Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[109] Serpent IX – Dikara (Part 03)


__ADS_3

Tidak ada pertemuan yang serupa, momen selalu berbeda, dan tempat pun takkan mirip. Meski benak merasakan kesamaan, namun detik-detik yang terasa cepat tersebut sangatlah berbeda dari sebelumnya.


Dedaunan yang gugur tertiup angin, sinar mentari masuk melewati pepohonan, serta aroma khas bunga dan rerumputan. Terasa sangat asri dan sunyi, memberikan kesan damai layaknya surga tersembunyi.


Seharusnya ini pertama kalinya Odo mengunjungi Lembah Kehidupan. Namun, anehnya dia tampak tidak asing dengan tempat tersebut. Dengan mudah melewati pepohonan yang tersusun bagai labirin, melangkah tanpa ragu dengan senyum tipis di wajah.


Sinar mentari memapar wajah, memberikan kehangatan yang mengantar pemuda itu menuju kenangan masa lalu. Sebuah kebun dengan hamparan bunga Dusty Miller, terbentang sangat luas sampai memenuhi perbukitan di sekitar. Mekar di antara pepohonan oak, putih pucat layaknya salju di musim semi.


Saat langkah kaki memasuki pusat Lembah Kehidupan, udara dengan cepat berubah semakin lembap. Kabut tebal seketika menyelimuti, layaknya tabir ilusi yang dapat menyesatkan pengunjung tempat itu.


Bersama para Roh Agung, Putri Naga dan dua Elf yang mengikutinya, pemuda rambut hitam tersebut tetap melangkah tanpa ragu. Tatapan tajam dan buas sesekali terpancar dari balik kabut, menunjukkan aura permusuhan seakan ingin mengusir mereka. Menatap dengan mata menyala terang layaknya pemburu nokturnal, mengintai dari balik hamparan tabir putih.


Semakin masuk ke dalam hutan penuh kabut, sinar mentari tidak lagi mampu mencapai permukaan. Sebagai gantinya, tanaman-tanaman bercahaya mulai tampak pada beberapa sudut jalan setapak yang mereka lewati.


Ada yang memiliki bentuk seperti jamur, tanaman merambat, dan bahkan pepohonan besar dengan daun seperti lampu neon. Saat melihat beragam vegetasi unik itu, Odo Luke semakin penasaran dan mempercepat langkah kakinya.


“Mengejutkan, ternyata karakteristik Dunia Astral berakar dari tempat ini.” Sembari melewati jalan yang dihalangi sulur pepohonan, pemuda rambut hitam tersebut dengan antusias mengamati sekeliling. Tidak melewatkan kesempatan untuk menganalisis karakteristik unik tempat tersebut, lalu lekas menarik napas lega seakan telah memastikan sesuatu. “Dia tidak menciptakan Dunia Astral dari nol, namun lebih seperti mengembangkan semua karakteristik ini supaya menjadi identitas Realm.”


“Odo! Tunggu, jangan terlalu cepat …!” Tempat tersebut memang tidak memiliki atribut yang berlawanan dengan Vil. Namun, perbedaan ekosistem tetap saja memberikan pengaruh negatif pada metabolisme Mana miliknya. “Mari istirahat sebentar ...! Sungguh, diriku sudah tidak kuat lagi,” ujar Siren itu sembari bersandar pada salah satu pohon bercahaya.


Batasan teritorial antara wilayah ekosistem, hal tersebut masih berlaku meskipun struktur Dunia Astral telah berubah. Saat mereka semakin dekat dengan Core Realm sebagai pusat dari pembentuk konsep tersebut, tentu saja pengaruhnya akan semakin kuat meski jangkauannya terbatas.


Odo segera berhenti dan menoleh. Sekilas mengamati raut wajah Vil dan pola pernapasannya, pemuda itu segera tahu bahwa efek batasan tersebut mirip seperti Altitude Sickness, sebuah penyakit ketinggian yang sering dialami pendaki saat naik gunung.


Ditinjau dalam aspek metabolisme makhluk astral, Intensitas Ether pada udara mirip seperti oksigen bagi makhluk mortal. Karena itulah, perbedaan pada kadarnya dapat memberikan gangguan metabolisme ringan sampai berat. Tergantung tingkat adaptasi masing-masing individu.


“Ah, sesak napas?” Odo segera menghampiri perempuan rambut biru laut tersebut. Mengamati wajahnya yang pucat dari dekat, lalu melihat kondisi iris mata dan pupil untuk memastikan sesuatu. “Bagi makhluk astral seperti kalian, Ether itu sama pentingnya dengan oksigen. Kalau kadarnya berubah, pengaruhnya juga sangat mirip. Seharusnya kau paham hal tersebut, ‘kan? Jangan terlalu memaksakan diri!” tegurnya seraya melangkah mundur.


Perlahan menoleh ke arah Diana untuk memastikan hal lain, Odo tidak menemukan gejala yang serupa. Bahkan Roh Agung berkulit gelap tersebut tampak lebih bugar dari sebelumnya. Tatapannya berubah cerah, kulit terlihat lebih mengkilap dan lembut, lalu rambutnya pun menjadi semakin bervolume.


“Diana punya tingkat adaptasi yang lebih tinggi, ya? Waktu di Laut Utara dia juga tidak apa-apa. Kalau begitu, berarti tiap Roh Agung punya tingkat resistensi tersendiri? Atau memang hanya Vil yang memiliki kasus khusus?” benak Odo seraya lanjut mengamati.


Saat tatapan bergerak menuju Reyah dan Alyssum, pemuda itu terkejut karena perubahan Intensitas Ether tidak terlalu mempengaruhi mereka. Meski pemulihan stamina sedikit terganggu dan pernapasan menjadi cepat, paling tidak metabolisme mereka tidak terganggu karena hal tersebut.


“Kalian juga mau istirahat?” Odo menghampiri mereka berdua, lalu menatap dari dekat untuk memastikan sesuatu. “Aku rasa tidak masalah. Karena atribut kalian mirip, dampaknya tidak terlalu parah,” ucapnya seraya melangkah mundur.


“Tidak usah,” jawab Reyah singkat.


Setelah mendengar jawabannya, Pemuda rambut hitam tersebut lekas menoleh ke arah Magda dan Laura. Memastikan bahwa kedua Elf tersebut masih baik-baik saja, tidak kelelahan dan perubahan Intensitas Mana tidak memengaruhi mereka.


“Wahai calon penguasa kami, apakah tempatnya masih jauh?” Diana menghampiri pemuda itu dengan tergesa-gesa. Memperlihatkan gelagat cemas dan sesekali mengamati sekitar dengan gelisah, Roh Agung berkulit gelap tersebut lekas menyarankan, “Saya rasa sebaiknya kita tidak berhenti sekarang ....”


“Itu benar, Odo …!” Leviathan segera menggandeng Vil untuk mendekat, lalu melambaikan tangannya untuk memanggil Reyah dan Alyssum supaya berkumpul. “Sepertinya tempat ini tidak ramah,” ujarnya seraya mengaktifkan Inti Sihir, bersiap untuk menahan serangan dari segala arah.


“Diana …!” Odo segera menoleh dengan heran, lalu menyipitkan tatapan dan dengan bingung bertanya, “Kamu Penguasa Lembah Kehidupan, ‘kan? Kenapa malah bisa diincar di seperti ini di wilayah sendiri?”

__ADS_1


“Ini memang sungguh memalukan ….” Dengan raut wajah bersalah Empusa itu memalingkan pandangan. Sembari mengaktifkan Inti Sihir, dia menghentakkan kaki ke permukaan tanah dan menciptakan tombak tanah. “Sayangnya saya bukan pemimpin yang baik seperti Uni Reyah. Mengolah ekosistem di luar keahlian saya,” jawabannya tanpa berani menatap mata Odo.


“Hmm?” Odo segera memalingkan wajah, lekas memberikan tatapan heran kepada Reyah dan bertanya, “Apa maksudnya? Kok bisa begitu? Roh Agung tapi tidak bisa mengolah ekosistem?”


“Serius engkau mau menanyakan itu? Di sini ada contoh nyatanya, loh!” Reyah langsung kesal, sedikit memasukkan bibir ke dalam mulut dan mengerutkan kening. Segera menunjuk ke arah Vil yang terlihat semakin lemas, Dryad tersebut dengan ketus balik bertanya, “Kenapa malah heran?! Roh Agung memang peduli dengan ekosistem masing-masing! Namun! Bukan berarti mereka bisa mengolahnya dengan baik!”


“Ke-Kenapa malah marah? Aku hanya tanya ….” Odo sedikit menjauh dari Dryad tersebut.


“Tidak semua Roh Agung bisa mengolah ekosistem mereka sebaik diriku!” Reyah menghentakkan kakinya dengan kesal. Sembari menunjuk lurus dan memperlihatkan mimik wajah tersinggung, Roh Agung rambut hijau tersebut menambahkan, “Jangan samakan diriku dengan yang lain! Lagi pula, Diana itu suka keluyuran ke Dunia Nyata dan hampir tidak pernah mengurus Lembah Kehidupan! Tidak aneh kalau dia dibenci oleh penghuni ekosistemnya sendiri!”


“Ah, ternyata itu alasan kau mau menerima tawaran Leviathan ….”


Odo melirik dingin layaknya hewan buas, sedikit menggertakkan gigi dan ingin membentak Diana dengan lantang. Mengingat kembali sikapnya yang agresif dan kasar saat pertama kali bertemu, pemuda rambut hitam tersebut sempat merasa bodoh karena menanggapinya degan serius.


“Ke-Kenapa?” Diana langsung gemetar dan enggan menoleh, ingin langsung kabur layaknya kelinci yang sedang diintai oleh pemangsa.


“Tidak apa-apa, kok. Hanya saja ….” Odo langsung memegang pundak Empusa itu dari belakang, sedikit meremasnya dan mendekatkan mulut ke telinga. Dengan suara berat dirinya pun berbisik, “Dalam hal akting sepertinya aku kalah telak.”


“A⸻! Hmm …! Itu …!”


Diana langsung memucat, gambaran kalem dan berwibawa seketika luntur. Meski penampilannya sangat mendukung kesan bermartabat, Odo sudah tidak bisa lagi melihatnya dengan persepsi seperti itu.


“Kita kesampingkan dulu masalah ini.” Odo menghela napas ringan. Memalingkan pandangan dan melihat sekeliling, pemuda rambut hitam itu mengaktifkan Inti Sihir dan lanjut berkata, “Sepertinya mereka benar-benar membencimu, wahai Roh Binal ….”


“Bi-Binal?” Diana tercengang. Tidak sempat membahas perkataannya, Empusa tersebut langsung memalingkan pandangan ke dalam hutan dan terdiam.  “Ini sangat aneh. Diriku memang bukan penguasa yang baik seperti Uni Reyah, namun seharusnya mereka tidak mungkin mampu menyerang ⸻ Hmm?!”


“Hmm, kau sudah menyadarinya?” Odo mengangkat tangannya dan melepaskan Diana.


“Kenapa engkau …?” Segera menjaga jarak dari pemuda itu, Roh Agung berkulit gelap tersebut lekas berbalik menghadapnya dan memberikan tatapan tajam. “Meski sudah membuat kontrak dengan Uni Reyah, seharusnya engkau bukanlah makhluk astral! Kenapa bisa engkau tahu itu?!” tanyanya seraya menodongkan tombak tanah.


“Itu karena aku punya Kemahatahuan ….” Odo sekilas memalingkan pandangan. Menatap sosok-sosok yang mengintai mereka di balik kabut tebal, pemuda itu melebarkan senyum dengan mulut terbuka layaknya iblis. “Jika diriku menjawab seperti itu, apakah engkau akan percaya?” tanyanya seraya melirik tajam.


“Diriku tahu engkau ingin terlihat lebih superior, namun sekarang bukan waktu yang tepat! Kalau engkau ingin membuatnya bicara, lakukan itu nanti saja setelah kita sampai ….” Leviathan menyebarkan Mana miliknya ke sekitar. Sembari mengayunkan telunjuknya, makhluk primal tersebut menggunakan Azure El Mar untuk menyingkirkan kabut dan memperluas jarak pandang. “Meski mereka semua sangat lemah, bertarung sambil melindungi bukan keahlian ku,” tambah Putri Naga tersebut dengan nada cemas.


“Oke, untuk sekarang tidak usah ….” Odo lekas berjalan mendekati Leviathan, berhenti tersenyum dan menghela napas ringan. Menangkap tangan kanan Putri Naga yang berayun-ayun kencang menyebarkan Mana, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menyampaikan, “Sepertinya dia memang tidak tahu apa-apa soal itu. Kita tidak perlu melibatkannya dengan masalah itu.”


“Tu-Tunggu! Apa yang engkau⸻!”


Leviathan sedikit panik karena sirkulasi Mana miliknya tiba-tiba diganggu. Sekilas melihat sirkuit sihir merah merambat cepat melalui permukaan kulit, Putri Naga lekas menarik tangannya dari genggaman sang pemuda.


“Selesai.” Tanpa menoleh dan tetap menatap Leviathan, pemuda rambut hitam tersebut mulai mengakses Mana milik Putri Naga yang telah tersebar. Mencampurnya dengan kabut tebal dan melakukan sinkronisasi, lalu warna tabir putih pun perlahan berubah menjadi merah seperti darah. “Enyahlah kalian semua!” ujarnya dengan tegas, menunjuk ke arah hutan tanpa memalingkan pandangan.


Hanya dengan satu perintah tersebut, tatapan-tatapan tajam dari balik kabut tebal perlahan menghilang. Mematuhi perkataan sang pemuda, mereka pergi tanpa menyerang dan benar-benar tunduk dengan perintah tersebut.


“Apa … yang terjadi?” Leviathan tertegun.

__ADS_1


Bukan hanya Putri Naga saja yang tidak percaya dengan kejadian itu, namun semua yang menyaksikan juga kehabisan kata-kata. Tidak ada yang paham dengan apa yang pemuda itu lakukan, terlihat mengagumkan namun juga menakutkan di mata mereka.


“Aku hanya mengubah frekuensi Ether dan intensitasnya, supaya mereka menjauh.” Odo menghela napas ringan. Menunjukkan gelagat tidak peduli dan kembali berjalan, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menyampaikan, “Ini mirip seperti kebalikan dari zat feromon. Bukan menarik, namun menjauhkan mereka dari kita. Seharusnya itu juga bisa mengurangi efek samping yang diderita Vil.”


“Mengurangi efek samping?” Leviathan menoleh dengan bingung, menatap Vil dan mengamati perubahan yang dimaksud. Namun, hal tersebut sama sekali tidak terlihat dan Roh Agung tersebut masih tampak lemas. “Odo, sebaiknya kita memang harus istirahat sebentar. Kalau dilanjutkan, bisa saja dia tumbang di tengah jalan, loh.”


“Hmm?” Odo berhenti dan menoleh. Melihat Vil menahan napasnya karena tidak ingin menghirup Ether dari Lembah Kehidupan, pemuda rambut hitam tersebut lekas menghela napas dan berkata, “Hirup saja kabut merahnya. Seharusnya itu bisa menetralkan efek samping kelebihan Ether yang kau alami. Itu juga bisa membantu kau supaya bisa cepat beradaptasi.”


Vil menggelengkan kepala dengan kencang, tetap menahan napas dan mencegah Ether dengan intensitas tidak sesuai masuk ke dalam tubuhnya. Namun, hal tersebut tentu saja malah membuatnya tersiksa. Wajahnya berubah sedikit membiru, lalu tatapan menjadi semakin buyar.


“Uwaaah⸻!!”


Meskipun Siren tersebut berusaha menahan napas, tetap saja makhluk hidup sepertinya takkan bisa melakukan itu terlalu lama. Terutama karena organ tubuhnya lebih mirip manusia daripada duyung. Secara insting dirinya menarik napas dan memasukkan banyak Ether ke dalam tubuh, begitu pula kabut merah yang tercampur di udara.


Saat itu, Vil terkejut karena rasa sesak seperti asma perlahan menghilang. Meski masih sedikit terengah-engah, pernapasannya perlahan mulai membaik setelah dirinya menghirup kabut mereka dalam jumlah yang cukup banyak.


“Lihat, ‘kan? Itu meredakan efeknya?” ujar Odo seraya melempar senyum tipis. Segera berbalik dan lanjut berjalan, pemuda itu mengayunkan tangannya dan berkata, “Ayo! Kita harus cepat …! Nanti keburu malam.”


Meski tidak diberitahu secara langsung, mereka paham bahwa pemuda itu sengaja melakukannya. Baik itu membiarkan efek samping yang diderita Vil saat memasuki Lembah Kehidupan, mengeluarkan kecemasan Diana yang menumpuk, atau bahkan para Roh liar yang mengintai mereka dengan tatapan buas.


Membiarkan semua persoalan tersebut sampai pada titik tertentu, lalu melepaskannya untuk diselesaikan sekaligus. Benar-benar rapi tanpa diketahui oleh siapa pun.


Paling tidak, mereka tidak menyadari semua masalah tersebut sampai itu selesai


Dalam momen tersebut, satu kalimat membekas dalam benak mereka. Sebuah perkataan yang pemuda itu lontarkan kepada Diana, tentang Kemahatahuan dan kemampuan menakutkan dari konsep tersebut.


Berbeda dengan Kemahakuasaan yang terlihat sangat kuat secara jelas, konsep Kemahatahuan cenderung rapuh dan abstrak. Dampaknya tidak meninggalkan wujud fisik, tetapi pada saat yang sama dapat dirasakan dengan jelas.


Tergantung pada tiap individu, konsep tersebut terlihat berbeda berdasarkan persepsi masing-masing. Beberapa ada yang menganggapnya memiliki sifat manipulatif, pengecut, agung, mulia, menakutkan, atau bahkan menenangkan layaknya penyelamat.


Namun, dalam lingkup umum pengetahuan memang memiliki sifat dasar manipulatif. Mengendalikan orang lain berdasarkan informasi, lalu menuntun mereka menuju sasaran tertentu.


Mereka merasakan hal itu dengan sangat jelas, merasa dimanipulasi oleh kalimat-kalimat halus yang mengalir layaknya sungai. Tidak bisa disangkal karena benar, namun terasa busuk setelah ditinjau kembali.


Merasa sedang dibelenggu oleh pemuda itu, lalu dikendalikan untuk mencapai tujuan pribadinya. Beberapa ada yang tidak keberatan dengan hal tersebut, tetapi ada juga yang kesal dan tidak ingin mengakuinya.


Apapun yang mereka rasakan, hasilnya tetaplah sesuai dengan harapan Odo.


Menanamkan perasaan ragu, curiga, ataupun menerima keadaan. Dengan adanya berbagai macam perasaan seperti itu, mereka akan terus bergerak. Tidak patuh layaknya boneka, terus meragu dan mencari-cari kebenaran yang disembunyikan.


Kondisi tersebut dapat memicu potensi lain dari sebuah peristiwa, itulah yang dinamakan ketidakpastian. Memperluas jangkauan Aitisal Almaelumat, memperkaya pilihan yang dapat diambil karena beragam faktor tidak menentu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2