Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[108] Serpent VIII – Buhul Dependensi (Part 01)


__ADS_3

Setiap orang berhak memilih kebahagiaan mereka masing-masing. Entah itu mengharapkan hidup yang lebih baik, mendapatkan kebebasan, atau bahkan memenuhi naluri bernama hasrat. Saat nyawa dan jiwa masih menyatu dengan raga, hakikat dan hak tersebut takkan bisa dibantah.


Tidak boleh dibantah oleh siapa pun ⸻ Sebab hal tersebut merupakan bagian dari din (keyakinan) setiap kehidupan. Sebuah kesempatan yang diberikan secara adil kepada seluruh makhluk berakal.


Bukan secara setara maupun merata, namun adil sesuai dengan takaran kemampuan masing-masing individu. Karena itulah, sebuah kesenjangan dan keanekaragaman selalu muncul bersama peradaban makhluk berakal.


Seseorang dengan pandangan hedonisme pernah berkata, manusia lahir hanya untuk mendapatkan kebahagiaan. Meski harus menindas dan menginjak-injak hak orang lain, setiap individu memiliki hak untuk mendapatkan kebebasan, harapan, dan kepuasan.


Meskipun terdengar kejam, hal tersebut tidak bisa dibantah sepenuhnya. Pada dasarnya dunia ini hanyalah alam liar dengan hukum rimba. Itu terlihat indah dan rapi karena dibungkus dengan lingkungan yang teratur, lalu dihiasi nilai serta moral dalam sebuah masyarakat yang tertata.


Dunia tidaklah ramah, namun tidak sepenuhnya kejam jika dipandang dari sudut yang berbeda. Layaknya hewan karnivor yang harus memangsa herbivor untuk bertahan hidup, ada beberapa individu yang perlu menindas orang lain untuk mendapatkan kebahagiaan.


Konsep baik dan jahat berlaku layaknya permukaan sebuah koin. Posisi korban dan pelaku dapat berubah kapan saja, contohnya seperti ketika orang yang berkuasa membalik koin tersebut dengan telunjuk.


Ironisnya, tatanan masyarkat memperbolehkan hal tersebut terjadi. Selama seseorang mempunyai kekuasaan, uang, dan pengaruh terhadap masyarakat, dirinya bisa menciptakan wajah publik untuk menutupi seluruh keburukan yang ada.


Pada akhirnya, wajah dermawan para penguasa hanyalah persona. Sebuah instrumen untuk mengendalikan opini masyarakat.


Kebanyakan orang terlalu sibuk dengan urusan pribadi mereka. Karena itu, masyarakat cenderung menyumbangkan suara tanpa benar-benar menilai pihak yang didukung.


Selama tidak terganggu, mereka takkan peduli dengan topeng publik tersebut. Mereka akan terus berpaling, lalu berusaha untuk tidak melihat kebenaran yang ada di baliknya.


Jika disampaikan dalam persepsi tersebut, konsep kebebasan yang sering dibicarakan oleh kaum hedonis dapat berakhir menjadi kebohongan. Sebuah sudut pandang buatan yang diimplan oleh orang-orang berkepentingan, untuk memanipulasi masyarakat dalam sebuah ilusi bernama kebebasan.


Kebebasan berpendapat, kebebasan memiliki kepercayaan, kebebasan terbebas dari kemiskinan dan ketakutan, kebebasan mendapat pendidikan, dan berbagai macam bentuk kebebasan lainnya. Itu memang terdengar bagus, menjunjung hak asasi dan kebebasan dalam sebuah hukum dan tatanan.


Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, itu semua hanyalah instrumen politik. Untuk menyatukan suara rakyat, menyelaraskan tujuan dan menggiring orang-orang mencapai tujuan yang ditentukan oleh seorang individu.


Karana itulah, pada dasarnya kebebasan hanyalah sebuah ilusi untuk meraih kebahagiaan.


Meski sebagian orang memahaminya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa terhadap hal tersebut. Orang-orang hanya bisa menutup mata, lalu menerima semua kebusukan dan kekangan itu sebagai bagian dari kehidupan mereka.


Itulah kebebasan ⸻ Konsep buatan yang diciptakan untuk mencapai kebahagiaan.


Itulah kebahagiaan ⸻ Hasil akhir setelah mengonsumsi berbagai macam ilusi untuk mencapai kepuasan pribadi.


Tidak ada yang berhak melarang atau bahkan membantahnya.


Itu tidak perlu dimaafkan, sebab semuanya bukanlah dosa maupun kesalahan.


Setiap individu yang mencintai kebebasan, sebuah jalan hidup dengan tujuan akhir kebahagiaan. Tidak ada dosa ataupun kesalahan pada hal tersebut.


Hanya saja, perjalanan itu selalu dipenuhi lumpur hitam⸻


Saat terperosok dan tenggelam sampai titik terendah dalam kehidupan, mereka akan berdoa dan memohon ampun.


Padahal tujuan mereka untuk bahagia bukanlah dosa, bukanlah kesalahan. Kebahagiaan itu suci dan murni, hanya prosesnya saja yang tidak tepat dan penuh dengan keburukan.


Itu menyesatkan orang-orang untuk memilih jalan kebahagiaan yang salah, lalu pada akhirnya menjerumuskan mereka ke dalam titik terendah kehidupan.


Cinta, kasih sayang, dan rasa hormat. Menimbun banyak kematian, dusta, dan keburukan untuk selama-lamanya.


Semuanya dijadikan sejarah oleh keturunan-keturunan mereka. Menjadi landasan untuk mencapai kebahagiaan, lalu kembali menimbun kesalahan lainnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Kebebasan untuk memilih kebahagiaan, menyampaikan kehendak, dan mewujudkan tekad serta impian. Layaknya umat manusia, hak tersebut juga dimiliki bangsa Roh sebagai makhluk berakal.


Meski entitas astral seperti mereka sangat terikat dengan peraturan dan hierarki, namun hak serta ketentuan tersebut tetaplah berlaku. Tidak boleh dibantah, atau bahkan dilanggar oleh siapa pun.


Sebab itulah, peraturan yang diterapkan Roh Kudus kepada bangsa mereka sendiri bisa dikatakan sangat tidak logis. Meskipun mereka sadar memiliki hati dan pikiran yang bersifat independen, tiap-tiap individu terkesan seperti memaksakan diri untuk tetap mengikuti ketetapan tersebut.


Kodrat⸻ Sebuah ketentuan yang bahkan lebih ekstrem dari adat, tidak bisa dibantah dan telah mengakar sampai dijadikan sebagai garis hidup oleh mereka. Bagi penduduk Dunia Astral yang melanggar kodrat tersebut, mereka akan berakhir mendapatkan stigma dan dipandang lebih rendah oleh makhluk astral lain.


Tidak ada panggilan tepat bagi pelanggar ketentuan tersebut. Namun, proses menuju pelanggaran itu selalu disebut sebagai ‘Penyimpangan’. Menyeleweng dari kodrat yang digariskan oleh Dewi Asmali, sosok yang juga dikenal sebagai Roh Kudus.


Makhluk astral sangat mengenal tanda-tanda proses kebobrokan itu dan cenderung membencinya. Takut, jijik, dan memandang penyimpangan itu sebagai hal buruk sampai ke titik kejahatan berat.


Karena itulah, tindakan yang diambil oleh Roh Kecil tersebut bisa dikatakan sangat tidak terduga. Tidak ada yang mengira, bahkan dirinya sendiri juga terkejut karena tubuh bergerak sebelum pikiran memahami situasi.


Mengikuti insting dan kata hati, tanpa memikirkan konsekuensi maupun statusnya sebagai Perwakilan Ekosistem Pohon Suci, Alyssum langsung berdiri di hadapan Odo untuk melindunginya. Menatap tajam Roh Agung di hadapan, lalu memperlihatkan niat permusuhan dan tampak sangat kesal.


Tubuh kecil yang gemetar menjadi tegar. Berselimut aura berwarna hijau mantis, lalu memancarkan tekanan sihir kuat sampai-sampai butiran pasir terangkat. Rambutnya berkibar ke udara layaknya sebuah tirau serat, iris mata berubah kehijauan, dan sepasang tanduk ranting pun mulai tumbuh pada keningnya.


Saat konsentrasi Mana berkumpul pada satu titik, bunga Chrysanthemum tumbuh dan mekar pada tanduknya. Tanda bahwa Roh Agung tersebut telah menciptakan teritorial dalam lingkup sempit, sebuah lingkup spasial di mana dirinya dapat menggunakan sihir secara maksimal.


“Diana Dorca! Hentikan tingkah kurang ajar mu!!” bentak Alyssum Iarna.


“Hentikan? Engkau … berani memerintah diriku?” Meski telah mendapatkan peringatan keras, Roh Agung berkulit gelap tersebut tidak mengurungkan niatnya untuk menyerang Odo Luke. Menghentakkan kaki kanan ke permukaan pasir pantai dan membuat lingkaran sihir, ia menciptakan senjata lain berbentuk tombak pike. Sembari tersenyum meremehkan wanita itu dengan lantang menghina, “Memangnya bayi sepertimu bisa melakukan apa?! Huh?! Angkuh sekali!”


Diana Dorca, sosok Roh Agung Penguasa Ekosistem Lembah Kehidupan tersebut balik mengintimidasi. Tanpa ragu dirinya memancarkan tekanan sihir yang jauh lebih kuat dari Alyssum, bahkan sampai membuat pasir di sekitar tempatnya berdiri terangkat ke udara dan membentuk gumpalan padat. Tampak seperti bola martil, sedikit mengkilap karena kerapatan yang sangat tinggi layaknya logam.


Alyssum langsung gentar, keberanian yang sebelumnya ditunjukkan langsung runtuh dan berubah menjadi rasa takut. Roh Kecil tersebut melangkah mundur sampai punggungnya menyentuh Odo, lalu menoleh dan menatap pemuda itu dengan wajah pucat.


“Aku suka anak yang pemberani. Namun, ingatlah bahwa berani dan ceroboh itu dua hal yang berbeda,” ujar Odo seraya sedikit membungkuk dan mendekatkan mulut ke telinga Alyssum. Meraih tangan kanan Roh Kecil itu dan menuntunnya untuk membuka telapak ke depan, pemuda tersebut dengan lembut menambahkan, “Menghentikan wanita kasar sepertinya tidaklah sulit. Amati, pahami, lalu cukup rebut saja senjatanya. Dalam kasus ini ….”


Melalui koneksi kontrak yang telah terjalin melalui Pohon Suci, pemuda rambut hitam tersebut mengakses teritorial yang telah dibentangkan Alyssum. Mengoptimalkan tekanan sihir yang terpancar, jangkauan, dan struktur sihir Roh Kecil itu.


Untuk sesaat Alyssum bingung dan kembali menatap ke depan, merasakan perubahan signifikan pada teritorial sempit yang dibentangkan. Sebelum bisa memahami hal tersebut, dalam hitungan kurang dari satu detik aliran Mana dan Ether di udara tiba-tiba terhenti.


“Rebut semuanya, Alyssum ….”


Odo menuntun Roh Kecil itu untuk menutup telapak tangannya. Pada saat itu juga, Ether dan Mana di udara yang sebelumnya bergerak menuju Diana langsung berubah arah. Berbalik masuk ke dalam teritorial kecil milik Alyssum, lalu diserap olehnya sebagai suplai energi.


Tentu saja proses tersebut langsung mengacaukan tekanan sihir Diana. Roh Agung berkulit gelap tersebut sama sekali memasang proteksi sihir, karena itulah aliran Mana yang tiba-tiba berubah arah malah menyerang balik dirinya. Memberikan efek mematikan, layaknya rambut yang tertanam pada kulit tiba-tiba dicabut dengan kasar.


Layaknya selusin kawat tipis digoreskan ke kulit, aliran Mana dan Ether menyayat kulitnya dengan tajam. Pergelangan tangan, otot di sekitar leher, betis, dan beberapa titik pembuluh darah lainnya langsung tersayat dengan kasar.


Meskipun luka tidak dalam dan nadi tidak sampai putus, darah yang mengalir keluar tidaklah sedikit. Itu sampai menetes ke atas permukaan pasir, lalu tekanan sihir kuat miliknya pun lenyap tak bersisa.


Tombak pada kedua tangannya hancur kembali menjadi butiran pasir, gumpalan-gumpalan yang melayang di udara pun hancur menjadi debu. Saking parahnya efek tersebut, wanita muda itu bahkan tidak bisa terus berdiri karena kaki yang semakin lemas. Jatuh berlutut dengan kedua tangan menyentuh permukaan pantai, lalu napas juga mulai terengah-engah karena panik.


“A-Apa yang engkau lakukan, manusia?!” Meski telah dibuat berlutut dan tubuhnya bersimbah darah, Diana Dorca tidak membuang tatapan tajam maupun mimik wajah sangar. Seakan memiliki dendam pribadi kepada Odo Luke, wanita berkulit gelap tersebut berusaha berdiri kembali dan berteriak, “Engkau pikir hal seperti ini bisa menghentikan diriku⸻?!”


Suara terhenti, pada saat yang bersamaan beberapa pembuluh pecah dan darah pun muncrat keluar dari tubuh. Darah tersebut dengan cepat menguap di udara, lalu berubah menjadi Ether dan kembali ke alam. Begitu pula tetesan darah pada permukaan pasir.


Tindakan tersebut bukanlah tekad untuk menghancurkan diri sendiri. Meski beberapa pembuluh darah pecah dan tubuh astral miliknya terluka parah, Diana berhasil menutup sirkulasi Mana Internal yang rusak. Pendarahan terhenti, lalu sekali lagi wanita itu mengaktifkan Inti Sihir untuk melanjutkan pertarungan.


“Roh yang sering dipanggil ke medan perang mamang berbeda ….”


Odo tersenyum tipis saat melihat kegigihannya. Paham bahwa Diana bukanlah tipe Roh Agung yang dapat diajak berkompromi seperti Reyah dan Vil, pemuda rambut hitam tersebut segera mengangkat tangannya dari Alyssum.


Sembari melangkah ke belakang, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut mulai tersenyum tipis tanpa berkata apa-apa lagi. Ia benar-benar menonaktifkan Inti Sihir, lalu memalingkan pandangan dari Diana seakan tidak peduli lagi.


Tentu saja itu bukanlah provokasi. Namun, Diana menangkap tindakan pemuda itu dengan persepsi berbeda. Roh Agung berkulit gelap tersebut langsung terpancing, lalu kembali meningkatkan kinerja Inti Sihir dan menciptakan manifestasi tombak pasir menggunakan Mana Internal.


Darah yang mengalir membuat tangannya licin. Meskipun tidak bisa menggenggam erat senjata, Roh Agung berkulit gelap tersebut tidak menurunkan niatnya untuk bertarung. Mengalirkan Mana menuju ujung tombak, lalu menciptakan frekuensi gentaran yang sangat kencang layaknya gergaji mesin.

__ADS_1


Odo lekas memegang pundak Alyssum dan menariknya ke belakang. Tanpa memasang ancang-ancang untuk melawan balik, pemuda rambut hitam tersebut mengangkat tangan kirinya ke depan dan menunjuk.


“Di belakangmu ….”


Diana tidak memedulikan ucapan pemuda itu. Namun saat Roh Agung tersebut baru memasang kuda-kuda dan berniat untuk menerjang, tekanan sihir yang tiba-tiba datang dari belakang membuatnya terhenti sesaat.


“Huh⸻?”


Secara refleks Roh Agung berkulit gelap tersebut berbalik, memutar tubuh dengan cepat dan menghadap ke belakang karena merasakan ancaman yang jelas. Karena beberapa sirkuit sihir miliknya rusak bersama pembuluh darah, Diana benar-benar telat menyadari keberadaan tersebut.


Vil Qordelia ⸻ Roh Agung yang dulunya menjadi Penguasa Laut Utara.


Sang Siren dengan rambut biru laut tersebut menatap dengan penuh murka. Sembari memegang erat tongkat Veränderung pada tangan kanannya, makhluk astral tersebut berdiri tegak layaknya seorang penguasa agung. Memperlihatkan gestur angkuh, lalu memandang rendah Diana seperti sedang melihat tunas hama dalam tamannya.


“Diriku memang telah mengizinkan engkau menginjakkan kaki di wilayah ini. Namun ….” Vil mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, lalu menyalurkan Mana dalam jumlah yang sangat banyak sampai membuat Moon Stone pada bagian ujung bersinar. “Beraninya makhluk darat sepertimu menyerang Odo!!” ujarnya seraya mengayunkan tongkatnya ke arah Diana.


Meski berselimut tekanan sihir yang sangat kuat, tidak ada hal khusus dalam ayunan tersebut. Hanya berubah sihir padatan energi dengan efek gelombang kejut, memiliki jangkauan serangan yang sempit dan dapat dihindari dengan mudah.


Namun, sudut serangan dan lukanya membuat Diana tidak bisa mengambil antisipasi. Meski dirinya melihat serangan tersebut dengan sangat jelas, tubuh yang penuh luka tidak bisa mengikuti refleks.


Dalam momen sekilas itu, Diana merasa bahwa serangan Odo Luke sebelumnya telah diperhitungkan untuk momen tersebut. Menjebak dan menahannya supaya tidak bisa menghindar dengan baik.


“Gawat⸻!”


Diana berusaha menghindar dengan meloncat ke arah yang berlawanan dengan ayunan tongkat. Sayangnya, Roh Agung tersebut sedikit terlambat, lalu ujung tongkat pun menghantam dadanya. Itu tidak terlalu keras dan terasa seperti pukulan kayu keropos.


Namun tepat setelah Moon Stone menyentuh tubuh Roh Agung berkuli hitam itu, sihir yang tertanam di dalamnya aktif dan menciptakan gelomang kejut yang sangat kuat. Suara benturan udara terdengar lantang. Daya hentak tersebut mirip seperti ditendang oleh kuda perang, tepat pada bagian dada dan cukup untuk membuat tubuh Diana terpental jauh.


Beberapa kali berputar di udara dengan darah berceceran, lalu terpelanting ke permukaan pasir dan terkapar setelah melayang sejauh belasan meter. Seharusnya serangan itu tidaklah terlalu fatal karena tak memiliki efek penetrasi, hanya memberikan efek terpental dan dapat ditahan menggunakan sihir. Namun, tetap saja mendapat serangan tersebut dengan pembuluh darah yang terbuka sangatlah mematikan.


“Vil ….” Melihat momen brutal yang terjadi sangat cepat tersebut, Odo lekas menutup mata Alyssum dan berkata, “Sejak kapan kau jadi psikopat? Dia tidak mati, ‘kan?”


Vil hanya memalingkan pandangan dan tidak lekas menjawabnya, Roh Agung rambut biru laut tersebut menurunkan tongkatnya dan membisu dengan mimik wajah suram. Meski sempat melirik, tatapan yang diperlihatkan tampak kosong. Ingin menyampaikan sesuatu, namun mulut hanya terbuka tanpa bisa mengeluarkan kalimat yang diinginkan.


“Saya rasa tidak masalah, Papah ….” Alyssum mengangkat kedua tangan Odo dari matanya. Sembari mendongak dan menatap heran, Roh Kecil tersebut menyampaikan, “Diana adalah Empusa. Selama itu bukan serangan fatal yang langsung membunuhnya, Penguasa Lembah Kehidupan itu takkan binasa.”


“Empusa?” Odo sedikit terkejut saat mendengar punca bentuk kehidupan Diana. Sembari menatap ke arah Diana yang sudah tidak bergerak, dengan sedikit penasaran pemuda rambut hitam tersebut bergumam, “Basis rasnya cukup jauh dari atribut tanah, ya? Ternyata ada juga Roh Agung yang seperti itu.”


“Tanah?” Alyssum sedikit heran mendengar itu. Sembari melangkah ke depan dan berbalik menghadap Odo, gadis kecil rambut hijau cerah tersebut dengan datar menyampaikan, “Izinkan saya menyampaikan, Papah! Diana bukanlah Roh yang terikat dengan atribut tanah. Dia merupakan wujud dari Kehidupan, keahliannya meliputi sihir tanah, air, tumbuhan, psikis. Di antara seluruh perwakilan teritorial, ia satu-satunya Roh Agung yang memiliki berbagai macam manifestasi.”


“Mirip Dryad?” Odo sedikit memiringkan kepalanya dengan heran.


“Sangat berbeda,” sambung Vil dalam pembicaraan. Sembari berjalan mendekat, Siren tersebut lanjut menjelaskan, “Meskipun sihir Dryad dan Empusa sangat mirip, esensi kekuatan mereka sangat berlawanan.”


“Ah, begitu ternyata ….” Odo mengangguk ringan, sedikit menyipitkan tatapan dan kembali berkata, “Jelas saja tekanan sihirnya terasa campur aduk.”


Tepat seperti perkataan Vil, kedua Roh Agung tersebut memiliki sihir yang mirip. Dekat dengan unsur kehidupan, lalu memiliki kemampuan untuk menghisap energi dari entitas lain untuk digunakan sebagai konsumsi.


Dalam beberapa mitologi di Dunia Sebelumnya, sosok Empusa erat kaitannya dengan vampir perempuan dan merupakan makhluk dunia bawah seperti Lamia. Makhluk seperti mereka suka menghisap darah para pria saat tidur, lalu dapat masuk ke dalam mimpi untuk memberikan ilusi indah layaknya Succubus.


Mereka sering digambarkan mengenakkan gaun tipis dan sandal kuningan, lalu memiliki rambut api yang berkobar terang dalam kegelapan. Memiliki kemampuan terbang dengan sayap kelelawar, lalu taring layaknya vampir.


Namun, tentu saja wujud Empusa dalam mitologi berbeda dengan apa yang Odo lihat sekarang. Jangankan rambut api, taring tajam maupun sayap tidak terlihat pada Diana. Benar-benar memiliki wujud seperti wanita muda pada umumnya, tanpa tanda-tanda yang menunjukkan bahwa dirinya adalah makhluk menakutkan seperti Empusa.


“Diana itu sangat menyusahkan ….” Vil berdiri di depan pemuda rambut hitam tersebut. Memasang ancang-ancang dan tidak menurunkan kewaspadaan untuk melindungi, Roh Agung rambut biru tersebut lanjut menyampaikan, “Mungkin ini terkesan seperti mengadili. Namun, kepribadiannya lebih buruk dari Reyah. Tidak hanya suka memakan manusia yang tersesat, dia juga sering mengambil wujud mangsanya untuk bepergian ke Dunia Nyata.”


“Aku tahu,” ujar Odo datar. Sedikit menghela napas dan memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam tersebut menyampaikan, “Lagi pula, kelemahan dan kemampuan Empusa sudah tercantum di buku, ‘kan? Aku sudah membacanya di perpustakaan, dan seharusnya kau juga pernah membacanya. Terlebih lagi, kalau tidak salah ingat dia pernah ditangkap dan ditaklukan oleh Aldrich, bukan?”


“I-Iya, itu benar ….” Vil sekilas tertegun, kembali canggung karena beberapa alasan.


“Makhluk sepertinya benar-benar konyol. Padahal makhluk astral, tapi dia malah lemah terhadap serangan fisik ….” Odo melebarkan senyuman licik. Seakan ingin memprovokasi Roh Agung yang sudah terkapar tidak berdaya itu, dengan suara lantang pemuda rambut hitam tersebut lanjut menghina, “Konyol sekali! Makhluk tidak sempurna juga punya estetika, mereka punya ciri khas tersendiri. Tapi! Kau sungguh cacat! Bukan hanya itu saja, sihirmu juga paling lemah jika dibandingkan Roh Agung lainnya! Bukannya mencari alternatif yang lebih pantas, kau malah bertarung dengan kemampuan fisik yang merupakan kelemahan⸻!”

__ADS_1


__ADS_2