Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[86] Dekadensi Kota Rockfield III – Perih (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Setelah pentas besar tersebut, saya tetap melanjutkan kehidupan di teater selama hampir dua tahun. Tetapi ketika menginjak usia 16 tahun, surat panggilan resmi sampai ke meja rias saya di belakang panggung.


 


 


Itu berasal dari Keluarga Stein, berisi tentang lamaran pertunangan untuk saya yang merupakan anak dari Keluarga Swirea.


 


 


Saat membaca itu saya hanya bisa terkejut, tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan bingung harus memberikan reaksi apa.


 


 


Di tengah kebingungan setelah surat tersebut sampai, beberapa hari kemudian salah satu perwakilan Keluarga Swirea menjemput saya untuk kembali ke Kediaman Swirea.


 


 


Tentu saya awalnya menolak karena sudah memiliki kehidupan di teater dan bisa hidup mandiri. Namun, tentu saja kehendak saya tidak berarti dan pada akhirnya dipaksa untuk pulang dengan berbagai cara.


 


 


Setelah hampir delapan tahun pergi, rumah sangatlah berbeda dari apa yang saya ingat.


 


 


Itu bahkan tidak terlihat seperti rumah bagi saya dan menjadi tempat asing. Banyak pelayan baru yang belum pernah saya temui, orang-orang asing yang merupakan tamu Ayah, dan saudara dan saudari saya pun tampak sangat berbeda.


 


 


Kakak menjadi semakin cantik dan telah menikah dengan seorang bangsawan dari kota lain, sedangkan Adik sudah semakin dewasa dan terlihat panas dengan setelan yang sama dengan Ayahanda.


 


 


Awalnya saya senang melihat mereka semua sehat, ingin melepas rindu dan menceritakan banyak pengalaman saya selama hidup di teater.


 


 


Tetapi, apa yang saya dapat sangatlah berbeda dari harapan. Mereka benar-benar menjadi orang asing, berbicara formal dan bahkan selalu memanggil nama saya dengan imbuhan ‘Nona’.


 


 


Itu cukup membuat saya terpukul, sempat merasa sedih dan bertanya-tanya mengapa mereka bertingkah seperti itu dan memperlakukan saya seperti orang asing.


 


 


Yang membuat saya semakin menganggap Kediaman Swirea bukan lagi sebagai rumah bukan hanya itu. Saat saya mencoba berbicara dengan Ibunda, ia bahkan tidak menatap dan benar-benar tidak peduli atas kedatangan saya.


 


 


Lirikan benci sekilas dirinya perlihatkan, benar-benar membuat hati ini serasa ditusuk dengan belati tajam dan disayat-sayat.


 


 


Saya tidak mengerti kenapa mereka memperlakukan saya seperti ini! Memangnya apa salah saya?! Mengapa?! Kalau memang seperti ini, lebih baik saya tidak usah kembali ke rumah!


 


 


Anak kecil ini hanya tumbuh dewasa secara fisik saja, sama sekali tidak bertambah dewasa secara mental dan masih belum benar-benar memahami lingkungannya. Layaknya anak naif dan bodoh, saya saat itu langsung mendatangi Ayahanda dan menanyakan alasannya secara langsung.


 


 


Tidak memedulikan tamu yang ada di ruang kerjanya, saya masuk dan dengan penuh rasa kesal bertanya, “Kenapa Ayahanda mengundang saya kembali ke rumah! Untuk apa saya kembali kalau hanya untuk diperlakukan seperti orang asing?!”


 


 


Saat itu, Ayahanda hanya tersenyum ringan dengan wajah pucat pasi. Begitu pula tamu dari Kediaman Stein yang sedang berkunjung.


 


 


Ayahanda bangun, lalu berjalan ke hadapan saya. Sembari mengelus kepala, pria yang tampak kehilangan semangatnya itu berkata, “Kamu memang sudah bukan anggota Keluarga Swirea lagi. Setelah kamu menjadi tunangan Oma dari Keluarga Stein, kamu akan menjadi anggota keluarga mereka, Agathe ….”


 


 


Itu tentu saja benar-benar membuat saya marah. Tanpa mendengar atau meminta persetujuan, Ayahanda memutuskannya secara sepihak. Sembari menyingkirkan tangan orang tua itu dari kepada, dengan lantang saya membantah, “Memangnya siapa yang mau! Saya kembali bukan untuk itu! Saya bukan alat untuk kepentingan Ayah! Saya tidak mau!!”


 


 


Saya mengatakan itu dan telah siap dengan konsekuensinya. Saya siap untuk ditampar, dimarahi, atau bahkan diusir keluar dari Keluarga Swirea untuk selamanya.


 


 


Tetapi, apa yang dilakukan Ayah malah memeluk saya dengan erat.


 


 


Ia tidak berkata apa-apa, terdiam dan kemudian mulai menangis tersedu. Bagi perempuan yang hanya hidup di dalam teater dan tidak pernah tahu kondisi di luar, itu benar-benar membingungkan.


 


 


Saya saat itu hanya tahu kalau Ayahanda juga tak ingin melakukan hal tersebut, seperti memaksa Putrinya sendiri menikah dengan orang lain.


 


 


Bingung, bimbang, tak tahu apa yang harus dilakukan dan hanya bisa terdiam dalam pelukan pria yang sudah memiliki bau tanah. Saya tidak ingin membuatnya bersedih, saya ingin berguna untuk keluarga. Hanya dengan perasaan tersebut, pada akhirnya saya menyetujui ajakan pertunangan itu.


 

__ADS_1


 


Waktu pun berlalu dan saya dibawa ke Kediaman Stein untuk mengadakan acara pertunangan. Saat itu saya juga baru tahu bahwa pasangan saya adalah Oma, laki-laki yang dulu pernah bermain dengan saya waktu kecil.


 


 


Saya pikir tidak ada salahnya menghabiskan sisa hidup dengan orang yang dulu disebut anak emas di Kota Pegunungan. Dalam benak, saya tidak keberatan dengan semua itu dan pertunangan pun berlangsung.


 


 


Itu disaksikan oleh para bangsawan di Kota Pegunungan dan Kota tetangga, Mylta.


 


 


Selama menjadi tunangan, saya diperlakukan cukup baik oleh orang-orang di Kediaman Stein. Layaknya wanita dari keluarga bangsawan pada umumnya, saya diberikan pelayan pribadi dan mendapatkan standar kehidupan yang sesuai.


 


 


Meski Oma dikenal hanya memberikan rasa peduli pada hal yang menurutnya menarik, ia cukup baik kepada saya. Sampai-sampai saya merasa sedikit sombong dan mengira kalau orang itu benar-benar jatuh cinta.


 


 


Setelah bertunangan selama satu tahun, pesta pernikahan pun dilakukan ketika saya beranjak 17 tahun dan Oma mencapai umur 20 tahun. Itu dilakukan di Kediaman Stein, kembali mengundang para keluarga bangsawan dari Kota Pegunungan dan juga tentu Keluarga Swirea.


 


 


Mungkin itu merupakan momen paling membahagiakan bagi saya. Naik ke sebuah pelaminan, memiliki kesempatan untuk membangun rumah tangga dan memenuhi kewajiban saya sebagai seorang wanita.


 


 


Meski awalnya benak ini masih dipenuhi perasaan rasa ragu dengannya, saya pada saat itu memang merasa bahagia bahwa yang menjadi pasangan adalah Oma.


 


 


Tetapi, sekali lagi takdir tidak menjadi seindah dan sesuai seperti yang saya harapkan.


 


 


Belum genap satu tahun setelah pernikahan, gejolak peperangan dengan cepat mencapai klimaks. Perang Besar yang tidak saya tatap dari awal tiba-tiba menatap tajam ke arah kehidupan saya. Layaknya monster mengerikan, itu mengulurkan tangan penuh cakar dan menghancurkan semuanya dengan cepat.


 


 


Tahun 2.668 Kalender Pendulum, itu merupakan tahun terakhir saya menikmati kehidupan saya sebagai wanita yang lahir di keluarga bangsawan.


 


 


Pada tahun tersebut, para Penyihir Miquator menyerang Kota Pegunungan sebagai respons atas serangan Kerajaan Felixia pada tahun sebelumnya.


 


 


Kota Pegunungan atau juga dikenal sebagai Rockfield merupakan tempat yang sulit ditaklukan. Bahkan, selama Perang Besar berlangsung pemerintah Rockfield berhasil menghentikan invasi-invasi yang dilakukan oleh Kekaisaran sampai mereka harus memilih untuk melakukan invasi ke Miquator terlebih dahulu untuk membuat kamp.


 


 


 


 


Mengacuhkan medan yang terjal dengan sihir melayang, mengatasi suhu rendah dan tekanan udara menggunakan sihir pelindung, lalu menghabisi para pasukan dengan sihir penyerangan mereka dari udara. Hanya dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, Kota Rockfield dijatuhkan tanpa bisa meminta bantuan ke Tuan Tanah Wilayah Luke.


 


 


Dalam peperangan tersebut, Anak Kedua dan Anak Ketika dari Keluarga Stein meregang nyawa. Hal tersebut membuat Keluarga Stein benar-benar jatuh, lalu diasingkan oleh pihak pemerintah Miquator yang telah mengusai Kota Pegunungan.


 


 


Berbeda dengan Keluarga Stein yang selama peperangan menunjukkan perlawanan yang ganas, Keluarga Swirea hanya berperan sebagai pendukung persenjataan dan sumber daya. Karena itulah, pihak Miquator yang telah berkuasa tidak menerapkan pengasingan dan hanya memberikan pembatasan akses terhadap keluarga tersebut.


 


 


Saat itulah sifat suami saya, Oma Stein, perlahan berubah selama pengasingan. Pria yang sebelumnya selalu ceria dan bertindak sesuai isi hatinya berubah menjadi orang yang ambisius, menjadi ganas dengan semua orang di sekitarnya dan bertekad untuk mengembalikan kejayaan Keluarga Stein.


 


 


Selama pengasingan di pinggiran Teritorial Rockfield, Keluarga Stein hidup di sebuah desa kecil dan masih diberikan leluasa dalam bergerak. Saya sendiri tidak keberatan hidup sederhana di sana, kehidupan penuh keringat sudah menjadi hal yang biasa selama dulu saya tinggal di teater.


 


 


Tetapi, pemikiran suami saya berbeda. Memanfaatkan hal tersebut, Oma mulai menghasut Kepala Keluarga Stein yang merupakan Kakaknya sendiri untuk merencanakan penyerangan.


 


 


Dalam hitungan bulan, mereka mengumpulkan pasukan dan persediaan dari berbagai pihak untuk merebut kembali Kota Rockfield. Mereka mengajak berbagai bangsawan untuk bekerja sama, membangun koalisi dan merencanakan sebuah serangan besar untuk benar-benar memastikan kemenangan.


 


 


Tetapi, dalam proses perencanaan tersebut Keluarga Stein malah menolak ajakan kerja sama dengan alasan tidak ingin lagi berperang. Lantas Oma pada akhirnya benar-benar murka mendengar jawaban tersebut, ia bahkan sempat melampiaskan kemarahan tersebut kepada saya ketika kembali ke desa.


 


 


Saat itulah saya menyadarinya, bahwa suami saya yang lembut dan baik telah tiada. Orang itu dengan kasar menjambak rambut saya, lalu mendekatkan mulut dan dengan dingin menegaskan, “Kau tidak tahu rasanya kehilangan, Agathe. Kau dari awal tidak menganggap mereka keluarga, karena itulah kau tidak marah saat kedua Kakakku meninggal! Kau sama saja dengan orang-orang Swirea itu!!”


 


 


Setelah mengatakan itu dengan kasar, Oma langsung pergi dari desa. Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sebuah berita mengejutkan terjadi. Kepala Keluarga Stein meninggal dunia saat sedang berburu, itulah yang para penduduk desa ketahui.


 


 


Namun, saya samar-samar menyadarinya. Kepala Keluarga Stein tidaklah meninggal karena binatang liar saat sedang berburu, melainkan dibunuh oleh Oma, adiknya sendiri. Belati berdarah yang dibawa pulang oleh suami saya menjadi bukti, itu jelas-jelas bukanlah warna darah monster ataupun aroma dari darah binatang.


 


 

__ADS_1


Saya masih mencintainya, karena itulah diam menjadi pilihan yang saya ambil. Berpura-pura tidak tahu, hanya berlaga layaknya wanita bodoh yang patuh pada sang suami.


 


 


Setelah kematian Kakaknya, Oma langsung mengambil status Kepala Keluarga Stein dan secara agresif menyingkirkan orang-orang yang tidak sependapat dengan pola pikirnya di desa.


 


 


Dalam hitungan minggu setelah duduk di posisi tersebut, semua orang di desa takut kepadanya dan hanya bisa patuh. Ia berdiri layaknya penguasa tirani dari tempat kecil, benar-benar terlihat frustrasi dan hancur.


 


 


Pada saat ia naik ke posisi itu Ibunya tiba-tiba jatuh sakit. Tetapi, Oma sama sekali tidak memedulikan hal tersebut dan menyerahkannya kepada saya. Apa yang bisa saya lalukan setelah itu hanyalah merawat Ibu Mertua, tanpa tahu apa yang sedang suami saya lakukan di luar sana.


 


 


Namun, saat tahun mulai berganti sebuah kabar mengejutkan terdengar. Sebuah perdamaian telah datang dan Perang Besar telah berakhir. Itu membuat hati saya lega, saya pikir dengan begitu Oma bisa berhenti menderita karena dendamnya.


 


 


Di tengah perasaan tersebut, sekali lagi takdir seakan menertawakan harapan saya. Pada tahun itu juga Ibu Mertua meninggal karena sakit yang tidak kunjung sembuh, membuat Oma menjadi satu-satunya orang dari garis keturunan  Stein yang masih hidup.


 


 


Kabar tersebut dengan cepat sampai ke telinga Oma, lalu pada akhirnya membuat orang itu pulang setelah sekian lama pergi.


 


 


Namun, kepulangan suami saya bukanlah untuk bersedih. Ia kembali demi membulatkan tekad dan kebencian. Kabar perdamaian tidak membuatnya berhenti, orang itu belum siap untuk berhenti membenci.


 


 


Sulit untuk saya mengungkapkannya dengan kalimat remah. Tetapi, apa yang ada pada suami saya sudah bukan lagi manusia. Ia hanyalah kumpulan kebencian, dendam buta tanpa tahu harus berhenti.


 


 


Dengan metode paling buruk, ia memutuskan untuk secara langsung membunuh orang-orang penting di Kota Pegunungan. Ia mulai mati-matian berlatih sihir, pedang dan bela diri untuk bisa cukup kuat melakukan mewujudkan hal tersebut.


 


 


Namun seakan Dewa Kota ingin mencegahnya, sekali lagi sebuah kabar mengejutkan terdengar.


 


 


Tahun 2.670 Kalender Pendulum, sebuah keputusan atas Pengembalian Kota Rockfield dibuat. Atas Perjanjian yang terjalin dalam Konferensi Empat Negeri, Miquator akan mengembalikan Rockfield kepada pemerintahan Kerajaan Felixia dan akan dikelola oleh Keluarga Rein untuk sementara.


 


 


Mendengar hal tersebut, suami saya benar-benar kehilangan tujuan hidup. Ia paham tidak bisa membalaskan dendam kepada orang-orang Miquator saat mereka pergi dari Kota Pegunungan. Ia juga mengerti bahwa mengejar mereka adalah hal mustahil untuknya.


 


 


Sekali lagi, orang itu mengambil tindakan bodoh dan tidak bisa menyerang.


 


 


Saya berharap ia tidak membulatkan tekad ….


 


 


Saya harap ia puas dengan hanya minum air dan memakan roti.


 


 


Saya berdoa dirinya tetap di sini malam itu.


 


 


Namun, saya paham hal itu mustahil baginya. Dari dulu sampai sekarang, sifatnya yang tak pernah mengurungkan niat tidak pernah berubah.


 


 


Karena itulah saya mencintai Oma.


 


 


Tetapi, kali ini saya benar-benar berharap ia mengingkari perkataannya sendiri. Menjadi pembual dan hanya tinggal di sini bersama saya.


 


 


Namun ketika bangun di hari selanjutnya, Oma sudah tidak ada di sisi saya.


 


 


Diisi dengan firasat buruk, tubuh ini tidak bisa tinggal diam dan pada akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Kota Rockfield.


 


 


Ya, karena saya tahu dia pasti ada di sana! Dia pasti ada di sana!


 


 


Takdir memang kejam, dunia memang mengerikan dan begitu busuk. Mengapa setiap orang yang ingin bahagia harus menderita? Jika memang kesengsaraan yang saya lewati tidak berarti, lantas untuk apa perjuangan ini diteruskan.


 


 


Dengan perasaan bercampur aduk dalam benak, sesekali saya sempat berpikir untuk meninggalkan Oma dan kembali ke Keluarga Swirea meski harus bersujud kepada Ayahanda. Entah apa yang mempengaruhi, pada akhirnya saya tetap memutuskan untuk setia dan percaya kepada Oma.


 


 

__ADS_1


__ADS_2