Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[105] Serpent V – Malam Putih (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


Beberapa menit yang lalu, tepat sebelum singgasana ilahi terbentuk dan raksasa petir menapakkan kakinya di permukaan Dunia Astral. Setelah terhempas gelombang kejut semburan nova dan terlempar dari perbukitan, perlahan Laura membuka matanya dengan berat.


 


 


Rasa nyeri terasa di sekujur tubuh, memar muncul pada beberapa bagian dan kening sedikit mengeluarkan darah karena jatuh membentur sesuatu. Di antara hamparan pepohonan kelapa dan oak yang tumbang, perlahan Elf tersebut bangun dan melihat sekitarnya.


 


 


Ia segera mengambil senapan sihir yang tergeletak, lalu berdiri dan mencari rekannya yang ikut terhempas dari perbukitan. Namun, pandangan yang buram membuatnya sulit untuk berjalan. Saat Elf tersebut memegang perut, dirinya baru sadar ada sebuah ranting menancap cukup dalam.


 


 


Menunjam sampai ke organ pencernaan, tidak mengenai bagian vital namun cukup untuk membuat darahnya mengalir keluar. Saat melihat hal tersebut, napas Laura langsung terasa sesak dan rasa sakit menjadi semakin jelas.


 


 


Sembari menggigit lengan kirinya sendiri untuk menahan sakit, ia dengan segera mencabut ranting itu dalam sekali tarik. Elf tersebut lekas mengaktifkan senapan sihir, lalu menggunakannya sebagai katalis dan menyalakan sihir api pada telunjuk.


 


 


Tanpa ragu Laura langsung membakar lukanya, menutup lubang yang menganga dengan api kecil di ujung jari. Setelah melakukan perawatan sederhana dan menghentikan pendarahan, Elf tersebut segera lanjut mencari rekannya


 


 


Banyak sekali pepohonan yang tumbang, saling menimpa satu sama lain dan menciptakan pemandangan gundul yang cukup luas. Meski ada beberapa pohon yang masih berdiri, sebagian besar sudah miring dan hampir ambruk karena akarnya keluar dari tanah.


 


 


Ada beberapa Roh Tingkat Menengah yang tertimpa pepohonan, sekarat, binasa, lalu berusaha menolong satu sama lain dalam ketakutan. Benar-benar sebuah pemandangan kacau layaknya sebuah kondisi setelah bencana.


 


 


Dari semua hal yang terlihat di tempat tersebut, Laura paham bahwa dirinya terlempar sampai teritorial Pohon Suci. Terhempas cukup jauh dari perbukitan di dekat Laut Utara.


 


 


Tidak butuh waktu lama, Elf tersebut pun menemukan rekannya yang duduk di antara pepohonan tumbang. Bersandar lemas sembari menahan rasa sakit karena tangan dan kaki kanannya patah, lalu pada bagian dada dan kaki kiri juga tertusuk ranting yang cukup tebal.


 


 


Melihat ranting yang menancap pada bagian dada, Laura seketika cemas dan takut itu mengenai jantung rekannya. Berlari melewati pepohonan yang melintang, ia segera menghampiri dan berlutut di hadapan rekannya untuk memeriksa.


 


 


“Magda …, lukamu!”


 


 


Elf rambut pirang panjang sebahu itu tersenyum saat mendengar suara Laura. Seraya menatap lemas, dengan suara pelan ia pun menjawab, “Tenang saja, Letnan …. Ini tidak mengenai jantung saya. Hanya saja, sepertinya sampai ke baru-baru dan ada pendarahan di dalam. Struktur sihir saya ….”


 


 


“Jangan bicara lagi, atur napas dan jangan sampai pingsan!”


 


 


Laura segera mengaktifkan susunan sihir pada senapan, lalu duduk bersimpuh dan memangkunya untuk digunakan sebagai katalis. Menggunakan teknik pemadatan Mana, ia segera menciptakan pisau bedah kecil untuk melakukan operasi sederhana.


 


 


Sebagai individu yang hidup dalam dunia militer, Laura Sam’kloi sangat sering melihat rekan-rekannya gugur saat perang saudara. Entah itu karena serangan musuh, kecelakaan dalam perang, atau bahkan terlambat mendapat pertolongan di tempat.


 


 


Ingin mengurangi kematian karena penanganan yang terlambat, ia pun sempat menekuni ilmu medis dan operasi dasar untuk menyelamatkan nyawa di lapangan. Terutama tentang beberapa metode operasi menutup luka, lalu penanganan sederhana untuk menyabung nyawa sebelum tim medis utama datang.


 


 


Dalam menyelamatkan nyawa di medan perang, prioritas utama adalah luka vital yang harus ditangani dengan segera. Mengesampingkan kondisi steril atau kebersihan, Laura segera menekan dada rekannya dan bersiap untuk mencabut ranting yang tertancap.


 


 


“Jangan berteriak, Magda. Tahan napas supaya paru-paru kamu tidak mengencang. Lalu saat rantingnya tercabut, sebisa mungkin kontrol tekanan darahmu dengan Mana untuk mencegah pendarahan berlebih.”


 


 


Meski kesadarannya sudah hampir menghilang, Magda Klitea samar-samar mendengar perintah tersebut dan mengangguk. Ia tidak sepenuhnya memahami perkataan itu, hanya tahu bahwa Laura ingin mencabut ranting di dada.


 


 


Tanpa hitungan sama sekali, sang Letnan Prajurit Peri secara hati-hati mencabut ranting pada dada rekannya. Darah keluar pada saat bersamaan, membasahi tangannya dan membuat Elf tersebut sedikit ragu.


 


 


Tetapi, pada akhirnya Laura langsung mencabut ranting tersebut dalam sekali tarik. Tanpa membuang waktu dan mencegah pendarahan berlanjut, ia segera memasukkan telunjuk kiri ke dalam luka Magda yang terbuka.


 


 


Melewati tulang rusuk, jarinya menyentuh paru-paru yang terluka. “Jangan bernapas dulu. Tahan sebentar lagi,” ujar Laura dengan wajah sedikit pucat.


 


 


Mengaktifkan sihir dan menciptakan api di ujung telunjuk, Laura langsung membuat api kecil di dalam tubuh rekannya. Menutup pendarahan pada paru-paru dengan luka bakar ringan.


 


 


Namun, tentu saja itu merupakan metode operasi yang sangat ekstrem untuk menutup luka.


 


 


Magda sekuat tenaga menahan jeritan, kesadarannya seakan melayang ke udara dan gigi pun menggertak kencang.


 


 


Setelah menutup luka pada organ dalam, Laura perlahan menarik keluar jarinya dan menutup luka luar pada dada dengan cara yang sama.


 


 


Magda yang kelelahan menahan sakit langsung jatuh bersandar pada Laura. Napas terengah-engah, lalu sorot mata tampak sedikit kosong dan kulitnya memucat.


 


 


“Sudah selesai …. Hebat kamu tidak menjerit dan bisa menjaga kesadaran.” Laura menyandarkan rekannya ke batang pohon yang ambruk melintang. Sembari tersenyum lega dirinya kembali berkata, “Andai saja Notmarina masih hidup, mungkin dia bisa melakukan pengobatan pertama yang lebih baik.”


 


 


“Apa yang Letnan bicarakan?” Magda tersenyum kecut. Memperlihatkan ekspresi sombong dalam wajah pucat pasi, Elf tersebut dengan nada lemas kembali berkata, “Diriku juga bisa menggunakan sihir penyembuh dasar kalau sirkuit sihir tidak tersumbat. Darah yang menggumpal membuat sirkulasi Mana kacau. Kalau saya tetap menggunakan sihir, bisa-bisa nadi⸻”


 


 

__ADS_1


“Diriku paham, jangan bicara dulu dan diamlah di sini ….” Laura menghela napas ringan. Segera berdiri dan menatap ke arah langit, keningnya langsung mengerut saat paham bahwa petaka yang ada belum berakhir. “Sebenarnya apa-apaan semburan itu?” gumamnya seraya mengangkat senapan sihir dengan kedua tangan.


 


 


Malam putih yang terlihat seperti tanda akhir zaman dalam sebuah dongeng, mengisi langit dengan cahaya terang dan menjamah seluruh daratan. Mengganti gelapnya malam dalam pancaran sinar putih murni, tampak seperti akhir dari awal yang sangat abstrak.


 


 


Pilar cahaya yang mengakhiri sesuatu, lalu menjadi pertanda untuk sebuah awal baru. Meski Laura tidak terlalu memahami sejarah atau pengetahuan tentang dunia, dirinya paham bahwa semburan Leviathan bisa melenyapkan seluruh kehidupan dalam hitungan detik.


 


 


Mengubah segala bentuk kehidupan kembali menjadi molekul terkecil, lalu lenyap dalam paparan putih mutlak. Kembali dalam kehampaan kekal untuk persiapan awal baru.


 


 


Saat Laura baru mengambil satu langkah ke depan untuk mencari jawaban, tiba-tiba pilar cahaya yang menjulang ke langit mulai menyusut. Dalam beberapa detik selanjutnya, pusat cahaya yang sinarnya memapar hampir seluruh Dunia Astral itu lenyap tanpa jejak.


 


 


Meninggalkan lubang besar di langit, lalu sepenuhnya mengubah malam menjadi sebuah pagi kelabu. Langit dengan cepat dihiasi awan mendung, menyinari daratan dengan sinar remang-remang yang berubah gelap dalam hitungan detik.


 


 


Itu merupakan tanda bahwa konsep siang dan malam di Dunia Astral telah runtuh, bentuk fenomena penyimpangan dari rusaknya batas Realm karena terkena semburan nova.


 


 


Hal tersebut seketika membuat Laura tercengang, merasa bahwa tempatnya berada sudah di ujung kehancuran. Akal sehatnya seakan tidak bisa menerima kenyataan yang ada, membuat Elf tersebut pucat dan mengeluarkan keringat dingin.


 


 


Laura bahkan sempat berpikir untuk membawa Magda pergi, lalu kabur dari Dunia Astral dan menyelamatkan diri. Namun saat paham tidak memiliki metode yang pasti untuk pulang ke Dunia Nyata, Laura mengurungkan niat tersebut dan menahan napas dengan berat.


 


 


Seakan-akan tidak ingin memberikan Laura waktu untuk berpikir, awan dengan cepat berkumpul pada satu titik di langit. Menciptakan mendung hitam pekat, lalu suara gemuruh petir seketika terdengar dan hujan deras pun turun mengguyur daratan.


 


 


Membuat tubuh kedua Elf tersebut basah, lalu petir yang sesekali menyambar mengingatkan mereka pada sebuah momen mengerikan. Ketika badai datang dan membentuk pusaran awan di langit, raksasa petir muncul dari dalamnya dan menenggelamkan kapal mereka di perbatasan Moloia.


 


 


Sebuah momen yang membuat mereka berakhir di kondisi seperti sekarang. Ditangkap oleh pemuda bernama Odo Luke, lalu terpaksa bekerja untuknya dengan dalih mencegah peperangan.


 


 


“Apa sejak awal pemuda itu menipu kita?” Kedua mata Laura terbuka lebar di tengah hujan deras. Memperlihatkan mimik wajah tidak percaya dan menatap ke arah lubang besar di langit, ia semakin gemetar dan kembali berkata, “Sejak awal itu ulah Odo Luke? Raksasa petir itu ….”


 


 


Dari pusaran badai tangan raksasa mulai terulur ke bawah, terbentuk dari padatan energi dan petir yang sangat masif. Bentuk tersebut bukanlah tengkorak, sebuah tangan utuh dengan bentuk memiliki daging serta kulit.


 


 


Sangat mirip dengan manifestasi singgasana ilahi yang menenggelamkan kapal Laura dan rekan-rekannya. Membuat kepercayaan sang Elf seketika sinar, merasa telah dipermainkan oleh Odo Luke.


 


 


Rasa bingung seketika berubah menjadi amarah. Tidak lagi memedulikan rekannya yang sekarat atau memikirkan cara untuk kabur, Laura segera mengaktifkan Manifestasi Peri di tengah hujan deras.


 


 


 


 


Ia langsung melesat naik ke atas daerah perbukitan di dekat Laut Utara, lalu menyalurkan Mana ke dalam senapan sihir dan bersiap untuk menyerang tangan raksasa petir. Benar-benar dikuasai murka dan ingin membalaskan dendam rekan-rekannya.


 


 


Tetapi saat ia baru mendarat di atas perbukitan dan melihat apa yang terjadi, untuk sesaat Laura terhenti dengan mulut menganga.


 


 


Leviathan masih hidup dan mengerang keras. Sea Serpent itu tidak bergerak dari tempatnya berada, lalu hanya memperlihatkan gelagat seakan murka kepada sosok yang akan keluar dari celah dimensi.


 


 


Saat melihat ke arah pantai dengan sihir peningkatan penglihatan, Laura seketika terbelalak saat tahu bahwa Odo masih berada di sana. Bersama dengan dua Roh Agung yang sekarat, pemuda rambut hitam tersebut diselimuti kegelapan dan tampak membentak-bentak.


 


 


“Se-Sebenarnya apa yang terjadi …?” Laura menahan sihirnya, memperlihatkan gelagat bingung dan memutuskan untuk menganalisis keadaan terlebih dulu. Sembari menggertakkan gigi dengan kesal, Elf tersebut dengan geram berkata, “Odo masih di bawah sana! Lantas, sebenarnya siapa raksasa sialan itu⸻?!”


 


 


Sebelum mendapatkan jawaban yang diinginkan, tiba-tiba petir biru melesat keluar dari telapak tangan raksasa. Langsung menyambar ke arah Odo Luke, lalu menghancurkan tubuhnya sampai tidak bersisa dan meninggalkan lubang besar di permukaan pantai.


 


 


“A⸻?!”


 


 


Laura hanya bisa menganga dan melangkah mundur, tubuhnya lemas dan secara insting langsung bersembunyi di balik bebatuan bukit. Napas seketika terengah-engah, rasa takut menguasai dan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar.


 


 


Pada momen ketika Laura berpaling dari peristiwa itu, sosok mengerikan yang ditakutinya turun dari celah dimensi. Diawali dengan tangan kanan, kepala, badan bagian tengah, lalu pada akhirnya kaki dan seluruh tubuhnya keluar dari pusat badai.


 


 


Suara retakan mengiringi kemunculan raksasa petir tersebut, membuat lubang pada batas Realm semakin lebar saat dilewati. Tidak bisa menahan luberan energi dari entitas tersebut.


 


 


Ketika kaki raksasa petir mulai berdiri, anggota tubuh yang menyentuh permukaan laut membuat air menguap seketika. Membuat kabut tipis di sekitar kulitnya yang terbuat dari plasma padat.


 


 


Gas yang tercipta langsung dikonsumsi sebagai energi, menciptakan pakaian untuk raksasa humanoid tersebut. Berbentuk kain Ihram sederhana, terdiri dari dua bagian antara atasan dan bawahan. Sepenuhnya terbentuk dari padatan energi, bercampur dengan petir yang sesekali menyambar keluar dari sekujur tubuh.


 


 


Saat Laura kembali melihat ke arah raksasa petir, ia langsung tercengang karena pertarungan antara kedua entitas berukuran masif tersebut telah dimulai. Membuat daratan bergetar saat bergerak, lalu menciptakan kilatan-kilatan cahaya terang dari sambaran petir.


 


 


Meski sedang dikuasai ketakutan dan gemetar kencang, Laura paham bahwa manifestasi singgasana ilahi itu bukanlah pelaku yang menenggelamkan kapalnya di perbatasan. Bentuknya terlalu berbeda, ukurannya jauh lebih besar, dan perawakan pun cenderung maskulin layaknya pemuda.


 


 


Meski begitu, Laura paham bahwa raksasa petir tersebut sangat jauh dari kata baik. Tidak bisa disebut sebagai rekan karena memancarkan hawa mengerikan, sangat menakutkan sampai-sampai bulu kuduknya berdiri saat menatap mata entitas masif itu.

__ADS_1


 


 


“Dia … musuh atau kawan?”


 


 


Laura segera merapalkan sihir Parva Nuclear sebelum mendapat jawaban pasti. Menyusun lingkaran sihir dan Rune dalam struktur, lalu memusatkan Mana pada satu titik untuk melancarkan serangan pamungkas.


 


 


Meski ragu sihirnya bisa efektif untuk melawan entitas-entitas berukuran masif itu, insting Laura paham bahwa kedua makhluk itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mendorongnya untuk tetap bertindak dalam tubuh gemetar.


 


 


Di bawah paparan hujan deras, matahari mini tercipta pada ujung laras senapan sihirnya. Membuat air yang turun dalam jarak beberapa meter di sekitar langsung menguap, lalu berubah menjadi gas dan diserap ke dalam inti struktur sihir sebagai sumber energi tambahan.


 


 


Menyadari sihir yang sedang telah disiapkan oleh Laura, raksasa petir tiba-tiba berhenti bergerak dan langsung menoleh ke arahnya dengan mata merah. Membuat sang Elf seketika merinding dan lemas, sepenuhnya takut dan enggan untuk menarik pelatuk.


 


 


Tetapi saat raksasa petir melepaskan Leviathan dan melangkah ke arah perbukitan, Laura langsung membulatkan keputusan dan menetapkan sasaran yang harus ditembak. Ia mempercepat proses perapalan, lalu membidik ke arah singgasana ilahi berukuran sangat masif tersebut.


 


 


Layaknya memihak Laura dan ingin memberinya waktu, sang Pemusnah Peradaban menggunakan kekuatannya untuk menciptakan pusaran-pusaran air yang menjulang tinggi. Menggerakkannya seperti ular laut untuk mengikat kaki raksasa petir, lalu membuat singgasana ilahi itu jatuh menimpa pantai dan hutan di depan daerah perbukitan.


 


 


“Ignis. Tin. Aer. Explosive Radiorum. Evanescet!”


 


 


Laura menaik pelatuk sihir, lalu mengaktifkan sihir Peledak Radiasi ke arah singgasana ilahi. Lingkaran sihir dan Rune di sekitar laras senapan sihir langsung bergerak maju, menyatu dan menghantam keras inti radiasi.


 


 


Layaknya sebuah timah panas, matahari mini itu melesat dengan cepat ke arah raksasa petir yang jatuh tengkurap di atas hutan. Menghantam bagian punggungnya, lalu menciptakan ledakan nuklir dalam kekuatan luar biasa.


 


 


Pada momen singkat tersebut, hutan dalam radius lebih dari belasan kilometer seketika terbakar habis. Gelombang kejut dan suara bising menyusul berapa detik kemudian, meratakan segalanya dengan kekuatan penghancur yang amat mengerikan.


 


 


Ledakan tersebut memberikan dampak yang sangat luas, bahkan sampai ke tempat Leviathan dan sebagian tubuhnya terdorong ke dalam laut. Reyah dan Vil juga ikut terkena dampak ledakan tersebut, lalu mereka pun terlempar ke udara dan jatuh ke laut.


 


 


Laura yang hanya berjarak beberapa kilometer langsung terhempas gelombang ledakan. Membentur bebatuan yang berada di belakangnya, lalu sempat kehilangan kesadaran selama beberapa detik dan senapannya pun terlepas dari genggaman.


 


 


Meski telah menyiapkan sihir pelindung selama perapalan sihir, jarak yang terlalu dekat membuatnya tidak bisa bertahan dari gelombang ledakan. Dengan kesadaran yang perlahan pulih Laura segera bangun, berjalan sempoyongan karena menghirup udara yang tercemar radiasi.


 


 


Menatap ke depan dan tersenyum kecut, Elf tersebut dengan mimik wajah cemas bergumam, “Padahal koordinatnya sudah diatur, kenapa bisa ledakannya sebesar ini? Apa raksasa itu juga ikut meledak?”


 


 


Hasil dari ledakan nuklir selalu tampak mengerikan di mata Laura. Tidak pandang bulu, mengancurkan segalanya dan menyebarkan racun udara yang membinasakan kehidupan.


 


 


Bagi Prajurit Peri yang memiliki resistensi radiasi, udara yang tercemas bukanlah masalah besar. Selama tidak terpapar secara langsung, Laura bisa bertahan dari kontaminasi sampai pada tingkat tertentu.


 


 


Bahkan Magda yang melemah pun bisa selamat meski menghirup udara beracun. Karena itulah, Laura bisa mengambil keputusan untuk Parva Nuclear meski tahu rekannya masih di bawah.


 


 


Tetapi, tetap saja Elf tersebut tidak bisa terbiasa dengan pemandangan kehancuran yang ada. Ia memperlihatkan mimik wajah menyesal, merasa bersalah kepada para Roh yang tidak sempat melarikan diri.


 


 


Baik yang tidak bisa kabur dari ledakan atau binasa karena paparan radiasi, hampir seluruh kehidupan yang berada dalam jarak belasan kilometer binasa. Tercemar radiasi dalam kadar tinggi yang mungkin tidak akan hilang dalam waktu lama.


 


 


Dinding-dinding distorsi juga hancur dalam ledakan tersebut, lalu menciptakan sebuah penyimpanan spasial yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Benar-benar membuat Dunia Astral tampak semakin mendekati kehancuran, lalu memunculkan beberapa penyimpangan konsep di berbagai tempat.


 


 


“Biarlah, lagi pula ini bukan urusanku,” ujar Elf tersebut tanpa rasa bersalah setelah melihat kerusakan yang dibuatnya.


 


 


Laura berjalan ke ujung tebing perbukitan, lalu melihat ke arah pusat ledakan yang berjarak beberapa kilometer dari tempatnya berdiri. Asap seperti jamur hitam kemerahan melambung sangat tinggi, terus tumbuh sampai hampir menyentuh awan-awan mendung.


 


 


Saat melihat puncak dari pusat ledakan, sang Elf baru menyadari kejanggalan yang ada. Daya ledakan nuklir memang sangat dahsyat, membuat tubuhnya sempat terpental dan menciptakan kehancuran dalam radius belasan kilometer.


 


 


Bahkan, gelombang ledakan itu seharusnya cukup untuk menghapus awan mendung di langit. Tetapi ⸻


 


 


Jangankan awan mendung tersingkir karena gelombang ledakan, bahkan hujan yang turun pun tidak berhenti sama sekali. Karena beberapa indra miliknya terganggu dan kesadaran masih buram, Laura baru menyadari semua kejanggalan itu.


 


 


Entah itu tentang hujan yang masih turun dengan deras.


 


 


Arah gelombang ledakan yang tampak sangat aneh.


 


 


Atau bahkan penampakan sumber ledakan yang janggal di bawah sana.


 


 


Laura telat menyadari semua itu. Indra yang kacau membuatnya terlalu percaya diri setelah melancarkan serangan pamungkas, membuat Elf tersebut tidak melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2