Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[78] Egosentrisme (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Sekitar pukul tiga pagi, Odo benar-benar selesai melakukan operasi dan mulai mengemas semua peralatan yang sebelumnya dirinya digunakan. Ia menerima alat-alat tersebut dari kedua pelayan setelah dibersihkan di dapur, lalu memasukkannya ke dalam tas set peralatan bedah dan menyimpannya ke dalam dimensi penyimpanan.


 


 


Untuk sarung tangan sekali pakai dari usus sapi dan tumor yang telah diangkat, Odo membiarkannya di atas meja. Ia meminta Lisia untuk membakar habis sarung tangan dengan sihirnya, sedangkan untuk tumor yang baru saja diangkat dari Argo Mylta dirinya dimasukkan ke dalam dimensi penyimpanan setelah dibungkus kain kasa.


 


 


Alasan Odo menyimpan daging tumor adalah untuk diteliti, mencari tahu apakah jenis penyakit tersebut memiliki struktur dan gejala yang sama seperti penyakit tumor di Dunia Sebelumnya. Lalu, dirinya juga ingin mengembangkan sesuatu dengan tumor yang sampai dalam tahap perkembangan ke tingkat Kanker tersebut.


 


 


Secara mendasar, tumor dan kanker cukup dekat dengan mutasi. Pertumbuhan sel atau daging yang tidak terkendali, mengubah peta DNA dan membuat sebuah varian pada makhluk yang mengidap proses tersebut. Manipulasi mutasi merupakan salah satu hal yang pernah Odo lakukan di Dunia Sebelumnya, karena itulah dirinya sedikit tertarik dengan aspek tersebut.


 


 


“Kalau begitu, aku sudah selesai dengan ini …. Kau tidak keberatan kalau daging tumornya aku bawa, ‘kan?” Odo menoleh ke arah Lisia setelah merapikan kedua sarung tangan hitam yang dikenakan. Sedikit menghela napas ringan, pemuda itu mengingatkan, “Jangan lupa tentang rencananya. Aku akan memulainya sekitar pagi atau siang nanti. Seharusnya kau punya waktu istirahat beberapa jam ….”


 


 


Lisia terdiam, merasa apa yang diucapkan Odo terlalu cepat dan terkesan terburu-buru. Melangkah mendekat dan memasang mimik wajah heran, perempuan rambut merah tersebut bertanya, “Memangnya untuk apa Tuan Odo membawa daging menjijikkan itu? Bahkan sampai dimasukkan ke dalam sihir dimensi …. Kalau barang-barang Anda kotor, bukannya nanti tambah repot?”


 


 


“Itu tidak merepotkan jika dibandingkan dengan permintaan kau kali ini,” singgung Odo seraya mulai melangkahkan kaki mundur. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan pergi menuju pintu kamar untuk segera meninggalkan tempat tersebut.


 


 


Namun sebelum keluar dari kamar, Lisia lekas meraih tangan kanan pemuda itu dan menghentikannya. Menatap dengan sayu, ia dengan sedikit cemas bertanya, “Maaf …, saya … tidak tahu harus berkata apa sekarang. Saya memang senang Anda mau menyembuhkan Ayahanda, namun entah mengapa kalimat yang sesuai … tidak bisa keluar.”


 


 


Labil, penuh keraguan dan tidak bisa memutuskan sesuatu dengan kehendaknya sendiri. Melihat hal seperti itu masih ada pada Lisia, untuk sesaat Odo merasa itu adalah hal yang sangat buruk. Terutama untuk karier perempuan itu di dunia pemerintahan.


 


 


“Jika kau belum siap untuk mengatakannya, jangan bicara setengah-setengah. Kau … pasti akan mudah dimanfaatkan oleh orang lain jika terus seperti itu.”


 


 


Saran yang terdengar bagaikan peringatan tersebut membuat Lisia tersentak, melepaskan tangan Odo dan melangkah mundur. Menggenggam tangan kanannya sendiri dan gemetar, perempuan rambut merah itu sesaat terdiam dengan murung.


 


 


“Maafkan saya …. Saya hanya ingin tahu alasannya. Kenapa … Tuan Odo sebaik ini kepada saya? Meski Anda pernah berkata ini bukan demi saya, tetap saja rasanya ….”


 


 


Odo mengerutkan kening, memalingkan pandangan dengan kesal dan merasa kalau Lisia hanya pura-pura dalam perkataan tersebut. Kembali menatap lurus mata perempuan tersebut, Odo dengan tegas berkata, “Kau tahu, Lisia. Sifat pengecut itu yang aku tidak suka darimu. Seakan hari esok pasti akan datang, kau menunda-nunda terus. Tidak ada yang menjamin kalau aku atau kau akan terus hidup sampai matahari terbit nanti.”


 


 


“Su-Sudah saya bilang, saya bingung harus mengatakan apa⸻!”


 


 


“Pembohong,” potong Odo dengan tegas. Tidak menjelaskan apa yang dirinya maksud di balik satu kata tersebut, ia segera berbalik dan kembali berkata, “Terserah kau mau keras kepala sampai kapan. Untuk sekarang, lakukan saja rencana yang telah kita diskusikan.”


 


 


Mengucapkan kalimat yang hanya peduli dengan rencana dan terkesan acuh terhadap perasaan Lisia, pemuda itu melangkah pergi dari ruangan. Salah satu dari dua pelayan di ruangan mengejarnya, untuk mengantar pemuda itu sampai ke gerbang Mansion.


 


 


Ditinggalkan bersama satu pelayan lain dan ayahnya yang masih terbaring tidak sadarkan diri, Lisia menundukkan kepala dan merasa kalau Odo telah mengetahui semuanya. Baik itu perasaan yang ada di dalam lubuk hatinya, atau kondisi yang membuatnya harus berbohong.


 


 


Itu adalah perasaan yang tidak boleh dimiliki Lisia kepada pemuda yang telah menjadi tunangan Tuan Putri Arteria.  Terlarang, terbatas oleh status dan kepentingan orang-orang besar di Kerajaan Felixia. Entah untuk Odo ataupun Lisia, tidak ada hal yang baik jika keegoisan tersebut berlangsung.


 

__ADS_1


 


“Anda sedikit kejam pada hal ini, Tuan Odo …. Meski telah menyadarinya, kenapa Anda tidak langsung dengan tegas menolak? Padahal Anda selalu bisa dengan tegas menegur saya ….”


 


 


ↈↈↈ


 


 


Dini hari yang dingin, membawa udara lembap yang sedikit sejuk dan melapisi dedaunan dengan embun-embun pagi. Meski matahari masih belum terbit, para nelayan yang akan berlayar telah bersiap dengan perahu-perahu mereka. Menggelar layar kapal lebar-lebar, bersama para awak mulai berlayar keluar dari teluk dan pergi ke lautan lepas menggunakan angin darat sebagai penggerak.


 


 


Beriringan dengan waktu sibuk para pelayan, Odo Luke melangkahkan kakinya menuju distrik rumah bordil. Dalam sepi yang diselingi suara ramai dari arah pelabuhan, ia dengan santai berjalan sembari mengamati sekitar.


 


 


Cahaya yang ada di sepanjang jalan menuju pelabuhan memang tidak terlalu terang jika dibandingkan dengan pusat kota, hanya ada beberapa tiang lampu kristal di sepanjang jalan dan tampak sebagian ada yang rusak. Dalam keterbatasan pencahayaan, Odo dengan jelas bisa melihat mereka yang lalu-lalang sembari mendorong gerobak ataupun memanggul karung untuk dibawa ke pelabuhan.


 


 


Sebagian besar dari mereka adalah Demi-human, para imigran gelap dan ada beberapa orang dari luar Kerajaan Felixia. Memang orang-orang yang sibuk di pagi hari beraneka-ragam, tetapi secara garis besar mereka semua adalah strata bawah hierarki sosial.


 


 


Buruh kasar, atau bahkan ada juga budak yang dibawa oleh pedagang dari negeri lain. Berbeda dengan Felixia yang telah melarang perbudakan, Kerajaan Ungea dan Kekaisaran memang masih melegalkan hal tersebut. Bahkan untuk Kekaisaran ada peraturan pemerintah yang mendukung otoritas pemilik budak atas budaknya.


 


 


“Apa … lebih baik aku harus ikut campur juga masalah perbudakan, ya?”


 


 


Ungkapan itu Odo ucapkan tanpa makna dalam, hanya merasa sedikit mengasihani beberapa budak yang dirinya lihat di jalan. Meski semua orang bekerja dengan keras dan rela bangun pagi-pagi, hanya mereka yang memiliki kalung rantai di leher tampak menyedihkan di matanya.


 


 


Paham hal semacam itu berada di luar otoritasnya sebagai seorang Viscount, Odo hanya menghela napas ringan dan kembali menatap ke depan. Dalam persimpangan dimana orang-orang terus lurus ke arah pelabuhan, pemuda rambut hitam itu belok dan masuk ke Distrik Rumah Bordil.


 


 


 


 


Sebagian ada yang dipekerjakan oleh rumah-rumah bordil yang ada di sepanjang distrik untuk pengembangan kualitas pelayanan malam, lalu sebagian lagi ada juga yang bekerja di Perusahaan Ordoxi Nigrum. Meski begitu, di dalam gang-gang gelap yang tidak tersorot cahaya masih ada mereka yang terpinggirkan dari perkembangan distrik.


 


 


“Semoga pembangunan rumah susunya cepat selesai,” benak Odo sembari memalingkan pandangan dari mereka yang ada di dalam gang gelap.


 


 


Dirinya paham, ikut campur dengan semua itu hanya akan membuang waktunya. Apa yang bisa dilakukannya hanya menyerahkan pembangunan kota kepada pemerintah dan membantu dalam segi perekonomian dan sosial, untuk mendorong mereka membuat kebijakan baru yang menguntungkan segala strata sosial.


 


 


Sembari memikirkan kebijakan-kebijakan yang ingin dirinya sarankan kepada pemerintah Mylta nantinya, ia akhirnya sampai di tempat yang dituju kali ini. Itu adalah bangunan Rumah bordil Alms Lilac milik Theodora Mascal, sebuah rumah para ‘Bunya Raya’ tempat Odo berinvestasi.


 


 


Jika dibandingkan dengan rumah bordil lain, tempat tersebut paling banyak mengalami perubahan selama satu bulan terakhir. pernak-pernik lampu kristal sebagai penghias di depan bangunan, dinding dipoles warna cyan dan linen putih, lalu pintu pun dipasangi gorden indah dengan rajutan bunga Lilac yang menjadi nama dari tersebut.


 


 


Berdiri di depan Alms Lilac, tiga kupu-kupu malam yang mengenalnya langsung menghampiri dan mulai menggoda. Sedikit melonggarkan tali pakaian tipis mereka, mendekatkan tubuh dan berbicara dengan kalimat serta suara lembut.


 


 


“Tuan Odo …, lama sekali diriku tidak melihat Anda? Apa Anda ingin bertemu Madam?”


 


 


“Mari kami Antar ke dalam, kebetulan Madam masih bangun.”


 


 

__ADS_1


“Ayo, Tuan Odo …..”


 


 


Odo untuk sesaat menatap bingung, tidak kenal dengan ketiga wanita tersebut. Meski dirinya pernah melihat mereka saat pertama kali datang, namun tetap saja tidak tahu nama mereka membuat pemuda itu sedikit enggan. Sedikit berpikir dan segera paham, Odo merasa bahwa Theodora pasti memberitahukan sesuatu tentang dirinya kepada para wanita malam yang bekerja untuknya.


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut perlahan menurunkan sorot mata, menatap bagian tubuh ketiga kupu-kupu malam tersebut yang sengaja diumbar. Untuk sesaat, dirinya merasa kalau teknik menggoda mereka sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan terakhir kali dirinya datang.


 


 


Ketiga kupu-kupu malam itu menempelkan bagian kewanitaan mereka ke Odo. Ada yang memagang tangan pemuda itu dan menyentuhkannya ke dada, ada yang langsung menempelkankan tubuh dari depan, lalu ada juga yang memeluk dari belakang.


 


 


“Lebih menarik dari sebelumnya, kalian belajar banyak tentang cara menggoda.”


 


 


Mendengar sebuah penilaian dari pemuda yang mereka goda, seketika ketiga kupu-kupu malam tersebut kehilangan rasa percaya diri. Berhenti menggoda dan melangkah menjaga jarak, mereka bertiga memasang wajah muram. Ketiga wanita tersebut merasa standar Keluarga Luke terhadap wanita memang sangat berbeda, bahkan untuk kelas bangsawan sekalipun.


 


 


“Anda … memang sedikit aneh.” Salah satu kupu-kupu malam menghela napas, sedikit memalingkan pandangan dan kembali menyindir, “Masa Anda sama sekali tidak tertarik setelah digoda tiga wanita?”


 


 


“Hiss! Jangan berkata seperti itu,” tegur rekannya dengan sedikit panik.


 


 


“Benar katanya, ini memang sedikit aneh,” sambung kupu-kupu malam lain.


 


 


Mendengar apa yang dikatakan ketiga wanita tersebut, Odo hanya memasang senyum tipis dan mengendus ringan. “Pria juga memiliki berbagai selara, ada juga di antara mereka yang tidak terlalu peduli dengan buah dada,” ujar pemuda itu sembari meletakkan tangan ke dagu dan memalingkan pandangan.


 


 


“A⸻!” Kupu-kupu malam yang pertama kali menyindir terkejut mendengar itu, menatap risau dan bertanya, “Maksud Anda kami kurang menarik? Yah, jika dibandingkan dengan milik Madam, punya kami memang tidak seberapa ….”


 


 


Wanita tersebut tambah risau dengan postur tubuhnya sendiri, memegang kedua buah persik miliknya dan memasang mimik wajah kesal. Kedua rekannya pun merasakan hal yang sama, perkataan Odo membuat mereka mulai memiliki masalah kompleks pada bagian kewanitaan dan merasa kurang percaya diri dengan itu.


 


 


“Bagi wanita yang belum pernah hamil, saya rasa ukuran ini sudah besar loh,” ujar kupu-kupu malam berambut cokelat gelap, ia yang sebelumnya menegur rekannya.


 


 


“Apa kalian mendengarkan perkataanku tadi? Tidak semua pria tertarik dengan dada loh.” Odo menurunkan tangan dari dagu dan mengacungkan telunjuknya ke depan. Sembari tersenyum penuh rasa percaya diri ia berkata, “Contohnya, seperti aku yang lebih suka kaki daripada gumpalan lemak di dada.”


 


 


Mendengar apa yang dikatakan Odo dengan nada tanpa keraguan, ketiga wanita tersebut menatap sedikit jijik dan tambah merasa kalau pemuda itu memang aneh. Namun saat melihat ekspresi cengengesan pemuda rambut hitam tersebut, ketiga kupu-kup malam itu langsung paham kalau dirinya hanya sedang mempermainkan mereka.


 


 


“He-emm …. Kalian menyadarinya, ya?” Odo menurunkan telunjuk dan kembali melangkahkan kaki, melewati mereka sembari berkata, “Aku cukup terhibur, terima kasih. Ayo antar aku ke ruangan Madam, ada hal yang perlu aku bicarakan ….”


 


 


Perkataannya membuat mereka terdiam, bertambah bingung dan tidak paham orang seperti apa itu Odo Luke. Meski melihatnya secara fisik dan bisa menyentuhnya, tiga wanita tersebut merasa kalau Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut sedang berdiri di tempat yang tidak mereka raih. Begitu penuh dengan hal yang tidak diketahui, itulah kesan mereka terhadap Odo Luke.


.


.


.


.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2