Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[91] Dekadensi Kota Rockfield VIII – Merasakan (Part 03)


__ADS_3

 


 


 


 


Hari berganti, mentari terbit, dan kabut pun kembali menutupi Kota Pegunungan. Bangun lebih awal dari biasanya, Ri’aima dengan penampilan rapi berjalan di lorong tengah Kediaman Stein. Ia melangkahkan kaki dengan tegas, menegakkan tubuh dan pada matanya sama sekali tidak ada rasa bimbang.


 


 


Tidak seperti kemarin, Putri Sulung Keluarga Stein tersebut mengenakan seragam pejabat pemerintahan, memakai sepatu kulit, dan sebuah baret hitam di kepala. Pada kedua tangan kurusnya, perempuan rambut biru pudar itu juga mengenakan sarung tangan kulit berwarna cokelat. Lalu, pada pinggang melingkar sabuk dengan pedang yang biasa dirinya bawa.


 


 


Sampai di lobi dan sekilas menoleh ke sekeliling, Ri’aima melihat para pelayan sudah melakukan pekerjaan mereka dengan sapu, kemoceng, dan juga pel. Berusaha tidak mengganggu mereka, perempuan rambut biru pudar tersebut segera berjalan menuju pintu utama.


 


 


Di tengah langkah kaki perempuan rabut biru pudar tersebut, dari lantai dua sang Kepala Keluarga turun. Membawa sebuah buku dan beberapa lembar perkamen dengan satu tangan, pria tua tersebut menuruni anak tangga secara pelan.


 


 


“Kamu sudah mau berangkat, Ri’aima?”


 


 


Mendengar suara Ayahnya, pada saat itu juga Putri Sulung Keluarga Stein terhenti. Perahan ia menoleh, memasang mimik wajah sedikit cemas dan membungkuk dengan penuh rasa hormat. “Itu benar, Ayahanda. Saya tidak ingin mengecewakan Ayahanda. Paling tidak, saya ingin melakukan pekerjaan ini sampai Ayahanda benar-benar pulih,” jawabnya dengan suara sedikit sendu.


 


 


Paham dengan nada yang digunakan Putrinya, langkah Oma Stein terhenti di tengah anak tangga. Ia menatap dari atas, sedikit memasang senyum tipis dan bertanya, “Ayah tahu ini terdengar sangat seenaknya, namun … apakah kamu ingin menjadi Walikota, Putriku?”


 


 


Pertanyaan tersebut sedikit membuat Ri’aima terkejut. Mengingat pria tua itu selalu mengutamakan tradisi dan ingin menjadikan Baldwin sebagai penerusnya, apa yang dikatakan itu sangatlah penuh kontradiksi.


 


 


“Ayahanda sedikit berubah, ya. Atau ….” Perlahan dan pasti, tatapan Ri’aima menjadi datar. Rasa kecewa muncul dalam benak, bercampur dengan sedikit amarah. Sembari memalingkan pandangan dan sejenak memejamkan mata, perempuan rambut biru pudar tersebut bertanya, “Apa karena kesalahan yang dibuat Baldwin, Ayahanda langsung ingin menggantikannya dengan saya?”


 


 


“Itu benar, Ri’aima ….” Oma Stein menjawab tanpa ragu, lalu kembali menuruni anak tangga. Saat sampai di lantai satu dan menatap lurus ke arah Putri Sulungnya, pria tua itu dengan tegas menyampaikan, “Dalam kehidupan para bangsawan, satu kesalahan sama saja dengan kemunduran tiga langkah. Sulit untuk mengejar ketertinggalan. Meski masih muda, mungkin butuh waktu sampai bertahun-tahun supaya dia bisa mendapat kembali kepercayaan orang-orang. Dilihat dari ambisi Baldwin yang tidak terlalu tinggi, mungkin itu akan memakan waktu lebih lama.”


 


 


“Namun, saya hanyalah seorang perempuan!” Ri’aima membuka kedua mata, balik menatap dengan mimik wajah geram. Merasa kesal mendengar perkataan tersebut keluar dari mulut sang Ayah. Itu terdengar seperti seakan memberikannya rasa peduli, lalu begitu saja membuang Baldwin yang dulu selalu mendapatkan perhatian. Meletakkan tangan ke depan dada, Putri Sulung Keluarga Stein dengan nada ketus berkata, “Kenapa Ayahanda berkata seperti itu dengan mudah?! Bahkan jika saya mau, saya tidak bisa berdiri di tempat yang sama dengan para pria! Kodrat saya berbeda!”


 


 


“Ayah paham hal itu dengan sangat baik.” Oma menghentikan langkah kaki tanpa berani mendekati, atau bahkan menyentuh Putrinya sendiri untuk menenangkan. Pria tua itu memahami hal tersebut dengan sangat baik, bahwa dirinya tidak memiliki hak untuk menentukan masa depan perempuan rambut biru pudar tersebut. Namun, sebagai seorang Ayah, Oma Stein tetap menyampaikan, “Ayah menawarkan ini karena engkau terlihat sangat ingin hidup dengan cara seperti itu, Ri’aima …. Hidup sebagai bangsawan, menjalani kehidupan penuh persaingan dan menjatuhkan satu sama lain.”


 


 


“A⸻! Apa yang Ayahanda katakan?!” Ri’aima seketika panik dan menghapus kekesalan yang ada di benak. Tanpa sadar, perempuan rambut biru pudar tersebut menaikkan volume dan membuat para pelayan yang sedang bekerja menoleh ke arahnya. Sembari meletakan tangan kanan ke dada, ia dengan frustrasi menyampaikan, “Saya melakukan pekerjaan ini karena Ayahanda sedang sakit! Setelah sembuh, saya akan segera menyerahkannya dan angkat kaki dari dunia seperti ini! Saya … hanya ingin menjadi perempuan biasa di keluarga bangsawan! Dinikahkan dengan orang lain, lalu memiliki keluarga … dan ….”


 


 


Perkataannya dipenuhi kebohongan, menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dan terkesan memilih untuk mengorbankan diri. Itu benar-benar mengingatkan Oma Stein dengan Agathe saat masih muda. Tiba-tiba ditarik dari teater, dipaksa berhenti dari kerja keras yang telah dibangun selama bertahun-tahun, lalu pada akhirnya harus menikah dengan seorang pria dari kalangan bangsawan.


 


 


Jika itu dulu, mungkin Oma tidak akan pikir panjang dan mengambil keputusan untuk menikahkan Ri’aima dengan anak keluarga bangsawan lain. Namun, sekarang rasa itu sama sekali tidak ada dalam benak pria tua tersebut. Meletakkan tangan ke dada dan memastikan jantung yang berdetak, ia merasa lebih hidup dari sebelumnya. Sebelum dirinya jatuh sakit dan masih tenggalam dalam hasrat suram.


 


 


Karena itulah, rasa sakit dengan jelas terasa di dada pria tua itu. Merasa tidak terima dengan takdir di mana darah dagingnya harus menahan penderitaan, berpasrah pada adat yang sudah ditentukan untuk keluarga bangsawan. Memperlihatkan kesedihan yang jelas di wajah, pria tua itu mengambil satu langkah ke depan.


 


 


Namun, itu terhenti dengan cepat karena rasa bersalah yang seakan menahan kedua kakinya. “Apa … semalam terjadi sesuatu, Ri’aima?” tanya pria tua itu. Meski ia tidak bisa menghampiri Putrinya, namun suara dan kecemasannya bisa tersampaikan dengan jelas.


 


 


“Ah ….” Ri’aima memahami alasan Oma mengajaknya dalam pembicaraan tersebut. Sedikit memasang senyum kecut dan dipenuhi rasa kecewa, perempuan rambut biru pudar tersebut balik bertanya, “Apa Ayahanda mendengarnya dari Baldwin? Tentang … hal semalam.”


 


 


“Bukan Baldwin yang memberitahu Ayah, namun Xavier ….”


 


 


“Anak itu, ya ….” Ri’aima hanya bisa memasang ekspresi muram, merasa kalau masalah seperti itu tidaklah perlu sampai membuat Kepala Keluarga mengubah ahli waris. Menghela napas sejenak dan menatap sayu, perempuan rambut biru pudar tersebut berkata, “Ayahanda tidak perlu cemas. Saya akan menyerah saja. Itu … memang benar seperti yang dikatakan Xavier ataupun Baldwin, Tuan Odo berada di luar jangkauan. Akan sangat menyakitkan jika saya terus memaksa.”


 


 


“Kalau begitu, kenapa engkau tetap mengenakan seragam militer dan berangkat seakan ingin mengejar pemuda itu?” Dari raut wajah Oma, ia ingin mengatakan hal tersebut kepada Putrinya. Namun, rasa sakit dalam dada membuat pria tua tersebut terdiam dan hanya memasang senyum sedih.


 

__ADS_1


 


“Jika memang itu keputusanmu, Putriku. Ayah tidak akan memaksa⸻”


 


 


“Permisi, selama pagi!”


 


 


Di tengah pembicaraan mereka, seakan rumahnya sendiri, Odo membuka pintu utama dan melangkah ke dalam. Membuat Ayah dan anak tersebut menoleh ke arahnya, lalu menatap heran karena pemuda itu karena datang dari luar Mansion.


 


 


“Hmm?” Ri’aima segera berbalik menghadap Odo, lalu sedikit mengurutkan kening dengan bingung dan bertanya, “Tuan Odo sudah bangun? Saya kira Anda masih tidur ….”


 


 


“Ah, kebetulan sekali kau sudah bangun, Nona Ri’aima.” Tanpa pikir panjang atau memedulikan suasana yang ada di tempat tersebut, Odo berjalan menuju perempuan rambut biru pudar itu dan meraih tangannya. Sembari memasang wajah semangat, ia dengan nada tegas mengajak, “Ayo pergi! Kita lanjutkan agenda rencananya! Ada beberapa perubahan kecil! Hari ini kau akan dipasangkan dengan Rosaria, lalu ada satu tambahan orang lagi.”


 


 


Ri’aima tidak terlalu mendengarkan perkataan pemuda itu, hanya menatap terkesima dan dalam benak bertanya-tanya mengapa Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut tampak begitu berkilau. Layaknya sebuah warna yang berbeda dalam dunia kelabu, terlihat sangat menarik dan membuatnya ingin memiliki.


 


 


Tanpa sadar, Ri’aima mengangkat tangan kiri dan menyentuh pipi Odo. Menatap lurus dan dengan lembut ia pun berkata, “Biru laut, berkilau di antara warna hitam.”


 


 


“Bicara apa kau? Masih melindur? Sudah madi, ‘kan?” tanya Odo datar.


 


 


Ri’aima seketika tersentak, berhenti menyentuh pipi Odo dan segera memalingkan pandangan. Dengan canggung, ia menundukkan wajah yang memerah dan berkata, “Te-Tentu saja sudah, ini saya juga mau pergi ke balai kota untuk melakukan tugas saya sebagai Walikota. Meski hanya pengganti ….”


 


 


“Ah, berarti kemarin kau cuti?”


 


 


“Hmm ….”


 


 


 


 


Senyum perlahan melebar. Menggandeng semakin erat tangan Ri’aima, Putra Tunggal Keluarga Luke menunjuk ke arah Oma dan berkata, “Aku sudah bilang tadi malam, ‘kan? Nona Ri’aima ada di dalam rencanaku! Karena itu, Pak Tua! Aku pinjam Putri kau ini sebentar!”


 


 


Meski perkataan Odo terdengar tidak sopan, Oma tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia malah sedikit tertawa kecil, lalu sembari menatap senang berkata, “Untuk sesaat saya berasa bodoh karena terlalu memikirkannya. Meski sifat Tuan Odo seperti itu, Anda memang seorang Luke.”


 


 


“Eng? Apa maksudnya?” tanya Odo bingung.


 


 


“Tidak apa.” Oma segera berbalik, berjalan menuju ke arah salah satu lorong menuju ruang kerja dan berkata, “Silahkan saja. Namun, tolong ingat juga perkataan saya, Tuan Odo. Tolong jaga baik-baik Putri saya.”


 


 


Tanpa berkata apa-apa lagi, pria tua itu pergi tanpa beban. Berjalan dengan dibantu tongkat yang dipegang menggunakan tangan kanan. Meninggalkan Odo dan Ri’aima berdua dalam rasa bingung.


 


 


Saling menatap satu sama lain, kedua orang tersebut pun secara bersamaan mengangkat kedua sisi bahu karena sama-sama tidak menangkap maksud Oma Stein.


 


 


“Hari ini Nona Ri’aima harus bekerja di kantor, ya?”


 


 


Pertanyaan untuk memulai pembicaraan itu sedikit sulit untuk dijawab Ri’aima. Hal tersebut memang benar, namun pada saat bersamaan Putri Sulung Keluarga Stein merasa tidak ingin menolak ajakan Odo untuk melanjutkan agenda kemarin.


 


 


“Itu benar, saya tidak bisa terus menerus cuti di saat kondisi kota seperti ini. Bisa-bisa nanti tugas saya menumpuk lebih banyak. Lalu, saat jabatan ini diserahkan kepada Ayahanda …, itu malah membebani beliau.”


 


 


Jawaban itu terdengar wajar. Memikirkannya kembali, Odo juga merasa akan bermasalah jika kesan positif Ri’aima berkurang di kalangan pejabat karena menelantarkan pekerjaan. Memikirkan beberapa alternatif, tanpa ragu pemuda itu memutuskan.


 


 

__ADS_1


“Apa adikmu ada?” tanya Odo seraya tersenyum tipis.


 


 


“Kalau Xavier, biasanya dia masih tidur.” Ri’aima memalingkan pandangan, meletakkan telunjuk ke dekat bibir dan dengan nada ragu kembali berkata “Untuk Baldwin, saya rasa dia sudah bangun dan sarapan sendiri. Meski terlihat kurus, dia cukup rakus sih ….”


 


 


Odo berhenti menggandeng Putri Sulung Keluarga Stein, lalu sembari menunjuk dengan tegas memerintah, “Panggil Baldwin, suruh dia mengerjakan pekerjaan Nona di kantor!”


 


 


“Eng, iya?” Ri’aima menatap bingung, lalu sedikit memiringkan kepala. Menurunkan kedua alis dan meletakan tangan ke dagu, perempuan rambut biru pudar tersebut berusaha mencerna perintah tersebut. Kembali menatap lawan bicara, ia dengan penuh rasa ragu memastikan, “Maksud Tuan Odo, Baldwin harus mengerjakan tugas Walikota dan saya malah pergi dengan Anda? Tapi, adik saya itu pernah membuat kesalahan dan banyak pejabat yang tidak suka dengannya. Saya rasa … membiarkan Baldwin pergi ke kantor itu bukan pilihan tepat.”


 


 


“Hmm, tidak masalah.” Odo bertepuk tangan satu kali, melebarkan senyum dan tanpa ragu menjelaskan, “Hitung-hitung ini memberikannya kesempatan, supaya adik Nona bisa kembali mendapat kepercayaan para pejabat pemerintah.”


 


 


“Tetap saja, saya merasa itu bukanlah hal yang bagus.” Ri’aima sedikit memalingkan pandangan dan menurunkan tangan dari dagu, lalu memasang wajah cemas perempuan itu ragu menjelaskan, “Masalah yang dibuat adik saya tersebut cukup serius. Saya rasa … dia sebaiknya di Mansion saja untuk beberapa waktu ke depan dan tidak perlu melakukan hal tersebut.  Biarkan saya yang melakukan pekerjaan, lalu saat istirahat siang pergi ke tempat Nona Rosaria⸻”


 


 


“Memangnya apa yang dilakukannya?” tanya Odo tanpa menunggu perempuan itu selesai bicara.


 


 


“Itu .... Adik saya ….” Ri’aima menatap penuh rasa cemas. Sembari menyatukan kedua tangan dan kedua mata sekilas bergerak ke kanan samping, perempuan rambut biru pudar itu menyampaikan, “Baldwin pernah lepas kendali dan menghajar Wakil Walikota sampai dirawat.”


 


 


“Eng? Wakil Walikota? Kalau tidak salah, namanya Fritz Irtaz, bukan?” Odo sedikit memalingkan pandangan, mengingat-ingat kembali orang yang disebutkan itu dan merasa telah melewatkan hal penting lain.  Kembali menatap lawan bicara, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali bertanya, “Memangnya kenapa si Baldwin sampai menghajarnya?”


 


 


“Yah ….” Ri’aima memasang wajah sedikit malu, enggan menatap lawan bicara dan dengan canggung menjawab, “Mungkin karena saya. Waktu itu, Tuan Fritz pernah menggunjing saya karena tidak becus dan hanya dianggap pajangan semata di posisi Walikota. Baldwin tidak bisa menahan amarah, lalu langsung menghajar pria tua itu di depan para pejabat.”


 


 


“Ah, dia benar-benar Siscon.”


 


 


“Sis⸻ Apa?”


 


 


“Lupakan!” Odo bertepuk tangan untuk melanjutkan topik. Memasang senyum tipis dan menatap tajam, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan tegas berkata, “Kalau memang hanya seperti itu, aku rasa tidak masalah. Antar saja dia ke kantor pemerintahan dan biarkan bekerja. Itu hanya mengurus dokumen dan bagian administrasi, dia pasti bisa melakukannya.”


 


 


“Ta-Tapi ….”


 


 


“Percayalah padaku, dia akan baik-baik saja.”


 


 


Meski masih diisi kecemasan mengingat kesan para pejabat terhadap Baldwin, Putri Sulung Keluarga Stein lebih memilih untuk percaya kepada Odo. Ia menatap lurus dan mengangguk, lalu seraya memasang senyum tipis berkata, “Baiklah, saya akan menuruni perintah Tuan Odo. Akan saya bujuk Baldwin supaya mau berangkat ke kantor.”


 


 


“Hmm, terima kasih.” Odo segera berjalan meninggalkan Ri’aima, lalu dengan nada sedikit terburu-buru berkata, “Kau suruh dia bersiap dulu, aku mau bicara dengan Canna sebentar. Kalau sudah siap, tunggu saja di gerbang depan dan kita akan berangkat bersama.”


 


 


“Baiklah, Tuan Odo.”


 


 


Setelah itu, mereka berdua pun bergerak secara terpisah. Ri’aima pergi menuju ruang makan untuk memanggil sang adik, sedangkan Odo Luke bergegas ke kamar tamu untuk menyampaikan sesuatu kepada Canna.


 


 


Meski Odo tampak terburu-buru, namun sebenarnya ia masih punya banyak waktu sampai siang nanti. Setelah pembicaraannya dengan Sistine Adherents kemarin malam, Putra Tunggal Keluarga Luke memiliki lebih banyak pion yang bisa digerakkan secara bersamaan.


 


 


Karena itulah, ia semalam pun menyiapkan beberapa hal lain di luar. Memerintahkan para Adherents di bawah kepemimpinan Sistine, lalu mempercepat rencana supaya bisa mendapatkan waktu lebih dalam memperbaiki kualitas militer Kota Rockfield.


 


 


ↈↈↈ


\==================


Catatan Kecil :

__ADS_1


Fakta 031: Canna mengaku sebagai Korwa terakhir. Namun, nyatanya masih ada lagi Korwa lain.


__ADS_2