
Beberapa piring berisi sarapan disajikan pada meja, membuat irama tersendiri saat alat-alat makan saling bersentuhan. Beberapa pelayan masuk dengan mendorong meja troli yang terbuat dari kayu jati mengkilap, lalu menata masakan, minuman, dan buah-buahan sebagai makanan pembuka.
Pada momen tersebut, untuk pertama kalinya semua anggota Keluarga Stein dan seluruh tamu di kediaman tersebut duduk pada meja yang sama. Dalam suasana yang terkesan canggung dan tegang, mencerminkan masalah yang berkeliaran di antara mereka.
Odo, Canna, Opium, Huang, dan An Lian duduk pada satu deret yang sama di meja makan. Berseberangan dengan mereka, anggota Keluarga Stein duduk dalam satu deret dengan Oma dan Baldwin berada di tengah.
Mereka semua tampak rapi, telah membasuh tubuh dengan bersih dan mengenakan pakaian khas masing-masing. Semua anggota Keluarga Stein memakai seragam pejabat, kecuali Agathe yang mengenakan gaun berwarna merah kirmizi.
Untuk Canna dan Opium, kedua penyihir tersebut memakai pakaian jubah yang baru saja mereka beli di kota. Tanpa pantas layaknya seorang penyihir pada umumnya. Sama-sama mengenakan jubah berwarna ungu, lalu memakai topi kerucut meski berada di dalam ruangan.
Memiliki kesan yang berbeda dengan mereka, An Lina dan Huang memakai pakaian khas Kekaisaran. An mengenakan hanfu dengan dominasi warna putih dan tampak tertutup, lalu rambut hitam panjang miliknya digulung dan ditahan tusuk konde berhiaskan batu giok. Untuk Huang sendiri, Demi-human tipe serigala tersebut memakai Cheongsam untuk pria dengan kancing dibuka karena ukurannya terlalu kecil.
Satu-satunya yang tidak berganti pakaian dari kemarin hanya Odo, berupa kemeja putih dirangkap rompi merah dan celana bahan hitam. Namun, anehnya tidak ada aroma asam keringat ataupun kotoran yang tampak pada pemuda itu.
Selama para pelayan menata menu di meja makan, tidak ada di antara mereka yang memulai pembicaraan. Hanya diam, lalu sesekali saling menatap dalam suasana canggung bercampur tegang.
Bahkan setelah sarapan tertata rapi di hadapan mereka dan para pelayan meninggalkan ruangan tersebut, tidak ada yang mulai menyantap lebih dulu. Hanya saling terdiam, seakan mereka sedang menunggu sesuatu.
Tidak memedulikan suasana yang ada, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung mengambil alat makan berupa sendok sup. Tanpa sedikitpun niat untuk menikmati daging yang tersaji, pemuda rambut hitam tersebut hanya memilih masakan berbahan sayur-sayuran.
Memakan roti gandung sebagai makanan pokok dengan cepat, lalu menghabiskan hampir semua sarapan yang tersaji di hadapan sebelum semua orang sempat menyentuh alat makan. Itu membuat semua orang yang melihatnya terkejut, mereka baru pertama kali melihat Odo makan sangat lahap seperti itu.
Setelah selesai, Odo menyeka mulut dengan kain yang tersedia di meja. Setelah menghabiskan air putih dalam gelas dengan sekali tenggak, pemuda itu perlahan melirik ke sebelah dan bertanya, “Ngomong-omong, kalian akan berangkat kapan?”
An Lina yang duduk di sebelah pemuda itu langsung tersentak, mengurungkan niatnya untuk mengambil masakan daging panggang di atas meja. Perlahan menoleh, perempuan dengan paras khas orang Kekaisaran tersebut dengan terbata-bata menjawab, “I-Itu! Ka-Kami sudah siap berangkat sore ini! Ka-Kami sudah membuat perjanjian dengan sekte pedagang yang mau mengantar nanti, paling tidak sampai berbatasan.”
Dari pada grogi, An Lian lebih cenderung takut saat diajak Odo berbicara. Mengingat apa yang pernah pemuda itu lakukan kepadanya saat masih dalam perjalanan menuju Kota Pegunungan, rasa takut tersebut sangatlah wajar karena sudah tertanam sebagai trauma bagi perempuan rambut hitam tersebut.
“Kami akan pergi sore ini!” sambung Opium yang duduk di sebelah Canna. Sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi takut dan malah tampak meledek, penyihir rambut cokelat kemerahan tersebut menegaskan, “Setelah ini kami tak perlu merepotkan Tuan Odo lagi, jadi selamat tinggal! Heheh!”
“Opium!” tegur Canna yang duduk di sebelah Odo. Menyipitkan tatapan ke arah juniornya tersebut, penyihir rambut putih uban tersebut menekankan, “Kita sudah banyak dibantu Tuan Odo. Paling tidak, bisa tidak kamu lebih sopan sedikit.”
“Habisnya ….” Opium mengembunkan pipi. Sembari melipat tangan ke depan, penyihir rambut cokelat kemerahan tersebut berkata, “Rasanya aneh bersikap seperti itu kepada orang yang lebih muda dari diriku.”
“Biarkan saja, dia memang selalu begitu, ’kan?” Odo menepuk pundak Canna, membuat penyihir tersebut menoleh ke arahnya. Sembari memasang senyum tipis seakan tersirat sesuatu di dalamnya, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Kalian sudah menyiapkan semuanya? Sudah yakin mau berangkat sore ini? Bukankah bahaya kalau memulai perjalanan malam hari?”
“Seharusnya ini tidak masalah. Nona An sudah menyiapkannya dan kami sendiri sudah mengecek rombongan tersebut. Namun ….” Canna sekilas memperlihatkan mimik wajah curiga kepada Huang yang duduk di sebelah An Lina. Tidak ingin mengumbar hal semacam itu sebelum keberangkatan, penyihir rambut putih uban tersebut berkata, “Hmm …, ini tidak apa-apa. Tuan Odo sendiri, tolong jangan memaksakan diri dengan urusan yang ada di kota ini.”
__ADS_1
“Kau tak perlu khawatir ….” Odo menyandarkan tubuh ke kursi. Sedikit menghela napas dan memperlihatkan mimik wajah muram, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Aku sudah hampir selesai dengan kota ini. Kalian sendiri, sebaiknya berhati-hati selama perjalanan. Jangan lupa kalau perang bisa saja pecah kapan saja.”
“Saya … akan berhati-hati.” Canna sedikit menundukkan wajah, termenung dan tampak tak ingin berpisah dari Odo.
Menyadari ekspresi tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali duduk tegak. Ia mengeluarkan kantung berisi kristal sihir kualitas terbaik dari dimensi penyimpanan, lalu menyerahkannya dan berkata, “Ambil ini untuk bekal kalian.”
“Ta-Tapi ….” Meski menerima itu, Canna tetap saja cemas dan merasa enggan.
“Kristal yang aku berikan waktu itu, kau menggunakannya untuk transaksi dengan rombongan yang akan mengantar kalian, ‘kan? Kalaupun ada lebih, kalian sepertinya menggunakan itu untuk membeli pakaian dan alat-alat lain ….”
Canna dan Opium tersentak, benar-benar tidak menyangka pemuda itu bisa menebak sampai sejauh itu. Merasa tidak bisa menolak kebaikannya, Canna pada akhirnya menerima baik-baik kristal sihir tersebut meski hati masih bercampur-aduk.
Mendengar pembicaraan mereka dan melihat apa yang Odo serahkan, Putri Sulung Keluarga Stein memberikan tatapan heran. Tak menyangka pemuda rambut hitam tersebut bisa melakukan kebaikan tanpa bersyarat seperti itu.
Odo merasa tidak nyaman saat ditatap seperti itu. Balik menatap, pemuda rambut hitam tersebut dengan sedikit ketus bertanya, “Ada apa? Kenapa Nona menatap saya seperti itu?”
“Tidak apa-apa. Hanya saja ….” Ri’aima sedikit memalingkan pandangan. Lalu dengan niat untuk menyindir, perempuan rambut biru pudar tersebut menambahkan, “Saya tidak menyangka Anda bisa sangat lembut seperti itu, sampai-sampai memberikan pesangon kepada mereka.”
“Aku ini lembut kepada orang sendiri.” Odo sekilas memperlihatkan mimik wajah penuh rasa percaya diri. Segera berubah menjadi sedikit suram, ia sekali lagi menoleh ke arah An Lian dan bertanya, “Tentang sekte dagang yang akan mengantar, kalian menjual apa kepada mereka? Aku rasa … uang saja tidak akan menjamin perjalanan kalian sampai ke perbatasan.”
“I-Itu …, saya⸻!”
Dari cara bicara tersebut, Odo segera tahu apa yang Huang dan An Lina tukar dengan jaminan supaya bisa kembali ke negeri mereka. Tidak ingin mengusik hal tersebut karena Canna dan Opium akan ikut bersama mereka, pemuda itu hanya menghela napas dan tidak bertanya lebih lanjut.
“Canna ….” Odo mendongak resah. Tanpa menatap siapa-siapa, pemuda rambut hitam tersebut mengingatkan, “Jika kau hampir terlihat peperangan, kabur saja sekuat tenaga. Kalau tidak punya tempat untuk lari, datang saja ke tempatku.”
Mendengar itu, seketika mimik wajah Canna merona dipenuhi rasa senang. Ia mengangguk sekali, lalu dengan bahagia berkata, “Baik, Tuan Odo ….”
“Baiklah ….” Odo menatap ke arah anggota Keluarga Stein di seberang meja. Ingin memulai pembicaraan selanjutnya, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan jelas bertanya, “Untuk Nyonya Agathe dan Tuan Oma, kalian berdua setelah ini ingin melakukan apa?”
Meski mendengar itu dengan jelas, tidak ada dari keduanya yang menjawab. Mereka hanya terdiam, Oma memperlihatkan mimik wajah cemas dan Agathe hanya menatap datar ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke.
Seakan mewakili mereka berdua, Ri’aima malah balik bertanya, “Anda sendiri hari ini mau melakukan apa?”
“Hari ini sepertinya aku agak senggang. Namun, paling tidak aku ingin memastikan sesuatu dulu ….” Odo menatap lurus ke arah Ri’aima. Sembari melebarkan senyum tipis, pemuda rambut hitam tersebut bertanya, “Di dekat kota ini seharusnya ada Altar Gerbang Dunia Astral, bukan? Nona tahu letaknya di mana?”
Pertanyaan tersebut sedikit membuat Putri Sulung Keluarga Stein bingung. Bukan karena tidak tahu letak altar yang Odo tanyakan, namun bertanya-tanya mengapa pemuda itu mencari hal semacam itu.
__ADS_1
Ikut masuk dalam pembicaraan, Baldwin tanpa ragu sama sekali menjawab, “Itu berada di belakang Mansion ini. Kalau mau, saya bisa mengantar Anda.”
Mendengar adik yang duduk di sebelah menjawab seenaknya, Ri’aima menoleh dan sedikit mengerutkan kening dengan kesal. Kembali menatap ke arah Odo, perempuan rambut biru pudar tersebut dengan kesal menjelaskan, “Meski Anda mendatanginya, saya rasa mustahil mengaktifkan altar itu. Lagi pula, Anda butuh tombak yang disimpan Keluarga Luke dan turun ke bawah jurang yang sangat dalam.”
“Jurang …?” tanya Odo sedikit bingung.
Menggantikan Kakak Perempuannya, Baldwin ikut menjelaskan, “Seperti yang Tuan Odo tahu, letak Rockfield sebenarnya berada di tebing yang berbatasan langsung dengan laut. Kediaman ini tidak memiliki halaman belakang yang luas, karena tepat di belakang Mansion berbatasan dengan jurang dalam yang terhubung dengan laut teluk berarus deras.”
“Hmm, aku paham. Terima kasih sudah menjawab pertanyaanku. Lain kali, aku akan memeriksanya sendiri.”
Seakan tidak terlalu peduli penjelasan tersebut dan hanya fokus pada lokasi altar, pemuda itu tampak memikirkan sesuatu. Terdiam sesaat, lalu sejenak menarik napas dalam-dalam seakan telah memutuskan.
Sedikit penasaran dengan apa yang ingin Odo lakukan, Ri’aima dengan nada cerita memastikan, “Memangnya untuk apa Anda mencari altar itu?”
“Itu altar untuk ke Dunia Astral, tentu saja untuk pergi ke sana. Memangnya apa lagi?”
Apa yang Odo katakan seakan itu adalah hal wajar. Memikirkan sifat dan karakteristik Dunia Astral terhadap makhluk mortal, setiap orang yang mendengarnya pasti merasa sangat janggal dengan hal tersebut. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menanyakan.
Sebelum ada yang berbicara lagi, Putra Tunggal Keluarga Luke menyampaikan, “Aku berubah pikiran. Mungkin sepanjang hari ini aku akan sangat sibuk dan tidak bisa ditemui.”
“Eh?” Ri’aima tampak terkejut. Ingin mengetahui apa yang akan pemuda itu lakukan, ia dengan penasaran bertanya, “Tuan Odo benar-benar ingin pergi ke Dunia Astral? Memangnya untuk apa? Bukankah ada hal yang perlu Anda lakukan di sini?”
“Aku perlu menyelesaikan sesuatu di sana. Kalau ada yang mencari ku, tolong bilang saja kalau aku sedang sibuk. Jangan beritahu kalau aku pergi ke Dunia Astral atau semacamnya.”
“Anda … akan pergi sampai kapan?” tanya Ri’aima cemas.
Odo tidak bisa menjawab dengan pasti. Mempertimbangkan beberapa orang yang akan diajaknya pergi ke Dunia Astral, ia merasa itu akan memakan waktu cukup lama. Mempertimbangkan serangan dari Kekaisaran yang akan terjadi dalam waktu dekat, pemuda itu memperkirakan jangka waktu dengan pasti.
“Satu sampai dua hari …, mungkin.”
Jawaban tersebut sedikit membuat Ri’aima lega, sebab itu lebih cepat dari yang diperkirakan dirinya. Memalingkan pandangan dan meletakkan tangan ke dagu, perempuan rambut biru tersebut bergumam, “Jadi, bukan berarti ingin melakukan Ekspedisi Dunia Astral atau semacamnya, ya?”
Meski mendengar itu cukup jelas, Odo tidak memedulikan dan hanya diam. Segera beranjak dari tempat duduk, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Terima kasih banyak atas makanannya. Supnya sangat enak. Maaf, Nyonya Agathe dan Tuan Oma …. Saya ada keperluan mendesak. Saya harus pergi dulu.”
Tanpa menunggu Tuan dan Nyonya rumah membalas, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan tergesa-gesa keluar dari ruangan. Meninggalkan mereka semua yang bahkan belum sempat menyentuh alat makan.
Saling menatap, dalam bingung dan canggung yang semakin kuat karena sosok yang memulai pembicaraan pergi begitu saja. Pada akhirnya, momen sarapan tersebut berlangsung dengan atmosfer dingin. Hanya dengan pembicaraan-pembicaraan singkat seperti sapaan.
ↈↈↈ
__ADS_1