
Penderitaan selalu lahir dari konflik⸻
Layaknya kelopak bunga Datura yang mekar saat malam, sengatan kesengsaraan menciptakan halusinasi menyesatkan. Kebanyakan orang tidak ingin menerima kenyataan pahit, karena itulah mereka menenggelamkan diri dalam kepalsuan. Enggan melangkah ataupun menerima perubahan, menolak kenyataan bahwa kehidupan damai mereka telah sirna.
Kebodohan itu melahirkan penderitaan lain, menyeret orang-orang ke dalam kesengsaraan dan mengantarkan mereka menuju kematian. Menciptakan lusinan buket mayat kebusukan, berserakan di atas jalan suram dan pojokan kota.
Perkataan naif takkan menyelamatkan siapa pun, meski begitu mereka terlalu takut untuk mendukung kenyataan yang menyakitkan. Penuh dengan kontradiksi, lalu berakhir tidak memilih dan hanya mengikuti gelombang besar.
Mayat bergelimpangan di atas anak tangga dan susunan jalan batu, mewarnai kelabu dengan darah merah mereka yang mengalir perlahan. Itu mulai menggenang pada beberapa titik, lalu menyebarkan aroma amis yang bercampur dengan hembusan angin dan kabut.
Anak-anak, perempuan, orang tua, remaja, atau bahkan orang dewasa. Korban mulai berjatuhan saat Pasukan Kekaisaran menyerbu kota, memasuki pemukiman dan menyerang penduduk sipil yang tidak sempat mengungsi.
Peringatan serangan sebenarnya sudah diumumkan beberapa jam yang lalu, tepatnya setelah pasukan musuh dikonfirmasi mendekat. Pihak pemerintah Rockfield juga telah menyiapkan tempat pengungsian, dijaga oleh belasan prajurit dan penduduk sipil yang ikut membantu.
Namun, tetap saja ada banyak penduduk sipil yang keras kepala. Mereka memilih untuk menetap pada kediaman masing-masing, mengira konflik dapat diselesaikan hanya dengan negosiasi. Tanpa perang atau bahkan pertumpahan darah.
Sayangnya, kenyataan berkata lain. Orang-orang yang bersembunyi di dalam rumah mereka langsung digerebek, lalu diserang oleh pasukan musuh dan dilecehkan.
Para pria ditebas sampai sekarat, perempuan dilucuti dan dipermalukan oleh banyak orang sekaligus, sedangkan anak-anaknya dijadikan sandera supaya sang Ibu tidak melawan atau bunuh diri. Suara rintihan dan tangisan pun seketika pecah, memenuhi kediaman yang menjadi sasaran kekejian Pasukan Kekaisaran.
Setelah merasa puas, para korban ditinggalkan begitu saja. Pria yang sekarat ditusuk sampai mati, sedangkan wanita yang selesai mereka permainkan digeletakkan begitu saja di lantai. Tubuhnya dipenuhi air jauhar, luka memar, dan sayatan tipis.
Melihat kekejian itu dari awal, anak-anak yang dijadikan sandera hanya bisa meringkuk ketakutan di sudut ruangan. Meski tidak dilukai secara fisik, mereka telah benar-benar hancur secara mental. Ditanami trauma yang akan dikenang sampai akhir hayat layaknya kutukan.
Hal serupa juga terjadi pada tetangga mereka, bahkan lebih parah dan sadis. Para wanita ditelanjangi dan diseret ke jalanan, lalu dijadikan tontonan oleh belasan Prajurit Kekaisaran.
Beberapa pria yang hendak menolong langsung dihabisi, lalu tubuh mereka dimutilasi dan ditancapkan pada tombak. Digantung sebagai peringatan untuk orang-orang yang menyaksikan supaya tidak melawan.
Mewarnai jalanan dengan kekejian, bertindak barbar layaknya bandit pegunungan. Tidak ada moral, rasa hormat, dan bahkan rasa kemanusiaan. Hanya dipenuhi kegilaan dan kepuasan menyimpang, sesat layaknya sekumpulan iblis berkulit manusia.
Gereja Utama⸻
__ADS_1
Pada bangunan peribadatan tersebut, orang-orang berkumpul untuk mencari perlindungan. Terpasang barisan pagar pasak di sekitar lapangan balai kota, dijaga oleh belasan prajurit dengan persenjataan lengkap. Melindungi tempat pengungsian yang sebagian besar diisi oleh anak-anak, perempuan, dan orang tua.
Ada beberapa penduduk sipil yang juga ikut membantu pertahanan. Kebanyakan dari mereka adalah pemburu dan penambang, terdiri dari pemuda sampai pria paruh baya. Bertugas membangun pagar pasak, kemudian membuat busur dan anak panah untuk membantu para prajurit dari belakang.
Selain mereka, sisanya hanya bisa berlindung di dalam bangunan Gereja Utama. Suara tangisan mengisi ruang umat dan aula depan, bahkan sampai terdengar keluar dan membuat para prajurit yang berjaga cemas.
Beberapa orang puritan keluar-masuk bangunan dengan gelisah. Mereka membawa baskom yang biasanya digunakan untuk pembaptisan, lalu mengambil air bersih dari sumur di halaman depan.
Itu bukan untuk upacara sakramen, melainkan untuk membersihkan luka para pengungsi yang sempat diserang sebelum sampai di Gereja Utama. Para korban tersebut segera diamankan oleh prajurit dan pihak gereja, lalu berikan pertolongan pertama dengan peralatan seadanya.
Mereka kekurangan orang dan tenaga ahli, bahkan para Diaken dan Diakones terpaksa harus menggunakan sihir pemulihan secara terus menerus. Ikut serta dalam memberikan pertolongan pertama, lalu memanjatkan berkah peningkatan stamina supaya korban tidak kehilangan kesadaran.
Wajah para Diaken dan Diakones mulai memucat, gejala kekurangan Mana perlahan muncul karena terlalu sering menggunakan berkah. Tubuh mulai kehilangan kekuatan, lalu penglihatan mereka perlahan-lahan redup seiring dengan memudarnya kesadaran.
Tidak sampai setengah jam, salah satu diakones tumbang karena kelelahan. Perempuan itu tiba-tiba terkapar di lantai dengan tubuh kejang-kejang, lalu mengalami gejala Keruntuhan Akal karena terlalu banyak menggunakan berkah.
Keruntuhan Akal, atau juga bisa disebut dengan Kerusakan Kepribadian⸻ Itu adalah kondisi menyimpang di mana seseorang terlalu banyak menggunakan Mana Suci, kumpulan Ether dari dimensi tingkat tinggi yang dapat meracuni tubuh makhluk mortal.
Pemilik Berkah atau Abdi yang telah terhubung hanya perlu memanjatkan doa, lalu meminjam kekuatan suci dari Entitas Tingkat Tinggi dalam takaran tertentu. Pada kasus tersebut, entitas yang dimaksud adalah Dewi Kota Asmali Oraș Mondial. Sosok Roh Kudus yang disembah oleh masyarakat Felixia.
Sebab itulah, berkah terkadang hanya dapat diaktifkan pada tempat tertentu. Contohnya seperti lingkungan kota, hal tersebut dapat diidentifikasikan sebagai altar raksasa untuk Dewi Asmali menanamkan kekuasaannya. Memaksimalkan koneksi dan khasiat dari berkah itu sendiri.
Apapun konsepnya, berkah merupakan sesuatu yang sakral. Tidak boleh digunakan sembarangan, apalagi berkali-kali. Hal tersebut dapat mengikis komposisi jiwa pengguna, lalu mengakibatkan Keruntuhan Akal secara permanen.
Melihat salah satu rekan mereka tumbang, para Diaken dan Diakones segera berhenti menggunakan berkah secara bersamaan. Tatapan mereka tertuju pada satu arah, lalu mulai termenung dengan tubuh gemetar. Kembali meragukan keputusan mereka untuk menolong para korban yang terluka.
“Ba-Bawa dia!” Seorang Biarawan segera mendekati rekannya yang tumbang. Ia berlutut di hadapan perempuan itu, lalu memeriksa nadi pada lehernya sembari meminta, “Tolong bantu saya! Kita masih bisa menolong⸻!”
“Itu sudah terlambat!” sela Diakones lain. Ia segera menghampirinya, lalu memegang pundak pria itu dari belakang seraya berkata, “Kalau saja Imam Kota ada di sini, mungkin beliau bisa melakukan sesuatu. Namun …, kita tidak mampu. Kita hanyalah hamba, batasan ini merupakan kodrat dari Dewi Asmali.”
“Kenapa harus begini?” Biarawan itu mulai mengepalkan kedua tangannya, lalu menundukkan wajah yang berlinang air mata. Tidak mampu menerima takdir layaknya umat yang taat, tepat di tengah ruang umat ia dengan lantang berteriak, “Padahal kita hanya ingin menolong! Kita berbuat baik! Mengapa kita harus berakhir seperti ini! Kalau kalian menggunakan berkah lagi, akal kalian juga akan …!”
__ADS_1
Perkataannya terhenti, digantikan dengan suara tangisan yang tersedu-sedu. Membuat suasana di dalam gereja menjadi sedikit lebih senyap, terasa semakin suram dan tegang.
Beberapa penduduk sipil mulai termenung, mereka paham bahwa orang-orang puritan itu juga manusia. Sama-sama merasa gelisah, takut, dan mencemaskan hal serupa. Mereka hanya bisa berusaha semaksimal mungkin tanpa mampu menjamin apapun.
“Cepat sembunyi!!” Di tengah kesunyian yang mencekam, tiba-tiba terdengar suara teriakan prajurit dari halaman depan. Beberapa penduduk sipil berbondong-bondong kabur ke dalam gereja, lalu dengan suara lantang salah satu dari mereka memperingatkan, “Kekaisaran! Mereka datang!! Mereka sudah menerobos sampai kemari!!”
Suasana senyap seketika pecah. Anak-anak, perempuan, dan orang tua lekas berlarian menuju altar utama di sudut ruangan. Mereka mulai meringkuk ketakutan, lalu mencari tempat sembunyi dengan mimik wajah panik.
Berbeda dengan penduduk sipil, orang-orang puritan malah memperlihatkan reaksi tenang seakan telah mendapatkan pencerahan. Sekilas saling menatap satu sama lain, lalu dengan sebaik mungkin mereka kembali memberikan pertolongan pertama kepada para korban.
Tidak lagi memedulikan risiko Keruntuhan Akal ataupun ancaman lainnya, lanjut menggunakan Sihir Suci untuk meningkatkan stamina korban selama diobati. Tetapi, tindakan itu bukanlah tekad ataupun keteguhan. Mereka hanya pasrah menerima keadaan, berserah diri kepada sang Dewi layaknya hamba yang taat.
Segera bangun sembari mengusap air mata, Biarawan yang sebelumnya berteriak tidak terima dengan takdir pun ikut serta. Ia berjalan menuju salah satu korban, lalu membantu yang lain untuk memberikan pertolongan pertama. Meninggalkan rekannya yang mengalami Keruntuhan Akal tergeletak di lantai.
Melihat hal tersebut, sebagian penduduk sipil untuk sesaat merasa bahwa orang-orang puritan itu tidak waras. Mendekati gila karena terlalu taat dalam menyembah Dewi Kota.
Namun, di sisi lain anak-anak malah melihat hal tersebut sebagai tindakan mulia. Menatap terkesima, bahkan ada yang berlari keluar dari pelukan orang tua mereka untuk membantu.
Mengikuti anak-anak itu, beberapa penduduk sipil pun ikut tergerak. Mereka segera bangun, lalu menghampiri para Diakon dan Diakones untuk membantu pertolongan pertama. Entah itu mengikatkan perban, membersihkan luka dengan air bersih, atau sekadar menyeka keringat dengan kain perca.
Pada saat itulah sebuah batasan terbentuk di antara orang-orang egois dan altruisme. Dalam hitungan detik, beberapa orang yang hanya mementingkan diri sendiri mulai terlihat. Hati mereka sama sekali tidak tergerak, lanjut mencari tempat persembunyian bahkan sampai menjatuhkan mimbar.
Orang-orang egois seperti mereka kebanyakan berasal dari golongan pedagang dan pejabat. Berpenampilan rapi, mengenakan jas dan celana berbahan kain mewah, lalu tampak berwibawa layaknya kalangan atas pada umumnya.
Namun, hati mereka terlalu miskin untuk peduli. Hanya mementingkan diri sendiri dan golongan, bersikap masa bodoh dengan yang lain.
.
.
.
__ADS_1
.