
Perlahan kelopak matanya terbuka, menatap langit dengan sorot kosong layaknya mayat hidup. Tidak lekas bangun, Odo Luke sekilas menoleh ke samping dan terpana. Merasakan sensasi halus dengan telapak tangannya.
“Leviathan …?” ujar sang pemuda dengan suara lemas. Ia balik menggenggam tangan Putri Naga, lalu segera bangun dan duduk di sebelahnya. Sembari menundukkan wajah, dirinya menahan napas sejenak dan bertanya, “Sudah berapa lama aku terbaring di sini?”
“Tidak perlu risau, diriku juga baru bangun,” jawab Leviathan, terdengar lebih ramah dan halus dari biasanya. Sembari duduk dengan kedua kaki terlipat ke samping, Putri Naga perlahan menoleh dan tersenyum hangat. Semakin erat menggenggam tangan Odo, perempuan rambut perak keabu-abuan itu baik bertanya, “Kenapa kamu membela saya?”
“Hmm?” Odo tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia juga tidak lekas menjawab, hanya termenung dengan mimik wajah muram. “Entahlah, mungkin karena aku mulai menyukaimu?” jawab sang pemuda, ia sekilas menoleh sinis dan tersenyum kaku penuh keraguan.
“Menyakitkan ….” Leviathan ikut menoleh, menatap mata pemuda itu dan kembali bertanya, “Mengapa kamu tidak bisa jujur pada dirimu sendiri?”
“Aku sudah jujur.” Sembari meluruskan kedua kaki ke depan, pemuda rambut hitam tersebut perlahan menaikkan tatapannya. Melihat langit biru di antara dinding kabut yang menjulang, lalu tersenyum ringan dan menjawab, “Ini melelahkan. Rasanya aku ingin tidur saja dan melupakan semuanya. Entah itu masalah yang harus aku selesaikan …, atau bahkan kewajiban ku sebagai seorang penyintas.”
“Ya, itu benar. Untuk bagian melelahkan saya setuju. Namun ….” Melepaskan genggaman, Leviathan segera bangun dan berdiri tegak. Ia menghadap sang pemuda dengan ekspresi tegas, lalu mengulurkan tangannya dan mengajak, “Cepat bangun! Kamu tidak boleh malas! Mari kita selesaikan masalah ini bersama!”
“Kau ini … Leviathan, ‘kan? Atau ….” Odo menatap datar, tidak mau bangun dan lekas bertanya, “Jangan-jangan kerasukan Lir?”
“Seaneh itukah? Sampai-sampai kamu⸻?! Ah, sudahlah!” Leviathan mengerutkan kening. Segera meraih tangan Odo, ia memaksa pemuda itu berdiri sembari meminta, “Tolong jangan bercanda! Ayo, cepat bangun dan lakukan sesuatu! Kamu turun kemari bukan untuk tidur, ‘kan?!”
“Kenapa tiba-tiba semangat sekali? Tidak seperti biasanya ….” Pada akhirnya Odo mau bangun. Berdiri dengan postur tubuh sedikit membungkuk, pemuda rambut hitam itu memberikan tatapan heran sembari memastikan, “Sebelum kita keluar, apakah Lir menuntut sesuatu?”
“Tidak ada!” Leviathan segera melepaskan tangan pemuda itu. Terlihat cemas, lalu memalingkan wajah dan enggan menatap. “Sama sekali tidak ada,” tambahnya dengan suara lirih, seperti terputus di akhir kalimat.
“Ah, beneran dituntut rupanya!” Odo langsung menyadari itu. Mengangkat tangan dan menunjuk, ia lekas mendekatkan wajah dan bertanya, “Apa yang dia minta?”
“Saya bilang tidak ada! Jangan bendel, deh!” bentak Leviathan, ia lekas menodong Odo dan melangkah mundur. Segera berpaling dan menjauh, Putri Naga dengan suara gemetar kembali membentak, “Cepat bangun! Selesaikan keperluanmu!”
“Sudah aku lakukan,” balas Odo dengan singkat. Ia menjentikkan jari, lalu memunculkan sebuah Kristal Prisma Merah yang melayang di atas telapak tangannya.
“Itu …?” Leviathan segera menoleh, lalu membuka mata lebar-lebar. Tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat, ingin meminta sesuatu namun terlalu takut untuk mengatakannya. “Itu yang kamu cari-cari?” tanya perempuan bergaun putih tersebut. Daripada jujur dan meminta, ia lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu.
“Bukan ini yang aku cari ….” Odo meletakkan Kristal Prisma Merah itu ke dalam mulut, lalu menelannya bulat-bulat. Setelah bersendawa ringan, ia segera menatap ke arah dinding kabut sembari berkata, “Yang aku inginkan adalah Tahawul Alwaqie. Seharusnya itu ada di dalam Core Realm, berfungsi untuk menstabilkan Dunia Astral. Namun⸻!”
“Kode Khusus itu malah menyatu dengan Lir, membuatnya terlahir kembali sebagai Jiwa Buatan yang lengkap,” sela Leviathan. Ia segera berbalik, melangkah mendekat dan lekas menegaskan, “Seorang individu utuh! Memiliki kehendak, hati, dan pikiran yang nyata …!”
“Apa yang dia minta?” tanya Odo dengan tegas. Sedikit memiringkan kepala, ia perlahan melebarkan senyum kecut dan meluruskan, “Seharusnya kau tahu, kita tidak punya waktu untuk itu. Apapun yang dia minta ….”
“Saya paham, Odo …!” Leviathan kembali menjauh, melangkah mundur dan memalingkan wajah dengan murung. “Kita tidak punya waktu,” tambahnya dengan sedih.
“Katakan! Kalau hanya mendengarkan, aku rasa tidak masalah ….”
Leviathan sempat terkejut. Ia menoleh dengan wajah bingung, tidak menduga perkataan itu akan keluar dari mulut Odo. Kembali mendekat dan lekas meraih kedua tangan sang pemuda, Putri Naga menatap matanya dari dekat.
“Anak itu, Lir hanya ingin memanifestasikan dirinya ke dunia!” Leviathan menggenggam tangan pemuda itu lebih erat, semakin mendekatkan wajahnya dan langsung meminta, “Tolong buatkan tubuh untuknya …, supaya ia bisa berjalan dan tertawa seperti kita. Di tempat ini!”
“Apakah wajah ini terlihat tertawa?” Odo memperlihatkan mimik wajah datar, menatap kosong dan lekas menyampaikan, “Kau pikir itu akan menyenangkan? Membiarkan makhluk sepertinya berkeliaran dengan wadah daging dan tulang?”
“Tapi⸻!”
“Baiklah! Baiklah!!” Sebelum Leviathan memberikan alasan, Odo langsung menyela dan mengangguk kasar. Paham masalah itu takkan selesai dengan pembicaraan semata, ia lekas menunjuk ke arah dinding kabut sembari berkata, “Kita akan urus itu setelah masalah satu ini selesai! Aku perlu menginstal tatanan Dunia Astral yang baru, menyesuaikan ekosistem dan tingkat dimensi! Setelah ini selesai, aku juga harus mengurus masalah di Rockfield!”
Odo segera menyingkirkan tangan perempuan itu, melangkah mundur dan menghela napas panjang. Sejenak terdiam, ia mulai menundukkan wajah dan berjalan kembali menuju bagian tengah altar. Berdiri di sana dengan wajah muram, lalu memuntahkan cairan merah dari dalam tubuh.
Itu bukanlah darah, melainkan zat cair dari kristal yang sebelumnya ditelan Odo. Cairan itu perlahan mulai memenuhi altar, mengalir mengikuti susunan Rune dan Struktur Sihir yang terukir pada lantai.
“A-Apa itu?” tanya Leviathan dengan cemas. Ia melangkah mundur sampai keluar dari lingkaran altar, sedikit takut saat melihat cairan merah yang berdetak layaknya jantung makhluk hidup.
Odo berhenti memuntahkan zat merah kental tersebut, lalu menoleh dengan perlahan sembari menjawab, “Ekstrak Batu Filsuf, sumber kehidupan yang mampu menghasilkan energi setara dengan pembangkit nuklir ….!” Setelah menyela mulut dengan lengan kemeja, ia segera mengentakkan kaki ke atas altar dan mengaktifkannya.
“Namun, tentu saja ini lebih bersih dan mudah diolah,” lanjut pemuda itu seraya membentuk mudra dengan kedua tangan. Bentuk Harmony untuk menyelaraskan energi menuju satu titik.
Cairan yang mengalir memenuhi altar mulai berubah warna, dari merah gelap menjadi biru pirus. Memancarkan cahaya redup, semakin terang dan perlahan mengeluarkan aroma manis seperti apel busuk.
Dari dalam cairan, partikel cahaya mulai bermunculan. Berkilau keemasan dalam tempat kelabu, melayang-layang di udara layaknya kumpulan kunang-kunang.
__ADS_1
Saat Odo berhenti membentuk Mudra, partikel-partikel cahaya itu mulai berkumpul mengitari tubuhnya. Layaknya aliran sungai yang bermuara di laut, membentuk puluhan cabang dan berakhir pada satu titik.
Di mata Leviathan, itu terlihat seperti pohon tua dengan Odo sebagai batang utama. Berkilau indah dalam kabut tebal. Namun, pada saat yang sama tampak sedikit menakutkan. Sebab dirinya tahu bahwa pemuda itu sudah terhubung dengan Core Realm.
“Proses stabilisasi dimulai …!”
Odo perlahan merentangkan kedua tangannya. Pada saat bersamaan, dinding kabut seketika menghilang dan pandangan menjadi terbuka. Namun, pemandangan yang tampak bukanlah sesuatu yang indah.
Tempat itu dipenuhi puing-puing peradaban. Ada beberapa bangunan yang masih berdiri, hampir rubuh dan tampak sangat ringkih.
Sejauh mata memandang, tidak ada tanda-tanda kehidupan kecuali mereka berdua. Sunyi senyap, dipenuhi kabut tipis yang masih tersisa.
Kota terbengkalai⸻ Setelah dinding kabut menghilang, itulah kesan pertama Leviathan saat melihat tempat tersebut.
Menatap lurus ke depan, dirinya kembali menemukan sebuah dinding. Bukan kabut ataupun penghalang optik, melainkan permukaan logam hitam yang menjulang tinggi layaknya tembok raksasa.
“Jadi ….” Segera menoleh ke arah sang pemuda, Leviathan menatap penasaran dan bertanya, “Selama ini kita berada di tengah kota?”
“Ini bukan kota, melainkan salah satu bahtera, yang terlantar ….” Odo berhenti merentangkan tangan. Pada saat bersamaan, kumpulan partikel cahaya mulai membentuk sebuah layar di hadapan pemuda itu. Menyusun parameter dengan lusinan diagram, lalu menyajikan ratusan informasi dan data layaknya monitor komputer. “Mari kita mulai,” ujarnya seraya menyentuh layar.
Apa yang pertama kali Odo lakukan adalah menggeser sesuatu, lalu membuka akses khusus dan memasukkan kode. Saat pemuda itu sibuk mengutak-atik susunan, tiba-tiba lantai tempat mereka berdiri berguncang kencang.
Suara retakan terdengar, bangunan-bangunan tua pun runtuh satu persatu karena guncangan. Pada tembok raksasa yang mengelilingi tempat tersebut, asap debu mulai mengepul bersama lengkingan suara gesekan besi.
Layaknya sebuah lift raksasa, kota terbengkalai mulai terangkat naik secara vertikal. Itu bergerak cukup cepat sampai-sampai Odo dan Leviathan bisa merasakan tekanannnya.
Saat kota yang luasnya hampir mencapai empat puluh kilometer persegi itu sampai di puncak, lengkingan suara gesekan besi kembali terdengar. Mekanisme di bawah tempat tersebut terhenti, lalu suara kunci diputar pun mengikuti setelahnya. Tanda bahwa posisi kota tua itu telah dikunci, supaya tidak jatuh karena tekanan dari atas ataupun gravitasi.
Altar tempat mereka berdiri tiba-tiba bergetar. Merasa ada yang janggal, Leviathan segera melangkah masuk ke dalam lingkaran struktur. Tepat setelah bunyi logam bergesekan terdengar, tempat itu terangkat sampai puluhan meter dan berdiri tegak layaknya sebuah menara pengawas.
Sisa-sisa kabut di atas dinding raksasa perlahan pudar tertiup angin. Membuat jarak pandang menjadi semakin luas, sampai Lembah Kehidupan pun mulai terlihat jelas di bawah. Tidak berkabut, sepenuhnya tampak hijau terkena paparan sinar mentari.
Dari atas menara altar, mereka berdua terpana melihat pemandangan itu. Tampak indah dari atas, begitu hijau dan asri. Membawa ketenangan ke dalam hati mereka, meskipun itu hanya sekejap.
Sampai di depan menara altar, mereka tidak segera memanggil sang pemuda. Hanya mengangkat wajah seraya menatap puncak. Tampak cemas dan takut untuk memastikan.
Vil, Reyah, Alyssum, Diana, Laura, dan Magda⸻
Merasakan kehadiran mereka, Odo Luke mulai melangkahkan kaki keluar dari pusat altar. Berdiri di ujung menara, menatap mereka tanpa berkata apa-apa.
“Sepertinya kalian sudah lama menunggu ….” Partikel cahaya keemasan berkumpul di sekitar pemuda itu, menyelimuti tubuhnya layaknya sebuah jubah. “Lihatlah dari sana, momen ketika dunia ini ditata ulang! Mahdath! Diubah menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelumnya!”
Pada detik itu juga, Realm tersebut tidak lagi menjadi Dunia Astral yang dulu. Berubah menjadi sesuatu yang berbeda, dibanjiri lautan informasi layaknya diterpa badai raksasa.
Sesuatu yang pertama kali diambil dari para Roh adalah hakikat, intisari mereka sebagai makhluk astral. Wujud mereka sepenuhnya ditulis ulang, lalu disusun kembali menjadi sesuatu yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Dalam proses tersebut, tubuh para Roh mulai diselimuti partikel cahaya keemasan. Dibungkus rapat tanpa pengecualian, lalu mulai diberikan wujud fisik layaknya makhluk mortal.
Bahkan, Ifrit yang masih berada di Lembah Api pun tidak luput. Ia dengan cepat ditelan oleh miliaran partikel keemasan yang terlihat seperti kunang-kunang, lalu dibungkus tanpa bisa kabur ataupun melawan.
Tanpa kompromi sama sekali⸻
Pada saat yang hampir bersamaan, seluruh makhluk astral yang sedang berada di Dunia Nyata dipulangkan secara paksa. Dipindahkan menuju tempat asal mereka, lalu langsung diselimuti partikel keemasan dan dibungkus rapat layaknya kepompong. Tanpa tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Proses perombakan Aeons dan Daath itu hampir mirip seperti ritual yang pernah Odo lakukan untuk Vil, namun lebih kuat karena tidak memiliki batasan khusus.
Sebuah bekal untuk seluruh makhluk astral⸻ Sepenuhnya menjadi hadiah untuk mereka, terlahir kembali dengan wujud dan susunan kehidupan yang berbeda.
Dalam beberapa detik, partikel keemasan yang melekat pada tubuh mereka mulai mengeras. Mengkristal dan membungkus makhluk astral layaknya cangkang kerang. Tidak bisa dihancurkan dari luar maupun dalam, berfungsi untuk melindungi mereka sampai proses perombakan dunia selesai.
Pada waktu yang hampir bersamaan, gempa terjadi di mana-mana. Gunung meletus, air laut surut dan tsunami pun menyusul. Daratan terbelah, pepohonan terbang tertiup topan, dan langit pun berubah warna menjadi merah darah.
Momen itu tampak seperti kiamat untuk Dunia Astral, menjadi tanda berakhirnya suatu zaman. Daratan terangkat dari laut, gunung dan bukit tenggelam, dan bangunan-bangunan aneh pun bermunculan dari dalam tanah.
__ADS_1
Menara, gedung berkubah, kastel, istana, kanal, dan rumah pemukiman⸻
Seolah-olah itu semua sudah ada sejak lama, pegunungan dan perbukitan yang tenggelam ke dalam tanah mulai memunculkan hasil peradaban tersebut. Tertutup tanah dan lumut, namun tampak kokoh dengan gaya arsitektur Romanesque. Terbuat dari bebatuan marmer dan kapur, kokoh tanpa retak sedikitpun meski muncul di tengah gempa.
Tidak berakhir sampai di sana, lusinan bebatuan raksasa pun terangkat ke udara. Menyatu menjadi daratan tunggal yang melayang layaknya pulau, diambil dari lahan yang sebelumnya adalah hutan.
Sisa-sisa bebatuan raksasa di atas pulau melayang mulai retak, hancur meledak dan berubah menjadi gedung-gedung berkubah nan indah. Jalan utama terbentuk dari sisa bebatuan yang berserakan, lalu menciptakan kompleks rapi layaknya sebuah kota utuh.
Dari proses perombakan dunia itu, ada beberapa tempat yang tersisa seperti Pesisir Laut Utara, Pohon Suci, Hutan di Lembah Kehidupan, dan beberapa gunung di Lembah Api.
Tetapi, hampir seluruh ekosistem di sekitarnya telah lenyap dan digantikan sesuatu yang baru. Hasil peradaban yang sebelumnya tidak ada, berupa bangunan-bangunan dari marmer dan kapur.
Melihat peristiwa itu, Laura dan Magda langsung gemetar ketakutan dan memucat. Mereka bukanlah makhluk astral, karena itu partikel keemasan tidak membungkus mereka dalam cangkang.
Kedua Elf itu berlari menuju menara altar, lalu berdiri di dekat sana dengan mimik wajah cemas. Saling menatap, tidak tahu harus berbuat apa.
“Apa-apaan ini? Kita … sedang menyaksikan kiamat?”
Magda langsung duduk meringkuk, melipat kedua kakinya dan gemetar. Melihat pulau melayang lain mulai tercipta dan ombak raksasa muncul di ujung cakrawala, mulutnya perlahan terbuka tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi.
“Ah, ini memang sudah kelewatan ….” Laura ikut duduk meringkuk. Sembari tersenyum kaku dengan wajah pucat, Elf rambut pirang tersebut lanjut berkata, “Kalau ada yang seperti ini, bukankah semua usaha kita tidak ada artinya?”
“Itu tidak benar!” suara Odo tiba-tiba bergema di dalam kepala mereka berdua. Secara spontan, Laura dan Magda pun lekas mendongak. Melihat ke arah puncak menara altar dengan ekspresi bingung. “Mulai sekarang, kalian semua adalah rakyatku, keluargaku, dan penghuni kerajaan ini!” tambah sang pemuda dengan penuh semangat.
Mereka tidak bisa tersenyum saat mendengar itu. Baik Magda ataupun Laura, mereka berdua hanya memperlihatkan mimik wajah cemas tanpa mau membalas perkataan sang pemuda. Merasa dipermainkan, terlihat kesal dan pasrah dengan keadaan.
Setengah jam berlalu, proses perombakan Realm pun berakhir. Pada saat yang hampir bersamaan, bungkus keemasan yang menyelimuti para Roh rusak dan pecah layaknya cangkang tua.
Seperti ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, mereka terlahir kembali menjadi sesuatu yang berbeda. Memiliki wujud fisik yang kukuh layaknya mortal, namun tetap menyisakan karakteristik sebagai makhluk astral.
Dengan kata lain, Odo menerapkan penyetaraan terhadap seluruh makhluk astral. Menghapus sistem hierarki berdasarkan teritorial ekosistem, lalu merombak karakteristik Realm supaya tidak memihak Roh tertentu.
Sebagai ganti perubahan itu, dirinya menerapkan batasan untuk mengikat seluruh Roh. Ketergantungan diganti menjadi kesetiaan mutlak, lalu semua batas teritorial sepenuhnya disatukan dalam satu kekuasaan.
Dua ribu lima ratus tiga puluh tujuh makhluk astral⸻ Itulah jumlah yang tercatat dalam Core Realm setelah proses perombakan selesai.
Tidak ada hierarki berdasarkan komposisi Daath maupun Aeons, setara layaknya manusia mengidentifikasi manusia lain. Hanya dibedakan berdasarkan status sosial, sebuah jabatan yang diberikan kepada mereka setelah kerajaan berdiri nanti.
“Untuk seluruh entitas astral yang tersisa …!” suara Odo menggema ke penjuru tempat. Terdengar sangat jelas, namun tidak nyaring sama sekali. “Inilah dunia baru kalian⸻! Tanah Perbatasan, daratan tunggal yang berlayar dalam laut kehampaan!” tambah pemuda itu dengan penuh semangat.
Saat mendengar suaranya, hampir semua Roh di Dunia Astral kebingungan. Tidak paham dengan apa yang terjadi, hanya bisa menoleh ke sana kemari melihat tempat mereka telah berubah secara drastis.
Namun, seluruh makhluk astral tahu bahwa perubahan itu bukanlah hal yang buruk. Dalam jiwa telah terukir sebuah ketetapan, takdir di mana bangsa mereka akan dipimpin oleh seorang pemuda dari daratan utama.
Sekaranglah waktunya⸻ Momen ketika era baru telah dimulai, berdiri di depan pintu persimpangan takdir untuk menentukan nasib Dunia Astral.
\==================================
Open Commission :
Terima kasih atas seluruh dukungan nya, para Penikmat.
Terima kasih juga atas komentar, vote, dan share kalian.
Berhubung sudah masuk bulan Ramadhan, Author membuka Commission “Ilustrasi”.
Untuk sample bisa dilihat pada link di bawah ;
Pembayaran bisa lewat OVO dan Gopay.
Terima kasih.
__ADS_1