Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[90] Dekadensi Kota Rockfield VII – Gadis (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


Sampai-sampai tidak disadari oleh banyak orang, terkadang waktu berjalan begitu cepat dan membuat mereka tersesat dalam kehidupan. Sebelum bisa memahaminya, masa depan sudah di depan mata tanpa membiarkan mereka bersiap. Sebelum sempat mempersiapkan, tenggang waktu tiba-tiba telah dapat di depan pintu dan mengetuk untuk meminta pertanggungjawaban.


 


 


Layaknya sebuah jam pasir, waktu bergerak dan menimbun satu persatu harapan yang seharusnya dilayangkan ke langit.


 


 


Tanpa bisa diwujudkan, semuanya hanya akan tertimbun dalam butiran waktu dan hilang ditelan bumi. Harapan anak-anak akan terlupakan saat mereka dewasa, mereka akan dihadapkan kenyataan yang datang tanpa peringatan dan dipaksa sadar bahwa dunia tidaklah selembut dalam cerita dongeng pengantar tidur.


 


 


Masa depan yang diserahkan oleh orang lain, beban dan impian yang dilimpahkan orang tua, ekspektasi dari lingkungan, dan tanggung jawab yang tidak bisa dibuang. Pada akhirnya, anak-anak akan memilih untuk melepaskan harapan mereka dan menjadi dewasa.


 


 


Impian bernama harapan ⸻ Sesuatu yang ingin dicapai oleh mereka. Melepaskan itu dan menanggung semua beban adalah arti untuk menjadi dewasa di masyarakat.


 


 


Anak-anak pada akhirnya kelak tidak akan bisa menikmati hal baru lagi. Rasa penasaran perlahan pudar, lalu sebuah rasa takut terhadap sesuatu yang belum diketahui pun muncul secara perlahan. Melabeli sesuatu dengan kata tabu, larangan, dan pada akhirnya mencegah orang lain mencari hal baru tersebut.


 


 


Karena itulah, perkembangan ilmu pengetahuan sering mengalami kemunduran karena larangan-larangan tersebut. Dengan alasan melanggar ketentuan dan kepercayaan, cara pandang yang berlawanan akan langsung dibantah tanpa adanya pengkajian untuk menentukan itu benar atau tidak.


 


 


“Menggunakan manusia untuk bahan eksperimen adalah hal tabu.”


 


 


Meski menyatakan hal tersebut dengan jelas, namun para dokter pada era modern menggunakan materi dan pengetahuan dari pendahulu mereka yang melanggar hal tabu tersebut. Lalu, secara nyata pelanggaran hal tabu itulah yang membuat bidang kedokteran berkembang pesat di masa lampau.


 


 


Layaknya pola pikir dimana setiap hal memiliki pengecualian, setiap larangan memiliki pengecualian. Orang dewasa yang tidak bisa membuang sifat kekanak-kanakan, memandang dunia dengan begitu naif dan membual tentang idealisme. Dalam setiap sejarah, orang-orang seperti itulah yang melanggar ketentuan yang telah ada dan membawa perubahan bagi dunia.


.


.


.


.


Dalam langkah menaiki anak tangga, udara malam berhembus dingin. Meresap melalui pakaian, menyentuh kulit dan masuk ke dalam tubuh. Menganggap sepele itu, pemuda rambut hitam tersebut hanya memasang wajah lelah dengan setengah mata terbuka.


 


 


“Aku terlalu terbawa suasana ….”


 


 


Mengatakan hal tersebut dengan lesu, langkah kaki Odo berhenti setelah menaiki anak tangga terakhir. Menatap ke depan dan melihat Kediaman Keluarga Stein di ujung, Putra Tunggal Keluarga Luke sekali lagi menghela napas.


 


 


“Anak perempuan itu ….” Membuka telapak tangan dan menatap, pemuda rambut hitam tersebut kembali melangkahkan kaki. Perlahan memejamkan kedua mata, dalam suara pelan Odo Luke bergumam, “Kenapa Ferytan sangat memedulikan anak itu? Dari gelagatnya tadi, pria tua itu juga setuju karena mempertimbangkan nasib anak itu, bukan?”


 


 


Saat memikirkan hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke merasa telah melewatkan hal penting karena sempat terbawa suasana selama pembicaraan. Meski telah bicara panjang lebar dengan Ferytan, namun Odo hanya bertukar beberapa kalimat dengan Lily’ami.


 


 


Karena itulah, Spekulasi Persepsi tidak bisa aktif secara terpusat kepada anak perempuan itu. Membuatnya sulit untuk mencari tahu latar belakang serta kepribadian anak yang menjadi prioritas Ferytan Loi.


 


 


“Anak adopsi, menjadi prioritas orang tua itu, dan dulunya berasal dari keluarga dengan status sosial menengah. Hanya informasi itu yang aku miliki tentangnya. Dari cara bicara dan kepribadiannya anak itu, apa dia berasal dari keluarga pedagang? Tapi, dia tidak terlihat seperti orang dari Kekaisaran. Kalaupun memang pedagang asli Kerajaan Felixia, kenapa bisa dia bersama Ferytan? Bukannya pria tua itu datang ke Rockfield dengan tujuan lain? Kenapa susah-susah memungut anak yang bisa menjadi beban?”


 


 


Gumam tersebut terdengar seperti dengung lebah. Saat memikirkan kepala anak perempuan bernama Lily’ami tersebut, tanpa sadar Odo telah sampai di depan gerbang utama Kediaman Keluarga Stein. Para penjaga di tempat tersebut segera membukakan pintu gerbang seakan telah menunggu kedatangan Odo, lalu sempat berpikir untuk menyapa Putra Tunggal Keluarga Luke itu.


 


 


Namun saat melihat ekspresi serius dan gumam panjang pemuda tersebut, mereka mengurungkan niat dan hanya menundukkan kepala dengan hormat. Tidak berkata apa-apa dan paham bahwa orang tersebut tidak boleh diganggu.


 


 


Setelah sampai di tengah-tengah halaman depan Mansion, Odo segera menghentikan langkah kaki dan dengan jelas berguam, “Apa Lily’ami berasal dari Kota ini? Dilihat dari ekspresi pelayan di penginapan tadi, sepertinya mereka juga sudah saling kenal. Terasa seperti memiliki hubungan tertentu ….”


 


 


Meski berkata seperti itu, namun hal tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kemungkinan yang ada. Mengingat kembali telah terbawa suasana selama pembicaraan, Odo menghela napas dengan rasa sesal dan mengeluh, “Ini menyebalkan. Apa aku tidak fokus karena aroma ale dan bau daging babi di sana? Atau karena terlalu sering menggunakan Spekulasi Persepsi seharian ini? Jujur saja, ucapan Ferytan soal rumor dari para pedagang juga cukup menarik. Sampai-sampai aku memikirkannya cukup dalam dan tidak fokus dengan hal lain.”


 


 


Saat benak Odo dipenuhi rasa tidak senang, tiba-tiba spekulasi tentang potensi perang melintas di dalam kepala. Tanpa peringatan salam sekali, pemuda itu menyadari sebuah fakta pada peperangan yang akan dibawa oleh Kekaisaran dalam waktu dekat. Memahami bahwa itu bisa saja dimulai pada awal musim gugur nanti, pada saat yang sama Putra Tunggal Keluarga Luke pun menyadari fakta lain.


 


 


“Jangan bilang ….” Kedua alis Odo perlahan turun, keningnya mengerut dan dengan penuh rasa kesal ia bergumam, “Raja Gaiel sudah memperkirakan waktu peperangan dan sengaja mengirim ku ke Wilayah Rein? Karena aku sekarang adalah tunangan sang Tuan Putri? Atau malah dia memiliki tujuan lain?”


 


 


Dalam spekulasi awal, Raja Gaiel mengirim Putra Tunggal Keluarga Luke ke Wilayah Rein untuk memberikan tanggung jawab atas gelar bangsawan yang telah dilimpahkan. Tetapi saat dipikirkan kembali, seorang tunangan Tuan Putri tidaklah perlu melakukan hal semacam itu. Terlebih lagi untuk Odo yang belum menginjak usia dewasa.


 


 


Memperkirakan beberapa kemungkinan yang ada, itu malah membuat Odo bertambah kesal. Apa yang Raja Gaiel lakukan mungkin memang demi kebaikan Kerajaan Felixia, namun Putra Tunggal Keluarga Luke merasa itu terlalu seenaknya. Terutama tentang bagaimana cara sang Raja menggunakan Keluarga Luke untuk kepentingannya.


 


 


“Dia benar-benar seenaknya menggunakan Keluarga Luke! Apapun alasannya, bedebah tua itu sama sekali tidak peduli dengan kehendakku!” Amarah seketika melonjak dan membuat kedua mata terbuka lebar. Odo dengan kesal mengentak-hentakan kaki ke permukaan jalan, lalu dengan murka mengumpat, “Oke! Orang tua sialan! Kalau seperti itu cara kau bermain, akan aku babat semuanya! Tak perlu lagi bersikap lembut! Kalau perlu aku libas semua rencananya! Dasar tua bangka! Sudah berani membawa pasukan musuh ke Wilayah Luke, dia bahkan ingin mengirim ku pergi dan membiarkan Dart menyelesaikan semuanya! Dia melakukan itu saat tahu apa yang menjadi prioritas ku, ‘kan?! Dasar bajingan! Kalau aku bertemu dengannya lagi, akan ku ha⸻!”


 


 


Perkataan Odo tiba-tiba terhenti, pada saat yang sama ia juga berhenti menghentakkan kaki dengan kesal. Ia menatap terkejut ke arah teras Mansion, sekilas merasakan situasi yang ada memiliki sebuah kemiripan dengan kejadian kemarin.

__ADS_1


 


 


Tepat di atas tempat tersebut, perempuan rambut biru pudar tersebut berdiri dengan tatapan heran bercampur cemas. Layaknya memang dari awal sudah menunggu kedatangan Putra Tunggal Keluarga Luke.


 


 


Berbeda dengan kesan yang Odo miliki terhadapnya, Putri Sulung Kelaurga Stein tersebut terlihat lebih feminin dari biasanya. Perempuan rambut biru pudar tersebut mengenakan gaun tanpa bahu berwarna ungu plum, lalu di atasnya dirangkap sebuah jaket wol berbulu. Pada bagian bawa gaun terdapat lipatan berpola sampai pinggang, lalu sulaman tipis bunga pada bagian ujungnya.


 


 


Sedikit menurunkan tatapan dan melihat alas kaki Ri’aima, Odo sedikit terkejut karena perempuan rambut biru pudar tersebut mengenakan sepatu hak tinggi dan benar-benar menonjolkan sisi feminin. Meski tampak cantik layaknya seorang perempuan kelas atas, namun Putra Tunggal Keluarga Luke malah langsung memberikan tatapan datar dan sedikit menarik bibir ke dalam mulut.


 


 


“Penampilan Nona …, apa itu disuruh Ayah Anda?” tanya Odo dengan bingung. Amarah yang sebelumnya menguasai dengan cepat dilupakan, digantikan dengan rasa heran dengan penampilan perempuan tersebut.


 


 


Bukannya menjawab pertanyaan itu, Putri Sulung Keluarga Stein melangkahkan kaki ke depan dan malah balik bertanya, “Apa pembicaraan Anda tidak berjalan dengan baik?” Namun sebelum Odo sempat menjawab, perempuan rambut biru tersebut berjalan menuruni teras dan kembali berkata, “Tidak, bukan itu yang ingin saya bicarakan sekarang. Jujur saya sendiri bingung bagaimana mengungkapkannya, ini pertama kalinya bagi saya merasakan hal seperti ini.”


 


 


Odo sempat goyah, melangkah ke belakang dengan cemas saat melihat ekspresi Ri’aima. Itu benar-benar diisi oleh kebahagiaan, bahkan hampir mencapai tingkat euforia dimana logika tidak lagi dipedulikan dan hanya tenggelam dalam rasa senang.


 


 


Ekspresi itu mirip dengan Helena, itulah yang Odo rasakan darinya. Membuat pemuda itu sedikit takut dan jijik, lalu dipaksa untuk mengingat hal yang tidak ingin dirinya ingat.


 


 


“Nona Ri’aima? Tenanglah! Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu⸻?”


 


 


Ri’aima langsung memeluk Odo. Tanpa membiarkan pemuda itu menyelesaikan kalimat atau memberikan penjelasan atas amarah yang meledek sebelumnya. Hanya dengan rasa berpasrah dan tulus, Perempuan rambut biru pudar tersebut memeluk dengan erat dan terdiam. Tidak gemetar ataupun membisikkan sesuatu, ia hanya ingin menunjukkan perasaannya kepada pemuda tersebut.


 


 


Di bawah malam cerah tanpa awan ataupun kabut, wajah Putra Tunggal Keluarga Luke sesaat memucat. Menarik napas dalam-dalam, sang pemuda pun mengangkat kepala dan menatap ke arah langit malam.


 


 


Dalam benak Odo ingin segera melepaskan pelukan perempuan itu, merasa hal tersebut bisa memancing kesalahpahaman jika dilihat oleh orang lain. Pada saat yang sama, ia juga berpikir apa yang sedang dirasakan oleh Putri Sulung Keluarga Stein tersebut adalah hal yang salah.


 


 


Tidak membiarkan pemuda itu pergi, Ri’aima tambah memeluk erat dan tidak melepaskan. Ia perlahan memejamkan mata, lalu memasang senyum tipis dalam pelukan. Melonggarkan pelukan dan kembali membuka mata, ia dengan suara lembut menyampaikan, “Terima kasih, Tuan Odo. Meski dari awal bertemu saya selalu menyusahkan Tuan, namun apa yang Anda berikan selalu sangat berarti untuk saya.”


 


 


“Apa Nona Ri’aima bicara soal Tuan Oma?” Odo mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi dan berusaha untuk tidak memeluk. Dengan suasana hati masih bercampur aduk antara bingung serta terkejut, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Jika memang itu alasan Nona melakukan ini, jujur saja itu sangat tidak perlu. Aku menyembuhkan Tuan Oma untuk kepentingan saya sendiri, bukan untuk Keluarga Stein atau bahkan Nona Ri’aima.”


 


 


“Tuan Odo memang sangat baik ….” Ucapan tersebut tidak mengubah pendapat Ri’aima tentang Putra Tunggal Keluarga Luke. Berhenti memeluk dan mengambil satu langkah ke belakang, perempuan itu mengibaskan rambut biru pudar yang terurai dan berkata, “Tuan bisa saja tidak mengatakan hal itu, lalu … memanfaatkan perasaan saya sepuas Anda.”


 


 


 


 


“Tidak masalah.”


 


 


“Ah?”


 


 


“Jika Tuan ingin memanfaatkan saya, dengan senang hati tubuh dan jiwa ini saya tawarkan.”


 


 


Odo seketika menurunkan kedua alis dan menatap dengan mata setengah terbuka. Mengambil satu langkah menjauh, rasa cemas seakan memeluk dari belakang dan membuat pemuda itu terdiam sesaat.


 


 


Perlahan memalingkan pandangan, Putra Tunggal Keluarga Luke menelan ludah dengan berat. Sembari melirik cemas ke arah lawan bicara, ia dengan penuh gelisah bergumam, “Apa-apaan ini? Kesurupan apa nih cewek? Baru ditinggal sebentar kok sudah rusak begini? Apa kepalanya habis kebentur, ya?”


 


 


“Tuan Odo ternyata bisa melucu juga.”


 


 


Ri’aima tertawa kecil dan menganggap sindiran itu hanyalah candaan. Sembari tersenyum bahagia, ia menatap dengan mata berbunga-bunga layaknya seorang perempuan yang sedang kasmaran.


 


 


Kembali berjalan mendekat dan menyentuh pipi kiri Odo dengan tangannya, perempuan rambut biru pudar itu perlahan memperlihatkan ekspresi sedih dan menyampaikan, “Tuan Odo tidak perlu membalas perasaan saya. Saat ini saya hanya ingin menyampaikannya, saya ingin Anda tahu. Hanya itu …. Saya paham sebenarnya Tuan Odo berada di luar jangkauan tangan lemah ini. Sebab itulah, tolong jangan mengelak dan terima perasaan saya. Lalu, letakkan itu ke sudut hati Anda dan lupakan.”


 


 


“Ah, dia memahami itu dengan baik.”


 


 


Saat mendengar perkataan Ri’aima, itulah yang langsung terlintas di kepala Odo. Memegang tangan kasar yang menyentuh pipinya, pemuda tambut hitam tersebut menatap lurus sang perempuan dan hanya terdiam.


 


 


Dalam benak ia merasa bersalah karena telah membuat Ri’aima sampai merasakan perasaan seperti itu. Namun, pada saat yang sama ia juga tidak ingin mengacuhkan perasaan tersebut dan menganggapnya tidak pernah ada.


 


 


Memang benar itu adalah sebuah perasaan yang salah. Di mata Odo, itu bahkan terlihat menakutkan dan sedikit menjijikkan karena membuatnya teringat dengan Helena. Tetapi, apa yang disampaikan oleh Ri’aima memang benar-benar tulus apa adanya.


 


 


Perlahan tatapan Odo berubah dingin, memegang erat tangan perempuan itu dan dengan niat membantah bertanya, “Apa itu benar-benar cinta? Bukan ketergantungan?”


 

__ADS_1


 


Itu sempat membuat kedua mata Ri’aima terbuka lebar, memberikan tatapan sedih dan dengan nada lemas menjawab, “Tuan tahu, saya bukan anak-anak. Tentu saja saya bisa membendakan hal tersebut. Lagi pula …, ini bukan pertama kalinya saya mencintai seseorang. Karena itulah, saya bisa membedakan hal tersebut dengan baik.”


 


 


Odo menurunkan tangan Ri’aima dari pipi dan melepaskannya. Sembari perlahan memberikan tatapan sedih dipenuhi rasa ragu, Putra Tunggal Keluarga Luke menyipitkan mata dan dengan jelas bertanya, “Apa yang pertama itu Iota? Mendiang Putra Kepala Prajurit sebelumnya?”


 


 


“Sungguh, kenapa bisa Anda tahu hal-hal seperti itu? Siapa yang memberitahu? Rasanya seperti Anda melongok ke dalam hati saya.”


 


 


Ri’aima perlahan tersenyum tipis, merasa bodoh ingin menyembunyikan sesuatu dari Odo. Menatap tegas dan sama sekali tidak memperlihatkan kesedihan, perempuan rambut biru pudar kembali mengulurkan tangannya ke depan dan menyentuh dada pemuda di hadapannya.


 


 


Sembari memasang senyum teguh, Ri’aima dengan tegas menyampaikan, “Saya benar-benar telah jatuh cinta kepada Anda. Saya tahu ini memang tidak tahu diri, namun perasaan ini benar-benar nyata. Bukan rasa ketergantungan atau semacamnya! Saya harap Anda tidak salah paham tentang hal tersebut.”


 


 


Meski menyampaikan itu dengan jelas, namun mimik wajah Ri’aima menunjukkan seakan dirinya lebih berharap perasaan itu hanyalah sebatas ketergantungan. Perlahan tatapannya dipenuhi kesedihan, tampak berkaca-kaca saat terpapar sinar lampu kristal di teras.


 


 


“Terima kasih, saya menghargai perasaan tersebut.” Odo membalas dengan senyuman hangat. Tidak menolak ataupun menerima perasaan tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke mengangkat telunjuk ke depan mulut dan berkata, “Saya akan merahasiakannya.”


 


 


“Merahasiakan?” ujar Ri’aima sembari menurunkan tangan.


 


 


Odo tidak menjawab pertanyaan tersebut. Menggerakan telunjuk dari mulutnya sendiri ke bibir Ri’aima, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kita tunda pembicaraan ini. Sepertinya adik-adik Nona khawatir soal Anda.”


 


 


“A⸻?!” Dengan panik Ri’aima segera berbalik, menatap ke arah Mansion dan terkejut saat melihat kedua adiknya berdiri di sana.


 


 


Berniat membuat pengakuan perasaan tersebut menjadi abu-abu, Odo segera berjalan dan naik ke atas teras. Berhenti dan menoleh ke arah Ri’aima yang masih terdiam bingung, pemuda rambut hitam itu melempar senyum hangat dan berkata, “Aku adalah tunangan Tuan Putri dan kelak akan menjadi seorang Raja. Sebab itu, cobalah bujuk Arteria jika Nona tidak memilih untuk menyerah.”


 


 


Kembali menghadap ke depan, Odo sekilas memasang senyum ramah kepada Baldwin dan Xavier yang berdiri di depan pintu untuk menyapa.


 


 


Disapa dengan ringan Putra Tunggal Keluarga Luke, kedua putra anak Keluarga Stein tersebut memberikan jalan dan menundukkan kepala dengan rasa hormat.


 


 


Untuk beberapa alasan, persepsi mereka terhadap Odo sedikit berubah dari sebelumnya. Setelah melakukan pembicaraan dengan ayah mereka selama makan malam, mereka berdua paham bahwa gelar Viscount yang ada pada Odo haruslah dipandang dengan tinggi. Karena permintaan sang Kepala Keluarga, mereka berdua tidak bisa lagi memandang pemuda itu seperti saat pertama kali bertemu.


 


 


Setelah Odo masuk ke dalam dan membiarkan pintu terbuka, kakak-beradik tersebut segera menatap ke arah Ri’aima. Xavier memberikan ekspresi menggoda dan segera berjalan menghampiri, lalu melempar senyum lebar seakan ingin mempermainkan sang Kakak.


 


 


Berbeda dengan sang Adik Bungsu, Baldwin hanya memberikan tatapan cemas dan ikut menghampiri. Sembari mengerutkan kening, pemuda rambut cokelat cepak tersebut memperingatkan, “Sebaiknya Ayunda menyerah saja, dia bukan orang yang bisa dimiliki Keluarga Stein. Tolong jangan lewati batasan dan menyakiti diri sendiri, Ayunda.”


 


 


“Tidak biasanya kamu khawatir seperti itu, wahai Adikku.” Ri’aima naik ke teras dan berdiri di antara mereka berdua. Sembari menoleh ke arah Baldwin, perempuan rambut biru pudar tersebut dengan senyum getir dan berkata, “Setelah ditegur habis-habisan oleh Ayahanda, apa sifat kamu berubah lembut? Konyol sekali …. Urus saja dirimu sendiri!”


 


 


“Bukan itu ….” Baldwin menatap benar-benar cemas. Berpikir bisa memahami perasaan sang kakak perempuan, ia meletakkan tangan ke depan dan menyampaikan, “Saya mendengar pembicaraan kalian. Mendengar Ayunda berkata seperti itu, saya tahu perasaan⸻”


 


 


“Baldwin, memangnya kamu tahu apa tentang diriku,” ujar Ri’aima dengan intonasi kuat pada nama sang Adik. Tanpa memedulikan rasa cemas pemuda rambut cokelat cepak tersebut, Putri Sulung Keluarga Stein kembali melangkahkan kaki dan berjalan menuju pintu masuk. Terhenti sesaat dan menundukkan kepala, ia dengan penuh rasa kesal menambahkan, “Kamu yang selalu diharapkan banyak orang tidak akan paham perasaan ini. Sungguh, urus saja dirimu sendiri dan penuhi saja harapan Ayahanda.”


 


 


Setelah mengutarakan hal tersebut dengan penuh rasa iri, perempuan rambut biru pudar itu masuk ke dalam Mansion. Meninggalkan Baldwin dalam perasaan bersalah yang bercampur-aduk dengan cemas. Kedua mata pemuda itu memerah seakan ingin menangis, dalam hati merasa sakit dan ingin menyampaikan bahwa dirinya sangat peduli dengan Ri’aima.


 


 


Tidak bisa mengatakan itu dengan jelas, pemuda itu hanya terdiam dengan kepala tertunduk bergumam, “Ri’aima …, saya hanya ingin kamu bahagia. Tersenyum lagi seperti saat itu.”


 


 


Xavier hanya terdiam bingung melihat ekspresi Baldwin. Meski ia tergolong anak yang peka dengan situasi, namun Putra Bungsu Keluarga Stein tersebut masih tidak bisa memahami masalah kompleks yang ada di antara Ri’aima dan Baldwin.


 


 


Tanpa niat buruk dan ingin mengubah suasana hati sang Kakak, Putra Bungsu Keluarga Stein memasang wajah meledek dan dengan ketus berkata, “Kenapa muram, sih? Apa Kakanda cemburu dengan Tuan Odo? Takut direbut, ya?!”


 


 


Baldwin tidak membalas, hanya memasang mimik wajah sedih dan perlahan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Mengerti dengan kekhawatiran Xavier, pemuda rambut cokelat itu menepuk kepalanya dan berkata, “Bicara apa kamu ini? Ayo masuk, mungkin Ayahanda akan mengajak Tuan Odo bicara di dalam. Kita harus mendengarkan pembicaraan mereka.”


 


 


“Hmm ….” Xavier mengangguk dengan mimik wajah cemas. Bukan kepada pembicaraan yang akan mereka dengar, namun tentang kedua kakaknya.


 


 


ↈↈↈ


 


 


Catatan kecil :


 


 


Fakta 026: Diaken juga disebut sebagai pelayan gereja, biasanya terdiri dari anak-anak yatim piatu. Namun, ada juga beberapa bangsawan yang keluar dari keluarga mereka. Contohnya seperti Andreass Rein, Pendeta Agung sekaligus Imam di Kota Mylta.


 

__ADS_1


 


__ADS_2