
Sembari mengamati, pria tua tersebut berjalan memutar. Melihat aliran Mana lawan yang tampak jelas, mencari celah yang ada dan berpikir, “Tuan Odo memang pernah bilang tentang hal ini, soal kemungkinan lawan duel bisa saja menggunakan teknik pemadatan Mana. Tapi! Bukannya itu sedikit berbeda dari teknik pemadatan Mana biasa?! Manifestasi senjata tersebut⸻!!”
Sebelum Ferytan selesai menganalisa, sang Prajurit Elite langsung mengayunkan tombaknya. Senjata dari pemadatan Mana tersebut seketika berubah bentuk, memanjang dan bergerak layaknya cabuk cahaya. Namun saat sudah dekat dengan sasaran, seakan-akan hidup ujung tombak langsung menusuk lurus.
Serangan tersebut mengenai bahu kiri Ferytan, menembus masuk sampai ke belakang. Paham jarak antara jangkauan senjata lawan sangat tidak masuk akal, pria tua itu langsung memegang tombak yang menancap dengan tangan kiri dan menarik lawannya mendekat. Ingin menghilangkan keunggulan jarak jangkauan senjata lawan.
Namun, Jonatan malah menyerigai lebar.
Telah menunggu momen tersebut, Jonatan segera membuat pendek bentuk manifestasi tombak. Layaknya sebuah tali, ia menarik dirinya kenceng senjatanya dan membuat gaya maju ke arah lawan semakin cepat.
Meloncat tepat sebelum sampai di hadapan lawan, sang Prajurit Elite memanfaatkan vektor dan momentum yang didapat. Ia berputar di udara, lalu langsung menendang wajah lawannya dengan sangat kencang.
Itu membuat Ferytan terpental, tombak pun tercabut dari bahu dan lepas dari genggaman pria tua itu. Sebelum kehilangan keseimbangan dan jatuh ke permukaan tanah, ia segera menapakkan tangan kiri sebagai tumpuan di tanah untuk segera berdiri dan menjauh.
Namun, Jonatan tidak memberikan kesempatan lawan untuk menjaga jarak. Seakan telah hilang kendali dan tidak lagi merasakan sakit pada luka di perut, pria rambut merah kecokelatan tersebut langsung menerjang ke arah Ferytan tepat setelah kaki menapak di tanah.
Memanipulasi panjang tombak menjadi sedikit lebih pendek lagi, sang Prajurit Elite menarik senjatanya ke belakang dan bersiap untuk menusuk. Ia meningkatkan intensitas sirkulasi Mana pada ujung tombak, lalu membuatnya bergerigi untuk meningkatkan kerusakan.
Meski terlihat terdesak, Ferytan tetap menganalisa lawan dengan tenang. Pergerakan otot kedua kaki dan tangan, aliran Mana pada manifestasi senjata, serta arah tatapan lawan. Semuanya diperhitungkan pria tua itu dalam waktu singkat, lalu dengan cepat dirinya pun membuat antisipasi.
Mengatur pernapasan untuk meningkatkan sirkulasi darah dan masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem, untuk sesaat semua pergerakan lawan seketika terlihat lambat. Meski hanya bisa mempertahankan kondisi tersebut dalam hitungan kurang dari lima detik, itu sudah cukup untuk Ferytan.
Tepat saat kedua kaki menapak di permukaan tanah, pria tua tersebut meloncat ke belakang untuk keluar dari jangkauan tombak. Menghindari tusukan tersebut dengan sangat tipis sebelum mengani kepala.
Namun, tentu saja Jonatan telah memperkirakan gerakan tersebut. Telah mengatur Mana terlebih dahulu sebelum menyerang, mata tombak kembali berubah bentuk dengan cepat dan langsung memanjang ke depan.
Ferytan yang masih dalam kondisi rileks ekstrem menghindari tusukan tersebut dengan memiringkan kepala, mata tombak hanya menyerempet tipis pada telinga. Tetapi seakan-akan mata tombak tersebut adalah ular hidup, bilah kembali berubah bentuk dan langsung bergerak mengincar bagian belakang pria tua tersebut. Benar-benar datang dari titik buta.
Serangan itu mustahil untuk dihindari, itulah yang Jonatan pikirkan saat lawannya mengambil langkah ke belakang untuk menghindar. Tetapi, itu salah besar karena sang lawan memiliki kemampuan refleks yang bisa dikatakan tidak masuk akal.
Tangan kiri Ferytan terlihat seperti tiba-tiba menghilang. Dengan gerakan yang sangat cepat, pria tua yang berada dalam kondisi seperti dililit ular seketika menangkap tombak yang mengincar bagian belakang lehernya. Meski mata tombak yang sedikit bergerigi membuat tangannya berdarah, namun tusukan fatal berhasil dihentikan.
Pria tua itu langsung menarik tombak yang bisa dimanipulasi seperti cabuk tersebut, lalu langsung memotongnya pada bagian gagang dengan pedang. Tidak membuang kesempatan yang didapat, tanpa memedulikan rasa sakti pada tangan pria tua itu pun langsung berlari ke arah sang Prajurit Elite.
“Gawat! Apa-apaan gerakan pria tua ini!!” benak Jonatan sembari mengumpulkan Mana, berusaha memperbaiki manifestasi tombak yang dihancurkan. Namun, hal tersebut terlalu lambat.
Ferytan sampai di hadapan lawan dalam hitungan kurang dua detik. Kondisi rileks ekstrem selesai, hal tersebut membuat pergerakan Prajurit Elite kembali terlihat normal di mata pria tua tersebut. Namun, jarak dan posisi kuda-kuda yang ada sudah cukup untuknya melancarkan serangan.
“Teknik Pedang …, Tiga Tanduk!”
Meski serangan tersebut dilancarkan tidak dalam kondisi rileks ekstrem, kekuatan dan kecepatan yang ada sudah cukup untuk membuat tiga lubang pada tubuh Jonatan.
Perut kiri, pergelangan tangan kanan, dan bahu kiri. Pada jeda waktu bahkan kurang dari tiga detik, bagian-bagian tersebut langsung berlubang.
Memang serangan tidak tembus sampai belakang seperti serangan pertama yang berhasil dilayangkan. Namun, tetap saja luka tersebut membuat Prajurit Elite tidak bisa lagi mempertahankan bentuk manifestasi senjata yang tersisa.
Tombak yang telah patah seketika menghilang, memberikan efek samping berupa rasa lemas pada sekujur tubuh dan membuat Jonatan tidak bisa bergerak untuk sesaat.
Bukan hanya itu saja, luka yang sebelumnya ditutup dengan pemadatan Mana pun kembali terbuka. Membuat darah berceceran keluar, lalu organ dalam pun sedikit terlihat karena luka yang menganga.
“Uuuggh! Ugh! Aaakh!”
Jonatan muntah darah. Sembari menutup perut dengan tangan supaya organ dalam tidak tumpah keluar, Prajurit Elite tersebut perlahan mengambil langah ke belakang. Meski dalam kondisi seperti itu, ia sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi ingin menyerah.
“Tolong menyerah, Tuan Jonatan ….”
Meski berkata seperti itu, Ferytan sama sekali tidak menunjukkan belas kasih dalam ekspresi. Meski lawan sudah kehilangan banyak darah dan bisa ambruk kapan saja, pria tua tersebut memasang kuda-kuda dan bersiap melancarkan serangan tusukan penghabisan.
Setiap orang yang melihat itu tertegun, tidak percaya bahwa pertarungan akan berakhir seperti itu. Tidak ada sorakan, hanya ada senyap di antara mereka. Semua orang di tempat tersebut sangat paham, bahwa sang Prajurit Elite tidaklah lemah.
Namun, mereka juga tidak menduga bahwa pria tua yang menjadi lawannya memiliki keterampilan pedang jauh di atas rata-rata. Tanpa Mana, murni hanya dengan pedang Ferytan bisa menundukkan lawannya.
“Berkumpul, memadat, dan menjadi murni layaknya baja yang ditempa …. Aliran, aliran raga, memadat dan memadat layaknya tulang logam ….”
Meski pergelangan tangan kanan sudah hampir putus karena tusukan sebelumnya, ia tetap mengangkatnya ke depan dan kembali memancarkan aura kuat. Mana berkumpul dan dengan cepat memadat, menjadi penyangga tangan kanan dan kembali menciptakan sebuah tombak. Meski tidak sempurna dan tampak lebih pendek dari sebelumnya, namun manifestasi senjata tersebut menjadi jawaban bahwa ia tidak ingin menyerah.
Ferytan hanya bisa tertegun, tidak mengerti kenapa lawannya mempertaruhkan nyawa sampai seperti itu. Namun, pria tua itu paham bahwa meminta untuk menyerah sekali lagi akan berakhir sebagai penghinaan.
Sebagai seorang pria yang telah membuang harga diri di masa lalu untuk bisa bertahan hidup, Ferytan tidak ingin melihat lawannya kehilangan harga diri dalam duel yang ada. Sebab itulah, dengan penuh rasa hormat pria tua itu bersiap untuk mengakhirinya.
Menarik napas sekali, mengatur sirkulasi darah dan masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem. Saat mengalami akselerasi pikiran dan semuanya terlihat sangat lambat, pria tua itu tanpa ragu langsung melancarkan serangan.
“Teknik Pedang …., Tanduk Tunggal!”
Satu tusukan tersebut layaknya sebuah meriam, langsung membuat lubang selebar dua belas sentimeter di perut Jonatan. Menerbangkan daging, tulang, dan semua organ dalamnya sampai berceceran di tanah. Bahkan, darah serta daging tersebut beberapa ada yang sampai ke depan penonton di sudut lapangan. Membuat mereka menjerit dipenuhi ketakutan.
Beberapa orang tertegun, terperangah, dan gemetar ketakutan melihat momen tersebut. Hampir tidak ada yang bisa melihat tusukan yang dilayangkan Ferytan, hanya hasil saja yang tampak pada momen setelahnya.
“Terima kasih ….” Sebelum ambruk ke tanah, hal tersebutlah yang terucap dari mulut Jonatan. Seluruh manifestasi pemadatan Mana menghilang, begitu pula aura kuat yang menyelimutinya.
__ADS_1
Darah mulai mengalir, membasahi lapangan dan membuat warna merah pada tanah. Itu sampai pada kaki Ferytan, perlahan-lahan membuat pria tua itu kembali mengingat trauma dan gemetar ketakutan.
Pria tua tersebut memang pemenang, namun ekspresi yang terlihat sama sekali tidak menunjukkan hal tersebut.
Bayangan masa lalu mulai tampak semakin jelas dalam ingatan Ferytan. Melihat lawan yang terkapar bersimbah-darah, itu membuat pria tua tersebut berhalusinasi melihat mending ibunya yang dieksekusi di atas panggung.
“Da-Darah orang …?! Itu … darah!!”
Setelah keluar dari kondisi rileks ekstrem, ilusi pun lenyap. Namun, rasa takut masih dengan kuat tertinggal jelas. Ferytan langsung terjatuh ke belakang, berusaha menjauh dari tubuh Jonatan dan napas seketika menjadi tidak teratur. Wajah memucat, lalu pandangan pun menjadi buyar karena rasa rakut yang seketika menguasai.
Di tengah situasi tersebut, Fritz Irtaz dari tempat juri segera bangun. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi dan dengan lantang berkata, “Kepala Prajurit, Jonatan Quilta, telah tumbang!! Dengan ini, saya nyatakan duel secara resmi dimenangkan oleh pria dari kubu Pejabat Lama!!”
Mendengar itu, Ruina seketika tersentak dan berhenti terperangah. Tidak terima dan masih tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat, perempuan rambut ikal tersebut membentak, “Bicara apa kau tua bangka! Duel belum berakhir!! Bagaimana mungkin Tuan Quilta kalah!!”
Fritz melirik tajam, lalu dengan nada kesal berkata, “Apa Anda buta? Lihat sendiri hasilnya.”
“Tapi! Pemenang hanya ditentukan jika mengakui kekalahan dan lawan meninggal⸻!”
“Setelah melihat Tuan Jonatan seperti itu, Nona tetap menganggapnya masih hidup?” sela Magdala Soream dalam pembicaraan. Ia melirik ke arah perempuan rambut ikal tersebut, lalu dengan tegas menyampaikan, “Sebaiknya Nona dan kubu Pejabat Baru segera menyiapkan tandu untuk mengangkat jasad Tuan Jonatan, tidak baik membiarkannya seperti itu. Kita harus menghormati hasil yang didapat dari duel ini.”
Wajah Ruina seketika memucat. Meski tidak ingin menerima hal tersebut, namun ia tidak punya pilihan selain percaya dengan apa yang dirinya lihat. Tubuh gemetar, mimik wajah berubah pucat pasi, lalu dengan penuh rasa takut perempuan rambut pirang ikal tersebut keluar dari meja juri dan perlahan berjalan memasuki lapangan.
“Ti-Tidak mungkin! Kenapa bisa … hal seperti ini …. Bagaimana mungkin Tuan Quilta kalah …?”
Hampir orang yang berada di tempat juri dan penonton penting diam, tidak berkomentar ataupun merendahkan perempuan itu.
Namun, pada saat yang sama beberapa orang dari kubu Pejabat Lama mulai melebarkan senyum senang. Layaknya seorang pemenang, mereka tampak ingin menghina Ruina Trytalin. Perempuan yang sering menghina kubu mereka selama sang Walikota Rockfield jatuh sakit.
Dari semua orang di kubu Pejabat Lama yang memperlihatkan rasa senang, Fritz Irtaz tampak paling bahagia atas kemenangan yang didapat. Ia tersenyum lebar, kedua matanya sampai berputar dan benar-benar menikmati kekalahan kubu lawan. Jika tidak ada orang di tempat tersebut, pria tua itu pasti tertawa lepas dalam kebahagiaan.
Ekspresi tersebut sempat dilihat oleh Magdala Soream, membuat Imam Kota tersebut memberikan tatapan merendahkan dan sedikit jijik. “Anda tidak sepatunya memasang wajah seperti itu, Tuan Irtaz. Ingat umur dan status Anda,” tegur pria sepuh tersebut.
“A⸻!” Kepala Kelurga Irtaz tersentak, segera berpaling dan mengusap wajah untuk menghapus ekspresi senang tersebut. Menatap balik sang Imam Kota, dengan wajah yang masih memperlihatkan rasa senang Fritz berkata, “Maafkan saya, ini hal alami yang tidak bisa dibendung. Saya tidak bermaksud untuk menertawakan mereka atau semacamnya.”
Ucapan tersebut seakan menyiram api dengan minyak, membuat beberapa orang dari kubu Pejabat Baru yang mendengar hal tersebut menatap tajam ke arah Kepala Keluarga Irtaz. Penuh amarah, merasa dipermalukan, dan mulai memancarkan dendam pada sorot mata mereka.
Di tengah-tengah persilihan tersebut, Odo bangun dari tempat duduk dan mulai berjalan ke depan. “Hanya memastikan, berarti ini kemenangan ku, bukan?” tanya pemuda itu sembari melirik tajam ke arah Imam Kota.
Magdala Soream tersentak mendapat tatapan tajam seperti itu. Setelah sekian lama dalam hidupnya, pria sepuh tersebut diingatkan kembali dengan rasa takut yang seharusnya sudah dilepas setelah menjalani jalan pengabdian.
“I-Itu benar ….”
Jawaban singkat itu membuat Odo memasang senyum kecut, berhenti menoleh dan lanjut berjalan ke arah lapangan. Menepuk pundak Ruina yang tidak berani mengambil langkah ke tengah lapangan, Putra Tunggal Keluarga Luke berkata, “Ayo, mungkin dia masih bisa selamat.”
Tanpa menunggu perempuan rambut ikal itu siap, Odo langsung menggandeng dan mengajaknya berjalan ke tempat Jonatan Quilta terkapar. Dengan tegas, tanpa menjelaskan apa-apa pemuda itu hanya menggandeng Ruina untuk membawanya ke tengah lapangan.
Orang-orang yang melihat itu hanya bisa tertegun, tidak mengerti apa yang ingin dilakukan pemuda itu dengan memasuki lapangan. Namun bagi Oma yang pernah disembuhkan oleh Putra Tunggal Keluarga Luke, ia samar-samar tahu apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu.
Berbeda dengan Oma yang hanya membiarkan, Kepala Keluarga Irtaz yang merasakan firasat tidak nyaman segera menyusul. Pria itu dengan suara tegas berkata, “Berhenti! Apa kamu ingin menodai duel penting ini?! Pertarungan sudah berakhir, biarkan Tuan Jonatan dimakamkan dengan layak⸻!”
“Dia kau, pak tua ….” Odo menghentikan langkah, perahan menoleh ke arah Fritz Irtaz dan dengan kesal berkata, “Yang seharusnya dimakamkan itu kau, dasar bau tanah.”
Perkataan tersebut memang membuat Kepala Keluarga Irtaz kesal. Namun, tatapan tajam yang bercampur dengan intimidasi kuat membuat pria tua tersebut berhenti mendekat. Untuk sesaat, bulu kuduknya berdiri dan merasakan takut yang amat kuat.
Sembari menggandeng Ruina, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berjalan menghampiri Jonatan. Untuk sesaat, Odo perlahan melirik ke arah Ferytan Loi yang telah memenangkan duel dan terduduk lemas dalam ketakutan.
“Kalau takut mayat, kenapa juga kau harus membunuhnya? Aku bilang hanya boleh luka fatal, bukan?” tanya Odo dengan niat menegur. Dengan jelas mimik wajah kesal tampak pada raut pemuda rambut hitam tersebut.
Tersentak setelah mendengar suara Putra Tunggal Keluarga Luke, Ferytan segera mengangkat wajah pucat. Gemetar tidak karuan. Mulut ingin berkata sesuatu, namun tidak ada kalimat yang bisa keluar karena trauma masih menguasai pria tua tersebut.
Melihat ekspresi seperti itu, Odo hanya membunyikan lidah dengan rasa kesal. Merasa pria tua itu menjadi besar kepala karena bertambah kuat dalam waktu singkat. Berhenti menggandeng Ruina, Putra Tunggal Keluarga Luke mengambil langkah ke arah Ferytan.
“Bedebah ….” Tanpa ragu, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung menendang kepala pria tua itu sampai wajah tersungkur ke tanah. Tidak berhenti di situ, pemuda itu menginjak kepalanya dan dengan kesal berkata, “Kau jangan terlalu percaya diri. Sudah aku bilang tak perlu berlebihan selama duel, bukan? Apa kau berpikir ingin memberikan rasa hormat kepada lawan atau semacamnya, huh?”
“Sa-Saya tidak bermaksud seperti⸻!”
“Diam!” Odo sekali lagi menginjak wajahnya, sampai beberapa gigi pria tua itu lepas.
Ruina Trytalin tersentak melihat itu, hanya bisa bingung dengan apa yang dilakukan pemuda tersebut kepada sang pemenang. Benar-benar tidak mengerti hubungan seperti apa yang ada di antara mereka.
Namun dari apa yang dirinya lihat, Ruina menjadi paham bahwa pemuda rambut hitam tersebut sangatlah kuat. Paling tidak, ia jauh lebih kuat dari sang pria tua yang telah mengalahkan Jonatan.
“Ah, menyebalkan. Runyam semua, padahal aku ingin menyembunyikannya selama mungkin. Setelah seperti ini ….”
Odo melirik ke arah Jonatan yang terkapar di atas tanah. Melihat tubuh Prajurit Elite tersebut masih memiliki sedikit tanda-tanda kehidupan, Putra Tunggal Keluarga Luke segera berjalan mendekat dan berjongkok di dekatnya.
“Dia masih hidup memang, tapi pada tingkat seperti ini ramuan ku tidak bisa menyembuhkannya. Apa perlu aku menggunakan Aitisal Almaelumat? Dengan medium darah milikku sendiri untuk melakukan proses perubahan informasi?” benak Odo seraya meletakan tangan ke atas dada Jonatan.
Detak jantung masih terasa bersama paru-paru yang kembang-kempis. Tanda-tanda kehidupan tersebut sangatlah lemah, bahkan bisa berhenti kapan saja jika dibiarkan terus mengalami pendarahan.
Melirik ke arah Ruina, Putra Tunggal Keluarga Luke melambai dan dengan nada ketus memanggil, “Kenapa diam? Cepat ke sini! Kau tak ingin dia mati, ‘kan?”
“A-Apa Tuan Quilta⸻?!”
__ADS_1
“Cepat ke sini!” tegas Odo.
Ruina tersentak, matanya kembali berkaca-kaca dan sekilas terlihat air mata mengalir. Berjalan gemetar dengan penuh rasa takut, perempuan rambut ikal tersebut berjongkok di sebelah Odo. Menundukkan kepala, menatap ke arah Jonatan dan benar-benar ingin pria itu selamat.
“A-Apa yang perlu saya lakukan?”
Mendapat pertanyaan itu bersama dengan tatapan berkaca-kaca, Odo sama sekali tidak menunjukkan ekspresi iba atau ingin menolong. Rasa kesal karena kesalahan lebih menguasai dirinya, membuat pemuda rambut hitam itu bertindak tegas dan tidak memedulikan perasaan orang lain.
“Kau hanya perlu diam saja, aku akan menyerap Mana milikmu.”
Pemuda itu kembali menggandeng Ruina. Tanpa membuang waktu lagi, Putra Tunggal Keluarga Luke menggunakan Aitisal Almaelumat mulai membuat koneksi dan menyerap Mana dalam jumlah tidak sedikit.
Untuk sesaat, rasa kesemutan menjalar dari tangan perempuan itu. Terus merambat sampai gejala kekurangan darah mulai tampak, lalu wajah pun perlahan memucat.
Paham bahwa Ruina telah sampai pada batasnya, Odo berhenti menggandeng perempuan itu. Ia sekilas menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil belati kecil dari dimensi penyimpanan pada sarung tangan.
“Sialan, aku baru memakai Mana kemarin dan sekarang sedang lelah. Meski mengambil Mana dari orang lain, tetap saja untuk penyesuaian aku harus menggunakan Mana milikku sendiri. Kenapa juga selalu ada masalah di luar rencana,” keluh Odo.
Pemuda rambut hitam itu menyodorkan tangan kanan ke depan, tepat di atas Jonatan Quilta. Tanpa ragu sama sekali, ia langsung menyayat pergelangan tangan sendiri dan membiarkan darahnya menetes ke tubuh sang Prajurit Elite.
Itu bukanlah jumlah yang sedikit, terus mengalir dan membasahi bagian dada Jonatan. Seakan hidup, tetes demi tetes darah bergerak dengan sendirinya dan masuk ke lubang-lubang tubuh Prajurit Elite. Melalui hidung, telinga, mata, dan luka-luka yang ada.
Setelah lebih dari satu menit dan sekitar satu liter darah keluar, luka pada pergelangan tangan Odo tertutup dengan sendirinya. Pemuda rambut hitam itu menjilat sedikit tetes darah yang tersisa pada pergelangan, lalu langsung menjentikkan jari sebagai tanda aktivasi Aitisal Almaelumat bersyarat.
“A-Apa yang sebenarnya Anda lakukan? Kenapa Anda memberikan darah seperti itu? Apa dengan itu Tuan Quilta bisa sembuh?”
Pertanyaan Ruina membuat Odo melirik kecil. Segera bangun dengan tubuh sedikit sempoyongan lemas, pemuda rambut hitam itu tersenyum tipis dan menjawab, “Lihat saja hasilnya ….”
“Hasil …?”
Untuk sesaat, Ruina benar-benar meremehkan. Merasa hal tersebut sangat tidak masuk akal, sebab pemuda itu seakan ingin berkata bisa menyembuhkan Jonatan hanya dengan meneteskan darah. Namun setelah kembali melihat ke arah pria yang sebelumnya terkapar sekarat dengan luka sangat parah, perempuan rambut pirang ikal tersebut langsung terperangah.
Luka pada perut yang menganga perlahan tertutup, organ-organ mulai terbentuk kembali bersama jaringan saraf. Tulang, daging, darah, semuanya seakan bergerak sendiri dan berusaha untuk bertahan hidup. Perlahan-lahan tubuh Jonatan pulih dengan pasti.
Bukan hanya luka menganga pada bagian perut saja, pergelangan yang hampir putus pun perlahan-lahan kembali tersambung. Beserta luka tusukan pada beberapa bagian, semua itu dengan sendirinya pulih dalam hitungan detik. Layaknya kecambah yang tumbuh sangat cepat, semua sel dan bagian tubuh yang telah hilang pulih seakan itu semua kembali tumbuh.
Dalam akal sehat perempuan rambut ikal tersebut, tentu saja itu semua tidak mungkin terjadi. Manusia tidak seperti tumbuhan, organ penting yang telah hilang tidak mungkin tumbuh lagi seperti cabang pohon ataupun kuku.
Namun, dengan jelas pemulihan organ tubuh Jonatan terlihat seakan semua itu kembali tumbuh. Organ-organ pencernaan seperti usus, ginjal, dan lain sebagainya kembali terbentuk di dalam perut yang menganga.
Tulang punggung yang sebagian telah hilang juga terlihat seperti tumbuh lagi. Jaringan pembuluh darah bergerak layaknya cacing-cacing, lalu mulai menyambung satu sama lain dalam pemulihan. Membentuk ulang bagian-bagian yang sebelumnya telah hilang.
Kurang dari lima menit, luka menganga tertutup meski bagian dalam masih dalam proses pemulihan. Pergelangan tangan yang hampir putus tersambung kembali, begitu pula bahu yang juga mendapatkan tusukan selama duel.
Keajaiban ⸻ Itulah yang bisa Ruina simpulan atas apa yang telah dirinya lihat. Meski perempuan rambut pirang ikal tersebut pernah beberapa kali melihat sihir pemulihan tingkat tinggi milik orang-orang Pihak Religi, tetap saja pemulihan yang dilihatnya sekarang memang benar-benar di luar nalar.
“Suruh orang lain membawakan tandu ….” Odo menarik napas dalam-dalam dan bangun sembari meregangkan kedua tangan, lalu berusaha untuk bertindak dingin. Sekilas berpaling ke arah Ferytan, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menyampaikan, “Meski luka luar hampir pulih semua, organ dalam paling tidak butuh waktu sampai dua hari untuk sembuh. Nanti panggil juga tabib atau pengguna sihir pemulihan dari Pihak Religi untuk memeriksanya.”
“Ba-Baik ….” Ruina segera bangun, lalu dengan ekspresi wajah sedikit lega kembali berkata, “Akan saya panggil orang untuk membawa tandu …! Saya akan segera memanggil mereka.”
Perempuan rambut ikal itu berlari dengan sedikit sempoyongan. Efek dari Mana yang hilang dalam jumlah banyak tampak sangat jelas, meski perempuan itu sendiri tidak menyadarinya karena rasa cemas yang ada.
Tidak terlalu memedulikan hal tersebut, Odo berjalan ke arah Ferytan dan dengan tegas berkata, “Sedang apa kau, pak tua? Cepat bangun sebelum orang-orang itu bertanya hal yang aneh-aneh. Kita pergi dan serahkan semua ini kepada Keluarga Stein.”
“Ba-Baik, Tuan ….” Pria tua itu segera berdiri. Sembari memasang mimik wajah penuh rasa bersalah dan cemas, ia dengan niat tulus menjelaskan, “Saya sebelumnya benar-benar tidak bermaksud sombong atau semacamnya. Sungguh, saya tidak bermaksud membuat Tuan marah.”
Odo tidak segera membalas perkataan tersebut. Mengangkat telunjuk ke depan mulutnya sendiri, Putra Tunggal Keluarga Luke seakan ingin meminta pria tua itu ikut ke dalam sandiwara yang ada.
Saat beberapa orang berlari ke tengah lapangan sembari membawa tandu, Odo langsung memasang mimik wajah murka dan membentak, “Sudahlah! Tak perlu bahas itu lagi! Lain kali! Ikuti saja perintah ku! Kenapa kau harus melanggar larangan yang aku berikan di saat-saat terakhir?! Akh! Menyebalkan!”
Untuk sesaat Ferytan bingung. Meski pria tua tersebut bisa menangkap maksud yang disampaikan oleh Odo, tetap saja rasa bersalah yang ada padanya lebih dominan. Dengan ekspresi takut yang terlihat alami, pria tua itu menundukkan kepala dan berkata, “Sa-Saya … benar-benar minta maaf.”
“Ya! Kau sudah mengatakan itu dari tadi! Sampai-sampai aku bosan mendengarnya! Jika kau melakukan hal seperti itu lagi dan melanggar larangan ku, akan ku pastikan kau menyesal! Kenapa kalian kompak sekali kalau membuat masalah!!? Huh?!”
Mendengar hal tersebut, Rosaria yang juga dipanggil untuk memeriksa Jonatan seketika terhenti. Tidak mengikuti orang-orang yang datang membawa tandu, Pendeta Wanita itu memalingkan pandangan dari Odo karena rasa bersalah yang ada.
Memberikan lirikan tajam ke arah Rosaria, Putra Tunggal Keluarga Luke tidak mengatakan apa-apa kepada sang Pendeta Wanita. Hanya memberikan tatapan kecewa, seakan-akan telah kehilangan semua rasa percaya pada perempuan tersebut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, pemuda rambut hitam tersebut pun berjalan pergi. Sembari memasang mimik wajah kesal, lalu kening mengerut dan gigi pun menggertak kuat. Menunjukkan rasa marahnya meski itu hanya sebatas akting.
\=============================================
Catatan :
Next Dekadensi Terakhir, mungkin.
Catatan Kecil :
Fakta 046 : Secara sederhana, Waktu adalah perkembangnya pristiwa dari lampau, kini, dan nanti. Dalam perhituangan, paling sederhana adalah rumus waktu, jarak, dan kecepatan. (Waktu SD atau SMP pasti pernah dibahas). Karena itu, waktu sebenarnya hanya bisa diukur oleh objek atau makhluk yang pernah mengalaminya atau melakukan pengamatan terhadap waktu tersebut.
__ADS_1