
Meski dipikir pun jawabannya belum tentu didapat. Layaknya sedang menunggu lampu jalan berubah hijau di persimpangan, waktu seakan berjalan sia-sia. Melamun, berpikir dan tenggelam dalam waktu menunggu tersebut.
Apa yang akan kau lakukan saat dewasa nanti? Apa yang akan dirimu perbuat di masa depan?
Hanya memikirkan hal-hal seperti itu tidak ada gunanya, hanya membuang waktu karena semua itu diperbuat untuk memuaskan diri. Hanya sebagian saja yang benar-benar melakukannya, sebab kebanyakan orang terlalu malas untuk bertindak.
Pada zaman dimana pemikiran kritis meraja-lela dan paham fasis menjadi yang terpinggir, banyak orang yang menjadi seorang pemikir. Membuat angan-angan atas gambaran idealisme milik mereka, lalu dengan kehendak dan kekuasaan memaksakan semua itu kepada orang lain.
“Diriku ingin membuat sebuah toko yang menjual bahan bangunan! Tapi! Aku tak punya cukup kemampuan untuk mengurus semuanya! Yang diriku punya hanyalah uang! Mari cari orang lain! Buat dia bekerja untukku!”
Ada banyak orang yang bekerja keras, namun sebagian dari mereka terlalu cepat untuk menyerah. Ada orang yang selalu bekerja keras, namun bernasib buruk sampai akhir. Lalu, pada suatu waktu sebuah gagasan konyol pun muncul.
“Kita tak perlu bekerja keras! Cukup kerja cerdas saja! Gunakan kepalamu untuk mencapai tujuan!”
Kembali ke pernyataan awal, kerja cerdas pada dasarnya adalah sebuah tindakan yang memerlukan banyak modal. Untuk alat, orang, bahan, dan tempat, semua itu merupakan bentuk investasi yang memerlukan banyak uang.
Untuk bisa merealisasikan gambaran atas harapan kita, pada akhirnya kekuatan untuk menggerakan banyak orang diperlukan. Uang dan kekuasaan adalah alat paling efektif untuk hal tersebut.
Karena itulah, orang yang mengutarakan kerja cerdas adalah mereka dari kalangan kapitalis. Dengan contoh gagasan seperti, “Mari kita bekerja bersama! Kita keluarga! Kita akan maju bersama!” Seakan-akan berjalan beriringan, namun pada kenyataannya mereka hanya duduk di atas sembari mengarahkan semua yang di bawahnya.
Memang tidak ada yang salah dengan itu, kecerdasan umat manusia tidaklah setara. Sifat dan kepribadian, keahlian dan keterampilan, semuanya memiliki takaran masing-masing. Saling mengisi dalam hierarki adalah hal yang bisa dilakukan umat manusia.
Namun, pada akhirnya tidak ada satu pun yang tepat dari hal tersebut. Umat manusia terlalu tidak berpengalaman. Bukan ⸻ Lebih tepatnya, orang-orang terlalu memikirkan pengalaman yang dirinya miliki. Meski pada kenyataannya itu terlalu sedikit untuk dijadikan patokan.
Bicara seakan hal yang sama bisa saja terjadi kembali, karena itulah mereka berpikir dan membuat antisipasi. Mulai melanggar hak milik lainnya, dengan memberikan kompensasi yang menipu banyak orang dalam sebuah sistem perekonomian.
Semua gambaran itu hanyalah perumpamaan, dari sebuah algoritme untuk menentukan benar atau tidaknya hasil pilihan yang ada sekarang. Dunia Selanjutnya, sebuah tempat tidak sempurna yang tercipta secara prematur, dipetik lebih awal oleh sang Dewi Penata Ulang.
Di celah dimensi, sang Dewi masih terduduk di atas sofa dengan sorot mata datar. Rasa takut memang sudah berkurang darinya, namun kecemasan dengan jelas tertinggal di dalam dirinya. Menghela napas dengan penuh rasa resah, Dewi Helena mendongak dan perlahan menutup mata.
“Hanya tinggal waktu saja sampai dirinya mengingat semua itu ….” Ia perlahan membuka matanya, berhenti berpikir dan memutuskan untuk bertindak meski masih dipenuhi rasa bimbang. Sembari bangun dari tempat duduk, ia meletakkan jari telunjuk ke keningnya sendiri. Sembari kembali memejamkan mata ia bergumam, “Maafkan diriku ini …! Engkau yang memaksa diriku melakukannya.”
Pada kening sang Dewi Penata Ulang, sebuah kristal berwarna merah tua perlahan muncul ke permukaan kulit. Itu keluar dari dalam kepala, seakan tercipta dari jaringan tubuhnya sendiri. Pada saat bersamaan, tubuhnya pun mengalami perubahan.
Rambutnya kembali sepenuhnya menjadi hitam, kornea mata berubah kemerahan dan kulit semakin memucat. Sembari menurunkan telunjuk dari kening, ia perlahan menyeringai kecil dan berkata, “Mari mulai, Mahia …. Engkau bicara seakan hal itu adalah kehendaknya dan mempengaruhi jiwa mulia tersebut. Jika hal ini yang engkau harapkan, diriku kali ini akan melenyapkan engkau sepenuhnya.”
Proses kompres tubuh Dewi Helena dimulai, struktur keberadaannya berubah dan realitas perlahan mengalami Shift ⸻ Dari makhluk dari dimensi tingkat tinggi menjadi mortal secara penuh. Bentuk keberadaan tersebut mempengaruhi realitas jiwanya yang berasal dari Dunia Sebelumnya, membuat Dewi Penata Ulang tersebut secara bertahap kembali ke masa kejayaannya.
Kristal merah pada keningnya kembali masuk ke dalam kepala, tanpa membekas sama sekali. Pada saat yang bersamanya, susunan informasi fisiknya mulai terurai menjadi partikel-partikel berbentuk poligon. Layaknya sebuah puzzle yang dibongkar satu persatu.
“Warp to Rits’roa!”
ↈↈↈ
Pembicaraan yang berlangsung bagaikan sebuah aliran sungai, meski ada banyak hambatan tujuan akhir tetap berupa hulu tetap tercapai. Mereka memang memiliki cara pandang masing-masing, mengutarakannya beberapa kali dan ingin mempertahankan gagasan terhadap syarat yang diberikan dalam perjanjian yang akan dibuat.
Tetapi, ucapan orang-orang pemerintahan seakan percuma dan hanya melayang di udara. Sejak Odo Luke pergi dari ruangan dan pembicaraan sepenuhnya diserahkan kepada Arca Rein sebagai perwakilannya, hampir semua memilih untuk mengulur-ulur pembicaraan dan mengelak untuk langsung mengambil keputusan.
Bahkan, remaja perempuan yang menjadi korban pun menjadi sangat pendiam karena tekanan yang diberikan oleh Arca Rein kepada semua orang di dalam ruangan. Cara bicara, tatapan, gestur, serta bagaimana dirinya menyampaikan maksud, semua apa yang tampak pada Arca benar-benar seperti orang yang berkata dengan terbuka tanpa maksud tersembunyi.
Itu bukanlah hal yang buruk. Tetapi untuk situasi yang ada sekarang, tiap perkataan Arca seperti belasan pisau yang dilemparkan ke arah mereka tanpa rasa ragu. Begitu mengadili dan tegas tanpa memberikan rasa iba sama sekali.
__ADS_1
“Tuan Odo tadi telah membicarakan jaminan sebagai ganti dirinya mengurus masalah kalian. Oleh karena itu, kertas perjanjian ini dibuat,” ucap Arca sembari mengambil lembar perkamen perjanjian.
Mengamati isi yang telah tertulis dan merasa itu sesuai dengan apa yang Odo minta, Arca hanya menghela napas ringan. Ia sebenarnya ingin menekan mereka lebih dalam, menuntut lebih supaya mendapat banyak keuntungan dalam situasi sekarang ini.
Tetapi mempertimbangkan pola pikir Odo dan kemungkinan pemuda itu telah merencanakan hal lain, Arca mengurungkan niatnya dalam-dalam. Hanya diam tanpa kembali menuntut lebih dari mereka.
“Memang tidak memuaskan. Tapi …, baiklah! Ini sudah cukup.”
Perkataan dari Putra Sulung Keluarga Rein tersebut membuat orang-orang dari Pihak Pemerintahan sedikit tertegun, merasa sedikit janggal dengan keputusan yang dibuat orang seperti Arca. Namun karena tidak ingin memperlama suasana tidak menyenangkan tersebut, mereka pun memilih untuk mengangguk.
Ketika Arca bangun dari sofa, Lisia yang duduk di sebelahnya ikut bangun dan mengulurkan tangan untuk berjabat. “Terima kasih, Tuan Arca,” ucapnya dengan rasa senang. Namun Arca tidak memedulikan hal tersebut dan tak menjabat tangannya, hanya meletakkan kembali perkamen berisi perjanjian ke atas meja.
“Kalian tanda tangani dulu ini, lalu setelah Tuan Odo kembali ia akan menandatangani perjanjiannya juga.”
Lisia yang diacuhkan hanya terdiam murung, merasa benar-benar tidak berguna selama pembicaraan. Baik itu saat Odo masih di dalam ruangan, ataupun ketika Arca menggantikan pemuda rambut hitam tersebut.
Wiskel yang berdiri di dekat meja tanpa ragu mengambil kertas perjanjian tersebut. Membawanya ke meja kerja tempat Iitla duduk, ia meminjam pena mangsi dan menandatangani kertas tersebut.
Setelah selesai, pria tua tersebut menyerahkannya kepada Iitla seraya berkata, “Silahkan, Pak Iitla.”
Sekilas Kepala Prajurit tersebut ragu untuk mengambil kertas dari rekan kerjanya, merasa perjanjian yang ada perlu dipertimbangkan kembali dengan matang-matang. Menarik napas dengan sedikit resah, ia pada akhirnya mengambil kertas tersebut dan menandatangani pada bagian saksi atas perjanjian. Iitla paham situasi yang ada tidak memberikan banyak pilihan kepadanya.
“Terima kasih ….” Wiskel mengambil kertas tersebut dan pena mangsi, lalu baru menyerahkannya kepada Lisia untuk disahkan secara mutlak oleh Walikota Pengganti.
Melihat kertas dan pena yang disediakan untuknya, Lisia dalam benak masih berharap Odo segera kembali ke ruangan dan melanjutkan pembicaraan. Perempuan rambut merah tersebut termenung, menundukkan kepala dan matanya terarah ke isi surat perjanjian.
Persis seperti apa yang Odo minta, itu benar-bena jaminan atas bayaran yang harus diberikan Pihak Pemerintah Mylta kepadanya. Untuk membebaskan segala macam biaya kegiatan keluar masuk kota yang berkaitan dengan Ordoxi Nigrum. Tentu saja termasuk rekan-rekan kerja yang berkoalisi dengan perusahaan tersebut.
“Ada apa? Kenapa tidak lekas ditandatangani? Apa Nona kurang puas dengan isinya? Itu sesuai dengan permintaan Tuan Odo,” ujar Arca dengan maksud memberikan tekanan.
Setelah Walikota Pengganti tersebut selesai menandatangani, Arca sekilas menyeringai tipis. Merasa mereka semua bodoh karena tidak menyadari hal vital dalam surat perjanjian tersebut. Di dalamnya dengan jelas tertera bahwa, “Seluruh koalisi Ordoxi Nigrum akan dibebaskan dari biaya keluar masuk”, dengan kata lain perusahaan yang sekarang sedang berkoalisi pun bisa dibebaskan.
Dalam arti menguntungkan perusahaan milik Odo, Ordoxi Nigrum bebas mengatur untuk memberikan bebas pajak kepada kelompok siapa pun. Hanya dengan sebuah bukti surat kuasa bahwa mereka termasuk dalam koalisinya, kelompok pedagang siapa pun bisa terbebas dari pajak visa. Termasuk perusahaan-perusahaan dari Serikat Dagang Lorian sekalipun.
Tentu saja Arca berniat memanfaatkan hak tersebut untuk bisnis, meraup keuntungan yang seharusnya didapatkan oleh Pihak Pemerintahan dari proses progresif tersebut.
“Baiklah, terima kasih atas kerja sama kalian. Mari kita tunggu Tuan Odo kembali dan bicara beberapa hal dengannya terkait perjanjian ini.”
Tidak ingin membuat mereka menyadari celah vital dalam perjanjian, Arca memilih untuk pasif dalam pembicaraan sembari menunggu Odo kembali. Diam berarti emas, itulah yang dilakukannya selama beberapa menit sampai Odo kembali lagi ke ruangan tersebut dan menandatangani surat perjanjian.
ↈↈↈ
Hari berikutnya, di Kediaman Luke. Hari ke-5 dalam minggu tersebut datang dengan cuaca sedikit mendung meski di tengah musim panas, langit dipenuhi awan hitam dan angin berhembus cukup kencang. Dedaunan hijau di pagi hari tampak sedikit kering, sebagian ada yang beterbangan ke udara dan jatuh ke tanah.
Awal hari memang cukup dingin. Meski begitu, para pelayan di Mansion dan Lizard Man yang mengurus taman serta kebun terlihat bekerja seperti biasanya. Seakan memang perubahan cuaca tidak terduga tersebut merupakan hal wajar, telah terbiasa dengan cuaca tak menentu di musim panas.
Pada pagi tersebut Odo Luke tidak melakukan latihan seperti biasanya. Ia tak pergi ke halaman depan perpustakaan, melainkan ke halaman depan Mansion dan duduk di bangku taman dengan mimik wajah yang tampak kosong. Terlihat hampa, menatap gelap ke arah bunga-bunga yang terombang-ambing angin kencang.
“Tahanan rumah lagi, ya …?”
Bergumam sembari mendongakkan kepala, ia mulai memasang senyum tipis dan sekilas merasa kondisi sekarang tidaklah terlalu buruk. Kembali mengingat kejadian kemarin malam di Barak Kota Mylta, Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut merasa keputusan Ibunya memang dari awal tidak akan pernah berubah.
Seperti itulah Mavis Luke, selalu mencemaskan putranya meski sebenarnya dirinya tahu bahwa Odo bukanlah anak yang lemah.
__ADS_1
Karena pembicaraan dan kejadian kemarin, Odo kembali menjadi tahanan rumah. Sama seperti waktu Mavis mendengar kabar tentang duel pemuda rambut hitam tersebut dengan Arca. Lebih tepatnya, dirinya dilarang untuk pergi selama beberapa hari dan ditegur untuk merenungkan kesalahannya.
Odo sekilas memejamkan mata, merasakan semilir kencang yang menerpa tubuh dan berusaha untuk menata ulang seluruh rencana yang telah ada. Dalam garis besar, ada beberapa hal yang perlu Odo selesaikan sebelum musim gugur datang.
Prioritas utama Odo adalah janji dengan Seliari, Putri Sulung Dewa Naga. Untuk selanjutnya, tujuan sekunder yang perlu dipenuhi adalah membuat Perusahaan Ordoxi Nigrum stabil dan mandiri, karena itulah dirinya harus membuat Kota Mylta memiliki keamanan yang terjaga. Baik secara fisik ataupun kondisi ekonomi-politiknya.
Sebelum mencapai tujuan yang saling berhubungan tersebut, Odo perlu memenuhi perjanjian dan melakukan beberapa hal lain untuk tetap bisa menjaga relasi dengan banyak orang di sekitarnya. Apapun itu, dirinya tidak bisa melakukan semua itu jika tetap menjadi tahanan rumah.
“Apa … aku terlalu melibatkan mereka? Waktu itu seharusnya aku tidak membicarakan soal Reyah dan Kontaknya,” benak Odo seraya menarik napas ringan. Menggelengkan kepala dan membuka mata untuk menatap bunga-bunga di taman, dirinya merasa kondisi yang ada sekarang harus bisa dimanfaatkan. “Mungkin sebaiknya aku lebih memaksa lagi. Sekalian memaksa Bunda keluar dari zona nyaman,” gumam Odo dengan nada tak yakin.
Putra Tunggal Keluarga Luke tersebut meletakkan tangan ke dagu, sedikit menyipitkan mata dan menggunakan kalkulasi secara luas untuk merombak semua rencana yang telah ada. Memikirkan cara yang tidak bisa ditolak oleh Ibunya, menghemat waktu dan memungkinkan untuk dilakukan dengan kartu-kartu yang ada di tangannya sekarang.
“Ternyata Anda berada di sini, ya? Tuan Odo sedang melamun tentang apa memangnya? Tak biasanya Anda duduk di taman pagi-pagi begini ….”
Di tengah proses kalkulasi, suara Julia yang terdengar centil tersebut sedikit mengganggu konsentrasi. Namun, bukan berarti Odo berhenti dan membalas sapaan ringan tersebut. Pemuda itu tetap diam, memasang mimik wajah serius dan terus berpikir.
Julia berhenti di hadapan Tuannya yang duduk pada bangku taman, merasa pemuda tersebut semakin memaksakan diri sejak dirinya mendapat gelar Viscount. Berjongkok dan menatap wajah Odo yang tertunduk, gadis Nekomata tersebut berkata, “Hai~ Tuan Odo, Anda jangan melamun terus seperti itu dong~ Tidak baik loh, melamun pagi-pagi begini.”
Odo berkedip satu kali, lalu warna matanya pun berubah kembali normal. Pada saat itu, Julia baru sadar bahwa sebelumnya mata Odo berubah menjadi hijau. Tidak sempat bertanya alasannya, pemuda rambut hitam tersebut langsung menatap kesal Julia.
“Mau apa memangnya? Suasana hatiku sedang sangat buruk, tolong jangan buat aku membentak kau, Julia.”
“Ma-Maafkan saya, Tuan Muda ….”
Julai sesaat tersentak, segera berlutut dan menundukkan wajahnya dengan penuh rasa sesal. Untuk sesaat, dirinya merasa terlalu berlebihan dan menganggap Odo sama seperti dulu. Saat masih anak-anak dan sangat dekat dengannya, tidak menghormatinya sebagai seorang bangsawan dengan gelar Viscount.
Melihat reaksi perempuan yang dirinya anggap sebagai kakak, Odo kembali memasang wajah muram. Tidak ada yang salah dengan reaksi itu, namun untuk beberapa alasan hal tersebut membuat dirinya sesaat sulit bernapas. Seakan ada sesuatu yang menekan dadanya dengan kuat.
“Ah, aku tahu perasaan ini. Loyalitas yang didapat dengan cara yang tidak aku suka. Ini memang tidak menyenangkan,” benak Odo sembari memutar bola matanya ke samping. Memasukkan bibir ke dalam mulut, seakan-akan menahan perasaan yang sekarang memenuhi dadanya.
“Kau tak perlu minta maaf, berdirilah!”
Julia segera berdiri, memasang mimik wajah tenang dan menatap layaknya pelayan yang penuh dengan kepatuhan. Meski tubuh masih sedikit gemetar, gadis Nekomata tersebut berusaha untuk tetap menjaga gestur tubuh dan perilaku sebagaimana mestinya seorang pelayan dari keluarga bangsawan.
Mengesampingkan perasaan yang membuat dadanya terasa sesak, Odo balik menatap dengan sorot mata dingin. “Aku ingin bertanya sesuatu, jadi jawab ini dengan jujur. Apa kau bisa menggunakan sihir persepsi atau pendeteksi?” tanyanya dengan tegas.
“Saya bisa menggunakannya, Tuan Muda. Namun …, saya tidak sebaik Fiola. Dalam jangkauan penuh, saya hanya bisa mendeteksi sampai dua kilometer.”
“Dua kilometer, ya ….”
Odo untuk sesaat terdiam. Dalam kondisi prima dulu, Odo memang bisa mendeteksi lebih dari itu. Namun, bukan berarti jarak tersebut tergolong sempit. Jarak normal sihir pendeteksi yang bisa digunakan oleh para pengguna sihir secara umum adalah sekitar 300 meter sampai satu kilometer.
Tetapi ketika mengingat Fiola bisa mendeteksi keberadaannya dalam jarak belasan sampai puluhan kilometer, Odo merasa tingkat yang dimiliki sosok Hewan Ilahi memang sangat berbeda. Ditambah dengan Mata Batin yang dimiliki Fiola, Odo merasa Huli Jing tersebut mungkin bisa saja mendeteksi sampai ke luar dimensi Dunia Nyata jika dirinya mau.
“Memangnya Tuan ingin melakukan apa lagi? Anda sekarang sedang dilarang Nyonya keluar rumah, bukan?”
Tidak menjawab ataupun memedulikan pertanyaan Julia, Odo memalingkan pandangan sembari bergumam, “Yah, kurasa aku memang harus memaksanya. Aku butuh dia untuk menghemat waktu ….”
Julia terdiam, hanya memasang mimik wajah heran dan sama sekali tidak mengerti apa maksud dari perkataan Odo. Namun saat melihat seringai tipis pada wajah Tuannya, Julia merasa pasti itu bukanlah hal yang baik.
.
.
.
.
__ADS_1