
Pedang dan tombak dinaikkan, lalu barisan pasukan dengan perisai memblokade jalan masuk. Hanya dengan kedatangan pemimpin mereka, Argo Mylta, semangat dan koordinasi mereka seketika meningkat drastis. Membuat alur perlawanan terhadap para monster berpihak kepada mereka.
Layaknya perkataan orang-orang di masa lampau, suara tuhan yang membisikkan takdir sukar sampai ke telinga umatnya. Namun, ada beberapa di antara mereka yang bisa mendengarnya dan membimbing semua orang menuju tujuan yang tepat. Sejak dulu sampai sekarang, beberapa orang itu disebut dengan Pemimpin. Segelintir individu yang diberkati karisma dan wibawa untuk menyatukan semua orang.
“Bersiap!!”
Argo memasang kuda-kuda, mengangkat pedangnya ke depan dan memancarkan aura intimidasi kepada para monster. Sembari berteriak, aura kemerahan mulai keluar dari tubuhnya dan menyelimuti satu-satunya senjata yang digenggam. Mana kemerahan tersebut perlahan mengalami perubahan sifat, menjadi kemilau merah gelap yang berkobar menyelimuti mata pedang tersebut dengan bara beterbangan di sekitarnya.
Gerbang yang sebelumnya separuh terbuka perlahan dibuka sepenuhnya, membuat rute bagi para Gorteah masuk ke dalam Kota Mylta. Barisan formasi Testudo dibubarkan pada saat itu juga, lalu para prajurit serta penjaga yang berada di luar segera berlari ke dalam kota.
Tanpa ragu dan menunggu perintah lebih jelas dari sang pemimpin, pasukan tersebut segera pergi ke menara pengawas dimana alat sihir pertahan udara berada. Untuk menghalau para Hatuibwari yang telah sampai di langit Mylta.
Ditinggal seorang diri menghadapi para Gorteah, Argo sama sekali tidak gentar dan malai menyeringai lebar. Semangat juang menyala bagaikan pedang sihirnya, menyala panas dan mengingatkan pria tua tersebut dengan medan perang saat dirinya masih masa muda.
“Lari! Pergi ke menara dan persiapan pertahanan udara! Jangan biarkan para Hatuibwari turun! Di sini biar aku yang menghalau Gorteah!”
Perintah tegas itu memberikan dorongan bagi orang-orang yang melayaninya, mereka yang sebelumnya dibuat putus asa karena kedatangan para monster seketika berteriak penuh semangat untuk menjalankan perintah tersebut. Di bawa pemimpin yang tegas dan kuat, keraguan dan rasa takut seketika sirna. Dalam langkah tegas dan penuh keyakinan, setiap orang di bawah perintah Argo bergerak.
Jumlah menara pengawas yang berada di dekat gerbang utama hanyalah lima buah, terpencar sampai di dekat kawasan bangunan milik sipil di jalan utama. Tingginya kisaran 12 meter, terbuat dari kayu dan fondasi terdiri dari batu bata dan perekat dari olahan kapur.
Mereka memanjat menara yang ada di dekat dinding, mengambil persediaan kristal dari kotak-kotak senjata yang akan dijadikan sumber energi alat sihir pertahanan udara di puncak. Senjata yang ada di atas menara itu sendiri mirip dengan lampu sorot besar. Namun apa yang dipancarkan bukanlah cahaya, melainkan kristal sihir yang dilontarkan sebagai proyektil melaui hasil kinetik dari proses pengolahan energi melalui sirkuit sihir.
Secara fungsi, senjata tersebut memiliki dua tempat untuk pemasangan kristal sihir. Satu berada di kotak pada bagian bawah senjata, lalu satunya lagi di belakang selongsong alat sihir tersebut sebagai tempat untuk memasukkan proyektil.
Senjata tidak memiliki pelatuk untuk menembak, namun sebagai gantinya itu bisa dikendalikan dengan cara menyalurkan Mana dalam frekuensi tertentu untuk mengatur kekuatan tembakan. Karena hal tersebut, hanya mereka yang bisa melakukan pengendalian Mana saja yang bisa menggunakannya.
Dalam satu menara terdapat tiga orang, memiliki tugas masing seperti mengganti kristal sihir, menyuplai Mana, dan membidik.
“Tahan dulu dan tetap bidik mereka! Biarkan lebih dekat lagi! Jangan sampai para monster itu tahu kita punya senjata anti udara!”
Setelah para prajurit sampai di atas menara, mereka dengan sabar menunggu. Berusaha tetap tenang dan mengamati pergerakan para Hatuibwari di udara yang tampak waspada. Dalam suasana tegang, masing-masing dari mereka berusaha untuk tidak membuat kesalahan dalam momen krusial yang ada.
Bagi mereka yang telah mendapat pendidikan dan menjadi prajurit kota, tentunya pengetahuan tentang monster-monster dan kelemahannya telah mereka pelajari. Salah satunya adalah Hatuibwari, jenis monster yang dekat dengan ras naga langit.
Karena bentuk sayap mereka yang berupa selaput, Hatuibwari memiliki mobilitas fleksibel saat terbang. Mereka terbang dengan mengepakkan sayap dan memanfaatkan otot-otot untuk melakukan manuver. Karena itulah, sekali mereka tahu bisa terkena serangan dari darat, para Hatuibwari akan waspada dan menjaga jarak dari menara.
Salah satu Hatuibwari mulai menurunkan ketinggian sampai beberapa belas meter dari permukaan tanah, masih mengepakkan sayap layaknya seekor kelelawar. Wajahnya seperti manusia, namun berkulit biru dan memiliki empat mata. Bentuk tersebut membuat salah satu prajurit yang bertugas membidik sempat gemetar, mengarahkan lurus ujung selongsong senjata sihir ke arah Hatuibwari tersebut.
Merasakan nafsu membunuh, Hatuibwari yang perlahan melayang turun tersebut perlahan menoleh ke arahnya. Menatap dengan empat matanya yang bisa bergerak ke arah yang berbeda-beda.
“Suplai Mana ke meriam,” perintah prajurit tersebut kepada rekannya. Dengan gemetar, ia benar-benar jatuh dalam rasa takut.
“Ta-Tapi …, yang lain belum bersiap. Kita harus menghabisi mereka sekaligus!”
“Monster itu melihat ke arah kita!”
Suara mereka membuat Hatuibwari yang menurunkan ketinggian mulai mendekat ke arah mereka, keempat matanya pun terpaku lurus dan mulai meringkik kencang sampai membuat gelombang kejut ke arah ketika prajurit di salah satu menara tersebut. Itu membuat menara berguncang, namun tidak sampai roboh.
__ADS_1
Kepanikan semakin menguasai mereka. Tanpa menunggu aba-aba yang lain dan bergerak secara refleks, prajurit yang bertugas untuk menyuplai Mana segera memegang kotak besi berisi susunan kristal dan mengaktifkan senjata sihir. Proses pengisian tenaga seketika terjadi, mengolah energi panas dari kristal-kristal di dalam kotak dan menyalurkannya ke dalam meriam sihir berbentuk lampu sorot.
Panas yang terkumpul diubah menjadi energi kinetik, mengaktifkan kristal yang berada di dalam meriam dan menembakkannya sebagai proyektil. Layaknya senapan gentel berkaliber besar, kristal yang melesat meledak di udara dan menyebar luas.
Serpihan-serpihan proyektil panas menghujani Hatuibwari, menancap pada sayap dan tubuhnya dengan kencang. Kurang dalam hitungan dua detik, serpihan kristal yang menancap mulai bercahaya dan menyerap Mana sang monster sampai kelebihan beban. Sebelum kedua monster lain bereaksi, kristal yang menancap meledak dan menghancurkan tubuh Hatuibwari tersebut sampai berkeping-keping.
Kepala putus dan terlempar ke bawah, salah satu sayap jatuh ke atas menara dan tubuhnya berserakan ke genting serta gang bangunan di dekat menara. Meski tidak terlalu besar, ledakan tersebut terjadi pada bagian kristal yang menancap ke dalam tubuh Hatuibwari. Karena itulah dampak yang diberikan sangat fatal.
Para penduduk dan pedagang yang bersembunyi di dalam bangunan-bangunan sempat terkejut mendengar suara keras tersebut. Sebagian dari mereka membuka sempit gorden, lalu mengintip keluar jendela dan seketika gemetar saat melihat sekitar jalan utama dipenuhi warna merah daging serta darah.
Kedua Hatuibwari yang masih mengepakkan sayap di udara segera menaikkan ketinggian tepat setelah salah satu kawanan mereka terbunuh, paham bahwa mangsa mereka memiliki cara untuk melawan balik. Tetapi sebelum terbang lebih tinggi, para prajurit yang berada di atas empat menara lain segera mengaktifkan meriam sihir dan menembakkan proyektil kristal.
Itu sedikit terlambat. Proyektil-proyektil yang melesat ke arah kedua Hatuibwari tersebut tidak mengenai sasaran, lalu malah mengenai bangunan di seberang lintasan tembak. Itu menancap di dinding, mengenai jendela dan masuk ke dalam sampai menusuk orang yang berlindung di dalam bangunan.
Tak memiliki toleran dan hanya berfungsi sebagaimana mestinya, serpihan kristal yang menancap di tubuh penduduk yang bersembunyi seketika menyerap Mana miliknya dan meledak. Menghancurkan tubuh beserta ruangan tempatnya bersembunyi.
Jeritan kertas seorang wanita mengikuti suara ledakan, membuat para prajurit yang berada di atas menara menoleh ke sumber suara dan menatap penuh rasa bersalah. Dari bangunan lantai dua yang jendala dan dindingnya hancur, mereka melihat bagian tubuh berceceran dan seorang wanita terduduk lemas di dekat lantai yang berlubang.
Korban salah sasaran karena tindakan mereka membuat semangat para prajurit seketika runtuh, mereka pada saat itu paham arti dari hal merugikan bertarung di dalam pemukiman yang pernah dipelajari. Bagi yang tidak memiliki pengalaman bertarung hidup mati, kesalahan tersebut membuat mereka jatuh dalam rasa berdosa.
Hatuibwari tidak peduli dengan perasaan mereka dan hanya melihat itu sebagai kesempatan, kedua ekor yang masih tersisa segera bermanuver di udara untuk mengumpulkan momentum dan menukik tajam. Satu ekor berniat menghancurkan menara dengan tubrukan, lalu satu ekornya lagi mengincar permukaan untuk menandai Kota Mylta.
Meski sadar salah satu Hatuibwari hendak menyerang menara yang berhasil membunuh kawan mereka, para prajurit di atas menara tidak bisa melakukan banyak hal. Ruang gerak yang sempit, waktu pengisian ulang meriam sihir yang lama, senjata jarak dengan jangkauan terbatas, dan mental yang runtuh. Semua itu membuat mereka terdiam pucat, hanya menatap pasrah monster tersebut melesat kencang ke arah mereka dari depan.
Kepala terlempar ke atas menara, lalu tubuhnya melayang ke sampingnya dan jatuh di atas salah satu genting bangunan. Sedangkan untuk pedang yang memotong Hatuibwari malah terus berputar tidak wajar ke udara, dengan jalur melengkuk ke langit dan terus meninggi.
Para prajurit yang berada di menara yang berbeda segera melihat ke bawah, mencari orang yang telah melemparkan pedang tersebut. Lega, itulah yang mereka rasakan saat melihat sosok tersebut.
Ia adalah Putra Tunggal Keluarga Luke, Odo.
Pemuda itu datang dengan berjalan santai, tampak begitu tenang dan hanya menatap datar ke arah kekacauan yang ada di hadapan mata. Perlahan melihat sekeliling, pemuda rambut hitam itu hanya mengamati dengan dingin.
Meski paham telah jatuh korban dari pendidik sipil, dirinya tidak tampak kesal atau sedih. Dirinya juga tidak marah, meski tahu kalau pasukan di atas menara membuat kesalahan dengan menggunakan senjata ledakan di dalam kota tanpa mempertimbangkan penduduk yang mungkin masih ada di dalam bangunan.
“Ah, rasanya ini juga perlu masuk agenda. Para prajurit Mylta sangat kurang pengalaman karena kebanyakan masih muda.” Odo memalingkan pandangan ke arah menara, menyipitkan tatapan dan dengan resah bergumam, “Lagi pula, bukannya itu senjata yang pernah dibicarakan Canna dan Luna? Pengembangan senjata anti-udara yang diminta oleh pihak pemerintahan kota? Bukannya itu malah mirip shotgun dengan efek ledakan? Meski sederhana, itu efektif untuk melawan dengan monster yang kaya dengan Mana.”
Odo berhenti melangkah, mengulurkan tangan kanannya ke langit dan menunggu. Kurang dalam lima detik, pedang yang sebelumnya berputar sangat tinggi ke udara jatuh ke arahnya. Ditangkap dengan sempurna olehnya, seakan memang semua itu telah diperhitungkan sebelum dilempar.
Mengangkat pedang Gladius setinggi dada, mata pedang yang Odo pegang sekilas mengeluarkan Rune merah pada permukaannya. Bentuknya sama dengan Rune yang ada pada tombak Schöningen milik Gariadin, memiliki fungsi untuk mengunci target dan kembali pada pemiliknya sendiri.
Sedikit berbeda dengan cara Gariadin menggunakan jenis Rune tersebut, Odo tidak perlu menandai target atau membuat Rune penerima untuk membuat senjata kembali ke tangannya. Hanya dengan menggunakan haknya sebagai pemilik singgasana ilahi yang telah terbentuk di Kota Mylta, Odo bisa menandai siapa saja yang ada dalam jangkauan kekuasan ilahinya.
“Tuan Odo!! Satu lagi! Tolong jangan biarkan Hatuibwari itu mendarat di tanah!!”
“Aku rasa percuma. Cara Hatuibwari menandai kota bukan dengan mendarat, namun darah dan cairan mereka. Saat kalian membunuh satu ekor di sini dan tidak segera membuang mayatnya jauh-jauh, itu sudah terlambat,” gumam Odo dengan mimik wajah datar.
Ia perlahan menoleh ke arah satu Hatuibwari yang tersisa. Tidak segera mendarat di permukaan tanah dan hanya terbang pada ketinggian beberapa meter dari permukaan tanah, Hatuibwari itu hanya terdiam di tempat.
__ADS_1
Layaknya menatap sosok yang telah memanggilnya datang, Hatuibwari tersebut terperangah dan tampak bingung menatap pemuda tersebut. Seakan bertanya-tanya mengapa sosok yang memanggilnya malah manusia dan bukan sejenisnya.
Odo perlahan memasang senyum kecil, lalu sembari memalingkan pandangan ia kembali bergumam, “Ah, aku paham apa yang kau rasakan kok. Rasanya memang menyebalkan, bukan? Ditipu dengan cara seperti ini? Di Dunia Sebelumnya ini disebut panggilan palsu.”
Pemuda rambut hitam tersebut memasang kuda-kuda dan melebarkan kaki kanannya ke belakang, berancang-ancang untuk melempar pedang. Sembari mengaktifkan Rune dan tulisan kuno menyela terang pada permukaan bilah pedang, pemuda itu langsung melemparkannya secara horizontal ke depan. Itu berputar kencang dengan sangat rapi, melengkuk ke atas dengan akurat dan langsung menghujam kepala Hatuibwari tersebut. Mati di tempat tanpa membiarkan monster itu untuk bereaksi.
Tubuhnya jatuh ke tanah tanpa kejang-kejang, lalu darahnya pun mengalir membasahi permukaan jalan. Mengulurkan tangan kanan ke arah monster tersebut, pedang yang tertancap kembali kepada Odo.
Setelah mengayunkan pedang untuk menyingkirkan darah pada bilah, pemuda rambut hitam tersebut memasukkan senjatanya ke dalam dimensi penyimpanan pada sarung tangan. Menatap ke depan dan menggunakan Penglihatan Jiwa, dirinya mengamati mereka yang berada di dekat gerbang utama dan sedang menghalau para Gorteah.
Di sana bukan hanya Argo yang menghalau para monster, ada juga Lisia, Iitla dan para prajurit dari barak yang datang membantu. Meski telat, keunggulan dalam hal jumlah membuat mereka bisa menang dengan singkat dan membasmi para Gorteah yang tersisa.
“Hmm, kurasa sampai di sini saja. Meski hasilnya lebih buruk dari perkiraan ….”
Odo sejenak terdiam, memejamkan mata dan mulai menyusun kalimat untuk memberikan beralasan. Ia paham pasti setelah ini Lisia akan memarahinya, lalu meminta penjelasan kenapa bisa penyerangan monster berbeda dengan rencana yang telah disepakati.
.
.
.
.
Berselimut api, menyala terang dan menyebarkan bara panas di sekitar bilahnya. Pada lini depan pasukan yang menghalau kawanan Gorteah, Sang Walikota, Agro Mylta mengayunkan pedangnya ke arah para monster. Pedang berselimut sihir api dari perubahan sifat tersebut bersuhu sekitar 330°C, sebuah panas yang cukup untuk melelehkan timbal sekalipun.
Meski senjata yang dikombinasikan dengan sihir tersebut tampak begitu kuat, hal tersebut tak ada artinya jika tidak mengenai sasaran. Hal seperti itu dialami oleh Argo. Meski ia memasang kuda-kuda dan menebas secara akurat, serangannya sama sekali tidak bisa mengenai para Gorteah yang bergerak lincah.
Seakan paham dengan ancaman pedang milik pria tua tersebut, para monster menjaga jarak dan melewatinya melalui celah setelah tebasan. Sama sekali tidak berniat untuk menyerang Argo, para Gorteah tersebut sudah menentukan para prajurit lain sebagai sasaran mereka.
Di bagian dalam gerbang utama, pertempuran melawan para monster cerdik itu terjadi. Jumlah mereka memang telah berkurang banyak sampai hanya tersisa tujuh ekor. Namun dalam berkurangnya jumlah tersebut, mereka belajar dengan cepat dan bisa tahu pola serangan yang digunakan untuk membunuh kawanan mereka.
Para Gorteah hanya menghindari Agro, berlari menuju kerumunan prajurit dan menjadi mereka tempat untuk bersembunyi setelah paham sihir api milik pria tua tersebut bisa membakar sekitar tampa pandang bulu.
Sembari berlari di antara barisan pasukan, para Gorteah menusuk mereka satu persatu dan bergerak secara zig-zag dan terpencar untuk menghindari pengepungan.
Pedang dan tombak yang diarahkan pasukan dihindari para Gorteah dengan lincah, lalu menyerang balik dengan tusukan tanduk yang mengarah langsung ke titik vital. Zirah besi ditembus dengan mudah layaknya kayu rapuh, baju halkah di dalamnya pun tidak berarti di hadapan tanduk dengan tingkat kekerasan tinggi dan momentum tubrukan para Gorteah.
Sesekali suara tulang patah terdengar nyaring, diikuti dengan jeritan dan rintihan kesakitan. Tubuh terlempar ke udara, terseret, dan terpental ke rekan-rekan mereka sendiri.
Monster yang bisa belajar dengan cepat, bahkan memiliki tingkat adaptasi lebih tinggi dari Goblin dan hampir menyamai Demi-human. Itulah hal yang paling menakutkan dari Gorteah.
“Berpencar!” perintah Argo dengan kesal. Saat berteriak, luka pada lehernya terbuka kembali dan darah sedikit mengalir keluar sampai membasahi kain kasa dengan warna merah.
Adrenalin yang naik membuat sirkulasi darahnya bertambah cepat, mengakibatkan pria tua yang baru saja sembuh tersebut mengalami demam tinggi seketika dan cahaya kemerahan pandangannya pun mulai pudar.
Dengan wajah pucat, ia kembali mengangkat senjatanya ke depan. Api yang menyelimuti pedangnya mulai mengecil, lalu pada akhirnya lenyap dan hanya meninggalkan pedang bersuhu kisaran 100°C yang menyala merah.
Meski telah diperintahkan untuk berpencar, para prajurit tidak bisa melaksanakan hal tersebut dengan segera. Kawanan Gorteah yang telah menerobos masuk dan merusak formasi membuat mereka kewalahan, tidak bisa asal mengayunkan senjata karena berdekatan dengan rekan.
“Tch! Gorteah sialan!” Meski gemetar lemas Argo mengangkat pedang dengan kedua tangan, kembali memasang kuda-kuda dan memeras Mana untuk disalurkan ke dalam senjatanya. Sembari menggertak kesal, pria tua tersebut menggerutu, “Kenapa monster yang tidak suka pemukiman manusia malah menyerang Mylta?!”
Sebelum Argo kembali menyelimuti pedangnya dengan sihir api, kawanan Gorteah yang sebelumnya pernah melihat aktivasi sihir tersebut langsung merespons. Mereka semua berhenti menyerang para prajurit dalam formasinya telah kacau, lalu langsung berlari ke arah Agro karena menganggap pria tua tersebut sebagai ancaman utama.
__ADS_1