
Membuka kedua mata, melihat ke depan dan memasang senyum lembut. Layaknya orang munafik yang suka merangkai kata-kata dengan indah untuk menipu, pemuda rambut hitam tersebut kembali menjelaskan beberapa hal untuk semakin meyakinkan Ri’aima.
Duduk bersama di ruang tamu Kediaman Stein, mereka tanpa sadar telah menghabiskan waktu lebih dari setengah jam. Berbincang tentang perubahan rencana, membongkar rahasia yang sempat disembunyikan, lalu menetapkan ulang tujuan mereka dalam kerja sama.
Dalam pembicaraan itu sendiri, rahasia lain yang sempat disembunyikan oleh Ri’aima adalah tentang datangnya Prajurit Elite dari Ibukota untuk mengisi posisi Kepala Prajurit Kota Rockfield.
Sekitar beberapa bulan yang lalu di pertengahan akhir musim semi, Raja Gaiel secara langsung telah mengirimkan salah satu pengawal pribadinya. Mengisi kekosongan jabatan Kepala Prajurit Kota, itulah tugas yang diemban Prajurit Elite tersebut dari Raja.
Perintah tersebut dikeluarkan bukan tanpa alasan. Setelah mendapatkan laporan bahwa Kepala Prajurit sebelumnya meninggal saat Insiden Musim Dingin, sang Raja segera mengirimkan salah satu orang kepercayaannya untuk memulihkan kondisi Kota.
Karena Prajurit Elite tersebut diutus oleh Raja Gaiel, tentu saja ia pun secara otomatis masuk ke dalam kubu pejabat baru dan langsung membuat kebijakan di ranah militer kota setelah sampai. Bukan hanya itu saja, petisi yang diusulkan oleh kubu pejabat baru pun secara tidak langsung dipicu oleh Prajurit Elite tersebut.
Dengan sebuah laporan resmi atas tidak berfungsinya tugas Walikota untuk membuat kebijakan di tengah situasi yang ada di Rockfield, Prajurit Elite tersebut secara tidak langsung mendorong semua pejabat baru memberikan serangan politik kepada Keluarga Stein. Itu seketika mempengaruhi status pejabat lama di kota, lalu melahirkan situasi di mana keseimbangan kekuasaan yang telah ada seketika berubah.
Hasilnya, sebuah penyingkiran dan pembatasan besar-besaran dilakukan kepada semua pejabat lama di ranah pemerintahan. Pembatasan sendiri tidak terjadi secara langsung dalam waktu singkat, namun secara bertahap dan dimulai sejak sekitar dua bulan yang lalu.
Mendengar rahasia itu dari Ri’aima, bahkan Odo pun sempat terkejut karena baru mendengar bahwa pengawal pribadi Raja Gaiel telah diutus untuk menyelesaikan masalah di Rockfield. Mengingat seharusnya sekarang Kerajaan Felixia sedang mempersiapkan peperangan melawan Kekaisaran di perbatasan, sangatlah janggal untuk sang Raja mengutus salah satu personel penting ke Kota Rockfield tanpa alasan khusus.
“Apa Raja Gaiel berniat mengubah medan peperangan? Kalau iya, ini sedikit masuk akal. Daripada berperang di medan asing, memang lebih menguntungkan jika mereka menarik lawan ke wilayah sendiri dan benar-benar menghabisi mereka sebelum memberikan serangan inti ke badan lawan.”
Mendengar Odo bergumam sendiri sembari meletakkan tangan ke depan mulut, Ri’aima hanya bisa menatap bingung. Putri Sulung Keluarga Stein itu paham bahwa Raja Gaiel sudah memiliki pemikiran sendiri dengan mengirim Prajurit Elite ke Kota Rockfield, namun ia tidak mengerti tentang peperangan yang Odo bicarakan.
“Memangnya akan ada peperangan, Tuan Odo? Kenapa … wajah Anda cemas seperti itu?”
“Nona belum mendengar kabarnya?” Odo menurunkan tangan dari mulut. Sembari menatap lurus perempuan rambut biru yang duduk di seberang meja, ia sedikit memasang senyum kaku dan menyampaikan, “Kerajaan kita sedang mempersiapkan perang dengan Kekaisaran. Itu sudah dimulai sejak musim seni, loh.”
“EH⸻?!” Seketika Ri’aima terbelalak dan bangun dari tempat duduk, lalu memberikan tatapan pucat dan tampak tidak percaya dengan hal tersebut. Namun sedetik kemudian, dirinya paham bahwa Odo bukanlah orang yang suka bergurau dengan hal semacam itu. Dengan dan sedikit gemetar, Putri Sulung Keluarga Stein pun memastikan, “Anda mendengar hal tersebut dari siapa? Kenapa … sekarang Kerajaan Felixia ingin berperang? Bukannya selama ini semuanya berdamai di bawah perjanjian Konferensi Keempat Negeri?”
“Entahlah, aku juga tidak terlalu paham tentang kondisi yang ada di tiap negeri. Namun yang jelas, dalam waktu dekat perang akan pecah di Daratan ini. Paling tidak, Felixia sudah mempersiapkannya dan bukti dari itu adalah dipanggilnya Dart Luke ke Ibukota.” Odo menyandarkan tubuh ke tempat duduk, lalu setelah menghela napas ringan melanjutkan penjelasan, “Pergerakan dari Kerajaan Moloia juga telah terlihat sejak tahun lalu. Sebab itulah, kemungkinan besar keheningan ini adalah persiapan sebelum badai besar.”
“He-Hening ...?” Ri’aima tidak merasakan hal tersebut, sebab apa yang perempuan rambut biru pudar itu lihat selama beberapa bulan terakhir hanyalah konflik internal Kota Pegunungan. Membayangkan bahwa semua kekacauan yang menerpa merupakan pembuka, semangat yang sempat tumbuh dalam benaknya seketika padam kembali. Sembari menunduk lesu perempuan itu pun dengan lemas berkata, “Apa-apaan ini. Kenapa … semua orang suka sekali berselisih? Kenapa mereka suka sekali saling menyingkirkan satu sama lain?”
“Aku juga tidak tahu ….”
Odo terdiam untuk sesaat. Bagi dirinya yang tidak terlalu memedulikan alasan di balik konflik, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut hanya memandang dari sudut pemicu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sebab itulah, pertanyaan Ri’aima membuat Odo merasa telah melewatkan hal penting dalam sebuah perselisihan internal di Kota Rockfield.
Ri’aima semakin cemas saat melihat wajah muram Odo. Sembari kembali duduk di sofa, perempuan rambut biru pudar tersebut berkata, “Se-Sebaiknya kita lanjutkan saja topik pembicaraan utama. Itu masalah nanti, sekarang … kita harus menyelesaikan masalah yang ada di sini dulu.”
“Nona benar ….” Odo menatap lurus lawan bicara. Sembari memasang senyum kecil, ia menyatukan kedua telapak tangan dengan jemari meregang. “Kita harus segera selesaikan masalah di sini ini secepatnya! Aku juga tidak punya banyak waktu,” tambahnya dengan nada tegas.
“Hmm!” Ri’aima mengangguk dengan senang setelah melihat Odo kembali semangat.
“Sebenarnya sudah tidak ada hal lain yang perlu disampaikan.” Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut bangun dari tempat duduk, lalu sembari mengacungkan jari telunjuk ke depan menyampaikan, “Mari kita jalankan rencananya! Sekarang Nona pergilah ke gereja, lalu tanyalah ke Pendeta bernama Rosaria dan bilang kalau Anda sudah setuju dengan rencana ku. Ia akan membantu Nona dalam menjalankan rencana. Nanti siang kita akan berkumpul di balai kota, lalu pergi ke kantor pemerintahan.”
“Baiklah, berarti tidak ada perubahan lagi ….” Ri’aima ikut berdiri, lalu dengan tatapan sedikit penasaran bertanya, “Kalau Tuan Odo? Apa yang akan Tuan lakukan?
“Ada hal lain yang perlu aku urus dulu.” Odo memalingkan pandangan ke arah anak tangga menuju lantai dua seakan menyadari tatapan dari arah tersebut. Setelah menghela napas, ia kembali menatap ke arah Ri’aima dan berkata, “Ini tidak lama. Setelah memberitahu Canna dan yang lain, aku akan menyusul Nona.”
“Benar juga! Anda tidak sendirian!” Ri’aima menyatukan kedua telapak tangan ke depan dada, lalu dengan tatapan penuh rasa percaya berkata, “Baiklah, saya akan pergi ke gereja. Untuk peralatan atau berkas, apa saya perlu membawa sesuatu?”
“Aku rasa tidak ada ….” Odo untuk sesaat merasa kalau perempuan rambut biru tersebut tampak sedikit menyimpang, baik secara mental dan pola pikir. Paham bahwa yang merusak perempuan itu adalah dirinya sendiri, Putra Tunggal Keluarga Luke tidak bisa berkata apa-apa soal itu. Setelah menghela napas kecil dan menyingkirkan pikiran itu ke sudut kepala, Odo bertepuk tangan satu kali dan menyarankan, “Namun, sebaiknya Nona paling tidak membawa sebilah pedang.”
“Pedang, ya …? Memangnya di Kota sedang berbahaya, ya? Kalau mau berdiskusi, bukannya pedang tidak diperlukan?”
“Tidak juga ….” Odo menggaruk bagian belakang kepala, lalu sembari memalingkan pandangan kembali membual, “Tadi malam nyawa saya sempat diincar, mungkin karena keluar dari Kediaman ini dan dikira orang Anda. Saya cemas ada orang lain yang juga mengincar Nyonya.”
__ADS_1
“Begitu, ya. Mereka bahkan berani membuat tindakan seperti itu.”
Perkataan Odo tentu saja membuat Ri’aima salah paham, itu seakan-akan memang ada pihak lain yang mengincar nyawanya. Meski pada kenyataannya, orang yang mengincar Odo tadi malam hanyalah gelandangan yang biasa ditemui di sudut-sudut Kota.
.
.
.
.
Setelah pembicaraan tersebut dan mengambil senjata yang disarankan Odo, Ri’aima pun bergegas pergi ke balai Kota dengan membawa pedang di sabuknya. Namun saat perempuan itu baru hendak keluar dan membuka pintu utama Kediaman Stein, ia berpapasan dengan Agathe. Dalam beberapa detik, mata mereka saling bertemu dan saling terdiam.
Sang Nyonya Rumah untuk sesaat terkejut, memperlihatkan ekspresi cemas saat tahu Putrinya membawa sebuah pedang di sabuk. Segera menatap ke arah pemuda yang berdiri tidak jauh dari pintu utama, wajah cemas wanita itu pun berubah menjadi kesal dengan tatapan tajam.
“Ibunda …?”
Suara Ri’aima membuat Agathe tersentak, segera sadar bahwa dirinya harus tetap berpura-pura di depan Putrinya tersebut. Sembari mengacuhkan ia pun berjalan melewati, tanpa berkata apa-apa dan terus melangkah ke arah tangga untuk pergi ke lantai dua.
Ri’aima yang terhenti menoleh ke arah Ibunya, lalu memberikan tatapan cemas. Dari pertanda yang dirinya lihat untuk kedua kali, perempuan rambut biru pudar tersebut berpikir bahwa sang Ibu perlahan-lahan mulai sembuh. Tanpa tahu kalau penyakit mental yang diderita wanita tersebut hanyalah kebohongan.
Sembari memasang wajah senang, Ri’aima dengan suara penuh semangat berkata, “Ibunda tenang saja! Saya pasti akan menyelesaikan masalah ini! Setelah Ibunda sembuh, saya yakin Kota pasti akan kembali seperti semula!”
Mendengar perkataan Ri’aima, Agathe semakin kesal karena tahu darah dagingnya tersebut sedang dimanfaatkan. Langkah kaki terhenti saat menaiki anak tangga pertama, lalu sekilas wanita rambut biru pudar tersebut melirik ke arah Odo dengan penuh kebencian.
Odo yang menyadari itu balik menatap, lalu dengan gerak bibir menyampaikan, “Akan aku jaga Putrimu, tenang saja.”
Tentu saja Agathe menangkap itu sebagai provokasi, membuat wanita rambut biru pudar tersebut dalam benak memutuskan untuk menunjukkan reaksi permusuhan dalam waktu dekat. Kembali menaiki anak tangga, ia tidak lagi melirik dan terus naik sampai ke lantai dua Mansion.
“Saya pergi dulu, Tuan Odo.”
Ri’aima melambaikan tangan ke arah pemuda rambut hitam itu, lalu tanpa membuang waktu segera membuka pintu dan pergi. Saat pintu utama dibiarkan terbuka untuk sesaat, Odo melihat salah satu pelayan setia Agathe yang berdiri di teras. Mata mereka saling bertatapan, saling menunjukkan ekspresi datar dan suram yang menandakan mereka berdua telah memiliki tekad bulat masing-masing.
Sebelum pintu benar-benar tertutup, Odo sekilas melihat pelayan rambut pirang kepirangan di luar berbalik dan berjalan mengikuti Ri’aima. Pada momen singkat tersebut, dengan jelas Putra Tunggal Keluarga Luke melihat sebuah senjata tersembunyi di balik lengan panjang pakaian pelayan perempuan itu.
“Hmm, begitu rupanya. Aku rasa tidak masalah, asalkan mereka tidak mengarahkan itu kepada Canna dan yang lain.”
“Tuan Odo sungguh luar biasa, tidak saya sangka Anda berani menggoda Ri’aima di hadapan saya.” Dari lantai dua, wanita yang sebelumnya naik ke atas kembali turun. Ia memperlihatkan mimik wajah yang tampak murka dalam senyap, lalu sembari menuruni anak tangga kembali berkata, “Apa yang Anda incar? Jika memang Anda ingin bermusuhan, bilang saja dari awal dan kita buat jelas hubungan ini.”
“Kenapa Anda sangat emosi, Nyonya Agathe?” Odo memasang senyum tipis, lalu tanpa mengindahkan ancaman berkata, “Bukannya Anda merasa tidak masalah jika harus mengorbankan mereka? Lantas, apa salahnya jika saya menggunakan Nona Ri’aima?”
“Memangnya apa yang engkau tahu tentang diriku?!” bentak Agathe sembari menuruni anak tangga terakhir.
“Pertanyaan itu ….” Mendengar hal tersebut, Odo malah tersenyum. Ia sesaat mengangkat kedua sisi pundak, lalu dengan nada meremehkan berkata, “Anda persis seperti Nona Ri’aima. Ia juga sebelumnya menanyakan hal tersebut saat marah …. Kalau begitu, saya kembalikan pertanyaan tersebut. Tahu apa memangnya Nyonya Agathe ini tentang diriku? Tahu apa Nyonya tentang perasaan Putri Anda sendiri?”
“Mau bermain kata-kata lagi, huh?” Agathe mengerutkan kening, lalu menghampiri pemuda yang berdiri di lobi tersebut dan berdiri di hadapannya. Sembari menatapnya lurus, wanita rambut biru pudar itu kembali berkata, “Jangan meremehkan saya, Putra dari Keluarga Luke! Jangan pikir saya takut denganmu!”
“Aku tidak pernah meremehkan Anda ….”
Odo mengambil satu langkah ke belakang, lalu sedikit memalingkan pandangan dan tetap waspada dengan para pelayan yang menatapnya dari berbagai sudut. Sejenak terdiam dan memejamkan mata, Putra Tunggal Keluarga Luke itu mulai paham kalau memang semua orang yang bekerja untuk Agathe memiliki latar belakang yang unik.
Dari tatapan yang tajam, aura berbahaya yang bercampur nafsu membunuh, dan gestur tubuh yang sangat teratur serta tegas, semua itu bukanlah sesuatu yang dimiliki oleh pelayan rumah tangga biasa.
Odo kembali membuka mata, memasang senyum ramah dan segera bertepuk tangan satu kali dengan keras. Suara menggema ke penjuru ruangan, untuk sesaat membuat wanita di hadapannya tersenak dan terdiam.
“Untuk apa tadi …?” ujar Agathe dengan kesal. Namun, Odo tidak menjawab dan hanya terdiam dengan senyuman palsu. Merasa kesal dengan hal tersebut, Nyonya Rumah pun dengan suara lantang kembali bertanya, “Apa-apaan tingkah kamu itu?! Kalau tidak meremehkan, sikap kamu itu maksudnya apa?!”
“Aku hanya sedang merasa heran.” Odo menyatukan kedua telapak tangan dan mulai memasukkan jemari ke sela-sela, lalu mulai menundukkan wajah seperti sedang berdoa. Namun, tentu saja pemuda itu tidak melakukan hal tersebut. Sembari memasang senyum gelap ia segera bertanya, “Meski Nyonya Agathe merasa tidak peduli pada anak-anak Anda sendiri, namun setelah aku mempengaruhi Nona Ri’aima Anda malah marah. Kenapa bisa begitu?”
“Diriku hanya tidak suka dengan cara yang kamu gunakan.”
Odo menyeringai tipis saat Agathe tidak membantah pertanyaannya. Berhenti menyatukan kedua telapak tangan, Putra Tunggal Keluarga Luke itu kembali bertepuk tangan satu kali dan berkata, “Aku juga sama! Aku juga tidak terlalu suka dengan cara yang Anda gunakan! Ya, kebohongan kental yang Anda pamerkan itu. Aku … sepenuhnya benci hal tersebut.
“Bicara apa⸻?”
__ADS_1
“Wabah yang dibawa sisa-sisa kekuatan Raja Iblis Kuno ….” Odo menunjuk lurus lawan bicaranya. Sembari menyeringai lebar dan menatap dengan sorot mata tajam, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menekan, “Wabah mulai menyebar sejak beberapa bulan terakhir, bukan? Tuan Oma juga terkena wabah setelahnya.”
Agathe merasakan kejanggalan dalam perkataan itu, sesaat bahkan ia sampai berpikir kalau pemuda di hadapannya tersebut telah tahu tentang rahasia yang ada. Mengingat pembicaraan semalam bahwa Odo sudah memperlihatkan tanda-tanda curiga, Agathe berusaha untuk tidak memperlihatkan kecemasan dan menutupinya dengan senyum tipis.
“Itu benar, memangnya kenapa? Apa Anda ingin mengalihkan pembicaraan lagi?” ujar wanita tersebut.
“Aku sempat bertanya ke Nona Rosaria di gereja, loh. Wabah itu …. Ya! Wabah! Menyebar sekitar dua sampai tiga bulan lalu. Ya, baru-baru ini. Bukan sejak akhir tahun lalu atau awal tahun ini.”
Perkataan dengan intonasi yang ditekankan pada kata ‘Wabah’ membuat Agathe semakin yakin, bahwa pemuda itu sudah menyadari rahasianya. Namun, pada saat yang sama tindakan yang diambil lawan bicaranya itu pun terlihat sangat aneh.
Seraya mengerutkan kening Agathe dalam hati berkata, “Kalau Tuan Odo sudah tahu, mengapa dia mengajak saya bicara sekarang? Apa yang dia inginkan? Dia bisa saja melaporkannya dan membuat pihak pejabat baru semakin menyudutkan Keluarga Stein.”
“Tentu saja baru menyebar sejak beberapa bulan terakhir, pembersihan yang dilakukan oleh Pihak Religi dari pusat berhenti sekitar tiga bulan lalu.” Setelah menarik napas dalam-dalam, wanita rambut biru pudar itu pun menatap datar. Berusaha untuk tenang dengan tatapan datar, ia mulai merapikan rambut sebagai tanda tidak bisa menyembunyikan kegelisahan. Kembali menarik napas berat, sang Nyonya Rumah menambahkan, “Saat itulah wabah mulai menjangkit ternak, hewan liar, monster, dan bahkan manusia. Karena itulah, wajar kalau baru menyebar.”
“Aku akui memang itu bisa mempengaruhi monster dan menjangkit hewan.” Odo sedikit memiringkan kepala, lalu sembari membuka kedua mata lebar-lebar menekankan, “Namun, untuk manusia itu sangat aneh. Aku busa menjamin kalau itu tidak bisa menjangkit manusia. Meskipun hal seperti itu terjadi pada Tuan Oma, seharusnya tubuhnya akan langsung hancur atau membusuk. Beliau tidak akan bertahan selama ini ….”
“Aneh … kenapa memangnya?” Tatapan tersebut untuk sesaat membuat Agathe heran. Bagi wanita sepertinya yang tidak terlalu dekat dengan sihir atau sejenisnya, untuk sesaat ia merasa pancaran aneh dari Odo seakan-akan pemuda itu memiliki kebencian yang kuat terhadap Iblis. Menelan ludah dengan berat, wanita itu pun kembali bertanya, “Jika wabah itu bisa menyerang hewan dan monster, kenapa Anda merasa bahwa itu tidak bisa menyerang manusia?”
“Saja tidak meragukan perkataan Anda.” Sekali lagi Odo melemparkan perkataan yang menunjukkan kecurigaan. Ia memasang senyum santai, lalu berhenti menunjuk lawan bicara dan kembali bertepuk tangan satu kali. Sembari perlahan menurunkan kedua tangannya, Putra Tunggal Keluarga Luke itu berhenti berkelit dan berkata, “Hanya saja …. Ini terlalu janggal, terlihat palsu dan sangat menuntungkan Anda.”
“Apa yang ingin Anda katakan!” Agathe dengan mudah terpancing perkataan frontal tersebut. Dengan lepas kendali dan benar-benar memperlihatkan emosi, wanita rambut biru pudar tersebut membentak, “Memangnya keuntungan apa yang saya dapat!? Langsung saja ke intinya! Anda tak perlu berkelit! Kalau Anda ingin menuduh saya, bilang saja dari awal!”
“Anda tidak perlu berteriak, bisa saja Ri’aima masih berada di luar loh.”
Seketika Agathe tersentak, segera menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan dan melangkah ke belakang. Ia sontak melihat ke arah pintu utama yang sudah tertutup, merasa cemas kalau Putrinya masih menunggu keluar dan mendengar pembicaraan dari awal.
“Nyonya tenang saja, Putri Anda sudah pergi ….” Odo menghela napas dalam-dalam, lalu sekilas melirik ke arah para pelayan di lantai dua yang tampak bersiap untuk mengeluarkan senjata tajam dari balik gaun serta lengan pakaian mereka. Kembali menatap wanita di hadapan, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan jelas meminta, “Kalau begitu, boleh saya melihat Tuan Oma? Saya cukup ahli dalam pengobatan, terlebih lagi jika itu wabah dari bangsa Iblis. Nyonya mengenal saya sebagai Putra dari Penyihir Cahaya, bukan? Seharusnya Anda juga tahu bahwa beliau juga ahli dalam sihir penyucian, ‘kan? Termasuk saja yang merupakan Putranya.”
“Apa … Anda ingin tetap menuduh saya?”
Wajah Agathe berubah semakin pucat. Ia bahkan sesaat berpikir untuk memberikan perintah kepada para pelayan untuk menghabisi Odo sebelum pemuda itu membongkar rahasia ke publik. Namun saat melihat tatapan tajam Putra Tunggal Keluarga Luke itu, seketika dirinya paham menghabisi pemuda tersebut sangatlah tidak mungkin sekarang.
“Menuduh? Menuduh soal apa?” Odo kembali ke posisi awal pembicaraan, pura-pura tidak tahu tentang rahasia Agathe dan kembali berkata, “Saya hanya menawarkan bantuan. Mungkin saya bisa menyembuhkan Tuan Oma, hanya itu. Lantas kenapa … Nyonya menatap saya seperti itu?”
“Baiklah ….” Agathe memegang lengan kanannya sendiri, lalu sembari memalingkan wajah dan gemetar ia kembali berkata, “Namun, hanya melihat saja. Untuk meminta Tuan Odo menyembuhkan Suami saya atau tidak, itu masalah lain. Saya tidak bisa percaya dengan kemampuan Tuan.”
“Tentu saja, hanya melihat pun tidak masalah. Lagi pula ….” Odo memasang senyum tipis dengan tatapan datar. Lalu sembari mengacungkan jari telunjuk ke depan, pemuda itu dengan jelas berkata, “Bukan hanya Nyonya saja yang akan susah kalau Tuan Oma sembuh.”
“Sudah saya duga, Anda ….”
“Nyonya, aku tidak akan mengatakannya dengan jelas. Aku juga tidak tahu hal tersebut. Nyonya paham maksud ku, bukan?”
Agathe menatap bingung. Dari perkataan tersebut, dirinya memastikan bahwa Odo memang tahu rahasia yang disembunyikannya dari orang-orang di Kota Pegunungan. Namun melihat pemuda itu bersikeras untuk tidak mengungkapkan secara langsung, Agathe hanya bisa menatap heran dan bertanya-tanya maksud di balik hal tersebut.
\===========================
Catatan :
Dekadensi Kota Rockfield masih lanjut Next!
Bagi yang belum tahu Dekadensi itu apa ….
Dekadensi menurut KBBI adalah kemerosotan (tentang akhlak); kemunduran (tentang seni, sastra).
See You Next Time!!
__ADS_1