Re:START/If {Book 2.0}

Re:START/If {Book 2.0}
[111] Serpent XI – Remorse (Part 02)


__ADS_3

ↈↈↈ


Beberapa dekade berlalu dengan cepat, diriku pun beranjak dewasa bersama Ayunda dan Adinda. Kami melewati ujian kelulusan dan upacara kedewasaan, lalu mendapatkan izin serta hak untuk turun ke tempat para mortal.


Belajar tentang kehidupan fana, menerapkan pengetahuan kami untuk kemakmuran dunia. Melihat langsung kebaikan sejati, lalu merasakan keburukan yang ada di hati setiap orang.


Dimulai dari mengenal umat manusia secara langsung, bertemu sosok yang menyebut dirinya Iblis, lalu bertukar pikiran dengan ortodoksi penduduk kayangan.


Setelah mengelilingi dunia dan mempelajari tatanan yang ada, kami memutuskan untuk berpisah. Mengambil jalan yang berbeda-beda, mendalami kebenaran yang kami dapat dari pengalaman.


Saat berpisah, Adinda lebih memilih untuk kembali ke istana dan berkata ingin mengembangkan ilmu pengetahuan.


Jujur saja, dia sebenarnya hanya enggan bepergian. Daripada melakukan penelitian, diriku jamin anak itu pasti akan lebih sering tidur dan malas-malasan.


Mengambil jalan yang berbeda, diriku dan Ayunda memutuskan untuk menetap di daratan. Berbaur dengan para mortal, lalu mempelajari esensi mereka dengan intens.


Meneliti siklus kehidupan, pengaruh iklim terhadap adat dan budaya, arah peradaban, serta sifat-sifat dasar yang melekat pada diri mereka.


Selain umat manusia, ada juga beberapa jenis Makhluk Primal yang tidak dapat berevolusi menjadi Naga Agung. Mereka terlihat seperti manusia kadal, hidup berdampingan dengan para mortal dan membantu perkembangan peradaban secara langsung. Berperan sebagai perantara bagi penduduk istana.


Mungkin karena ingin meniru susunan kasta yang dimiliki Makhluk Primal, umat manusia mulai menciptakan tatanan mereka sendiri. Menunjuk seorang Raja, lalu mendirikan Kerajaan di dalam wilayah pengawasan Keluarga Naga Agung.


Jujur saja, masalah seperti itu bukan urusan kami. Entah manusia ingin mendirikan Kota atau Kerajaan, mereka hanyalah makhluk lemah berumur pendek.


Lagi pula, pihak Istana juga sudah menunjuk beberapa individu untuk mengurus masalah tersebut. Menghentikan peperangan, baik itu dengan negosiasi ataupun paksaan, lalu menundukkan mereka untuk mencegah kerusakan dalam skala besar.


Namun, sepertinya Ayunda memiliki pemikiran yang berbeda tentang hal itu.


Seakan telah menyadari sesuatu, Ayunda memutuskan untuk pergi berkelana ke ujung dunia. Berniat untuk menemui sosok yang menyebut dirinya Iblis sekali lagi ⸻


Sosok yang juga dikenal sebagai Raja Iblis, lalu disembah pengikutnya sebagai Dewa Iblis.


Ayunda sempat mengajak. Berkata bahwa diriku harus ikut untuk melihat kebenaran dunia. Namun, diriku menolaknya dengan segenap alasan yang ada.


Lagi pula, siapa juga yang mau pergi ke sana lagi! Tempat itu hampir tidak memiliki abad ataupun tata krama! Penuh dengan makhluk barbar, dan jujur saja mereka sangat menjijikkan!


Banyak yang melakukan kanibalisme! Genosida!


Pembunuhan, pemerkosaan, dan perbudakan bukanlah hal aneh di sana!


Parahnya lagi, kepunahan ras menjadi hal wajar!


Bukan⸻ Bukan! Bukan! Bukan! Kurasa bukan itu alasannya ….


Diriku memiliki untuk tidak ikut karena sudah terikat dengan mereka⸻ Makhluk Mortal berumur pendek.


Sungguh, mereka tua dengan sangat cepat. Saat ditinggal tidur sebentar, anak-anak yang dulunya masih bayi sudah tumbuh dewasa, beberapa manusia yang diriku kenal telah tiada, dan satu generasi mereka pun berakhir. Digantikan oleh generasi selanjutnya.


Sejak memahami hal tersebut, tidur menjadi sesuatu yang sangat menyeramkan bagiku. Perbedaan jangka hidup memang sangat kejam. Itu memberikan batasan yang sangat jelas.


Meski diriku bisa meniru wujud mereka, bentuk kehidupan yang ada memang sangat berbeda. Sangat sulit untuk Naga Agung bisa hidup berdampingan dengan umat manusia.


Bahkan, pada beberapa momen diriku sempat iri kepada Makhluk Primal yang gagal berevolusi. Mereka bisa dengan bebas menyesuaikan diri dengan kehidupan para mortal, tinggal berdampingan tanpa ada batasan waktu.


Meski masalah seperti diskriminasi tetap ada, namun paling tidak mereka bisa sejajar dengan beberapa golongan umat manusia. Berdiri dalam waktu dan zaman yang sama.


Kecemburuan itu mendorong ku untuk mengambil keputusan bodoh. Melanggar kodrat dan ketentuan makhluk hidup, memilih untuk tidak tidur selama satu generasi umat manusia.


Menjalani kehidupan seorang mortal, berdampingan dengan mereka dan terus berbohong. Menganggap itu hanyalah penelitian observasi partisipasi, memainkan peran untuk mendapatkan data yang lebih sensitif.


Selama beberapa generasi, diriku hanya mengawasi satu garis keturunan saja. Menjadikan mereka sebagai objek penelitian, menguak sifat dan esensi asli mereka sebagai sampel.


Itu sungguh menyenangkan, sangat membekas dan memabukkan.


Meski palsu dan penuh kepura-puraan, momen tersebut merupakan pengalaman yang tidak tergantikan.


Merasakan kebahagiaan dalam kebersamaan, kesedihan saat perpisahan, dan ada kalanya murka datang karena keputusan bodoh yang mereka buat.


Meski tak ingin, penelitian ini pada akhirnya terus memanjang sampai tiga generasi. Lebih lama dari rencana awal, diriku benar-benar mabuk dalam kefanaan duniawi.


Selama tiga abad lebih, diriku pun terus terbangun dan mengawasi mereka. Menjaga satu garis keturunan, melindungi mereka layaknya penjaga.


Mematuhi sumpah yang telah habis tempo. Berpura-pura setia, hanyut dalam kenyamanan ketika diriku disembah oleh mereka.


Pada kurun waktu tersebut, diriku sempat beberapa kali mendapatkan teguran dari Ibunda dan Ayahanda. Diminta untuk kembali, lalu melanjutkan pendidikan untuk menjadi penerus istana.


Beberapa petinggi dari Istana Langit pun ikut menegur, diriku dinilai terlalu larut dalam urusan mortal dan mengganggu keseimbangan. Dapat memicu perang karena rasa dengki, lalu ketamakan akan muncul layaknya kobaran api yang melahap dedaunan kering.


Diriku sangat memahaminya, baik itu risiko ataupun bahaya yang ada dalam tindakan ini. Sejarah pun telah membuktikan bahwa kefanaan dapat membawa kehancuran.


Umur mortal terlalu singkat untuk belajar dari kesalahan leluhur mereka. Kekuatan hanya akan menyebabkan lebih banyak pertumpahan darah.

__ADS_1


Namun, tetap saja rasa nyaman ini membuat ku tidak bisa berhenti. Menggunakan muslihat dan berbagai macam alasan, diriku berhasil menunda kepulangan sampai tiga generasi.


Saat itulah, tiba-tiba Ayunda kembali dari ujung lembah dunia. Setelah menjelajahi wilayah Iblis, Naga Agung itu langsung mendatangi tempat ku.


“Sebelum menyesal, sebaiknya engkau segera kembali ke Istana. Kita tidak boleh berada di daratan terlalu lama. Ini bukanlah tempat kita.”


Jujur saja, itu membuat ku sangat kesal!


Padahal dia yang pergi meninggalkan ku di tempat ini, datang-datang malah bicara sok tahu seperti itu! Tiba-tiba bicara layaknya seorang kakak padahal tidak pernah membantuku!


Diriku bisa saja menolak ajakan Ayunda dengan lembut. Memberikan alasan yang masuk akal seperti waktu ditegur Ayahanda dan Ibunda.


Namun, rasa kantuk membuat ku tidak bisa berpikir jernih.


Tanpa menjelaskan apa-apa, diriku langsung menamparnya dengan keras. Menangis layaknya anak kecil yang tidak tahu diri, lalu kabur sampai wilayah perbatasan.


Satu lagi tindakan bodoh yang telah diriku lakukan, berakhir menjadi dosa dan kelak berubah menjadi luka kekal bernama penyesalan. Trauma permanen yang tidak bisa dihapus.


Diriku berharap Ayunda menghentikan ku. Meraih tangan, lalu memeluk tubuh ku supaya hati rapuh ini tidak hancur.


Namun, itu bukan sifatnya. Dia takkan mau melakukan hal semacam itu.


.


.


.


.


Waktu berlalu, musim dingin telah berganti sebanyak tiga kali. Selama itu diriku hanya bisa bersembunyi di dalam gua, mendekam dalam kegelapan dan mulai merenungi kesalahan.


Letak tempat itu tidak terlalu jauh dari danau yang menjadi sumber air utama desa-desa di sekitar. Dikelilingi hutan pinus dan cemara, terlihat hijau saat musim semi, lalu berubah keemasan ketika musim gugur tiba.


Wilayah itu jauh dari teritorial Iblis, cukup terpencil dan terbilang damai.


Meski tanah di sana kurang subur, desa-desa yang ada di sekitar mata air bisa dikatakan makmur. Memiliki akses transportasi yang memadai, jauh dari lautan dan potensi bencana


Karena letaknya yang strategis, desa di sekitar danau berperan sebagai lumbung gandum dan pemasok hasil ternak. Menjadi sumber pangan untuk kawasan sekitarnya.


Sejak kabur ke wilayah perbatasan ini, diriku memutuskan untuk tidak lagi menggunakan Transformasi Naga. Terus berada dalam wujud humanoid, menyamar dan membiaskan diri untuk hidup sebagai mortal.


Hanya hidup berdampingan tanpa perlakuan berbeda, bercocok tanam dan beternak dalam kerukunan.


Membaur, menyatu sempurna dalam harmoni⸻ Itulah yang diriku rasakan saat melihat lingkungan tersebut.


Terpesona dan kagum, merasa sedikit iri dan mulai mendambakan.


Tanpa pikir panjang, diriku langsung melangkahkan kaki dari gua menuju salah satu desa yang ada di sekitar.


Membuat kebohongan dengan berpura-pura menjadi anak terlantar, memanfaatkan kebaikan mereka untuk dimanja.


Karena penampilan ku yang terlihat seperti anak kecil, mereka dengan mudah tertipu.


Membuka pintu rumah lebar-lebar tanpa rasa curiga, lalu mengajak diriku masuk dan menawarkan makanan hangat.


Membiarkan diriku bernaung di tempat mereka, bahkan sampai menyediakan jerami dan kain bersih untuk tempat tidur.


Tanpa tahu bahwa anak perempuan yang mereka masukkan ke dalam rumah adalah seekor Naga Agung, sosok keji yang mampu menghanguskan desa mereka dalam sekali tiupan napas.


Melihat kebaikan mereka, diriku memutuskan untuk terus menyamar sebagai anak kecil yang lemah. Hidup berdampingan dengan para manusia dan Makhluk Primal yang tidak bisa menjadi Naga Agung.


Bertingkah bodoh, bermain di kebun, lalu membual tentang masa depan dan impian.


Selama tinggal bersama mereka, diriku bahkan sempat dekat dengan seorang anak perempuan bernama Fiona.


Dia merupakan anak tunggal dari seorang pemilik ladang. Tidak memiliki Ibu, hanya seorang Ayah yang membesarkan dirinya sejak masih bayi.


Dikenal oleh lingkungan sebagai anak yang enerjik, murah senyum, dan sedikit bandel. Terkadang suka membual dan besar kepala.


Namun, saat berada di hadapan ayahnya, anak itu sangatlah penurut dan suka dimanja.


Beberapa kali diriku melihatnya mengerek keras saat dimarahi tetangga, karena pergi ke hutan untuk mencari jamur dan tanaman herbal.


Kadang dia pulang dengan tubuh yang sangat kotor, entah itu karena jauh ke parit atau habis bermain di kandang ternak.


Saat bersama anak itu, entah mengapa diriku menjadi sangat terbuka. Membicarakan hal sensitif, bahkan sampai hampir membongkar rahasia ku sendiri.


Mungkin …, diriku hanya penasaran.


Tingkah bodoh.

__ADS_1


Sifatnya yang jenaka.


Tidak kenal lelah dalam menjelajah hal baru.


Semua itu mencerminkan antusiasme dalam menjalani kehidupan.


Semua itu seakan menarik ku keluar dari tempat gelap, menunjukkan bahwa dunia masih memiliki sudut lain untuk disinggahi.


Namun, sayangnya momen-momen tersebut tidak berlangsung lama. Bukan karena jangka hidup mereka yang pendek, namun batasan pada diriku sendiri.


Tidak seperti makhluk lain, Naga Agung memiliki metabolisme tubuh yang luar biasa. Karena memiliki organ yang berfungsi layaknya reaktor abadi, sebagian besar dari mereka bahkan tidak membutuhkan makan dan minum.


Organ khusus mereka terletak di dalam dada, hampir menyatu dengan jantung dan terhubung dengan sirkuit sihir. Dapat menyerap partikel Ether di udara, lalu diubah menjadi Mana sebagai sumber energi.


Dalam kasus khusus seperti diriku dan Putri Naga lain, makan dan minum tidak lagi menjadi kebutuhan primer. Energi bisa didapatkan melalui konversi Ether, lalu diubah menjadi karbohidrat dan panas untuk mempertahankan kehidupan.


Bahkan, vitamin dan zat-zat lain pun bisa dibuat secara mandiri dalam sistem metabolisme tubuh. Diolah secara maksimal, hampir tidak membutuhkan sistem ekskresi.


Pada jaringan evolusi kehidupan, Naga Agung merupakan entitas yang sangat mendekati kata sempurna.


Namun⸻


Di luar kesempurnaan yang ada, mereka tetaplah makhluk hidup.


Lalu⸻


Sekuat apapun makhluk hidup, mereka pasti memerlukan waktu untuk beristirahat.


Bukan untuk mempertahankan fisik, melainkan mental dan pikiran untuk mengendalikan tubuh. Karena itulah, tidur menjadi hal yang tidak bisa kami hindari meski telah menjadi makhluk superior.


Ketika masih berada di Istana, banyak orang dewasa yang mengajari ku untuk tidur tepat waktu. Tidak boleh melawan rasa kantuk, membaringkan tubuh sebelum lelah menyerang.


Supaya cepat tumbuh besar, jauh dari penyakit dan hal buruk ….


Diriku pikir itu hanyalah bualan semata. Supaya anak kecil cepat tidur, tidak merepotkan orang dewasa yang sedang sibuk bekerja.


Habisnya ….


Meski diriku sudah berusia ratusan tahun dan sering tidur selama belasan tahun, tetap saja wujud humanoid ku tidak pernah berubah.


Tampak belia, sangat muda tanpa kesan dewasa. Kalah jauh dari Ibunda yang terlihat anggun dan berwibawa.


Namun, bualan mereka tidak sepenuhnya salah.


Tidur menjauhkan Naga Agung dari hal buruk, hal ini bukanlah kebohongan.


Ketika seekor Naga memaksakan diri mereka untuk terus bangun, kantuk akan berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Membunuh akal, merebut tubuh, dan menghancurkan kemuliaan.


Membangkitkan sifat leluhur kami, monster keji yang merambat keluar dari Laut Purba. Diisi oleh rasa lapar dan ketakutan, mengamuk layaknya makhluk gila.


Saat diriku menyadari tanda-tandanya, itu terlambat


Tidak! Bukan itu ….


Diriku sudah lama menyadarinya.


Seharusnya diriku berhenti dan kembali.


Pergi sebelum tenggelam dalam kegilaan ini.


Pengecut⸻!!


Diriku hanya takut kehilangan mereka!


Itu karena …. Saat diriku menutup mata dan berbaring sejenak, orang-orang yang ku kenal telah berubah menjadi kakek-nenek.


Saat memejamkan mata sekali lagi, apa yang tersisa dari mereka hanyalah nama, harta, dan keturunan.


Untuk makhluk berumur panjang, diriku masih terlalu kekanak-kanakan. Tidak cukup dewasa untuk menerima kepergian mereka.


Diriku tidak ingat dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi saat itu.


Hanya saja⸻


Saat diriku mengoyak tubuh kecilnya yang rapuh, seketika hati dan pikiran ini dipenuhi kepuasan yang tiada duanya. Layaknya manis madu, gurih rempah, dan asam plum yang bercampur dalam satu hidangan.


Sensasi renyah saat tulang remuk di mulut, aroma darah yang menusuk hidung, dan jeritan singkat sebelum dilumat.


Sebuah puncak kenikmatan yang terasa begitu singkat.


Namun, penyesalan yang datang setelahnya benar-benar nyata. Sangat menyakitkan dan membekas. Memberi luka yang takkan bisa disembuhkan oleh waktu.

__ADS_1


__ADS_2