
“Tidak apa, diriku hanya sedang kesal ….” Dart memalingkan pandangan. Untuk beberapa alasan, penampilan perempuan itu mengingatkannya dengan Mavis. Memberikan kesan tidak nyaman, bahkan sampai rasa takut dan cemas pada beberapa aspek. “Ini menyebalkan! Kenapa dia malah memasukkan penyihir Miquator ke peleton,” gumam pria berparas tua tersebut.
“Ngomong-ngomong ….” Mili mengabaikan keluhan itu. Bertindak logis layaknya orang intelektual, tanpa gentar sedikit pun penyihir rambut pirang tersebut langsung menyalahkan, “Lihat, tekanan sihir Tuan Dart membuat kuda kita ketakutan. Bahkan ada yang harus dibunuh karena merusak peralatan dan kereta. Sisanya kabur ke hutan.”
“Kamu⸻!!” Dart ingin membentak, namun ia langsung terhenti saat bertatap mata dengan Mili. Lekas memalingkan pandangan, kemudian menggertak kesal dengan tidak berdaya. “Sialan! Gaiel! Aku pasti akan menghajar kau nanti,” gumamnya kesal.
Melihat reaksi tersebut, Luca dan yang lainnya langsung paham dengan selera Dart Luke. Mereka memperlihatkan tatapan datar, kemudian mengangguk ringan dengan lega.
“Ah, beliau masih seorang pria …. Syukurlah,” benak Luca. Ia sekilas tersenyum kecut, merasa seperti orang bodoh karena sempat dibentak Dart.
“Selera beliau memang agak aneh. Namun, diriku akui rambut pirang si Mili memang indah. Tidak seindah milikku, sih!” benak Noxy. Dari pada memuji, pria bertubuh gempal tersebut malah membanggakan dirinya sendiri. Mengibaskan rambut dengan wajah penuh percaya diri.
“Akh! Kuat sekali tekanannnya,” ujar Chastel dalam hati, segera mengusap busa yang keluar dari mulut dan kembali berlutut. Berbeda dengan mereka, ia malah terlihat bingung dengan situasi yang ada. Sembari menoleh ke kanan dan kiri, pemuda rambut putih pudar tersebut dalam benak lanjut berkata, “Apa yang terjadi? Kenapa mereka memasang ekspresi aneh seperti itu? Dan juga, Tuan Jakal kenapa?”
“Sudah lama sekali diriku tidak melihat beliau dibuat kewalahan, terutama oleh perempuan,” benak Roland Jakal sembari mengangguk ringan. Tampak bangga untuk beberapa alasan yang tidak jelas.
Dart lekas menggubris mereka. Memperlihatkan ekspresi kesal, namun tidak sampai murka karena terlalu cemas dengan kehadiran Mili.
“Apa yang sebaiknya kita lakukan, Tuanku?” Mili menunjuk ke arah gerobak berisi kotak dan karung persediaan, tampak rusak karena sempat ditendang kuda yang mengamuk. Sejenak menghela napas ringan, penyihir rambut pirang tersebut kembali bertanya, “Apa kita sebaiknya mundur dulu? Dilihat dari kekuatan lini belakang musuh, saya rasa ini hanya jebakan mereka ….”
“Kita akan melanjutkan misi pengintaian ini,” jawab Dart dengan tegas. Mengesampingkan rasa gelisah dan tidak nyaman, pria rambut hitam keabu-abuan tersebut lekas menunjuk lawan bicaranya sembari mengingatkan, “Seharusnya diriku sudah bilang ini! Kita akan maju sampai titik persimpangan keempat!”
“Saya mengerti, Tuanku. Maaf telah berkata lancang. Untuk gerobak, kami akan berusaha memperbaikinya ….” Milia menundukkan wajah, segera berbalik sembari bergumam, “Andai engkau tidak meratakan tempat ini, pasti ada cadangan roda kayu yang masih bisa dipakai.”
“Eh?” Dart mendengar itu, namun tidak bisa menegur karena rasa cemas dalam benak. Ia hanya bisa menahan napas sejenak, berusaha menenangkan diri sembari mengeluh, “Ini menyebalkan, sungguh ….”
Di tengah suasana yang mulai melunak, tiba-tiba para kuda yang berhasil ditenangkan kembali mengamuk. Lebih beringas dari sebelumnya, bahkan sampai menginjak-injak kuda lain yang ditidurkan dengan sihir.
Mereka meringkik dengan keras sampai mulut berbusa, meloncat tidak jelas dan berputar-putar. Namun, anehnya tidak ada satu pun kuda yang kabur ke hutan.
“Tuan Dart?” Mili perlahan menoleh. Bukan untuk menegur, melainkan menunggu perintah dari sang Jenderal. Sembari melempar senyum kaku, ia dengan suara gemetar memastikan, “I-Ini hawa keberadaan Iblis?”
“Ini bukan Iblis!” Dart mengaktifkan Inti Sihirnya, memadatkan Mana dan menciptakan sebuah pedang satu tangan. Berwarna biru pudar, memancarkan cahaya redup dan suara dengung. Sembari memberi perintah waspada dengan mengangkat tangan kiri, pria rambut hitam keabu-abuan tersebut lekas menjelaskan, “Iblis jauh lebih busuk. Tekanan sihir ini berasal dari makhluk mistis ...., mirip seperti Naga Hitam.”
Luca dan yang lainnya segera bangun, menghunuskan senjata mereka dan memasang kuda-kuda. Membentuk formasi empat arah dengan Mili sebagai pusat, mengawasi sekeliling sembari mencari sumber tekanan sihir aneh tersebut.
Mili segera menyiapkan sihir pemulihan, mengangkat tongkatnya dan menggunakan kristal sihir untuk mempercepat proses pembentukan struktur mantra. Sebagai penyembuh, ia berperan penting dalam efektivitas kelompok.
Mengambil tindakan serupa, belasan Prajurit Elit lain pun segera membentuk formasi sejenis. Terdiri dari lima orang dengan satu penyihir, fokus pada pertahanan sesuai dengan perintah dari pemimpin mereka.
Waktu seakan berjalan lambat. Kesunyian yang mencekam membuat suara dedaunan terasa lebih keras dari sebelumnya, memberikan kesan menakutkan dalam ketidaktahuan.
Layaknya mata air yang muncul dengan sendirinya, genangan bercahaya perlahan naik ke permukaan tanah. Dikelilingi partikel cahaya seperti neon, menjadi sumber tekanan sihir aneh yang mereka rasakan.
__ADS_1
“Genangan air?” Dart segera memasang kuda-kuda, lalu mengacungkan pedangnya ke depan sembari bersiap melancarkan teknik pedang. “Rasanya tidak asing. Diriku pernah melihat itu, namun di mana, ya?” gumam pria berparas tua tersebut seraya menyipitkan mata.
“Sialan! Kenapa mereka tidak membiarkan aku lewat dengan mudah?!”
Seorang pemuda merangkak keluar dari dalam genangan bercahaya. Ia memiliki rambut hitam khas, kulit sedikit gelap, dan mata biru yang tajam. Mengenakan kemeja putih yang dirangkap dengan rompi merah, sedangkan bawahan berupa celana panjang hitam.
Cairan bercahaya yang membuat tubuhnya basah langsung menguap, genangan pun menghilang dari permukaan tanah dengan cara serupa. Tanpa sisa, sepenuhnya berubah menjadi Ether dan terurai di udara.
Pemuda itu tampak dekil, pakaiannya penuh dengan debu, abu, dan noda darah. Setelah mengeluh tidak jelas, ia segera bangun sembari menancapkan pedang hitam ke tanah. Merapikan pakaian, kemudian menghela napas dengan ekspresi kesal.
“Odo?” Dart langsung mengenali sang pemuda. Tanpa pikir panjang ia segera menonaktifkan Inti Sihir, kemudian membuang manifestasi pedang ke tanah. Hancur dan pecah menjadi partikel cahaya. “Apakah itu engkau, Putraku?” tanyanya untuk memastikan, berjalan mendekat dengan rasa penasaran dan cemas.
“Ah? Sebentar! Kenapa⸻? Eh?!” Odo Luke langsung terkejut. Ia sekilas menyipitkan mata, tidak percaya dengan apa yang dirinya lihat. “Ifrit lupa melaporkan ini? Kenapa yang ada malah mereka?” gumamnya seraya memalingkan pandangan, berdecak kesal dan segera mencabut pedang hitam.
Tekanan sihir Odo tiba-tiba langsung meningkat drastis. Aura biru pekat mulai menyelimuti tubuhnya saat pedang hitam digenggam. Benar-benar kental, tampak seperti asap dan perlahan menghitam.
Merasa terancam, seluruh Prajurit Elit yang berada di tempat tersebut segera mengangkat senjata mereka. Menodongkannya ke arah pemuda itu dan bersiap menyerang.
“Berhenti!!” Dart tidak ingin membuat kesalahan yang sama, menyerang anaknya sendiri karena kesalahpahaman. “Odo? Benarkah itu engkau, Putraku?” tanyanya memastikan.
“Entahlah!” Odo lekas menatap lurus, memperlihatkan ekspresi resah bercampur rasa lelah. Sekilas mengangkat bahu, ia kembali menancapkan pedangnya ke tanah dan menurunkan tekanan sihir. “Memangnya diriku terlihat seperti apa, Ayahanda? Putra sendiri masa tidak kenal?” sindir pemuda itu dengan nada kesal.
“Mengapa kau berada di sini?” Dart berhenti mendekat. Memperlihatkan wajah heran seakan tidak ingin percaya, pria berparas tua itu lanjut bertanya, “Sendirian? Fiola denganmu? Atau kamu kemari bersama Julia⸻?”
“Lantas, mengapa kau ada di sini? Mavis bisa marah⸻!”
“Tentu saja Ibunda akan marah kalau tahu diriku ada di sini!” Odo berhenti tepat di hadapan Dart. Sembari melempar senyum tipis, ia dengan tatapan kesal balik bertanya, “Jadi! Kenapa Ayahanda bisa berada di sini? Bagaimana dengan perencanaan perang di Ibukota? Ada kendala? Atau malah sudah selesai?”
Dart seketika membisu, sekilas memalingkan pandangan dan enggan menjawab. Pria rambut hitam keabu-abuan tersebut segera melangkah mundur, kemudian berbalik dan mulai bergumam. Memperlihatkan reaksi cemas, sesekali menyebut Penyihir Agung dan ramalan.
“Tidak mungkin! Ini tidak mungkin! Putraku telah menjadi penguasa?! Meski itu ramalan langsung dari Penyihir Agung, tetap saja ini terlalu tidak masuk akal! Penguasa Dunia Astral?! Saat diriku bertemu Odo lagi, dia akan menjadi penguasa makhluk astral?! Hah, gila!”
“Hmm?” Odo mendengarnya dengan cukup jelas, sempat terkejut karena hal seperti itu telah diramalkan oleh seseorang. “Luar biasa, kali ini dia benar-benar membuat catatan yang sangat rapi. Bahkan momen itu juga masuk ke dalam agendanya, ya?” ujar pemuda itu dengan nada santai. Namun, ia memperlihatkan ekspresi wajah yang sangat bertentangan.
“Hah?” Dart seketika tersentak, segera menoleh dengan wajah memucat. Keringat dingin mulai bercucuran, detak jantung bertambah cepat, dan tatapan pun perlahan memudar karena panik. “Sebentar! Apa yang engkau katakan tadi, Putraku?” tanya untuk memastikan.
“Agenda,” jawab Odo dengan singkat. Ia sekilas memalingkan pandangan, lalu menghela napas sejenak dan lanjut berkata, “Ramalan yang Ayahanda dengar itu tepat. Diriku sudah menjadi Raja Tanpa Mahkota ….”
“Begitu, ya ….” Dart tidak terkejut, ia hanya memperlihatkan ekspresi tenang seakan telah menerima kenyataan itu. “Apakah engkau tidak menyesalinya, Putraku? Keputusan itu pasti sangat berat. Jika engkau ingin berhenti, katakan saja kepada Ayah. Diriku⸻! Kami pasti akan mencari jalan keluarnya! Engkau tidak perlu menderita,” ujarnya seraya melebarkan senyum, berusaha menghapus ekspresi sedih yang bercampur dengan cemas.
Dart sudah mengetahui hal tersebut, ia juga memiliki hak untuk mengetahui isi Catatan Dunia. Sama seperti Mavis, Penyihir Agung, Raja Gaiel, Pontiff, dan beberapa orang penting lainnya di Daratan Michigan.
Ia memiliki akses informasi terhadap ramalan Orakel, terutama mereka yang berada di Ibukota Felixia dan Miquator. Menjadi salah satu individu yang namanya disebut dalam Catatan Dunia, diidentifikasi sebagai keturunan terakhir Keluarga Luke.
__ADS_1
Dengan kata lain, anak yang lahir dari Dart dan Mavis tidak bisa disebut sebagai Luke. Tepatnya, Catatan Dunia menyebut anak tersebut sebagai Penguasa yang Dijanjikan. Sosok yang ditakdirkan akan membawa perubahan besar.
Entah itu dalam hal positif atau negatif, Catatan Dunia dan para Orakel tidak menyebutkan dengan jelas. Namun, ada satu hal yang pasti dalam rentetan ramalan tersebut.
Sosok yang dijanjikan, sang Pemuda, ia adalah wujud tunggal sejati. Mewakili Kemahatahuan Mutlak, manifestasi dari kumpulan ilmu pengetahuan.
Ada beberapa Bab dalam Catatan Dunia yang memuat tentang Catatan Dunia itu sendiri, dengan jelas didefinisikan sebagai salinan cacat dari pengetahuan sang Pemuda. Jauh dari kata sempurna, bahkan tidak mendekati purwarupa atau bahkan sebuah representasi.
Tepat beberapa hari sebelum Odo lahir, Dart Luke mendengar fakta itu dari Penyihir Agung, Anmutig Lila Ewig Aster. Pemimpin Miquator tersebut secara pribadi mendatangi kediaman Keluarga Luke, menyampaikan fakta tersebut kepadanya dan memberikan pilihan.
Hidup tanpa keturunan, atau hidup dengan melihat keturunannya menderita.
Pilihan tersebut diberikan kepada Dart, bukan Mavis yang akan melahirkan anaknya.
“Penderitaan atau kebahagiaan hanyalah masalah persepsi, Ayahanda ….” Perlahan Odo menebar senyum hangat. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia merasa lega memiliki orang tua seperti Dart. “Tidak perlu cemas. Kalian berdua pasti dibuat takut karena catatan konyol itu. Namun, pada akhirnya itu hanyalah agenda. Bagiku bukanlah ketetapan mutlak,” ujarnya sembari menjatuhkan pedang hitam.
Tanpa ragu pemuda itu langsung memeluk Ayahnya dengan erat. Ia sekilas memperlihatkan ekspresi sedih, namun langsung lenyap dan berubah menjadi senyum dingin.
“Tolong maafkan kami, Putraku. Diriku terlalu takut untuk dekat dengan engkau. Kami bahkan tidak bisa menjadi orang tua yang baik, yang layak ….” Dart balik memeluk Putranya dengan erat, tidak memedulikan tatapan semua Prajurit Elit yang menyaksikan mereka.
Sembari mengerutkan kening dan berusaha menahan air mata, pria berparas tua itu lanjut berkata, “Padahal kami yang mendambakan kehadiran engkau⸻!”
“Tolong jangan menyesalinya, keputusan kalian merupakan alasan mengapa aku hadir di sini ….” Odo melepaskan pelukan, segera melangkah mundur dan menatap hangat. Sekilas memalingkan pandangan, pemuda rambut hitam tersebut lanjut menyampaikan, “Layaknya anak-anak mereka, tidak ada orang tua yang sempurna. Kehidupan kita dipenuhi ketidaksempurnaan.”
“Odo?” Dart sedikit bingung saat mendengar itu. “Apa … maksudnya?” tanyanya memastikan.
“Diriku yang sekarang belumlah sempurna ….” Odo sedikit membungkuk, memungut pedang hitam sembari lanjut menjelaskan, “Masih ada waktu untuk kita meluruskan kesalahan yang ada. Mengembalikan dunia ke bentuk yang semestinya.”
“Bentuk … semestinya?”
Dart Luke semakin bingung, ia tidak pernah mendengar hal semacam itu dari Orakel ataupun Catatan Dunia. Kedua sumber tersebut tidak pernah menyebutkan tujuan asli sang Pemuda, hanya menyampaikan tentang perubahan yang akan datang.
“Rekonstruksi ….” Odo memperlihatkan senyum gelap. Berdiri tegak dan kembali menatap lawan bicara, ia perlahan mengangkat telunjuk ke depan mulut sembari lanjut menyampaikan, “Dunia ini harus dikembalikan ke bentuk aslinya. Kesalahan dan manipulasi hanya akan mengakhiri siklus suci.”
\==================================
Catatan :
Yeah, inilah Flamboyan Akhir Zaman!
Judul ini sebenarnya punya makna ganda, bisa didefinisikan sebagai tanaman flamboyan atau merujuk pada sesuatu yang gemerlap dan megah.
Memiliki nama latin Delonix Regia atau Semarak Api. Dapat dikaitkan dengan pria yang mempunyai daya pikat kuat. Namun, konotatif yang ada cenderung negatif karena kesan glamor dan megah. Mengincar terlalu tinggi dengan keterbatasan yang ada.
__ADS_1
See You Next Time!!