
Senja kemerahan. Saat hari semakin gelap, kabut menipis dan awan mendung yang menutupi langit pun menyingkir. Membiarkan sinar kemerahan memapar kota, memberikan kesan yang seakan menyampikan kesedihan dalam sebuah akhir.
Di antara lalu-lalang penduduk yang malah ramai pada penghujung hari, mereka berdua berjalan tanpa saling menatap ataupun melempar kata. Bergandengan, menuruni anak tangga tanpa tujuan yang jelas ingin pergi ke mana. Hanya tahu bahwa mereka melangkah untuk membicarakan suatu hal penting, di tempat yang jauh dari Mansion Keluarga Stein.
Ri’aima masih mengenakan pakaian pesta, berupa Maxi Dress berwarna merah kirmizi dengan aksen lipatan dari pinggang sampai bawah. Pada kedua tangan mengenakan sarung tangan merah, panjang satu siku dan memiliki hiasan rajutan bunga pada bagian punggung.
Lalu, pada kedua kaki perempuan itu pun masih mengenakan sepatu hak tinggi. Tampak sedikit kesulitan saat menuruni anak tangga, karena menyesuaikan kecepatan langkah kaki pemuda yang menggandengnya.
Untuk Odo sendiri, ia masih mengenakan pakaian yang sama seperti kemarin. Layaknya sudah menjadi ciri-ciri pemuda rambut hitam tersebut, kemeja berlapis rompi merah dan celana hitam seakan melekat padanya.
Meski saling terhalang sarung tangan masing-masing, mereka berdua bisa saling merasakan perasaan melalui genggaman. Sang pemuda memahami rasa cemas dan sedih dalam diri perempuan tersebut, lalu pada saat yang sama sang perempuan juga memahami keteguhan pemuda itu.
Namun takut untuk memastikan, Ri’aima sama sekali tidak berusaha untuk mendapatkan penjelasan. Takut dengan fakta yang mungkin bisa akan menghancurkan hatinya sampai berkeping-keping.
Tanpa sepatah kata atau berusaha untuk menolak ajakan Odo, perempuan rambut biru pudar tersebut hanya menundukkan wajah dengan muram. Patuh mengikutinya.
Dalam langkah yang mengarah ke balai kota, Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan melirik ke arah Ri’aima. Menyipitkan mata dan segera bertanya, “Apa kau tahu tempat yang bagus untuk makan malam? Selama di sini, aku tidak sempat mampir tempat-tempat seperti itu.”
“Saya … tahu.” Jawaban tersebut keluar dengan suara pelan. Tanpa berani menatap langsung mata lawan bicara, dengan nada gemetar Ri’aima menambahkan, “Te-Tetapi, mungkin saja itu sudah disewa. Sa-Saya dengar … banyak pejabat yang mengadakan rapat kecil setelah acara selesai …, jadi mungkin ….”
“Benar juga, kalau begitu kita makan di mana?” Odo kembali menatap ke depan, sedikit mengangkat kepala dan bergumam, “Jujur aku benar-benar enggak tahu tempat makan yang layak di sini? Masa ke penginapan Babi Gunung itu?”
“Ba-Bagaimana kalau tempat camilan … di kompleks pertokoaan? Sebelum ka-kawasan pertambangan di sudut kota, ada toko kecil di sana. Saya … dulu sering pergi ke sana untuk beli beberapa kue kering.”
Odo perlahan tersenyum mendengar perkataan tersebut, merasa Ri’aima sudah sedikit tenang meski caranya bicaranya agak tergagap. Dari genggaman tangan, ia tidak lagi merasakan perempuan itu gemetar. Seakan telah memastikan sesuatu, Putra Tunggal Keluarga Luke menarik napas dalam-dalam.
“Baiklah, mari pergi ke sana. Jam sekarang masih bukan, ‘kan?”
“Se-Seharusnya masih buka, tokonya tutup malam.”
“Kau sering ke sana, Nona Ri’aima?”
“Hmm, sering ….”
“Begitu, ya.”
Dalam langkah bersama, sebuah pembicaraan ringan pun mulai mengisi di antara mereka. Menyingkirkan canggung dan kecemasan yang ada sebelumnya, lalu mengubahnya menjadi perasaan yang mulai menghangat dalam benak masing-masing.
Dalam tatapan Ri’aima memang masih ada sebuah rasa takut, cemas harapannya benar-benar dikhianati oleh Odo. Namun, di sisi lain perempuan rambut biru pudar tersebut lebih memilih untuk melupakannya sejenak.
Baik itu untuk melindungi hatinya sendiri ataupun ingin sejenak lari dari kenyataan, ia dengan jelas perlahan-lahan lagi menyingkirkan itu ke sudut kepala. Berusaha untuk tenang, lalu memulai pembicaraan seperti biasanya.
.
.
.
.
Untuk disebut sebuah cinta, sesuatu yang ada di antara mereka memang terlalu abstrak. Pada dasarnya perasaan itu sendiri adalah sesuatu yang tidak jelas, hal tak berbentuk dan tidak bisa dijelaskan dengan tepat dalam kata-kata.
Namun, dengan jelas itu bisa dirasakan. Membuat hari lebih berwarna, entah itu dengan sesuatu yang indah ataupun menyedihkan. Melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda, lalu merasakan kebahagiaan dari berbagi sesuatu.
Sejak pertemuan pertama, hati Ri’aima seakan telah dicuri oleh anak lelaki yang ia temui waktu itu. Disentuh oleh sesuatu yang tidak bisa dipahami, lalu diubah dari dalam. Meski seharusnya dunia tidak jauh berbeda dari biasanya, sejak pertemuan tersebut Ri’aima merasakan segala hal yang ada berubah.
Langit, tanah, bangunan, orang-orang, dan bahkan dirinya sendiri. Semuanya terasa sangat berbeda dari biasanya, sampai-sampai semua itu membuatnya merasa aneh.
Bahkan saat bersama dengan Odo, perempuan rambut hitam itu merasa seperti segalanya direbut. Hati, tubuh, dan pikiran, semua serasa direnggut darinya. Menyisakan kekosongan dalam benak, lalu diisi oleh rasa senang tanpa alasan yang jelas.
Ri’aima sendiri tidak tahu hal yang membuatnya suka dengan pemuda bernama Odo Luke tersebut. Entah itu sifat, pola pikir, ataupun paras, dirinya tidak tahu bagian apa yang membuatnya suka. Tetapi seakan hanya bisa senang saat bersama pemuda itu, perempuan rambut biru pudar tersebut rela menjadi buta dengan kebenaran.
Membiarkan apa yang telah dirinya lihat hanyut dalam pembicaraan tidak penting, lalu tanpa sadar tersenyum dan menikmati keburukan yang ada. Layaknya bentuk penghancuran diri karena cinta, hal itu membuat Ri’aima kecanduan. Layaknya sebuah rasa manis kental dari sebuah cerutu, ia menghisapnya masuk ke dalam paru-paru dan dihembuskan ke udara hanya untuk menghilang.
Duduk berhadapan pada sebuah toko camilan di pojok kota, kedua insan tersebut hanya diam tanpa bertukar kata. Sejenak menikmati ketenangan yang ada, tanpa adanya suara ramai karena hanya mereka pengunjung di tempat tersebut.
Layaknya tempat berkelas, desain arsitektur barok cukup mendominasi di tempat tersebut. Beberapa lukisan dipajang pada dinding, memiliki tata letak ruangan seperti sebuah kafe, dan pencahayaan pun cukup redup dengan beberapa lentera yang digantung serta lampu lilin.
Warna cokelat mendominasi, bersama dengan hijau dari beberapa tanaman herbal yang digantung pada langit-langit ruangan. Di beberapa sudut, tampak juga stoples-stoples besar berisi camilan kering yang dipajang di meja counter toko. Membebaskan pembeli untuk memilih secara langsung, baik untuk dibungkus ataupun dibawa pulang dengan bungkus kotak kayu.
Melihat semua yang ada di dalam toko camilan tersebut, Odo baru sadar bahwa itu memang benar-benar tempat untuk kalangan atas. Ia mengerutkan kening karena merasa sedikit cemas. Bukan karena kondisi dompet, namun lebih cenderung cemas terhadap selera dan gaya hidup Ri’aima.
Camilan yang mereka pesan serupa, terdiri dari beberapa jenis kue sus dan Strudel Apel. Masing-masing tiga buah, diletakkan di atas piring cawan kecil dan ditata indah dengan sentuhan garnis daun mint.
Untuk minuman yang dipesan, Odo memesan teh herbal tanpa kandungan alkohol. Dengan sedikit gula dan tampak masing hangat.
Di sisi lain Ri’aima memesan Wassail, sebuah minuman dari sari buah dan rempah-rempah hangat. Mengandung sedikit alkohol, lalu hiasan potongan lemon di pinggir gelas dan kayu manis dicelupkan ke dalam.
Mengamati makanan dan minuman yang tersaji, Odo Luke segera tahu bahwa hampir semua bahan yang digunakan bukan berasal dari Rockfield. Meski jenis menu yang disajikan pada tempat tersebut tidaklah jarang untuk kalangan atas orang-orang Felixia.
“Mereka membelinya dari orang-orang Kekaisaran yang mampir ke sini?” benak Odo dengan mimik wajah datar.
Menghela napas sekali, pemuda yang duduk di dekat jendela tersebut melihat ke luar. Sejenak memasang senyum tipis saat melihat lalu-lalang orang yang baru pulang dari pertambangan, lalu kembali menatap ke arah Ri’aima.
“Mungkin ini akan membuat kau terpukul. Meski begitu, masih ingin tetap mendengarnya?”
Pertanyaan seperti itu keluar dari mulut sang pemuda, membuat Ri’aima mengangkat wajah dan menatap langsung matanya. Ia mengangguk, lalu berusaha memasang wajah tegar meski dalam hati merasakan cemas dan takut yang luar biasa. Sampai-sampai keringat dingin sedikit keluar.
“Tentu …. Apapun itu, saya ingin mendengarnya. Mengapa … Tuan Odo melakukan hal seperti itu kepada Ibunda? Lalu, kenapa tadi Ibunda tampak sudah sembuh? Saya … ingin mendengar penjelasannya langsung dari Anda.”
__ADS_1
“Bagaimana aku harus memulainya ….” Odo mengangkat cangkir, lalu sedikit minum tanpa niat untuk menikmatinya. Sejenak melihat refleksi dirinya di permukaan teh herbal, ia perlahan tersenyum tipis dan tanpa ragu berkata, “Ibumu itu …, Nyonya Agathe, pada dasarnya dari awal tidak gangguan mental. Beliau dari awal sehat-sehat saja.”
“Eh?”
Kedua mata Ri’aima terbuka lebar, mulut sedikit menganga dan ingin bertanya. Namun seakan ditahan oleh sesuatu, suara tidak bisa langsung keluar. Dengan penuh kebingungan, ia berusaha memahami perkataan Odo dan sejenak terdiam.
Sebelum perempuan rambut biru pudar tersebut mendapatkan kesimpulan, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berkata, “Dari pertama kali melihatnya, aku tahu kalau beliau hanya berbohong. Orang gangguan mental tidak akan pernah mengacuhkan orang lain. Tapi saat pertama kali bertemu, dia bertingkah layaknya tidak ada aku. Hanya diam, pura-pura tidak melihatku.”
“Ke-Kenapa Anda⸻?”
“Karena pada hari pertama datang …, Nyonya mengajak diriku bicara. Panjang lebar membahas beberapa hal.”
Tentu saja Ri’aima tidak ingin menerima ucapan tersebut, memalingkan pandangan dan menganggapnya hanya sebatas kebohongan. Namun saat mengingat kejadian di Manson pada saat Odo hendak meniduri ibunya, perempuan rambut biru pudar tersebut tertegun. Merasa kalau ibunya tersebut memang memiliki banyak kebohongan.
Dari awal, Ri’aima bukanlah anak yang dekat dengan kedua orang tua. Termasuk juga ibunya sendiri. Baik sifat, kepribadian, pola pikir, atau bahkan selera sang ibu, Ri’aima sama sekali tidak mengetahuinya. Apa yang Putri Sulung Keluarga Stein itu tahu dari Agathe hanya sikap dingin, kesan seorang wanita pendiam dan tengas.
Meski dirinya menyebut Agathe seorang ibu, namun sebenarnya Ri’aima sendiri merasa asing dengannya.
Perempuan rambut biru pudar tersebut menatap Odo dalam rasa cemas. Bukan tentang soal Agathe, namun tentang alasan di balik tindakan sang pemuda. Daripada keluarganya sendiri, ia lebih cemas dengan alasan yang membuat Putra Tunggal Keluarga Luke melakukan hal tersebut.
“Lantas, mengapa Tuan Odo ingin melakukan tindakan tercela itu? Apa … yang telah Anda bicarakan dengan Ibunda?”
Odo tidak segera menjawab. Sejenak memalingkan pandangan, ia dengan nada sedikit risih berkata, “Ini menyangkut Keluarga Stein. Jika mendengar ini, mungkin pandangan Nona akan sedikit berubah⸻”
“Tidak masalah!”
Ketegasan Ri’aima sedikit membuat Odo terkejut, tidak mengira perempuan itu akan menjawab secepat itu. Berhenti memalingkan pandangan dan menatap lurus lawan bicara, pemuda rambut hitam itu seketika memasang mimik wajah serius.
“Nyonya Agthe … pada dasarnya membenci Keluarga Stein, terutama Tuan Oma. Beliau memendam dendam besar kepada suaminya sendiri, atas apa yang telah dilakukannya kepada Keluarga Swirea …. Kekacauan selama transisi kekuasaan Rockfield, nona pasti pernah mendengar hal tersebut, bukan?”
Ri’aima seketika tersentak. Itu bukan berarti ia tidak pernah mendengar sejarah kelam Keluarga Stein dan Rockfield. Dirinya juga tahu bahwa keluarga sang ibu dulunya adalah Swirea.
Tetapi, ia baru tahu bahwa kekacauan selama transisi kekuasaan berkaitan dengan Keluarga Swirea. Hilangnya keluarga bangsawan tersebut dari daftar bangsawan Kerajaan Felixia.
“Keluarga Swirea …, bukankah mereka runtuh selama perang melawan Miquator? Karena kekalahan yang mereka sebabkan, sebagai pertanggungjawaban gelar bangsawan dicabut dari keluarga tempat ibunda dulu ….”
“Anda membacanya dari arsip kota?” tanya Odo memastikan.
“Iya, saya pernah mencoba untuk mencari tahu di sana. Pada beberapa catatan, dikatakan juga selama transisi kekuasaan memang pernah kekacauan yang disebabkan para penyihir. Karena hal tersebut, Keluarga Stein menjadi tidak suka dengan para penyihir. Terutama mereka yang berasal dari Miquator.”
“Ah ….” Odo menatap Ri’aima dengan mimik mengasihani, lalu sedikit mengerutkan kening dan berkata, “Benar-benar kebohongan yang ditata rapi. Tak heran tidak banyak yang menyadarinya. Meski seharusnya kejadian tersebut patut dipertanggungjawabkan.”
Ekspresi dan nada yang digunakan Odo terkesan sudah tidak peduli. Namun, hal tersebut malah membuat Ri’aima gemetar cemas.
Putra Tunggal Keluarga Luke memperlihatkan ekspresi kecewa yang sangat dalam. Seakan-akan telah lelah untuk marah kepada Keluarga Stein, atas dosa yang tidak Ri’aima ketahui sampai sekarang.
“Kekacauan selama masa transisi …, yang menciptakan pembantaian itu adalah Oma Stein sendiri.” Odo sekali lagi berkata tanpa ragu. Tidak lagi menahan diri ataupun menunggu lawan bicaranya siap, ia kembali berkata, “Dia …, Oma Stein bukanlah orang baik seperti yang Nona kira. Bahkan …, mungkin Nyonya Agathe malah menganggapnya sebagai orang jahat.”
Setelah itu, apa yang Odo katakan adalah semua hal yang pernah dirinya dengar dari Rosaria. Tentang masa lalu Oma Stein dan Agathe Swirea, lalu tentang sebuah keluarga yang terbentuk dari dua orang yang tidak saling mencintai.
Sebuah kekejaman di masa lalu, dilakukan oleh pria yang sekarang ini dengan bangga menjabat sebagai pemimpin Rockfield. Menguasai orang-orang yang dahulu keluarga mereka dibunuh oleh sang pemimpin itu sendiri.
Dengan gamblang, Odo menjelaskan masa lalu yang ada di antara Oma dan Agathe. Memberitahukan fakta yang ada di balik hilangnya Keluarga Swirea dari daftar bangsawan. Tanpa dikurangi atau dilebih-lebihkan, hanya menyampaikan hal yang ia pernah dengar dari Rosaria dan hasil Spekulasi Persepsi atas dasar informasi tersebut.
Menyampaikan pembantaian para pejabat yang tidak mendukung Oma saat itu, eksekusi Keluarga Swirea, lalu kebenaran di balik para Penyihir Miquator yang dijadikan kambing hitam. Seluruhnya disampaikan dalam suara tanpa empati sedikitpun, hanya mengutarakan tersebut dengan jelas.
Saat hari semakin gelap dan tempat mereka hampir tutup, Odo selesai menyampaikan semua hal yang perlu dan sesaat terdiam. Meski tempat tersebut kurang pencahayaan, lilin yang menyala di langit-langit membuat wajah sedih Ri’aima terlihat jelas oleh sang pemuda.
Terpukul, benar-benar tidak menyangka bahwa keluarga yang dirinya bangga-banggakan selama ini adalah pendosa. Parahnya lagi, mereka tidak mengakui dosa tersebut dan bertindak layaknya seorang pemimpin dengan bangga.
Harga diri, prinsip, dan kebanggaan perempuan rambut biru pudar tersebut runtuh. Membuatnya tidak bisa mengangkat wajah, bahkan malu karena lahir sebagai anak dari keluarga bangsawan seperti itu.
Merasa tidak ingin terlalu berlama-lama, Odo menghabiskan teh herbal dan meletakkan cangkir di meja. Ia menatap perempuan di hadapannya, lalu dengan tegas berkata, “Terkadang ada bangsawan seperti itu. Mereka serakah, menindas yang lain, lalu menyebarkan kebohongan. Namun, di balik tindakan pasti ada alasan yang sepadan.”
“Maksud Anda …, Ayahanda punya alasan untuk membantai banyak orang tidak bersalah? Memangnya alasan seperti apa itu? Anda … hanya ingin menghibur saya, ‘kan?”
“Aku tidak sedang menghibur siapa-siapa, Oma memang punya alasan. Mungkin untuk dirinya sendiri, keluarga, atau bahkan kota ini. Apapun itu, hanya dia yang tahu hal tersebut. Namun ….” Odo memalingkan pandangan ke luar jendela dan melihat jalanan yang sudah sepi. Setelah menghela napas sekali, ia kembali menatap ke arah Ri’aima dan berkata, “Apapun alasannya, itu bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. Dosa adalah dosa, kesalahan adalah kesalahan. Itu tidak bisa diubah.”
“Jika memang menjadi bangsawan berarti menginjak hak orang lain, saya lebih berharap tidak menjadi salah satunya. Saya pikir … bangsawan adalah orang yang melindung orang-orang lemah, sebagai gantinya mereka mendapat kehormatan yang tinggi. Namun … jika seperti ini, apa bedanya bangsawan dengan para bandit?”
Ucapan Ri’aima dipenuhi kesedihan. Sembari menatap, perempuan rambut biru pudar tersebut meneteskan air mata dengan deras. Benar-benar kecewa, merasakan kesedihan luar biasa dan penyesalan. Merasa semua pencapai yang telah didapat Keluarga Stein baru-baru ini bukanlah hal yang pantas.
Bahkan, sekarang ini juga ia ingin berlari keluar. Mengungkapkan kebenaran tersebut kepada semua orang, lalu menghancurkan semua hal yang telah dibangun Keluarga Stein.
Tetapi saat mengingat adik-adiknya, perempuan itu hanya bisa kembali menundukkan wajah dan menahan kekecewaan dalam tangis. Merasa tidak berdaya dengan sebuah kebohongan yang menyelimuti.
“Kau memang mirip Nyonya ….” Hal tersebut terucap dari mulut Odo dengan lembut. Sembari melemparkan senyum lemas, pemuda itu sedikit memiringkan kepala dan berkata, “Ia tidak bisa memaafkan Oma mungkin karena hal seperti itu juga. Selalu memendam dendam, rela bertahan dengan orang yang tidak ia sukai demi kalian. Apapun alasannya, ia dengan kukuh terus memendam dendam tersebut. Di mataku Agathe memang seorang ibu. Ibu dari anak-anak di Keluarga Stein.”
Ri’aima menyeka air mata, berusaha untuk berhenti menangis dan mendengarkan perkataan Odo baik-baik. Meski dipenuhi kesedihan dan rasa kecewa, rasa bingung kembali muncul dalam benak perempuan rambut biru pudar tersebut.
“Apa ... Tuan Odo … melakukan itu karena permintaan Ibunda? Anda … tidak bermaksud melakukan tindakan tercela itu, bukan?”
__ADS_1
“Nyonya hanya meminta saya untuk menghancurkan Keluarga Stein, saya juga telah berjanji akan melakukannya. Kejadian itu ….” Odo menundukkan wajah muram, sejenak menghela napas dan kembali berkata, “Adalah hal yang aku pilih. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk merusak Keluarga Stein.”
Kedua mata Ri’aima terbuka lebar, ia seketika paham mengapa waktu itu Odo berkata seakan lebih baik yang memergoki adalah Oma. Jika hal tersebut terjadi, hampir dipastikan Keluarga Stein akan rusak secara perlahan.
Hubungan yang retak akan semakin hancur, membuat celah semakin lebar. Hal tersebut akan mempengaruhi atmosfer di dalam Keluarga Stein dan merusak dari dalam. Meski tidak hancur seperti Keluarga Swirea, namun hal yang rusak di antara Oma dan Agathe pasti tidak akan bisa kembali diperbaiki. Sebuah hasil kehancuran keluarga dalam artian yang berbeda.
“Kenapa … Anda menjanjikan hal seperti itu? Anda tahu … hal tersebut hanya akan membuat Ibunda sedih, ‘kan? Kenapa?”
“Entahlah, aku juga tidak terlalu paham. Hanya saja ….” Odo perlahan menatap tajam, lalu dengan nada sedikit kesal berkata, “Aku juga merasa muak dengan Oma. Selama bertahun-tahun, Nyonya Agathe menahan perasaannya sendiri dan bersabar untuk momen itu. Hanya karena kedatanganku ke kota ini, penantian itu menjadi percuma.”
“Apa … yang Anda katakan? Itu seperti Ibunda yang membuat⸻”
“Bukan seperti, namun memang benar apa adanya.” Odo menggertakkan gigi. Dengan nada kesal yang memuncak, pemuda rambut hitam tersebut tanpa ragu membongkar, “Ayahmu jatuh sakit bukan karena sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno atau semacamnya, namun karena racun yang diberikan oleh Nyonya Agathe. Wanita itu …, dia telah bertekad untuk menghancurkan semua meski tahu dirinya sendiri akan hancur juga. Namun karena kepentinganku, hal itu tidak terwujud …. Tidak akan.”
Ri’aima benar-benar terdiam, semakin muak dengan semua kebohongan yang seakan sebesar gunung. Tanpa dirinya sadari, Keluarga Stein telah terperosok sangat dalam.
Bahkan, untuk sekarang ia tidak mengerti kenapa keluarga tersebut bisa utuh. Meski terbentuk dari dua orang yang tidak saling mencintai.
“Kenapa …?” Ri’aima mengangkat wajah dan menatap dengan mata memerah. Air mata sudah mengering, tatapan dipenuhi amarah dan dengan tegas menuntut penjelasan.
Tidak memahami pertanyaan abstrak tersebut, Odo hanya memasang mimik wajah enggan dan balik bertanya, “Kenapa …, maksud Nona?”
“Kenapa Tuan Odo mengatakan semua ini kepada saya? Anda … bisa saja berbohong dan membiarkannya begitu saja. Kalau itu perkataan Anda, mungkin … saya akan percaya. Namun, mengapa Anda malah ….”
Putra Tunggal Keluarga Luke tertegun, mengerti kalau perempuan rambut biru tersebut ingin melarikan diri dari kenyataan. Merasa telah telanjur menyampaikan semuanya, Odo meletakkan tangan kanan ke dada dan menegakkan posisi duduk.
“Aku hanya ingin Nona memilihnya. Semua kebohongan yang ada di Keluarga Stein, entah itu yang dibuat Oma ataupun Agathe, aku sudah muak dengan hal tersebut. Karena itu, aku ingin Nona Ri’aima memilihnya sendiri. Entah itu meneruskan kebohongan dan pura-pura tidak pernah mendengar percakapan ini, mengungkap itu dan menghancurkan semuanya, atau mengambil pilihan sendiri. Saya ingin Nona memilih!”
Ri’aima sekali lagi terdiam, merasa tidak berdaya saat dihadapkan pilihan seberat itu. Apa yang Odo katakan seakan ingin membuat dirinya menentukan nasib Keluarga Stein, ingin menghancurkan atau mempertahankannya.
“Curang … Kenapa Anda melimpahkan hal seperti ini kepada saya?”
“Aku sebenarnya juga ingin Keluarga Stein hancur, sama seperti Nyonya Agathe.” Odo meletakkan siku kiri ke atas meja, menyangga kepala dan menurunkan tangan kanan ke atas pangkuan. Menghela napas sekali dan memasang mimik wajah seakan tidak peduli, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Namun, di sisi lain aku juga butuh kalian. Hal itu membuatku tidak bisa memenuhi permintaan Nyonya, lalu pada akhirnya hanya bisa merusak Keluarga Stein ….Dengan cara yang menurut Nona sangat tercela.”
Ri’aima sesaat tertegun, paham bahwa Odo melakukan hal tersebut bukan karena keputusannya sendiri. Meski pemuda itu terang-terangan berkata ingin menghancurkan Keluarga Stein, perempuan tersebut malah memperlihatkan ekspresi lega. Dalam senyum sendu dan tatapan sayu, ia dengan lemas berkata, “Kalau begitu, tolong jangan lakukan itu lagi ….”
“Maksud Nona?”
“Ini … masalah keluarga kami, bukan masalah Anda.” Lega berubah menjadi sebuah ketegasan. Menatap tajam lawan bicara seakan telah memutuskan sesuatu, Ri’aima dengan jelas meminta, “Tolong … jangan ganggu kami lagi.”
Odo menyipitkan tatapan, berhenti menyangga kepala dan kembali bertanya, “Apa Nona akan membiarkan kebohongan mereka …? Ikut dalam kebohongan mereka dan hanya diam?”
“Tidak akan!” Ri’aima segera bangun dari tempat duduk. Meletakkan tangan ke depan dada, perempuan rambut biru pudar tersebut dengan tegas menyatakan, “Saya membenci hal seperti itu! Tidak mungkin saya akan diam saja setelah tahu semua ini ….”
“Terus, apa yang ingin Nona lakukan?”
“Saya akan bicara kepada mereka.” Jawaban tersebut keluar dengan nada sedikit ragu. Kembali duduk, dalam rasa tidak percaya diri ia berkata, “Saya akan membicarakan hal itu baik-baik dengan mereka, lalu mengungkap semuanya dan ….”
“Dan?”
“Saya akan pastikan mereka bisa saling menerima ….”
Odo terdiam dengan mimik wajah sangat meragukan. Merasa cara pandangan dan tindakan tersebut sangatlah naif, sebab hubungan yang telah retak bukanlah sesuatu yang bisa diperbaiki dengan mudah. Terlebih lagi jika hal tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Nona yakin bisa melakukannya?”
“Itu …” Keraguan tumbuh semakin kuat dalam benak Ri’aima.
Merasa tidak ingin memperpanjang pembicaraan, Odo segera memutuskan dalam benak. Benar seperti kata Ri’aima sebelumnya, hal tersebut adalah urusan Keluarga Stein. Orang luar seperti Odo tidak bisa seenaknya memutuskan secara sepihak.
Sebab itu, Putra Tunggal Keluarga Luke mengangguk dan berkata, “Baiklah. Jika itu keputusan yang Nona ambil, saya tidak akan mengusiknya lagi. Saya menyampaikan ini karena ingin membuat Nona memilih. Apapun hasilnya, kali ini saya hanya akan melihat.”
“Saya akan berusaha mengubah mereka.” Ri’aima menyatukan kedua tangan dengan gemetar. Dipenuhi rasa cemas karena keputusan yang telah diambil, perempuan rambut biru pudar itu kembali berkata, “Layaknya Tuan Odo mengubah saya, akan saya membuat mereka berubah dan saling menerima …. Entah selama apapun itu, saya pasti akan mengubah mereka!”
“Semoga saja … mereka bisa berubah.”
Odo tidak terlalu berharap dengan hal tersebut. Urusan Keluarga Stein bukanlah sesuatu yang wajib diselesaikannya.
Ia ikut campur ke dalam masalah sensitif tersebut hanya karena janji yang pernah dibuat dengan Agathe, tidak lebih dari itu.
\=========================
Catatan Kecil:
Fakta 051: Dari penjelasan Fakta 049, dapat diketahui bahawa Fakta 043 dan Fakta 044 adalah "salah".
Hierarki Dunia Sesungguhnya (Semakin tinggi tingkat dimensi, maka waktu akan semakin lambat) adalah :
Surga dan Arsh.
Kayangan.
Dunia Nyata.
Dunia Astral.
Alam Kematian / Neraka / Naraka.
Catatan :
Oke, kawan ….
Dekadensi Rockfield dengan ini dinyatakan berakhir. Meski konklusi tidak menyentuh beberapa pembahasan yang tersisa, karena akan dibahas Next.
Next akan beda judul.
“Angelus”
Welcome to the dark side!
See You Next Time!!
__ADS_1