Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[97] Angelus II – Blue Action (Part 05)


__ADS_3

 


 


 


 


Aroma laut yang terbawa hembusan angin, menerpa basah dedaunan dan kelopak bunga berembun. Burung-burung hinggap pada pagar, bernyanyi seakan sedang menyambut pagi yang baru saja datang. Tanpa satu pun awan mendung yang menghalangi, sinar mentari dengan bebas memapar daratan dengan hangat.


 


 


Meski merupakan kediaman dari sang Tuan Tanah, Mansion Keluarga Luke tampak lebih sepi dari biasanya. Semenjak Tuan Muda mereka pergi sekitar lebih dari satu minggu lalu, tempat tersebut seakan menjadi sunyi seketika. Tidak ada topik gosip untuk dibahas para pelayan, lalu kesan abu-abu mendominasi.


 


 


Memang ada beberapa orang tidak biasa yang sekarang ini berada di tempat tersebut. Namun, tetap saja mereka bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan bahan pembicaraan nyaman bagi pelayan-pelayan di Kediaman Luke.


 


 


Dua perempuan dari Kerajaan Moloia, lalu seorang anak gadis yang asal-usulnya masih belum jelas di mata mereka. Seakan menjadi pelengkap suasana kelabu yang menyelimuti Mansion, kehadiran mereka membuat tempat tersebut menjadi sedikit suram. Hanya dengan tidak adanya Odo Luke dalam waktu seminggu terakhir, atmosfer benar-benar berubah drastis.


 


 


Cornelisa Di’in, Marnali Ra’a, dan Hilya, merekalah yang menjadi pelengkap suasana tidak nyaman di Kediaman Luke. Dipilih oleh Odo Luke untuk mendampinginya bertugas sebagai Wakil Walikota di Pien’ta, itulah alasan ketiga perempuan itu berada di tempat tersebut.


 


 


Mendapatkan pelatihan layaknya seleksi Shieal. Dari tata krama bagaimana berhadapan dengan Tuan mereka, urusan rumah tangga, sampai pengetahuan-pengetahuan dasar administrasi untuk membantu pekerjaan kantor.


 


 


Meski dari awal mereka bertiga memiliki kemampuan dan pengetahuan dasar yang memadai, namun tetap saja pelatihan menjadi seorang pelayan bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Terutama dalam bidang urusan rumah tangga, mereka cukup mengalami kesulitan karena tidak pernah melakukan hal seperti itu.


 


 


Selama proses belajar tersebut, secara bergiliran para Shieal di Kediaman Luke memberikan pelatihan kepada mereka.


 


 


Minda dan Imania melatih mereka dalam bidang memasak. Memberitahu masakan yang sesuai selera Odo Luke dan bahan-bahan yang tidak boleh digunakan, lalu tata cara mengolah bahan makanan sampai memanfaatkan bahan sisa sekalipun.


 


 


Untuk tata krama bangsawan secara formal, Julia dan Imania bertugas untuk mengajari mereka. Tata krama bahasa diajarkan oleh sang Nekomata, sedangkan tata cara bersikap oleh Imania.


 


 


Meski tampak mudah, bagian tersebut merupakan pelatihan paling sulit karena memerlukan ketelitian. Mengingat Luke adalah Keluarga Marquess, standar yang tinggi harus mereka penuhi supaya tidak mempermalukan nama Odo Luke saat bertugas nanti.


 


 


Dalam pengetahuan administrasi untuk membantu tugas kantor, Fiola secara langsung mengajari mereka bertiga. Di sela-sela membantu sang Nyonya Rumah dalam urusan administrasi Wilayah Luke, sang Huli Jing membuka kelas kecil di ruang tamu sekunder. Mengajari mereka tentang pembukuan, tata cara menulis laporan, dan hal-hal terkiat urusan administrasi.


 


 


Dari semua proses pembelajaran, kelas tersebut merupakan yang paling mudah bagi mereka. Sebab hanya mencangkup menghitung, menulis, dan pembelajaran sederhana layaknya kelas dalam sekolah pada umumnya.


 


 


Selama seminggu terakhir, itulah yang dilakukan Di’in, Ra’an, dan Hilya di Kediaman Keluarga Luke. Meski sesekali mendapatkan tatapan tidak nyaman dari pelayan biasa yang bekerja di Mansion, mereka berusaha untuk tidak memedulikan hal tersebut dan fokus. Supaya bisa memenuhi persyaratan dasar untuk bisa ikut dengan Odo, sesuai perintah yang diberikan pemuda itu kepada mereka.


 


 


Namun, tetap saja Di’in dan Ra’an tidak bisa merasa nyaman dengan lingkungan baru yang ada. Bagi mereka yang merupakan orang dari Kerajaan Moloia, tinggal satu atap dengan wanita yang disebut Penyihir Cahaya adalah hal yang tidak menyenangkan.


 


 


Seperti halnya mayoritas penduduk Kerajaan Felixia yang tidak menyukai penduduk Kerajaan Moloia, hal sebaliknya juga berlaku. Dikatakan bahwa rasa tidak suka itu timbul karena sejarah yang ada.


 


 


Namun, pada kenyataannya itu muncul karena perbedaan aliran Mana yang ada pada penduduk kedua bangsa tersebut. Layaknya sebuah gelombang yang tidak terlihat dengan frekuensi berlawanan, ketika bertemu rasa tidak nyaman akan timbul pada benak penduduk dari bangsa masing-masing.


 


 


Jauh dari pembahasan ketiga orang yang dibawa Odo untuk dijadikan pendampingnya nanti, Mavis Luke sendiri selama seminggu terakhir hanya fokus mengerjakan kewajibannya sebagai Marchioness. Mengurus administrasi Wilayah Luke, memberikan respons atas surat yang dikirim oleh pemerintah pusat, lalu membuat surat kuasa kepada beberapa Teritorial atas perintah suaminya yang sekarang ini sedang mengurus persiapan perang.


 


 


Ruang kerja dengan kesan arsitektur klasik Victoria, berhiaskan lampu kristal sihir gantung yang besar di tengah ruangan. Terdapat sepasang sofa di tengah ruangan, dengan meja berisi beberapa lembar perkamen di atasnya. Meski mentari sudah naik cukup lama, gorden dan jendela masih tertutup rapat.


 


 


Jika dibandingkan dengan beberapa hari lalu, jumlah berkas di tempat tersebut sudah berkurang banyak. Tidak ada lagi perkamen yang menumpuk atau bahkan berserakan, hanya tersisa beberapa lembar berisi laporan akhir anggaran untuk persiapan perang.


 


 


Pada ruangan tersebut, Mavis Luke tertidur di meja kerjanya. Membaringkan wajah di atas meja dan selembar perkamen, ditutupi selimut tebal dan tampak masih mengenakan gaun ungu yang dipakai sejak kemarin.


 


 


Di tengah-tengah lelap, suara pintu yang terbuka membuat Mavis terbangun. Dengan mata setengah terbuka, ia menatap ke depan dan melihat Fiola memasuki ruangan. Membawa teko berisi teh herbal dan sepasang cangkir dengan menggunakan nampan.


 


 


Berpenampilan layaknya orang Kekaisaran, perempuan rambut cokelat gelap tersebut mengenakan Kimono berwarna abu-abu. Memiliki motif bunga lily pada kain, lalu pada pinggang melingkar sabuk Obi biru tua.


 


 


“Maafkan saya, Nyonya Mavis. Apa saya membangunkan Anda?”


 


 


Fiola berjalan mendekat, lalu meletakkan nampan dan mulai menuangkan teh herbal untuk majikannya. Sembari tersenyum ringan, Huli Jing tersebut seakan menikmati momen berduaan tersebut.


 


 


Itu sedikit membuat Mavis menyipitkan mata, merasa sedikit heran dan menghela napas. Setelah sedikit merapikan rambut yang berantakan, lalu meletakan selimut ke atas meja tanpa dilipat terlebih dahulu.


 


 


Menarik napas ringan, wanita rambut pirang tersebut mengambil teh yang disuguhkan dan meminumnya perlahan. Menikmati aroma herbal yang membuat kedua mata terbuka, lalu menghembuskan napas dengan lega.


 


 


“Ini masih pagi? Atau malah sudah siang?” Mavis meletakkan cangkir ke meja kerja. Sedikit memalingkan pandangan ke arah berkas-berkas pada meja di depan sofa, wanita rambut pirang tersebut melebarkan senyum dengan tenang. Merasa semua pekerjaan hampir selesai dan kembali berkata, “Tidak percuma kita begadang selama beberapa hari ini. Paling tidak, satu hari lagi seharusnya selesai.”


 


 


“Iya, Nyonya!”


 

__ADS_1


 


Fiola melebarkan senyum hangat. Untuk beberapa alasan, tiba-tiba sihir transformasi Huli Jing tersebut terlepas. Membuat kesembilan ekornya keluar dari bawah pakaian dan bergerak-gerak layaknya menari.


 


 


Melihat hal seperti itu, Mavis merasa semakin heran. Sedikit cemas dengan sifat pelayan kepercayaannya tersebut, ia menatap datar dan bertanya, “Sekarang ini … bukan musim semi kamu, ‘kan? Kenapa kamu terlihat seperti itu?”


 


 


“Eh?” Fiola seketika tersentak. Melipat kedua tangan ke depan, Huli Jing tersebut dengan nada ketus berkata, “Asal Nyonya tahu, saya bukan Julia yang tidak bisa menahan berahi dan mulai bertingkah aneh saat musim kawin! Saya hanya sedang dalam suasana hati yang nyaman!”


 


 


“Hmm ….” Mavis kembali mengangkat cangkir, lalu meminum teh herbal seraya memperlihatkan ekspresi tidak percaya. Sedikit memalingkan mata birunya, wanita rambut pirang tersebut berkata, “Ngomong-omong, apa sudah ada kabar dari Putraku? Kemarin kalau tidak salah Minda pergi ke kota lagi untuk memastikannya, bukan?”


 


 


“Sampai sekarang masih belum ada kabar.” Fiola menghela napas ringan. Seraya meletakkan tangan ke dagu dan sedikit mendongak, Huli Jing tersebut menyampaikan, “Kata Putra Sulung Keluarga Rein, Tuan Odo sedang pergi membantu ekspedisi yang dilakukan oleh pemerintah Kota Mylta …. Selain itu, tidak ada informasi lagi tentangnya.”


 


 


“Huh, masih sama seperti sebelumnya ….” Mavis memalingkan pandangan dan meletakan cangkir ke atas meja. Bersandar pada kursi, wanita rambut pirang tersebut mengeluh, “Entah mengapa, diriku merasakan firasat tidak nyaman. Anak itu sepertinya terlibat hal berbahaya lagi.”


 


 


“Memangnya kapan Tuan Odo tidak terlibat hal berbahaya?” tanya Fiola dengan niat bercanda.


 


 


Namun, Mavis tidak membalas dan malah menganggap candaan itu serius. Memberikan tatapan datar, seakan-akan benar Putranya sekarang sedang terlibat hal berbahaya lain. Berhenti bersandar dan membaringkan wajah ke atas meja, sejenak Mavis menghela napas panjang untuk melepaskan rasa cemas.


 


 


“Kalau Odo terlibat masalah berbahaya lagi, kira-kira hal seperti apa itu? Putraku sudah tumbuh dengan sangat kuat, memangnya apa yang bisa membahayakan dirinya?”


 


 


Mendengar ucapan positif itu, Fiola sedikit heran karena hal tersebut terasa tidak biasa. Sejauh yang Huli Jing itu tahu, Mavis biasanya akan memperlihatkan gelagat cemas saat mendengar kabar Odo sedang dalam berbahaya atau terlibat masalah. Meski itu hanya sebatas kemungkinan sekalipun.


 


 


“Tidak biasanya Nyonya tenang seperti itu ….” Fiola menghela napas ringan, lalu perlahan tersenyum tipis. Berjalan menuju jendela dan membuka gorden, perempuan rambut cokelat gelap tersebut kembali berkata, “Ngomong-omong, sarapannya sudah siap di dapur. Nyonya ingin dibawa ke sini lagi seperti kemarin atau di ruang makan saja?”


 


 


“Tolong bawa ke sini saja. Rasanya agak menyedihkan kalau sarapan di ruang makan tanpa ditemani Dart atau Putraku.”


 


 


Mavis terpapar sinar yang masuk melalui jendela. Berhenti membaringkan wajah dan duduk tegak, wanita rambut pirang tersebut sekilas memperlihatkan ekspresi tenang. Meski tahu dan paham bahwa masa peperangan akan datang sebentar lagi, ia sama sekali tidak memperlihatkan rasa cemas seakan telah memiliki sebuah keyakinan.


 


 


Setelah membuka jendela lebar-lebar, Fiola menoleh dan untuk sesaat tertegun. Ia belum pernah melihat Mavis memperlihatkan wajah seperti itu. Hal tersebut memang melegakan bisa melihat sang majikan merasakan ketenangan. Namun, tetap saja senyum tipis yang tampak seakan menyiratkan sesuatu di dalamnya.


 


 


“Sesuatu yang bisa membahayakan Tuan Odo …, saya rasa hanya itu yang sangat memungkinkan. Perang yang sebentar lagi dimulai di sekitar Rockfield,” ujar Fiola secara spontan. Meski seharusnya Huli Jing tersebut senang melihat majikannya tidak memperlihatkan mimik wajah cemas, namun sesuatu dari dalam benak mendorongnya mengatakan hal tersebut.


 


 


 


 


Segera memalingkan wajah muram, Mavis Luke sejenak menarik napas dalam-dalam dan berusaha tenang. “Dipikir-pikir kembali, hal tersebut memang sangat mungkin. Jika Odo masih belum kembali setelah membereskan monster dan malah pergi ke Kota Pegunungan, saya rasa itu sangat mungkin,” ujarnya penuh kecemasan.


 


 


Fiola seketika tersentak, benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan mengatakan sesuatu yang membuat sang majikan merasa cemas. Segera berjalan mendekat, Huli Jing tersebut berkata, “Te-Tenang saja, kemungkinan itu sangat kecil. Lagi pula, untuk apa Tuan Odo pergi sampai ke Rockfield? Bukankah beliau hanya ingin membatu ekspedisi orang-orang Mylta?”


 


 


Perkataan tersebut masuk akal. Namun, bagi Mavis yang pikirannya mulai negatif itu malah berdampak sebaliknya. “Kalau Putraku punya alasan untuk ke sana?” tanyanya seraya menatap tajam lawan bicara.


 


 


“Itu ….” Fiola seketika terhenti, tidak berani mendekat lagi dan merasa telah menginjak ranjau lain dalam pembicaraan. Hanya memasang senyum kaku dan kehabisan kata-kata, Huli Jing tersebut menyarankan, “Anda pasti masih penat karena baru bangun, bagaimana kalau mandi dulu biar segar? Mungkin rasa cemas berlebihan itu akan hilang ….”


 


 


“Benar juga ….” Mavis bangun dari tepat duduk. Meski setuju dengan apa yang dikatakan oleh pelayan kepercayaannya, tetap saja mimik wajah cemas tidak hilang. Setelah menghela napas sekali, wanita rambut pirang tersebut berkata, “Apa air panasnya sudah disiapkan?”


 


 


Fiola memasang senyum kaku. Sembari mengangkat telunjuk ke depan, Huli Jing tersebut berkata, “Tentu saja, mereka menyiapkannya bersama sarapan.”


 


 


“Begitu, ya.” Mavis kembali menghela napas, lalu berjalan menuju pintu keluar sembari kembali bertanya, “Apa sudah ada perkembangan dari orang-orang yang Putraku bawa? Pelatihan mereka berjalan dengan baik?”


 


 


“Ya, mereka memiliki potensi yang bagus dan kemampuan yang memadai.” Fiola kembali menutup jendela dan gorden yang baru saja dibuka. Berjalan mengikuti sang majikan, Huli Jing tersebut menambahkan, “Namun, tetap saja untuk loyalitas saya tidak bisa menjamin. Seperti yang Nyonya ketahui, dua di antara mereka adalah orang Moloia.”


 


 


Sekali lagi Fiola mengatakan sesuatu yang membuat majikannya cemas. Mavis menghentikan langkah kaki, dengan tangan kanan memegang gagang pintu dan menundukkan kepala. Dengan suara pelan, sosok Ibu tersebut bergumam, “Dari sekian banyak orang, kenapa Putraku memilih mereka? Apa seburuk itu para Shieal yang diriku pilih?”


 


 


Tanpa berkata apa-apa lagi, wanita rambut pirang tersebut membuka pintu. Berjalan keluar dan sekali lagi menghela napas penuh rasa lelah.


 


 


Sekilas mendengar perkataan sang majikan, Fiola sedikit terkejut. Tidak menyangka bahwa ada alasan seperti itu di balik keputusan Odo memilih Di’in dan Ra’an. Dengan mimik wajah sedikit muram, ia mulai dalam benak kembali bertanya-tanya tentang latar belakang dua orang dari Kerajaan Moloia tersebut.


.


.


.


.


Halter dress berwarna biru denim, memiliki lipatan-lipatan pada bagian bawah, itulah yang dikenakan Mavis setelah membasuh tubuhnya. Sarung tangan hitam panjang sampai siku sebagai aksen tambahan, lalu pada kedua kaki memakai sepatu kulit berhak sedang dengan kesan klasik.


 


 


Dari pada segera kembali ke ruang kerja atau ruang makan untuk sarapan, wanita rambut pirang tersebut lebih memilih untuk berjalan di teras samping Mansion. Menikmati aroma bunga yang mekar di pagi hari, lalu membiarkan rambut yang masih sedikit basah terurai dan terkena hembusan angin.


 


 


Di antara bunga dan tanaman herbal yang tumbuh di sekitar Kediaman Luke, roh-roh tingkat rendah berkeliaran. Tampak bahagia, terbang ke sana kemari dengan warna-warni indah mereka.

__ADS_1


 


 


Ditemani oleh Fiola, sang Nyonya Rumah berjalan dengan langkah pelan. Berusaha mengubah suasana hati, lalu melepas lelah setelah beberapa hari terakhir terus berada di ruang kerja. Namun, tetap saja rasa cemas tidak bisa hilang dari raut wajah wanita rambut pirang tersebut.


 


 


Berjalan di belakang majikannya, Fiola pun mengenakan pakaian yang berbeda dari sebelumnya. Memakai seragam pelayan layaknya seorang Shieal, lalu menyembunyikan ekor serta telinga rubah menggunakan sihir transformasi.


 


 


Melihat ekspresi sang majikan, Huli Jing tersebut mempercepat langah kaki dan berjalan di sebelahnya. “Seperti biasanya bunga di taman kalau mekar memang indah,” ujarnya seraya melempar senyum hangat, berniat membuat topik pembicaraan ringan.


 


 


Mavis tidak terlalu memedulikan hal tersebut. Ia memang menikmati bunga-bunga yang mekar, namun itu tidak lebih dari sebatas menganggap mereka indah dan harum. Melirik ringan ke sebelah, wanita rambut pirang tersebut membalas dengan senyuman hampa.


 


 


“Apa kamu tahu, Fiola. Selain janji yang dipegang teguh, bunga Morning Glory juga memiliki makna Kemuliaan ….” Mavis menghentikan langkah kaki, berdiri di dekat jalan susunan batu menuju ke Perpustakaan Sihir di sebelah Mansion. Sembari menunjuk ke arah bunga-bunga yang tumbuh pada taman, dengan senyum tipis sang Nyonya Rumah menyampaikan, “Mereka mirip dengan Odo yang memiliki makna Kekayaan. Namun …, kekayaan memang tidak menjamin kebahagiaan. Entah itu dalam harta ataupun pengetahuan. Layaknya bunga-bunga Morning Glory itu, mereka hanya akan kuncup ketika malam datang.”


 


 


Mendengar perkataan tersebut, Fiola hanya bisa diam tanpa berkomentar. Merasa bingung mengapa sang majikan menamai putranya sendiri seperti itu. Memalingkan pandangan dan menghela napas sejenak, Huli Jing tersebut sedikit memasang wajah muram.


 


 


“Nama Odo juga memiliki makna lain, yaitu Nama Uskup,” balas Fiola ketus.


 


 


“Apa kamu marah?” Mavis menoleh ringan. Sembari tersenyum ringan, wanita rambut pirang tersebut meletakan tangan kanan ke bawah dagu. Ia segera memalingkan pandangan ke arah langit, lalu dengan niat menggoda kembali berkata, “Jangan cemas, diriku tidak sedang memburuk-burukan Odo. Lagi pula, bagaimana bisa diriku ini menjelekkan Putraku sendiri?”


 


 


“Habisnya⸻”


 


 


Tepat di tengah-tengah obrolan kecil tersebut, tiba-tiba hawa kehadiran aneh mengusik mereka berdua. Layaknya batu yang dilempar ke dalam danau dengan genangan tenang, hawa tersebut seakan mengusik semua roh-roh tingkat rendah yang ada di sekitar Kediaman Luke.


 


 


Mavis dan Fiola pun segera mencari sumber hawa keberadaan tersebut, menoleh ke kanan dan kiri tanpa bisa segera mengetahui letaknya secara pasti. Namun setelah beberapa detik kemudian, hawa keberadaan tersebut memusat pada satu titik dan menjadi semakin jelas.


 


 


Tepat di depan Perpustakaan Sihir Luke Scientia, genangan air bercahaya tiba-tiba muncul. Memancarkan hawa kehadiran yang sangat aneh, sampai-sampai Fiola melepas sihir transformasi miliknya dan kembali ke wujud asli untuk bersiap dengan kemungkinan buruk.


 


 


Mereka berdua segera tahu bahwa itu adalah kemampuan dari seorang Native yang bekerja di perusahaan milik Odo. Namun, hawa keberadaan yang terasa asing membuat mereka tidak bisa menunggu dengan tenang.


 


 


Dari dalam genangan, perlahan tangan keluar dan meraih permukaan jalan. Merangkak dengan tubuh basah, segera bangun dengan air bercahaya menetes dari pakaian yang dikenakan.


 


 


Rambut hitam, kulit agak kecokelatan, tubuh tinggi dan tidak terlalu kekar, lalu ditambah kemeja putih dirangkap rompi merah. Melihat semua ciri-ciri tersebut, Fiola dan Mavis langsung memastikan bahwa pemuda adalah Odo Luke. Namun, hawa kehadiran yang tampak sangat berbeda membuat mereka tidak bisa langsung memanggil pemuda tersebut.


 


 


“Tch! Kalau tanpa Matius, menyelam sejauh ini membuat dadaku sakit. Rasanya seperti terseret arus sungai ….”


 


 


Mendengar suara tersebut, Mavis kembali memastikan bahwa pemuda itu memang adalah Putranya. Tidak memedulikan hawa keberadaan anaknya yang terasa sangat berbeda, wanita rambut pirang tersebut segera menuruni teras dan berjalan mendekat.


 


 


“Putraku?”


 


 


Odo tersentak mendengar suara sang Ibu. Tidak memperkirakan hal itu sebelum melakukan teleportasi menggunakan Puddle, pemuda rambut hitam tersebut menoleh gemetar. Sedikit panik karena tiba-tiba langsung menghadapi situasi di luar perkiraan setelah sampai.


 


 


“Bun⸻?”


 


 


Mavis langsung memeluk Odo, bahkan sebelum pemuda tersebut menyelesaikan perkataan atau memberikan penjelasan. Mendekap begitu erat, sedikit gemetar seakan ingin melepaskan semua rasa rindu.


 


 


Untuk sesaat Putra Tunggal Keluarga Luke hanya bisa tertegun, sedikit terkejut dan menatap bingung. Namun, beberapa detik kemudian ia paham apa yang seharusnya dilakukan.


 


 


Memeluk balik sang Ibu, dengan suhu tubuh Odo menyampaikan kepada wanita tersebut bahwa dirinya baik-baik saja. Sejenak memejamkan mata, pemuda rambut hitam tersebut merasa hal seperti itu sudah menjadi sebuah rutinitas setiap kali pulang ke rumah.


 


 


“Sepertinya aku membuat Ibunda cemas lagi ….”


 


 


Mavis tidak membalas perkataan tersebut, hanya dengan tulus ingin memeluk Odo untuk melepaskan semua perasaannya. Meski hanya berpisah dalam waktu seminggu lebih beberapa hari dengan Putranya, namun tetap saja rasa cemas dan rindu menyelimuti benak dengan kuat.


 


 


Membayangkan Odo harus melaksanakan kewajiban di Pien’ta dan pergi dalam waktu lama, Mavis merasa semakin cemas. Bukan hanya kepada Putranya saja, namun juga kepada dirinya sendiri. Sebab merasa tidak mampu untuk berlama-lama jauh dengan anak semata wayangnya.


 


 


\=========================================


 


 


Catatan :


 


 


Next masih “Angelus”


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2