
Tidak ada yang benar-benar abadi⸻
Kemuliaan, kejayaan, janji, sumpah, atau bahkan peradaban dan sumpah-sumpah luhur para penyintas, semuanya akan luput ditelan aliran waktu.
Kehendak dan amanah yang diwariskan kelak akan dilupakan. Tergantikan oleh dusta, layaknya para leluhur yang berusaha menutupi dosa mereka di masa lampau dengan fitnah.
Membual seakan diri mereka paling suci, mendefinisikan bangsa sendiri lebih unggul dan berbeda dari yang lain, lalu pada akhirnya mulai memandang rendah semua orang di luar golongan mereka.
Tanpa sadar berubah menjadi binatang buas, lalu menyulut konflik dengan mengatasnamakan harga diri kebangsaan serta kemuliaan.
Tidak pernah bercermin, atau bahkan sejenak melihat jadi diri dalam permukaan air yang merefleksikan wujud mereka. Hanya hidup dalam kobaran api dan genangan darah merah yang keruh, lalu pada akhirnya berdiri di atas tanah gersang yang dikelilingi tumpukan mayat.
Sebuah konflik selalu dimulai oleh satu pemicu sederhana, yaitu mendefinisikan perbedaan antara dua hal yang saling bertentangan. Menciptakan garis pemisah yang jelas untuk menciptakan golongan. Mulai saling menatap tajam, lalu pada akhirnya mengacungkan pedang dan tombak untuk saling menjatuhkan.
“Aku berbeda dengannya!”
“Dia berbeda denganku!”
“Kami tidaklah serupa!”
Ucapan-ucapan sederhana itulah yang memulai perselisihan, menjadi pelatuk dari sebuah proses regresif menuju kehancuran. Meskipun hanya dilontarkan oleh anak-anak, tentu saja tua takkan terima jika darah daging mereka disakiti. Terutama jika itu dilakukan oleh pihak seberang.
Karena itulah, ucapan juga dapat didefinisikan sebagai senjata primitif paling kuat. Ada pepatah yang berbunyi mulutmu adalah harimaumu. Namun, itu sebenarnya tidaklah cukup untuk menggambarkan seluruh bahaya yang terkandung dalam lisan.
Sesuatu yang terucap akan diingat, disampaikan kepada seluruh orang, diteruskan untuk generasi berikutnya dan bahkan bisa tercatat dalam sejarah. Itu dapat menjadi petunjuk bagi semua orang. Namun jika salah ditafsirkan, satu kata saja dapat menyesatkan semua umat dan menjerumuskan mereka ke dalam kegelapan.
Odo memahami hal tersebut dengan sangat baik. Karena itulah, dirinya lebih memilih untuk bersikap pasif dan diam. Hanya berjalan bersama Putri Naga dan yang lainnya, tanpa mengambil inisiatif seperti membuka topik pembicaraan atau sekadar melakukan kontak mata.
Dikelilingi pepohonan oak dan cemara, melewati hutan yang dipenuhi semak belukar dan akar-akar tunggang. Sesekali mengangkat dagu dan mendongak, pemuda itu seakan berusaha untuk tidak menoleh. Mendiamkan mereka yang mengikuti, tanpa memberikan penjelasan maupun menyampaikan tempat tujuan.
Makhluk berumur panjang memiliki kecenderungan untuk mengingat hal-hal sepele, itu merupakan sifat bawaan mereka yang telah mengakar. Entah itu lanturan seseorang, peristiwa kurang penting, atau bahkan obrolan singkat selama perjalanan.
Berbeda dengan mortal yang memiliki jangka hidup pendek, entitas seperti makhluk primal dan astral cenderung memandang masalah dengan berbagai persepsi. Itu akan terus diingat oleh mereka, dipikirkan kembali, lalu dicari penyelesaian terbaiknya untuk menghadapi masalah yang serupa di kemudian hari.
Mereka paham bahwa dalam hidup masalah serupa akan datang berkali-kali. Atas dasar itulah, secara insting makhluk berumur panjang cenderung mengingat hal-hal sepele. Untuk masalah yang dianggap tidak penting oleh mortal, sekurang-kurangnya mereka mempertimbangkan hal tersebut lebih dari satu kali.
Daripada memulai pembicaraan dan membuat mereka terus memikirkannya nanti, Odo Luke lebih memilih untuk menunggu. Membiarkan rasa keingintahuan memuncak, lalu mendorong mereka bertanya untuk menghindari kesalahpahaman yang menyesatkan di kemudian hari.
Sebagai Roh Agung yang sama sekali belum mendapatkan penjelasannya, Reiye Reyah menatap punggung pemuda itu dengan gelisah. Dalam benak ingin langsung mendahului dan menyampaikan keraguan. Namun, rasa bersalah menghentikan niatnya.
Dryad tersebut hanya mengikuti dengan wajah tertunduk, terlihat lesu sampai-sampai bunga pada tanduk rantingnya berguguran. Saat mengingat kembali momen penaklukan Leviathan, frustrasi semakin menyelimuti dan membuatnya merasa tidak berguna.
Berbeda dengan Reyah yang memilih untuk diam, Laura Sam’kloi memiliki hak dan kewajiban untuk memastikan sesuatu. Prajurit Peri itu mencengkeram pundak Odo Luke dari belakang, lalu tanpa ragu menghentikan langkahnya dan membuat pemuda itu menoleh.
__ADS_1
“Jawab pertanyaanku! Siapa kamu sebenarnya?!” Elf rambut pirang sebahu itu menarik kerah sang pemuda dengan kencang, menatap dari dekat dan kembali bertanya, “Kamu masih Odo Luke?! Atau dalamnya sudah diisi makhluk mengerikan⸻?!”
“Maksud kau Mahia? Atau malah Helena?” sela Odo tanpa ragu. Balik menatap tajam seakan-akan sedang tersinggung, pemuda itu sekali lagi balik bertanya, “Kau takut setelah melihat wujud asli Singgasana Ilahi? Atau karena sempat kontak mata dengan wadah yang dipakai Dewi itu?”
“A-Apa yang kamu bicarakan? Jangan mengelak!” Laura lekas mengangkat tangannya dari pemuda itu. Melangkah mundur dengan wajah pucat dan gemetar, perempuan dengan seragam pelayan tersebut lanjut menuntut, “Tolong jangan berkelit! Jawab saja pertanyaan saya! Ini juga mewakili Magda dan yang lain!”
“Ah ….” Odo sekilas mengamati ekspresi semua orang yang mengikutinya. Entah itu para Roh Agung, Putri Naga, atau bahkan dua High Elf tersebut, mereka semua memperlihatkan mimik wajah penasaran yang bercampur curiga. “Apa kau melihatnya secara langsung?” tanyanya dengan nada cemas.
Laura langsung memucat ketika dia menangkap maksud pemuda itu. Tubuh semakin gemetar kencang, kemudian keringat dingin pun bercucuran sampai pakaiannya sedikit basah.
Layaknya seorang prajurit yang menderita gangguan stres pasca-trauma, ketakutan terukir jelas di wajahnya. Seolah-olah dirinya sedang diingatkan kembali dengan medan perang mengerikan. Mulut menganga tanpa bisa mengeluarkan suara, lalu kedua matanya terbuka lebar dengan keputusasaan yang meluap.
Itu lebih dari sekadar ketakutan. Saat melihat ekspresi Laura, semua orang di tempat tersebut langsung memahaminya. Mereka semakin cemas dengan fakta yang disembunyikan oleh Odo Luke, lalu menatap pemuda itu seakan sedang menuntunnya bicara.
“Letnan ….” Melihat sang atasan memperlihatkan gelagat aneh, Magda segera mendekat dan menepuk pundaknya dari belakang. “Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya mencemaskan.
“Diriku tidak melihat apa-apa?!” Laura langsung menepis tangan rekannya dengan kasar. Dalam hitungan detik napasnya mulai terengah-engah, tatapan perlahan dipenuhi kegelisahan, dan tekanan darah pun naik karena detak jantung yang semakin cepat. Layaknya orang yang menderita gangguan kecemasan berlebihan, perempuan rambut pirang tersebut tanpa sebab jelas langsung membentak, “Tidak ada apa-apa di sana! Aku tidak melihat apa-apa!! Sudah! Jangan bertanya lagi!! Diriku mohon, jangan bertanya lagi!!”
Semuanya langsung tercengang saat melihat sikap Elf tersebut. Meski baru mengenal Laura selama beberapa hari terakhir, Roh Agung dan Leviathan cukup paham dengan sifatnya. Karena itulah, mereka tidak percaya dia akan berteriak histeris dan memperlihatkan ekspresi histeris layaknya orang sinting.
“Letnan …?” Magda semakin cemas. Dengan mimik wajah bingung, matanya mulai berkaca-kaca karena bentakan tadi. “Kamu tidak apa-apa, ‘kan?” tanyanya dengan nada gemetar.
“Sudah saya bilang tadi …” Laura tiba-tiba mengepalkan tangannya, lalu mengaktifkan Inti Sihir dan mengumpulkan Mana Internal pada satu titik. Tanpa ragu sedikit pun, dia melayangkan tinjunya sembari membentak, “Jangan bertanya lagi!!”
“Hentikan dia!” teriak Odo sebelum tinju tersebut mendarat pada dada kiri Magda.
“Letnan!” Meski paham serangan tadi benar-benar dilancarkan sekuat tenaga dan mengincar titik vital, Magda tidak bisa melawan nurani dan tetap memilih untuk percaya kepada rekannya. “Hentikan!!” teriaknya seraya menangkap tongkat Vil yang hendak memukul lagi.
Sebelum Laura menjerit kesakitan setelah adrenaline menghilang, Odo bergegas mencengkeram bagian belakang lehernya. Menjatuhkan Elf itu dengan sangat cekatan, lalu menahan tangan kirinya supaya tidak bisa menggunakan sihir.
“Vil, pinjam tongkat⸻!”
“Lepaskan dia!” Magda menendang wajah pemuda itu sampai gigi depannya lepas.
Tetap mencengkeram Laura dengan kencang, Odo Luke sama sekali tidak bergeming dan segera mencari alternatif lain. Menindih tubuh Elf tersebut dari belakang untuk membatasi pergerakan, pemuda itu langsung menggunakan Aitisal Almaelumat untuk memulai proses manipulasi ingatan.
Sirkuit sihir merah sekilas menjalar pada pergelangan tangan, lalu merambat ke tubuh Laura dan bergerak masuk melaui telinga. Melihat hal tersebut, Magda semakin cemas dan kembali menendang wajah Odo dengan sangat keras.
Beberapa giginya lepas lagi. Namun, cengkeraman Odo sama sekali tidak melemah dan terus melanjutkan proses manipulasi ingatan. Melacak sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh Laura, lalu menghapusnya untuk mengembalikan akal sehat perempuan itu.
“Apa yang kamu lakukan?! Lepaskan dia, Odo Luke!”
Magda yang tidak tahu hal tersebut kembali menyerang Odo. Prajurit Peri itu mengepalkan tangannya, lalu mengaktifkan Inti Sihir dan berusaha menghempaskan kepala pemuda itu dengan pukulan sekuat tenaga.
__ADS_1
Sebelum pukulan tersebut mengenai sasaran, Reyah yang sebelumnya ragu ikut membantu. Dengan segera menahan ayunan tangan Magda dari belakang, lalu melumpuhkan Elf itu dengan menyerap energi kehidupannya.
Berbeda dengan Reyah dan Vil yang memilih untuk membantu, Leviathan, Diana, serta Alyssum hanya bisa terdiam. Menatap bisu dengan ekspresi bingung di wajah, tidak tahu harus berbuat apa karena mereka tidak sepenuhnya percaya pada Odo Luke.
“Sialan, ini benar-benar kesalahanku ….” Selesai memanipulasi ingatan, Odo segera melepaskan Laura dan menyingkir. Duduk terengah-engah di atas rerumputan serta akar, pemuda rambut hitam tersebut menatap Magda dengan sangat kesal. “Sakit sekali, sialan! Ini benar-benar sakit sekali,” ujarnya seraya menyeka darah yang mengalir dari hidung.
Daripada menyeka mulutnya yang berdarah atau mengkhawatirkan gigi yang lepas, Odo lekas mendongak dan berusaha menghentikan mimisan. Tetapi, darah tetap keluar deras seakan-akan tubuhnya memberikan reaksi penolakan.
Kombinasi antara Unsur Aktivasi dan Aitisal Almaelumat, lalu manipulasi ingatan jangka panjang terkait Kemahakuasaan. Meski proses tersebut terbilang sederhana, batasan pengetahuan atau Daath yang diakses sangatlah sensitif.
Odo Luke merupakan entitas unik, komposisi jiwanya menyimpang dari kodrat dan sangat kompleks. Melebihi batasan makhluk ilahi, bahkan dapat dikatakan telah mencapai tingkat Kether dan mampu melebihinya.
Meski begitu, fisik pemuda itu tetaplah makhluk mortal. Terikat kuat dengan seluruh batasan fana, lalu memiliki kodrat yang tidak boleh dilewati selama masih terikat dengan raga.
Karena itulah, menyentuh Daath yang lebih tinggi dari batasan tersebut sama saja dengan menelan racun. Layaknya mengonsumsi obat dengan dosis yang tidak sesuai, Daath yang seharusnya menjaga struktur tubuh malah berbalik menyerang dirinya.
Penolakan terhadap jiwa, sebuah kondisi di mana raga tidak lagi mampu mengenali komposisi jiwa yang seharusnya dijaga. Menganggap susunan Daath sebagai ancaman, lalu berusaha mengeluarkannya melalui reaksi alamiah yang dapat diambil tubuh.
Salah satu bentuk penolakan tersebut adalah pendarahan parah. Proses di mana tubuh berusaha mengeluarkan darah, sebab dinilai sebagai perantara jiwa yang tidak sesuai dan bersifat racun.
Efek itu memang dapat dikurangi dengan menulis ulang komposisi raga untuk penyesuaian, namun tetap saja dampak dari memasukkan Daath yang tidak sesuai sangatlah parah. Meski telah menyekanya berkali-kali, mimisan Odo tidak kunjung berhenti. Darah mengalir sampai membasahi pakaian dengan warna merah, lalu menciprat ke rerumputan dan akar-akar.
“O-Odo?!” Vil yang melihat itu langsung cemas. Sembari mengaktifkan tongkatnya dan bersiap untuk menggunakan sihir pemulihan, Roh Agung rambut biru laut itu bertanya, “Apa yang terjadi? Kenapa mimisan⸻?”
“Tidak apa-apa! Jangan kemari!” larang Odo dengan tegas. Sembari menyela hidung dengan punggung tangan kanan, pemuda itu lekas mengangkat tangan kirinya ke depan dan menunjuk Laura. “Reyah, tolong sembuhkan lengannya yang patah! Lepaskan saja Magda, dia sudah tidak punya niat untuk menyerang ku,” pintanya dengan suara lemas.
Melihat darah yang terus keluar dari hidungnya, Reyah hanya melepaskan tangan Magda dan terdiam. Bingung harus mematuhi perintah Odo atau tidak, merasa bahwa pemuda itulah yang seharusnya disembuhkan lebih dulu.
Merasakan hal yang serupa, Magda yang sebelumnya berniat menyerang Odo ikut panik. Merasa sangat bersalah karena sempat menendang wajah pemuda itu, berniat menolong dan melangkah mendekat.
“Hmm!”
Odo membuka telapak tangan kirinya untuk melarang Elf tersebut. Tidak bisa berbicara dengan jelas karena seriawan sudah memenuhi mulut, pemuda rambut hitam itu hanya memberikan tanda isyarat untuk mencegah mereka semua mendekat.
Memahami hal tersebut, baik itu Magda, Reyah, Vil, Diana, ataupun Alyssum memilih untuk menurutinya. Menjaga jarak karena tahu darah yang keluar dari tubuh Odo Luke terlihat sangat aneh, menguap dengan cepat dan berubah menjadi partikel hitam.
Seakan tidak memedulikan larangannya, Leviathan malah menghampiri pemuda itu. Memberikan tatapan khawatir yang cenderung didominasi oleh antusias, wajahnya dengan jelas memperlihatkan rasa penasaran kuat layaknya seorang anak kecil.
Odo kembali memberikan isyarat dengan tangan kiri, berusaha memberitahu Leviathan untuk segera menjauh. Namun, Putri Naga tersebut malah memegang erat tangan pemuda itu. Menatap dari dekat dengan sorot mata lebar, dipenuhi rasa keingintahuan yang sudah tidak bisa dibendung.
Meski darah menciprat dan menodai gaunnya, Leviathan tidak bergeming maupun berpaling. Mengamati dari dekat dalam bisu, berusaha memahami kejanggalan yang terjadi pada pemuda rambut hitam itu.
Tidak bisa lagi menahan reaksi penolakan jiwa, wujud fisik Odo mulai runtuh. Permukaan kulit perlahan melepuh, panas seakan menjalar dari dalam dan meluap keluar layaknya dipanggang dalam oven.
__ADS_1
“A⸻!” Odo lekas menarik tangannya dari Leviathan.
Berbalik dan langsung mematahkan salah satu ranting pohon di dekatnya, pemuda itu meletakkan ujung runcing pada lehernya sendiri. Dengan tangan gemetar lemas, dirinya mengincar pembuluh darah Karotis, lalu tanpa ragu menusukkannya dengan kencang sampai masuk beberapa sentimeter.