
Tanpa hambatan yang berarti. Layaknya aliran sungai yang hampir mencapai hulu, meski lambat itu berjalan tanpa hambatan dan mengalir dengan pasti. Seperti itulah agenda milik Odo berlangsung pada hari terakhir sebelum duel.
Setelah pembicaraan di Kediaman Stein pada pagi hari, setiap orang yang masuk dalam rencana berangkat ke tempat masing-masing. Untuk melaksanakan tugas yang telah dibagikan kepada mereka.
Dalam rencana, awalnya tugas untuk mengajak para pejabat lain dalam menambah suara diberikan kepada Ri’aima. Namun karena keikutsertaan Kepala Keluarga Stein, hal tersebut dilimpahkan kepada pria tua itu.
Ada beberapa alasan dalam perubahan tersebut, salah satunya adalah karena sebagian besar pejabat lama pasti akan tertarik dengan ajakan Oma Stein. Hal tersebut bisa menghemat waktu mengingat batas yang sudah dekat.
Untuk alasan lainnya, ada juga tugas tambahan yang harus diselesaikan sebelum hari duel tiba. Tugas itu sendiri akan diberikan kepada Ri’aima dan Rosaria mengingat kecocokan yang ada.
Tugas tambahan tersebut adalah sekali lagi menemui Mitranda Quidra di sudut prostitusi. Namun, kali ini mereka berdua harus menemui Putri Keluarga Quidra, Racine, secara langsung. Untuk memastikan bahwa pembicaraan yang telah dilakukan sebelumnya benar-benar tersampaikan, lalu memantapkan persiapan pengambilan gelar Knight yang akan dilaksanakan besok.
Untuk Baldwin yang kali ini benar-benar masuk ke dalam rencana, ia juga mendapatkan tugas berupa melakukan pembicaraan dengan Kepala Keluarga Irtaz. Selain untuk menyampaikan bahwa Oma Stein sudah kembali ke kantor dan ikut dalam rencana yang Odo buat, Anak Kedua Kelurga Stein memiliki tugas untuk memperbaiki hubungannya dengan pria tua yang pernah dirinya pukul.
Pada hari berkabut tersebut, setiap yang telah diberikan tugas pergi ke tempat masing-masing. Memikirkan bagaimana melobi dengan tepat, mengatur alur percakapan dan momentum untuk mendapatkan hasil yang dibutuhkan.
Pesan utama yang Odo tekankan kepada mereka hanya satu, yaitu jangan sampai terbawa suasana. Dengan kata lain, tak boleh menjadi serakah atau tidak bisa mengendalikan emosi.
Selain itu, Putra Tunggal Keluarga Luke juga membebaskan cara mereka melaksanakan tugas masing-masing. Hanya menyampaikan beberapa larangan seperti merahasiakan identitasnya di khalayak, terutama para pejabat.
Meski dalam waktu dekat semua orang pasti akan tahu bahwa Putra Tunggal Keluarga Luke berada di Kota Pegunungan, Odo tetap bersikeras untuk menyembunyikan hal tersebut selama mungkin. Paling tidak sampai rombongan Lisia sampai di Kota Pegunungan atau duel berlangsung.
Untuk Odo Luke sendiri, pemuda itu hanya memiliki agenda untuk melatih Ferytan Loi. Setelah menitipkan Lily’ami kepada Rosaria dan Ri’aima, Putra Tunggal Keluarga Luke mengajak pria tua tersebut keluar kota dan melatihnya dengan metode yang sama dengan kemarin.
Bagi mereka semua yang menjalankan agenda yang diberikan Odo, waktu pada hari tersebut berjalan sangat cemat. Saking padat dan pentingnya tugas yang dilimpahkan, mereka bahkan tidak sempat sarapan atau makan siang. Terlalu fokus dengan apa yang harus diselesaikan pada hari itu, lalu sampai-sampai melupakan waktu.
Tugas yang pertama selesai adalah milik Rosaria dan Ri’aima. Mereka berhasil memastikan bahwa Mitranda Quidra benar-benar telah mempersiapkan diri, lalu juga menyampaikan rencana duel kepada bunga malam tersebut. Mereka berdua juga berhasil bertemu dengan Racine, lalu memastikan kebulatan tekad perempuan tersebut terhadap keputusan yang telah diambil oleh ibunya.
Tepat pada tengah siang, pembicaraan Rosaria dan Ri’aima di Galeri Daun Merah berakhir. Hasil memuaskan didapat, lalu visi setelah Keluarga Quidra mendapatkan kembali gelar Knight juga menjadi sedikit jelas dalam diskusi mereka.
Namun, dalam pembicaraan tersebut memang masih tertinggal sebuah keraguan. Terutama dalam persoalan individu yang akan berperan untuk mengangkat pedang bagi Keluarga Quidra. Seperti yang pernah Odo sampaikan kepada mereka, peran tersebut akan diberikan kepada orang yang akan dipilih olehnya.
Untuk masalah tersebut, Rosaria dan Ri’aima tidak bisa memberikan penjelasan secara lengkap. Sebab mereka berdua juga tidak terlalu tahu tentang Ferytan Loi. Dari Lily’ami yang ditanyai tentang pria tua tersebut, informasi yang didapat pun tidak cukup jelas. Karena itu, apa yang bisa mereka sampaikan tentang hal tersebut hanyalah meminta Keluarga Quidra untuk percaya kepada Odo Luke.
Selanjutnya, tugas yang selesai adalah milik Baldwin. Itu selesai saat menjelang sore, sebab pembicaraan yang ada cenderung berlangsung lambat. Bahkan, untuk bisa menemui Fritz Irtaz, pemuda dengan perawakan kurus tersebut cukup kesulitan mengingat hal yang pernah dilakukan kepada Kepala Keluarga Irtaz itu.
Canggung, itulah atmosfer yang menguasai pembicaraan Baldwin dan Fritz Irtaz di ruang tamu. Meski begitu, topik yang dibahas memang berjalan secara alami. Setelah Anak Kedua Keluarga Stein meminta maaf, kedua belah pihak memutuskan untuk melupakan kejadian yang pernah ada di antara mereka.
Setelah itu, barulah topik pembicaraan utama berlangsung. Baldwin menyampaikan kondisi Oma Stein, lalu juga bilang bahwa ayahnya tersebut telah kembali ke kantor dan sedang menjalankan rencana milik Odo Luke.
Mendengar hal tersebut, Fritz Irtaz sendiri sempat terkejut. Mengingat kepribadian sang Walikota, ia tidak bisa membayangkan rekannya tersebut akan ikut ke dalam rencana yang disusun oleh darah muda. Namun, setelah sedikit membuka cara pandang, Fritz Irtaz kembali merasa bahwa cara pandang tersebut juga patut dicoba. Mengingat dirinya sudah tidak muda lagi.
Setelah memahami pesan yang disampaikan Baldwin, Kepala Keluarga Irtaz yang memiliki loyalitas tinggi kepada Keluarga Stein segera mengangguk. Secara penuh setuju untuk mendukung rencana yang Odo buat, lalu ingin membuat duel yang telah direncanakan menjadi sebuah penentuan sesungguhnya untuk masa depan Rockfield.
Untuk tugas yang selesai paling terakhir, itu adalah milik Oma Stein dalam rangka mengajak para pejabat lama menyumbangkan suara dalam merealisasikan duel penentuan. Pada Kantor Pusat Administrasi di mana Prajurit Elite juga berada, sang Walikota tidak bisa langsung secara frontal mengajak para pejabat ikut dengan visi yang dirinya bawa. Terutama dalam situasi dimana keseimbangan kekuasaan yang ada tidak stabil seperti sekarang.
Sebab itulah, apa yang dilakukan oleh Oma Stein pertama kali adalah menyentuh beberapa tugas yang pada hari sebelumnya dikerjakan oleh Baldwin. Membiarkan kabar tentang kedatangannya di kantor menyebar ke semua pejabat, lalu menunggu mereka datang satu persatu ke ruang kantor miliknya dan baru mulai membujuk.
Secara bertahap, dengan hati-hati, dan tanpa mengambil langkah agresif. Waktu yang diperlukan terbilang lama dan prosesnya lambat, sebab Oma hanya bisa bertindak pasif dalam mencapai tujuan.
__ADS_1
Meski begitu, pejabat lama yang masih ingin mendukung sang Walikota tidaklah sedikit. Mereka datang satu persatu, lalu layaknya efek domino ikut menyebarkan ajakan tersebut kepada pejabat lain.
Pada saat menjelang senja, ajakan visi yang menyebar di kantor sampai ke telinga Jonatan Quilta. Hal itu membuat sang Prajurit Elite gerah, lalu pada akhirnya mendatangi ruang kerja Walikota untuk mengutarakan kekesalannya.
Karena emosi yang sempat naik, Jonatan bahkan sempat tidak sengaja membocorkan alasan delegasinya di Kota Pegunungan. Terutama dalam menyiapkan kota untuk menghadapi peperangan yang akan menerjang dalam waktu dekat.
Telah mendengar potensi peperangan dan juga memahami itu, Oma menyerang balik dengan alasan tersebut dan meminta Jonatan untuk membantu juga. Tanpa memikirkan emosi lawan bicara yang sedang naik, pria tua itu mengulurkan tangan dan berkata untuk membantu Oma dalam tugasnya sebagai Walikota. Dengan dalih demi kebaikan Rockfield.
Tentu saja itu membuat Jonatan naik pitam. Sang Prajurit Elite merasa bahwa pria tua itu hanya memanfaatkan momentum yang telah dibuat oleh Odo Luke, lalu memakainya untuk kepentingan pribadi dan keserakahan semata.
Tanpa mencapai titik damai, pembicaraan Oma dengan Jonatan berakhir. Deklarasi menjadi jelas, serta waktu duel yang akan berlangsung besok pun menjadi pasti dalam pembicaraan tersebut.
Mempertaruhkan semuanya pada satu titik, lalu bersumpah dalam hati masing-masing akan menerima hasil apapun yang ada nanti. Karena itulah, mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mencapai hasil masing-masing.
Karena provokasi yang diberikan Oma, sang Kepala Elite memutuskan untuk pulang cepat. Pergi ke barak untuk berlatih, lalu sampai luput untuk mempersiapkan penanganan secara politik dalam gempuran yang terjadi sebelum duel besok.
Sampai fajar datang, Oma Stein sendiri masih berada di ruang kerjanya. Mengerjakan tugasnya sebagai Walikota bersama tumpukan dokumen, lalu diselingi pembicaraan dengan beberapa pejabat yang sesekali datang ke ruangannya karena tertarik dengan tawaran yang ada.
.
.
.
.
Hari menjelang malam, kabut dengan cepat menghilang saat tirai hitam dibentangkan di langit. Gugusan bintang bersinar sebagai penerangan tambahan, menyoroti jalan tempat pemuda rambut hitam itu melangkah.
Tegas, kuat, dan tanpa keraguan. Dalam mimik wajah dan setiap langkah yang diambil oleh Odo Luke, ia seakan telah mengambil keputusan dengan bulat dan berhenti untuk meremehkan. Tidak lagi memandang masalah yang ada di hadapannya hanya sebatas untuk membuang-buang waktu, lalu pemuda itu juga berhenti untuk menahan diri.
Dengan pakaian sedikit compang-camping, ia melewati gerbang utama kota tanpa menyapa para penjaga yang ada. Melangkah bersama pria tua yang berjalan mengikuti pemuda rambut hiram tersebut.
Untuk sesaat, para penjaga yang berjaga di sana sempat pangling. Terutama terhadap pria tua bernama Ferytan Loi. Aura, postur tubuh, dan cara melangkah, semua yang ada padanya sepenuhnya berubah.
Aura yang terpancar pun sangat berbeda dari kemarin. Tajam, memancarkan haus darah yang samar-samar. Lalu, terkesan mematikan dan bisa menebas siapa saja yang mendekat dengan pedang rusak di pinggang. Meski kemarin ia terlihat seperti pria tua biasa, sekarang Ferytan benar-benar telah memancarkan aura layaknya seorang veteran dalam perang.
Beberapa penjaga yang cemas melihat kedua orang tersebut ingin memanggil. Namun seakan menyadari niat tersebut, Ferytan berhenti dan membungkukkan tubuh ke arahnya. Memberikan hormat dan menyampaikan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tanpa berkata-apa lagi, pria tua yang tampak sangat berbeda dari kemarin itu pun kembali mengikuti Odo. Pergi menuju balai kota dan meninggalkan penjaga yang terdiam bingung. Dalam benak, penjaga tersebut bertanya-tanya apa yang telah pria tua tersebut lalui dalam sehari sampai-sampai bisa berkembang seperti itu.
“Rasanya aneh melihat kau bisa bersikap sopan,” ujar Odo sembari tetap berjalan. Ia sekilas melirik kecil, lalu melempar senyum menyindir.
“Waktu kecil saya pernah mendapatkan pendidikan tentang tata krama bangsawan. Lagi pula, bukannya Anda yang bilang bahwa saya juga harus menjaga sikap? Mengingat situasi dan lingkungan yang akan saya masuki nanti.” Ferytan menghela napas ringan dan menggelengkan kepala. Pria tua tersebut segera menatap datar, lalu dengan nada heran kembali bertanya, “Bicara tentang perkembangan saya, jujur ini masih membingungkan. Yang saya lakukan selama latihan hanya membantai para monster, lalu sesekali menggunakan teknik pedang yang Tuan ajarkan kepada saya. Namun, kenapa rasanya aura dan postur tubuh saya juga ikut berubah?”
“Itu karena kau secara tidak sadar menyerap Unfar dari para monster yang kau habisi.”
“Unfar?” Mendengar jawaban itu, Ferytan malah tampak sangat bingung.
“Unknown Facet Realm. Mungkin akan lebih mudah dipahami kalau aku menyebutnya Mana ….” Odo berhenti melirik. Mengacungkan telunjuk ke depan, Putra Tunggal Keluarga Luke lanjut menjelaskan, “Setiap monster memiliki kristal sihir, kualitas kristal akan dipengaruhi jumlah Mana yang ada dalam tubuh mereka. Secara sederhana, itu ditentukan dari tingkat mutasi mereka dalam kemampuan manipulasi Mana tersebut. Setelah dibasmi, kebanyakan Mana akan secara otomatis berkumpul di kristal sihir. Untuk sisa-sisa yang ada, Mana keluar dari mayat ke udara dan berubah menjadi Ether.”
“Hmm, terus apa hubungannya dengan perkembangan fisik saya?”
Ferytan merasakan ada yang janggal dari penjelasan tersebut. Selama latihan, memang ada beberapa hal yang membuat tubuhnya berubah kekar. Hal tersebut seperti terus menerus mengayunkan pedang ratusan kali untuk menghabisi monster.
Namun untuk tubuh yang tidak lagi bungkuk karena kondisi tulang berubah, itu bukanlah sesuatu yang bisa didapat dari latihan fisik. Tulang belakang yang bungkuk disebabkan karena usia dan itu bukan hal yang bisa diperbaiki. Meskipun bisa, itu diperlukan sebuah terapi khusus.
“Intinya ….” Odo berhenti melangkah setelah menaiki dua anak tangga di jalan yang menanjak. Menatap pria tua itu, pemuda rambut hitam tersebut dengan jelas menyampaikan, “Apa yang kau alami mirip dengan mutasi monster. Lebih tepatnya, evolusi secara terarah untuk menyesuaikan tubuh dengan kondisi lingkungan.”
“Eh?”
__ADS_1
Langkah kaki Ferytan terhenti, kedua matanya terbuka lebar. Benar-benar merasa heran karena tidak pernah mendengar bahwa manusia bisa bermutasi seperti monster. Terlebih lagi, pria tua itu juga tidak merasa bahwa tubuhnya telah bermutasi.
Odo menunjuk lurus ke arah Ferytan, lalu dengan senyum tipis menambahkan, “Ether yang kau hirup di antara para mayat, itu masuk ke pembuluh darah dan sampai ke Inti Sihir. Meski tidak terlatih, Inti Sihir mempengaruhi proporsi dan gestur tubuh. Karena terus menerus dalam situasi antara hidup dan mati, otak akan menilai bahwa lingkungan tidak lagi aman dan memaksa tubuh beradaptasi. Itulah mutasi yang aku sebut. Yah, itu lebih mirip seperti perkembangan tubuh biasa memang. Namun, kau sendiri paham kalau itu bukan hanya mencangkup fisik, bukan?”
“Mutasi ….” Secara kosakata, mutasi juga dapat diartikan berupa perubahan dalam bentuk fisik, kualitas, atau sifat lain dari makhluk hidup. Memahami itu dengan samar, Ferytan mulai menangkap maksud yang disampaikan Odo. Menatap lurus ke arah pemuda rambut hitam itu, sang pria tua menyederhanakan, “Berarti, tubuh saya terasa bertambah kuat karena terus menerus membunuh monster.”
“Sederhananya memang seperti itu ….” Odo mengangguk sekali. Sembari meletakkan telunjuk ke tengah dada, pemuda itu menambahkan, “Namun, sebenarnya kau hanya perlu menyerap Mana ke dalam Inti Sihir dan mengembangkan fisik. Kondisi mempertaruhkan nyawa yang kau lakukan selama latihan hanya untuk membuat persepsi otak berubah, tidak lagi manja dan memahami lingkungan mencekam dengan baik. Berkat itu, kau juga bisa masuk ke dalam kondisi rileks ekstrem, bukan? Meski cuma beberapa kali saja.”
“Kalau dipikir-pikir, memang benar juga.”
Ferytan mengingat kembali momen latihan. Semakin banyak monster yang dibunuh, perlahan-lahan sebuah ketenangan malah mengisi benaknya. Karena itu berlangsung lambat, pria tua itu tidak menyadarinya sampai diberitahu. Membiasakan diri ⸻ Itu ungkapan yang tepat untuk menjelaskannya.
Pada tahap akhir pelatihan, Ferytan juga tidak merasa bahwa tubuhnya berkembang sangat pesat. Namun, dengan jelas saat melawan beberapa Ogre sekaligus, sebuah ketenangan terasa dan membuat tubuhnya bisa bergerak dengan ringan. Dalam langkah efektif dan hanya berfokus untuk menghabisi lawan.
“Sudahlah, jangan melamun terus.” Odo kembali berbalik dan melanjutkan langkah kaki. Sembari menjentikkan jari, pemuda itu mengingatkan, “Setelah ini kau tak boleh berlatih dulu. Istirahat, supaya tubuh bisa membiasakan diri dengan perubahan yang diperintahkan otak.”
“Baiklah, akan saya ingat baik-baik.” Ferytan berjalan mengikuti. Mulai merasa gugup dengan duel besok, pria tua itu sedikit mengerutkan kening dan bertanya, “Ngomong-omong, apakah Tuan punya saran atau tips untuk saya? Itu …, Prajurit Elite yang akan saya lawan sangat kuat, bukan?”
“Tenang saja, kau sudah lebih kuat darinya. Pria seperti itu kuat karena berlatih tekun dan bakat, berbeda dengan kau yang murni karena doping.”
“Eng?” Ferytan mengerutkan kening dan tersinggung, lalu dengan ketus bertanya, “Kok disamakan sama doping, sih?”
“Ya! Pada dasarnya menyerap Ether, lalu mengolahnya menjadi Mana dan digunakan untuk mengembangkan Inti Sihir sama saja dengan obat kuat. Di Kekaisaran, itu juga disebut Kultivasi Inti Sihir. Meski aku sebut mirip doping, itu berlaku permanen. Selama kau bisa membiasakan diri, efeknya akan terus ada dan bahkan berkembang.”
“Latihan yang telah saya lakukan, itu … tidak ada efek sampingnya, ‘kan?”
“Tidak ada.” Odo menjawab singkat. Bertepuk tangan satu kali, dengan suasana hati senang pemuda itu menambahkan, “Namun, jika kau menyerap Ether secara berlebihan atau melakukan hal bodoh seperti mengunyah kristal sihir, tubuhmu bisa meledak.”
“Mengunyah kristal sihir? Pfff! Siapa yang melakukan hal bodoh seperti itu?! Tuan ternyata bisa bercanda juga!”
“Aku.” Odo berhenti melangkah, menoleh ke arah pria tua tersebut dan menatap datar.
“Eh? Ah ….” Ferytan seketika bungkam, sedikit memalingkan wajah dengan cemas.
Menghela napas dan tidak ingin memojokan priatua tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke kembali berjalan. Dalam suasana yang masih senang, pemuda itu pun mulai bercerita, “Dulu aku pernah berpikir seperti itu untuk mempercepat perkembangan Inti Sihir, lalu berakhir kejang-kejang setelah mengunyah kristal sihir. Yah, berkat itu juga aku bisa tahu beberapa metode yang tepat untuk menyerap inti sari kristal sihir, sih.”
\====================
Catatan :
See You Next Time!!!
Catatan Kecil :
Fakta 041: Hilangnya konsep time travel tersebut adalah karena dunia selanjutnya tercipta secara prematur.
Fakta 042: Bukti prematur tersebut adalah Dunia Astral dan Dunia Iblis.
Fakta 042.5: Fakta setelah ini akan membingungkan, karena itu jika pusing jangan dipikirkan. Cukup tahu saja.
__ADS_1