Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[97] Angelus II – Blue Action (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


Hakikat seorang anak adalah untuk bahagia, sebab dirinya merupakan harta sekaligus amanah. Sebuah hadiah yang diberikan dunia kepada kedua orang tua.


 


 


Anak-anak memiliki hak untuk bermain, mengenal dunia, belajar, dan memahami diri sendiri. Labil dalam masa remaja merupakan hal yang wajar, karena itu adalah proses untuknya menjadi dewasa.


 


 


Namun, terkadang orang tua membebani anak mereka dengan ekspektasi berlebihan. Layaknya seorang pemilik mutlak dan anak didefinisikan sebagai barang, orang tua menekan dan memakai anak-anak sesuai dengan kehendak mereka.


 


 


Meremas kencang layaknya sedang membuat tembikar, anak diperlakukan bagai tanah liat yang hanya ada untuk dibentuk sesuai keinginan mereka.


 


 


Sebagai yang membuat seorang anak terlahir ke dunia, orang tua selalu mengharapkan dan membebankan sesuatu. Entah itu baik atau tidak, hal tersebut kelak akan menjadi pegangan bagi sang anak. Ketika pijakan tiba-tiba menghilang saat menginjak dewasa, itu menjadi petunjuk arah baginya.


 


 


Pengetahuan, untuk menjaga diri sendiri dan mengenal lebih dalam tentang dunia.


 


 


Keceriaan, untuk melihat dunia lebih berwarna dan menjaga hati supaya tidak rusak.


 


 


Cara pandang, sebuah petunjuk untuk mengenalkan baik dan buruk.


 


 


Harta, sebuah pegangan untuk memberikan anak kekuatan di masyarakat.


 


 


Lalu, pada akhirnya semua itu adalah sebuah warisan dari orang tua. Sesuatu yang dengan pasti akan membuat anak-anak merasa terbebani, entah itu malah terasa memberatkan ataupun meringankan.


 


 


Selama proses pewarisan kepada anak berlangsung, pasti ada sebuah fase pemberontakan ketika menginjak remaja. Anak akan mengatakan lelah dengan semua hal yang ada, bersikukuh bisa memilih jalan sendiri, lalu mulai mengumpat kedua orang tua seakan dirinya paling benar.


 


 


Di sisi lain, mungkin itu merupakan esensi manusia yang menginginkan kebebasan. Ketika pandangan semakin luas dan mengetahui bahwa dunia tidaklah selebar daun kelor, anak seketika merasa terkekang. Meski sebenarnya tidak ada yang berubah dari cara hidupnya selama ini.


 


 


Apapun itu, pada akhirnya seorang anak memiliki hak untuk mendapatkan sesuatu dari kedua orang tua. Dirinya berhak mendapatkan kebaikan dan warisan dalam bentuk apapun, untuk dijadikan bekal saat beranjak dewasa.


 


 


Sebuah warisan yang bisa digunakan untuk menyambung hidup, mempertahankan diri sendiri, dan menegakkan kehendak di masyarakat.


 


 


Namun, hal seindah itu bukanlah sesuatu yang pasti akan didapatkan oleh semua anak.


 


 


Mereka yang tidak diharapkan.


 


 


Mereka yang lahir dari orang tua labil.


 


 


Mereka yang tidak mampu untuk menerima warisan karena cacat.


 


 


Dan mereka yang bahkan disebut sebagai anak haram dan tidak diberikan hak layaknya seorang anak.


 


 


Itu bukanlah kesalahan anak-anak tersebut, namun dari lahir mereka seakan menanggung dosa besar yang tidak bisa dimaafkan. Mendapatkan perlakuan buruk, direndahkan, dan dipandang sebelah mata layaknya hama.


 


 


Anak-anak tersebut terlahir ke dunia bukan karena kehendak mereka sendiri, melainkan karena ulah kedua orang tua mereka. Tetapi, tetap saja label buruk ditempelkan sejak lahir. Layaknya kelahiran mereka adalah sebuah kesalahan, dosa itu sendiri.


 


 


Menyedihkan, itulah yang bisa dikatakan masyarakat saat mendengar cerita anak-anak buangan. Tanpa mau melakukan sesuatu, lalu menutup mata dan sepenuhnya berpaling dari hal seperti itu. Menyerahkan masalah sosial tersebut kepada pihak religi, lalu memandang masalah tersebut seakan sudah menjadi kewajiban orang-orang puritan.


 


 


Dari sekian banyak kasus yang ada, Lily’ami adalah salah satu contoh nyata anak buangan di Kota Pegunungan. Darah daging yang tidak diharapkan, bahkan dicap sebagai anak haram oleh orang tua angka sendiri.


 


 


Sejak berumur satu tahun, anak perempuan itu telah dititipkan pada salah satu keluarga pedagang di kota tersebut. Ditelantarkan sebelum bisa mengingat dengan baik, bahkan wajah sang ibu yang melahirkan pun ia tidak tahu.


 

__ADS_1


 


Tanpa mengetahui siapa kedua orang tua kandung, Lily’ami benar-benar hidup sebagai anak tiri di keluarga yang mengadopsinya. Selalu dibandingkan, diperlakukan lebih buruk dari pembantu, dan bahkan mendekati budak. Sejak belia, ia sudah ditekankan bahwa dirinya bukanlah seorang anak di keluarga tersebut.


 


 


Awal-awal diadopsi memang cukup baik. Ia masih mendapatkan makanan dan pakaian yang layak, tempat bernaung dan diperlakukan layaknya seorang anak asuh. Meski sering dibandingkan-bandingkan sejak kecil dan dipandang rendah, paling tidak Lily’ami masih diperlakukan sebagai manusia.


 


 


Namun seiring berjalannya waktu, ketika menginjak umur empat tahun perlahan semuanya berubah. Kondisi perekonomian kota memberikan dampak pada keluarga pedagang yang mengadopsinya, mengubah keluarga yang sebelumnya tenang-tenang saja berubah kacau.


 


 


Pada tahun tersebut juga, ayah kandung Lily’ami berhenti mengirimkan dana kepada keluarga tersebut karena masalah keuangan. Sesuatu yang menjadi pengekang seketika hancur sepenuhnya, membuat semua orang di keluarga yang mengasuhnya berhenti memperlakukan anak perempuan itu sebagai seorang anak.


 


 


Posisi anak yang dititipkan seketika berubah menjadi seorang beban. Pandangan merendahkan semakin kuat, bahkan sampai-sampai tatapan mereka berubah menjadi kebencian. Orang-orang yang seharusnya menganggapnya keluarga, sejak saat itu benar-benar memperlakukannya layaknya seorang budak.


 


 


Pendidikan dasar yang sebelumnya diberikan seketika dihentikan secara penuh, lalu Lily’ami setiap hari hanya disuruh bekerja membersihkan rumah. Anak perempuan itu tidak lagi mendapatkan makan dan pakaian yang layak, bahkan ada beberapa malam di mana ia harus tidur di luar.


Setiap kedua orang tua angkat dan anak-anaknya pulang, Lily’ami terkadang dimaki sampai dipukul. Tanpa pernah tahu kesalahan yang dirinya lakukan.


 


 


Karena itulah, sifat patuh tanpa sadar tertanam pada anak perempuan itu. Tidak ingin dipukul, tidak ingin sakit, dan tidak ingin membuat mereka marah. Dengan semua hal tersebut, ia layaknya seorang budak hanya mengikuti perkataan keluarga yang mengasuhnya. Meski kata asuh sudah dijalankan lagi oleh mereka.


 


 


Ketika beranjak enam tahun, Lily’ami sepenuhnya dianggap sebagai budak oleh mereka. Dengan tubuh kecil dan lemah, ia disuruh mengangkat barang-barang dagangan yang berat. Ketika jatuh sakit, ia hanya dibaringkan begitu saja di tengah jalan sampai dipungut oleh orang asing yang menemukannya di jalan.


 


 


Ia beruntung yang memungut adalah orang baik dan benar-benar mau merawatnya sampai sembuh. Namun, tetap saja anak perempuan itu tidak berpikir untuk kabur. Dengan gemetar dan penuh ketakutan, ia selalu memutuskan untuk kembali lagi ke keluarga pedagang yang telah mengasuhnya sejak kecil.


 


 


Berkali-kali, terus menerus seakan hanya di keluarga itu sajalah tempatnya kembali. Dengan senyum penuh kesedihan, ia menatap orang yang telah menolongnya dan berkata, “Terima kasih banyak, Paman. Namun …, saya harus membalas kebaikan mereka. Saya harus kembali kepada mereka.”


 


 


Entah sudah berapa kali Lily’ami memanggil orang yang telah menolongnya dengan sebutan seperti itu. Meski selalu mendapatkan kebaikan, anak perempuan itu tidak bisa mengingat wajah orang-orang yang memberikannya pertolongan.


 


 


Seiring berjalannya waktu, wajah keluarga angkat pun tidak bisa dirinya ingat. Selalu menundukkan kepala, tanpa berani menatap langsung karena takut ditampar. Tetapi, tetap saja ia tidak bisa pergi dari mereka yang selalu menyakitinya.


 


 


 


 


Pada usia tersebut, perlakuan kasar keluarga pedagang tersebut semakin menjadi-jadi. Dilempar ke luar rumah dan harus tidur di jalan, tidak diberikan makan, ditendang sampai jatuh dari tangga, dan bahkan diseret di lantai. Layaknya objek pelampiasan stress karena kondisi perekonomian keluarga pedagang tersebut semakin terpuruk, Lily’ami menjadi bulan-bulanan.


 


 


Namun pada suatu hari, anak perempuan itu melihat seseorang berpakaian serba hitam mendatangi kediaman keluarga pedagang. Pria tersebut membicarakan sebuah hal yang membuat kedua orang tua angkat tampak kegirangan, lalu menunjuk ke arah Lily’ami seraya mengatakan sesuatu.


 


 


Keesokan harinya, Lily’ami diajak oleh kedua orang tua angkat dan anak-anaknya keluar kota. Sebuah perjalanan dagang, itulah yang anak perempuan itu dengar dari mereka. Dengan patuh dan tidak bertanya apa-apa lagi, ia hanya mengikuti layaknya seorang budak. Tanpa tahu apa yang akan menunggunya.


 


 


Selama perjalanan, ia perlahan-lahan merasa janggal. Kedua orang tua yang bisanya melakukan kekerasan bersikap sedikit baik, mau memberikan makan, dan memakaikan pakaian baru. Bahkan, anak-anak dalam keluarga pedagang tersebut tidak memaki dan hanya mendiamkan.


 


 


Sebelum Lily’ami menyadarinya, pada sebuah malam di tengah perjalanan tiba-tiba ia telah berada di tengah hutan belantara. Di dekat api unggun yang masih menyala, anak perempuan yang sebelumnya tidur karena kekenyangan segera bangun.


 


 


Dengan panik ia melihat sekitar, namun tidak bisa menemukan kereta kuda yang membawanya pergi dari kota. Tentu keluarga angkat yang mengasuhnya selama ini juga tak terlihat di sana.


 


 


Pada saat itu, dalam kesunyian Lily’ami mengingat kembali kalimat yang dibisikkan saat tidur. Dengan jelas disampaikan oleh ibu angkat, bersama suara-suara tawa cekikikan yang mengikuti di belakang.


 


 


“Seharusnya di akan mati kalau ditinggal di sini. Pria itu kejam juga, bukannya mengambil anaknya sendiri tapi malah meminta kita membunuhnya.”


 


 


Ditelantarkan ⸻ Meski masih kecil, ia seketika memahami hal tersebut saat mengingat perkataan sang ibu angkat. Namun, apa yang bisa dipikirkan anak perempuan itu sebenarnya masihlah terlalu lembut. Kenyataannya ia hanya dibuang ke tengah hutan, supaya mati dimakan hewan buas ataupun monster.


 


 


Dalam renungan di tengah kegelapan hutan, Lily’ami melihat ke arah api unggun yang dengan pasti mulai padam. Ketika semuanya gelap dan satu-satunya sumber cahaya lenyap, ia baru bisa mengingat perkataan pria berpakaian serba hitam yang mendatangi kediaman keluarga angkatnya waktu itu.


 


 


Sembari menunjuk Lily’ami, saat itu pria berpakaian serba hitam tersebut berkata, “Buang dia ke hutan dan biarkan saja mati, daripada kalian menganggap anak itu beban dan menyiksanya. Ini uang untuk kalian, setelah melakukan itu pergi saja dari kota ini dan jangan kembali lagi!”


 


 


Meski tahu penyebab yang membuat dirinya dibuang, anak perempuan itu hanya meringkuk diam di tengah hutan. Tidak memendam dendam, hanya pasrah dalam ketidakberdayaan. Memejamkan mata dalam kegelapan, lalu menerima takdir yang akan menjemputnya.

__ADS_1


 


 


“Paling tidak …, saya bisa mati dengan perut kenyang.”


 


 


Itulah yang dikatakan Lily’ami sembari membaringkan tubuh di atas tanah. Membiarkan pakaian baru kotor, lalu terlentang sembari menatap langit malam. Tanpa tahu arti dan makna yang ada di dalam gugusan bintang, anak perempuan itu hanya menganggap mereka begitu indah meski berada di antara kegelapan.


 


 


Anak perempuan itu sekali lagi memejamkan mata rapat-rapat, terlelap di tengah hembusan dinginnya angin malam. Berpasrah pada apa yang akan menimpanya.


 


 


Namun seakan takdir ingin berkata berbeda, ajal tidak menjemputnya malam itu.


 


 


Hari berikutnya datang dan napas Lily’ami masih berhembus. Detak jantung terdengar jelas, di antara kesunyian yang membuatnya merasa tidak nyaman. Duduk dan menatap kedua telapak tangan yang kotor, Lily’ami hanya merasakan dingin yang menyelimuti tubuh dan hati pun menjadi hampa.


 


 


Di tengah kesendirian, meski belum genap satu hari Lily’ami seakan merindukan suara hinaan yang biasa menusuk ke telinga. Daripada kesunyian yang membuatnya merasa sangat kosong, anak perempuan itu lebih suka perlakukan kasar keluarga angkatnya.


 


 


Pada saat itu, ia pun tahu bahwa mereka yang selalu menyakitinya memang telah memberikan warna dalam kehidupan. Meski itu bukanlah sebuah warna yang indah.


 


 


Tanpa tahu arah dan tujuan, ia kembali berbaring di atas tanah. Memejamkan mata dengan pasrah, berharap tidak lagi bangun dan benar-benar terlelap selamanya. Namun, sampai empat hari terlewat ajal tidak kunjung datang.


 


 


Jangankan monster, hewan buas bahkan tidak menghampirinya selama beberapa hari tersebut. Hanya ada burung, tupai, dan rusa yang sesekali ia lihat berkeliaran di tengah hutan. Tanpa ada satu pun yang mau mendekatinya.


 


 


Tubuh anak perempuan itu menjadi kurus kerempeng, kulit pucat pasi, dan tidak bisa berdiri atau bahkan duduk. Hanya berbaring, lalu dalam benak merasa mati kelapangan tidaklah terlalu buruk.


 


 


Seakan tidak ingin mengabulkan keinginan Lily’ami, sekali lagi takdir berkata berbeda. Meski sebelumnya tempat tersebut tidak menunjukkan gelagat aktivitas monster, tiba-tiba sekawanan Gorteah datang menghampirinya.


 


 


Monster dengan tubuh mirip serigala, memiliki kepala rusa dengan tanduk besar dan di sekujur tubuh penuh sisik seperti reptil. Layaknya binatang buas yang kelaparan, kawanan monster tersebut menghampiri Lily’ami yang sudah tidak bisa bergerak.


 


 


Pada saat itu ketakutan malah mendominasi. Meski anak perempuan tersebut sudah membulatkan tekad dan pasrah dengan ajal yang akan menjemput, saat melihat para Gorteah ia tanpa sadar langsung gemetar. Insting langsung berkata bahwa dirinya tidak ingin mati.


 


 


“To-Tolong …. Siapa … saja, tolong …. Tidak … janga⸻Akh …!”


 


 


Ketika salah satu kaki digigit, suara lemah yang keluar dari mulutnya berubah menjadi rintihan kesakitan. Darah keluar, sakit luar biasa menjalar sampai kepala namun tubuh tidak bisa digerakkan. Seiring kesadaran yang memudar, anak perempuan itu perlahan mati rasa.


 


 


Dengan secuil kesadaran yang tersisa, Lily’ami tahu para Gorteah lain mulai menggigit tubuhnya. Pada bahu kanan, betis kiri, lengan kanan, pergelangan kiri, perut kanan. Daging terkoyak gigi tajam para monster, perlahan-lahan dimakan oleh mereka.


 


 


Sebelum kesadarannya menghilang secara penuh, kegaduhan tiba-tiba terdengar. Membuat para Gorteah berhenti memangsanya, lalu menghadap ke sumber suara.


 


 


Dalam kesadaran yang telah sampai di ujung tanduk, Lily’ami dengan jelas melihatnya. Sosok pria tua yang mengayunkan pedang, membunuh semua monster yang datang menyerang dalam sekali tusukan.


 


 


“Ah, sekali lagi saya diselamatkan orang asing,” benak anak perempuan itu tepat sebelum kesadaran menghilang.


 


 


Itulah pertemuan pertama Lily’ami dengan pria tua bernama Ferytan Loi.


 


 


Anak perempuan itu sendiri tidak mengerti alasan pria tua tersebut menolong, ia hanya bisa berkata terima kasih karena nyawanya telah diselamatkan. Meski setelah itu mereka selalu bersama, sang anak perempuan sama sekali tidak berani menanyakan alasan tersebut kepadanya.


 


 


Diam menjadi pilihan, karena rasa takut ditinggalkan lagi oleh orang yang kali ini memungutnya. Dalam benak anak perempuan itu memang merasa seperti parasit yang hanya bisa bergantung kepada orang lain. Namun, pada saat yang sama kejadian tersebut membuatnya sadar bahwa dirinya sangatlah lemah.


 


 


Sangat rapuh sampai-sampai tidak bisa hidup dengan kekuatannya sendiri.


.


.


.


.


 

__ADS_1


 


__ADS_2