Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[81] When they don't want to pass a path full of puddles (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Mendengar hal-hal yang baru dirinya ketahui, mulut Elulu pun menganga dan dengan wajah sedikit pucat duduk berhadapan dengan Arca, di sebelah Ritta. Ia meletakkan tangan kanan ke kening, sejenak mencerna apa yang dirinya dengar dan bergumam, “Sebenarnya seberapa jauh dia bertindak. Untuk yang lain masih terdengar wajar, tetapi kenapa ada juga kerja sama dengan Kerajaan musuh?”


 


 


“Benar, ‘kan? Aneh sekali?!” ucap Arca setelah mendengar gumam Elulu.


 


 


“Apa Tuan Arca tidak tanya alasannya?”


 


 


“Aku sudah bertanya, tapi ….” Arca memalingkan pandangan, sejenak menghela napas dan kembali berkata, “Dia hanya bilang kalau beberapa fraksi di Moloia sedang berselisih dan ada beberapa negara bagian yang kemungkinan besar bisa memihak Felixia. Karena itulah dia menjalin kerja sama. Namun karena kejadian tidak terduga, terjadi kesalahpahaman dan dirinya mendapat tuduhan atas serangan pihak ketiga yang diderita dari fraksi yang menjalin kerja sama dengan Odo.”


 


 


“Tunggu, maksudnya bagaimana?” Elulu menurunkan tangan dari kening, menggebrak meja dengan sedikit keras dan memperjelas pertanyaan, “Pihak ketiga? Kesalahpahaman? Maksudnya serangan semalam itu hanya ….” Dari penjelasan Arca, itu juga bisa berarti bawa serangan dari para Elf kemarin malam hanyalah sebuah kesalahpahaman belaka.


 


 


“Seperti yang kamu duga, Elulu. Serangan yang hampir membunuh kalian itu hanya terjadi karena kesalahpahaman ….” Arca kembali menghela napas dan memperlihatkan ekspresi kesal. Setelah menggelengkan kepala, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut kembali berkata, “Hanya karena kesalahpahaman bisa terjadi hal seperti itu!” Arca menghela napas sekali lagi, lalu sembari mengerutkan kening berkata, “Sungguh, sebenarnya apa yang Odo incar dengan menjalin kerja sama dengan Moloia?”


 


 


Melihat mimik wajah Arca yang tidak seperti biasanya, Elulu sesaat merasa kalau Putra Sulung Keluarga Rein tersebut kali ini memang sangat tertekan. Mengingat-ingat biasanya Arca akan segera pergi menemui Odo jika ada sesuatu yang tidak dirinya pahami dari rencana, Elulu pun dengan sedikit cemas bertanya, “Kenapa Anda tidak bertanya langsung kepadanya? Anda selalu melakukan hal tersebut kalau tidak puas dengan rencana yang ada, bukan?”


 


 


“Aku juga ingin, tapi sayangnya Odo sedang pergi dan kemungkinan besar baru kembali paling cepat minggu depan ….” Arca langsung menjatuhkan wajahnya ke meja, lalu dengan lesu mengeluh, “Apa yang bisa aku lakukan sekarang hanya mengikuti rencana yang sudah dirinya berikan, tanpa bisa menolak atau protes soal isinya. Menyebalkan …. Uwah! Menyebalkan!”


 


 


“Pergi? Memangnya pergi ke mana? Bukannya dengan kekuatan Matius biasanya Anda bisa dengan mudah menemuinya?” tanya Elulu heran.


 


 


“Odo diam soal itu, katanya mau mengurus hal penting dulu ….” Arca berhenti membaringkan wajahnya ke meja, menatap lawan bicaranya dengan kesal dan mengeluh, “Setelah menyerahkan semua masalah ini kepadaku, dia pergi tanpa memberikan penjelasan lengkap! Menyebalkan sekali, bukan?! Di sini yang tidak tahu! Ya! Mau bagaimana lagi harus mengikuti rencananya!”


 


 


“Anda kesal karena itu?” Elulu menatap datar, sedikit memalingkan tatapan dan dengan lirih berkata, “Bukannya ada hal lain yang bisa dipermasalahkan?”


 


 


“Memangnya apa lagi?!” Arca menggebrak meja dengan keras, lalu dengan jengkel kembali berkata, “Kalau kamu mempermasalahkan hal seperti nyawa kita terancam karena kejadian tadi malam, aku rasa itu hal percuma saja!”


 


 


“Percuma?” Perkataan tersebut membuat Elulu segera menatap lawan bicaranya, hatinya pun dipenuhi rasa cemas karena merasakan firasat buruk dalam kalimat tersebut.


 


 


“Ya, percuma.” Arca menyandarkan tubuhnya ke kursi, menarik napas panjang dan dengan jelas berkata, “Saat perang datang nanti, aku rasa tempat aman di Daratan Michigan akan hilang. Karena itu, daripada terus berlari dan dihantui ketakutan, bukannya lebih baik kita melakukan sesuatu yang berarti dan membantu banyak orang. Aku yakin Odo juga memiliki motivasi yang sama saat bertindak ….”


 


 


“Peperangan ….” Elulu memucat, mulai berkeringat dingin dan merasa benar-benar telah melewatkan hal penting tersebut. Serangan kemarin hanyalah sebuah pembuka, ia segera paham bahwa ke depannya pasti hal seperti itu mungkin akan sering terjadi. Dalam perasaan takut dan ragu yang bercampur aduk dengan kuat, perempuan rambut pirang kepang tunggal tersebut bertanya, “Apa hal itu tidak hanya sebatas rumor? Saya rasa … itu hanya kabar yang disebarkan para Pedagang untuk kepentingan mereka.”


 


 


“Sayangnya itu bukanlah rumor.” Arca mengangguk, segera duduk dengan posisi punggung tegak. Sembari mengangkat telunjuk ia pun berkata, “Setelah penyerangan kali ini, hal itu menjadi pasti. Perdamaian yang terbentuk oleh Konferensi Empat Negeri akan segera berakhir.”


 


 


Rasa takut dan tidak percaya pada benak Elulu benar-benar tumbuh dengan kuat. Ia segera memejamkan kedua mata dan menggunakan Radd Sendangi untuk mencoba berkomunikasi dengan Odo, berniat menanyakan hal tersebut kepada Putra Tunggal Keluarga secara langsung. Namun, koneksi yang sebelumnya telah terbuat dengan pemuda itu tidak bisa terhubung.


 


 


Informasi milik Odo yang telah dirinya ingat dengan kemampuannya sebagai seorang Native benar-benar tidak bisa menemukan keberadaannya, bahkan satu gelombang pun Elulu tidak bisa melacak keberadaan Putra Tunggal Dari Keluarga Luke tersebut. Menyadari kejanggalan tersebut, tubuhnya pun seketika gemetar.


 


 


“A-Apa yang seharusnya kita lakukan sekarang? Kalau kejadian semalam terjadi lagi dan Tuan Odo tidak ada, bisa-bisa kita ….”


 


 


Melihat reaksi Elulu yang tampak berlebihan hanya karena mendengar potensi perang yang menjadi pasti, Arca hanya menghela napas kecil. Samar-samar dirinya pun tahu bahwa perempuan itu baru saja menggunakan kemampuannya untuk melacak Odo dan mendapatkan hasil yang tidak diinginkan.


 


 


Menghela napas dan sudah memperkirakan kalau Odo kemungkinan besar bisa melakukan pembatasan koneksi kemampuan Elulu, Arca hanya bisa memasang ekspresi datar dalam rasa kecewa. Dalam benak pun ia sebenarnya ingin mendapatkan akses komunikasi dengan Odo.


 


 


“Kau tak perlu cemas sampai seperti itu, Odo sudah meninggalkan rencana untuk kita. Selama kita mengikuti rencana itu, aku rasa semuanya akan berjalan tanpa masalah ….” Arca kembali bersandar, lalu setelah hela napas ringan berkata, “Kalaupun terjadi sesuatu di luar rencana seperti tadi malam, biar aku yang menjaga kalian.”


 


 


Elulu terdiam mendengar hal tersebut, tidak mengangguk dan malah memperlihatkan ekspresi wajah penuh keraguan. Seakan-akan dirinya sama sekali tidak mempercayai Arca. Sembari perlahan memalingkan pandangan ia dengan lirih berkata, “Ba-Baiklah ….”


 


 


“Apa-apaan ekspresi itu, paling tidak cobalah sedikit percaya padaku⸻!”


 


 


Perkataan Arca terhenti, mengingat kembali hal-hal buruk yang pernah dirinya lakukan kepada Elulu di masa lalu. Mulut yang terbuka perlahan tertutup rapat, memasang wajah murung dan merasa kalau ketidakpercayaan tersebut adalah hal yang wajar. Terdiam sejenak tanpa tahu kalimat yang sesuai untuk meyakinkan perempuan tersebut, Putra Sulung Keluarga Rein hanya terdiam tanpa mau menatapnya secara langsung.


 


 


Elulu pun tidak berkata apa-apa kepadanya, hanya sejenak menatap datar ke arah Arca dan lanjut mengerjakan tugasnya untuk membuat laporan keuangan. Mengambil pena bulu dan perkamen, perempuan itu hanya menutup mulut dan mulai menggerakan tangannya.


 


 


Tetapi di saat dirinya baru ingin mengalihkan pikiran dengan pekerjaannya, seseorang mengetuk pintu toko dan langsung masuk tanpa menunggu respons mereka yang berada di dalam. “Permisi, apa saya bisa minta waktu kalian sebentar?” ujar perempuan dengan topi kerucut.

__ADS_1


 


 


Perempuan rambut putih uban terurai tersebut adalah Canna Miteres. Meski ia merupakan korban dengan luka paling parah dari kejadian semalam dan hampir meregang nyawa, untuk beberapa alasan perempuan itu sudah bisa berjalan seperti sediakala.


 


 


Meski pada tubuhnya masih terbalut beberapa perban, dengan jelas perempuan itu memancarkan aura wajah yang segar dan tidak terlihat seperti orang yang baru saja melewati kondisi kritis. Bahkan ia pun bisa membawa kopernya sendiri tanpa masalah.


 


 


Elulu yang tahu kondisi Canna semalam saat dibawa pulang ke Lokakarya sempat terkejut melihat itu, begitu pula Arca dan semua orang di tempat tersebut yang melihat keadaannya semalam. Dengan cemas Elulu bangun dari tempat duduk, lalu berjalan menghampirinya.


 


 


“Apa kamu baik-baik saja? Tak perlu memaksakan diri, sebaiknya istirahat dulu,” ujar Elulu sembari menawarkan bantuan untuk berjalan.


 


 


Menolak hal tersebut dengan halus, perempuan yang mengenakan jubah abu-abu itu sembari tersenyum tipis berkata, “Tidak apa, saya sudah baik-baik saja …. Lagi pula, hari ini saya sudah tidak bekerja di sini loh. Hari ini saya akan berangkat ke Miquator. Yah, sayangnya cuti belajar saya sudah habis dan harus kembali untuk memenuhi kredit belajar ….”


 


 


Elulu sedikit terkejut dan baru ingat bahwa memang hari ini Canna harus kembali ke Miquator. Melihat Opium Matha yang mengikuti seniornya dan terlihat juga membawa tas koper, dirinya dengan cepat tahu bahwa mereka telah bersiap-siap pergi dan mampir hanya untuk mengucapkan salam perpisahan.


 


 


“Begitu, ya …. Kamu seorang pelajar, ya. Orang terpelajar memang harus rajin menuntut ilmu ….”


 


 


Untuk sesaat Elulu merasa canggung, suaranya terdengar sedikit sedih dan sorot matanya sekilas berpaling. Karena telah bekerja dalam waktu yang tidak sebentar bersama Canna, dirinya sempat lupa kalau perempuan rambut putih tersebut adalah orang dengan pendidikan tinggi dan memiliki kasta yang berbeda dengan dirinya yang hanya merupakan anak dari seorang mantan pedagang.


 


 


“Hmm, saya harus kembali ke sana dan melanjutkan pendidikan.” Meletakkan koper di dekat pintu masuk, Canna melongok ke dalam sembari sorot matanya mencari seseorang. Tidak menemukan orang yang dirinya cari, sang Penyihir pun bertanya, “Ngomong-omong, Ayahan⸻? Maksud saya, Tuan Odo sekarang ada di sini?”


 


 


Pertanyaan tersebut membuat Elulu memasang ekspresi bingung, memalingkan pandangan dan tidak menjawabnya. Ia mengambil satu langkah ke belakang, tidak berani menatap Canna dan berkata, “Tuan Odo sedang tidak ada di sini, beliau⸻”


 


 


“Odo sedang ada urusan penting! Kemungkinan dia baru bisa kembali minggu depan!” potong Arca tanpa memedulikan suasana yang ada di antara kedua perempuan itu. Bangun dari tempat duduk dan berjalan menghampiri mereka, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut menyampaikan, “Dia menitipkan pesan kepadaku, katanya maaf tidak mengantar keberangkatan kalian.”


 


 


“Eh?”


 


 


Mimik wajah Canna seketika tampak sedih mendengar hal tersebut, sedikit memalingkan pandangan dan mengusap matanya yang sedikit berkaca-kaca saat tahu bahwa Odo tidak bisa mengantar keberangkatannya.


 


 


Berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi tersebut dengan jelas, Canna membuat senyuman yang sedikit kaku dan bertanya, “”Memangnya Tuan Odo sedang pergi ke mana? Apa … sedang mengurus pasca penyerangan para monster? Atau tentang kejadian semaram?”


 


 


 


 


Jawaban Arca tambah membuat Canna tampak sedih. Awalnya dirinya sedikit berharap kalau Odo masih di kota dan sedang mengurus kepentingannya di tempat lain, namun penjelasan Arca membuat Canna benar-benar menyerah untuk bertemu dengannya.


 


 


Untuk Elulu yang peka dengan tujuan Canna datang ke toko, ia sempat bingung dan bertanya-tanya mengapa penyihir sepertinya bisa memiliki perasaan kepada Odo. Ia paham bahwa apa yang ada pada Canna bukanlah cinta terhadap lawan jenis, namun lebih seperti rasa kekeluargaan yang kuat.


 


 


“Begitu, ya …. Kalau Tuan Odo sedang sibuk mau bagaimana lagi. Sayang sekali saya tidak bisa membantunya lagi dan harus kembali ke Miquator.”


 


 


“Tak masalah kalau kamu pergi, Odo sudah menyiapkan perubahan struktur organisasinya. Bukannya sudah kewajibanmu untuk belajar di sana?” ujar Arca. Ia sama sekali tidak menahan diri, seakan dirinya memang sama sekali tidak peduli dengan ekspresi sedih yang diperlihatkan Canna.


 


 


Melihat perilaku Putra Sulung Keluarga Rein tersebut, Elulu sesaat merasa kalau sifat seperti itulah yang membuatnya sangat bereda dengan Odo Luke. Meski secara pemikiran dan kepribadian mereka hampir sama, Arca sama sekali tidak ingin berusaha untuk memedulikan perasaan orang yang dirinya anggap tidak terlalu penting.


 


 


“Tuan Arca, Anda ini ….” Elulu menatap datar, tampak kesal dan dalam benak ingin menghajar pemuda rambut pirang kecokelatan tersebut.


 


 


“Huh, aku baru ingat sesuatu.” Tidak memedulikan tatapan Elulu, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut mengambil sebuah kantong kain kecil dari saku celana dan berkata, “Aku punya titipan dari Odo, terima ini ….”


 


 


Canna menerima kantong kecil tersebut dengan kedua tangan, tampak sedikit bingung dan bertanya, “Dari Tuan Odo? Benda apa ini?”


 


 


“Kata Odo itu ongkos untukmu. Jujur aku tidak paham hubungan apa yang ada di antara kalian sampai-sampai dia berkata memiliki kewajiban untuk memberi kau pesangon ….”


 


 


Canna membuka kantong kain tersebut, lalu seketika terkejut karena itu berisi dua batang Kristal Sihir Kualitas Terbaik. Meski beratnya tidak sampai satu kilo, namun itu mencapai kisaran 500 gram. Dengan kata lain, secara keseluruhan kurang lebih bernilai 250.000 Rupl.


 


 


Canna sangat paham betapa besarnya nilai tersebut, sempat bimbang dan bertanya-tanya mengapa dirinya mendapatkan Kristal dari Odo.


 


 


Melihat seniornya mendapatkan dana tambahan dengan jumlah besar untuk biaya pendidikan, Opium segera mendekat dan menatap seakan berharap Canna membagi itu dengannya.


 


 


Namun berbeda dengan yuniornya yang sangat senang dengan pemberian tersebut, Canna malah memperlihatkan ekspresi muram dan berkata, “Maaf, Tuan Arca …. Saya rasa ini terlalu⸻”

__ADS_1


 


 


“Ambil saja, hormati pemberian Odo dan simpan saja untuk biaya pendidikan.”


 


 


Arca menatap serius. Meski dirinya tidak mengerti kenapa Odo harus mengeluarkan dana untuk penyihir yang baru bekerja untuknya selama beberapa bulan terakhir, ia paham bahwa Kristal tersebut dikeluarkan dengan maksud dan tujuan yang berbeda. Bukan untuk uang perpisahan ataupun berhubungan dengan kegiatan operasional toko.


 


 


“Ta-Tapi⸻!”


 


 


“Kau sedang kekurangan biaya pendidikan, bukan? Karena itulah kalian menerima pekerjaan dari Pemerintah Kota dan bekerja dengan biaya sedikit, benar begitu?”


 


 


Canna tidak bisa membalasnya. Memang sekarang dirinya dan Opium sedang kekurangan dana untuk melanjutkan pendidikan serta biaya penelitian. Namun mendapatkan itu dari sesuatu di luar jerih payahnya membuat Canna tidak nyaman, seakan dimanjakan dan harga dirinya sedikit tercoreng. Merasa seakan kerja kerasnya selama ini hanyalah sebuah lelucon.


 


 


“Tetap saja, ini terlalu banyak dan saya tidak bisa menerimanya,” ujar Canna sembari membungkus kembali Kristal Sihir dan menyodorkan itu ke Arca.


 


 


Melihat hal tersebut, Opium yang dari tadi melihat itu dengan penuh gairah seketika kecewa. Merasa sangat disayangkan kalau itu tidak diterima, terlebih lagi di saat kekurangan dana yang mereka alami sekarang.


 


 


Arca tidak mengambil itu kembali, ia malah memalingkan pandangan dan berkata, “Persis seperti yang Odo katakan, kau tidak mau diam dan menerima itu begitu saja.” Putra Sulung Keluarga Rein tersebut menghela napas ringan, kembali menatap lurus lawan bicaranya dan dengan tegas berkata, “Kalau begitu, sadikan itu sebagai investasi perusahaan ini!”


 


 


“Eh?”


 


 


“Kalian sedang meneliti, bukan? Kalau begitu, saat hasil penelitian kalian keluar dan disahkan, kalian harus membagi informasinya kepada Ordoxi Nigrum.”


 


 


Canna dan Opium untuk sesaat terdiam mendengar apa yang diucapkan Arca. Mereka tidak tidak menyangka Putra Sulung Keluarga Rein tersebut akan berkata seperti itu, terutama pada hal ketertarikan dengan sesuatu selain kekuasaan serta politik.


 


 


Canna kembali menutup Kristal dengan kain, lalu menggenggam erat dengan kedua tangannya. Dalam penuh rasa penasaran Canna pun bertanya, “Apa … Tuan Odo yang memerintahkan hal itu?”


 


 


“Hmm, itu yang Odo katakan padaku kalau kalian enggan menerima itu.” Arca menggaruk bagian belakang kepala, lalu segera berbalik dan melangkah kembali ke tempat duduk. Dengan nada ketus dirinya berkata, “Sudahlah! Ambil itu dan pergi sana, aku sudah lelah hari ini! Elulu! Cepat duduk dan kita diskusikan hasil rapat tadi, aku mau istirahat sebentar sampai sore!! Malam ini ada rapat persiapan ekspedisi pembersihan rute dengan pihak pemerintah!”


 


 


“Eh? Anda tidak mengantar mereka sampai gerbang?” tanya Elulu sembari menatap sinis Arca.


 


 


Duduk di meja yang sama dengan Ritta, Putra Sulung Keluarga Rein tersebut melipat kaki kirinya ke atas kaki kanan dan dengan nada angkuh berkata, “Untuk apa? Aku bukan Odo Luke yang suka mengurus orang lain dengan cuma-cuma, tidak ada kewajiban untukku mengantar keberangkatan mereka.”


 


 


“Eeeeh? Tapi, Nona Canna pernah bekerja dan berkontribusi di toko ini, bukan? Paling tidak ….”


 


 


“Paling tidak …, apa?” Arca melirik tajam, mulai kesal karena terlalu lelah dan ingin segera menyelesaikan pekerjaannya untuk cepat-cepat istirahat.


 


 


“Ti-Tidak apa-apa ….”


 


 


Elulu memalingkan pandangan dengan kesal. Tidak segera duduk dan segera menghadap ke arah Canna, perempuan rambut ikat kepang tunggal tersebut langsung memeluk sang Penyihir. Dengan erat, sedikit gemetar dan merasa sedih karena salah satu sosok yang bisa dirinya sebut teman harus pergi mengejar mimpi ke tempat lain.


 


 


“Nona Elulu ….”


 


 


“Terima kasih untuk semua waktu yang telah kita lewati, berkerja bersamamu sangat menyenangkan …. Saya bersyukur bisa bertemu denganmu, Nona Canna. Semoga engkau sukses di sana dan kelak kita bisa bertemu lagi.”


 


 


Air mata yang sebelumnya Canna bendung pun pecah, mengalur menjadi tangis sedu tanpa berani memeluk Elulu. Memang dirinya bekerja di Ordoxi Nigrum untuk membantu Odo, hanya itu motivasi dan alasannya mencurahkan keringat serta pikiran.


 


 


Namun dalam prosesnya, kebersamaan dengan para pegawai yang ada di tempat tersebut memberikan pelajaran berarti kepadanya. Terutama Elulu yang menghabiskan banyak waktu dengannya dan memberitahu banyak hal dalam pekerjaan tersebut.


 


 


Melihat hal itu, Arca yang bisanya tak peka pun hanya diam dan membiarkan. Ia merasa kalau momen itu perlu untuk mereka berdua. Ia hanya menghela napas ringan, menundukkan wajah dan sedikit tersenyum karena mereka bisa mengucapkan perpisahan dengan benar.


 


 


Di tengah suasana haru tersebut, Opium merasa seperti tidak dianggap meskipun dirinya juga ikut membantu di toko. Ia menatap ke arah Ritta yang keberadaannya hanya sebatas udara di tempat tersebut, merasa sama senasib dengan perempuan Demi-human tersebut.


 


 


“Pa-Padahal saya juga ikut membantu, tapi entah mengapa perbedaan perlakuan apa ini?” benak Opium tanpa mengucapkan satu kata pun di tempat tersebut.


 


 


ↈↈↈ


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2