Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[106] Serpent VI – Memories of Names and Shapes (Part 01)


__ADS_3

 


 


 


Hari baru telah dimulai, menjadi awal bagi semua makhluk hidup. Mentari terbit menyinari seluruh daratan, membuka halaman kosong untuk melanjutkan kehendak seseorang.


 


 


Itulah yang disebut peninggalan, tekad dan pengetahuan yang diwariskan oleh orang-orang bijak. Diterima oleh generasi penerus, lalu kelak mereka juga akan mengisi lembar polos tersebut dengan tinta hitam.


 


 


Cahaya memberikan arti kepada mereka yang hidup, sedangkan sinarnya menanamkan makna kepada mereka yang telah berpulang. Keseimbangan lahir di antara kehidupan dan kematian.


 


 


Sebuah siklus yang bernama harapan dan keputusasaan, setiap saat menjadi pegangan bagi seluruh makhluk berakal. Baik itu untuk orang-orang yang masih mendambakan puncak kehidupan, atau bahkan mereka yang telah menjadi abu.


 


 


Pada waktu tersebut, yang harus tidur akan terlelap dan yang harus bangun akan bangkit. Sebuah fajar untuk seorang Raja, kelak berakhir dalam Senja bagi para Leluhur nan bijak.


 


 


Siklus dari kebijaksanaan, pengetahuan, dan peradaban umat manusia. Segalanya berasal dari kobaran Api Primordial, lalu berakhir dalam warna merah bara layaknya akan padam.


 


 


Cahaya yang melahap seluruh semesta, melahirkan kehidupan, lalu menjadi tempat berpulang bagi setiap makhluk.


 


 


Kebanyakan dari mereka selalu memandang dengan tatapan menyakitkan. Seakan-akan penderitaan tersebut adalah salahku, mereka memancarkan kebencian yang sangat kuat saat datang ke tempat ini.


 


 


Ingin melukai, merebut, atau bahkan menggulingkan diriku dari singgasana ini. Meski sebenarnya mereka paham itu percuma.


 


 


“Jika memang peran ini bisa kuberikan, silahkan saja ambil dan gunakan sesuka kalian.”


 


 


Aku ingin berkata seperti itu kepada mereka. Tetapi, sayangnya hal tersebut sangatlah mustahil.


 


 


Posisi ini sangatlah elusif untuk dijabarkan dalam kata-kata. Jika disederhanakan dalam pengertian yang singkat dan abstrak, setiap makhluk tinggal di atas diriku.


 


 


Tidak, diriku rasa hal tersebut tidak menjelaskan apa-apa. Kalian, setiap makhluk berada di sebelah, namun pada saat yang sama juga berada di dalam diri ini.


 


 


Bukan, hal tersebut tidak menjelaskan intinya. Ini … terlalu rumit.


 


 


Ah, benar juga ….


 


 


Diriku pernah melakukan pembicaraan ini sebelumnya.


 


 


Bukan posisi tersebut yang rumit, namun diriku lah yang sukar untuk dijelaskan.


 


 


Unsur dari segalanya ….


 


 


Awal dari segalanya ….


 


 


Lalu, akhir dari segalanya.


 


 


Ketiadaan dan Ada, gambaran yang sangat bertentangan dan selaras untuk dinyatakan oleh seluruh semesta. Beberapa orang memanggil diriku sebagai Awal Mula, sebagian lagi Genesis, lalu sisa hanya menyebut diriku sebagai Gadis dalam Takhta Terbakar.


 


 


Sakit rasanya dada ini saat melihat mereka ingin menghancurkan diriku, serasa dirobek dari dalam dan kobaran api menyembur keluar. Membakar seluruh pendosa itu dalam api penyucian.


 


 


Diriku lahir dari peti mati yang terbakar, inti ledakan yang menciptakan seluruh semesta. Berjalan dalam kehampaan, menjelajahi setiap sudut dunia dan menyaksikan penciptaan pertama seluruh makhluk.


 


 


Tubuhku awalnya pun terpencar-pencar. Kaki dan tangan, kepala dan leher, perut dan dada, jemari dan rambut, semua bergerak menuju satu tempat setelah tercecer dalam ledakan dahsyat.


 


 


Namun, mengapa banyak sekali dari mereka yang ingin mencegahnya?


 


 


Berkata bahwa bagian tubuhku adalah milik mereka, lalu sebagian ada yang bilang masih ingin menggunakannya untuk melanjutkan kehidupan dunia mereka. Memakainya sebagai bahan bakar, lalu memuaskan hasrat dan mulai lupa diri.


 


 


Jika memang seperti itu, seharusnya diriku juga punya hak untuk memilikinya!


 


 


Ini adalah tubuhku sendiri, diriku bebas untuk mengumpulkannya!


 


 


Apakah salah jika diriku ingin menjadi utuh?! Kalian sudah puas menggunakan itu semua selama ini, bukan?!


 


 


Ah, percuma …. Mereka tidak akan paham maksudku. Meski membentak dan memarahi anak-anak itu, mereka takkan memedulikan peringatan ini.


 


 


Makhluk-makhluk itu memang egois, baik itu mortal ataupun ilahi. Mereka semua selalu ingin memperebutkan milikku, lalu merusak segalanya dan kembali mencari yang baru untuk dihancurkan.


 


 


Benar-benar kumpulan parasit, sungguh ironi bahwa mereka lahir dari pancaran cahaya ku.


 


 


Betapa tidak berarti, percuma dan tidak menghasilkan apa-apa. Layaknya kobaran api penyucian yang menelan segalanya dalam kehampaan, semuanya hanya akan menjadi abu.


 


 


Ya, sejak awal semuanya terlihat percuma di mataku.


 


 


Namun, mengapa engkau sangat berbeda dari mereka?


 


 


Tidak seperti makhluk-makhluk itu, engkau datang bukan untuk mencuri sesuatu dariku. Engkau hanya duduk di sudut sembari menatap lembut. Tanpa berkata apa-apa, atau bahkan mengharapkan sesuatu dariku.


 


 


Sungguh aneh ….


 


 


Engkau menginginkan sebuah akhir?


 


 


Ya …, akhir. Diriku juga mengharapkan hal tersebut. Sayangnya akhir bagiku merupakan sebuah awal, hanya perputaran abadi tanpa akhir dan terus menyala layaknya api penyucian. Tidak ada akhir sejati untukku.


 


 


Selama ada dosa, siklus reinkarnasi terus berjalan. Kelahiran dan kematian, penciptaan dan penghancuran, semua itu akan terus berlangsung sampai semuanya menyadari kesalahan mereka masing-masing.


 


 


Tidak, kurasa bukan semuanya. Beberapa jiwa akan benar-benar dihancurkan dalam api penyucian, lalu individu seperti dirimu akan diteruskan ke dunia berikutnya.


 


 


Hmm? Mengapa dirimu harus diteruskan?


 


 


Entahlah, tidak ada yang tahu konsepnya. Diriku juga tidak tahu dan tidak pernah memikirkannya.


 


 


Mungkin saja dari awal itu memang tidak memiliki alasan, layaknya Api Penyucian yang terus berkobar ini.


 


 


Diriku bukanlah sosok Maha Tahu ataupun Maha Kuasa, engkau tidak perlu menatap sinis seperti itu.


 


 


Tidak ada kebohongan dalam pembicaraan ini, diriku menjamin hal tersebut. Dengan seluru semesta yang telah hancur, begitu pula segenap semesta yang akan tercipta kelak.


 


 


Kenapa diriku juga bersumpah atas semesta yang belum tercipta? Meski tidak memiliki Kemahatahuan, diriku bisa tahu awal dan akhir yang sudah menunggu.


 


 


Seharusnya dirimu juga bisa melihatnya saat berdiri pada tempat yang sama denganku.


 


 

__ADS_1


Ya, di sini. Tempat di mana semuanya dimulai dan berakhir.


 


 


Akhir sebuah peradaban, dari tempat ini diriku sudah berkali-kali menyaksikan hal semacam itu.


 


 


Lihatlah, contohnya ada di bawah telapak kakimu. Bukan hanya kali ini saja, akhir selalu datang ketika sesuatu telah tercapai dan awal baru akan dimulai.


 


 


Ini memang pertama kalinya engkau bertemu denganku. Namun, diriku sudah pernah bertemu denganmu sebelumnya. Bukan dalam dunia alternatif, namun dalam siklus kehancuran dan penciptaan ini.


 


 


Diriku juga pernah bertemu gadis itu. Ya, gadis yang selalu mengusik dirimu.


 


 


Berbeda dengan engkau yang hanya diam di sudut saja dan menatap kemari, kurasa gadis itu adalah makhluk paling serakah dan egois yang pernah menemui diriku.


 


 


Karena itulah, pada akhir ini diriku sangat lega karena hanya engkau yang berhasil sampai.


 


 


Bukan gadis itu.


 


 


Hmm? Engkau penasaran kapan kita bertemu? Kurasa dirimu tidak akan mengingatnya.


 


 


Tenang saja, diriku bukan gadis itu yang menyamar. Tidak perlu menatap curiga seperti itu, rasanya menyakitkan.


 


 


Meski jiwamu bisa bertahan dalam kobaran Api Penyucian, ingatan adalah sebuah dosa dan noda. Semuanya akan hilang bersama perasaan dan pikiran kotor.


 


 


Engkau tahu, sebenarnya mustahil untuk jiwa bisa bertahan dalam pemurnian. Layaknya kayu yang dibakar sampai menjadi abu, seharusnya identitas individu makhluk seperti kalian tidak akan bertahan dalam kobaran tersebut.


 


 


Hancur menjadi serpihan, lalu pada akhirnya akan menyatu dengan serpihan lain dan menciptakan kehidupan yang baru. Bersama seluruh semesta semuanya akan terbakar dalam kobaran api suci.


 


 


Api Penyucian? Kita belum membicarakan itu, ya? Itu merupakan sesuatu yang kalian sebut sebagai Api Primordial. Pemberi unsur kehidupan pada larutan yang menciptakan seluruh tingkat Aeons, sesuatu yang juga disebut sebagai sumber dari Sup Purba.


 


 


Karena itulah, seharusnya seluruh makhluk yang lahir dari larutan tersebut tidak akan bisa bertahan dalam Api Penyucian.


 


 


Jiwa ⸻ setitik cahaya pada diri kalian sepenuhnya akan tertelan kobaran api dan lenyap.


 


 


Ini sangatlah aneh. Identitas gadis itu bahkan rusak sejak siklus pertama. Meski bisa mewariskan kehendak, kepribadian yang ada tetap hancur bersama ingatan.


 


 


Jadi, sebenarnya engkau siapa? Meski gadis itu berhasil mencapai titik itu, namun dirinya hanya pernah melewati penyucian beberapa kali saja. Itu pun tidak sempurna.


 


 


Jiwanya masihlah sangat muda jika dibandingkan dengan engkau.


 


 


Hmm? Tidak tahu, ya …. Sayang sekali.


 


 


Kurasa itu wajar. Meski kita sudah beberapa kali berbincang seperti ini, dirimu tidak pernah mengingat pertemuan kita. Hanya jiwa dan identitas saja yang utuh, namun seluruh ingatan dan perasaan akan lenyap.


 


 


Sungguh aneh dan misterius, sampai-sampai membuat diriku bisa melupakan semua kesedihan dan rasa kebosanan.


 


 


Entah mengapa diriku mulai menyukai momen datangnya kiamat seperti ini. Setiap kali dunia tercipta kembali, diriku ingin segera melihatnya akhirnya.


 


 


Itu karena ….


 


 


Berbicara denganmu rasanya sangat menyenangkan. Ini seperti sedang memoleskan arti kepada semesta, lalu menuliskan makna untuk yang telah tiada.


 


 


 


 


Oh, benar juga. Berbicara tentang identitas, jujur diriku sangat ingin tahu siapa engkau sebenarnya. Sejak kehancuran pertama dan penciptaan kedua, dirimu selalu ada di sini selama proses tersebut berlangsung.


 


 


Ah, engkau tidak tahu alasannya …. Diriku rasa itu jelas.


 


 


Engkau tidak ingat semua itu. Namun, akan diriku sampaikan hal penting ini sebelum kita melanjutkan pembicaraan. Engkau dari dulu selalu ⸻


 


 


Eh?! Engkau tidak tertarik! Ini tentang dirimu sendiri, loh!! Mengapa tidak tertarik?!


 


 


Hmm, benar juga. Setelah pergi dari sini, dirimu akan melupakan segalanya. Ternyata engkau juga tidak suka hal yang sia-sia, ya. Sama dengan diriku.


 


 


Namun, bagi diriku pembicaraan ini tidaklah sia-sia.


 


 


Hmm? Diriku ini sebenarnya siapa? Mengapa pembicaraan ini rasanya nostalgia? Sebuah Déjà vu? Entahlah, diriku juga tidak tahu dengan jelas. Seperti yang telah kita bicarakan tadi, beberapa dari kalian menyebut diriku Awal Mula.


 


 


Namun, sesungguhnya ‘Awal’ tidak sepenuhnya berasal dariku. Itu berasal dari ‘Kehampaan’.


 


 


Sebenarnya Awal itu apa? Kenapa berasal dari Kehampaan? Jangan tanya soal itu, diriku juga tidak tahu.


 


 


Sama seperti engkau yang selalu muncul di tempat ini selama proses kehancuran dan penciptaan, mungkin itu terjadi dengan sendirinya. Tanpa memiliki arti ataupun makna.


 


 


Bukan karena kehendak entitas lain yang lebih tinggi, tetapi terjadi begitu saja. Karena di tempat ini sudah tidak ada lagi konsep yang lebih tinggi, hanya ada bawah.


 


 


Siapa yang berada di puncak? Mungkin ini terdengar angkuh, namun yang berdiri di puncak segalanya adalah diriku. Lalu, selanjutnya adalah engkau yang datang sesekali untuk berbincang seperti kecil seperti ini.


 


 


Menyedihkan berada di sini? Jangan coba menghibur! Diriku tidak sedih atau kesepian!


 


 


Hanya … ini memang sangat membosankan dan menyakitkan. Tolong jangan bicara hal murahan seperti itu, ada banyak topik yang lebih menarik untuk dibahas.


 


 


Tentang akhir? Langsung topik yang berat, ya? Memang seperti dirimu ….


 


 


Akhir. Ya, akhir sejati mungkin akan datang ketika diriku sudah tidak tahan. Entah karena rasa sakit ataupun kebosanan ini, semuanya.


 


 


Kulit, daging, dan tulangku mungkin bisa pulih saat semesta kembali tercipta ….


 


 


Namun, itu merupakan sebuah perbaikan. Bukan benar-benar menciptakan hal baru dari awal. Luka yang telah ada tidak akan pernah hilang, untuk selamanya.


 


 


Jika luka tersebut semakin lebar dan akhirnya menghancurkan diriku, mungkin saat itulah akhir sejati bisa tercapai. Engkau tahu, ini benar-benar menyakitkan sampai membuatku lelah menangis.


 


 


Layaknya duri mawar yang menusuk masuk ke dalam kuku, rasa sakit karena akhir semesta menjalar ke sekujur tubuhku.


 


 


Hmm? Analogi yang aneh? Maaf, sulit untuk menggambarkannya ….


 


 


Mungkin dengan itu engkau sedikit tahu rasa sakit yang diriku rasa ini.


 


 


Bahkan, sampai saat ini rasa sakit dari kehancuran semesta sebelumnya masih terasa. Seperti ada sesuatu yang berusaha masuk, itu mendorong sangat kuat dan terasa sangat perih.


 


 


Tolong jangan lihat diriku dengan tatapan sedih.

__ADS_1


 


 


Seharusnya engkau berada di sini bukan untuk meneteskan air mata.


 


 


Meski tubuhku penuh luka dan rasa sakit selalu membekas, kita punya alasan untuk tetap tersenyum dan menyambut hari esok.


 


 


Engkau seharusnya merasakan luka yang lebih menyakitkan. Bukan tubuh itu, namun hati dan jiwamu selalu merintih seakan-akan meminta pengampunan. Meski seharusnya engkau juga membawa serpih Api Penyucian.


 


 


Tolong jangan diam seperti itu. Diriku tidak bermaksud menyinggung, atau bahkan mengusik ketengan yang engkau miliki sekarang ….


 


 


Mari kita lanjutkan pembicaraan ini dengan perahan dan hati-hati. Mari kita lanjutkan pembicaraan ini, entah itu membahas topik sepele atau bahkan masalah serius. Waktu melimpah bagi kita berdua selama proses ini berlangsung ….


 


 


Tentang engkau? Langsung mulai dengan topik yang berat, ya?


 


 


Hmm, tidak masalah. Diriku bersedia.


 


 


Lagi pula, sudah sewajarnya engkau penasaran dengan hal tersebut meski kelak akan melupakan pembicaraan ini.


 


 


Mari kita bahas itu saja. Tentang dirimu yang tunggal.


 


 


Meski semesta bisa bercabang menjadi ribuan karena faktor kemungkinan, kenapa hanya dirimu yang tunggal? Mengapa engkau disebut menjadi sosok tunggal seperti diriku?


 


 


Itu aneh, bukan? Meski paham dan sadar sebagai sosok tunggal, kita tidak pernah tahu dengan jelas sebab dan alasannya.


 


 


Multi-semesta yang tercipta bisa sampai Septiliun atau bahkan Noniliun lebih. Pada puncak kejayaan jagat raya, bahkan jumlah bintang tidak bisa lagi dihitung bahkan olehku.


 


 


Namun, anehnya mengapa hanya engkau yang tunggal?  Tinggal pada satu dunia dan hidup dalam waktu tertentu saja, benar-benar hanya satu tanpa ada salinan atau bahkan versi alternatif.


 


 


Sungguh entitas penuh misteri. Engkau muncul seakan menjadi pertanda sebuah akhir, lalu pembawa pesan untuk awal yang baru. Ya, layaknya sebuah isyarat.


 


 


Dalam siklus Penciptaan dan Kehancuran ini, memang beberapa entitas seperti gadis itu muncul dan menjadi pengecualian.


 


 


Tetapi, pada akhirnya dia selalu akan gugur sebelum sampai di tempat ini secara utuh. Saat baru berdiri di tempat ini, Api Penyucian akan membakar habis dirinya.


 


 


Bukan karena tidak mampu, namun menyerah di tengah jalan karena paham takkan bisa melewati Api Penyucian untuk menyeberang ke Dunia Berikutnya.


 


 


Hanya engkau yang bisa berdiri di tempat ini dalam waktu lama, lalu berbincang bersamaku. Itu sungguh penyimpangan yang sangat besar, seakan-akan engkau adalah singularitas dari siklus Penciptaan dan Kehancuran.


 


 


Ini adalah tempat di mana segalanya berawal, lalu pada saat yang sama menjadi akhir dari segalanya. Sebuah sumur kobaran Api Suci, titik cahaya dalam kehampaan abadi. Tidak ada penjelasan lagi selain itu ….


 


 


Coba pejamkan mata dan dengarkan, suara dari jeritan jiwa-jiwa pendosa pasti akan terdengar jelas. Itulah mereka yang sedang disucikan untuk dilempar ke Dunia Selanjutnya.


 


 


Jangan terlalu dengarkan mereka. Meskipun itu engkau, bisa saja suara-suara tersebut akan menyeret jiwamu ke dalam penyucian terdalam.


 


 


Bagaimana? Merasa muak? Meski kita bisa melihat banyak hal indah, tempat ini sangatlah mengerikan! Menjijikkan! Menyedihkan! Membosankan! Namun …, ini juga begitu indah.


 


 


Jika tidak ada engkau di sini? Diriku … biasanya hanya duduk seperti yang dirimu lakukan.


 


 


Melipat kedua kaki ke depan, meringkuk di pojok sembari menunggu seluruh tubuhku yang tersebar ke penjuru semesta terkumpul kembali.


 


 


Layaknya nenek tua pikun, diriku sering berbicara sendiri. Memikirkan kembali pembicaraan yang pernah kita lakukan, mengisi waktu luang dengan lamunan.


 


 


Suara tawa engkau indah …. Senangnya, engkau tidak melihat diriku dengan tatapan sedih lagi. Diriku kira engkau akan mengasihani diriku setelah mendengar hal tersebut.


 


 


Hmm, benci tempat ini? Tidak juga …. Diriku tidak terlalu enggan berada di dalam kehampaan. Bahkan, belakangan ini diriku selalu menantikan pembicaraan seperti ini. Bersama denganmu.


 


 


Diriku … siapa? Nama? Sayang sekali … diriku tidak punya hal seperti itu. Kalau engkau benar-benar butuh itu untuk pembicaraan ini, sebut saja diri sebagai Awal Mula.


 


 


Terlalu kaku? Itu bukanlah sebuah nama, namun sebutan? Ah, benar juga ….


 


 


Lalu, sebaiknya nama apa yang sebaiknya diriku gunakan?


 


 


Nama adalah makna jiwa. Mencerminkan peran dan perilaku entitas yang memegangnya. Layaknya nama yang dirimu miliki ….


 


 


Diriku hanya membakar kehidupan dan segalanya dengan tanpa arti, bahkan makna tidak ada di dalam tindakanku. Tolong jangan berikan nama yang indah seakan mengharapkan sesuatu dariku.


 


 


Tidak mau? Yang memberi nama harus diriku sendiri? Engkau terkadang kejam pada hal semacam ini. Engkau … ingin diriku menanamkan kutukan kepada diriku sendiri?


 


 


Pada akhirnya, segala yang diriku miliki bukanlah kekuatan. Itu hanya kutukan. Karena itu, diriku tidak bisa menambah kutukan lagi.


 


 


Tolong … berikan nama kepadaku. Jika itu engkau …, diriku tidak keberatan. Awal Mula dan cara panggil mereka semua terlalu mengerikan, hanya engkau yang melihat diriku sebagai individu.


 


 


Mungkin … engkau juga bisa memberikan makna kepadaku.


 


 


Putih layaknya bekas Api Penyucian, melahirkan kehidupan seluruh makhluk. Awal dan Akhir, Kehampaan dan Segalanya. Nama yang bisa mencerminkan semuanya ….


 


 


Nama itu … sungguh indah.


 


 


Kita akan berpisah setelah proses penciptaan selesai. Meski begitu ….


 


 


Selama nama itu bisa diriku ingat ⸻


Selama bentuk itu bisa diriku rasakan ⸻


 


 


Siapa?! Siapa di sana!?


 


 


Kegelapan? Tidak, bukan …! Kenapa hal seperti itu keluar darimu?!


 


 


Jangan bilang gadis itu berusaha menyeberang?! Melalui dirimu?!


 


 


Apa yang ingin kau lakukan?! Pemuda itu berada dalam posisi yang sama denganku! Kau tidak boleh mengusiknya?!


 


 


Jangan! Ti-Tidak boleh! Kau tidak boleh mengambilnya! Penciptaan dunia tidak boleh diganggu! Jika kau memotong tubuhku sebelum hancur, semuanya akan lenyap!!


 


 


Akhh⸻!!!!!!! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit sekali!!! Jangan⸻!


 


 


Tidakaaaaaaaaak!!! Hentikan!!! Kutukan itu …. Kutukan itu bisa menyebar!!


 


 


Kalian semua bisa terbakar dalam Api Penyucian!!


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2