Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[82] Every path has its puddle (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


Pada suatu tempat di kaki Pegunungan Perbatasan, Teritorial Mylta. Daratan tinggi dengan hutan pepohonan cemara yang rimbun, membawakan udara sejuk dan dingin yang lembap. Mamalia herbivor berkeliaran dalam bayang-bayang ancaman para karnivor, sedangkan para omnivor dengan bebas berjalan di sekitar sungai berbatu yang menjadi ciri aliran air hulu.


 


 


Kulit tebal dan bulu hitam, itulah sang beruang yang berkeliaran di dalam hutan cemara. Sebagai salah satu makhluk kuat yang bisa bertahan hidup tanpa berkelompok, ia memiliki tubuh besar dan tingginya bisa mencapai tiga meter saat berdiri dengan dua kaki belakangnya. Karena keganasan dan kekuatannya itu, jenis hewan tersebut cenderung tidak diserang oleh para monster dan memiliki lingkungan kekuasaan sendiri di dalam hutan.


 


 


Tidak jauh dari sungai dangkal penuh batu, Odo Luke melangkahkan kaki di tepian dengan ritme pelan. Kabut sedikit membatasi pandangan, namun tidak setebal saat pagi hari dimana jarak pandang hanya sampai beberapa meter saja. Sedikit menikmati perjalanan menuju sarang monster selanjutnya, ia sedikit bersenandung seakan-akan tidak lagi memikirkan rencana yang sedang berlangsung dan mulai memasang senyum tipis.


 


 


Penampilan pemuda itu sama sekali tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah seorang Viscount, bahkan sampai tampak seperti orang pedalaman dengan tubuh dekil. Debu dan abu menempel pada kulitnya, pakaian yang dikenakan tampak penuh bercak darah dan sangat kotor, lalu pada beberapa bagian telah sobek sampai membuatnya hampir telanjang dada.


 


 


Dalam langkah kakinya tersebut, ia sekilas melirik ke arah beruang yang sedang mencari ikan di aliran sungai dan melempar senyuman kecil layaknya sedang melihat hewan kecil nan menggemaskan. Namun, pada saat itu juga beruang langsung terdiam dan mengangkat cakarnya dari genangan air. Memperlihatkan gerak-gerik gelisah karena insting merasakan hawa tidak menyenangkan dari arah orang yang mendekat, makhluk berbulu tebal tersebut langsung lari ke dalam hutan dan meninggalkan hasil tangkapannya.


 


 


“Seliari, kau tak perlu menakutinya sampai seperti itu ….”


 


 


Odo mengerutkan kening sejenak dan suasana hati pun hancur dengan cepat. Kembali merasa sedikit jenuh dengan perjalanan, ia memutuskan untuk melangkahkan kakinya untuk menyeberang dan mengambil ikan yang sebelumnya diburu oleh beruang. Melihat bekas luka cakar dari ikan yang sekarat, pemuda itu sejenak terdiam dan menjatuhkannya kembali ke dalam sungai.


 


 


“Asal engkau tahu, yang menakuti beruang tadi bukan diriku,” suara Seliari menggema di dalam kepala Odo.


 


 


“Hmm, sepertinya memang begitu.” Odo mengambil pedang Gladius dari dimensi penyimpanan pada sarung tangan, lalu sembari memejamkan mata mulai meningkatkan kepekaan semua indra. Merasakan beberapa hawa keberadaan yang mengintai dari balik antara pohon cemara dan semak-semak, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut bergumam, “Dari jumlah ini, apa berarti jaraknya masih jauh dari sarang? Kalau tidak salah, kita masih harus memusnahkan dua sarang lagi, ‘kan? Salah satu sarang monster itu seharusnya ada di dekat aliran sungai ini, bukan?”


 


 


Sebelum Odo mengambil langkah pertama, dari balik pepohonan cemara melesat sebuah proyektil dan dengan akurat mengincar punggungnya. Hanya dengan mengandalkan refleks, ia langsung berbalik dan menepis proyektil tersebut dengan satu ayunan pedang.


 


 


Awalnya ia mengira kalau proyektil yang digunakan untuk menyerangnya itu terbuat dari kayu ataupun besi, namun suara dan sensasi yang dirasakannya memalui pedang membuat Odo sejenak terkejut. Sebelum dirinya memastikan hal tersebut, serangan dari balik pepohonan kembali dilancarkan.


 


 


Dengan kecepatan proyektil yang lebih lambat dari panah, kali ini Odo bisa dengan jelas melihatnya dan objek seperti apa yang melesat itu. “Tulang?” gumamnya sembari menepis semua serangan dengan satu ayunan pedang.


 


 


Proyektil tulang yang melayang ke arahnya hanya seukuran batu kerikil, namun memiliki bobot yang terasa lebih berat dari tulang biasa. Namun saat Odo menepis serangan kedua tersebut untuk kedua kalinya, ia segera paham bahwa tingkat kekerasan tulang tersebut bertambah dan membuat bilah pedangnya sedikit penyok.


 


 


“Gawat! Kalau terus di tempat terbuka ….”


 


 


Odo langsung berlari keluar dari sungai dan hendak masuk ke dalam hutan untuk bersembunyi. Namun saat kakinya baru saja keluar dari sungai, proyektil melesat dari arah yang sama seperti serangan pertama. Kali ini kecepatan proyektil tulang meningkat pesat, melebihi kecepatan anak panah dan sampai membuat Odo tidak sempat mengayunkan pedangnya untuk menepis.


 


 


Satu proyektil tulang menembus bahu kanan, lalu tiga lainnya hanya menggores sedikit tubuhnya dan menghantam bebatuan sungai sampai berlubang. Segera paham kekuatan dan kecepatan proyektil tersebut bisa berubah-ubah, Odo memutuskan bahwa bertarung dalam jangka panjang bisa merugikannya. Dari jeda tulang mengenai tubuh dan pinggiran sungai, ia pun segera tahu kalau sosok yang menembakkan proyektil tersebut hanyalah satu.


 


 


Karena itulah, dengan tumpuan kaki kanan ia langsung berbalik arah dan melesat menuju sumber proyektil datang. “Tidak ada suara saat menembak, kekuatan dan kecepatan bisa dimanipulasi! Kalau aku kabur sekarang hanya akan berakhir diburu! Kalau begitu, bunuh langsung sebelum kehilangan jejak!” benaknya sembari mengaktifkan Hariq Iliah dan meningkatkan penglihatan sampai batas ekstrem.


 


 


Seakan telah memperhitungkan mangsanya akan menyerang balik, sosok yang bersembunyi di balik pepohonan langsung menembakkan proyektil tulang secara beruntun. Dalam hitungan detik, lebih dari lima belas proyektil melesat ke arah Odo dengan akurasi tinggi.


 


 


Namun, tentu Odo juga telah memperhitungkan hal tersebut saat tahu kalau kecepatan dan kekuatan proyektil bisa berubah-ubah. Menggunakan manipulasi suhu di sekitar tubuh, pemuda rambut hitam tersebut menciptakan dinding tak kasatmata dari udara dan menepis semua proyektil dengan sempurna.


 


 


Serpihan tulang hancur dan melayang di udara. Sembari berlari, Odo mengambil dua serpihan dengan tangan kiri dan menjepitnya di antara sela-sela jari. Saat memegangnya secara langsung, ia sadar bahwa bobot tulang tersebut sama seperti tulang hewan panda umumnya.


 


 


“Berarti bukan proyektil yang berubah, namun mekanisme pelontar?”


 


 


Melihat sesuatu bergerak dalam semak-semak, Odo langsung membuang tulang di tangannya dan mengambil batu kerikil sungai. Meloncat keluar dari genangan air, pemuda rambut hitam tersebut langsung melemparkan batu ke arah semak-semak.


 


 


Suara lengking kesakitan terdengar, tanda batu yang dilemparkan Odo mengenai sasaran. Memastikan bahwa sosok yang menyerangnya bersembunyi di balik semak-semak tersebut, ia langsung memasang kuda-kuda dan memegang pedang dengan kedua tangan. Dalam ancang-ancang yang sangat matang, ia pemuda rambut hitam tersebut menebaskan pedang secara horizontal.


 

__ADS_1


 


Semak dan sosok yang bersembunyi di dalamnya terpotong, darah menciprat ke batang pohon di sekitar dan pada saat itu juga ia mengungkap wujudnya. Itu memang adalah monster yang sangat mirip dengan Goblin pada umumnya, namun secara bentuk cukup berbeda dan membuat Odo tidak segera mengayunkan tebasan kedua.


 


 


Tubuh monster tersebut kerdil, memiliki kulit hijau dan telinga runcing, lalu kedua mata lebar mirip seperti hewan amfibi. Namun berbeda dengan Goblin pada umumnya, monster di hadapan Odo itu memiliki organ mutasi berupa tulang berbentuk selongsong di lengan kanannya sampai ke pundak.


 


 


Mengamati dengan cepat, Odo pun segera paham mekanisme proyektil yang digunakan monster tersebut untuk menyerangnya. Selain selongsong tulang, di punggung Goblin tersebut terdapat gelembung kulit besar seperti kantung vokal pada kodok yang terhubung dengan selongsong tulang.


 


 


Ketika Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut terhenti, Goblin Mutasi yang mendapat lukas tebasan pada bagian dada tersebut tidak menyerah dan mengangkat lengan kanannya. Moncong selongsong tulang dengan lurus mengarah ke kepala Odo. Goblin tersebut membuka mulut dan menghisap udara dengan cepat, lalu membuat kantung di belakang punggungnya terisi udara dan membesar sampai dua kali ukuran awal.


 


 


“Tch! Kalian seharusnya bodoh, ‘kan?”


 


 


Odo langsung memegang lengan kanan Goblin tersebut, lalu meremasnya sampai patah bersama selongsong tulang. Udara yang telah terkumpul di belakang tubuh Goblin tersebut pun terlepas, membuat monster tersebut meledakkan tangannya sendiri karena selongsong tulang tersumbat. Tanpa membuang waktu lagi, pemuda rambut hitam itu pun langsung menusuknya pada bagian jantung.


 


 


Tubuh Goblin langsung lemas dan bola matanya berputar ke dalam, tidak lagi menunjukkan perlawanan dan mulai ambruk. Menarik pedang dari tubuh monster tersebut dan membiarkannya terkapar, untuk sesaat Odo merasa aneh dengan mutasi monster yang ada di hadapannya.


 


 


Sejak Odo masuk ke dataran tinggi, ia sudah bertemu kurang lebih dari lima belas ekor monster yang bermutasi. Meski mutasi mereka hanya sampai Tahap Lanjutan, namun itu jelas-jelas sangatlah aneh menemui mutasi dalam jumlah tersebut dalam satu ekosistem. Terlebih lagi, organ mutasi monster-monster tersebut berbeda satu sama lain.


 


 


“Mutasi juga bisa dikategorikan sebagai bentuk adaptasi. Dalam satu ekosistem …, kenapa bisa ada beberapa jenis mutasi? Sebelumnya ada monster yang membuat tulangnya keluar dari telapak tangan dan digunakan seperti pedang, lalu sekarang ada juga yang bisa menembakkan tulangnya.”


 


 


Odo kembali mengamati monster yang telah dikalahkan, melihat tulang tambahan lain pada bahu kiri monster tersebut yang merupakan tempat menyimpan proyektil-proyektil tulang. Melihat struktur tubuh Goblin tersebut, ia merasa kalau itu bentuk yang bermutasi khusus untuk berburu.


 


 


Mengingat dua sarang monster yang telah dibasmi saat masuk ke dataran tinggi, Odo juga sempat menemukan beberapa Ogre dengan mutasi tulang keluar dari dalam tubuh dan membentuk zirah. Lalu, pada sarang lainnya juga ada Orc yang tangan kanannya mengeras membentuk tameng besar.


 


 


Selain bentuk-bentuk mutasi tersebut, Odo juga melihat berbagai monster tanpa kelompok yang bermutasi dengan aneh. Bahkan beberapa ada yang malah memiliki kekuatan sihir, mengotrol Mana layaknya ahli bela diri dan bisa memperkuat tubuh dengan itu.


 


 


 


 


“Apa sebaiknya aku periksa saja semua sarang di sini?” Odo mengayunkan pedangnya untuk membersihkan bilah dari darah, lalu sembari memasukkannya ke dalam dimensi penyimpanan kembali bergumam, “Lagi pula, kenapa bisa banyak monster mutasi di sekitar sini? Kalau tidak salah, tempat ini dekat dengan⸻?”


 


 


Odo langsung menyadari penyebab kejanggalan yang ada, menepuk jidat dan benar-benar telah melewatkan hal penting dalam perhitungan. “Ah, benar juga. Apa mungkin bangkai Raja Iblis Kuno itu yang mempengaruhi para monster di sekitar sini? Atau … Dark Matter saat dirinya dipanggil?” gumamnya dengan nada resah.


 


 


“Memangnya Dark Matter bisa mempengaruhi para monster?” suara Seliari menggema di dalam kepala Odo.


 


 


“Tentu saja bisa,” jawab Putra Tunggal Keluarga Luke dengan singkat. Ia mengambil peta dari dimensi penyimpanan, lalu seraya berjongkok kembali meninjau rute yang ada. Odo meninjau ulang, mencari rencana yang sesuai dan solusi untuk kendala yang ada. Mulai tenang dengan kondisi yang tiba-tiba dihadapinya, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menjelaskan, “Pada dasarnya Dark Matter mirip dengan Mana, itu tidak bisa dideteksi dengan cara biasa dan sangat jarang berinteraksi dengan materi lain. Dark Matter cenderung berinteraksi melalui gravitasi, lalu gravitasi yang berubah karena kontak tersebut dan pada akhirnya bisa mempengaruhi makhluk hidup dalam lingkupnya. Kemungkinan besar itu ikut terpanggil bersama Raja Iblis Kuno.”


 


 


“Seingat diriku, Raja Iblis Kuno itu hanya diselimuti Anti-Matter. Melenyapkan semua yang disentuh dan membinasakan segalanya dengan partikel seperti kabut hitam,” ungkap Seliari.


 


 


“Tepat ….” Odo mengangguk dan kembali menggulung peta setelah memutuskan rute baru. Sejenak menghela napas ringan, pemuda itu bangun dan sembari memalingkan pandangan ke dalam hutan menjelaskan, “Dia bisa menggunakan Anti-Matter dan Dark Matter secara bersamaan. Dark Matter sebagai fungsi menghisap partikel energi, lalu Anti-Matter untuk melenyapkan partikel tersebut dan lalu diubah menjadi Mana untuk dijadikannya suplai energi. Yah, apapun itu dia melakukan semuanya dengan Aitisal Almaelumat yang sekarang ini berada di dalam tubuhku.”


Seliari sesaat terdiam, lalu dengan suara yang terdengar meragukan berkata, “Potensi kemampuan itu sangat besar, ya? Tidak heran itu sebelumnya dipegang oleh Raja Iblis Kuno.”


 


 


“Begitulah ….” Odo melangkahkan kaki dan melanjurkan perjalanan menuju ke salah satu sarang monster yang telah ditandai pada peta. Dengan nada sedikit ragu, pemuda rambut hitam tersebut kembali berkata, “Pada dasarnya Aitisal Almaelumat adalah kunci untuk mengubah dunia. Kalau digunakan dengan tepat, menghapus benua ataupun bahkan ras adalah hal yang mudah. Sekuat itulah Kode Dua Digit ….”


 


 


“Kode, ya? Engkau menggolongkan kekuatan sejenis Native itu ke dalam kode, apa itu ada arti khusus?” tanya Seliari penasaran.


 


 


“Jujur saja itu tidak ada, kode yang dimaksud hanya untuk memudahkan penggolongan jenis kekuatan.” Sembari memasuki hutan dan berjalan di antara semak-semak, Odo melipat kedua tangannya ke belakang dan kembali menjelaskan, “Di Dunia Sebelumnya, para manusia tidak semuanya bisa menggunakan Unfar atau Mana seperti orang-orang di Dunia Selanjutnya ini.”


 


 


“Engkau sudah pernah mengatakan hal tersebut sebelumnya,” ujar Seliari dengan nada sedikit bergurau.


 


 


Odo berhenti melipat tangannya, mengacungkan jari telunjuk dan dengan nada menggurui lanjut berkata, “Untuk manusia yang bisa menggunakan Unfar, mereka pun hanya bisa memanipulasinya melalui susunan informasi yang biasa kami sebut kode dan penggunaannya membutuhkan alat khusus yang ditanamkan pada tubuh. Dalam pemahaman tentang Aeons atau penggolongan bentuk kehidupan, mereka yang telah melewati Tiphereth sajalah yang bisa mengakses kemampuan khusus. Kemampuan khusus tersebut kami menyebutnya Kode Khusus yang diberikan nomor.”


 

__ADS_1


 


“Hmm …. Kalau tidak salah, dari ingatan yang ada dalam diri engkau memang ada beberapa tentang itu. Yah, meski hampir semua bagian pentingnya berlubang seperti buku yang dimakan rayap sih.” Seliari sesaat terdiam, sedikit menggerung dan terdengar sedikit bingung dengan penjelasan tersebut. Merasa penasaran karena sudah diberikan penjelasan awal, sang Putri Naga pada akhirnya kembali mengajukan pertanyaan, “Berarti …, pengetahuan tentang itu juga merupakan kepingan untuk mengingat jati engkau yang sebenarnya, bukan? Lantas, mengapa Mahia menguncinya dan enggan memberikan pengetahuan itu kepada engkau? Bukannya ia berharap engkau⸻”


 


 


“Entahlah!” potong Odo dengan tegas seakan dirinya tidak ingin membahas hal tersebut. Menghela napas di antara pepohonan cemara, pemuda rambut hitam itu kembali berkata, “Lagi pula, aku juga tidak ingin terlalu tahu soal itu. Mereka yang telah sampai pada titik bentuk kehidupan ‘Binah’ cenderung kehilangan sifat dasarnya sebagai makhluk hidup, aku tak ingin menjadi seperti mereka.”


 


 


“Kalau tidak salah, dalam pengetahuan yang engkau miliki Binah itu tahapan yang dicapai oleh para Dewa, bukan?” tanya Seliari memastikan.


 


 


“Hmm ….” Odo menurunkan telunjuknya dan kembali menjelaskan, “Itu diisi oleh makhluk semacam Dewa-Semu, Deity, Dewa, Dewa Vasal, dan sejenisnya.”


 


 


“Dewa-Semu?” Seliari sedikit merasa janggal dengan itu, lalu dengan rasa penuh penasaran kembali bertanya, “Bukannya engkau bisa menggunakan sihir manifestasi Pseudo-God? Berarti engkau juga⸻?” Sebelum sang Putri Naga menyelesaikan pertanyaannya, ia berhenti karena menyadari sesuatu.


 


 


“Seperti yang kau duga itu, Seliari. Bagi diriku yang sekarang ini sebagian emosinya sudah diambil, menggunakan sihir semacam itu tidak terlalu memberikan efek balik pada jiwa.”


 


 


“Kalau dipikir-pikir memang benar juga.” Seliari terdiam dan mencerna perkataan Odo, merasa kalau memang secara logikanya hal tersebut bisa diterima. Merasa lebih penasaran yang dengan topik yang sedang diangkat untuk menjadi obrolan selama perjalanan, sang Putri Naga kembali bertanya, “Untuk Naga Agung, kira-kira jika dimasukkan ke dalam pengelompokan tersebut berada di tingkat mana?”


 


 


“Entahlah, aku tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan itu sama saja dengan manusia itu masuk ke dalam kategori apa? Ada yang berada di Netzach, Tiphereth, Geburah, atau bahkan seperti aku yang bisa mencapai Chesed dengan sihir manifestasi,” jawab Odo dengan nada santai.


 


 


“Maaf, diriku ubah pertanyaannya. Diriku ini masuk dalam kategori apa?”


 


 


“Hod, namun tidak memiliki Yedos ataupun Malkuth. Saat memegang otoritas atas Hariq Iliah, kau bisa mencapai Geburah tanpa memiliki beberapa sifat dari kategori di bawahnya.”


 


 


“Hmm ….” Dari penjelasan tersebut, Seliari sesaat terdiam dan berpikir lebih dalam untuk memahaminya. Untuk memastikan tidak ada yang salah dalam pemahamannya, sang Putri Naga kembali bertanya, “Meski berada di tingkat atas, tidak ada jaminan kalau bentuk kehidupan tersebut memiliki sifat kategori di bawahnya. Namun, dalam beberapa kondisi bisa juga memiliki semua sifatnya atau bahkan tidak sama sekali. Apakah seperti itu?”


 


 


Odo sejenak terdiam dan tidak terlalu memperhatikan pertanyaan Seliari. Dengan niat setengah-setengah, pemuda rambut hitam tersebut sedikit memalingkan pandangan dan menjawab, “Untuk hukum dunia ini kurang lebih seperti itu ….”


 


 


Bagi Seliari yang cukup lama bersama Odo, dari nada tersebut ia segera tahu kalau pemuda itu sudah jenuh dengan topik tersebut. Merasa bosan jika hanya diam dan menutup pembicaraan, sang Putri Naga kembali membuka topik baru dengan pertanyaan, “Ngomong-omong, kita mau ke mana dulu sekarang? Mengecek semua sarang yang sudah ditandai di sekitar sini?”


 


 


“Hmm ….” Odo mengangguk, lalu sembari melihat ke arah jalan semak-semak yang sedang dilalui menjelaskan, “Aku cemas kalau mereka disergap makhluk-makhluk seperti tadi. Bukannya meremehkan prajurit dari Kota Mylta, hanya saja aku punya firasat buruk soal ini.”


“Sibuk sekali ya, engkau ini …. Yah, tetap akan diriku temani sampai akhir sih.”


 


 


“Hmm, terima kasih.”


 


 


“Ngomong-omong, kenapa ya bisa berkabut sekali? Apa kamu tahu sebabnya, Odo? Bukannya ini sudah siang?”


 


 


“Entahlah, bukannya dataran tinggi wajar kabutnya seperti ini? Mungkin mau hujan.”


 


 


“Kalau dilihat-lihat memang sedikit mendung, sih.”


 


 


“Seliari, tolong cepat sembuhkan luka di bahuku. Lama-lama ini makin sakit asli.”


 


 


“Ah, diriku benar-benar lupa soal luka itu. Tadi engkau sempat terkena serangan, ya.”


 


 


Dalam perjalanan mereka, Seliari terus mengajukan pertanyaan untuk mengusir kejenuhan. Jika dilihat oleh orang lain memang itu seperti pemuda menyedihkan yang bicara sendirian di tengah hutan. Namun, pada kenyataannya kedua insan dengan perbedaan bentuk kehidupan tersebut sedang bertukar pengetahuan satu sama lain dan sedang mempererat hubungan.


 


 


Seliari tidak bosan untuk bertanya, lalu Odo pun tidak enggan untuk menjawabnya. Meski awalnya pembicaraan hanya untuk mengisi waktu, itu dengan cepat berubah menjadi jembatan yang mendekatkan perasaan mereka untuk saling percaya.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2