Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[115] Flamboyan Akhir Zaman IV – Pedang Kerajaan (Part 01)


__ADS_3

Ujung pola pikir transparan, terhenti oleh paparan keraguan. Memandang praja yang tampak semu, kehilangan warna dan berubah menjadi kelabu menyedihkan. Meski paham tidak bisa kembali, pemuda itu tetap melangkah sembari mengayunkan pedangnya.


Membuang emosi yang tidak perlu, lalu menghabisi semua musuh layaknya mesin pembunuh. Menyerahkan tubuh kepada refleks, sepenuhnya membatasi pola pikir dan membuang jauh-jauh rasa kemanusiaan. Bergerak teratur mengikuti pola efektif yang telah terprogram dalam sumsum tulang belakang.


Tepat setelah turun dari teras gereja, Odo langsung berlari menerjang Pasukan Kekaisaran layaknya sebuah anak panah. Putra Tunggal Keluarga Luke itu tidak menggunakan teknik pamungkas seperti sebelumnya, hanya mengayunkan pedang hitam dan menggunakan sihir peningkatan kemampuan fisik.


Tanpa lingkaran sihir, murni memanfaatkan sirkulasi Mana untuk meningkatkan metabolisme tubuh. Memperkuat otot, tulang, jantung, paru-paru, dan seluruh indra. Membakar lemak dan karbohidrat untuk digunakan sebagai sumber energi tubuh, lalu disimpan secara efektif untuk menghemat stamina.


Di tengah kepungan pasukan musuh, Odo Luke dengan ganas mengayunkan pedangnya secara vertikal. Tebasan itu langsung memotong helm besi seorang prajurit bersama kerangka tengkoraknya, tembus sampai dada dan mematahkan beberapa tulang rusuk.


Segera mencabut pedangnya dan menendang mayat prajurit itu, ia segera berbalik untuk menahan serangan tombak yang datang dari arah belakang. Menurunkan kuda-kuda, pemuda rambut hitam itu mengalirkan tusukan lawan dan menyerang balik.


“Tanduk Tunggal ….”


Odo menarik pedangnya ke belakang, lalu langsung menusukkan senjatanya dan menghunjam leher sang penombak. Dihabisi dengan sekali serang.


Tidak membuang waktu, ia melanjutkan serangan dengan ayunan vertikal. Menghabisi prajurit lain yang berada di dekatnya, lalu terus menerjang barisan musuh tanpa mengendurkan tekanan. Mendesak mereka dengan kekuatan dan teror kematian.


Hanya dalam hitungan menit, belasan Pasukan Kekaisaran ditumbangkan dengan mudah. Darah dan potongan tubuh berceceran di lantai marmer, membuat permukaan menjadi licin. Bau amis terasa semakin menyengat, menambah kesan brutal di tengah balai kota.


Darah melumuri tubuh Odo, membuatnya tampak semakin mengerikan. Baik lawan maupun kawan, pemuda itu benar-benar tampak seperti iblis. Di tengah medan perang berlumur darah merah, tersenyum tipis dengan wajah dingin. Menikmati tarian kematian di antara mayat-mayat yang bergelimpangan.


Ia hanya butuh waktu lima belas menit untuk meruntuhkan semangat juang musuh. Melihat gerakan dan refleks Odo yang tidak masuk akal, Pasukan Kekaisaran perlahan mundur menuju jalan utama.


Tidak memberi ampun, Putra Tunggal Keluarga Luke mempercepat ritme serangannya. Mengejar pasukan musuh yang berniat kabur, lalu menebas mereka dari belakang. Tanpa pandang bulu, menyerang secara brutal dan kejam.


Meski ada belasan prajurit yang menyerah dan menjatuhkan senjata mereka, Odo tidak peduli. Ia hanya bergerak mengikuti pola yang telah terprogram, terus mengayunkan pedangnya dan menghabisi mereka. Tanpa ada keraguan ataupun rasa bersalah.


Namun, pemuda itu tiba-tiba terhenti saat sampai di depan jalan utama Kota Rockfield. Tertegun membisu dengan tatapan suram, berusaha memendam amarah yang mulai berkobar.


Ia segera menuruni anak tangga, berniat mengejar Pasukan Kekaisaran yang kabur ke arah gerbang. Dari atas, pemuda rambut hitam itu hanya memberikan tatapan tajam dan berkata apa-apa. Mengibaskan pedang untuk membersihkan darah pada bilah, kemudian menahan napas sejenak dan berdecak kesal.


Tepat pada sepanjang jalan tangga menuju Gerbang Utama, puluhan mayat penduduk sipil terkapar dengan kondisi mengenaskan. Meski pandangan sedikit terhalang kabut, Odo masih bisa dengan jelas melihat kengerian itu.


Ada mayat wanita yang tergeletak di atas anak tangga setelah digilir. Posisi tubuhnya terbaik, kepala di bawah dan kaki di atas. Organ kehormatan robek, dada dipotong dan rahangnya patah.


Tidak jauh dari perempuan naas itu, ada beberapa mayat pria yang tubuhnya dimutilasi. Disusun dengan tombak seperti orang-orangan sawah, lalu dipajang pada sepanjang jalan layaknya sebuah totem.


Selain itu, ada juga belasan mayat perempuan dan anak-anak yang terkapar di pinggir jalan. Tubuh mereka penuh dengan luka lebam, sayatan, dan tusukan. Bahkan ada beberapa jasad yang dicincang.


Tidak jelas mengapa Pasukan Kekaisaran melakukan perbuatan keji seperti itu.


Namun, pada setiap mayat anak-anak dan perempuan pasti memiliki bekas pelecehan. Pakaian mereka compang-camping, bagian kehormatan terbuka, lalu pada tubuh terdapat noda air jauhar. Tanda bahwa mereka telah dinodai oleh orang-orang bejat sebelum dibunuh.


“Kalian lebih buruk dari bandit ….” Odo tertegun, sekilas memperlihatkan ekspresi muak dalam tatapan murka. Meski pemuda itu menaruh rasa hormat kepada Kaisar Leben, ia tidak bisa mentolerir perbuatan tersebut. “Bahkan bandit gunung yang aku kenal kelakuannya tidak separah ini,” tambah pemuda itu seraya kembali mengaktifkan inti sihir, berhenti menahan diri dan berniat musnahkan mereka.


Odo lanjut menuruni anak tangga. Dalam senyap mencekam, ia melewati puluhan mayat yang bergelimpangan di sepanjang jalan. Perlahan mengangkat pedangnya ke depan, lalu mengaktifkan Hariq Iliah secara terpusat. Membakar bilah hitam dengan kobaran api merah gelap, berniat membakar seluruh musuhnya dalam satu serangan letal.


Tekanan sihir sang pemuda tiba-tiba meningkat drastis, memancarkan hawa panas dan menciptakan tekanan udara di sekitar tubuhnya. Menghapus kabut dalam radius beberapa meter, lalu menciptakan dinding distorsi spasial yang tak kasat mata.


Semua orang yang melihat momen itu langsung terkejut, tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Dinding, anak tangga, dan jalan susunan batu terdistorsi secara visual. Semua objek di sekitar pemuda itu tampak melengkung ke arahnya, meruncing seolah-olah terhisap oleh medan gravitasi yang sangat kuat.


Setelah dilewati dan keluar dari radius distorsi, seluruh objek kembali seperti semula. Namun⸻


Seluruh mayat yang bergelimpangan di sepanjang jalan seketika lapuk. Kulit dan daging langsung mengering dalam hitungan detik, lalu ditumbuhi jamur aneh berwarna putih gading. Terus membesar dengan bentuk seperti cangkang tiram, lalu menyemprotkan spora ungu beraroma wangi.


Beberapa detik kemudian, daging dan kulit mereka tidak lagi tersisa. Jasad-jasad itu sepenuhnya berubah menjadi nutrisi koloni jamur.


Tulang-belulang yang tersisa perlahan keropos dan remuk, lalu dalam hitungan detik terurai menjadi abu. Menyatu dengan spora dan hilang tertiup angin.


Lumut mulai tumbuh di antara koloni jamur, mengubah tempat pertumpahan itu menjadi sedikit lebih lembut. Bau amis perlahan memudar, digantikan aroma lumut dan semerbak spora jamur yang menyengat.


Itu merupakan bentuk empati Odo terhadap para korban. Dilenyapkan dengan layak supaya nama mereka tidak lagi dinodai, dimaki-maki karena memilih keputusan yang salah.


Mereka mati karena keras kepala, tidak mau mengungsi dan terus berpegang teguh dengan pandangan naif. Berpikir bahwa pertumpahan darah bisa dihindari hanya dengan sebuah negosiasi.


“Kematian kalian merupakan hasil dari keputusan kalian sendiri ….”

__ADS_1


Odo lanjut menuruni anak tangga, lalu mengubah seluruh mayat penduduk sipil menjadi pupuk. Ia mengatur kelembaban udara dengan Hariq Iliah, lalu menggunakan Sihir Kehidupan milik Reyah untuk menumbuhkan jamur dan lumut.


Mempercepat proses penguraian, kemudian menyebarkan spora ungu untuk menghapus aroma menjijikkan. Tak tahan dengan pemandangan mengenaskan itu.


“Kenapa kalian ada di sini?” Putra Tunggal Keluarga Luke tiba-tiba terhenti, berdiri di tengah anak tangga menuju persimpangan jalan. Ia menatap lurus ke depan, lalu membuka matanya lebar-lebar sembari lanjut bertanya, “Bukankah kalian sudah kembali ke Miquator?”


Di antara prajurit musuh yang melarikan diri, Canna dan Opium berdiri gemetar dengan wajah pucat. Mereka tidak mundur bersama yang lain, tidak juga mengangkat tongkat sihir untuk melawan Odo. Kedua penyihir itu mematung di tengah medan perang, membisu dalam ketakutan mutlak.


Odo menurunkan tekanan sihir dan berhenti mengintimidasi. Meski proses pelapukan mayat masih berlangsung, kobaran api pada bilah pedangnya perlahan padam. Hanya menyisakan bara api yang beterbangan layaknya kunang-kunang, memusatkan panas pada bilah yang difokuskan untuk memotong.


“Kami mencari Anda!” Canna menggelengkan kepala dengan kencang, berusaha melawan rasa takut dan melangkah. Penyihir rambut putih uban tersebut segera menaiki anak tangga, lalu meletakkan tangan kanan ke depan dada sembari menjelaskan, “Nona An telah berkhianat! Jangankan berusaha mencegah penyerbuan, dia malah membocorkan informasi tentang Anda! Menghasut para komandan! Menghasut Jenderal Fai untuk segera menyerang Rockfield!”


“Se-Senior!” Opium langsung panik saat mendengar itu. Ia sekilas melirik ke belakang dengan takut, lalu menarik lengan rekannya sembari berkata, “Tolong tenang sebentar! Kita tidak boleh berkata seperti itu⸻!”


“Diamlah!” Canna langsung murka. Menyingkirkan tangan rekannya, penyihir rambut putih uban tersebut lanjut membentak, “Dasar plin-plan! Sebenarnya kamu memihak siapa?! Jangan katakan kamu benar-benar tergiur tawaran ****** itu, hah?! Hanya demi uang⸻!!”


“Tutup mulutmu, Canna ….”


Odo mempercepat langkah kaki, lanjut menuruni anak tangga dan kembali meningkatkan tekanan sihir. Ia segera mengangkat pedangnya, lalu menekuk siku dan bersiap melempar. Tidak membuang waktu, pemuda itu segera memantapkan pijakan dengan memiringkan posisi tubuh. Sedikit condong ke bawah, kemudian membidik lurus ke depan.


“Tu-Tuan Odo …?” Canna seketika terkejut, wajahnya memucat dan keringat dingin pun mulai bercucuran. Tidak paham mengapa dirinya diincar, penyihir berjubah biru indigo itu perlahan melangkah mundur sembari berkata, “Sa-Saya berada di pihak Anda! Opium terlalu polos! Dia hanya tergiur tawaran Nona An! Kalau dijelaskan anak ini pasti paham! Tidak mungkin kami mengkhianati⸻!”


“Teknik Lempar …!”


Odo menyalurkan Mana pada gagang pedang, kemudian menciptakan struktur sihir mikro untuk meningkatkan efektifitas perubahan bentuk dan sifat. Lingkaran sihir mulai terbentuk solid, terdiri dari belasan Rune yang melingkari pergelangan tangan layaknya sebuah gelang cahaya.


Petir putih kebiruan mulai keluar dari genggaman, lalu mulai menyelimuti bilah pedang hitam dan mengubah sifat dasarnya. Dari sebuah objek menjadi padatan energi, kemudian memancarkan cahaya terang dan mengeluarkan suara gemuruh guntur.


“Ayahanda …? Tolong tunggu sebentar! Saya⸻!” Canna tertegun ketakutan, tidak menyingkir dan terdiam dengan tatapan bingung. Ia malah mendekat, menaiki anak tangga sembari bertanya, “Mengapa engkau terlihat sangat murka?”


“Pasak Guntur!”


Odo langsung melancarkan serangannya, sebuah teknik lemparan pedang yang dipadukan dengan struktur sihir. Layaknya railgun mini, objek yang berubah menjadi padatan energi langsung melesat dengan kecepatan suara. Menembus dinding udara, lalu menciptakan gelombang kejut di sepanjang lintasan.


“Senior!”


Sebelum padatan energi yang ditembakkan melewati mereka, Opium langsung mendorong rekannya supaya keluar dari lintasan. Gelombang kejut seketika mendorong kedua penyihir itu ke pinggir jalan, jatuh membentur permukaan susunan batu dengan cukup keras.


Beberapa prajurit yang berada di luar lintasan serangan pun tidak luput. Mereka terhempas gelombang kejut, lalu membentur permukaan jalan dan dinding bangunan dengan keras. Sebagian mengalami patah tulang, namun ada juga yang hanya mendapat luka lecet.


Padatan energi melesat hingga menembus dinding bangunan di ujung jalan, tepat pada pertigaan yang terletak tidak jauh dari Gerbang Utama. Menciptakan garis merah gelap di sepanjang lintasan. Dipenuhi genangan darah kental, remukan tulang, potongan daging, dan serpihan logam yang berceceran pada permukaan anak tangga.


Saat ditiup angin berkabut, aroma amis darah kembali menyebar. Memperjelas teror mutlak untuk siapa pun yang menyaksikan momen tersebut.


Puluhan Prajurit Kekaisaran yang tersisa seketika kehilangan niat bertarung, lalu menjatuhkan senjata mereka dan kabur menuju Gerbang Utama. Lari kocar-kacir tanpa memedulikan perintah ataupun harga diri sebagai prajurit.


“A-Apa yang kalian lakukan?” Dengan tubuh gemetar dan wajah pucat, seorang Komandan Peleton mengentakkan tombaknya beberapa kali. Ia lekas menunjuk lurus ke arah sang pemuda, lalu dengan suara lantang memerintahkan, “Lawan! Jangan kabur! Dia hanya seorang diri! Cepat bentuk ulang formasi tempur kalian! Kita pasti menang jika bersatu⸻!”


Sebelum perkataannya selesai, tiba-tiba pedang hitam melayang keluar dari bangunan di ujung jalan. Melewati lubang pada dinding, lalu melesat kencang dan memenggal Komandan Peleton.


Kepala jatuh menggelinding, helm besi terlepas, dan darah berceceran. Dua detik kemudian tubuh pria itu pun ambruk, jatuh tengkurap di hadapan para prajurit yang kabur.


Pedang hitam terbang menuju pemiliknya, kembali ke dalam genggaman Odo tanpa lecet sedikit pun. Sekilas asap putih keluar dari permukaan bilah, efek dari penurunan suhu yang terjadi secara ekstrem.


Menyaksikan momen terakhir komandan mereka, Pasukan Kekaisaran yang tersisa langsung melarikan diri. Belasan prajurit yang sebelumnya terhempas segera bangun, lalu lari bersama rekan-rekan mereka menuju Gerbang Utama.


Meski pendengaran mereka masih terganggu karena gelombang kejut, para prajurit seketika paham harus kabur setelah melihat kondisi tempat itu.


“Akhirnya mundur juga ….” Odo tidak mengejar mereka, memilih untuk menahan diri dan menurunkan pedangnya. Ia sejenak menghela napas, berusaha menenangkan pikiran dan terdiam muram. Perlahan ia melirik ke arah Canna dan Opium, lalu melempar senyum palsu sembari bertanya, “Kalian baik-baik saja?”


“Anda tidak bermaksud membunuh kami, ‘kan?!” Opium segera bangun, memapah Canna yang masih tertegun karena serangan tadi. Telinga mereka masih berdengung, tidak bisa mendengar perkataan pemuda itu dengan baik. “Serangan tadi jelas-jelas mengincar Senior! Kami bisa mati kalau tidak menghindar tepat waktu, tahu!” bentaknya dengan kesal.


“Mana mungkin aku ingin membunuh kalian!” Odo sekilas mengangkat pundak. Memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Serangan tadi murni untuk memusnahkan mereka! Kau tahu, dia hampir ditusuk dari belakang karena bicara sembarangan tadi ….”


“Akh! Masih berdengung! Ini …!” Opium berhenti memapah rekannya. Sembari menutup kedua telinga dengan telapak tangan, penyihir rambut cokelat kemerahan itu lanjut bergumam, “Ini menyakitkan! Rasanya seperti kemasukan air laut! Perih!”


“Mau aku sembuhkan?” Odo mengulurkan tangan kirinya.

__ADS_1


“Hah? Apa kata Anda tadi?!” Opium tidak mendengarnya dengan jelas. Menangkap maksud Odo dari gestur tubuh, perempuan berjubah biru indigo itu dengan nada kasar balik bertanya, “Disembuhkan?! Apanya?!”


“Serius?”


Putra Tunggal Keluarga Luke berdecak kesal. Sejenak menghela napas, ia meraih pergelangan telapak tangan kanan Opium dan menariknya turun dari telinga.


Tanpa basa-basi, Odo langsung menepuk telinga kanan perempuan itu dengan cukup keras. Darah yang menggumpal di sekitar gendang telinga seketika bergetar, kemudian terurai dan mengalir keluar seperti meleleh.


“Eh?” Opium menatap bengong, membuka matanya lebar-lebar dan bingung harus menyampaikan apa. “Hanya dengan ditepuk, pendengaran saya langsung kemari?” tanyanya seraya menundukkan kepala. Ia sejenak memeriksa telinga kanan, lalu membersihkan darah yang mengalir dengan lengan jubah.


“Sudah mendingan?” tanya sang pemuda sembari menyipitkan mata. Ia kembali berdecak kesal, lalu menunjuk lurus sembari meminta, “Bisa berbalik sebentar?”


“Hah?” Opium sedikit memiringkan kepala, masih belum bisa memahami situasi dan terlihat bingung. “Tidak masalah! Memangnya mau apa?” ujarnya seraya berbalik.


“Bagus!”


Tanpa basa-basi lagi, Odo langsung menepuk telinga kiri Opium. Menggunakan metode serupa untuk menyingkirkan darah yang menggumpal, menyembuhkan pendengaran perempuan itu.


“Ah!” Opium tersentak. Meski tidak menyakitkan, tepukan itu cukup untuk membuat otaknya sedikit bergetar. Wajahnya tampak semakin bengong, kesulitan mencerna situasi yang ada. “A-Apa yang terjadi?” ujarnya seraya menggelengkan kepala.


“Tidak ada …” Odo menonaktifkan struktur sihir pada pedang hitam, lalu menyodorkannya kepada Opium sembari meminta, “Bisa titip sebentar?”


“Hmm? Tentu saja⸻! Uwah!” Opium hampir tersungkur saat menerima pedang hitam itu, sempoyongan dan akhirnya jatuh ke belakang. Terduduk lemas pada anak tangga, perlahan mengangkat wajah dan menatap bingung. “Be-Berat sekali! Apaan ini?!” ujarnya seraya berusaha mengangkat artefak sihir tersebut.


“Diamlah!” bentak Odo.


Ia segera menghampiri Canna, kemudian langsung menepuk kedua telinga perempuan itu dengan cukup keras. Mengeluarkan darah yang menggumpal di sekitar gendang telinga, lalu memulihkan pendengarannya.


“Ayahanda?” Canna mengangkat wajahnya dengan bingung, menatap kosong sembari lanjut bertanya, “Tuan Odo …?”


“Ya, ini aku! Odo Luke!” Pemuda itu sekilas mengernyit. Sedikit menunduk dan mendekatkan wajah, ia dengan nada tegas bertanya, “Jadi, kenapa balik lagi? Bukankah kalian berdua sudah berangkat ke Miquator?”


“I-Itu benar!” Pikiran perempuan itu akhirnya kembali normal. Setelah menggelengkan kepala beberapa kali, ia dengan ekspresi panik segera menjelaskan, “Nona An berkhianat! Dia membocorkan semua informasi tentang Anda! Kalau dibiarkan, hal buruk akan terjadi! Kami kemari untuk memberitahu itu!”


“Hal buruk apa?” Odo sekilas memalingkan pandangan, melihat ke arah kerumunan pasukan yang berdesakan di persimpangan jalan. Kembali menatap lawan bicara, pemuda rambut hitam tersebut lanjut bertanya, “Memangnya ada yang lebih buruk dari ini? Lihat mereka semua, kacau sekali! Bahkan ada prajurit yang mati terinjak-injak rekannya sendiri! Konyol sekali, bukan?”


“Nama! Jenderal Fai! An! ****** itu, dia⸻!”


Canna tersedak air liurnya sendiri, terlalu panik sampai tidak bisa menyampaikan maksud dengan baik. Ia menggerak-gerakan tangan seperti orang bisu, tidak bisa memilih kalimat yang tepat dan mulai kebingungan.


“Tenanglah, tarik napas dulu dan rileks sedikit …. Aku mendengarkan, kok!” Odo menebak maksud perempuan itu. Samar-samar menyadarinya, pemuda rambut hitam tersebut lekas memastikan, “Memangnya apa yang An Lian sampaikan kepada Jenderal Fai?”


“Jalang itu memberitahukan nama orang-orang terdekat Anda di kota ini!”


“Ah⸻!” Odo langsung tercengang, ekspresi santai seketika berubah muram. Sedikit memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam tersebut bergumam, “Sialan! Oh, Kaisar Leben Tsukihi …. Lama-lama aku muak dengan pasukan yang engkau kirim!”


“Eh?” Canna sedikit terkejut saat mendengarnya. Mendekatkan wajah, perempuan rambut putih uban tersebut dengan penuh penasaran bertanya, “Mengapa Anda tiba-tiba menyebut nama Kaisar Abadi itu?”


“Soalnya dia biang kerok kekacauan ini!” Odo melirik resah, melempar senyum kecut sembari lanjut menjawab, “Aku juga bersalah karena waktu itu kabur tanpa memberikan penjelasan yang memuaskan, sih ….”


“Apa yang Anda bicarakan?” Opium sedikit memiringkan kepala, tampak semakin bingung dan sedikit menjauh dari lawan bicara. Menundukkan wajah, ia sejenak meletakkan tangan kanan ke depan mulut sembari bergumam, “Jangan-jangan dia juga ingin melanggar perjanjian itu? Sama seperti yang kami lakukan dulu ….”


“Perjanjian apa?” tanya Odo dengan nada tinggi. Meski sekilas dirinya bisa menerka maksud Canna, ia lebih memilih untuk lanjut mengintimidasi dan menekan, “Kalian juga berhubungan dengan Kaisar itu, ya? Apa yang kalian sepakati? Perjanjian apa yang dilanggar?”


“Ti-Tidak ada!” Canna semakin menjauh, melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh dinding bangunan di pinggir jalan. Sembari memalingkan pandangan, penyihir rambut putih uban tersebut mengelak, “Kami sama sekali tidak menjalin perjanjian! Sungguh!”


“Yakin?” Reaksi itu melebihi perkiraan Odo. Mulai penasaran, pemuda rambut hitam tersebut perlahan menyipitkan mata sembari lanjut bertanya, “Apa itu juga ada kaitannya dengan Dewi Helena?”


“Hah?” Canna seketika memucat, tubuhnya gemetar dan keringat dingin mulai bercucuran. Menghindari kontak mata dengan lawan bicara, perempuan rambut putih uban tersebut kembali mengelak, “Ti-Tidak ada! Sungguh!”


“Serius? Mereka masih merencanakan hal lain⸻?!”


Sebelum perkataan Odo selesai, tiba-tiba suara ledakan terdengar keras dari arah Gerbang Utama. Mereka langsung menoleh, terbelalak saat melihat kobaran api dan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi.


“Ifrit?!” Odo langsung mendongak, kemudian segera mengaktifkan Radd Sendangi dan bertanya, “Itu ulahmu?!


“Eh⸻?” Ifrit tersentak, sedikit tersinggung dan lekas membantah, “Bukan diriku! Tolong jangan asal tuduh, ya! Itu ulah gadis manusia di sana! Dia menggunakan sihir plasma untuk membakar pasukan musuh!”

__ADS_1


“Sebentar …!” Odo kembali menatap ke arah ledakan, sedikit menyipitkan mata sembari bergumam, “Jangan-jangan itu ulah Lisia?”


ↈↈↈ


__ADS_2