
Suhu selalu berpindah dari yang lebih tinggi menuju yang lebih rendah.
Kaca yang telah pecah tidak bisa menyatu kembali dengan sempurna.
Layaknya entropi yang merupakan salah satu besaran termodinamika, dalam sistem terisolasi suhu hanya bisa berpindah secara satu arah. Energi panas bergerak dari komponen bersuhu tinggi ke komponen bersuhu lebih rendah.
Karena itulah, dalam sebuah sistem yang terisolasi panas atau polar hanya bisa bergerak secara satu arah dan tidak bisa melakukan proses reversibel.
Pada termodinamika sendiri, konsep entropi yang secara umum dipakai dapat didefinisikan dalam Hukum Kedua Termodinamika. Hal tersebut menyatakan bahwa entropi dari sistem yang terisolasi selalu bertambah atau tetap konstan dalam ruang tertutup.
Sedangkan dalam Hukum Kedua Termodinamika sendiri, secara garis besar hukum tersebut menyatakan bahwa tidak semua proses di alam semesta adalah reversible atau dapat dibalikkan arahnya.
Saat menggenggam sebuah balok es kecil dalam genggaman, panas atau kalor yang dihasilkan oleh tubuh bisa mencairkan es tersebut. Namun, kalor atau panas yang telah mengalir ke balok es tidak bisa digunakan untuk menghangatkan tangan. Kalor yang berpindah mengalami penyesuaian karena suhu rendah dari es, lalu membuat telapak tangan menjadi dingin.
Itu terjadi bukan karena dingin mengalir dari batu es, melainkan karena tangan kehilangan kalor dan mengalami penurunan suhu.
Layaknya pemahaman tentang Entropi di atas, Kota Pegunungan pun memiliki lajur perubahan yang serupa. Pembahasan entropi hanyalah sebuah analogi, sebuah cara untuk menggambarkan kondisi yang ada pada kota yang sekarang ini menjadi semi tertutup karena rute perdagangan terganggu.
Faktor yang mengakibatkan naiknya suhu politik di tempat tersebut stagnan sejak Prajurit Elite datang, membuat kekuasaan yang diwakili dengan kalor dalam analogi ini bergerak dari suhu tinggi ke suhu yang lebih rendah.
Membuat suhu politik yang ada menjadi merata, lalu perlahan secara keseluruhan menyesuaikan diri dengan faktor eksternal berupa Prajurit Elite yang telah masuk.
Karena itulah, saat ini suhu politik yang ada di Kota Pegunungan berpihak ke arah Prajurit Elite yang menjadi faktor pengubah di tempat tersebut. Air akan berubah dingin ketika dimasuki es, lalu suhu yang ada pada es pun mulai mengikuti air dari tempat yang dimasukinya.
Di tempat terisolasi, fenomena itu akan berlaku secara terus menerus dan membuat air akan mengikuti suhu es dan terus turun. Namun, hal tersebut akan berbeda jika berada di tempat terbuka.
Faktor lain dari luar akan segera menjadi pengubah kedua ataupun seterusnya. Entah itu berasal dari lingkungan, iklim, situasi, ataupun kondisi, faktor eksternal apapun bisa menjadi pemicu dalam perubahan.
Layaknya danau yang mengalami peningkatan dan penurunan suhu berdasarkan cuaca serta waktu, Kota tersebut pun mengalaminya. Tetapi, apa yang Putar Tunggal Keluarga Luke ingin lakukan bukanlah hanya mengubah suhu di tempat tersebut.
Secara mendasar, layaknya membekukan air ataupun membuatnya menguap, ia ingin mengubah Kota Rockfield sampai tingkat bentuk pemerintah dan cara pandang penduduknya. Entah itu dengan menambahkan kalor atau mengambilnya, hanya pemuda itu yang tahu akan bergerak ke mana perkembangan kota tersebut.
.
.
.
.
Aroma bunga lavendel mengisi ruangan, memberikan kesan tenang dan bersih yang semerbak. Begitu menyengat seakan-akan ingin menyembunyikan bau tak sedap.
Lantai keramik di tempat tersebut memiliki pola garis abstrak, menjadikan krem dan putih gading sebagai warna utama. Pada langit-langit, lampu hias menggantung dan diisi oleh beberapa keping kristal yang menyala biru.
Ranjang untuk dua orang menjadi perabotan utama di kamar, tertutup kelambu transparan dan di atasnya bertabur bunga Peony yang sudah sedikit layu. Seprai dan bantal tampak masih tertara rapi, begitu pula selimut dengan pola rajutan tumbuhan yang ada di atas ranjang tersebut.
Selain tempat tidur yang terlihat begitu mencolok, ruangan tersebut pun memiliki meja rias, cermin besar di sudut ruangan, dan juga dua sofa memanjang untuk duduk para tamu. Memiliki meja persegi panjang yang terbuat dari batuan alam di depan kedua sofa, sedangkan di atasnya pun tersusun rapi suguhan berupa kue kering dan teh.
Dalam ruangan megah yang merupakan salah satu kamar prostitusi tersebut, mereka berlima duduk bersama untuk memulai pembicaraan. Dalam suasana yang tidak nyaman, tegang, dan menatap satu sama lain seraya menahan niat masing-masing untuk menghindari perkataan yang bisa merusak hubungan.
Odo Luke duduk di antara Ri’aima dan Rosaria pada sofa yang sama. Berlawanan dengan mereka bertiga, Mitranda Quidra dan Owner dari tempat tersebut duduk bersebelahan. Mereka semua hanya terdiam, saling menatap satu sama lain dan menunggu orang yang membuat panggung tersebut memulai percakapan.
Seakan tidak memedulikan suasana tegang yang ada, Putra Tunggal Keluarga Luke dengan santai mengangkat cangkir dan meminum teh herbal yang telah disuguhkan. Begitu tenang seraya memasang mimik wajah damai, tanpa beban pikiran, lalu menghela napas dengan sangat santai.
Setelah meminum hampir seluruh teh dalam cangkir, pemuda rambut hitam itu kembali meletakkannya ke atas cawan piring dan mulai menatap lurus kedua orang yang duduk di hadapan. Putra Tunggal Keluarga Luke perlahan memasang senyum tipis, lalu sembari mengulurkan tangan ke depan menawarkan, “Bagaimana menurut Anda, Tuan Badir? Bukankah tawaran saya sebelumnya cukup memuaskan? Ini cukup menggoda, ‘kan? Baik dalam segi bayaran, lalu juga potensi relasi yang akan terbentuk.”
__ADS_1
Pria botak yang merupakan Owner Galeri Daun Merah memasang mimik wajah sedikit gelisah. Setelah menghela napas ringan, ia berusaha memperlihatkan ekspresi ramah dan menjawab, “Saya memang tertarik dengan tawaran Anda sebelumnya. Namun, mengapa Tuan Nigrum harus memasukkan kedua Nona tersebut ke dalam pembicaraan?”
Odo paham atas ketidaknyamanan pria tersebut atas kehadiran Rosaria dan Ri’aima. Sejenak memejamkan mata, Putra Tunggal Keluarga Luke segera melakukan kalkulasi dan membuat beberapa prediksi dalam pembicaraan yang baru saja dimulai. Setelah selesai dengan kalkulasi, ia perlahan membuka kedua mata dan segera memasang senyum tipis yang ramah.
“Menurut Tuan Badir sendiri bagaimana?” Odo berhenti mengulurkan tangan, lalu sembari menajamkan tatapan kembali bertanya, “Anda sudah bisa menebak maksud saya?”
“Mungkin ini sedikit konyol, namun ….” Ekspresi sang Owner berubah gelap, tatapannya seketika menajam dan dengan nada menekan menjawab, “Saya untuk sesaat mengira Anda adalah Odo Luke. Sebelumnya kedua Nona di sebelah Tuan Nigrum menyebut nama tersebut, lalu Anda bahkan mengajak mereka berdua masuk dalam pembicaraan ini. Hanya saja ….”
“Odo Luke seharusnya masih bocah …. Apa benar seperti itu, Tuan Badir?” Odo meletakkan kedua telapak tangan kanan ke atas pangkuannya sendiri, lalu sembari sekilas memiringkan kepala berkata, “Jika memang Anda berpikir seperti itu, hal tersebut adalah kesalahpahaman. Saya datang sebagai pedagang bernama Nigrum dari Perusahaan Ordoxi Nigrum, bukan Odo Luke. Untuk sekarang, tolong jangan sampai Anda salah paham hanya karena perkataan kedua perempuan di sebelah saya.”
“I-Itu benar ….” Badir tampak sedikit merasa aneh dengan cara bicara pemuda tersebut. Tidak ingin menebar kecurigaan lebih lanjut terhadap orang yang mungkin akan menjadi pelanggan besarnya, ia dengan niat mencairkan suasana berkata, “Lagi pula, Anda sama sekali tidak memancarkan aura Mana yang kuat. Sangat berbeda dengan Odo Luke yang dibicarakan banyak orang.”
“Hmm ….” Odo mengangguk, lalu mengambil cangkir dan meminum teh sampai habis. Setelah meletakkan kembali cangkir kosong ke atas cawan piring, pemuda rambut hitam itu memulai pembicaraan, “Teh ini enak. Bukannya di Kota ini tidak ada kebun teh? Apa Anda mendapatkannya dari pedagang luar.”
“Saya senang Anda menyukainya. Saya mendapatnya dari pedagang yang masuk bulan lalu, mereka berasal dari Kekaisaran.”
Odo dengan cepat ingin mengakhiri basa-basi, mimik wajahnya seketika berubah datar dengan cepat. Sembari menaikkan kaki kanan ke kaki kiri, Putra Tunggal Keluarga Luke itu pun bertanya, “Untuk tawaran yang saya berikan, mari kita bahas lebih lanjut untuk menarik garis besarnya. Seperti yang telah Tuan Badir ketahui, dalam tawaran saya ingin menyewa beberapa Bunga di tempat ini dalam jangka waktu lama.”
“Tuan Nigrum telah menyebutkan hal tersebut sebelumnya ….” Badir duduk tegap untuk fokus dalam pembicaraan. Mengacungkan telunjuk ke depan, pria botak dengan badan kekar tersebut memastikan, “Sebelum menerima hal tersebut, boleh saya tahu untuk apa Anda menyewa mereka? Terlebih lagi, karena itu dalam waktu lama. Saya memiliki hak untuk mengetahuinya.”
“Tentu saja, saya akan memberitahu Tuan Badir tentang alasan saya.”
“Terima kasih.” Badir mengangguk dan menurunkan telunjuk. Sembari memasang mimik wajah sedikit muram, pria botak itu mulai menjelaskan, “Beberapa tempo lalu, saya juga pernah menerima beberapa tawaran seperti itu dari orang status tinggi di Kota. Orang-orang tersebut awalnya menyewa dan mengajak Bunga milik kami untuk tinggal di kediaman mereka sebagai hiburan semata. Tetapi, mungkin karena terlalu suka …, pada akhirnya orang dari kalangan atas tersebut membeli dan menjadikan Bunga kami sebagai gundik mereka.”
Putra Tunggal Keluarga Luke hanya memasang senyum ringan mendengar cerita singkat tersebut. Namun, pada saat yang sama ia juga tahu siapa yang sedang dibicarakan oleh sang Owner. Sembari menyangga kepala dengan punggung tangan kiri, ia dengan santai memastikan, “Apa Anda keberatan jika saya juga melakukan hal tersebut?”
“Tenang saja, saya di sini bukan untuk membuat Anda gulung tikar.” Odo menepuk pahanya satu kali sebagai tanda untuk melanjutkan pembicaraan. Sembari memasang senyum ramah, ia dengan santai mengungkap, “Sebenarnya saya juga punya usaha serupa di Mylta. Alasan saya menyewa Bunga malam di sini, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menjadikannya pembimbing di sana.”
“Pembimbing? Maksud Tuan Nigrum?”
Odo sekilas mengangkat kedua sisi pundak, lalu sembari memasang mimik wajah resah menjelaskan, “Tidak seperti Kota Pegunungan, di pelabuhan kami memiliki kualitas pelayanan yang sangat rendah. Kasarnya, para wanita di sana kurang berkualitas karena hanya menjual kehormatan tanpa ada etika di dalamnya.”
“Ah, saya paham ….” Badir mengangguk seakan telah memahami tujuan dari lawan bicaranya, lalu dengan rasa percaya diri berkata, “Anda ingin menyewa Bunga kami untuk dijadikan pedoman oleh para wanita Anda, bukan? Kalau untuk itu, saya tidak keberatan. Tetapi Tuan Nigrum, untuk kalangan atas melayani orang-orang rendah ….”
“Tenang saja, saya tidak akan meminta Bunga milik Tuan Badir untuk melayani orang udik di sana. Saya hanya ingin secara murni menjadikan mereka sebagai pembimbing.”
Mendengar hal tersebut, Owner dari Galeri Daun Merah semakin tertarik. Ia sejenak meletakkan tangan ke dagu, kembali memalingkan pandangan dan mempertimbangkan tawaran yang pemuda rambut hitam tersebut berikan.
Harga yang ditawarkan, potensi membuka hubungan dengan Kota Mylta, dan memperluas relasi. Tawaran tersebut memang memiliki banyak potensi yang bisa mengembangkan Galeri Daun Merah. Tetapi dari semua hal menggiurkan tersebut, rasa cemas memang masih ada dalam benak sang Owner.
“Tawaran yang Tuan berikan sangat berpotensi. Harga yang Tuan patok juga tidak main-main, saya sangat yakin bahwa Anda bukan pedagang sembarangan.” Badir menurunkan tangan ke pangkuan, menatap ke arah Ri’aima dan merasa sedikit janggal atas kehadiran Putri dari Keluarga Stein tersebut dalam pembicaraan. Ingin membuat tawaran yang ada menjadi semakin jelas, pria botak itu pun memastikan, “Sebelum saya mengambil keputusan, boleh saya tahu mengapa Putri dari Keluarga Stein tersebut harus ikut dalam pembicaraan ini? Apakah Anda juga terlihat dalam masalah politik di Kota?”
“Seperti yang Tuan Badir duga, saya terlibat ….” Odo menghela napas ringan, memasang wajah resah seakan-akan dirinya adalah korban. Sembari mengerutkan kening, Putra Tunggal Keluarga Luke itu dengan nada mengeluh berkata, “Sayang sekali, Putri Keluarga Stein di sebelah ini adalah pelaku yang melibatkan saya ke dalam masalah tersebut. Karena beberapa alasan, saya juga terjebak di Kota dan pada akhirnya benar-benar terseret.”
Seketika Ri’aima tersentak karena merasa difitnah. Imenoleh dengan tatapan kesal, lalu mengangkat tangan dan ingin mencubit paha pemuda itu. Namun saat sadar Rosaria menatap dirinya dengan tajam, perempuan rambut biru tersebut mengurungkan niat dan memalingkan pandangan dengan jengkel.
Tidak memedulikan perselisihan semu yang ada di antara kedua perempuan itu, Badir dengan penuh rasa heran bertanya, “Terjebak?”
“Anda belum mendengar kabarnya? Rute perdagangan sekarang ini sedang terputus karena ancaman monster, loh.”
__ADS_1
Kedua mata sang Owner terbuka lebar, merasa benar-benar melewatkan faktor penting tersebut dalam pembicaraan. Memikirkan kembali bagaimana pedagang di hadapannya bisa datang ke Rockfield, ia kembali menanamkan rasa curiga.
“Lantas, bagaimana cara Anda datang ke Kota? Biasanya ….”
“Meski berhasil sampai, para pedagang pun pasti kehilangan harta karena diserang monster. Apa benar begitu, Tuan Badir?”
“Itu benar ….”
Odo menghela napas kecil, memasang wajah sedikit muram dan meletakkan tangan kanan ke depan dada. Sembari berpura-pura sedih, pemuda rambut hitam tersebut menjelaskan, “Saya juga menjadi korban dari keteledoran pemerintah kota ini. Namun, untung saja saya masih sempat menyelamatkan beberapa harta saya. Mungkin ini membuat saya terdengar lebih mementingkan harta daripada nyawa, tetapi saya tetap membawanya saat kabur. Kristal yang saya tunjukkan kepada Tuan di lobi adalah semua harta yang saya miliki sekarang ini.”
Mendengar itu Badir kembali terkejut. Ia paham dengan pola pikir pedagang, dan mengerti bahwa mereka bukanlah orang-orang yang akan membawa semua harta saat bepergian. Mengingat kembali kantong berisi kristal-kristal sihir yang ditawarkan pemuda itu saat di lobi, sang Owner merasa kalau pedagang di hadapannya memang sangat kaya.
“Begitu, ya. Daripada membawa uang, Anda menyelamatkan kristal dengan harga tinggi dan mudah dibawa. Pola pikir pedagang memang berbeda,” puji Badir sembari tersenyum ramah.
Melakukan hal yang sama, Putra Tunggal Keluarga Luke pun membalas “Tidak seberapa. Tuan Badir sendiri, tak saya sangka Anda bisa tahu nilai kristal tersebut hanya dalam sekali lihat.”
“Dulu saya pernah bekerja di Guild Pemburu. Saya sempat belajar cara menilai kristal sihir di sana.” Badir sedikit memasang mimik wajah bangga, tersenyum kecil seraya mengingat masa mudanya. Setelah menarik napas ringan dan kembali fokus, ia segera menatap tajam lawan bicara dan bertanya, “Dari bentuk dan warnanya, kristal yang Anda tunjukkan sebelumnya bukan berasal dari monster, ‘kan? Anda mendapatkannya dari mana?”
“Itu rahasia pedagang,” ujar Odo seraya mengangkat telunjuk ke depan mulut.
“Benar juga, uwahaha!”
Setelah tawa keras tersebut, untuk sesaat pembicaraan terhenti dan suasana kembali menjadi dingin. Tidak ingin menghilangkan momentum percakapan yang ada, Odo kembali menepuk pahanya sendiri. Ia segera mengacungkan telunjuk ke depan dan berkata, “Seperti yang telah Anda tahui, saya terseret masalah politik di kota ini. Saya juga memiliki alasan untuk terlibat dengan masalah di Kota.”
“Alasan?” Badir menatap heran, lalu sembari menunjuk lawan bicara bertanya, “Kenapa bisa pedagang memiliki alasan untuk terlihat hal seperti itu?”
“Tentu saja karena rute perdagangan yang terputus.” Odo berhenti menyangga kepala dengan punggung tangan kiri. Duduk tegap dan menatap tajam, pemuda rambut hitam itu menyampaikan, “Karena rute terputus, kerja sama ini juga hampir tidak mungkin untuk dilakukan. Tentu saya Tuan tidak ingin Bunga malam di sini diserang saat dalam perjalanan, bukan?”
“Ya, tentu saja saya tidak mengharapkan hal tersebut.” Badir menyeringai kecil. Dengan nada seakan dirinya telah membaca pola pikir lawan bicara, pria botak tersebut bertanya, “Namun Anda sudah memilikinya, bukan? Cara untuk mengatasi hal tersebut.”
“Hebat!” Odo menepuk lutut satu kali, lalu sembari memasang senyum ramah kembali memuji, “Sangat jarang saya bertemu dengan orang yang cepat tanggap seperti Anda.”
“Tak perlu memuji, katakan saja cara tersebut.” Badir mengulurkan tangan ke depan. Seraya memasang mimik wajah seakan dirinya sangat tertarik dengan tawaran yang ada, pria dengan badan kekar tersebut kembali berkata, “Jika itu membuat saya berpikir rencana Anda aman untuk diikuti, saya akan setuju.”
“Meski harus terlihat dengan orang-orang pemerintahan?” tanya Odo memastikan.
Badir untuk sesaat terdiam. Saat pemuda di hadapannya menyebut orang pemerintahan, itu juga bisa mencangkum kalangan bangsawan. Memiliki ikatan buruk dengan kalangan tersebut, untuk sesaat sang Owner merasa ragu menerima tawaran.
Tetapi, setelah mempertimbangkan banyak hal dirinya tetap ingin menerima. Kondisi politik Kota, lajur pemerintahan, dan perubahan kebijakan. Karena masuknya Prajurit Elite ke dalam Rockfield, cara pemerintah yang mengatur Kota pun perlahan berubah.
Mempertimbangkan kebiasaan orang-orang dari Ibukota yang memiliki tingkat religius yang tinggi, Badir merasa bahwa bertahan tanpa memiliki koneksi kuat dengan pihak luar sangatlah rawan. Setelah bentuk pemerintahan benar-benar diperbarui, ia juga merasa kalau kegiatan prostitusi pun akan mendapat imbasnya berupa pembatasan operasional.
Dalam pertimbangan tersebut, Badir tentu saja merasa kalau tawaran dari pemuda di hadapannya tersebut adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang dua kali. Setelah menarik napas dalam-dalam, dalam benak pria botak tersebut memutuskan, “Tidak masalah! Saya akan menerima tawaran Tuan Nigrum. Namun ….”
“Namun?”
“Saya tidak ingin ikut campur urusan politik, terutama melipatkan wanita di sebelah saya ke dalam rencana yang Tuan Nigrum buat dengan Nona Ri’aima.”
Keputusan itu membuat Odo memasang ekspresi terkejut. Namun, itu bukan berarti dirinya tidak memperkirakan hal tersebut. Bagi Putra Tunggal Keluarga Luke, semua wajah yang diperlihatkan selama pembicaraan hanyalah akting. Kepura-puraan untuk memperlancar momentum percakapan.
\========
Catatan Kecil :
Fakta 014: Seri ini direncanakan menjadi sebuah trilogi, jadi doakan saja aku masih hidup dan sehat selalu.
__ADS_1