancaman untuk bisa mengendalikan keluarga mereka.


 


 


“Perbedaan perlakuan ini rasanya sangat jelas,” benak Oma dengan sedikit iri.


 


 


Mendengar pembicaraan yang diangkat oleh mereka berdua, perhatian Lisia dengan cepat teralih dan benaknya diisi oleh rasa penasaran. Ia tanga ragu segera menatap ke arah Kepala Keluarga Stein, lalu dengan suara tegas bertanya, “Bicara tentang Tuan Odo Luke, sekarang beliau berada di mana?”


 


 


“Eng?” Oma sedikit terkejut karena tiba-tiba ditanya seperti itu. Memalingkan pandangan dengan bingung, Kepala Keluarga Stein hanya berkata, “Tuan Odo? Beliau sekarang ….”


 


 


Oma mengingat kembali momen sarapan tadi pagi. Tepat setelah Putra Tunggal Keluarga Luke pergi dari ruang makan tanpa penjelasan, suasana menjadi sangat canggung dan hanya terdengar suara alat makan saja. Sampai-sampai membuat semua orang tidak bisa menikmati sarapan yang tersaji.


 


 


“Tuan Odo sedang ada keperluan di tempat lain,” sambung Ri’aima. Perempuan rambut biru pudar tersebut menatap tegas dan tajam, lalu seakan menunjukkan kesan tidak ramah balik bertanya, “Apa Nona Lisiathus ada keperluan dengan Tuan Odo? Jika punya pesan, nanti akan sampaikan kepada beliau.”


 


 


“Tidak usah.” Lisia menarik napas dalam-dalam, lalu balik memberikan tatapan tajam.


 


 


Ini bukan pertama kalinya bagi mereka berdua, baik dalam bertatap mata ataupun bertukar kata dengan nada tidak ramah. Selama kunjungan pemerintah Mylta ke Kota Rockfield tahun kemarin, acara-acara pertemuan bangsawan selama beberapa tahun terakhir, dan bahkan dalam pesta Pertunangan di Keluarga Luke pun kedua perempuan itu sempat berpapasan.


 


 


Namun, untuk beberapa alasan Lisia dan Ri’aima tidak bisa dikatakan akrab. Selain karena dari dulu Rockfield dan Mylta merupakan saingan, kepribadian keduanya memang cukup berlawanan. Meski sebenarnya mereka memiliki kebanggaan yang sama sebagai seoarang anak bangsawan.


 


 


Karena perbedaan tersebut, mereka juga memiliki persepsi yang berbeda atas bantuan yang Odo berikan. Bisa menyadari hal yang tidak sama, lalu merasakan hal yang bisa dikatakan saling bertentangan.


 


 


Lisia menganggap semua bantuan yang diterima adalah sebuah hutang budi, harus dibalas kelak kemudian hari. Di sisi lain, Ri’aima melihat hal tersebut sebagai kemurahan hati, lalu patut untuk dimanfaatkan untuk menghormati sang pemberi.


 


 


“Yakin tidak usah?” Ri’aima sedikit melebarkan senyum tipis. Melipat kedua tangan ke depan dan menatap sedikit sombong, perempuan rambut biru tersebut memastikan, “Bukankah Nona Lisiathus dalam waktu dekat akan kembali? Tidak ada jaminan anda bisa bertemu dengan Tuan Odo lagi dalam waktu dekat, loh.”


 


 


“Maksudnya?” Lisia mulai memperlihatkan ekspresi kesal. Ikut melipat kedua tangan ke depan, ia dengan mimik wajah jengkel memastikan, “Apa Nona Ri’aima ingin bilang kalau Tuan Odo akan ikut peperangan juga? Huh! Jika Lady Mavis tahu, beliau pasti dilarang dan bahkan dijemput pulang!”


 


 


“Saya tidak berbicara soal perang.” Ri’aima memalingkan pandangan. Merasa tidak ingin dipandang rendah oleh lawan bicara, ia dengan nada angkuh menyampaikan, “Saya hanya ingin bilang, Tuan Odo bisa saja akan berada di sini dalam waktu lama. Sepertinya beliau lebih betah di sini karena selalu dijamu, sih.”

__ADS_1


 


 


“Oh, kalau soal itu tenang saja. Beliau sudah lebih lama di Kota Mylta,” ujar Lisia dengan niat bersaing.


 


 


Mendengarkan pembicaraan kedua perempuan itu, Argo dan Oma hanya bisa tertegun. Saling menatap dan mengangkat kedua sisi pundak secara bersamaan, kedua sosok Ayah tersebut merasa bahwa hati anak gadis mereka telah diambil oleh pemuda yang sama.


 


 


Di tengah perdebatan kecil Lisia dan Ri’aima, pintu Mansion tiba-tiba terbuka lebar. Layaknya kediamannya sendiri, pemuda rambut hitam langsung berjalan masuk ke dalam. Melihat ke kanan dan kiri dengan cepat, seakan-akan sedang mencari seseorang.


 


 


Pemuda itu adalah Odo Luke, Putra Tunggal Keluarga Luke yang sedang diperdebatkan Lisia dan Ri’aima. Ia datang tidak sendirian, di belakangnya melayang sang Roh Agung yang dikenal juga sebagai penjaga Perpustakaan Sihir Keluarga Luke, Vil.


 


 


Melihat kombinasi itu, Lisia segera bangun dari tempat duduk dan menatap terkejut. Bukan hanya dirinya saja, Oma dan Argo yang mengetahui Roh Agung tersebut langsung terbelalak. Merasa tidak percaya dengan apa yang mata mereka lihat.


 


 


Dari semua orang di ruang tamu depan, hanya Ri’aima saja yang tidak menyadari hawa keberadaan sang Roh Agung. Sebab ia tidak memiliki pengetahuan tentang Sihir Roh, ataupun indra yang tajam untuk merasakan frekuensi Mana yang berbeda.


 


 


Odo sekilas menatap mereka, memperlihatkan ekspresi heran dengan kombinasi orang-orang di ruang tamu depan. Terutama tentang keberadaan Lisia dan Argo di tempat tersebut.


 


 


Segera paham apa yang sedang mereka bicarakan, Putra Tunggal Keluarga Luke lekas memalingkan pandangan dan kembali mencari. Seakan-akan dirinya tidak peduli dengan keperluan tamu-tamu dari Mylta itu.


 


 


Bersama Vil yang melayang di belakangnya, ia melangkah ke lobi dan melihat sampai ke lantai dua. Beberapa detik kemudian, dua perempuan berseragam pelayan berjalan masuk ke dalam Mansion. Mengikuti Odo Luke, lalu tampak gelisah dengan tempat yang mereka datangi.


 


 


Melihat rumahnya seenaknya dimasuki seperti itu, untuk sesaat Oma Stein tersinggung. Sebagai Tuan Rumah ia merasa tidak dihargai, lalu kening mengerut dan tatapan berubah tajam.


 


 


Namun saat Odo Luke melirik ke arahnya, amarah tersebut seketika padam dengan cepat. Bahkan, pria beruban tersebut tidak jadi berdiri dan hanya terdiam di tempat duduk.


 


 


Berbeda dengan Ayahnya, Ri’aima segera bangun dari tempat duduk. Perempuan rambut biru pudar tersebut langsung berjalan menghampiri Odo. Berdiri di hadapan Putra Tunggal Keluarga Luke, ia berniat mencegah orang-orang di belakangnya ikut masuk semakin dalam ke Mansion milik Keluarga Stein.


 


 


“Anda sedang mencari siapa, Tuan Odo? Dan juga ….” Ri’aima melirik tajam ke arah perempuan-perempuan yang mengikut Putra Tunggal Keluarga Luke. Sedikit penasaran dengan mereka, ia pun dengan heran memastikan, “Kenapa Tuan seenaknya membawa mereka itu masuk? Lalu, apa perempuan yang melayang itu juga seorang penyihir seperti Nona Canna? Kenapa dirinya selalu memakai sihir seperti itu?”


 


 


“Dia Roh Agung yang aku kontrak, lalu dua lainnya adalah rekan-rekanku,” jawab Odo secara ringkas. Tidak ingin memperkenalkan nama atau latar belakang mereka, Putra Tunggal Keluarga Luke menegaskan, “Mereka bukan orang mencurigakan, jadi jangan cemas. Aku minta maaf karena memasukan mereka tanpa izin.”


 


 


Meski berkata seperti itu, Odo tidak berhenti menoleh ke sana kemari. Mencari seseorang dengan buru-buru, lalu tampak ingin segera menyelesaikan sesuatu dan segera pergi lagi.


 


 


“Anda … mencari siapa?” tanya Ri’aima heran.


 


 


“Adik kau, Baldwin.” Odo berhenti mencari, lalu menatap lurus lawan bicara. Menghela napas setelah memperkirakan hal yang tidak menyenangkan, ia dengan resah memastikan, “Apa dia ke berangkat ke kantor?”


 


 


“Hmm, hari ini dia menggantikan diriku. Sekarang ini mungkin Baldwin sedang bekerja di Kantor Pemerintahan.”


 


 


Jawaban tersebut membuat Odo mengerutkan kening. Memikirkan alternatif lain dan menghela panas panjang, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Biarlah, kau juga bisa membantuku.”


 


 


“Membantu?” Ri’aima sekilas memiringkan kepala dengan bingung.


 


 


Sedikit mendongak dan tidak memedulikan ekspresi tersebut, Odo sedikit mendongak seraya memberikan tatapan merendahkan. Layaknya orang yang berbeda dari sebelumnya, dengan nada kasar ia bertanya, “Ri’aima …, kau tahu letak Altar Gerbang Dunia Astral?”


 


 


“Ah, yang anda membicarakan itu waktu sarapan? Tentu saja tahu!” Ri’aima mengangguk sekali. Seraya mengacungkan telunjuk ke depan, perempuan rambut biru pudar tersebut menawarkan, “Mau saya antar? Namun, jujur saya ragu bisa sampai ke tempatnya mengingat letak altar tersebut.”


 


 


Mendengar apa yang dibicarakan mereka berdua bicarakan, Argo segera bangun dari tempat duduk. Samar-samar merasa ada yang janggal, pria rambut merah gelap tersebut berjalan menghampiri.


 


 


“Tunggu sebentar, memangnya apa yang ingin Tuan Odo lakukan dengan altar itu?”


 


 


Pertanyaan Argo sedikit membuat alis Odo berkedut. Menoleh ke arah Kepala Keluarga Mylta tersebut, ia dengan nada datar menjawab, “Tentu saja untuk pergi ke Dunia Astral. Namanya juga Altar Gerbang Dunia Astral, bukan kayangan atau neraka.”


 


 


Meski terdengar sedang bergurau, Argo tidak bisa tertawa atau bahkan tersenyum. Merasakan hal yang sama, Oma Stein pun bangun dari tempat duduk dan berjalan menghampiri mereka.


 


 


“Anda … ingin melakukan apa setelah sampai di Dunia Astral?” tanya Oma cemas. Merasa janggal karena Putra Tunggal Keluarga Luke juga membawa Roh Agung bersamanya, pria beruban tersebut memastikan, “Jika ingin menggunakan Altar Gerbang Dunia Astral, mengapa harus yang ada di Rockfield? Bukankah anda bisa menggunakan yang ada di dekat Kediaman Luke? Lagi pula, tombak yang diperlukan untuk mengaktifkan altar juga dipegang keluarga anda. Kenapa malah susah-susah di memakai yang ada di sini?”


 


 


Odo tidak bisa segera menjawab. Mempertimbangkan berbagai hal, ia merasa tidak ingin menyampaikan tujuannya. Melawan Leviathan sangatlah berada pada tingkat yang berbeda, karena itu mungkin akan langsung heboh saat mendengarnya. Mengingat kondisi yang ada sekarang, tidak kecil juga kemungkinan mereka akan berusaha melarang.


 


 


Saat Odo memilih untuk berbohong kepada mereka, Vil tiba-tiba memeluk dirinya dari belakang dengan erat. Melempar senyum penuh rasa bangga, Roh Agung tersebut tanpa ragu menyampaikan, “Kami akan menaklukan Leviathan!”


 


 


“Ah, sudah aku duga.” Odo seketika memasang mimik wajah datar.


 


 


Pada saat yang bersamaan, mereka yang menginginkan jawaban langsung terbelalak. Bingung, cemas, dan tidak mengerti kenapa Putra Tunggal Keluarga Luke ingin melakukan hal tersebut sekarang.


 


 


\===============


 


 


Catatan :


 


 


See You Next Time!!


 


 

__ADS_1


__ADS_2