Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[112] Flamboyan Akhir Zaman I - Solemnly Swear (Part 05)


__ADS_3

Dua hari berlalu, itulah lama waktu yang bisa Canna usahakan untuk menahan pasukan Kekaisaran. Membujuk An Lian supaya memihak dirinya, lalu menyampaikan berbagai macam alasan kepada Jenderal Fai supaya tidak menyerbu kota.


Namun, pada akhirnya semua itu percuma. Waktu adaptasi ketinggian pasukan Kekaisaran sudah selesai. Gejala penyakit gunung seperti sesak napas dan demam tidak lagi terlihat, mereka benar-benar telah siap untuk melakukan penyerbuan.


Pasukan lini depan yang dipimpin Jenderal Fai mencapai 3.000 prajurit. Dibagi menjadi empat batalion, ditempatkan pada lokasi yang berbeda beda-beda. Berniat untuk melakukan penyerbuan serempak dari satu arah secara bertahap, menggunakan perkiraan waktu pertempuran dua hari penuh. Berniat mengikis kekuatan militer lawan secara konstan.


Pada sisi yang berbeda, pemerintah Rockfield masih disibukkan dengan masalah internal. Berusaha menekan kericuhan yang timbul karena protes publik, membujuk penduduk dengan melakukan musyawarah dan pengumuman keputusan.


Karena perbedaan pendapat, konflik antara Pejabat Baru dan Pejabat Lama kembali muncul. Kapabilitas pemimpin mereka, Oma Stein, kembali dipertanyakan dan dituntut oleh penduduk Rockfield. Baik itu kalangan prajurit, pejabat, pedagang, penduduk sipil, atau bahkan pihak religi, mereka semua memiliki pendapat masing-masing terkait ancaman serangan Kekaisaran.


Karena itulah, kericuhan pun pecah dengan sangat cepat. Membuat kekuatan militer Rockfield semakin melemah karena koordinasi personel terganggu.


Para prajurit yang sebelumnya telah disiapkan untuk bertempur di garis depan, mereka malah dialihkan untuk meredam kerusuhan di dalam kota.  Itu membuat pertahanan Rockfield menjadi rentan, dapat rubuh hanya dalam sekali gempur.


Penyebab kericuhan itu dimulai dari keputusan pemerintah untuk melawan sampai akhir, diumumkan di balai kota oleh perwakilan Pejabat Baru. Bertahan di kota benteng dan mengurung diri, lalu mengulur waktu sampai bantuan tiba dalam waktu beberapa hari lagi.


Hampir seluruh pejabat kota dan pihak militer menyetujui keputusan tersebut. Mereka membuat anggaran dan mengerahkan sumber daya untuk membangun pertahanan, lalu menyiapkan prajurit dan senjata untuk melawan.


Namun⸻


Keputusan itu berubah ketika seorang pedagang mulai angkat bicara. Didukung oleh anggota serikat, ia berdiri di tengah balai kota sembari mengutarakan protes. Membawa seorang pria yang istri dan anaknya telah diculik oleh prajurit Kekaisaran, lalu menuntut pemerintah untuk menolong mereka.


Paham itu adalah sebuah jebakan, pihak pemerintah Rockfield tidak mau meladeni tuntutan tersebut. Mereka terlalu sibuk menyiapkan prajurit dan membangun pertahanan, tidak memperhatikan kondisi mental penduduk sipil yang sedang tertekan.


Di situlah kesalahan mereka dimulai. Riak mulai muncul pada permukaan air, berubah menjadi ombak yang menggulung tinggi dengan cepat. Tanpa mereka sadari, kerusuhan pecah dan pendapat publik kembali menjadi buyar.


Dipimpin oleh pedagang yang pertama kali mengutarakan suara, puluhan penduduk sipil mulai menyerang kantor pemerintah dan mengambil alih infrastruktur kota. Menuntut Walikota Rockfield untuk menyerah, lalu tunduk kepada Kekaisaran supaya tidak ada korban jiwa.


Dalam kerusuhan tersebut, belasan gedung pemerintah dibakar massa⸻ Puluhan berkas penting hilang, uang pajak dicuri, infrastruktur dirusak, dan bahkan sampai ada pejabat publik yang menjadi korban.


Merasa itu sudah keterlaluan, Jonatan Quilta langsung menarik pasukan dari titik pertahanan dan mengerahkan mereka untuk menekan kerusuhan.  Pria dengan gelar Knight tersebut mengambil langkah tegas, memerintahkan para prajurit untuk menyerang penduduk sipil jika mereka melawan.


Pada akhirnya, pertumpahan darah tidak bisa dihindari. Banyak penduduk sipil dan pedagang yang terbunuh tanpa bisa melakukan perlawanan yang berarti, dibantai oleh pasukan yang seharusnya melindungi mereka.


Itu adalah kesalahan kedua yang dibuat oleh pemerintah Rockfield⸻


Membunuh penduduk sipil, menurunkan moral prajurit, lalu merusak reputasi mereka sendiri. Pada puncaknya, kekuatan militer Rockfield benar-benar runtuh bahkan sebelum diserang Kekaisaran.


Semangat juang para pasukan mereka hilang, tidak ada yang mau mengangkat senjata untuk melawan, dan ajang saling menyalahkan pun dimulai. Benar-benar kalah bahkan sebelum perang dimulai.


.


.


.


.

__ADS_1


Ruang tamu Kediaman Keluarga Stein. Lampu kristal menyala redup, angin masuk melalui sela-sela pintu dan jendela. Sunyi mencekam meskipun tempat itu penuh dengan orang.


Hawa dingin mulai mengisi ruangan. Bukan karena angin, melainkan tatapan tajam orang-orang yang berada di dalam tempat tersebut. Saling curiga, menuduh, dan berusaha menjebak pihak lain supaya tidak disalahkan. Benar-benar kacau tanpa harmoni sama sekali.


Mereka berkumpul untuk membicarakan sesuatu. Namun, itu bukan tentang rencana pertahanan maupun perlawanan. Melainkan ajang saling menuduh untuk mencari pihak yang akan dijadikan kambing hitam, saling menyalahkan agar bisa selamat.


Memimpin pembicaraan tersebut, Oma Stein, Walikota Rockfield tidak bisa berbuat banyak. Pria tua itu sepenuhnya telah kehilangan kekuasaan atas pemerintah, saran dan pendapatnya pun tidak lagi didengarkan. Hanya menjadi pajangan dalam diskusi.


Duduk di sebelah Istrinya, Oma Stein hanya bisa mendengarkan debat antara pihak militer dan pejabat publik. Diiringi suara kekecewaan dari perwakilan pihak religi, lalu saling menyalahkan dan menuduh tanpa peduli lagi dengan kebenaran.


Pada sisi yang berbeda, seorang pedagang yang mewakili penduduk sipil terus menuntut. Meminta fraksi pemerintah untuk menyerahkan Jonatan Quilta, lalu ingin mengadili Kepala Prajurit tersebut atas kejahatan yang telah dilakukannya.


“Kami tidak peduli dengan urusan kalian!” ujar seorang pedagang seraya menggebrak meja, ia duduk di antara mereka sebagai perwakilan penduduk sipil. Lekas berdiri sembari mengacungkan telunjuk, pria gemuk itu menegaskan, “Dia membunuh orang-orang tidak bersalah! Itu adalah dosa besar!”


Pria paruh baya itu bernama Mao Lie, seorang tetua dari Sekte Dagang Teratai Danau. Ia memiliki perawakan yang subur dibalut Hanfu merah delima, wajah gembil dengan hidung pesek, dan rambut hitam panjang sebahu.


“Apa maksudmu, huh?!” Tidak terima dengan perkataannya, Jonatan Quilta langsung berdiri dan menarik pedang dari sarung. Sembari menodongkan bilah tajam, Kepala Prajurit itu dengan lantang membantah, “Kalian hanyalah antek-antek Kekaisaran! Menghasut rakyat Rockfield yang polos, lalu menyeret mereka menuju kematian! Justru yang berdosa di sini adalah kalian!!”


Meski perkataan Jonatan benar, tidak ada yang bangun untuk membela ataupun setuju. Dalam situasi itu, kebenaran tidak lagi penting. Hanya opini publik yang dapat menentukan siapa yang bersalah.


“Dengarkan apa yang dikatakan oleh pembunuh itu?! Sungguh tidak tahu malu!” Mao Lie menegakkan tubuh, lalu berjalan keluar dari meja pembicaraan dengan kedua tangan terlentang. Berbalik dan kembali menghadap lawan bicaranya, pria gendut tersebut lekas menunjuk sembari lanjut menuduh, “Menyalahkan orang lain atas dosa yang dirinya perbuat! Lemah, pengecut!”


“Sialan ….” Provokasi itu membuat kesabaran Jonatan habis. Melangkah keluar dari meja pembicaraan dan mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, pria berbalut zirah biru tersebut bersiap untuk menebas sembari berteriak, “Dasar babi rendahan⸻!”


“Berhenti, Tuan Quilta!” teriak Magdala dengan panik. Imam Kota tersebut segera berdiri, lalu menghampiri Jonatan sembari mengingatkan, “Engkau tidak boleh membunuhnya. Jangan terhasut, kita bukan orang barbar. Duduklah, mari kita bicarakan ini baik-baik.”


“Hmm ….” Melihat Kepala Prajurit kembali duduk, Mao Lie mengendus kesal sembari melirik Imam Kota. Pria gendut itu pun ikut duduk, melipat kedua tangannya ke depan sembari mencibir, “Yang pengecut itu kamu, dasar orang buangan.”


“Apa kau bilang?!” Jonatan menggebrak meja dengan keras, menumpahkan minuman dan makanan pun jatuh berserakan. Sembari mengacungkan telunjuk ke depan, Kepala Prajurit dengan murka mengancam, “Bicara seperti itu lagi, tenggorokan dan lidahmu itu akan aku potong! Supaya kau takkan bisa bicara omong kosong lagi!”


“Tuan Quilta, cukup …!” Imam Kota kembali memperingatkan. Karena umurnya, ia tidak bisa berteriak keras ataupun berdiri terlalu lama. Dibantu oleh Rosaria, pria tua itu diantar kembali ke tempat duduk. “Anda tidak boleh bersikap seperti itu,” ujarnya seraya mengatur pernapasan, mengelus-elus dada dan meminta air kepada pelayan.


“Bisa tolong ambilkan air lagi?” pinta Rosaria kepada Sistine, salah satu Adherents yang mengawasi pertemuan tersebut.


“Akan segera saya ambilkan, Nona Rosaria ….” Perempuan rambut pirang dengan seragam pelayan itu membungkuk sekali, lalu berbalik dan segera pergi ke belakang untuk mengambilkan air.


“Nona ….” Di luar ruangan, Sistine berjalan melewati Ri’aima yang sedang menguping pembicaraan. Sejenak berhenti, pelayan itu dengan suara rendah lekas berbisik, “Jika situasi ini memburuk, tolong kaburlah bersama Tuan Muda. Kami akan menyiapkan rute keluar.”


“Eh?” Ri’aima terkejut mendengar itu, lekas menoleh ke arah perempuan yang berjalan melewatinya. “Apa yang kamu bicarakan, Sistine⸻?” Hendak mengejarnya untuk memastikan sesuatu, tiba-tiba Putri Sulung Keluarga Stein itu tersentak. Merasakan nafsu membunuh yang kuat, berasal dari seseorang di ruang tamu.


Saat Ri’aima menoleh, pancaran haus darah itu telah menghilang tanpa jejak. Perempuan rambut biru pudar tersebut seketika memucat, gemetar ketakutan dan melangkah mundur.


“Ke-Kenapa tidak ada yang menyadarinya?” ujar Ri’aima sembari lanjut mengamati.


Ada banyak orang di ruang tamu. Selain perwakilan dari masing-masing pihak, ada juga beberapa pendamping yang berdiri di belakang mereka. Rosaria dari Pihak Religi, Wakil Walikota Fritz dari Militer, dan Baroness Agathe sebagai pendamping Walikota.


Ri’aima kenal dengan mereka semua, kecuali satu orang yang berdiri di belakang tempat duduk Mao Lie. Dia adalah perempuan dengan perawakan pendek, tampak terlalu lemah dan rapuh untuk disebut pengawal. Berpakaian mencolok layaknya pendeta kuil, lalu membawa instrumen ritual berupa Gohei, tongkat bambu kecil dengan dua kertas putih pada ujungnya.

__ADS_1


“Apa dia seorang Miko?” Ri’aima semakin curiga, tanpa sadar melangkah maju karena penasaran. “Kenapa pedagang itu membawa pendeta kuil bersamanya?” gumam perempuan rambu biru tersebut dengan heran.


Sebelum rasa penasaran Ri’aima terjawab, pintu utama Mansion tiba-tiba terbuka. Seorang prajurit masuk sebelum diizinkan, lalu lekas berjalan menuju ruang tamu dan berlutut di hadapan mereka.


“Lapor, Pak Quilta! Kita telah diserang!”


“Apa?! Bagaimana bisa mereka menyerang secepat ini⸻?!” Melihat sisa darah pada zirah dan pedang milik prajurit yang melapor, Jonatan segera bangun dari tempat duduk dan menghampiri. “Bukankah masih ada waktu beberapa hari lagi?!” tanyanya dengan tegas.


“Saya tidak tahu, Pak!” Prajurit itu mengangkat wajahnya. Menatap pucat, ia dengan penuh ketakutan menyampaikan, “Jumlah pasukan Kekaisaran yang menyerang jauh lebih banyak dari perkiraan kita!”


“Tch!” Kepala Prajurit berdecak kesal, mengerutkan kening dan segera menghunuskan pedang. “Bagaimana kondisi pertahanan kita?!” tanyanya untuk memastikan, merasa sudah terlambat untuk membantu pasukan di lini depan.


“Gerbang utama telah diterobos!” jawab prajurit itu dengan cemas. Segera bangun dan menunjuk keluar, dengan suara gemetar ia lanjut menyampaikan, “Kemungkinan besar mereka telah masuk ke dalam pemukiman kota!”


Mendengar itu, semua orang di meja perundungan langsung tersentak. Paham bahwa pembicaraan yang sedang berlangsung hanyalah sebuah pengalihan isu, supaya mereka tidak memperkirakan serangan tersebut.


Secara serempak, hampir seluruh perwakilan pihak dan pendamping langsung menatap tajam ke arah Mao Lie. Murka kepadanya, merasa dipermainkan oleh pedagang gendut tersebut.


“Bedebah …, kau …!”


Jonatan segera mengangkat pedang, lalu mengayunkannya ke arah Mao Lie yang masih duduk di kursi. Sebelum bilah menyentuh tubuh pedagang itu, sebuah dinding penghalang yang terbuat susunan sihir tiba-tiba muncul dan melindunginya.


“Orang Felixia memang terlalu lugu,” ujar pendeta kuil yang berdiri di belakang Mao Lie. Perempuan rambut merah darah tersebut mengeluarkan kertas talisman, lalu menciptakan dinding barikade yang lebih luar untuk melindungi sang pedagang. Sembari tersenyum tipis, ia dengan nada angkuh menyindir, “Bisa-bisanya kalian mempercayai omong kosong seorang penghasut, bahkan sampai mau mengikuti pergelaran bodoh ini …!”


“Siapa kamu? Jangan bilang ….!” Melihat sihir talisman yang digunakan pendeta kuil tersebut, Jonatan langsung menjaga jarak sembari memperingatkan, “Semuanya, cepat pergi sekarang juga! Dia adalah Jenderal Selatan, Yue Ying!”


“Oh, mengejutkan …!” Wanita yang berjuluk Burung Vermilion dari Selatan itu lekas mengayunkan tongkatnya. Menyebarkan struktur sihir ke penjuru ruangan, lalu kembali memperluas medan barikade untuk mengurung mereka. Sembari tertawa kecil, ia dengan senyum gelap kembali menyindir, “Meski lugu, ternyata kalian punya jaringan informasi yang cukup bagus.”


\==================


Catatan :


See You Next Time.


Open Commission :


Terima kasih atas seluruh dukungan nya, para Penikmat.


Terima kasih juga atas komentar, vote, dan share kalian.


Berhubung sudah masuk bulan Ramadhan, Author membuka Commission “Ilustrasi”.



Untuk sample bisa dilihat pada link di bawah ; https://www.pixiv.net/en/users/49296444/illustrations


Pembayaran bisa lewat OVO dan Gopay.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2