
Bayangan berdarah meluap dari bawah kegelapan bangunan, langkah anggun menyusup di antara kekacauan dan tumpukan mayat. Rambut merah terang berkibar layaknya kobaran api, menggenggam pedang panjang berselimut nyala merah.
Tatapannya dipenuhi intimidasi, memancarkan tekanan sihir yang kuat dan sangat mendominasi. Tajam, menggebu-gebu, dan bercampur dengan kesedihan.
Sembari mengacungkan pedangnya ke depan, perempuan itu mulai memusatkan aura tempur berwarna kemerahan. Tampak gelap layaknya batang kayu mahogany, sedikit kental dan bercampur dengan hitam.
Jiwa dan pedang seakan menyatu dalam satu momen. Di hadapan puluhan prajurit musuh, perempuan itu melangkah maju tanpa gentar sedikit pun. Tanpa dikuasi amarah ataupun kebencian, murni digerakkan oleh keinginan untuk melindungi rakyat layaknya seorang bangsawan terhormat.
Pada bangunan tempat ia keluar, terlihat beberapa penduduk sipil bersembunyi di dalam sana. Dijaga oleh segelintir prajurit, dijadikan tempat pengungsian sementara untuk melindungi anak-anak dan perempuan yang berhasil diselamatkan.
Sebagai perempuan yang dididik sejak kecil untuk menjadi seorang pemimpin, Lisiathus Mylta menganggap wajar tindakan tersebut. Berdiri di hadapan pasukan musuh untuk melindungi yang lemah, berkorban untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang bangsawan.
“Ketidakadilan dunia akan dihanguskan oleh kobaran murni ….”
Lisia mulai memusatkan kekuatan sihirnya pada bilah pedang. Kristal merah di bawah gagang seketika memancarkan cahaya hijau zamrud, menjadi katalis dan menstabilkan aliran Mana pada senjatanya.
Setelah menarik napas dalam-dalam, perempuan rambut merah tersebut langsung meningkatkan kemampuan fisik. Mempercepat sirkulasi Mana dalam sirkuit sihir, kemudian memperkuat otot dan kerangka tulang.
Melihat pancaran sihir yang tidak wajar itu, beberapa Prajurit Kekaisaran yang hendak menyerang perempuan itu langsung terhenti. Sebagian besar dari mereka mengurungkan niat untuk menyerbu barak, lalu mengubah haluan dan pergi menuju distrik perekonomian ataupun balai kota.
Tidak memperlambat langkah kaki, Lisia perlahan melebarkan senyum dan mengobarkan sihirnya. Angin panas bertiup kencang dari bilah pedang, pancaran api berubah menjadi plasma prematur. Terdiri dari padatan gas, terbakar secara terpusat, dan memancarkan pancaran elektrik berwarna biru pudar.
“Kilatan turun bersama penghakiman ….! Menghapus kegelapan meski hanya sekilas! Membawa ketakutan bersama suara guntur! Membalik kegelapan dalam cahaya hukum!” Lisia menghentikan langkah kaki, melebarkan kuda-kuda dan bersiap mengayunkan pedangnya. Sembari kembali menstabilkan sihir dan tingkat kepadatan plasma prematur, perempuan rambut merah cerah tersebut lanjut merapal, “Abu merupakan wujud dari penyucian!”
“Berhenti mengoceh!” Seorang Prajurit Kekaisaran mengangkat tombaknya. Ia berlari paling depan, lalu meloncat ke arah Lisia sembari berteriak, “Mendesah! Cepat mendesah! Gadis binal sepertimu lebih pantas mendesah! Hahaha⸻!!”
“Kesenyapan putih!”
Lisia mengayunkan pedang plasma secara vertikal. Layaknya pisau panas yang digunakan untuk memotong mentega, tubuh prajurit yang menerjang langsung terbelah rapi menjadi dua bagian.
Jatuh ke atas permukaan susunan batu, kemudian terbakar oleh kobaran api putih. Perlahan berubah menjadi biru pudar, lalu merah dan padam dalam hitungan detik.
“La-Langsung hangus?” Tidak ingin mengambil risiko, Komandan Regu langsung menghentikan pasukannya. Ia segera memberikan sinyal waspada dengan mengangkat tangan kiri, kemudian mengentak-entakkan tombak untuk menyampaikan perintah. “Dia bukan prajurit! Sihir itu milik Keluarga Mylta!” teriaknya dengan lantang.
Mendengar perintah yang disampaikan melalui sandi ketukan senjata, belasan prajurit yang mengikuti Komandan Regu segera membentuk formasi tempur khusus. Mengepung Lisia dari empat arah, membatasi pergerakan perempuan itu supaya tidak bisa leluasa menggunakan pedang plasma prematur.
__ADS_1
“Ini mengejutkan …!” Lisia tertegun, ia tidak bisa memberikan reaksi yang tepat dan langsung terjebak di tengah formasi musuh.
“Kau terlalu meremehkan kami!” ujar Komandan Regu.
Tombak-tombak besi mengincar Lisia dari empat sudut, membatasi pergerakannya dan terus menyempit. “Kalian paham dengan sifat sihir plasma, ya?” tanyanya seraya menurunkan tingkat kepadatan plasma, berniat untuk menghadapi pertarungan jangka panjang.
“Sihir plasma memang memiliki daya potong yang luar biasa! Itu bahkan dijuluki Penghancur Pedang dan Zirah selama Perang Besar! Namun …!” Komandan Regu tersenyum lebar. Berdiri di belakang formasi pasukannya, ia dengan suara lantang menegaskan, “Sihir itu sangat boros!”
“Tch! Kau tak perlu menjelaskannya, saya sudah tahu!”
Lisia kembali meningkatkan tekanan sihir. Kurang dari empat detik, sepertiga Mana miliknya langsung terserap kristal merah pada gagang pedang. Diubah menjadi konsentrasi gas, lalu dikonsumsi oleh padatan plasma sebagai sumber energi.
“Tolol!” Komandan Regu langsung mengentakkan tombak, memerintahkan pasukannya untuk menyerbu sekaligus. “Aku sudah menunggu momen ini!!” teriaknya seraya mengepalkan tangan kiri.
“Kau yang tolol!” Lisia menebas prajurit yang datang dari arah depan. Dipotong dengan satu ayunan, terbelah vertikal bersama tombak dan zirah yang dikenakan. “Jangan meremehkan Keluarga Mylta!” teriaknya seraya memantapkan kuda-kuda, kemudian berbalik dan menahan tusukan tombak yang datang dari arah belakang.
Saat beradu dengan pedang plasma, tombak Prajurit Kekaisaran langsung meleleh dan terpotong. Lisia mengubah arah ayunan sebelum selesai, melanjutkan serangan dengan tebasan diagonal dari atas ke bawah. Menghabisi prajurit yang menyerangnya dari belakang.
Serangan agresif itu membuat pasukan musuh gentar. Namun, pada saat bersamaan hal tersebut juga memojokkan Lisia. Tusukan tombak datang dari arah kanan dan kiri, mengincar bahu dan lehernya. Karena posisi pedang yang terayun ke bawah, ia tidak bisa menghindar tepat waktu.
“Apa⸻?”
Prajurit yang menyerang dari arah kiri terkejut. Bilah tidak mengenai sasaran, hanya menyerempet leher Lisia dengan tipis. Tombak terus melaju, kemudian menusuk dada rekannya sendiri.
Pada saat bersamaan, bilah tombak yang sebelumnya berhasil dihunjamkan ke tubuh Lisia terlepas. Jatuh menggelinding ke kaki perempuan tersebut. Tidak ingin dipungut oleh lawannya lagi, ia segera menginjak senjata itu sampai patah.
“Akh⸻! Sialan!” Prajurit yang menyerang dari arah kanan segera mematahkan tombak rekannya, kemudian meloncat mundur dan menjaga jarak. Ia tidak berani mencabut bilah yang masih tertancap pada dada, hanya bisa berlutut kesakitan sembari berkata, “Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan!”
“Ma-Maaf! Aku tidak sengaja⸻!”
“Kesenyapan Putih ….”
Tidak membuang kesempatan yang ada, Lisia langsung memenggal penombak yang tertegun karena tidak sengaja menyerang rekannya sendiri. Dengan tebasan halus dan rapi.
Sebelum pasukan musuh kembali membentuk formasi, perempuan rambut merah cerah itu berlari ke arah prajurit yang tertusuk. Meloncat ke depan dan berputar di udara, kemudian langsung menendang tombak yang tertancap pada dadanya.
__ADS_1
“Akh⸻! Dasar binal …!”
Bilah tombak terdorong masuk sampai paru-paru. Sebelum prajurit itu ambruk, Lisia menggunakannya sebagai pijakan dan meloncat keluar dari formasi musuh.
Setelah mendarat di dekat bangunan barak, ia segera menonaktifkan sihir plasma. Meski sudah distabilkan dengan kristal khusus, bilah pedang tetap retak karena digunakan sebagai katalis dan medium sihir.
“Dasar bodoh! Padahal tinggal sedikit lagi!”
Komandan Regu murka. Daripada mencemaskan rekan-rekannya, ia lebih peduli dengan pencapaian pribadi. Kesal karena gagal mendapatkan penghargaan dengan menghabisi anak bangsawan dari kubu musuh.
“Tidak waras …!” Lisia menyarungkan pedangnya. Merobek lengan pakaian, perempuan rambut merah cerah tersebut mengikat luka pada bahu untuk menghentikan pendarahan. Sejenak menghela napas, ia sekilas melirik tajam sembari berkata, “Jika kau ingin menghabisi saya, kenapa tidak lakukan sendiri? Jangan malah menyuruh prajurit⸻!”
“Diam kau, binal!” Komandan Regu dengan penuh amarah menunjuk. Matanya melotot tajam, mulut sedikit berbusa, dan gigi terkatup rapat. Sembari mengentakkan tombak, ia dengan suara lantang memaki, “Perempuan sepertimu tidak pantas di medan perang! Kau tak punya hak untuk bicara! Kalian lebih pantas mendesah di ranjang! Melayani hasrat para pria!”
“Patriarki?” Lisia sedikit terkejut. Melihat reaksi lawannya, ia sekilas memberikan tatapan merendahkan sembari berkata, “Kalian sangat menjunjung tinggi hal semacam itu, ya?”
“Diam! Memangnya kau tahu apa soal budaya kami!?” Amarah mulai menguasai Komandan Regu. Tidak bisa mengambil keputusan dengan bijak, ia tanpa pikir panjang langsung memerintahkan, “Serang! Habisi dia! Binasakan perempuan binal itu! Perkosa⸻!”
“Tutup mulutmu ….” Seseorang menusuk Komandan Regu dari belakang, tembus dari punggung sampai dada kiri. Menunjam jantung, menyobek paru-paru, dan mematahkan tulang rusuk. Sembari mendekatkan mulut, ia dengan nada kesal berbisik, “Beraninya orang rendahan sepertimu menghina Putriku, huh?”
“Ka-Kau?” Sebelum meregang nyawa, Komandan Regu perlahan menoleh ke belakang. Terperangah saat melihat sosok pria tua yang menusuknya, lalu sedikit mengerutkan kening dan berkata, “Argo Mylta …? Tidak aku sangka bangsawan sepertimu melakukan hal licik seperti ini⸻!”
“Kau tidak punya hak untuk bicara, dasar sampah!” Argo langsung memutar pedangnya dengan kedua tangan, mengoyak organ dalam sampai darah dan daging jatuh berceceran. Tidak memberikan rasa hormat, pria tua itu mencabut senjatanya dengan kasar. Menginjak jasad pemimpin musuh, lalu mengacumkan pedang ke depan sembari berkata, “Kalian akan mati! Ini adalah deklarasi! Bukan ancaman!”
Pasukan Kekaisaran yang mendengar suara lantang pria tua itu langsung gentar. Prajurit yang baru memasuki kota seketika terhenti, segera mengubah haluan dan mengurungkan niat mereka untuk menyerbu barak.
Ada beberapa prajurit yang enggan maju, berdiam di depan gerbang dan mulai saling dorong. Gemetar ketakutan, tidak ingin menyerbu dan memilih untuk mundur.
“Apa-apaan orang tua itu?!” teriak seorang prajurit dari kubu Kekaisaran. Ia segera berbalik dan keluar dari formasi pasukan, berniat kabur dari medan perang. Sembari menyikut rekannya sendiri untuk membuka jalan, prajurit itu dengan suara gemetar berkata, “Ini gila! Aku tidak ingin mati untuk hal semacam ini!”
“Hey! Dia Walikota Mylta, ‘kan?!” tanya seorang pemanah dari lini peleton yang baru memasuki gerbang kota. Ia menunjuk lurus ke arah barak, lalu dengan tatapan heran kembali bertanya, “Apa dia masih waras? Bukannya sembunyi, kenapa dia malah teriak-teriak begitu?!”
“Mana aku tahu, bodoh! Kenapa malah tanya aku?!” Rekannya yang merupakan seorang penombak kesal saat ditanyai. Sembari menghalau lusinan prajurit yang putar arah dan berniat kabur, ia dengan suara lantang berkata, “Jenderal Fai tidak bilang soal ini! Para bedebah ini juga kenapa, sih? Dasar pengecut! Akh! Sialan! Kenapa Jenderal memasukkan bandit-bandit ini ke dalam pasukan!”
“Kita kekurangan personel karena perang sipil berkelanjutan!” sambung rekannya yang ikut menahan arus balik prajurit yang hendak melarikan diri. Ia memasang tombak secara melintang, membuat blokade di depan gerbang bersama yang lain. Meski begitu, perbedaan jumlah membuat mereka terdorong mundur. “Sialan! Sialan! Sialan! Kenapa malah jadi seperti ini!?” keluhnya seraya berusaha bertahan.
__ADS_1