
Melihat pemuda itu berhasil kabur, Mili sempat menggertakkan gigi dan memperlihatkan tatapan murka. “Saya pasti akan menghabisi dia! Pasti!” gumamnya dengan penuh amarah.
Meski mendengar perkataan tersebut dengan jelas, Dart berusaha untuk tidak memedulikannya. Kebanyakan penyihir dari Miquator akan sangat sensitif jika berurusan dengan masalah laporan, berkaitan dengan pendidikan akademik yang mereka tempuh.
“Sebaiknya kita mundur saja,” ujar Dart seraya menghela napas. Ia tidak ingin melihat perempuan itu mengamuk tidak jelas setelah menangkap Odo. “Sepertinya aku yang terlalu meremehkan. Apa dia merencanakan serangan itu dari awal? Mengincar gerobak perbekalan dan kereta kuda ….”
“Kenapa?! Bukankah tadi Tuan Dart ngotot ingin melanjutkan pengintaian?!” Mili langsung mendekat. Tidak lagi memedulikan status sosial, ia dengan murka lanjut menegaskan, “Kita harus menangkapnya! Pokoknya harus!! Akh! Laporan saya!”
“Daripada menyalahkan Putraku, kenapa kamu tidak coba mengejar kuda tadi? Bukankah masih bisa dilacak dengan sihir⸻!”
“Saya lupa menanamkan sihir pelacak! Tadi sangat mendadak!” bentak Mili.
“Ah, hmm! Kamu benar ….” Dart hanya bisa memperlihatkan ekspresi datar, sekilas memalingkan pandangan dan menunjuk ke arah Roland Jakal. “Daripada mencemaskan laporan milikmu, kenapa kamu tidak sembuhkan dulu pria di sana. Dia sekarat, loh.”
“A⸻!” Mili terkejut. Ia langsung melupakan laporan sejenak, lalu berlari ke arah Jakal untuk menyembuhkannya. “Anda baik-baik saja, Tuan Jakal?!” tanyanya cemas.
“Memangnya diriku terlihat baik-baik saja?” balas veteran perang itu dengan lemas.
Luka pada perutnya cukup parah, bahkan organ dalamnya sampai terlihat dan hampir keluar. Meski kesadarannya sudah kembali dari tadi, veteran perang itu memilih untuk tidak bergerak ataupun berbicara. Paham bahwa dirinya bukanlah tandingan Keluarga Luke.
“Ma-Maaf! Saya benar-benar panik tadi!” Mili segera berlutut di dekat pria itu, lalu mulai merapalkan mantra pemulihan. Menggunakan kekuatan suci untuk mempercepat prosesnya.
Ia sekilas melihat lajur tebasan pada zirah Roland Jakal, sangat rapi tanpa ada lecet di sekitarnya. Tampak seperti bekas potongan sihir dimensi.
“Luca! Pimpin pasukan mundur! Misi pengintaian ini selesai!” Dart berjalan menuju salah satu kuda yang tersisa. Pria berparas tua itu segera naik, kemudian menatap Wakil Komandan sembari memerintahkan, “Kembali! Setelah sampai di Ibukota, Ordo Biru akan berada di bawah komando Raja Gaiel lagi!”
“Tunggu sebentar, Tuanku! Tolong izinkan diriku bertanya! Anda ingin pergi ke mana? Bukankah Raja Gaiel telah memerintahkan kita untuk ikut serta dalam perang utama?” tanya Luca dengan cemas. Wakil Komandan Peleton itu segera mendekat, ia memperlihatkan tatapan bingung sembari lanjut memastikan, “Jangan bilang Tuan berniat mengejarnya?”
“Odo adalah Putraku! Meski anak itu berkata kasar dan kurang ajar, dia tetap darah dagingku!”
Dart melepas sabuk yang melingkar pada pinggangnya, kemudian menyerahkan pedang simbolis kepada Luca. Masih tersarung dan belum pernah digunakan sekalipun selama misi pengintaian. Benar-benar menjadi pajangan meski sesungguhnya itu merupakan artefak sihir.
“Ta-Tapi!! Saya tidak pantas!” Meski ragu, Luca tetap menerima pedang simbolis tersebut. Menundukkan kepala dengan mimik wajah pucat.
“Kau yang memimpin pasukan ini sekarang! Kembali dan penuhi ekspektasi Raja!” Sang Marquess bertitah dengan tegas. Ia segera menarik tali sanggurdi, berniat pergi sebelum ada yang menghalanginya. “Ayo! Lari!” ujarnya seraya memacu kuda.
“Tunggu!” Mili menghadang kuda tersebut sebelum sempat melaju kencang. Setelah menyembuhkan Jakal, penyihir rambut pirang itu mengambil tongkat sihir dan menghentikan Dart. “Anda ingin pergi ke mana!” ujarnya dengan kesal.
“Tch!” Tidak ingin beradu argumen, Dart langsung memiringkan posisi tubuhnya dan meraih penyihir itu. Dipanggul layaknya barang bawaan, tidak ingin ada keributan karena bisa menarik perhatian seluruh Prajurit Elit. “Diamlah! Aku tidak ingin melukai perempuan!”
Dart memacu kudanya lebih cepat, melesat meninggalkan tempat itu dan berkuda menuju Kota Rockfield. Ia tidak menoleh, benar-benar kabur meninggalkan kewajibannya sebagai seorang Jenderal.
Melihat hal tersebut, seluruh Prajurit Elite hanya bisa memperlihatkan tatapan bingung. Jakal yang baru saja bisa duduk sekilas menoleh dan menghela napas. Di sisi lain, Luca tambah cemas karena tidak tahu harus melakukan apa.
Noxy Marta seketika menganga, sekilas melirik ke arah Luka dengan tatapan terkejut. Memperlihatkan ekspresi serupa, Chastel Fiber pun ikut kebingungan. Mereka berdua sama-sama tidak tahu harus meminta penjelasan dari siapa.
“Tuanku, perkataan Anda tadi benar-benar terdengar seperti penculik ….” Mili Eywa mengangkat kepalanya. Penyihir yang dibawa oleh Dart itu tidak cemas ataupun melakukan perlawanan, malah tampak santai sembari bercanda, “Anda pernah menculik seseorang? Ah! Benar juga! Kalau tidak salah, Anda pernah membawa kabur Saintess, ya? Cerita itu sampai dijadikan pentas teater di Miquator, loh.”
“A⸻!” Dart terkejut saat mendengar ucapan tersebut, langsung menyadari niat asli perempuan itu dan hampir menjatuhkannya dari kuda. “Kau sengaja?!”
“Hati-hati, Tuan Dart! Kalau saya jatuh gimana?!” Mili membentak. Ia langsung mencengkeram pakaian pria berparas tua itu dengan kencang, gemetar ketakutan saat melihat ke bawah. Setelah menghela napas, penyihir rambut pirang tersebut dengan penuh percaya diri menjawab, “Tepat, saya sengaja menghadang Anda supaya dibawa! Dengan ini saya bisa membalas dia⸻!”
“Aku lempar, ya?!” Dart mengancam, sekilas memperlihatkan tatapan datar karena merasa ditipu. “Serius, ini bukan gertakan,” lanjutnya dengan kesal.
“A-Ampun! Jangan lakukan itu! Kalau posisi jatuhnya salah, saya bisa mati!” Mili memohon dengan senyum kecut.
__ADS_1
“Kau benar, Putraku. Ini memang sangat menyebalkan ….” Dengan berat hati Dart melempar Mili ke atas kuda, membiarkan perempuan itu menumpang dan ikut. “Aku harap ini cepat selesai,” gumamnya dengan ketus.
ↈↈↈ
Merah kental bercampur dengan hitam pekat, mengalir dalam bau amis dan gosong yang menyengat. Angin pegunungan berhembus seakan ingin menyembunyikannya, namun malah menyebarkan tanda-tanda pembantaian tersebut.
Puluhan mayat bergelimpangan di sepanjang jalan susunan batu, menghiasi kota dengan pemandangan mengerikan. Ada yang dipenggal, dibakar menggunakan sihir, bahkan dijadikan totem dan digantung.
Mayat-mayat itu tidak hanya terdiri dari penduduk sipil, namun juga beberapa Prajurit Kekaisaran yang dihabisi oleh rekan mereka sendiri. Lebih tepatnya, bandit rekrutan yang tidak mau mundur dan membangkang.
Mereka berkata masih mampu melanjutkan perang, ingin menumpahkan lebih banyak darah, dan menikmati pembantaian. Layaknya kriminal, banyak kejahatan perang yang para bandit rekrutan itu lakukan.
Menyiksa penduduk sipil, menghabisi anak-anak, mempermalukan perempuan, dan menjarah harta benda untuk kepentingan pribadi. Tertawa lepas layaknya binatang, bertindak sesuka hati, dan membenarkan kebiadaban mereka dengan nama Kekaisaran.
Tidak ada peraturan tetap dalam sebuah peperangan, hanya ada tindakan untuk membunuh dan dibunuh. Namun, norma dan nilai seharusnya tetap ditaati oleh seorang prajurit. Mereka tidak boleh melewati batasan tersebut hanya karena mampu atau bahkan ingin.
Ketika menyaksikan kebiadaban dan kebejatan mereka, Jenderal Fai langsung muak dan berubah pikiran. Ia segera mengangkat tangannya, lalu memberikan perintah untuk membantai para bandit rekrutan itu.
Tidak ada kompromi, tawaran, atau bahkan komunikasi. Jenderal Fai tidak ingin mendengarkan alasan mereka. Ia sepenuhnya muak karena nama Kekaisaran telah dinodai oleh para kriminal itu, menyesal telah memasukkan orang-orang seperti itu ke dalam pasukan.
Itu bukan lagi sebuah pertempuran. Saat para bandit rekrutan bersenang-senang dengan penduduk sipil, mereka langsung ditebas dari belakang dan dihabisi.
Ada beberapa yang sempat melawan balik dan berusaha kabur, namun kebanyakan telah mabuk karena menenggak anggur jarahan. Ditumbangkan dengan mudah oleh Jenderal Fai bersama pasukannya.
Beberapa prajurit resmi Kekaisaran yang ikut bersenang-senang dengan para bandit pun dibantai, tidak luput dari ayunan pedang Jenderal Fai. Dihabisi karena dinilai telah menodai nama Kekaisaran.
Sebuah pembantaian yang ditujukan untuk memurnikan pasukan, menyingkirkan para bandit rekrutan dan menghapus jejak mereka. Dimulai dari kawasan persimpangan kota, jalan menuju Distrik Perekonomian dan Pertambangan, kemudian berakhir di kawasan sudut prostitusi dekat tambang.
Medali giok sebagai tanda kepemimpinan pun diambil kembali dari beberapa mayat bandit, diamankan oleh para Komandan Regu dan dihancurkan supaya tidak disalahgunakan.
Saat hari mulai gelap, pembantaian mencapai klimaksnya. Puluhan mayat yang masih utuh diseret ke depan Gerbang Utama, kemudian dilempar ke dalam parit dan dibakar.
“Penyucian! Penyucian! Penyucian!”
“Penyucian! Penyucian! Penyucian!”
Layaknya sebuah ritual, Pasukan Kekaisaran yang tersisa mulai mengangkat tombak mereka dan bersorak. Tidak mendoakan, namun malah menyebut pembantaian itu sebagai penyucian atas dosa yang telah diperbuat.
Dipimpin oleh Jenderal Fai, mereka terus bersorak-sorak dengan kompak. Menyerapah kematian, menghina perilaku bejat, dan mengutuk kebiadaban. Tanpa meminta pengampunan dan hanya menyalahkan mayat-mayat yang dibakar.
Orang mati takkan mampu melakukan pembelaan, itulah sebabnya Jenderal Fai memilih cara keji itu untuk menyatukan pasukannya. Ia tahu lebih mudah menyalahkan sesuatu daripada mencari kebenaran, apalagi menegakkannya.
Menikmati sayur yang terasa hambar, bercampur getir dan manis. Menyatu dalam satu tempat, kemudian dikunyah sampai hancur dan ditelan ke dalam perut.
Terkadang kehidupan terasa seperti sayuran yang dibenci anak-anak, disisihkan ke pinggir piring saat sarapan. Namun, saat dewasa mereka akan melahap itu dengan mudah. Menikmatinya dan melupakan kebencian yang ada.
Memaafkan merupakan satu langkah menuju dewasa, menerima keadaan adalah bukti dari kedewasaan itu sendiri. Tidak ada lagi kemurnian ataupun kepolosan, hanya ada realitas yang dibalut oleh noda kebohongan.
Mereka berdusta layaknya bernapas. Membual untuk mimpi, namun kenyataannya hanya ingin mencari aman dan mendapatkan kenyamanan. Menunjuk pemimpin dan berdiam diri. Menyalahkan orang lain ketika situasi tidak menguntungkan.
.
.
.
__ADS_1
.
.
Beberapa kilometer dari Kota Rockfield. Angin dingin bertiup menyisir pepohonan rimbun, menerbangkan beberapa helai daun yang masih hijau. Suara ramai gagak sesekali terdengar nyaring, beberapa hewan liar pun mengamati mereka dari balik semak-semak.
Mentari perlahan turun, mengubah sinarnya menjadi kemerahan. Memberikan kesan mencekam, seakan ada sesuatu yang sedang mengawasi dari dalam bayang-bayang hitam.
Sudah lebih dari satu jam setelah Pasukan Kekaisaran pergi meninggalkan Kota Pegunungan, menyusuri jalan utama dan bergerak menuju tempat yang ditentukan oleh Odo Luke. Berjalan mengikuti Ifrit sebagai penunjuk arah.
Sebagian dari mereka mendongak dengan heran, mulai berbisik-bisik, dan tidak bisa fokus karena rasa cemas. Beberapa Komandan Regu sempat menanyakan hal tersebut kepada Jenderal Fai, namun jawaban yang diberikan tidak menjelaskan apa-apa.
“Maafkan kelancangan saya, Jenderal Fai!” Seorang Komandan Peleton memberanikan dirinya untuk bertanya lagi. Segera keluar dari formasi, ia menghampiri Jenderal Fai yang berjalan memimpin pasukan di depan. “Bukankah yang di atas itu Zhu Que? Roh Agung yang dipercayakan Kaisar kepada Jenderal Yue?” tanyanya untuk memastikan.
“Hmm, benar!” Jenderal Fai melirik kesal. Tidak melambatkan langkah kaki, pria rambut merah itu dengan nada kesal membentak, “Kenapa kalian gelisah sekali!? Takut?! Dasar menyedihkan! Dia takkan menyerang kita!”
“Bukan begitu!” Komandan Peleton tersebut membalas dengan tegas. Ia segera menunjuk ke arah Ifrit yang terbang beberapa kilometer dari permukaan tanah, kemudian sedikit menyipitkan mata sembari menyampaikan, “Ke-Kenapa Roh Agung itu tidak lenyap? Padahal tidak ada kuil atau altar di sekitar sini! Jelas ada yang aneh!”
“Entahlah, diriku juga tidak tahu ….” Jenderal Fai ikut mendongak, perlahan memperlihatkan ekspresi heran sembari bergumam, “Apa dia sudah mengklaim tahta itu? Jika iya, untuk apa dirinya mau ikut bersama kami⸻?”
“Jenderal Fai!!” Komandan Peleton tiba-tiba berhenti, segera memasang kuda-kuda dan mengangkat tombaknya ke depan. “A-Apa itu?! Kenapa ada genangan air di tengah jalan?!”
Pasukan yang berjumlah tidak lebih dari dua ratus prajurit pun ikut berhenti. Memperlihatkan reaksi waspada, mengangkat senjata mereka dan masuk dalam sikap tempur.
“Genangan air, ya?” Jenderal Fai menurunkan tatapannya. Pria rambut hitam itu tidak berhenti, malah berjalan mendekati genangan air bercahaya yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka. “Apakah itu engkau, Odo Luke?” tanyanya untuk memastikan.
“Ya! Ini aku, Odo Luke! Maaf membuat kalian menunggu!” Seorang pemuda yang merangkak keluar dari dalam genangan air bercahaya. Ia segera bangun, lalu menggelengkan kepala dan berdecak kesal. “Aku baru selesai menghambat Pasukan Felixia,” tambahnya sembari menjentikkan jari, menonaktifkan genangan air bercahaya yang baru saja digunakan untuk teleportasi.
“Felixia? Mereka sudah mengerahkan pasukan sampai mana⸻?”
“Lini belakang kalian musnah!” Odo menyela dengan tegas. Memperlihatkan tatapan datar, ia dengan nada serius lanjut menyampaikan, “Dari dua belas markas yang kalian dirikan di sepanjang rute perdagangan, ada satu yang benar-benar musnah. Lainnya masih utuh, tinggal kau bujuk saja supaya mau mundur.”
“Siapa yang menyerang mereka?!” Jenderal Fai berdiri di hadapan pemuda itu, memberikan tatapan tajam sembari lanjut memastikan, “Hanya lini belakang yang lenyap?! Atau … mereka akan menyerang lebih jauh?”
“Pasukan Elite! Dipimpin Dart Luke ….” Odo sejenak menahan napas, memegang kening dan memalingkan pandangan. Kembali berdecak kesal, pemuda rambut hitam itu dengan nada ketus menjelaskan, “Aku sudah menghancurkan gerobak dan kereta kuda mereka! Seharusnya orang-orang itu mundur untuk menyiapkan peperangan utama!”
“Mengejutkan ….” Jenderal Fai menghela napas, meletakkan tangan ke dagu sembari lanjut bergumam, “Ini sungguh mengejutkan! Diriku pikir Raja Gaiel sudah kehilangan taringnya. Ternyata dia malah memanfaatkan momen ini untuk memulai perang.”
“Kalian yang memulai perang duluan!” Odo segera menurunkan tangan dari kening dan langsung menunjuk dengan kesal. Sembari mendekat, pemuda rambut hitam itu kembali menegaskan, “Kalau saja kalian mengambil cara lain, pasti situasinya tidak akan serumit ini!”
“Bukankah situasi ini akan semakin jelas?” Jenderal Fai melebarkan senyum penuh percaya diri. Sembari menatap tajam, ia dengan penuh rasa bangga meluruskan, “Kekaisaran takkan gentar! Meski digempur dari dua arah, diriku yakin Kaisar pasti akan menang!”
“Wow! Luar biasa!” Odo memperlihatkan tatapan datar, sedikit mengernyit dan lekas menyindir, “Kau berani bicara seperti itu setelah dibuat babak belur ….”
“A⸻!” Jenderal Fai tertegun, perkataan itu sangat menusuk dan sedikit melukai harga dirinya. “Sa-Saya minta maaf, perkataan tadi terlalu berlebihan. Situasi ini memang sangat tidak menguntungkan kami,” ujarnya seraya memalingkan pandangan.
“Aku tidak marah, kau tak perlu minta maaf ….” Odo menancapkan pedang hitam ke tanah. Sekilas memperlihatkan ekspresi muram, ia perlahan mengangkat lengan kanannya ke depan sembari berkata, “Ifrit, kemarilah! Ada sesuatu yang ingin aku katakan!”
Layaknya sosok hamba, Iragain Ifrit perlahan melayang turun dan berubah wujud menjadi seekor burung merah. Memenuhi panggilan sang Raja Tanpa Mahkota.
Ia mengepakkan sayapnya dengan perkasa, mengobarkan api merah pudar, dan menyebarkan partikel cahaya putih murni.
Makhluk astral berselimut hawa panas tersebut bertengger pada lengan sang pemuda. Merentangkan sayapnya lebar-lebar, memancarkan tekanan sihir kuat dan sangat mengintimidasi. Tanpa batasan informasi dimensi atau bahkan kekangan kontrak.
Seluruh prajurit yang berada dalam radius pancaran sihir langsung menutup wajah mereka, melangkah mundur dan mulai berlutut.
__ADS_1
Panas membuat para prajurit melepaskan zirah dan helm pelindung, bahkan sampai menjatuhkan tombak dan perlengkapan mereka yang terbuat dari logam konduktor.