Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[103] Serpent III – Bay Leaf and Bittersweet (Part 04)


__ADS_3

 


 


 


 


“Tidak terlalu … berguna?” Reyah tertegun.


 


 


Di tengah pembicaraan tersebut, Laura dan Magda kembali setelah selesai mencari tempat menembak di sepanjang garis pandai Laut Utara. Mereka mendarat di dekat jajaran pepohonan kepala, lalu melepaskan Manifestasi Peri dan melampaikan tangan ke arah Odo.


 


 


“Mereka sudah kembali, ayo kita bicarakan ini dulu dengan kedua Elf itu.”


 


 


Odo melangkah diiringi hela napas ringan. Mimik wajah tampak sangat suram, seakan-akan semua rencana yang sudah disusun menjadi tidak berarti hanya karena satu fakta yang terlewat.


 


 


Melihat hal tersebut Reyah langsung cemas, segera meraih tangan pemuda tersebut dan menghentikannya. “Odo yakin mau melanjutkannya?” tanyanya memastikan.


 


 


“Tentu saja.” Putra Tunggal Keluarga Luke melempar senyum tipis. Sembari menunjuk ke arah Laura dan Magda menggunakan ujung pedang, pemuda rambut hitam tersebut berkata, “Kita tunggu Vil kembali, aku ingin meninjau ulang semua rencananya. Meski harus semuanya harus dirombak ulang, namun bukan berarti kondisi ini berada di jangkauan perkiraan ku.”


 


 


Setelah itu, mereka pun berkumpul di sekitar pepohonan kelapa dan menunggu Vil kembali untuk meninjau ulang rencana yang telah ada. Merombak, lalu menata semuanya dari awal dan benar-benar membuat susunan rencana baru.


 


 


Rencana awal yang ingin digunakan Odo adalah penyergapan. Menyerang Leviathan sebelum bisa mengaktifkan Sihir Khususnya, lalu menghabisi Sea Serpent tersebut dengan sihir Parva Nuclear milik Laura.


 


 


Penyergapan tersebut diawali dengan Vil memancing Sea Serpent keluar dari dalam palung, lalu membawanya sampai ke landasan kontinen laut untuk menurunkan mobilitas. Membatasi pergerakan Leviathan yang memiliki tubuh seperti hewan melata, lalu menjebak Naga Agung tersebut di antara bebatuan karang besar.


 


 


Saat tubuh Leviathan tampak jelas di permukaan air, serangan akan dilakukan secara berkala oleh Odo sebagai garis depan. Reyah bertugas membantu dengan sihir peningkatan fisik. Selain itu, sang Dryad juga akan menggunakan wewenang Pohon Suci yang masih tersisa untuk mengacaukan fokus, lalu memperlambat pergerakan sang Pemusnah Peradaban dengan sihir tanaman.


 


 


Menggunakan wewenang Laut Utara yang telah didapat setelah ritual pewarisan, Odo akan membatasi suplai Ether sang Sea Serpent dan membuatnya tidak bisa menggunakan sihir dalam skala luas untuk beberapa saat. Mengulur waktu selama mungkin dan menahannya tetap berada di landasan kontinen laut.


 


 


Pada momen singkat tersebut, Laura akan merapalkan Parva Nuclear dengan senapannya. Dibantu oleh Magda untuk konfirmasi koordinasi ruang dan distorsi spasial di Dunia Astral, sihir tersebut akan dilancarkan dari tempat menembak yang ada di sekitar garis pantai.


 


 


Kunci kemenangan dari rencana penyergapan tidak hanya terletak pada sihir Parva Nuclear saja. Jika sihir nuklir dan gravitasi tersebut tidak bisa menghabisinya, Odo berencana menggunakan Aitisal Almaelumat sebagai serangan terakhir.


 


 


Memanfaatkan kulit Leviathan yang terpapar radiasi dan menjadi rapuh karena perubahan suhu ekstrem, Odo berniat memasukkan darahnya ke dalam Sea Serpent tersebut. Setelah itu, ia akan menarik mundur semua orang dan mengulur waktu selama mungkin. Menunggu supaya darah dengan aktivasi bersyarat tersebut mempengaruhi Leviathan, lalu menghancurkannya dari dalam.


 


 


Dalam segi struktur, rencana tersebut sudah tersusun rapi dan pembagian tugas dilakukan secara merata. Namun, satu fakta yang masuk ke dalam kalkulasi membuat semuanya harus dirombak. Menjadikan rencana yang telah disetujui oleh semua anggota terbuang sia-sia.


 


 


Ukuran Leviathan yang lebih besar dari perkiraan, satu hal tersebut mempengaruhi semuanya dan membuat perhitungan harus ditinjau ulang. Dari infomasi yang didapat Odo melalui mulut Seliari, Sea Serpent memiliki ukuran dua kali lipat dari Naga Hitam tersebut.


 


 


Tetapi melalui koneksi indra yang Odo bangun dengan Vil, telah dikonfirmasi bahwa ukuran Leviathan jauh lebih besar dari itu. Perbedaan ukuran tersebut membuat tahapan rencana untuk menahan Sea Serpent di landasan kontinen menjadi tidak mungkin direalisasikan.


 


 


Di sisi lain, ukuran tersebut juga memberikan kemungkinan lain seperti tingkat kekerasan kulit Leviathan yang lebih tinggi. Itu memunculkan potensi seperti Parva Nuclear tidak efektif untuk Sea Serpent, sebab paparan radiasi bisa saja tertahan secara penuh oleh kulit teras dan tebal Sea Serpent tersebut.


 


 


Karena itulah, Odo Luke memutuskan untuk meninjau semuanya dari awal. Merombak semua rencana yang telah ada, lalu mencari cara lain untuk mencapai tujuannya dalam penaklukan Leviathan.


 


 


Pada dasarnya Odo tidak memiliki kewajiban untuk membunuh Leviathan. Dalam janji yang dibuatnya dengan Seliari, pemuda itu memang berkata akan mengalahkan Sea Serpent. Namun, pada dasarnya itu dilakukan supaya dirinya bisa memasukkan Leviathan ke dalam Alam Jiwa miliknya.


 


 


Tetapi jika memang Leviathan masih memiliki kesadaran dan pengaruh Kutukan Kegilaan tidak terlalu kuat, ada kemungkinan pembicaraan bisa dilakukan. Selain itu, tidak kecil kemungkinan Odo bisa menghilangkan kutukan tersebut. Tanpa harus membunuh Leviathan, ia bisa melakukan kontak fisik dan menghapus Kutukan Kegilaan untuk mencapai tujuan penaklukan.


.


.


.


.

__ADS_1


Awan semakin tebal, menutupi langit Laut Utara dan benar-benar membawakan kegelapan ke tempat tersebut. Meski masih tersisa sumber cahaya berupa Roh Tingkat Rendah yang beterbangan layaknya kunang-kunang, namun mereka semua hanya terbang di sekitar batas hutan.


 


 


Laut tampak begitu gelap saat ditatap, sama sekali tidak memiliki tanda-tanda cahaya dan hanya ada hitam membentang. Petir yang sesekali menyambar sekilas menunjukkan gambaran ombak laut, menggulung setinggi dua meter dari permukaan dan diseret oleh angin kencang sampai ke daratan.


 


 


Sudah lebih dari tiga puluh menit setelah Odo dan yang lainnya berkumpul kembali di dekat pepohonan kepala. Rencana sebelumnya telah selesai dirombak oleh pemuda itu, lalu diganti dengan beberapa tahapan baru yang memiliki perbedaan yang signifikan.


 


 


Berbeda dengan ketentuan awal, hasil penyusunan ulang rencana benar-benar terkesan tidak matang. Hampir semua anggota mendapatkan peran ganda, lalu Odo juga terlalu banyak meminta improvisasi selama penaklukan berlangsung.


 


 


Tentu saja itu membuat mereka yang mendengarkannya semakin ragu, lalu pada akhirnya menunjukkan gelagat ingin menghentikan rencana atau melakukannya lain waktu. Paling tidak mereka paham bahwa melanjutkan penaklukan sekarang sama saja dengan bunuh diri.


 


 


“Sebaiknya kita tunda saja selagi belum terlambat. Kita sudah mendapatkan informasi yang cukup tentang Leviathan.”


 


 


Meski sebelumnya tidak terlalu mempermasalahkan rencana dari Putra Tunggal Keluarga Luke, yang pertama kali meminta berhenti adalah Laura. Elf berseragam pelayan tersebut bersandar pada salah satu pohon kelapa, lalu menatap ke arah Putra Tunggal Keluarga Luke dengan tajam.


 


 


“Odo ….” Laura menatap tajam. Dalam mimik wajah dipenuhi rasa cemas, Elf tersebut kembali menyarankan, “Penaklukan ini bisa kamu lakukan setelah mengumpulkan orang, atau paling tidak punya rencana yang matang. Kita bisa melakukannya lain kali.”


 


 


Perkataan tersebut seketika membuat suasana berubah. Membagi pendapat menjadi dua kubu, antara melanjutkan penaklukan atau menundanya untuk lain waktu. Namun, tentu saja Odo Luke tidak ingin menunda hal tersebut.


 


 


Meski Odo bilang bisa melakukan penaklukan lain waktu, pada kenyataannya pemuda rambut hitam tersebut tidak memiliki kesempatan lain. Pilihan menunda yang disampaikan kepada mereka hanyalah sebuah kalimat untuk membujuk. Jika penaklukan ditunda atau gagal, bisa dipastikan niat untuk mengalahkan Leviathan harus dirinya dikubur dalam-dalam.


 


 


“Kita masih punya kesempatan menang.” Odo sejenak menarik napas berat. Pemuda yang duduk bersila di atas pasir pantai tersebut menatap lawan bicara, lalu melempar senyum penuh percaya diri sembari berkata, “Vil sudah memastikan letak sarang. Selagi Leviathan masih lengah sekarang, kita masih bisa melakukannya.”


 


 


“Melakukan apa?” Magda menatap kecut, ia tanpa ragu masuk ke dalam pembicaraan. Elf rambut pirang panjang sebahu tersebut berjalan ke arah Odo sembari berkata, “Kau ingin negosiasi dengan Pemusnah Peradaban?! Memangnya kami akan mengangguk patuh dan mengikuti rencana konyol itu?!”


 


 


 


 


Langkah kaki Magda seketika terhenti, tidak berani mendekat karena yang menghadangnya adalah seorang Roh Agung. Secara insting, dirinya tidak bisa menentang Vil untuk beberapa alasan. Salah satunya adalah karena Elf memiliki darah makhluk astral, dengan kata lain sistem hierarki Roh masih bisa menjangkaunya.


 


 


Karena hal tersebut untuk sesaat pembicaraan terputus, suara angin kencang dan dedaunan kelapa terdengar sangat jelas. Membuat dingin dan sunyi menjadi semakin terasa, lalu kegelapan seakan mendekap mereka dari belakang.


 


 


Odo menjentikkan jari, menyalakan sihir api di ujung jari untuk membuat cahaya penerangan menggunakan Mana miliknya yang sangat minim. Hal tersebut tentu membuat semua yang berada di tempat tersebut heran, bertanya-tanya mengapa pemuda itu membuang-buang Mana seperti itu.


 


 


“Kita main kasar saja.” Odo perlahan mulai bangun, lalu membersihkan celananya dengan tangan kiri dan menatap ke arah kedua Elf di hadapan. Ia membuat melayang api di ujung telunjuk kanan melayang di sekitar tubuh, lalu menatap tajam lawan bicara. Tanpa membuang-buang waktu ia pun menyampaikan, “Kalian tidak punya pilihan untuk menolak. Kita harus menjalankan rencana ini supaya bisa mendapatkan kekuatan Leviathan.”


 


 


“Tidak punya pilihan?” Magda tersenyum angkuh. Sembari melipat tangan ke depan dan melotot, Elf tersebut dengan suara lantang berkata, “Apa kau berniat mengurung kami di Dunia Astral?! Konyol sekali! Kalau mau, sekarang juga kami bisa kembali ke Dunia Nyata!”


 


 


“Itu benar ….” Laura masuk dalam pembicaraan. Tanpa berani menatap langsung Odo Luke, ia menarik napas ringan dan ikut menyampaikan, “Waktu pergi mencari lokasi menembak di sekitar sini, kami juga mempelajari distorsi spasial dan menemukan beberapa fakta menarik. Selama itu bisa digunakan, kabur dari Dunia Astral sangatlah mudah ….”


 


 


“Begitu, ya?”


 


 


Odo menyeringai gelap, langsung paham bahwa perkataan mereka hanyalah gertakan. Meski bisa memahami distorsi spasial di Dunia Astral, semua penyimpangan ruangan tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan cara pulang ke Dunia Nyata.


 


 


Bagi Odo yang telah melewati Altar Gerbang Dunia Astral beberapa kali dan memahami fungsi serta strukturnya, ia sangat paham dengan konsep perpindahan dimensi yang berlaku. Membuat perkataan Magda dan Laura terdengar seperti lelucon di telinganya, lalu pada akhirnya pemuda rambut hitam itu pun tertawa ringan.


 


 


Laura langsung paham bahwa gertakan yang diberikan tidak berguna. Saat dirinya memikirkan hal lain dan berusaha untuk tenang, Magda menunjukkan ekspresi takut yang sangat jelas. Bukan karena tawa kecil Odo, namun rasa haus darah yang sangat kuat dari Reyah yang berdiri di dekat pemuda rambut hitam tersebut.


 


 


“Ki-Kita bicaranya ini baik-baik, Odo ….” Laura berusaha meluruskan pembicaraan. Paham bahwa pertikaian secara fisik sangat merugikan, Elf tersebut berjalan mendekati rekannya dan menepuk pundak dari belakang. “Coba pikirkan matang-matang, tidak ada bagusnya jika kita mempertaruhkan semuanya di sini! Meski waktu terbatas, kita bisa mencari alternatif lain untuk mencegah peperangan.”

__ADS_1


 


 


“Ini sudah bukan lagi tentang mencegah peperangan.”


 


 


Odo menunjuk ke arah Laura. Mengaktifkan darah yang memuat Aitisal Almaelumat di dalam tubuh Elf tersebut, Putra Tunggal Keluarga Luke langsung menghentikan detak jantungnya selama beberapa detik.


 


 


“Ugh⸻!”


 


 


Denyut sakit langsung mengisi dada Laura, napas tiba-tiba menjadi sesak, dan pandangan seketika buram. Dalam hitungan kurang dari tiga detik, kesadaran pun menghilang dan tubuhnya ambruk ke atas pasir.


 


 


“A⸻!”


 


 


Magda seketika bertambah panik saat melihat itu. Di tengah rasa takut yang sedang menguasai sekujur tubuh, rekannya yang ambruk membuat Elf tersebut tidak bisa mempertahankan pemikiran rasional. Tanpa pikir panjang ia mengaktifkan Manifestasi Peri, lalu menciptakan lingkaran sihir dengan partikel tujuh warna dan hendak menyerang Odo.


 


 


Namun sebelum lingkaran sihir tercipta dan tubuh Magda belum sepenuhnya terangkat dari permukaan, Manifestasi Peri seketika dipaksa lenyap. Darah bermuatan Aitisal Almaelumat yang juga bersarang pada tubuhnya mengganggu sirkulasi Mana, lalu membatalkan semua sihir yang aktif saat itu juga.


 


 


“Percuma ….” Odo berhenti menunjuk. Seraya menjentikkan jari dan menonaktifkan kekuatannya, pemuda rambut hitam tersebut menghilangkan efek Aitisal Almaelumat pada tubuh kedua Elf tersebut. “Kalian paham mengapa tidak punya pilihan, ‘kan?” tanyanya dengan nada mengancam.


 


 


Magda untuk sesaat terdiam dalam rasa takut, melangkah ke belakang sampai punggungnya menyentuh pohon kelapa dan membisu. Saat melihat Laura siuman dan mulai berdiri, rasa lega memang sempat mengisi benak. Namun saat kembali merasakan ***** membunuh dari sang Dryad, tubuhnya kembali membeku di tempat tanpa bisa berkata apa-apa.


 


 


“Tadi itu … apa?” Laura memegang kepala, masih merasa pusing karena baru saja mengalami gagal jantung ringan dan dipaksa kembali ke kondisi prima. Sembari menatap ke arah sang pemuda di hadapan, wajahnya seketika memucat setelah menyadari sesuatu. “Apa tadi sihir kutukan yang kau tanamkan kepadaku?” tanyanya memastikan.


 


 


Odo sekilas tersenyum ringan karena kesalahpahaman yang ada. Tidak meluruskan dugaan Laura, pemuda rambut hitam tersebut malah balik bertanya, “Apa kau mendengarnya dari orang-orang di toko? Atau malah langsung dari Arca?”


 


 


“Tch!” Laura mengerutkan kening dan benar-benar menganggap itu kutukan. Meski tidak mengerti apa yang telah pemuda itu tanamkan kepada tubuhnya, Elf tersebut paham bahwa sekarang dirinya memang tidak punya pilihan selain patuh. “Diriku merasa bodoh karena sempat percaya padamu!” ujarnya ketus.


 


 


“Tolong jangan berkata seperti itu ….” Odo berhenti menyeringai. Setelah menghela napas ringan, ia dengan nada ramah menyampaikan, “Aku sebenarnya tidak ingin menggunakan cara semacam ini. Hanya saja kondisinya tidak memungkinkan, jadi tidak ada pilihan lain ….”


 


 


“Ini bukan lagi kerja sama, tapi pemaksaan!” tegas Laura.


 


 


“Aku tahu. Aku juga sangat menyesal harus berakhir seperti ini.” Odo menundukkan kepala untuk meminta maaf. Dengan nada tulus pemuda tersebut pun menyampaikan, “Setelah ini selesai, aku janji akan melepaskan kutukan kalian. Jadi tolong pinjamkan kekuatan kalian untuk menghabisi Leviathan!”


 


 


Meski itu terdengar sangat tulus dan jujur, kepercayaan Laura pada pemuda tersebut sudah telanjur lenyap. Ia menatap dingin, lalu dengan nada terpaksa menjawab, “Baiklah! Hah! Kami tidak punya pilihan selain menuruti kamu, ‘kan?! Namun jika nyawa kami terancam selama rencana, kamu harus berjanji tidak mengekang kami dengan kutukan itu! Kami tidak punya kewajiban untuk mempertaruhkan nyawa dalam rencana konyol ini!”


 


 


“Aku paham ….” Odo berhenti menunduk. Melempar senyum ramah dan menatap lurus lawan bicara, ia dengan nada tulus berkata, “Tentu aku tidak akan memaksa kalian untuk mempertaruhkan nyawa. Hanya satu tembakan Parva Nuclear dan kalian akan bebas.”


 


 


Putra Tunggal Keluarga Luke mengaktifkan dimensi penyimpanan pada sarung tangan, lalu mengeluarkan dua senapan sihir milik Laura dan Magda. Ingin menunjukkan bahwa dirinya sungguh-sungguh dengan perkataan yang telah disampaikan.


 


 


Kesepakatan memang telah tercapai. Namun, tetap saja perombakan rencana yang dilakukan benar-benar mengacaukan banyak hal. Entah itu relasi yang baru saja terbangun atau kepercayaan yang baru saja terbentuk, semuanya hancur dengan cepat dalam pembicaraan tersebut.


 


 


Odo sudah memahami hal tersebut saat mengambil keputusan untuk tetap melanjutkan rencana. Meski begitu, ia tetap tidak mengurungkan niat dan tetap mengambil langkah maju. Dari pada berhenti dan berjalan memutar, ia lebih memilih untuk berjalan melewati jalan terjal meski harus merusak banyak hal yang sedang dibawanya.


 


 


ↈↈↈ


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2