
“Anda hebat masih bisa berdiri, posisi Walikota memang diberikan bukan ke sembarang orang.” Sampai di harapan Kepala Keluarga Stein di pinggir lapangan, Odo melempar senyum ringan untuk menyapa. Ia meletakan tangan kanan ke dagu, lalu dengan niat bergurau mengingatkan, “Namun, sebaiknya Tuan Oma duduk saja bersama Nona Ri’aima. Kalau jatuh pingsan, nanti Anda tidak bisa menyaksikan duel penetuan ini, loh.”
Apa yang pemuda itu katakan terkesan tidak terlalu penting, itulah yang Oma rasakan dalam gurauan tersebut. Menghela napas dan menatap datar, pria tua itu pun bertanya, “Tuan dari mana saja? Menurut pandangan saya, Anda bukanlah orang yang suka menunda-nunda waktu atau datang terlambat. Terutama untuk hal semacam ini.”
“Tadi habis cari perlengkapan untuk orang tua itu.” Odo berbalik, melihat ke arah Prajurit Elite yang sedeng berbicara dengan Ferytan Loi terkait peraturan duel. Melirik ke arah lawan bicara, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan nada bergurau menambahkan, “Kemarin peralatannya rusak dan aku harus membeli yang baru. Nanti tolong diganti, ya?”
“Kalau soal senjata atau zirah, kenapa tidak minta ke saya saja?!” ujar Oma seraya melatakan tangan kiri ke dada. Dengan nada sedikit menekan dan cemas, pria tua itu dalam suara lantang menjelaskan, “Bagaimana Anda bisa membiarkan perwakilan kita mengenakan peralatan seperti itu?! Ini duel yang sangat penting!”
“Perwakilan kami?” Odo berbalik, menatap tajam dan dengan tegas meluruskan, “Dia adalah perwakilan ku. Tuan Oma dalam rencana ini hanya ikut serta, sebaiknya Anda memahami hal tersebut baik-baik.”
Apa yang Putra Tunggal Keluarga Luka sampaikan membuat Oma tersentak, merasa ada beberapa hal yang membuat pemuda itu menjadi bersikap tegas. Tidak ingin membuat hubungan menjadi buruk sebelum duel berlangsung, Kepala Keluarga Stein menghela napas dalam-dalam dan berusaha untuk tenang.
“Baiklah, saya tidak akan bertanya lagi soal itu. Namun ….” Oma segera menatap ke arah Ferytan Loi di tengah lapangan, lalu dengan niat meragukan berkata, “Meski pria yang Tuan bawa sebagai perwakilan terlihat kuat, apakah ia benar-benar bisa mengalahkan Prajurit Elite? Terlebih lagi, peraturan yang telah saya dan Tuan Fritz setujui ….”
“Memangnya kenapa dengan peraturannya?” Odo balik bertanya.
Oma memperlihatkan ekspresi sedikit takut dan cemas. Sembari mengingat jelas intimidasi yang Odo berikan kepada semua orang sebagai salam pembuka, Kepala Keluarga Stein dalam rasa ragu menjawab, “Dalam duel ini, saya menyetujui untuk setiap peserta yang bertarung boleh memberikan luka fatal. Lalu, untuk syarat kemenangan … ditetapkan juga bahwa kematian menjadi salah satunya dan tidak dilarang. Dengan kata lain, ini berubah menjadi duel hidup dan mati.”
Odo sama sekali tidak terkejut, atau bahkan menunjukkan mimik wajah marah setelah mengetahui hal tersebut. Seakan ketentuan duel seperti itu wajar di matanya, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan ringan berkata, “Biasa-biasa saja, Anda tak perlu cemas. Ini menentukan nasib orang banyak, masa depan kota ini menjadi taruna. Tentu saya nyawa pantas untuk dipertaruhkan juga selama duel.”
“Itu benar!” Mendengar pembicaraan mereka berdua, Ruina Trytalin ikut ambil bicara. Perempuan rambut ikal tersebut bangun dari tempat duduk, lalu berjalan menghampiri mereka berdua dan kembali berkata, “Sudah sewajarnya nyawa dipertaruhkan dalam duel sepenting ini. Masa depan penduduk Rockfield dipertaruhkan, ini adalah momen penentu apakah kota akan keluar bisa lepas dari tirani atau tidak! Sudah sepantasnya darah ditumpahkan sebagai simbol perubahan!”
Meski ingin menunjukkan rasa kesatria dan ingin menjunjung hak orang banyak, perkataan tersebut terdengar sangat radikal. Dengan penuh percaya diri, Anak Kedua Keluarga Trytalin itu menatap ke arah sang pemuda rambut hitam dan sedikit meremehkan.
Meski perempuan rambut ikal tersebut telah merasakan secara langsung aura intimidasi sebelumnya, ia tanpa rasa takut sedikit pun menunjuk dan bertanya, “Apakah engkau yang telah menghasut Keluarga Stein dan membawa situasi seperti ini ke Rockfield?”
Odo sesaat terdiam, hanya menatap datar dan merasa bahwa perempuan itu tidak mengenal siapa orang yang sekarang ini sedang diajak bicara. Sekilas melirik ke arah Oma, Putra Tunggal Keluarga Luke bertanya, “Perempuan ini salah satu juri, bukan? Namanya?”
Oma membungkukkan kepala kepada Odo, lalu dengan hormat menjelaskan, “Ia adalah Ruina Trytalin, Putri dari Keluarga Trytalin dan salah satu sosok berpengaruh di kalangan Pejabat Baru. Bisa dikatakan ia memiliki pengaruh yang sama seperti Kepala Prajurit.”
Melihat Kepala Keluarga Sten menunjukkan rasa hormat kepada pemuda rambut hiram tersebut, Ruina sesaat terkejut dan sempat mengambil satu langkah mundur. Pikirannya memproses informasi dengan cepat, lalu memperkirakan beberapa kemungkinan yang ada.
Tetapi, tetap saja perempuan itu tidak bisa menduga bahwa pemuda yang ada di hadapannya adalah Putra Tunggal Keluarga Luke.
“Sepertinya Anda bukan orang biasa. Tidak pernah sekalipun saya melihat Tuan Oma membungkukkan kepala seperti itu di depan umum.”
Ruina berusaha untuk tidak memprovokasi lagi. Perempuan rambut ikal tersebut bukanlah perempuan yang mudah terbawa suasana, apa yang dirinya katakan hanya untuk membuat momentum pembicaraan dan menyelidik lawan bicara. Setelah samar-samar merasakan firasat buruk dari pemuda yang ingin dirinya pancing, ia tahu saatnya mundur dan segera mengurungkan niat tersebut.
“Begitu, ya!” Odo berteluk tangan satu kali, memperlihatkan wajah ramah dan segera menyanjung, “Ternyata Nona adalah Ruina yang terkenal itu. Saya pernah dengar beberapa kabar tentang Anda. Katanya, Nona Ruina sangat jago dalam hal sihir penyerangan atribut air, ‘kan? Kalau ada kesempatan, saya berharap bisa melihatnya secara langsung.”
Ruina tidak terpancing sanjungan tersebut. Berbeda dengan Ri’aima ataupun kaum muda dari kalangan bangsawan lain, perempuan rambut ikal tersebut benar-benar bisa mengatur emosinya sendiri dan tetap tenang. Pikiran terus memproses, menangkap dan mengelola informasi supaya tidak membuat kalimat yang salah
“Sejujurnya saya tidak terlalu suka basa-basi, tolong beritahu siapa Anda sebenarnya?”
Pertanyaan frontal tersebut membuat Odo tersenyum tipis. Merasa senang berhadapan dengan perempuan yang bisa memperlihatkan banyak wajah dan memiliki pikiran tajam, Putra Tunggal Keluarga Luke merasa ingin menggodanya.
“Maaf, namun untuk sekarang saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut.” Odo meletakkan telunjuk ke depan mulutnya sendiri. Sembari mulai melebarkan senyuman penuh rasa percaya diri, pemuda rambut hitam itu menambahkan, “Setelah murid didikan saya mengalahkan Tuan Jonatan, mungkin saya tidak keberatan untuk memberitahu Nona.”
“Huh! Percaya diri sekali Anda!” Ruina seketika memasang wajah kesal. Dengan mimik wajah benar-benar marah, ia berjalan kembali ke tempat duduk dan berkata, “Dasar bebal! Anda tidak sepatutnya sombong di hadapan anak bangsawan seperti saya!”
Meski Ruina berkata seperti itu, Odo dengan jelas tahu bahwa perempuan tersebut sedang dipenuhi rasa gelisah. Berkat kekuatan Penglihatan Jiwa yang pernah Putra Tunggal Keluarga Luke salin dari Putri Arteria, warna jiwa Ruina terlihat jelas. Sangat mencerminkan perasaan yang perempuan rambut ikal tersebut rasakan sekarang.
“Imut sekali. Menggoda perempuan seperti itu memang menyenangkan,” gumam Odo sembari tersenyum hangat.
Oma mendengar dan melihat ekspresi tersebut. Tidak memahami selera Putra Tunggal Keluarga Luke terhadap perempuan, pria tua itu memalingkan pandangan ringan ke arah Ri’aima yang hanya duduk di tempat penonton penting. Merasa sedikit bingung mengapa Putrinya tersebut bisa suka dengan Odo Luke.
“Ngomong-omong, Tuan Oma ….” Odo menepuk pundak Kepala Keluarga Stein. Segera mendekatkan wajah, pemuda rambut hitam itu melirik ke arah pria tua yang menjadi juri dan bertanya, “Dia siapa? Kenapa dari tadi melihat ke arah ku?”
“Eng? Maksud Anda sang Imam Besar?”
Odo seketika terkejut, ia secara refleks menoleh ke arah Rosaria yang duduk di sebelah Ri’aima. Merasa Pendeta Wanita tersebut telah membocorkan identitas kepada seseorang yang tidak ingin dirinya libatkan.
“Aku harap dia tidak membocorkan rencananya juga. Jujur orang puritan itu sedikit menyebalkan, apalagi kalau sikapnya mirip seperti Wolnir atau Aldrich. Mereka yang sudah mendapatkan pencerahan cenderung kehilangan pemikiran rasional,” benak Odo dengan senyum kecut.
__ADS_1
Merasa bersalah karena telah melanggar sesuatu yang telah dilarang, Rosaria segera memalingkan pandangan. Tidak memberikan penjelasan ataupun menghampiri Odo untuk meminta maaf. Ia hanya duduk di tempat dengan kepala tertunduk.
Tidak terlau mempermasalahkan hal tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali menatap ke arah Oma. Sesaat terdiam, memasang mimik wajah datar karena tatapan dari Imam Kota yang tidak kunjung berhenti.
“Kenapa wajah Anda seperti itu?” Oma melihat ke arah Imam Kota, mulai merasa aneh karena sosok sepuh tersebut terus menatap Odo.
Sebelum Kepala Keluarga Stein mulai curiga, Odo segera mengajak, “Mari kita duduk. Anda menyisakan tempat untuk saya, bukan?”
“Tentu saja, mari …. Jujur, terus berdiri seperti ini membuat punggung saya sakit.”
“Mau saya papah?”
“Tidak perlu! Saya tidak setua itu!”
“O-Oh, baiklah.”
Mereka berdua pun pergi menuju tempat penonton penting, duduk tidak jauh dari Rosaria dan Ri’aima. Melirik ke arah sang Pendeta Wanita, Putra Tunggal Keluarga Luke baru sadar bahwa perempuan itu duduk sembari memangku Lily’ami.
“Dia kecil sekali,” benak Odo sembari melempar senyum kecil.
Tetapi, senyum tersebut tiba-tiba berubah menjadi wajah pucat. Merasakan tatapan yang tidak menyenangkan, pemuda rambut hitam itu perlahan duduk dengan tenang. Menarik napas dalam-dalam, ia perlahan mengangkat wajah dan menatap balik.
Imam Kota ⸻ Seakan lebih tertarik dengan Odo Luke daripada duel, pria sepuh tersebut terus menoleh ke belakang dan memberikan tatapan tajam. Tidak ada niat jahat dalam mata tersebut, namun itu seakan ingin menerawang masuk ke dalam jiwa sang pemuda.
“Aku harap orang tua itu tidak punya telepati atau semacamnya. Kalau si Pontiff atau Archbishop tahu aku ada di Rockfield, kemungkinan akan banyak hal yang runyam. Seperti Ibuku atau Raja Gaiel datang ke sini,” benak Odo dengan wajah sedikit pucat.
Meski merasa seperti itu, Putra Tunggal Keluarga Luke tetap tidak bisa melakukan apa-apa sekarang. Berhenti menatap balik sang Imam Kota, ia menajamkan sorot mata ke arah lapangan dan melihat duel yang akan segera dimulai.
.
.
.
.
Tembakan sihir berupa Mana mentah dilepaskan ke udara oleh Ruina, menjadi penanda bahwa duel telah dimulai. Pertarungan penentuan pun diawali oleh serangan tebasan vertikal oleh Jonatan, lalu dilanjutkan dengan tebasan beruntun yang mendominasi.
Gaya bertarung menggunakan pedang dua tangan, diisi oleh langkah tegas dan jantan yang mengutamakan serangan beruntun, itulah gaya berpedang sang Prajurit Elite. Ia tidak menggunakan trik atau kelincahan, namun cenderung mendominasi lawan dengan teknik dan kekuatan ayunan pedang.
Dari pada menerima serangan-serangan itu secara langsung, Ferytan lebih memilih untuk mengelak secara halus. Langkah kecil dan efektif untuk menghindari tipis ayunan pedang yang penuh tenaga, lalu mengamati pergerakan lawan sembari menghemat stamina untuk potensi pertarungan akan berakhir panjang.
Belum satu menit setelah duel dimulai, sebuah hal mengejutkan terjadi dan membuat semua orang yang menyaksikannya terkejut. Serangan pertama berhasil dilancarkan ke tubuh lawan. Bukan sang Prajurit Elite yang berhasil melakukannya, melainkan pria tua yang sedari awal hanya menghindari serangan lawannya.
Serangan pertama tersebut mendarat pada bagian pundak baju zirah Jonatan Quilta. Tepat dalam bentuk tusukan keras, sampai-sampai membuat sebuah cekungan kecil yang cukup jelas.
Meski tusukan hanya mengenai zirah, dengan itu cukup untuk membuat pundak sang Prajurit Elite memar di dalam. Membuatnya harus menjaga jarak, menghentikan sejenak ritme serangan dan mengamati gaya bertarung lawan.
“Apa-apaan tadi? Dari mana serangannya datang?” benak Jonatan cemas. Meski dari awal dirinya terus menyerang sembari mengamati pergerakan lawan, ia sama sekali tidak bisa melihat tusukan tersebut.
Setelah Ruina memberikan aba-aba diberikan di pinggir lapangan dengan tembakan sihir ke udara, sang Prajurit Elite memang langsung mendominasi dengan serangan-serangan tajam menggunakan pedang dua tangan. Memiliki keunggulan jarak karena senjata lawan memiliki jangkauan lebih pendek, itu membuat Jonatan tidak mengira akan mendapatkan serangan balik yang bahkan tidak bisa dirinya lihat.
“Tuan Jonatan sangat sopan dan baik. Meski seorang bangsawan, Anda mau menjelaskan panjang lebar peraturan duel kepada saya. Saya sangat menghargai itu. Namun ….” Ferytan melipat tangan kiri ke belakang pinggang, menegakkan posisi tubuh dengan tegak dan menodongkan pedang sabel ke depan menggunakan tangan kanan. Dengan tegas pria tua tersebut pun menyampai, “Saya tidak akan mengalah dalam duel ini. Saya tidak boleh kalah apapun caranya.”
“Saya tidak berniat mendapat belas kasihan Anda.”
Untuk sekilas Jonatan tersenyum. Merasakan sedikit sifat ksatria dari pria tua yang menjadi lawan, sang Prajurit Elite menancapkan pedang ke tanah. Tanpa pikir panjang, ia segera menarik pengait dan melepaskan zirah yang dikenakan. Dari pelindung lengan, kaki, tubuh, sampai helm, semuanya dilepaskan dan hanya menyisakan baju halkah sebagai pelindung.
Melihat hal tersebut, bukan hanya Ferytan saja yang terkejut, namun semua orang yang menonton duel itu juga. Benar-benar cerminan ksatria, itulah yang orang-orang rasakan saat melihat sang Prajurit Elite yang ingin bertarung secara adil dengan lawannya.
Namun, untuk Ruina Trytalin itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Sebagai salah satu orang yang sangat berharap kemenangan Prajurit Elite untuk kepentingan kubu Pejabat Baru, ia merasa tindakan tersebut hanya akan menambah kemungkinan kalah.
“Kenapa Tuan Quilta selalu seperti itu? Saya memang bangga dan mengagumi sifat ksatria miliknya, namun tetap saja tolong ingat tempat dan waktu!” benak Ruina dengan cemas di tempat para juri.
Tidak memedulikan semua ucapan penonton yang masuk ke telinga, Jonatan mengambil kembali pedang yang tertancap di tanah dan mengangkatnya ke depan. Seraya menyeringai pria dengan gelar ksatria itu pun berkata, “Maaf membuat Anda menunggu, saya siap!”
Untuk sesaat, kesan Ferytan terhadap para bangsawan sedikit berubah. Pria tua itu merasa memang ada orang-orang dari kalangan atas yang memiliki sifat mulai seperti itu. Setelah menarik napas dalam-dalam, dengan niat menghormati ia berhenti untuk menahan diri dan berniat menggunakan semua kemampuannya.
“Saya mulai, Tuan Jonatan!”
__ADS_1
“Ya! Maju sini⸻!”
Jarak sekitar empat meter yang ada seakan tidak berarti bagi Ferytan. Dalam hitungan kurang dari dua detik, pria tua itu langsung melesat dan berdiri di hadapan Prajurit Elite. Secepat kilat, ia segera memasang kuda-kuda dan langsung menusukkan pedangnya tepat ke arah leher tanpa pelindung.
Serangan tersebut berhasil Jonatan hindari dengan tipis, zirah yang dilepas membuat gerakan sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Namun, gores tipis berhasil mendarat pada kulit dan membuat leher berdarah.
Paham bahwa jarak yang terlalu dekat sangat merugikan karena memakai senjata yang lebih panjang dan berat, Prajurit Elite segera menarik pedang ke samping pinggang. Setelah mengurangi jangkauan, ia langsung berputar sembari mengayunkan senjatanya secara horizontal.
Serangan dari sudut irregular benar-benar datang dari titik buta Ferytan. Namun, insting dan refleks yang telah pria tua itu latih memberikan reaksi yang tepat. Ia segera melebarkan kaki kanan ke samping dan membuat rendah posisi tubuh, lalu sedikit memutar pergelangan tangan pria tua itu memasang pedang sabel untuk menahan serangan.
Itu memang adalah posisi menahan yang sempurna dan telah diperkuat dengan kuda-kuda yang memanfaatkan permukaan tanah. Namun, semua persiapan tersebut belum cukup untuk sepenuhnya menahan serangan Jonatan.
“Ugh!”
Getaran saat pedang saling berbenturan membuat tangan Ferytan kesemutan, merambat sampai ke kepala dan membuat pandangannya sedikit buram. Itu pun mengakibatkan kuda-kuda pria tua tersebut sedikit goyah. Pedang yang digunakan untuk bertahan sedikit terangkat, membuka cerah untuk lawan.
Memanfaatkan celah tipis tersebut, Prajurit Elite langsung mengayunkan pedangnya secara horizontal dan mengincar pertahanan yang terbuka.
Namun seakan telah menduga hal tersebut, Ferytan langsung meloncat cepat ke belakang dan menghindari serangan. Meskipun ia sama sekali tidak melihat arah serangan lawannya yang datang dari titik buta, berupa ayunan setinggi pinggang dari jarak dekat.
Memanfaatkan momentum ayunan pedang Prajurit Elite yang masih hidup, pria tua itu langsung melangkah ke arah ke depan setelah serangan melewatinya. Mengincar arah yang berlawanan dengan ayunan pedang dan masuk ke titik buta lawan.
“Gawat!
Jonatan tahu ke mana Ferytan pergi, namun tetap saja Prajurit Elite tersebut tidak bisa mengikuti pergerakan lawan.
Ayunan yang berhasil dihindari membuat pedang menancap ke tanah, membuat sang Prajurit Elite tidak bisa segera memberikan reaksi tepat waktu. Memikirkan potensi serangan yang bisa datang kapan saja dari titik buta, ia pun semakin panik dan membuat otot-otot untuk sesaat menjadi tegang dan malah membuat gerakannya menjadi semakin lambat.
Tidak memiliki pilihan lain dan paham tidak bisa menghindar jika serangan datang dari titik buta, Jonatan langsung mengaktifkan Inti Sihir dan menyelimuti tubuh dengan Mana berbentuk aura yang menyala cokelat tua. Meningkatkan kekuatan fisik, kelincahan, dan refleks.
Dengan kecepatan yang tidak wajar, Jonatan langsung mengayunkan pedangnya ke titik buta untuk mencegah Ferytan menyerang. Namun, di sana tidak ada lawannya. Prajurit Elite benar-benar salah perhitungan. Sebelum ia menyadari apa yang sedang terjadi, sebuah tusukan dengan telak menembus baju halkah. Dari punggung sampai tembus ke bagian perut kanan.
Darah berceceran, membasahi pakaian dan pedang, lalu menetes ke tanah dangan warna merah pekat. Pada saat itu juga, aura yang menyelimuti tubuh Jonatan lenyap seketika.
“Gaya bertarung Anda sangat tidak cocok dengan saya,” bisik Ferytan sembari menarik pedang dari tubuh lawannya.
Jonatan segera menjaga jarak, berbalik dan menatap tajam dengan napas terengah-engah. Serangan sederhana itu benar-benar menembus dari punggung kanan sampai perut, membuat beberapa organ terluka parah dan darah berceceran.
Mengusap darah yang mulai mengalir keluar dari mulut, sang Prajurit Elite malah menyeringai dan berkata, “Baik sekali. Padahal Tuan Ferytan bisa langsung memenggal saya dari belakang.”
“Saya tidak memiliki hak untuk membunuh Tuan Jonatan.” Ferytan dengan santai mengayunkan pedang ke samping, menyingkirkan darah dari bilah. Seakan tidak kelelahan sama sekali meski terus bergerak dengan cepat selama duel, ritme napas pria tua itu masih sangat teratur dan tidak mengeluarkan keringat. Ia pun kembali melangkah ke arah lawan, lalu dengan tegas menawarkan, “Menyerah saja, duel ini sudah selesai. Anda tidak punya sihir pemulihan atau semacamnya, bukan?”
“Memang saya tidak memilikinya, namun luka ini tidak cukup untuk membuat saya menyerah begitu saja! Jangan meremehkan saya!!”
Jonatan meletakkan telapak tangan kanan pada luka di perut. Menggunakan manipulasi Mana, pria rambut merah kecokelatan tersebut menutup luka dengan teknik pemadatan. Itu mirip dengan teknik pemadatan Mana milik Keluarga Luke untuk menciptakan manifestasi senjata. Namun, lebih sederhana karena dirinya hanya menggunakan pemadatan untuk menutup luka.
Menyentuh luka di bagian belakang pinggang kanan, Jonatan menggunakan teknik yang sama untuk menutup luka dan menghentikan pendarahan. Meski luka tertutup oleh pemadatan Mana, itu bukan berarti luka organ dalam pulih.
Rasa sakit, nyeri luar biasa yang menjalar ke sekujur tubuh dan membuat wajah Jonatan memucat.
Tetapi, semua itu tidaklah cukup untuk menghentikan pria itu. Sebagai seorang Prajurit Elite, luka tersebut bukanlah hal yang jarang dalam hidupnya. Adrenaline memuncak bersama luka yang diderita, perlahan-lahan membuat rasa sakit yang ada tidak lagi terasa penting.
Melepaskan pedang dua tangan dan membuangnya ke tanah, sang Prajurit Elite menilai bahwa senjata tersebut tidak cocok untuk menghadapi lawan dengan gerakan cepat. Ia segera mengulurkan tangan kanan ke depan, lalu memancarkan Mana dalam jumlah banyak ke sekujur tubuh.
Otot-otot mengencang di sekitar tangan, leher, dan di dekat mata. Beberapa pembuluh darah di tangan kanan pun pecah, lalu dari pori-pori kulit darah pun sedikit merembas keluar. Seakan tidak lagi tidak merasakan sakit karena adrenaline yang memuncak, Jonatan langsung memulai proses pemadatan Mana.
Aura berwarna cokelat tua yang keluar dari tubuh memusat pada satu titik di telapak tangan, perlahan memadat dan membentuk sebuah Awl-pike, tombak yang dikhususkan untuk berduel.
Secara keseluruhan panjang manifestasi senjata hampir tiga meter. Bentuknya persis seperti tombak pada umumnya, runcing dan dikhususkan untuk menusuk. Namun, mata tombak memiliki panjang yang hampir sama dengan gagang.
Melihat pemadatan Mana sempurna tersebut, untuk sesaat Ferytan gentar dan paham bahwa senjata manifestasi itu memiliki kemampuan khusus yang tersembunyi. Sedikit berbeda dengan teknik pemadatan Mana Keluarga Luke yang pernah dirinya dengar.
\===============
Catatan Kecil :
Fakta 045: Karena dunia dalam kondisi prematur, waktu yang berjalan di Dunia Iblis (Neraka) dan Dunia Astral sendiri sebenarnya menyimpang dari posisi dunia dalam susunan yang ada.
Kosenpnya mirip seperti teori relativitas, ruang dan waktu tidak selalu sama di setiap tempat.
__ADS_1