Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[76] The Fear to Bear (Part 02)


__ADS_3

 


 


 


 


Apa yang ingin disampaikan satu, yang diharapkan dalam dari langkah kakinya pun hanya satu. Dengan senyum tipis di wajahnya, Odo Luke membuka pintu Ruang Kantor tempat Ibunya berada. Ia lekas melihat Mavis, Fiola, dan Imania di ruangan tersebut. Masih terlihat mengerjakan beberapa hal-hal yang berkaitan dengan administrasi dan pemerintahan Wilayah Luke.


 


 


Meski tidak sebanyak beberapa hari lalu, Odo merasa jumlah pekerjaan yang harus dilakukan oleh Marchioness memang tidaklah sedikit. Terlebih lagi sejak Dart Luke benar-benar melepas kewajiban tersebut kepada Mavis, sebab harus fokus dengan persiapan peperangan di Ibukota.


 


 


Paham dirinya datang bukan untuk memikirkan masalah tersebut, Odo Luke sejenak menarik napas dalam-dalam dan balik menatap ke arah Mavis yang sedari tadi tampak sedikit bingung karena kedatangannya. Langkah pertama terkesan lambat dari pemuda itu, namun saat langkah kedua dan seterusnya kecepatan semakin naik serta rasa ragu yang ada pada dirinya terasa menghilang dengan cepat.


 


 


“Anda ingin apa, Tuan Odo? Bukannya sekarang Anda sedang dihukum Nyonya?”


 


 


Fiola menghalangi pemuda itu sebelum bisa menghampiri Mavis. Secara insting, Huli Jing tersebut paham bahwa alasan kedatangan Odo kali ini terasa berbeda dari sebelum-sebelumnya. Terkesan ingin memaksa, menekankan egonya tanpa memikirkan risiko serta konsekuensi yang ada nantinya.


 


 


“Aku tidak pergi ke mana-mana. Memang diriku dihukum untuk tidak pergi dari rumah selama beberapa hari, tapi tidak ada larangan untukku datang ke ruangan ini dan bertemu dengan Ibuku sendiri, bukan? Atau apa? Fiola ingin melarang?”


 


 


Perkataan yang disampaikan terasa seperti Odo ingin menekankan satu hal, bahwa dirinya sebagai seorang anak pantas untuk mendapatkan hak lebih. Menyipitkan sorot mata dan menatap tajam, Fiola untuk sesaat merasa Tuan Mudanya tersebut memang cenderung banyak bicara saat memiliki sesuatu yang ingin didapatkan.


 


 


Pindah menatap ke arah Julia yang menemani pemuda rambut hitam tersebut, sang Huli Jing sesaat menghirup napas dengan sedikit resah setelah memahami sesuatu. Dari mimik wajah gadis Nekomata tersebut, Fiola paham perbedaan besar dengan rekan sejawatnya tersebut. Ia kembali diingatkan pada fakta bahwa alasan Julia mengikuti Keluarga Luke berbeda dengannya.


 


 


Meski Fiola tahu hal tersebut dari awal, dalam hati dirinya ingin rekannya tersebut bisa berbagi empati yang sama dan saling mengerti. Terutama terkait rasa prihatin terhadap kondisi Mavis yang memiliki kecenderungan untuk selalu mencemaskan putranya yang sering melakukan hal berbahaya.


 


 


“Saya tidak bisa melarang Anda. Sekarang Tuan Muda adalah seorang Viscount, bahkan karena hal tersebut sesungguhnya Nyonya tidak berhak menjadikan Anda tahanan rumah. Mungkin karena Tuan masih sangat menghormati Nyonya, Anda sekarang ini mau berada di rumah dan mematuhi larangnya.”


 


 


Ucapan Fiola membuat Odo merasakan hal yang sama seperti saat berbicara dengan Julia sebelumnya. Terkesan seperti orang asing, menganggap waktu yang telah dilalui bersama selama beberapa tahun tidaklah berarti. Rasa sesak kembali terasa, membuat Odo meletakkan tangan kanannya ke dada dan sejenak memasang wajah muram.


 


 


Mimik wajah yang ada pada pemuda itu membuat Fiola heran. Dalam situasi yang ada sekarang, sangat aneh untuk Odo memperlihatkan ekspresi terkesan seperti sedang menahan rasa sakit.


 


 


Namun sebelum dirinya bertanya alasan dari mimik wajah yang diperlihatkan, pemuda itu memasang senyum sedih sembari berkata, “Begitu, ya. Biarlah …. Aku akan berusaha untuk tidak memedulikan hal itu.”


 


 


“Eh?” Fiola bingung mendengar apa yang diucapkannya. Meski sudah menggunakan sihir untuk membaca pikiran pemuda itu, dirinya tetap tidak bisa mengerti apa maksud Odo. “Apa yang Anda bicarakan? Tidak peduli soal apa?” tanyanya dengan sedikit cemas.


 


 


Tidak lagi memperhatikan perkataan Huli Jing tersebut, Odo berjalan melewatinya dan langsung menghadap ke arah Mavis. Berdiri di depan meja kerja tempat wanita rambut pirang tersebut duduk, sang pemuda untuk sesaat terdiam dengan sorot mata lelah.


 


 


“Bunda …. Bisakah Bunda berhenti menganggap diriku anak kecil? Jujur saja, rasa kasih sayang Bunda terlalu berlebihan. Terlalu protektif, terkesan bodoh dan berlebihan. Kalau terus seperti ini, sampai kapan pun anak Bunda ini tidak bisa berkembang. Diriku tidak bisa menantang batas dan lanjut ke panggung selanjutnya. Ini kedua kalinya Bunda menjadikan aku tahan rumah hanya karena aku mencoba hal baru.”


 


 


Mavis merasa Odo pasti akan mengatakan hal semacam itu, entah itu cepat ataupun lambat. Seorang anak pasti kelak akan mandiri, memilih untuk pergi dari orang tua dan mengambil jalannya sendiri untuk membuktikan identitas serta memilih masa depan. Sebagai seorang Ibu, Mavis harusnya sudah siap dengan momen tersebut.


 


 


Tetapi, jauh di dalam hatinya Mavis masih ingin Odo berada di sisinya. Meski pikiran paham itu bukanlah hal yang baik untuk putranya, sang Marchioness ingin menahan dirinya tetap di kediaman sampai hari dimana dirinya memenuhi kewajibannya sebagai Viscount.


 


 


Memperlihatkan sorot mata yang seakan menatap jauh, Mavis tersenyum kaku. “Apa harus hari ini? Bunda … belum siap untuk melepaskan kamu, putraku. Bunda masih ingin kamu tetap berada di sini, sampai kelak kewajiban itu datang kepada kamu. Apa … itu tidak boleh?” tanya wanita rambut pirang tersebut dengan ekspresi penuh kesedihan.


 


 


Melihat itu, rasa sakit kembali menyerang Odo. Tepat pada bagian dada, perasaan yang seharusnya sudah hilang darinya mulai naik ke permukaan. Kesedihan benar-benar mengisi benaknya, membuat wajahnya mengerut dan tampak ingin menangis. Meski begitu, air mata tidak keluar darinya.


 


 


“Tidak boleh, Bunda …. Aku juga tak ingin segera dewasa dan meninggalkan Bunda. Kalau bisa, diriku juga ingin terus berada di sisi Bunda. Diriku masih ingin berbicara banyak hal, mengkhayal dan melantur sepuasnya bersama Bunda.” Odo menundukkan wajah, membuka dan menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan muram. Sembari kembali mengangkat wajah, pemuda itu perlahan menggerakkan mulutnya dan berkata, “Namun …, situasi tidak membiarkan kita. Karena hal seperti kewajiban dan kehormatan bangsawan, kita tidak bisa melakukannya. Mengesampingkan diri kita adalah seorang keluarga, pada saat yang sama kita juga hidup di masyarakat. Kita tidak bisa mengacuhkan orang-orang di sekitar kita dan bahagia sendiri, apa lagi sebagai Keluarga Luke yang merupakan tokoh penting di Kerajaan ini.”


 


 


Mavis seharusnya senang mendengar putranya telah memahami hal tersebut di usianya yang sangat muda. Namun, dalam hatinya sekarang malah dipenuhi dengan rasa benci pada hal berbau kebangsawanan. Segala hal yang awalnya dirinya anggap hanya sebagai tugas, sekarang malah berubah menjadi sesuatu yang mengikat putranya pada hal yang tidak dirinya inginkan.


 


 


“Apa engkau menyesal lahir sebagai anak keluarga bangsawan, putraku?” tanya Mavis.

__ADS_1


 


 


Untuk seorang Marchioness, pertanyaan tersebut sangatlah tidak pantas untuk diajukan kepada putra semata wayang di keluarganya. Tetapi, dalam benak wanita rambut pirang tersebut hal itu perlu ditanyakan. Jawaban sangat diperlukan, untuk dirinya sendiri ataupun Odo dalam mengambil langkah selanjutnya.


 


 


“Aku tidak suka lahir sebagai anak bangsawan. Namun …, tidak satu kali pun diriku menyesal telah lahir sebagai anak kalian. Baik Bunda ataupun Ayahanda, aku mencintai kalian berdua dan tidak pernah sekali pun membenci kalian. Memang ada kalanya aku marah dan membentak, namun itu bukan berarti aku tak suka tindakan kalian kepadaku …. Menurut ku, hal itu wajar dalam sebuah keluarga. Saling bertengkar, memaafkan, mengoreksi satu sama lain, dan saling mengisi kekurangan. Itulah keluarga bagiku.”


 


 


Mavis hanya bisa tersenyum mendengar jawaban dewasa putranya, tidak bisa mengomentari apa-apa tentang pendapatnya dalam arti keluarga. Karena pada kenyataannya, Mavis sendiri tidak terlalu paham apa itu arti sebuah keluarga. Dirinya memang paham arti dari Cinta, namun tidak sepenuhnya mengerti apa itu sebuah kasih sayang murni dalam kekeluargaan.


 


 


Mavis sekilas memalingkan pandangan, memasang senyum tipis seakan telah memutuskan sesuatu dalam hatinya. Bangun dari tempat duduk dan menatap Odo, wanita dengan gaun warna hijau pirus tersebut kembali bertanya, “Boleh Bunda memastikan satu hal?”


 


 


“Hmm …” Odo hanya mengangguk, menatap dengan senyum senang karena bisa melakukan pembicaraan dari hati ke hati dengan Mavis.


 


 


“Tujuan kamu datang menemui Bunda kali ini …, itu sama persis seperti yang sekarang Bunda pikirkan, bukan? Untuk mengurus perjanjian yang telah kamu buat dengan pemerintah Kota Mylta itu?”


 


 


Odo mengangguk satu kali, lalu mulai mengacungkan jari telunjuknya ke depan dan menyampaikan, “Aku juga ingin meminta bantuan dari Bunda. Diriku memang bisa membasmi para monster sendirian, namun jika disandangkan dengan kecepatan mereka berkembang biak itu akan memakan waktu sangat lama ….”


 


 


“Jadi …, sekarang kamu membutuhkan pasukan? Dana? Atau … senjata? Atau malah semua itu?”


 


 


Odo menggelengkan kepala. Perlahan berbalik dan mengarahkan jari telunjuknya ke arah Fiola, pemuda rambut hitam tersebut menjawab, “Apa yang aku butuhkan sekarang adalah Fiola.”


 


 


“Eh?! Saya?” Huli Jing tersebut tampak bingung.


 


 


Pada saat yang sama, Mavis juga sedikit heran dengan permintaan putranya. Memang Fiola memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan dan setara dengan ratusan bahkan ribuan pasukan. Tetapi, Mavis merasa ada maksud lain dari permintaan putranya tersebut.


 


 


Sembari kembali duduk dan menyangga kepala dengan kedua tangan, Mavis menatap heran dan bertanya, “Kenapa harus Fiola? Kalau kamu mau, Bunda bisa saja memerintahkan semua Shieal yang masih ada di Kediaman ini untuk membantu. Selagi pekerjaan administrasi Wilayah Luke belum terlalu sibuk.”


 


 


 


 


“Ah, saat kamu pertama kali menunjukkan manifestasi malaikat secara sempurna dan terbang dengan kecepatan cahaya?”


 


 


“Benar! Aku ingin memintanya menggunakan kemampuan Fiola yang digunakan waktu itu, lalu membuat peta lokasi-lokasi sarang monster di Teritorial Mylta untukku.”


 


 


“A⸻!” Fiola benar-benar terkejut mendengar hal tersebut. Memegang pundak Odo dan membuatnya menoleh ke arahnya, sang Huli Jing dengan tegas menolak, “Saya tidak mungkin bisa melakukan itu! Lagi pula, Anda pikir Teritorial Mylta sempit?! Itu sangat luas!”


 


 


“Tentu saja aku paham hal itu. Aku meminta ini karena memang itu memungkinkan. Hanya tinggal kamu mau atau tidak.”


 


 


“Eeeeh?”


 


 


Fiola berhenti memegang pundak Odo, melangkah mundur dan memasang mimik wajah tidak percaya. Sebagai pemilik kekuatan, Fiola paham batasannya sendiri. Dirinya memang bisa mendeteksi hawa kehidupan dalam jarak belasan sampai puluhan kilometer. Namun, itu bukanlah sesuatu yang bisa dirinya lakukan secara terus menerus dan jarak pun tidak bisa lebih jauh lagi.


 


 


Odo menghadap ke arah Mavis. Sembari tersenyum ringan ia kembali meminta izin, “Apa boleh, Bunda?”


 


 


“Bunda mengizinkannya. Kalau memang bisa, silahkan saja.”


 


 


Mendengar itu, Odo langsung menyerigai kecil dan kembali menatap ke arah Fiola. “Kamu dengar itu, ‘kan? Diperbolehkan …. Berarti, kita bisa segera memulainya,” ucapnya seakan-akan ingin meledek Fiola.


 


 


Huli Jing itu menarik napas ringan, memalingkan pandangan ke samping dan sedikit pasrah karana hal tersebut sudah mendapat izin dari Mavis. “Memangnya bisa? Meski dalam Mode Ilahi, rasanya mustahil saya bisa mendeteksi sampai seluruh Teritorial Mylta,” ujarnya dengan kesan ingin menolak permintaan Odo.


 


 


“Tenang saja, pasti bisa. Fiola sekarang kerjakan saja urusan pemerintahan di ruang ini bersama Bunda dan yang lain. Setelah persiapan selesai, nanti aku panggil. Mungkin sekitar siang atau sore nanti aku sudah siap.”

__ADS_1


 


 


“Apa … Anda perlu bantuan untuk persiapannya? Bila perlu, saya akan panggil Minda di dapur untuk membantu Anda.”


 


 


“Tak usah …, dia sedang melatih ketiga perempuan itu, ‘kan? Kalian urus saja pekerjaan di sini dan bantu Bunda supaya cepat selesai.”


 


 


Setelah membicarakan hal tersebut dan mendapatkan izin dari Mavis untuk memenuhi perjanjian dengan pemerintah Kota Mylta, Odo Luke pergi dari ruangan tersebut. Ia pergi bersama Julia, dengan alasan untuk kembali ke kamar pribadinya untuk mengambil beberapa alat dan material ritual khusus untuk meningkatkan kemampuan sang Huli Jing sampai batas maksimal dalam hal sihir pendeteksi.


 


 


ↈↈↈ


 


 


Langit pagi dipenuhi awan mendung, membawa angin dingin dan gelap bersamanya. Seakan tidak mencemaskan cuaca yang ada, burung-burung camar dan nelayan tatap pergi ke laut untuk mencari nafkah. Layar terbentang dengan lebar pada setiap perahu, membawa orang-orang dan hasil tangkapan mereka.


 


 


Pada hari yang sama di Kota Mylta, tanda-tanda berkurangnya kepercayaan masyarakat luar kota mulai memberikan dampak. Meski tidak secara sekaligus terlihat di permukaan masyarakat, dengan jelas jumlah intensitas keluar masuk orang-orang dari luar Teritorial Mylta memang mengalami penurunan.


 


 


“Rute dagang sudah memakan banyak korban! Itu sama seperti waktu para bandit masih berkuasa tahun kemarin, monster-monster semakin banyak dan mulai berani menyerang rombongan secara terang-terangan! Kota ini memang tidak aman! Kita sebaiknya mencari tempat lain untuk berbisnis, daripada mempertaruhkan nyata untuk hasil yang tidak pasti!”


 


 


Kabar yang beredar tersebut terlalu dilebih-lebihkan. Hal itu tidak bisa dimungkiri, jumlah mayat yang dibawa kembali ke Mylta dan dikuburkan saat fajar tadi membuat mayoritas orang berspekulasi seperti itu. Bagi yang hanya mendengar pemberitaan secara sekilas, mereka tanpa pikir panjang melebih-lebihkannya.


 


 


Entah itu Pihak Pemerintahan ataupun para pedagang dari luar Mylta, mereka paham bawah berita tersebut tidak bisa dihentikan penyebarannya di antara masyarakat. Mempengaruhi popularitas kota pesisir sebagai salah satu titik perekonomian di Wilayah Luke, lalu berpotensi membuat proses progresif yang dimulai sejak awal tahun bisa runtuh seketika. Hanya karena sebuah isu yang baru muncul kurang dari 24 jam.


 


 


Jauh dari semua kepentingan politik dan ekonomi Mylta, seorang gadis yang merasa masa bodoh dengan semua itu melangkahkan kakinya menuju Ordoxi Nigrum. Blus putih dengan tambahan dasi cravat merah sebagai atasan, lalu untuk bawahan memakai rok biru tua panjang sampai mata kaki dan sepatu mary janes hitam yang mengilat. Ia adalah Nanra Tara, Sekretaris dari perusahaan yang sedang menjadi pusat perkembangan kota pesisir.


 


 


Pagi hari yang dingin dan sedikit berkabut tersebut tidak mengurangi semangatnya. Ia telah bangun dan bersiap sejak dini hari, menyiapkan banyak hal bersama anak-anak yatim di Panti Asuhan Inkara. Karena sang Biarawati, Siska Inkara, belum kembali sejak kemarin malam, anak-anak tersebut diharuskan menyiapkan semua keperluan masing-masing tanpa arahan dari wali mereka.


 


 


Bukan berarti hal seperti itu tidak pernah terjadi. Saat hari-hari tertentu, ada kalanya biarawati yang mengurus anak-anak Panti Asuhan Inkara tidak pulang dan mereka diharuskan mandiri untuk menyiapkan segala keperluan sejak dini hari.


 


 


Satu perbedaan dari biasanya adalah karena adanya anggota baru di Panti Asuhan, yaitu dengan bergabungnya Mirin Kirsi dalam keluarga mereka. Bagi Nanra yang dipercayakan Odo dan Siska untuk membimbing gadis Demi-human tipe leopard salju tersebut, itu cukup berat dan merupakan hal yang baru untuk menjadi sosok kakak baginya.


 


 


Pada langkah kakinya sekarang pun Nanra tidak bisa menghilangkan rasa cemas, terus mengawasi Mirin yang berjalan bersamanya menuju toko Ordoxi Nigrum. Meski Kirsi lebih muda beberapa tahun darinya, Nanra merasa anak gadis tersebut cukup tinggi.


 


 


“Kata Odo dan Kak Siska, kalau tidak salah usianya sekitar tujuh atau delapan tahun, bukan? Kenapa tingginya bisa hampir menyamai aku?” benak Nanra sembari menatap datar gadis rambut abu-abu yang berjalan lebih cepat darinya.


 


 


Sedikit berbeda dengan dirinya, gadis Demi-human leopard salju mengenakan seragam pelayan toko. Berupa gaun biru tua dengan aksen lipatan-lipatan pada bagian bawah dan ditambah celemek putih.


 


 


Ekor Kirsi yang diselimuti bulu lebat bergoyang ke kanan dan ke kiri, ia mengambil langkah lebar saat berjalan dan mengayunkan kedua tangannya dengan ceria. Untuk anak yang baru menjadi yatim piatu sejak akhir tahun lalu, Kirsi tergolong lebih cepat untuk beradaptasi dan melihat ke depan dengan optimis. Sangat berbeda dengan Nanra yang butuh waktu sampai dua tahun lebih untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru.


 


 


“Kirsi, jangan cepat-cepat. Gaun milikmu itu sedikit kebesaran tahu! Nanti tersandung, loh.”


 


 


Mendengar ucapan Nanra, gadis yang dengan cerita berjalan di antara keramaian segera menoleh. “Jangan cemas, Kakak Nanra! Saya sudah terbiasa! Meski tersandung, ekor saya bisa langsung menyeimbangkan kok!” ujarnya penuh riang. Menatap ke depan, gadis rambut abu-abu panjang sebahu tersebut kembali berjalan dengan langkah lebar.


 


 


“Di toko .., apa kamu sudah terbiasa?” Nanra mempercepat langkah kaki untuk beriringan. Sembari menoleh ke arah Kirsi di sebelahnya, gadis rambut putih keperakan tersebut menambahkan, “Kamu tidak kelelahan, ‘kan? Setiap hari kuota penjualan di toko terus dinaikkan Kak Canna dan Kak Elulu, bukan?”


 


 


“Tak masalah, kok! Kata Kak Arca, sudah sewajarnya kalau Demi-human bekerja keras seperti ini!”


 


 


Mendengar jawaban tersebut, Nanra sekilas memalingkan pandangan dan menghela napas. “Eksploitasi anak …. Huh, lalu apa gunanya aku dibaptis lebih cepat kalau si Arca tetap memasukkan anak di bawah umur untuk bekerja di toko,” gumamnya sembari menggelengkan kepala.


 


 


Mendengar hal tersebut, langkah kaki Kirsi tiba-tiba berhenti. Itu membuat Nanra ikut terhenti di antara lalu-lalang orang di pinggir jalan utama distrik perniagaan, lalu mereka pun saling menatap heran.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2