Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[118] Flamboyan Akhir Zaman VII – Altair (Part 02)


__ADS_3

ↈↈↈ


Sebuah perlawanan untuk menjatuhkan sang Dewi telah dimulai, mengembalikan dunia menuju bentuk sejati. Menghapus segala kesalahan, menyelaraskan realitas dan menata ulang pemahaman. Menghapus kesombongan ilahi yang kejam.


Melewati garis takdir yang telah ditetapkan, merusak diorama raksasa bernama ketentuan mutlak. Ilusi yang diciptakan oleh entitas angkuh, sang Penata Ulang, Helena.


Jika unsur Kemahakuasaan dapat diumpamakan dengan harta, maka Kemahatahuan identik dengan ilmu. Keduanya memiliki banyak kemiripan, namun juga sangat bertentangan.


Harta akan habis jika dibagikan dan digunakan, sedangkan ilmu akan terus bertambah dan berkembang saat disalurkan kepada orang lain.


Kedua unsur tersebut sangatlah bertentangan, namun sama-sama membutuhkan pihak ketiga untuk mempertahankan eksistensinya.


Harta tidak akan dianggap bernilai jika tidak dapat digunakan, pengetahuan pun tidak akan dihargai jika tidak dapat memberikan manfaat. Pada akhirnya, kedua unsur tersebut hanyalah alat untuk mencapai sesuatu.


.


.


.


.


Ibukota Kerajaan Moloia, Roter Pfeil. Sebuah kota metropolitan yang berdiri di atas daratan tinggi Yim’jorden, memiliki populasi lebih dari lima juta penduduk dengan tingkat kepadatan sedang.


Kota Abu-Abu, Benteng Besi, dan Tempat Suci. Roter Pfeil memiliki banyak julukan. Namun, dari semua itu yang paling terkenal adalah Kota Mesin. Menjadi pusat ilmu pengetahuan Kerajaan Moloia, dapat juga disebut sebagai Laboratorium Raksasa.


Meski begitu, tempat tersebut tidak luput dari tatanan hierarki piramida. Selama ada yang berdiri di puncak, maka akan selalu ada yang dijadikan pijakan. Tetapi, kesenjangan status sosial tersebut sedikit berbeda dari monarki pada umumnya.


Tepatnya, kota itu hampir tidak memiliki kesan kerajaan dengan pemegang kekuasaan tunggal. Mengadaptasi entitas administrasi munisipalitas, kepemerintahan dibagi menjadi beberapa bagian dan diatur oleh dewan.


Walikota masih memiliki kekuasaan, diangkat dari keluarga bangsawan berdasarkan keturunan dan kemampuan. Namun, kekuasaan serta wewenang yang ada diawasi oleh dewan kota. Mewakili suara rakyat dan dipilih berdasarkan pemungutan suara.


Selain itu, hierarki kekuasaan juga ditentukan berdasarkan wewenang pada USGM (Unit Sistem God Machine). Sebuah cluster A.I. yang berfungsi mengatur hampir seluruh kegiatan masyarakat Moloia. Memiliki tugas pada aspek perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan tatanan operasional kependudukan.


Jika seorang pejabat beradu argumen dengan pejabat lain, maka yang menjadi patokan superioritas adalah Unsur Aktivasi mereka. Bukan jabatan atau bahkan umur mereka.


Unsur Aktivasi sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kontribusi terhadap negeri, keturunan, dan prestasi atas suatu pencapaian dalam bidang pengetahuan.


Karena kebijakan tersebut, terdapat banyak kasus di mana anak-anak dapat lebih berkuasa daripada orang tua mereka. Mendapatkan penghasilan tinggi dengan menyumbang Unsur Aktivasi, kemudian bekerja di laboratorium ataupun instansi pemerintahan.


Namun, bukan berarti norma dan nilai sosial mereka rusak. Penduduk Moloia tetap menghormati yang lebih tua dan menyayangi anak-anak. Tidak jauh berbeda dari masyarakat pada umumnya. Hanya lebih efektif dan efisien.


Jika ada yang dinilai berbeda, maka itu adalah pola pikir masyarakat Moloia yang cenderung menilai segala hal berdasarkan hierarki. Bukan dalam artian buruk, melainkan pada aspek kedisiplinan seperti pembagian tugas dan pekerjaan.


Tidak ada istilah pengangguran, setiap sumber daya manusia dimanfaatkan secara maksimal oleh USGM. Paling tidak, hal tersebut diberlakukan sangat ketat pada Roter Pfeil.


Pada jam pulang, lalu-lalang pejalan kaki memadati setiap sudut kota. Diiringi kendaraan bertenaga uap milik para pejabat, kegiatan jual beli pada bazar sore, dan keramaian pada tempat hiburan malam. Padat merayap di sepanjang jalan utama.


Sebelum mentari benar-benar terbenam, tiang lampu pada setiap sudut jalan telah dinyalakan. Menerangi keramaian dan menghapus cahaya gugusan bintang di langit. Memancarkan sinar kebiruan, bercampur dengan kabut dan asap mesin uap.


Mayoritas penduduk Moloia memiliki profesi yang jelas, bekerja pada bidang yang mereka tekuni sejak muda. Pendidikan berfokus pada vokasional untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber daya manusia. Bertujuan untuk meniadakan pengangguran dan meningkatkan kinerja dalam kemasyarakatan.


Saat jam kerja selesai, mereka akan melepaskan seragam dan menyimpannya di loker. Berganti dengan setelan formal yang biasanya terdiri dari kemeja, jas, sepatu kulit, dan celana bahan. Beberapa ada juga yang mengenakan flat cap, tambahan jaket tebal, ataupun jam tangan.


Berbeda dengan hari-hari biasanya, salah satu jalan menuju pusat kota dikosongkan untuk keperluan khusus. Beberapa kendaraan berbahan bakar fosil melintas, memberikan kesan tegang karena dikawal oleh puluhan penjaga.


Rombongan tersebut berasal dari luar Ibukota, tepatnya wilayah Rits’roa, salah satu negara polis di Kerajaan Moloia. Mereka terdiri dari belasan peneliti dari laboratorium pusat, seorang perwira yang tampak seperti veteran perang, dan wanita dengan kesan misterius.


Seakan telah direncanakan dengan hati-hati, tidak ada penduduk sipil yang tahu keperluan mereka datang ke Ibukota. Namun, pengawalan yang diberikan pihak militer sangat ketat. Bahkan ada beberapa penembak jitu yang disiagakan pada titik-titik vital, mengawasi dan menjaga rombongan itu selama berada di dalam kota.


Rute mereka tidak berkelit, dari gerbang utama langsung menuju Istana Keluarga Kerajaan. Melewati jalan utama, barak, balai kota, laboratorium pusat, dan asrama kedinasan.


Setelah rombongan memasuki halaman istana, seluruh prajurit langsung dibubarkan supaya tidak menarik rasa penasaran penduduk sipil. Hanya tersisa beberapa intel yang menyamar di sekitar kompleks asrama kedinasan.


Rombongan itu sendiri terdiri dari Helena, Richard, dan beberapa peneliti yang telah berikrar pada profesi mereka. Tergabung pada fraksi Pengembangan Teknologi dan Penelitian.


Namun, mereka juga mempunyai pengaruh pada setiap pihak karena status khusus yang ada. Lebih tepatnya, mereka memiliki Unsur Aktivasi yang lebih tinggi dari Keluarga Kerajaan.


Tepat setelah memasuki istana, Helena dan Richard disambut langsung oleh Raja Kerajaan Moloia, Hadrian Vorg Mathias Pol Rune.

__ADS_1


Bersama beberapa Selir dan anak-anaknya, sosok Kepala Negara tersebut berlutut hormat di hadapan sang Dewi Penata Ulang. Menunjukkan kesetiaannya sebagai salah satu penduduk Moloia, bukan sebagai penguasa ataupun bangsawan.


Raja Hadrian sendiri sudah hidup selama hampir 70 tahun, mempunyai perawakan tinggi dan kurus dengan postur tubuh sedikit bungkuk. Kulit pria tua tersebut sudah keriput, tampak pucat pasi, dan memiliki banyak bintik-bintik hitam pada permukaannya.


Meski sudah berumur, rambut Raja Hadrian sama sekali tidak memutih. Merah darah sama seperti saat masih muda, alami dan bukan dari hasil pewarnaan. Dihiasi mahkota simbolis yang biasa dikenakan untuk acara penting.


Pada lobi istana dengan desain arsitektur semi modern bergaya Art Nouveau tersebut, ia mengenakan pakaian formal berlapis jubah Keluarga Kerajaan. Terjuntai sampai menyentuh lantai, memegang tongkat emas dengan ujung sebongkah kristal berwarna biru muda.


Tidak jauh berbeda dengan sang Raja, beberapa selir dan anak-anak yang menemaninya juga mengenakan setelan formal. Ada yang memakai gaun pesta, kemeja dan jas, serta ada pula yang masih mengenakan seragam militer karena tidak sempat berganti pakaian.


“Antar diriku ke kamar!” Kesetiaan mereka tidak berarti apa-apa di mata sang Dewi. Tanpa memberikan pujian ataupun berterima kasih, Helena segera mengangkat telunjuk dan memerintahkan, “Kerajaan Moloia akan mengadakan pertemuan besar! Kirimkan delegasi ke Miquator! Dalam waktu dekat kita akan mengadakan konferensi!”


Tanpa menunggu jawaban mereka, wanita dengan gaun halter merah tersebut langsung berjalan pergi. Dikawal oleh salah satu selir yang ditunjuk sebagai perwakilan, lalu menaiki anak tangga dan pergi menuju lantai dua. Meninggalkan Richard beserta pengikutnya di lobi.


“Maafkan kami, Yang Mulia ….” Perwira rambut pirang tersebut menghela napas, lalu meminta seluruh anggota Keluarga Kerajaan berdiri dan berkata, “Kami lelah setelah perjalanan panjang, dia mungkin sudah penat dan ingin langsung beristirahat.”


“Tidak apa-apa, Tuan Richard ….” Raja Hadrian segera bangun, sedikit membungkukkan kepala dengan hormat sembari menyampaikan, “Beliau dan Anda adalah makhluk ilahi, entitas suci yang harus kami agungkan! Anda tidak perlu minta maaf, sebuah kehormatan bisa melayani kalian berdua, wahai Tuanku!”


“Ah, begitu ….” Richard menaikkan alis, merasa doktrin semacam itu benar-benar telah mengakar di dalam Kerajaan Moloia. “Oh, iya! Aku baru ingat! Kalian tidak perlu mengadakan perjamuan, siapkan saja dokumen dan penuhi perintah tadi. Kita akan mengadakan pertemuan dalam waktu dekat,” tambah pria rambut pirang itu seraya berjalan pergi.


“Kalau boleh saya tahu, untuk apa beliau ingin mengadakan pertemuan itu, Tuanku?” Raja Hadrian sedikit penasaran. Ia kembali berlutut, merendah dan berserah diri saat berbicara dengan entitas ilahi tersebut. “Saya tidak ada maksud meragukan, hanya saja ….”


“Tidak apa, aku tidak pemarah seperti dirinya.” Richard terhenti, lalu lekas berbalik dan menatap resah saat diperlakukan secara berlebihan seperti itu. Sejenak menahan napas, ia perlahan memalingkan pandangan sembari menjelaskan, “Kami ingin memperbarui isi konferensi, memperjelas langkah Kerajaan Moloia ke depannya ….”


“Memperjelas?” Raja Hadrian perlahan mengangkat wajahnya, memperlihatkan ekspresi cemas sembari lanjut bertanya, “Apakah kita akan mendeklarasikan perang?”


“Tepat sekali, sepertinya kau tidak tumpul meski sudah tua ….” Richard melirik ke arah salah satu anak selir, Putri Ulla Vrog. Sembari melambaikan tangan, pria pirang tersebut lanjut menyampaikan, “Jika konferensi tidak berhasil, kita akan mendeklarasikan perang besar.”


“Apakah ada yang bisa saya bantu, Tuanku?” Putri Ulla segera menghadap, lalu berlutut di hadapan Perwira tersebut dengan anggun. “Merupakan suatu kehormatan dapat melayani Anda, Tuan Boderman ….”


“Hasilnya bagaimana?” Richard sedikit menyipitkan mata, membuka telapak tangan dan memastikan, “Apa kau sudah menyiapkan bahan yang aku minta?”


“Semua jenis logam yang Tuan inginkan sudah saya siapkan!” Putri Ulla mengangkat wajahnya, menatap dengan bangga dan lanjut berkata, “Jika berkenan, saya akan mengambilnya sekarang juga! Itu semua saya simpan di⸻!”


“Temui aku nanti malam, ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan ….” Richard segera berbalik, berjalan menuju lorong yang mengarah ke kamar tamu. Tanpa menoleh, pria rambut pirang tersebut melambaikan tangan kanan dan menambahkan, “Bawa juga bahan-bahan itu!”


Setelah orang-orang yang mereka sambut pergi meninggalkan lobi, seluruh Keluarga Kerajaan segera bangun. Mereka memperlihatkan ekspresi cemas, saling melirik dan memperlihatkan tatapan curiga.


Meski mereka berasal dari keturunan yang sama, para Pangeran dan Tuan Putri tersebut mendukung fraksi yang berbeda-beda. Tidak sepenuhnya membela pihak legislatif, bahkan ada yang sangat condong ke eksekutif, yudikatif, dan militer.


Tidak seperti generasi muda, kebanyakan selir tetap berpegang teguh pada fraksi Sistem Pengadilan dan Politik. Menanamkan pengaruh pada legislatif, menjadi dewan dan memiliki suara di majelis. Ikut serta dalam kegiatan politik untuk menyokong pengaruh Raja.


Namun, hal tersebut tidak berlaku untuk Putri Ulla. Semenjak dipilih menjadi perwakilan Richard Boderman, ia tidak perlu lagi terikat dengan fraksi manapun.


Tentu itu mengundang rasa iri saudara-saudarinya, bahkan ada beberapa selir yang menunjukkan permusuhan dengan menyabotase pekerjaan Putri Ulla. Mengurangi anggaran kegiatan, mempersulit izin, dan bahkan sampai melakukan kekerasan verbal.


“Baiklah, mari selesaikan ini ….” Layaknya seorang wanita dewasa, Tuan Putri berambut ungu cerah tersebut menghadapi semua masalah dengan dingin. Tetap memperlihatkan sikap anggun, bermartabat, dan bertindak bijak. “Maukah kalian membantu diriku?” pintanya kepada para peneliti yang datang bersama rombongan Richard.


“Tentu saja, Putri Ulla. Sebuah kehormatan bagi kami bisa bekerja untuk Anda ….” Sebagai perwakilan, salah satu peneliti membungkuk dengan penuh hormat. Mereka segera menghampiri perempuan rambut ungu cerah tersebut, lalu berbaris di belakangnya untuk menunjukkan loyalitas. “Kami siap memenuhi semua perintah Tuan Putri.”


“Tunggu sebentar, wahai Keturunan Ma’tar!” Seorang Selir tiba-tiba menghalangi mereka, ia berdiri di hadapan Putri Ulla sembari menunjuk. “Engkau tidak bisa pergi begitu saja!” ujarnya dengan suara lantang, memberikan tatapan tajam dan mengendus kasar.


“Apakah ada yang bisa saya bantu, Nyonya Kafa?” Menunjukkan sikap bermartabat dan anggun, Putri Ulla sejenak membungkuk untuk memberikan rasa hormat. Ia sama sekali tidak gentar, hanya memperlihatkan ekspresi tenang seolah-olah telah terbiasa menghadapi situasi semacam itu. “Jika berkenan, kami ingin segera memenuhi permintaan Tuan Richard. Maukah Nyonya membiarkan kami lewat?”


“Tidak bisa semudah itu, Tuan Putri Amethyst! Kami punya hak untuk mengetahui niatan Tuan Richard ….” Salah satu Pangeran Kerajaan Moloia menghampiri mereka, berdiri di sebelah Kafa dan menunjukkan bahwa dirinya berpihak pada selir tersebut.  “Ya, benar! Lagi pula, beliau adalah sosok Dewa yang kita kagumi sejak kecil!”


Selir Lumia Kafa dan Putranya, Pangeran Zid’an Kafa. Mereka adalah Ibu dan Anak biologis, memiliki pengaruh cukup besar di Keluarga Kerajaan dan fraksi Penjaga Keberlangsungan Kerajaan.


Selir Kafa sendiri terlihat seperti wanita berusia empat puluh tahunan, memiliki rambut pirang ikal dengan mata hijau zamrud. Kulitnya putih cerah dan mulus, berbalut gaun pesta biru tua dengan sedikit ornamen. Menunjukkan kecantikan dalam kesan sederhana.


Mirip dengan Ibunya, Pangeran Zid’an juga memiliki rambut pirang dan mata hijau zamrud. Namun, rambut yang dipotong cepak dan sorot mata tajam membuatnya terlihat tidak ramah. Ditambah dengan kulit cokelat gelap dengan perawakan kekar, ia benar-benar tampak seperti seorang perwira yang garang.


Meski begitu, Pangeran yang berjuluk Epidote tersebut bukanlah seorang tentara. Ia cukup jauh dari Militer, lebih condong ke fraksi Penjaga Keberlangsungan Kerajaan. Lengket dengan Ibunya, dapat dikatakan sangat serasi dan sehati dalam banyak artian.


“Ah, engkau benar!” Putri Ulla melempar senyum lembut. Ia sama sekali tidak menunjukkan celah, tetap bersikap sabar dan menganalisis situasi dengan kepala dingin. “Tuan Richard adalah Dewa Perang Petir, itu tertulis dalam kitab suci kita. Beliau merupakan entitas ilahi …, diriku juga tahu itu.”


“Iya, ‘kan?” Pangeran Zid’an perlahan melebarkan senyum. Ia sejenak merapikan dasi dan jas yang dikenakan, lalu berjalan mendekat sembari lanjut menekan, “Lantas mengapa engkau ingin menguasai beliau? Bertingkah seakan dirimu paling penting, sungguh menyebalkan!” Seketika senyum palsu lenyap, berganti dengan ekspresi mengintimidasi yang dipenuhi rasa dengki. Benar-benar menunjukkan permusuhan.


“Memangnya salah?” Putri Ulla membalas dengan senyum meremehkan. Sekilas memalingkan pandangan dan mengangkat bahu, ia dengan nada merendahkan berkata, “Beliau telah memilih saya, bukan kalian ….”

__ADS_1


“Kau⸻!” Pangeran Zid’an langsung terpancing, mengangkat tangannya dan menampar perempuan itu. “Dasar anak selir!”


“Bukankah engkau juga anak selir, wahai Pangeran?” Putri Ulla menahannya dengan lengan kanan, menggunakan Unsur Aktivasi untuk meningkatkan kemampuan fisik. “Kita saudara, jangan marah seperti itu …. Tolong biarkan Adik Perempuanmu ini mendapatkan kesempatan untuk unjuk gigi.”


“Hentikan! Kalian berdua!” Raja Hadrian menegur dengan tegas, menghampiri mereka sebelum selir dan anak-anaknya yang lain ikut berdebat. Penguasa dengan postur tubuh sedikit bungkuk itu segera menunjuk Putri Ulla, lalu dengan niat melerai meminta, “Putriku, ini bukan paksaan. Benar seperti yang diucapkan Kafa dan Zid’an, kami juga punya hak untuk tahu.”


“Ah, baiklah!” Putri Ulla menghela napas ringan, lekas menatap Raja Hadrian dan berkata, “Jika itu perintah Yang Mulia, diriku tidak punya pilihan lain.”


“Ayah tidak memaksa ….” Raja Hadrian memperlihatkan ekspresi bersalah, sekilas memalingkan pandangannya dan termenung. “Jika engkau tidak ingin, diriku tidak keberatan.”


“Tidak! Dia harus menjelaskannya!” Lumia Kafa mendesak. Ia segera menghadap Raja Hadrian, lalu dengan suara lantang lanjut menuntut, “Ini sangat penting untuk keberlangsungan Kerajaan Moloia! Tuan Richard dan Dewi Helena memang sosok ilahi! Namun, mereka bukanlah penguasa negeri ini! Kita tidak bisa membiarkan mereka seenaknya⸻!”


“Tidak boleh, ya?” Dewi Helena tiba-tiba muncul di belakang Kafa. Ia memegang pundak wanita itu dengan kencang, lalu mendekatkan mulut ke telinga dan berbisik, “Padahal diriku yang mendirikan negeri ini, memberikan seluruh pengetahuan itu dan menyelamatkan leluhur kalian dari kegelapan.”


“A⸻?!” Lumia Kafa tersentak, segera menjauh dan berbalik. Tubuhnya seketika gemetar, keringat dingin bercucuran dan wajah pun memucat. “To-Tolong maafkan hamba! Saya tidak bermaksud⸻!”


“Diamlah! Kalian sangat berisik ….” Helena menjentikkan jari, menggunakan gelombang suara dengan frekuensi unik untuk membungkam semua orang. Mengganggu kinerja tubuh mereka supaya tidak bisa bergerak. “Or’iama, apa memang selalu seperti ini? Pasti berat, ya! Setiap hari berurusan dengan orang-orang bebal yang berlagak layaknya cendekiawan,” ujarnya seraya menatap Putri Ulla, mengizinkan perempuan itu untuk berbicara.


“Saya sudah terbiasa, Dewi Helena ….” Meski diizinkan untuk berbicara, Putri Ulla tidak bisa bergerak dan hanya berdiri kaku. Wajahnya perlahan memucat, mengeluarkan keringat dingin tanpa bisa melakukan apa-apa. “Bukankah orang-orang monarki selalu seperti ini? Menjunjung tinggi hierarki, cenderung ingin menunjukkan kekuasaan dan pengaruh,” ujarnya dengan suara gemetar.


“Engkau benar, monarki memang selalu seperti itu.” Dewi Helena kembali menjentikkan jarinya, membebaskan semua orang dan berkata, “Diriku kira negeri ini akan berubah menjadi republik setelah perang sipil selesai, memiliki ciri demokrasi. Sepertinya tidak, ya ….”


Saat terbebas dari pengaruh frekuensi suara, seluruh orang di lobi istana segera berlutut dengan hormat. Menunjukkan ketakutan yang jelas, tidak berani mengangkat wajah atau bahkan menatap sosok Dewi Penata Ulang tersebut.


“Apakah anda berharap Kerajaan Moloia ini berubah menjadi republik?” tanya Putri Ulla dengan penasaran. Ia tidak ikut berlutut seperti yang lain, hanya menundukkan kepala untuk menunjukkan rasa hormat. “Bukankah kondisi ini sudah sesuai dengan nubuat Dewi?”


“Hmm, memang sudah sesuai. Namun ….” Helena membuka telapak tangan kirinya ke arah Selir Kafa, mengaktifkan Monophobia dan berniat melenyapkan wanita itu karena dinilai mengganggu. “Diriku benci dengan arogansi bangsawan, mereka selalu mengacau di akhir rencana,” ujarnya seraya memperlihatkan ekspresi datar.


“Tunggu sebentar, Dewi Helena! To-Tolong ampuni Nyonya Kafa!” Putri Ulla segera berlari ke hadapannya, berdiri menghalangi sembari merentangkan kedua tangan. “Beliau tidak bermaksud menyinggung Anda …. Kekhawatiran mereka sangatlah wajar! Rasa gelisah muncul dari ketidaktahuan! Itu mendatangkan rasa takut!”


“Hmm, mengejutkan ….” Dewi Helena menurunkan tangannya, sejenak menghela napas dan berkata, “Engkau membela wanita itu? Sungguh mulia ….”


Putri Ulla menghembuskan napas lega dan menurunkan kedua tangannya. Sekilas ia melirik ke belakang dan menatap tajam, memperingatkan Selir Kufa supaya tidak bertindak ceroboh seperti tadi. Terutama saat Dewi Helena masih berada di dalam istana.


“Saya hanya tidak ingin menyaksikan pertumpahan darah yang tidak perlu ….” Putri Ulla segera berlutut seperti yang lain, menunjukkan rasa hormat sembari lanjut berkata, “Apa yang diriku inginkan hanyalah pengetahuan, bukan konflik ataupun kehancuran!”


“Sungguh bijak, benar-benar mencerminkan sifat seorang peneliti⸻! Hmm?!” Helena tiba-tiba terdiam, lalu lekas menoleh ke arah tenggara dan memucat. Ia perlahan memperlihatkan ekspresi cemas, sekilas menggertakkan gigi dan berkata, “Dia membagi Kemahatahuan? Bagaimana bisa? Pemuda itu … membagi eksistensinya?”


“Apakah ada yang salah, Dewi Helena⸻?”


“Panggil saja Helena!” Dewi Penata Ulang perlahan melirik, sedikit menurunkan alis dan lanjut berkata, “Diriku mengizinkannya ….”


“Ba-Baik, Nona Helena ….” Putri Ulla segera menundukkan kepala, sekilas memperlihatkan gelagat cemas dengan mengepalkan tangan kanan erat-erat. “Se-Sebuah kehormatan dapat memanggil Anda⸻!”


“Hah, sudahlah!” Helena berdecak kesal, kembali menatap ke arah tenggara dan bergumam, “Pada akhirnya kamu juga seorang aristokrat …. Kita kesampingkan dulu masalah ini, ada hal penting yang harus segera diselesaikan.”


“Apakah itu ada kaitannya dengan urusan konferensi?” Putri Ulla kembali mengangkat wajahnya. Tanpa mengurangi rasa hormat, ia perlahan berdiri dan lanjut bertanya, “Apa situasinya sudah berubah, Nona Helena? Ada … pergerakan dari pihak lain?”


“Benar, dia sudah bergerak.” Dewi Helena langsung berbalik dan menunjuk lawan bicaranya. Setelah menghela napas, ia dengan suara lantang memerintahkan, “Percepat persiapannya! Selesaikan itu sebelum musim awal dingin!”


“I-Itu terlalu cepat!” Putri Ulla tersentak. Bahkan tanpa ditinjau, sudah jelas hal tersebut sangat mustahil untuk direalisasikan. Sembari meletakkan tangan kanan ke depan dada dan mendekat, ia dengan suara gemetar lekas membujuk, “Untuk menyatukan suara Kerajaan Moloia saja sudah berat, Nona Helena! A-Apalagi mengundang negeri lain ke dalam meja perundingan! Tolong berikan kami kelonggaran ….”


“Kalian diizinkan untuk menggunakan senjata Tingkat Pertama ….” Helena berhenti menunjuk, kembali melihat ke arah tenggara dan mengerutkan kening. “Minta akses aktivasi dari Richard, kemudian susun rencana dan segera jalankan!” tambahnya dengan tegas.


“Ba-Baik, Nona Helena!” Putri Ulla langsung berlutut, tidak berani membujuk lagi dan langsung setuju. Meskipun masih merasa keberatan dengan perintah tersebut, ia tidak memiliki pilihan lain. “Kami akan memenuhi perintah Anda sebaik mungkin ….”


“Jika ada hal penting yang ingin kalian bicarakan, katakan saja!” Helena berjalan menuju anak tangga, sekilas melambaikan tangan kanan dan kembali menambahkan, “Situasinya benar-benar telah berubah, perhatikan langkah kalian saat bertindak. Jangan gegabah!”


“Situasi?” Putri Ulla semakin cemas. Mewakili rasa penasaran semua orang, ia kembali mengangkat wajahnya dan bertanya, “Me-Memangnya apa yang telah terjadi, Nona Helena?”


“Dia, Odo Luke, sosok Yang Ditakdirkan tersebut telah bergerak ….” Helena terhenti tepat saat baru menaiki satu anak tangga. Ia sekilas menoleh, lalu memberikan tatapan tajam dan lanjut menjelaskan, “Kali ini bukan langkah setengah hati, namun benar-benar berniat untuk menghadapi diriku dengan segala hal yang dirinya miliki.”


“Odo Luke?” Putri Ulla tertegun, sekilas kembali mengingat pembicaraan Helena dan Richard selama di perjalanan. “Bukankah orang itu ….”


“Intinya, kita tidak punya banyak waktu lagi!” Dewi Helena tidak ingin memberikan penjelasan terkait hal tersebut. Seraya kembali menghadap ke depan dan lanjut menaiki anak tangga, perempuan rambut hitam tersebut dengan lantang menegaskan, “Selesaikan pekerjaan kalian dengan cepat dan akurat! Kita akan sibuk untuk beberapa bulan ke depan!”


“Ba-Baik, Nona Helena!” Putri Ulla menunduk dengan hormat, segera memahami prioritas dari tugas yang diberikan. “Kami tidak akan mengecewakan Anda!”


“Diriku mau istirahat di kamar!” Dewi Helena sekilas melirik, melempar senyum hangat sembari lanjut berkata, “Malam ini kalian tak perlu mengadakan perjamuan, laksanakan saja tugas itu! Kita berlomba dengan waktu ….”

__ADS_1


__ADS_2