Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[105] Serpent V – Malam Putih (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


“Padahal sedikit lagi …! Sedikit lagi! Sedikit lagi Ayahanda akan bangun⸻!”


 


 


Itu kalimat terakhir sebelum eksistensi Mahia di Dunia Astral lenyap. Tanpa bisa meraih sesuatu ataupun mewujudkan ritual yang dirinya inginkan, entitas tersebut perlahan kehilangan bentuk fisik dan keilahian.


 


 


Susunan Aeons menjadi kacau dan Daath diserap oleh galah yang menusuk tubuhnya. Benar-benar berubah menjadi tidak stabil, lalu dengan pasti kehilangan wujudnya sebagai entitas yang hampir menjadi sempurna.


 


 


Sayap cahaya seketika lenyap, lalu daging dan kulitnya pun dengan cepat meleleh layaknya mentega yang dipanaskan. Mengeluarkan kepulan asap di tengah paparan cahaya, lalu ambruk ke atas tanah gersang dan perlahan hancur.


 


 


Kaki dan tangan tidak bisa lagi digunakan untuk bangun, daging serta kulit melepuh, lalu tulang menjadi keropos seperti ranting. Pada momen sebelum entitas tersebut sepenuhnya hancur menjadi abu, dari retakan dimensi sosok pelempar galah mulai menampakkan dirinya.


 


 


Dewi Penata Ulang, Helena ⸻


 


 


Ia memiliki perawakan layaknya seorang gadis dengan rambut hitam. Panjang terurai sampai punggung, lalu tampak sedikit bergelombang saat terkena hembusan angin.


 


 


Kulit entitas tertinggi itu putih pucat seperti mayat, namun halus seperti bayi yang tidak berdosa. Ia memiliki mata ungu yang tampak bersinar layaknya perhiasan, lalu bibir kecil dan pipi merona meski tanpa riasan.


 


 


Meski dirinya seorang Dewi Tertinggi, entitas tersebut sama sekali tidak mencerminkan wujud Dewi layaknya dalam dongeng.


 


 


Sosok tersebut mengenakan gaun hitam beraksen gotik, memancarkan kesan gelap dan suram seperti sedang berkabung. Pakaiannya memiliki banyak renda dan lipatan pada bagian ujung, lalu terdapat juga ornamen berupa jam saku klasik pada pinggang serta rantai kecil sebagai pengait.


 


 


Helena juga mengenakan sarung tangan renda pada kedua tangannya, hitam pekat dengan pola mawar berduri. Sebagian rambutnya diikat dengan pita merah kirmizi, lalu kedua kaki mungilnya menjadi bagian tubuh yang tidak mengenakan apa-apa.


 


 


Sembari menatap rendah ke bawah, Helena perlahan melayang turun ke hadapan raksasa sekarat di bawah. Ia mengasihani dari lubuk hati, menatap dengan rasa jijik, merendahkan dalam ekspresi, lalu sedikit iri dengan sosok yang sudah tidak berdaya itu.


 


 


Saat sosok Dewi itu mengayunkan tangan kanannya dengan pelan, seketika sisa-sisa awan mendung di langit lenyap tanpa jejak. Digantikan dengan cuaca cerah yang hangat, namun masih menyisakan retakan Realm berbentuk persegi di langit.


 


 


“Engkau benar-benar mengejutkan diriku, wahai anak haram ….” Helena mengangkat tangan kanannya ke depan, lalu menunjuk lurus ke arah Mahia sembari kembali berkata, “Hanya dengan panggung ritual seperti ini, engkau berhasil mencapai keilahian sempurna dan hampir membangkitkannya.”


 


 


Mematuhi kehendak sang Dewi Penata Ulang, galah-galah yang sebelumnya dilemparkan mulai melayang. Tercabut dari raga Mahia yang runtuh, lalu melesat kembali menuju entitas tertinggi dan berhenti di udara.


 


 


Ukuran ketiga galah raksasa tersebut mulai menyusut sampai seukuran jarum, lalu mendarat di atas telapak tangan Helena dan meresap masuk ke dalam kulit layaknya keringat. Saat semua galah kembali padanya, sebagian rambut hitam Dewi berubah memutih seperti uban.


 


 


“Seharusnya ritual ini tidak akan bekerja hanya dengan satu pemicu, apalagi menggunakan makhluk primal yang bahkan tidak bisa mencapai puncaknya.” Helena menutup telapak tangan kanan, lalu perlahan menajamkan tatapan dan bertanya, “Apa yang engkau lakukan, wahai anak haram?”


 


 


Seakan ingin menertawakan sang Dewi, Mahia tersenyum lebar dengan wajahnya yang meleleh. Ia tidak berkata apa-apa, hanya terbaring lemas menunggu seluruh raganya hancur dengan sendirinya. Merasa sedikit puas karena telah memastikan sesuatu.


 


 


“Begitu, ya ….” Helena sejenak memejamkan mata, paham bahwa entitas rapuh tersebut tidak berniat menjawab. Mengingat kembali sifat yang ditanamkan sang pemuda pada Mahia, pada akhirnya ia segera mengambil keputusan dan berkata, “Kalau memang seperti itu niatmu, maka enyahlah saja ….”


 


 


Dewi Penata Ulang mengayunkan tangan kanannya ke kiri. Pada detik yang sama dan tanpa jeda waktu sama sekali, seketika eksistensi Mahia lenyap begitu saja. Bukan dihancurkan ataupun disingkirkan dari hadapan, namun sepenuhnya dihapus tanpa jejak.


 


 


Entah itu lelehan daging, kulit, tulang, atau bahkan kepulan asap putih, semuanya hilang tak tersisa. Bahkan bekas pada tanah tempat raksasa itu berada sebelumnya ikut lenyap, sepenuhnya dihapus oleh sang Dewi.


 


 


Satu-satunya yang tersisa dari entitas humanoid berukuran masif tersebut adalah Odo Luke. Individu yang dijadikan inti dalam ritual evolusi menuju Awal Mula, sang pemuda yang menjadi pelatuk utama untuk menulis ulang seluruh dunia.


 


 


“Sungguh, diriku selalu heran denganmu. Mengapa engkau menciptakan anak tidak tahu diri seperti dia?”


 


 


Helena mengulurkan tangan kanan ke depan, lalu menjentikkan telunjuk dan membuat suara nyaring yang menggema ke penjuru tempat. Beberapa detik kemudian tubuh Odo yang terbaring di atas tanah gersang mulai terangkat ke udara, lalu melayang menuju ke hadapan sang Dewi Penata Ulang.


 


 


“Biarlah ….” Helena tersenyum tipis saat melihat wajah Odo. Setelah menghela napas dengan sesak, sang Dewi sekilas menatap sekeliling dan langsung memperlihatkan mimik wajah sangat enggan. “Apapun yang dilakukannya anak itu percuma. Mustahil mengalahkan diriku dengan cara kasar seperti ini,” ujarnya seraya menunjuk ke bawah dengan tangan kanan.


 


 


Cahaya putih terang mulai terpancar dari tubuhnya, menyinari daratan gersang dan hampir menjamah seluruh hamparan Dunia Astral. Meski tampak seperti cahaya, pancaran tersebut merupakan susunan infomasi yang tersebar dari dirinya.


 


 


Menyatu dengan sisa-sisa Ether, udara, daratan, air dan seluruh konsep yang ada di Dunia Astral. Meleburkan semua susunan informasi yang ada dalam hitungan detik, lalu menulis ulang sebuah objek dan konsep yang terpapar pancaran tersebut.


 


 


“Rekontruksi Dunia. Segalanya kembali dalam kondisi sebelum Mahia muncul.”

__ADS_1


 


 


ↈↈↈ


 


 


Kegelapan tak berujung memenuhi tempat tersebut, sejauh mata memandang hanya ada hitam pekat layaknya noda tinta dalam keras putih. Tanpa cahaya, suara, aroma, atau bahkan getaran untuk dijadikan penunjuk arah.


 


 


Hanya ada kehampaan kekal, seakan-akan seluruh indra tidak berguna saat berada di dalam Realm itu. Sebuah alam dengan konsep dan struktur tidak sempurna, sangat prematur dan tak layak untuk disebut sebagai dunia.


 


 


Meski tidak bisa merasakan anggota tubuh, Odo tahu bahwa dirinya sedang berdiri tegak. Menghadap seseorang untuk membicarakan sebuah hal penting, lalu paham dengan ketentuan dan batasan yang diterapkan pada tempat tersebut.


 


 


Saat mengingat alasan mengapa dirinya bisa berada di tempat tersebut, kelima indra yang padam kembali aktif. Sensasi kesemutan menjalar ke sekujur tubuh, lalu beberapa pemahaman pun menyusup masuk ke dalam pikirannya.


 


 


Udara dingin terasa melalui kulit, aroma sejuk dan harum masuk melalui hidung, lalu suara dan detak jantung perlahan-lahan terdengar semakin jelas. Membawa rasa nostalgia, sedikit mengusik masuk ke dalam benak dan memberikan ketenangan.


 


 


Saat Odo Luke membuka kedua mata, pemandangan yang menyambutnya adalah sebuah Realm penuh kabut. Tidak ada cahaya, sejauh mata memandang hanya ada kegelapan pekat dengan permukaan lantai yang tampak datar.


 


 


Meski seharusnya tidak memiliki sumber cahaya, anehnya kabut putih yang memenuhi tempat tersebut tampak seperti memancarkan sinar. Berfungsi sebagai penerang, namun pada saat yang sama memiliki kesan seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


 


 


“Ah, begitu rupanya ….”


 


 


Kabut perlahan tersingkir dari sang pemuda, memperlihatkan raganya secara utuh tanpa luka sedikitpun. Dimulai dari kepala, badan, tangan, lalu kedua kaki yang menapak pada permukaan putih.


 


 


Tetapi, tubuh yang keluar dari kabut tersebut bukanlah miliknya.


 


 


Raga itu merupakan produk dari Dunia Kabut, Mista Ceza, sebuah Realm yang diciptakan sebagai koordinat utama dari singgasana ilahi. Memiliki fungsi penting dalam penyempurnaan sihir Manifestasi Dewa, lalu digunakan juga oleh Mahia untuk menampung inti kesadarannya.


 


 


Sebab itulah, Odo langsung paham bahwa tubuh yang digunakannya sekarang adalah imitasi. Meski terasa sangat mirip, secara teknis wujud sang pemuda hampir mustahil untuk disalin secara sempurna.


 


 


Tidak memiliki rajah Khanda di sekitar bahu kanan, itulah bukti kuat bahwa tubuh tersebut merupakan imitasi. Sebab pada dasarnya tanda tersebut tidak bisa disalin bahkan dengan Aitisal Almaelumat, lalu untuk bisa memindahkannya diperlukan juga sebuah metode khusus.


 


 


 


 


Meski tubuh tersebut masih suci layaknya bayi yang baru lahir, namun jiwa yang ada di dalamnya adalah hitam. Jelmaan dari konsep Maha Tahu, wujud sebuah potensi tanpa batas yang menyeberang dari Dunia Sebelumnya.


 


 


Dengan kata lain, ialah entitas yang bisa disebut sebagai Unlimited. Memiliki sifat dari angka nol bagi susunan konsep pembentuk semesta, sebuah bilangan yang jika dibagi akan menjadi tidak terbatas.


 


 


Penuh potensi, namun pada sisi lain bisa tidak memiliki nilai saat berdiri sendiri. Sebuah bilangan yang juga merupakan wujud dari Kekosongan.


 


 


Karena itulah, ia merupakan entitas yang sangat bertolak belakang dengan sifatnya sendiri. Wujud dari Ketidakteraturan, tidak dapat bisa diprediksi dan penuh dengan penyimpangan.


 


 


Sangat jauh dari kata harmoni yang selalu didambakan Dewi Helena. Sebab pada dasarnya keteraturan adalah sebuah keterbatasan, sesuatu yang jelas dan dapat dipahami dalam ketentuan yang tetap.


 


 


“Tubuh salinan dan dunia penuh kabut ….”


 


 


Saat memahami banyak hal tentang jati dirinya sendiri, Odo melihat sekitar dengan mimik wajah muram. Namun, sejauh mata memandang tempat tersebut hanya ada tabir asap putih.


 


 


Saat termenung dan kembali menyadari hal lain, pemuda rambut hitam tersebut mulai tersenyum. Ia kembali menoleh ke sekitar, lalu dengan nada lantang bertanya, “Berarti tubuhku sudah hancur, Mahia?! Sampai-sampai kau mengungsikan jiwaku ke tempat ini!”


 


 


Odo tersenyum tipis, memperlihatkan mimik wajah menyindir sembari mencari penghuni tempat tersebut. Ia mulai mengambil langkah, berjalan melewati kabut tebal dan kembali menoleh ke sekitar dan terus mencari.


 


 


“Atau malah itu sudah terkontaminasi radiasi?!” Odo bertanya sekali lagi. Namun, tetap saja tidak ada jawaban dan keheningan segera mengisi setelah suaranya lenyap.


 


 


“Sinar nova sangat mematikan, itu bahkan bisa membelokkan konsep dunia. Meski tidak terpapar langsung, ada kemungkinan tubuhku mengalami penyimpangan sampai-sampai tidak bisa lagi menampung jiwa,” tambahnya dengan nada yang terdengar semakin malas.


 


 


Perlahan Odo merasa percuma, sebab tempat tersebut benar-benar tampak hampa. Sama sekali tidak ada tanda kehidupan selain dirinya.


 


 


Meski telah berusaha ramah dan tidak menunjukkan amarah, tetap saja Mahia tetap tidak menampakkan diri atau sekadar menyahut. Sama sekali tidak mengindahkan kesabaran Odo untuk bicara baik-baik.


 


 


Sedikit kesal karena perkataannya tidak kunjung digubris, Odo berhenti melangkah dan segera menghentakkan kaki kanan dengan keras. Membuat Realm berguncang, lalu tabir kabut yang menutupi pun seketika tersingkir.

__ADS_1


 


 


Kabut merupakan media untuk menyembunyikan sesuatu, Odo menyadari hal tersebut saat pertama kali membuka mata. Namun, apa yang disembunyikan bukanlah sesuatu yang berwujud. Apalagi sosok Mahia yang dicari-cari olehnya.


 


 


Tepat ketika kabut putih menjauh dari sang pemuda, ingatan yang sengaja dikunci Mahia seketika terbuka lebar. Mengisi titik-titik hitam dalam serpihan kenangan, lalu menjelaskan beberapa hal yang membuatnya terdiam membisu.


 


 


Pada detik itu juga, Odo paham telah salah sangka terhadap situasi yang ada. Ia mengira tubuhnya terpapar sinar nova selama bertarung melawan Leviathan, lalu diselamatkan Mahia dan dibawa ke Dunia Kabut.


 


 


Tetapi, fakta yang terjadi tidak sesederhana itu⸻


 


 


Entah itu tentang tubuhnya yang diambil alih oleh Mahia, terciptanya singgasana ilahi di Dunia Astral, pertarungan sengit melawan Leviathan, atau bahkan kemunculan Dewi Penata Ulang, semua peristiwa menerobos masuk ke dalam dirinya. Sangat kuat dan jelas layaknya aliran sungai jernih.


 


 


Bukan mengingatnya, sang pemuda hanya tahu karena ia tidak benar-benar mengalami semua kejadian tersebut. Sebab dari awal yang membuat semua kekacauan itu bukanlah dirinya.


 


 


Layaknya sebuah pita rekaman yang diputar dengan cepat, semua gambaran peristiwa yang telah terjadi masuk ke dalam kepala Odo. Membuatnya langsung murka kepada Mahia, lalu kembali menghentakkan kaki dengan keras.


 


 


“Keluar kau!! Mahia!!” bentaknya seraya mencari sosok tersebut. Sembari mengepalkan kedua tangan, pemuda rambut hitam itu memperlihatkan ekspresi marah yang sangat menyeramkan. Benar-benar dikuasai murka, tidak bisa mempertahankan pemikiran rasional dan kembali membentak, “Jalang! Cepat keluar!! Beraninya kau melakukan itu! Apanya yang untuk evolusi! Aku tidak menginginkan hal menjijikkan itu! Aku bukan Helena!!”


 


 


Seakan mematuhi kehendaknya, kabut yang tersisa semakin menipis. Perlahan-lahan memperlihatkan sosok yang bersemayam di Realm tersebut, alasan sekaligus sasaran kemurkaan Odo Luke.


 


 


Namun, saat melihat sosok tersebut ia malah tercengang. Meski amarah benar-benar menguasai, pemuda itu tidak bisa memarahinya dan langsung terdiam membisu.


 


 


Mahia yang ada di hadapan sang pemuda sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tidak lagi memiliki wujud seorang perempuan, kesan cantik dan misterius pun seakan lenyap dari sosok tersebut.


 


 


Sulit untuk disebut sebagai makhluk hidup, sama sekali tidak memenuhi dasar-dasar Aeons ataupun memiliki Daath yang memadai sebagai makhluk.


 


 


Gumpalan daging, sepasang mata pada kulit, tangan-tangan mencuat seperti tanduk tak beraturan, lalu kaki saling tumpang tindih keluar dari satu tempat yang sama. Tidak bisa berdiri atau bahkan berjalan, tidak mampu berbicara karena tak memiliki mulut, lalu hidung dan daun telinga berada pada tempat yang saling berdekatan.


 


 


Keringat yang mengalir adalah darah dan nanah, aroma busuk keluar dari lubang pori-pori selebar jempol, lalu matanya bergerak dan berputar-putar pada permukaan kulit. Kaki dan tangannya menepuk-nepuk permukaan lantai, seakan-akan ia ingin menyampaikan sesuatu kepada sang pemuda.


 


 


Meski bentuknya telah berubah menjadi sangat menjijikkan seperti itu, Odo langsung tahu bahwa gumpalan daging tersebut adalah Mahia. Sosok yang kehilangan wujud identitasnya karena gagal dalam proses evolusi, lalu berakhir seperti itu setelah beberapa Daath direbut darinya.


 


 


Saat makhluk atau entitas kehilangan Daath mereka, secara otomatis Aeons mereka juga akan terpengaruh. Efek tersebut beragam tergantung seberapa banyak Daath yang lenyap.


 


 


Melihat bentuk kehidupan Mahia benar-benar dijatuhkan sampai seperti itu, Odo paham bahwa hampir semua Daath miliknya telah diambil. Dampak dari kegagalan evolusi diperluas sampai ke konstruksi jiwa, lalu wujud identitas pun kehilangan susunannya dan berakhir runtuh.


 


 


Odo pernah melihat kondisi seperti itu saat di Dunia Sebelumnya. Sedikit terguncang karena Mahia juga mengalami hal serupa, namun beberapa detik kemudian langsung tenang dan hanya menatap datar.


 


 


Bobrok, Jatuh, Rusak, Jahanam, Ranap, Rapun ⸻ Kondisi tersebut disebut dengan berbagai cara. Namun, secara garis besar itu merupakan situasi di mana Aeons mengalami keruntuhan. Gagal dalam proses penyusunan informasi dalam evolusi, lalu pada akhirnya membuat struktur kehidupan yang sudah ada menjadi rusak.


 


 


“Kau menyedihkan ….”


 


 


Sejenak menarik napas dan berlutut di hadapan gumpalan daging tersebut, tatapan Odo Luke seketika berubah tajam. Ia tahu siapa pelaku yang merebut Daath dan merusak Aeons milik Mahia. Namun, pada saat yang sama dirinya juga tidak bisa marah karena hal tersebut.


 


 


“Dia turun bukan hanya untuk menghentikan kelakuanmu, ternyata juga untuk memberikan hukuman ….” Odo tersenyum kecut. Amarah bercampur dengan rasa sedih, lalu senang pun ikut menyatu dalam benaknya.


 


 


“Benar-benar mencerminkan sifat seorang Dewi,” tambahnya dengan mimik wajah suram. Merasa sedikit nostalgia dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.


 


 


Odo membuka tangan kanan ke depan, sejenak memejamkan mata dan perlahan mengakses Realm tempatnya berada. Kabut yang tersingkir kembali berkumpul, bergerak menuju satu titik dan memadat pada telapak tangan.


 


 


Kabut adalah hasil dari penguapan zat cair yang membentuk gas. Namun, sesuatu yang menjadi sumber kabut putih tersebut bukanlah air biasa.


 


 


Sup Purbakala, inti dari sumber kehidupan dan merupakan larutan informasi untuk melahirkan makhluk hidup. Meski hanya sebatas salinan dari sumber kehidupan asli, kabut tersebut memuat informasi yang bisa digunakan untuk menciptakan tubuh cadangan.


 


 


Dengan kata lain, konstruksi Aeons yang ada di dalamnya cukup untuk menulis ulang keberadaan Mahia. Memulihkan bentuk kehidupan entitas rapuh tersebut.


 


 


Menggunakan Aitisal Almaelumat yang tertanam dalam jiwa, Odo mulai mengatur susunan informasi dari kumpulan kabut. Menulis ulang susunan Daath yang ada, lalu disusun supaya sesuai dengan kondisi Mahia sekarang.


 


 

__ADS_1


__ADS_2