Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[115] Flamboyan Akhir Zaman IV – Pedang Kerajaan (Part 04)


__ADS_3

Mayat-mayat yang terbakar berserakan pada sepanjang jalan menuju barak. Pusat ledakan dipenuhi kepulan asap hitam, bercampur kobaran api merah gelap yang membumbung tinggi hingga belasan meter.


Inti ledakan sekilas masih memancarkan kilatan putih, mengeluarkan suara dengung layaknya korsleting listrik. Saat tertiup angin, arus pendek pun tercipta dan menyebabkan ledakan susulan.


Meski tidak menimbulkan gelombang kejut, percikan api menyambar bangunan yang ada di sekitarnya. Membakar genteng, lalu dengan cepat merambat ke dinding dan bagian dalam bangunan.


Pusat ledakan tidak lenyap, kilatan listrik mulai menjalar melalui kepulan asap dan kobaran api. Padatan plasma yang melayang perlahan terurai, lalu kembali meledak dan tersebar ke penjuru arah layaknya hujan api.


Membakar para prajurit yang menyaksikan kejadian itu dari dekat, entah itu dari kubu Rockfield ataupun Kekaisaran.


Tubuh mereka langsung terbakar saat tersentuh kilatan plasma putih terang, seketika dilahap oleh kobaran api berwarna merah gelap.


“Akh!! Tolong!! Tolong!”


“Panas!! Tolong padamkan apinya! Tolong!!!”


“Panas! Kenapa tidak padam! Sialan! Sialan! Sialan!”


Mereka menjerit kesakitan, berusaha memadamkan api dengan berguling-guling di jalan. Namun, kobaran merah gelap itu malah bertambah besar. Permukaan kulit mulai melepuh, jaringan saraf serta otot mengerut kaku, tulang menganga, dan bahkan darah pun menguap karena suhu panas.


“A-Apa itu?! Sialan⸻!”


Prajurit yang hendak menyelamatkan rekannya ikut tersambar partikel plasma. Dalam hitungan detik tubuhnya seketika terbakar. Diawali dengan bola mata yang meledak saat menatap pancaran cahaya, disusul oleh kulit melepuh, darah menguap, gangguan saraf, dan diakhiri dengan tubuh hangus dilahap kobaran api.


“Ini gila ….”


“Benar kata Komandan Peleton! Sebaiknya kita mundur saja!”


Semua prajurit yang menyaksikan itu langsung gemetar, segera menjauh dan menelantarkan rekan-rekan mereka dalam kobaran api. Sepenuhnya kehilangan semangat juang, dalam benak memutuskan untuk mundur. Paham bahwa situasi itu sudah di luar kendali mereka.


“Mundur! Cepat menjauh dari sana!” teriak Komandan Peleton. Sembari menunjuk ke arah Gerbang Utama, ia dengan suara lantang memerintahkan, “Berlindung! Kalian tidak boleh mati! Kita masih punya kewajiban untuk menyelesaikan perang ini!”


Tanpa pikir panjang, mereka langsung lari dari medan perang. Berdesakan di sekitar Gerbang Utama, saling dorong dengan pasukan yang baru saja memasuki kota.


Beberapa prajurit jatuh tersungkur dalam keramaian, diinjak-injak rekannya sendiri sampai mati. Kepanikan menciptakan kekacauan yang kejam, tidak lagi memandang orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri.


Menyaksikan hal tersebut, Odo Luke yang baru saja tiba hanya bisa tercengang. Listrik seakan menjalar ke sekujur tubuhnya, menyerang saraf dan membuatnya gemetar.


Pemandangan itu mengingatkannya dengan kenangan mengerikan, sebuah momen di mana semua kerja kerasnya hancur dalam sebuah ledakan radiasi. Hangus melepuh, gosong menjadi abu, dan lenyap saat tertiup angin.


Suara rintih penderitaan bercampur dengan teriakan kepanikan, sebuah peristiwa yang membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaan mereka. Dihiasi kepulan asap hitam, kilatan petir, dan kobaran api merah gelap.


“Kecacatan selalu mewarnai dunia ini! Kegilaan menjadi esensi masyarakat …!” Tanpa sadar Odo mulai melangkah maju, mengulurkan tangan kirinya sembari berkata, “Kelak hal tabu akan dianggap normal, dengan mengatasnamakan keadilan dan kesetaraan.”


Akal sehat perlahan mulai runtuh. Layaknya manisan kapas yang jatuh ke dalam genangan air, tirai kewarasan seketika lenyap pada detik itu juga. Digantikan oleh trauma dan penyesalan, meruntuhkan rasionalitas pikiran.


Penglihatan tiba-tiba berubah menjadi gelap, permukaan jalan seketika berubah menjadi tanah tandus. Berdiri dalam kegelapan, Odo hanya bisa membisu saat melihat kilas balik yang kelam. Momen di mana sebuah koloni lenyap dalam kecelakaan ledakan nuklir.


Aroma daging hangus menusuk hidung, suara jeritan seakan membuat telinga berdengung. Rasa bersalah mulai menyelimuti sang pemuda, membuatnya gemetar dan melangkah mundur.


Namun, ia terhenti saat menginjak potongan tangan yang tergeletak. Menoleh untuk memastikan, pemandangan yang lebih mengerikan menyambutnya. Hamparan mayat bergelimpangan di atas tanah gersang, terbakar hangus dan melepuh terkena paparan radiasi.


“Apa kau akan mengulanginya?” tanya seorang anak kecil. Ia tiba-tiba muncul di belakang Odo, menatap tajam dengan satu bola matanya terjulur keluar dari kelopak.

__ADS_1


Gaun anak itu terbakar kobaran api, kulit melepuh, tulang sendi terbuka, dan mulutnya robek sampai rahang hampir lepas.


Berjalan mendekat sembari menyeret kaki kanan yang patah, gadis menyedihkan itu mengulurkan kedua tangannya seakan ingin dipeluk. Tersenyum sedih dan mulai berkaca-kaca.


“Kenangan kelak akan menjadi lamunan …!” Dalam kekacauan dan penderitaan yang menyelimuti mereka, gadis itu memeluk sang pemuda dengan lembut. Tersenyum senyap dengan wajah rusak, kemudian mengangkat kepalanya sembari berkata, “Tolong jangan biarkan kami menjadi tabu bagimu, teruslah melangkah meski itu akan berakhir sama! Tak masalah jika keputusan itu kelak akan menghapus kami⸻!”


“Tuan Odo!?” Canna tiba-tiba menepuk pundaknya dari belakang, menyadarkan pemuda itu sembari lanjut bertanya, “Anda baik-baik saja, ‘kan?”


“Huh?” Putra Tunggal Keluarga Luke tersentak, menoleh dengan bingung sembari bergumam, “Kenapa ingatan itu muncul lagi? Ada terlewat? Tadi … hanya kilas balik, ‘kan?”


Saat melihat sekitar, mulut Odo Luke seketika terkatup dan membisu. Tubuhnya mulai gemetar menyaksikan kekacauan yang ada di tempat itu. Darah mengalir dari bilah pedang hitam yang digenggam, bahu kiri mengalami luka bakar, dan bercak merah memenuhi punggung kemeja.


Saat mendongak, pusat ledakan telah lenyap dan hanya tersisa kepulan asap hitam. Kilatan elektrik berpindah pada permukaan jalan susunan batu, perlahan tersebar dan memudar.


Tanda-tanda radiasi di sekitar ledakan juga ikut menghilang, partikel plasma bersifat destruktif perlahan terurai saat tertiup angin. Lenyap menjadi gumpalan Ether, kemudian meruap dan menyatu dengan udara.


Melihat mayat yang bergelimpangan di sepanjang jalan menuju barak, Odo sejenak menahan napas saat melihat bekas tebasan pedang pada tubuh mereka. Tampak rapi, menyatu dengan permukaan kulit dan daging yang terbakar.


“Itu ulah Lisia?” Odo segera menoleh, menatap Canna dan Opium sembari lanjut bertanya, “Apa yang terjadi di sini? Bukannya tadi masih ada inti nuklir⸻?!” Perkataannya terhenti sebelum selesai. Melihat darah segar menetes dari bilah pedang yang digenggam, pemuda rambut hitam itu langsung mengerti.


“Tuan Odo baik-baik saja, ‘kan?” Canna mengangkat tangannya, lalu melangkah mundur sembari lanjut berkata, “Saya kaget, tahu! Kenapa tadi Anda tiba-tiba menerjang ke pusat ledakan?! Saya paham Tuan ingin menyelamatkan Nona Lisia, namun tindakan itu sangat ceroboh! Bisa gawat kalau ada ledakan susulan!”


“Be-Benar! Lisia⸻?!” Odo segera memalingkan wajahnya. Layaknya orang dungu yang kikuk, pemuda rambut hitam itu malah menoleh ke arah yang salah. “Cepat jawab, Canna! Dia baik-baik saja, ‘kan?” tanyanya dengan panik.


“Di sana!” Penyihir rambut putih uban segera menepuk pundak Odo, lalu menunjuk ke arah yang berlawanan sembari berkata, “Anda tadi sudah menyelamatkan mereka, lho! Dengan sempurna, bahkan sudah disembuhkan dengan Berkah Ilahi …! Tuan kenapa, sih?”


“Hah?”


Meski tampak lemas dan pucat, mereka berdua masih hidup. Tidak ada cedera parah yang mengakibatkan cacat permanen, hanya menderita luka bakar ringan dan lecet.


Merasa ada yang janggal, Odo segera memeriksa kepalanya sendiri dengan kedua tangan. Memegang objek yang ada di atas ubun-ubun dan memastikan sesuatu.


“Tuan Odo ternyata bisa melakukan Manifestasi Malaikat, ya?” Opium ikut mendekat. Mengamati dengan antusias, berjalan mengitari sang pemuda sembari lanjut berkata, “Ini sedikit berbeda dari apa yang tercatat dalam arsip! Saya kira pancaran ilahi akan lebih terang! Bahkan, kalau tidak salah ada beberapa kasus kebutaan⸻ Eh, tunggu!”


“Diamlah!”


Odo langsung menarik ‘Halo’ yang melayang beberapa sentimeter di atas kepala, lalu membanting objek padatan cahaya itu ke lantai sampai pecah. Pada saat bersamaan, bentuk Manifestasi Malaikat seketika terlepas.


Pancaran kekuatan ilahi ikut lenyap, digantikan oleh hawa keberadaan manusia yang bercampur dengan Naga Agung. Terasa seperti monster sihir, namun sedikit lebih kuat dan mendominasi.


“Ugh!” Canna segera mundur, menarik rekannya menjauh dari pemuda itu. Sembari mengernyit kesal, penyihir rambut putih uban tersebut lekas menegur, “Hentikan! Anda bisa meracuni aliran Ether di kota ini!”


“Uwah …!” Opium menatap datar. Sekilas mengerutkan kening dan berdecak, ia dengan nada kesal langsung menyindir, “Sungguh! Kamu punya apa saja, ya! Tidak hanya kekuatan pemurnian, namun juga pencemar menjijikkan! Anda masih seorang manusia, ‘kan?”


“Ini sangat aneh ….”


Odo menjatuhkan pedangnya, berniat menahan kekuatan Naga Hitam yang luber supaya tidak menakuti mereka. Namun, tindakan itu malah membawa petaka lain. Saat medium yang menghubungkan pemuda itu dengan Seliari lepas, sekali lagi kesadarannya tiba-tiba ditelan oleh kegelapan.


“Oh, Pendiri …! Akhirnya engkau melepaskan benda terkutuk itu!” Suara perempuan bergema dalam kehampaan, ia memeluk tubuh Odo dari belakang sembari berbisik, “Diriku sangat bahagia saat engkau memukul Leviathan sampai pingsan! Indah sekali! Andai saja lehernya patah sekalian, itu pasti akan menjadi lelucon terbaik!”


“Lir?”


Odo kembali membuat kesalahan. Saat ia mengkonfirmasi kehadirannya, eksistensi Entitas Abstrak itu seketika menguat. Ia segera mengambil alih beberapa koneksi milik Naga Hitam, kemudian diubah menjadi ruang untuk bersemayam. Menempel pada jiwa Odo dan menyusup ke dalam sirkuit sihir, berusaha meniru tindakan Mahia.

__ADS_1


“Itu benar, ini diriku …. Fionnuala mac Lir!”


Tempat hampa itu seketika berubah. Saat kehadirannya dikonfirmasi Odo, hamparan gelap berubah menjadi ladang rumput hijau. Pohon raksasa berdiri kukuh di tengah pemandangan asri, dihiasi sungai-sungai kecil dari sumber mata air misterius.


Menyerap sumber daya yang ada di sekitar, Lir mulai menyusun wujudnya secara utuh. Tidak dalam bentuk potongan tubuh yang terpisah-pisah, namun humanoid sempurna dengan penampilan yang familiar di mata Odo.


Ia terlihat seperti wanita muda, memiliki kisaran umur antara dua puluh sampai tiga puluh tahun. Rambutnya ikal, hitam legam, tampak lebat, dan menjuntai panjang sampai melebihi punggung.


Matanya sehitam Obsidian, tampak mengkilap indah saat merefleksikan paparan sinar. Memiliki alis yang cukup tebal, bulu mata panjang, dan bentuk wajah oval.


Kulit perempuan itu tampak pucat, namun lembab dan mulus. Tubuhnya dibalut gaun Asymmetrical merah, panjang sampai betis dengan hiasan renda pada bagian bawah.


Ia juga mengenakan sepatu Mary Janes berwarna kirmizi, tanpa ornamen tambahan dengan kesan sederhana.


“Kenapa kau ada di sini? Bukannya⸻?”


“Akh, membosankan!” Setelah menyempurnakan wujudnya, Lir segera berjalan mendekati pemuda itu sembari menegur, “Tolong jangan mulai pembicaraan dengan pertanyaan seperti itu! Anda sudah tahu jawabannya, ‘kan?!”


Lir mengibaskan rambut, menatap angkuh seakan ingin memamerkan wujudnya. Melempar senyum menggoda, ia sekilas berputar dan membuat gaun yang dikenakan mengembang. Menunjukkan pahanya yang bening dan mulus.


“Kau mengambil wujud adikku?”


“Eh?” Ekspresi angkuh seketika lenyap dari wajah Lir, digantikan tatapan cemas dengan mulut terkatup. Ia menatap pucat, mulai gemetar dan melangkah mundur. Sembari memalingkan pandangan, Imitasi Jiwa berwujud perempuan itu berusaha mengelak, “Apa yang Anda bicarakan? Diriku tidak mungkin⸻!”


“Kau tahu, aku kakaknya …!” Odo menajamkan tatapan, sekilas memiringkan kepala dan berdecak. Setelah menghela napas ringan, pemuda rambut hitam itu berjalan mendekat sembari menegaskan, “Tak perlu mengelak! Aku kenal dia! Aku mengingatnya ….”


“Jangan bohong!” Lir semakin cemas. Berhenti menjauh, perempuan rambut hitam itu lekas menunjuk sembari memastikan, “Mana mungkin engkau mengingatnya! Eksistensinya sudah dihapus dari ingatan! Bahkan dunia ini⸻!”


“Aku baru mengingatnya! Tadi! Barusan!” Odo segera mendekat, meraih tangan Lir dan menegaskan, “Tepat saat kau menunjukkan wujudnya seperti ini, aku langsung ingat ….”


“Tidak mungkin!” Lir kembali mengelak, melepaskan tangan pemuda itu dan melangkah mundur. Menatap cemas, ia dengan suara gemetar membantah, “Kalau engkau mengingatnya, nama sejatimu pasti akan kembali! I-Itu tidak mungkin! Dunia ini bisa runtuh!”


“Dia adalah Adikku! Namanya Nail!” Odo segera meraih kedua tangan Lir. Sembari mendekatkan wajah, pemuda rambut hitam itu lanjut menegaskan, “Zalfa Nail!!”


Lir tidak membalas, hanya menatap terkejut dan membisu. Sekilas memalingkan pandangan, entitas dengan wujud perempuan itu merenung. Memikirkan kembali situasi janggal yang sedang terjadi. Berusaha memahaminya meski tahu itu bukan sesuatu yang baik.


“Pendiri masih belum mengingat nama itu ‘kan?” Lir kembali menatap lawan bicaranya, sedikit mengerutkan kening dan lanjut memastikan, “Kunci Tunggal untuk mengakhiri dunia ini, Wujud Sejati di mana semuanya akan berakhir … Anda masih belum mengingatnya, bukan?”


“Apa yang kau bicarakan?” Odo memegang erat kedua pundaknya, semakin mendekatkan wajah dan lanjut memastikan, “Kenapa nama asliku bisa sepenting itu?! Bukankah itu hanya pemicu ingatan?!”


“Itu benar, nama hanyalah pemicu ….” Lir memalingkan pandangan. Tidak ingin membahas hal tersebut, ia sekilas memejamkan mata sembari berkata, “Dari riwayat yang ada di Dunia Astral, pada Inti Realm tercatat beberapa pantangan dan peringatan. Salah satunya terkait nama sejati Anda ….”


“Apa yang terjadi kalau aku mengingatnya ⸻!?”


“Maaf ….”


Odo tidak bisa menyelesaikan pertanyaan. Tanpa peringatan, Lir langsung mendorong pemuda itu menjauh. Melempar kesadarannya keluar dari Alam Jiwa.


Penglihatan seketika berubah menjadi gelap, terasa hampa dan dingin. Saat kesadarannya kembali utuh, pemuda rambut hitam itu telah berdiri di tengah lusinan mayat Prajurit Kekaisaran. Mereka dibantai menggunakan pedang, dibunuh dengan serangan brutal dan mematikan.


“A-Apa lagi yang terjadi?” Odo segera menjatuhkan senjatanya, itu bukan Pedang Hitam dan merupakan barang rampasan.


Melihat kedua tangannya berlumuran darah, pemuda rambut hitam tersebut segera menoleh. Seketika terdiam membisu saat menyaksikan pemandangan mengerikan itu, sesuatu yang telah Lir perbuat ketika mengambil alih tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2